“Jangan Hanya Jadi Wong Pintar, Jadilah Wong Bener!” Ketua PCNU Sidoarjo Kobarkan Semangat Mahasiswa Baru UNUSIDA untuk Berprestasi dan Berkarakter
Sidoarjo, 8 September 2026 — Pesan penuh semangat dan refleksi disampaikan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sidoarjo, Kiai Haji Zainal Abidin, kepada mahasiswa baru Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun Akademik 2026/2027. Dengan gaya komunikatif, penuh humor, dan sesekali menggunakan bahasa Jawa, ia mengajak mahasiswa untuk tidak sekadar mengejar kecerdasan akademik, tetapi juga membangun karakter dan menjadi pribadi yang benar.
Mengusung tema “Berakar pada Tradisi, Berlayar Menuju Modernisasi”, PKKMB UNUSIDA menjadi momentum awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal kehidupan kampus sekaligus menanamkan nilai-nilai ke-NU-an, akhlakul karimah, semangat belajar, dan keberanian untuk mengambil peran di tengah masyarakat.
Dalam sambutannya, Kiai Haji Zainal Abidin menyampaikan bahwa menjadi mahasiswa UNUSIDA merupakan sebuah kesempatan dan amanah yang patut disyukuri. Menurutnya, mahasiswa baru telah mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang berada dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, dengan dukungan para kiai, bu nyai, ustaz, dosen, serta seluruh sivitas akademika.
“Anak-anakku ditakdirkan bisa kuliah di universitas milik Nahdlatul Ulama,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa keberadaan mahasiswa di UNUSIDA bukan hanya untuk memperoleh gelar akademik. Lebih dari itu, mahasiswa diharapkan mampu tumbuh menjadi manusia yang sukses sekaligus memiliki nilai moral dan spiritual yang kuat.
Salah satu pesan yang paling menonjol dalam sambutannya adalah pentingnya menjadi “wong bener”, bukan hanya “wong pintar”.
“Sekarang mencari wong pintar akeh, tetapi golek wong bener iku angel,” tegasnya.
Menurutnya, kecerdasan akademik memang penting, tetapi tidak cukup untuk menghadapi kehidupan. Dunia membutuhkan generasi yang memiliki integritas, tanggung jawab, akhlak, kepedulian, dan keberanian untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.
Karena itu, ia meminta mahasiswa memanfaatkan masa muda sebagai kesempatan emas untuk membentuk diri. Masa perkuliahan harus digunakan untuk mengembangkan potensi, bakat, kemampuan, pengalaman, organisasi, dan jejaring.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menyia-nyiakan waktu hanya untuk aktivitas yang tidak produktif.
Dengan gaya khas yang mengundang tawa mahasiswa, Kiai Zainal mengingatkan agar mahasiswa tidak datang ke kampus hanya untuk duduk, tidur, kemudian pulang. Ia juga memberikan istilah “mahasiswa abadi” bagi mereka yang menjalani perkuliahan tanpa target dan kesungguhan hingga akhirnya tidak kunjung menyelesaikan pendidikan.
“Jangan menjadi mahasiswa abadi,” pesannya.
Menurutnya, mahasiswa harus memiliki target sejak awal, termasuk memiliki komitmen untuk menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Masa kuliah harus menjadi fase untuk membangun kepantasan diri dalam menjemput masa depan.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk berorganisasi dan memperluas pengalaman. Lingkungan kampus harus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar menjadi pemimpin, bekerja sama, menyampaikan gagasan, serta menyelesaikan berbagai persoalan.
Selain akademik dan organisasi, mahasiswa juga diminta membangun prestasi. Ia menegaskan bahwa UNUSIDA memiliki berbagai capaian yang membuktikan bahwa kampus tersebut mampu bersaing tidak hanya di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga internasional.
Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak minder dengan lokasi kampus yang berada di kawasan Sidoarjo.
“Walaupun kampus ini pinggir tambak, jangan remehkan kampus di pinggir tambak,” ungkapnya.
Menurutnya, lokasi bukanlah batas bagi seseorang untuk bermimpi dan berprestasi. Justru dari kampus tersebut dapat lahir generasi yang mampu menjadi pemimpin nasional dan memberikan kontribusi lebih luas.
Untuk itu, ia meminta mahasiswa baru menanamkan keyakinan sejak hari pertama memasuki UNUSIDA.
Ia mengajak mahasiswa menulis dengan “tinta emas” dalam hati masing-masing sebuah komitmen:
“Saya harus berhasil. Saya harus sukses. Saya harus menjadi generasi yang tangguh. Saya harus menjadi generasi yang militan.”
Semangat tersebut, lanjutnya, harus berjalan beriringan dengan nilai-nilai perjuangan para alim ulama dan pendiri Nahdlatul Ulama. Mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga mampu melanjutkan perjuangan dalam bentuk karya dan pengabdian.
Di akhir sambutannya, Kiai Zainal mendoakan agar seluruh mahasiswa baru merasa nyaman dan betah belajar di UNUSIDA, menyelesaikan pendidikan hingga tuntas, serta mampu mengukir prestasi selama menjadi mahasiswa maupun setelah menjadi alumni.
“Semakin dekat, semakin lekat, semakin cinta kepada Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo,” pesannya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan mahasiswa tidak berhenti pada ruang kelas. Menjadi mahasiswa UNUSIDA berarti menjadi bagian dari proses pembentukan manusia yang berilmu, berakhlak, berprestasi, dan memiliki keberanian untuk mengambil peran.
Dari UNUSIDA, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi “wong pintar”, tetapi didorong untuk tumbuh menjadi “wong bener” yang mampu membawa manfaat bagi agama, masyarakat, bangsa, dan negara.
#UNUSIDA #AyokuliahUNUSIDA #KampusBerdampak #Diktisaintekberdampak










