Pos

Ayu Munjidah, S.Pd., alumni Program Studi S1 PGSD UNUSIDA sebagai guru di MI Al Abror Pekauman. (Foto: Humas UNUSIDA)

Inspiratif! Ayu Munjidah Menebar Manfaat sebagai Pendidik Berbekal Ilmu dan Pengalaman Organisasi

Pendidikan bukan sekadar proses memperoleh gelar akademik, tetapi juga perjalanan membentuk karakter, mengembangkan potensi, serta menyiapkan generasi muda untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Nilai itulah yang dirasakan oleh Ayu Munjidah, S.Pd., alumni Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) angkatan 2020 yang kini mengabdikan diri sebagai guru di MI Al Abror Pekauman.

Bagi Ayu, perjalanan selama menempuh pendidikan di UNUSIDA menjadi salah satu fase paling berharga dalam hidupnya. Tidak hanya memperoleh bekal ilmu akademik, ia juga mendapatkan pengalaman organisasi, karya ilmiah, hingga pembinaan karakter yang menjadi modal utama dalam menjalankan profesinya sebagai seorang pendidik.

Saat mengenang masa-masa kuliah, Ayu mengaku memiliki banyak pengalaman yang sulit dilupakan. Salah satu momen yang paling membanggakan adalah ketika dirinya berhasil menerbitkan dua buku antologi puisi bersama beberapa dosen UNUSIDA.

Karya tersebut lahir melalui proses pendampingan dan bimbingan yang intensif dari para dosen, khususnya Agung Purnomo, beserta dosen-dosen lainnya yang terus mendorong mahasiswa untuk berani berkarya dan mengembangkan kreativitas di luar kegiatan akademik.

“Pengalaman saya selama kuliah di UNUSIDA yang paling berkesan adalah ketika saya memiliki dua buku puisi karya saya bersama beberapa dosen UNUSIDA dengan bimbingan Pak Agung Purnomo dan beberapa dosen lainnya,” ungkap Ayu.

Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa lingkungan akademik UNUSIDA tidak hanya mendorong mahasiswa untuk unggul di bidang akademik, tetapi juga memberikan ruang yang luas bagi pengembangan minat, bakat, dan kreativitas mahasiswa.

Selain aktif berkarya, Ayu juga menjadi bagian dari perjalanan awal berdirinya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Unggul. Bersama rekan-rekan mahasiswa lainnya, ia turut merintis organisasi tersebut dari awal hingga berkembang menjadi salah satu wadah pengembangan prestasi mahasiswa di lingkungan kampus.

Menurutnya, membangun sebuah organisasi bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan komitmen, kerja sama, serta semangat untuk terus belajar dan berproses bersama.

“Pengalaman bersama teman-teman UKM Mahasiswa Unggul menjadi salah satu cerita yang tidak akan pernah saya lupakan. Kami merintis dan membangun UKM tersebut mulai dari nol hingga berada di titik seperti sekarang,” kenangnya.

Melihat perkembangan UKM Mahasiswa Unggul yang terus melahirkan mahasiswa berprestasi setiap tahunnya memberikan kebanggaan tersendiri bagi Ayu. Ia merasa perjuangan yang dilakukan bersama teman-teman saat merintis organisasi tersebut kini mulai membuahkan hasil.

“Saya sangat bangga melihat perkembangan UKM Mahasiswa Unggul yang dari tahun ke tahun bisa berkarya lebih baik lagi dan terus dilanjutkan oleh adik-adik junior yang hebat,” ujarnya.

Kini, ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama menjadi mahasiswa UNUSIDA menjadi bekal utama Ayu dalam menjalankan amanah sebagai seorang pendidik di MI Al Abror Pekauman.

Ia menilai bahwa UNUSIDA memberikan banyak manfaat bagi perjalanan kariernya. Tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi akademik, tetapi juga membentuk karakter serta memberikan nilai-nilai kehidupan yang sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan.

“Kampus UNUSIDA banyak memberikan manfaat untuk karier saya yang sekarang, alhamdulillah masih diamanahi menjadi seorang pendidik,” tuturnya.

Menurut Ayu, keberhasilan seorang guru tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengajar, tetapi juga oleh keteladanan, kesabaran, dan semangat untuk terus belajar. Nilai-nilai tersebut banyak ia pelajari dari para dosen selama menempuh pendidikan di UNUSIDA.

Ia mengaku masih mengingat dengan baik setiap ilmu, nasihat, dan keteladanan yang diberikan oleh para dosen. Baginya, para dosen UNUSIDA bukan hanya pengajar, tetapi juga mentor yang memberikan inspirasi dalam menjalani profesi sebagai pendidik.

“Di bangku kuliah, saya bertemu dengan dosen-dosen yang hebat dan kompeten. Mereka menjadi salah satu penunjang bagi saya ketika kuliah dan sampai detik ini saya masih mengingat jasa serta ilmu yang beliau ajarkan kepada kami,” katanya.

Pengalaman belajar bersama dosen yang berdedikasi membuat Ayu semakin yakin bahwa menjadi seorang guru adalah profesi yang mulia sekaligus penuh tanggung jawab. Ia berkomitmen untuk meneruskan nilai-nilai yang telah diajarkan selama kuliah kepada peserta didiknya.

Sebagai alumni, Ayu berharap UNUSIDA terus melahirkan lulusan-lulusan yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, semangat berkarya, serta siap memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia juga berpesan kepada mahasiswa yang saat ini sedang menempuh pendidikan agar memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di kampus, baik melalui kegiatan akademik maupun organisasi kemahasiswaan.

Menurutnya, pengalaman berorganisasi, berkarya, dan membangun jejaring selama kuliah akan menjadi bekal yang sangat berharga ketika memasuki dunia kerja.

“Perjalanan di bangku kuliah bukan sekadar mengejar nilai atau gelar, melainkan proses membentuk pribadi yang tangguh, kreatif, dan siap mengabdi kepada masyarakat. Dengan bekal ilmu, pengalaman organisasi, serta bimbingan para dosen, yang menjadi inspirasi hingga kini untuk terus mengabdikan diri di dunia pendidikan dengan harapan dapat mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia,” pungkasnya.

Bedah Buku “Trilogi Kartini” Semarakkan Hari Kartini 2026 di UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Semarak Peringatan Hari Kartini 2026, UPT Perpustakaan UNUSIDA Gelar Bedah Buku “Trilogi Kartini”

SIDOARJO — Memperingati Hari Kartini 2026, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan UNUSIDA bersama Divisi Pendidikan, Gender, dan Anak UNUSIDA berkolaborasi dengan PARI serta Yayasan Pustaka OBOR Indonesia menggelar Bedah Buku Trilogi Kartini karya Wardiman Djojonegoro pada Ahad (26/4/2026) di Hall A Lantai 5 Gedung A UNUSIDA. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan dilaksanakan secara hybrid.

Tiga pemateri hadir mengulas pemikiran Kartini dari perspektif literasi, pendidikan perempuan, dan relevansinya hari ini: Suherman (Pustakawan BRIN Jakarta), Dr. Tri Soesanti, Dra., M.Si (Dosen Ilmu Informasi dan Perpustakaan FISIP Unair), serta Kuswanto, S.S., M.A (Mutiara Rindang). Diskusi dipandu moderator Ani Nur Karimah, S.Hum.

Dalam kesempatan tersebut, Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menegaskan bahwa literasi akademisi merupakan salah satu kekuatan utama dalam mendorong kemajuan Indonesia. Ia mengapresiasi semangat para peserta yang tetap hadir dan berkontribusi tanpa mengharapkan imbalan materi. Menurutnya, kehadiran tersebut menjadi bukti nyata bahwa semangat pengabdian dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan jauh lebih besar dibandingkan kepentingan pribadi.

“Pengorbanan waktu dan tenaga yang dilakukan hari ini menunjukkan bahwa literasi bukan sekadar kegiatan, melainkan bentuk cinta yang besar terhadap kemajuan bersama,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi berbagai pihak, termasuk pengalaman kerja sama dengan lembaga pendidikan dan perpustakaan. Namun, ia mengakui bahwa masih terdapat tantangan dalam memenuhi kebutuhan literasi masyarakat, terutama dalam akses dan minat baca yang belum merata.

Lebih lanjut, Dr. Hadi Ismanto menjelaskan bahwa literasi memiliki korelasi erat dengan kebahagiaan dan kemajuan suatu bangsa. Menurutnya, masyarakat yang memiliki budaya membaca yang baik cenderung lebih maju dan sejahtera.

Ia juga menyinggung pentingnya optimalisasi sumber daya manusia Indonesia melalui penguatan literasi, termasuk di bidang sains dan teknologi. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat terus dikembangkan sebagai langkah nyata dalam menjawab kebutuhan pendidikan di masa depan.

“Semangat membaca itu berkorelasi dengan kebahagiaan, dan literasi berkorelasi dengan kemajuan. Inilah yang harus terus kita dorong bersama,” tegasnya.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI 1993-1998 Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro yang turut hadir secara online melalui zoom meeting menyoroti gagasan emansipasi Kartini yang ditempuh melalui pendidikan dan kemandirian perempuan. Ia menekankan bahwa kesetaraan partisipasi laki-laki dan perempuan dalam pendidikan, kesehatan, dan kehidupan sosial merupakan prasyarat kemajuan bangsa.

Menurutnya, kegiatan ini menjadi momentum refleksi bahwa semangat Kartini tetap relevan: literasi sebagai jalan pemberdayaan, pendidikan sebagai pintu kemerdekaan, dan kolaborasi sebagai kunci keberlanjutan gerakan.

“Kartini tidak melawan dengan kekerasan, tetapi dengan gagasan. Ia mendorong perempuan agar merdeka melalui pendidikan, keterampilan hidup, dan literasi,” tuturnya.

Dosen UNUSIDA, Afifatus Sholikhah, S.M., M.M. (Foto: Humas UNUSIDA)

Kartini Masa Kini Hadir dalam Setiap Perempuan yang Menjalani Perannya

Dalam momentum Hari Kartini, Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Afifatus Sholikhah, S.M., M.M. menyampaikan gagasan reflektif bahwa Kartini tidak lagi sekadar sosok sejarah, melainkan representasi nyata dari perempuan masa kini yang menjalani perannya dengan keberanian, ketulusan, dan makna.

Menurutnya, Kartini hari ini hadir dalam berbagai wajah: perempuan pekerja, ibu rumah tangga, mahasiswi, pelaku usaha, hingga mereka yang berjuang dalam diam. Tidak ada standar tunggal tentang bagaimana menjadi perempuan hebat, karena setiap perempuan adalah Kartini dengan versinya masing-masing.

“Dunia tidak membutuhkan perempuan yang seragam, tetapi perempuan yang autentik, yang mampu menjalani perannya dengan kesadaran dan tanggung jawab,” ujarnya.

Kepala Bagian Humas dan Informasi Publik UNUSIDA tersebut menyoroti perempuan yang bekerja sebagai wujud nyata emansipasi yang hidup dalam tindakan sehari-hari. Bangun pagi, menghadapi tuntutan pekerjaan, menyelesaikan tanggung jawab, hingga tetap berusaha memberikan yang terbaik adalah bentuk perjuangan yang sering kali tak terlihat, namun sangat bermakna.

Di sisi lain, ia juga menegaskan bahwa peran ibu rumah tangga memiliki kemuliaan yang sama. Mengurus rumah, mendidik anak, dan menjaga keharmonisan keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban. “Dari tangan seorang ibu, lahir generasi yang kuat, berakhlak, dan berdaya,” tambahnya.

Baginya, baik perempuan yang bekerja, ibu rumah tangga, maupun yang menjalani keduanya, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Yang membedakan hanyalah jalan yang dipilih, bukan nilai dari peran itu sendiri.

Lebih jauh, ia mengajak perempuan masa kini untuk berani bermimpi, berkembang, dan tidak terjebak pada standar sosial yang tidak realistis. Menjadi perempuan hebat bukan berarti harus sempurna, tetapi berani menjadi diri sendiri dan terus bertumbuh.

Hari Kartini, lanjutnya, menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan belum selesai. Namun perjuangan itu bisa dimulai dari hal kecil: keberanian untuk berbicara, keteguhan untuk bertahan, dan ketulusan dalam menjalani peran sehari-hari. Dalam refleksi ini, alumni UNUSIDA tersebut mengajak untuk merayakan setiap perjuangan perempuan, sekecil apa pun, serta menghargai setiap peran yang dijalani dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada usaha yang sia-sia.

“Sebagai perempuan, kita tidak harus menjadi orang lain untuk dianggap hebat. Kita hanya perlu menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri,” pungkasnya.