Dewi Sulistiyowati saat Menerima Piagam Penghargaan dalam Yudisium Ke-9 FKIP UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Kisah Dewi Sulistiyowati, Lulusan Terbaik FKIP UNUSIDA Berkat Keteguhan Hati dan Semangat Juang

SIDOARJO – Dewi Sulistiyowati, mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) angkatan 2021 berhasil mencatatkan prestasi membanggakan sebagai lulusan terbaik dalam Yudisium ke-9 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) pada beberapa waktu yang lalu.

Di balik capaian tersebut, tersimpan kisah perjuangan panjang, keteguhan hati, dan pengorbanan demi mewujudkan cita-cita sebagai seorang guru. Dewi sapaan akrabnya, merupakan lulusan SMK jurusan Multimedia tahun 2019.

Namun, ia baru bisa melanjutkan kuliah pada tahun 2021 karena harus bekerja terlebih dahulu selama dua tahun untuk membantu ekonomi keluarga. Dengan latar belakang keluarga sederhana, ayah sebagai kuli bangunan dan ibu sebagai ibu rumah tangga. Dewi menyadari bahwa pendidikan adalah jalan utama untuk mengangkat derajat keluarga.

“Saya ingin salah satu anak dari keluarga kami berhasil dan dapat mengangkat derajat orang tua. Sudah cukup saya melihat mereka direndahkan oleh lingkungan sekitar,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Rabu (20/8/2025).

Cita-citanya menjadi seorang guru membawanya memilih FKIP UNUSIDA, khususnya Program Studi PGSD. Tak heran perolehan IPKnya hampir menyentuh angka 3,92.  Ketertarikannya pada dunia anak dan dukungan dari para dosen serta teman-temannya membuat Dewi terus berjuang meskipun sempat mengalami masa-masa sulit.

Momen terberat dalam hidupnya datang saat ia ditinggalkan oleh ibunda tercinta pada akhir semester enam. Peristiwa itu sempat membuatnya jatuh dan kehilangan semangat. “Saya benar-benar down. Butuh waktu hampir satu tahun untuk kembali bangkit. Namun saya ingat, ibu ingin saya lulus tepat waktu,” kenangnya penuh haru.

Baginya, dukungan serta motivasi dari para dosen dan teman-teman menjadi kekuatan utama untuk bangkit dan menuntaskan studinya. Ia juga membagikan tips untuk tetap fokus kuliah di tengah berbagai tantangan, yakni dengan membagi waktu antara bekerja, mengajar les, dan menyelesaikan tugas kuliah, serta mencari hal sederhana yang dapat menenangkan hati. “Kalau saya pribadi, biasanya cukup dengan minum kopi hitam tanpa gula,” tuturnya.

Dalam proses belajar, Dewi lebih menyukai metode belajar sambil melakukan, sesuai dengan gaya belajar kinestetik-visual yang dimilikinya. Prinsip yang selalu ia pegang ialah mengerjakan setiap tugas sebaik dan semampu mungkin, serta meyakini bahwa setiap orang yang ditemuinya bisa menjadi guru.

Pengalaman paling berharga selama kuliah adalah mendapat kesempatan menjadi penerima KIP Kuliah dan mengikuti program Kampus Mengajar. Program tersebut bahkan menjadi batu loncatan baginya untuk berkarier sebagai guru di SDN Cemengbakalan 1, tempat ia saat ini mengabdikan diri setelah sebelumnya ikut program kampus mengajar di sekolah tersebut.

Materi perkuliahan, seperti teori pembelajaran, pengenalan karakter siswa, hingga metode Teams Games Tournament (TGT), berhasil ia terapkan dalam praktik mengajar di kelas. “Setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda. Di SD tempat saya mengajar, rata-rata siswa bergaya belajar kinestetik, sehingga metode TGT sangat cocok diterapkan,” jelasnya.

Dewi berharap, UNUSIDA terus menjadi kampus yang mencetak lulusan berkualitas dan bermanfaat untuk masyarakat, khususnya warga Nahdlatul Ulama. Ia juga berkeinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang PPG maupun S2 agar bisa terus mengembangkan kapasitasnya sebagai pendidik.

“Untuk teman-teman yang masih kuliah, tetap semangat. Apapun kondisi kita, apa yang telah kita mulai harus kita tuntaskan. Kuliah tidak akan terasa berat jika kita punya niat dan tekad yang kuat,” pungkasnya.

Mochamad Udin Saat menerima piagam Lulusan Terbaik Fakultas Teknik UNUSIDA 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

Inspiratif, Cerita Mochamad Udin Kerja Sambil Kuliah di UNUSIDA Hingga Jadi Lulusan Terbaik Fakultas Teknik

SIDOARJO – Semangat belajar tidak dibatasi oleh usia. Hal ini dibuktikan langsung oleh Mochamad Udin, S.T., resmi dinobatkan menjadi lulusan terbaik pada Yudisium Ke-9 Fakultas Teknik UNUSIDA Tahun 2025 beberapa waktu yang lalu.

Pria yang memulai kuliah S1 pada usia 47 tahun tersebut kini berhasil menyelesaikan studi di Program Studi Teknik Industri dengan capaian IPK 3,85 menjadi yang tertinggi di tingkat fakultas.

Udin sapaan akrabnya mengaku bahwa keputusannya untuk melanjutkan pendidikan lahir dari tuntutan profesionalismenya di dunia kerja. “Saya kuliah bukan karena kemauan pribadi, tetapi karena tuntutan profesi. Perusahaan meminta agar jabatan yang saya emban harus diimbangi dengan pendidikan minimal S1,” tuturnya.

Meski begitu, pria yang saat ini menjabat Kepala Departemen di PT PAL Indonesia tersebut tidak menganggap kuliah sebagai beban tambahan. Justru kuliah menjadi ruang untuk memperkaya pemahaman terhadap proses-proses industri yang selama ini ia jalankan.

Ia menambahkan, keputusan mendaftar sebagai mahasiswa Teknik Industri UNUSIDA dilakukan secara spontan setelah berdiskusi dengan rekan kerjanya. Sebagai kader nahdlyyin, ia yakin dan mantap memilih kampus UNUSIDA sebagai tempatnya menempuh pendidikan tinggi.

“Setelah mendapatkan arahan, saya langsung telepon istri dan minta tolong untuk didaftarkan. Walaupun sempat ada hambatan, saya yakin bahwa pilihan ini yang terbaik,” terangnya kepada Humas UNUSIDA, Rabu (20/8/2025).

Udin menceritakan bahwa keputusannya mendaftar kuliah dimulai ketika dirinya berdiskusi dengan salah satu rekannya, Pak Sugianto (Sesama mahasiswa Teknik Industri yang juga rekan kerja di PT PAL Indonesia), setelah mendapatkan arahan pimpinan.

Perjalanan studi keduanya bukan tanpa hambatan. Berbagai tantangan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga membuatnya harus pintar mengatur waktu. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, pada semester ketiga ia mulai merasakan manfaat langsung dari materi perkuliahan yang diberikan oleh para dosen. Menurutnnya mata kuliah yang dipelajari sangat mendukung tugasnya sebagai bagian dari manajemen di PT PAL.

“Mulai semester empat, saya semakin paham tentang materi-materi yang disampaikan oleh bapak/ibu dosen. Saya mulai merasa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah itu sangat bermanfaat dan bisa mendukung proses di dunia industri,” ucapnya dengan penuh semangat.

Berbekal pengalaman praktis di dunia kerja dan materi kuliah yang relevan, Udin justru semakin termotivasi untuk terus belajar. Ia menegaskan bahwa penilaian utama bukan pada nilai, melainkan seberapa besar manfaat ilmu tersebut dapat diterapkan di dunia nyata.

“Saya belajar bukan untuk cari nilai, tetapi untuk menambah kompetensi. Alhamdulillah, semua materi yang diberikan dosen sangat membantu pekerjaan saya,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengucapkan terima kasih kepada para dosen dan seluruh civitas akademika UNUSIDA yang telah membimbing dan memberikan arahan selama masa studinya.

“Alhamdulillah, saya tidak menyangka bisa menjadi lulusan terbaik. Terima kasih kepada seluruh dosen atas ilmunya, dan semoga UNUSIDA terus melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak baik,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Udin memberikan pesan khusus kepada para mahasiswa agar tidak mudah menyerah dalam mencari ilmu. Sebagai Alumni UNUSIDA, ia berkomitmen untuk terus menyebarkan semangat belajar sepanjang hayat kepada para generasi muda.

“Belajar itu harus dijalani dengan bahagia. Selama niatnya baik, insyaAllah semuanya akan dimudahkan. Jangan pernah berpikir terlambat, karena di umur 51 tahun lebih pun saya tetap bisa belajar, kuliah, dan tetap menikmati prosesnya,” pungkasnya.

Suasana Upcara Bendera dalam rangka HUT ke-80 RI di halaman Kampus 2 UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Upacara HUT ke-80 RI di UNUSIDA, Kenakan Baju Adat dan Kostum Pejuang Kemerdekaan

SIDOARJO – Suasana khidmat dan penuh semangat kebangsaan menyelimuti Halaman Kampus 2 Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), saat civitas akademika menggelar upacara memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, Ahad (17/8/2025).

Yang menarik, seluruh peserta mulai dari pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan hingga mahasiswa hadir dengan mengenakan baju adat dari seluruh penjuru nusantara serta seragam pejuang kemerdekaan. Kehadiran berbagai ragam pakaian adat tersebut menghadirkan nuansa kebhinnekaan dan mempertegas komitmen UNUSIDA dalam merawat tradisi dan persatuan bangsa.

Bertindak sebagai pembina upacara, Wakil Rektor 1 UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd. menyampaikan amanat yang menyentuh tentang makna 80 tahun kemerdekaan. Menurutnya, delapan dekade bukanlah waktu yang panjang jika dibandingkan dengan besarnya pengorbanan para pejuang dan ulama terdahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

“Jika para pendahulu kita dan para ulama terdahulu memberikan negara ini dengan perjuangan yang gigih hingga bertaruh nyawa, maka apa yang mau kita berikan untuk generasi kita di masa depan,” ujarnya di hadapan peserta upacara.

Lebih lanjut, Dr. Hadi menegaskan bahwa momentum peringatan HUT RI ke-80 ini menjadi tantangan sekaligus panggilan bagi seluruh civitas akademika UNUSIDA. Mulai dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan hingga mahasiswa untuk terus berkhidmat dan memberikan kontribusi terbaik.

Ia mengingatkan bahwa semangat perjuangan tersebut harus terus diwariskan kepada generasi selanjutnya, sebagaimana para ulama dan santri yang senantiasa berbuat baik agar dapat menjadi amal jariyah yang tak terputus hingga Yaumil Qiyamah.

“Kita beruntung karena di kampus UNUSIDA dapat belajar untuk berkhidmat. Tidak semua lembaga memiliki keistimewaan dan semangat seperti ini. Jika saat ini kita belum bisa memberikan sesuatu yang terbaik, setidaknya jangan meninggalkan catatan yang buruk bagi UNUSIDA dan Jam’iyah Nahdlatul Ulama,” tegasnya.

Ia mengajak seluruh peserta untuk terus mengukir prestasi, membawa UNUSIDA menjadi kampus yang berdaya saing di tingkat regional, nasional maupun global sesuai kapasitasnya masing-masing, agar dapat menjadi contoh bagi generasi selanjutnya. Sebab, profesionalitas dan gaji hanyalah bagian dari kewajiban, namun semangat khidmat adalah nilai utama yang harus terus dipegang oleh seluruh warga kampus.

“Khidmat adalah ruh perjuangan yang membedakan UNUSIDA dengan lembaga lain. Semoga Allah meridhoi kita semua untuk berkhidmat di Unusida dan Nahdlatul Ulama sebagai bentuk pengorbanan,” tuturnya.

Dosen PGSD UNUSIDA, Achmad Wahyudi, S.Pd.I., M.Pd. (Foto: Humas UNUSIDA)

Refleksi HUT RI Ke-80: Dosen UNUSIDA Ajak Meneladani Sikap Keberanian dan Keikhlasan Para Pendiri Bangsa

SIDOARJO – Delapan puluh tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia dengan keberanian dan keikhlasan yang luar biasa. Mereka tidak hanya bermimpi, tetapi bertindak untuk membangun fondasi kokoh yang kita pijak hingga hari ini.

Dalam momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia yang mengusung tema ‘Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju’, Dosen PGSD Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Achmad Wahyudi, S.Pd.I., M.Pd. mengajak seluruh masyarakat untuk kembali meneladani keberanian dan keikhlasan luar biasa para pendiri bangsa.

Menurutnya, proklamasi kemerdekaan yang digaungkan pada 17 Agustus 1945 bukanlah hasil proses yang mudah atau instan. Melainkan buah dari perjuangan panjang, pengorbanan, dan keikhlasan para pejuang yang mempertaruhkan segalanya untuk bangsa.

“Para pendiri bangsa bukan hanya berani bermimpi tentang Indonesia merdeka, tetapi juga berani mengambil risiko, meninggalkan kenyamanan, dan bertindak dengan penuh keikhlasan demi mewujudkan cita-cita tersebut,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Ahad (17/8/2025).

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UNUSIDA tersebut, menekankan bahwa di tengah euforia perayaan HUT RI ke-80 ini, masyarakat sepatutnya merenungkan apakah semangat keberanian dan keikhlasan itu masih tertanam dalam diri kita sebagai generasi penerus bangsa.

Ia menyampaikan bahwa keberanian hari ini bukan lagi mengangkat senjata, tetapi keberanian untuk bersikap jujur, untuk menjaga integritas, membela kebenaran, dan mengambil peran nyata dalam menjaga persatuan bangsa. Begitu pula keikhlasan tidak lagi berarti berperang secara fisik, tetapi lebih pada kesediaan untuk melayani masyarakat, peduli pada sesama, dan menjaga bumi pertiwi sebagai wujud cinta tanah air.

“Kemerdekaan akan kehilangan maknanya jika kita terjebak pada kepentingan pribadi dan enggan berkorban untuk kepentingan bersama,” tegasnya.

Lebih lanjut, Wahyudi menyampaikan bahwa HUT RI ke-80 harus menjadi alarm kesadaran bersama. Ia menjelaskan bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika setiap warga negara mampu menjadi pribadi yang bertanggung jawab, tidak hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga terhadap lingkungan.

Sayangnya, pembangunan selama ini seringkali mengorbankan kelestarian alam. Sungai-sungai tercemar dan udara tidak lagi sebersih dahulu. Ini menjadi ironi di tengah kebebasan yang kita nikmati. Lebih dari 60% sungai di Indonesia tercemar (KLHK, 2024) yang mayoritas pencemaran berasal dari limbah domestik dan industri. Tak hanya itu, dalam survei LIPI (2023) menunjukkan hanya 43% responden yang secara rutin terlibat dalam kegiatan sosial atau gotong royong di lingkungannya.

Oleh karena itu, peringatan HUT RI ke-80 harus menjadi momentum untuk menumbuhkan kembali kesadaran merawat semesta. Bumi pertiwi bukanlah warisan yang dapat dihabiskan, melainkan amanah bersama yang wajib dijaga dan diwariskan dalam keadaan baik kepada anak cucu.

Wahyudi yang juga Ketua Tanfidziyah Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kedungsumur, Kecamatan Krembung tersebut, menegaskan bahwa nilai-nilai kemerdekaan sangat relevan dengan kiprah NU yang secara konsisten merawat semesta dan peduli sesama melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat.

Seperti Gerakan NU Berdaya Kedungsumur Sejahtera misalnya, menjadi representasi nyata dari bagaimana semangat keberanian dan keikhlasan diwujudkan dalam konteks kekinian melalui gerakan sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Dalam konteks ini, gerakan NU Berdaya Kedungsumur Sejahtera yang ia terapkan di tengah masyarakat menjadi contoh konkret bagaimana semangat kemerdekaan diterjemahkan dalam tindakan nyata.

Gerakan ini tidak hanya menekankan aspek keagamaan, sosial, dan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan dan memperkuat persatuan sosial. Menjaga lahan pertanian, mengelola sampah secara kolektif, serta melestarikan sumber daya alam desa merupakan bagian dari upaya merawat semesta.

Ia mengatakan bahwa peringatan HUT RI ke-80 bukan hanya perayaan tahunan, tetapi juga panggilan untuk terus peduli terhadap sesama dan menjaga alam yang telah memberi kehidupan.

“Mari jadikan peringatan kemerdekaan ini sebagai kesempatan untuk bertanya: apakah kita sudah menjadi bagian dari solusi, atau justru bagian dari masalah? Dirgahayu Republik Indonesia. Semoga negeri ini semakin lestari dan masyarakatnya semakin sejahtera,” pungkasnya. (MY)

Webinar EcoEdu.id 119 ~ Pajak Karbon dalam Transisi Energi, Ekonomi Hijau, dan Net Zero Emission (NZE) 2060 (Foto: UNUSIDA/Muchammad Waziruddin)

Perkuat Kolaborasi Edukasi Iklim, HIMA Teknik Lingkungan UNUSIDA Berpartisipasi dalam Webinar Nasional EcoEdu.id

SIDOARJO – Isu perubahan iklim dan transisi energi kembali mengemuka dalam forum ilmiah tingkat nasional melalui Webinar EcoEdu.id bertema ‘Pajak Karbon dalam Transisi Energi, Ekonomi Hijau, dan Net Zero Emission (NZE) 2060’. Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis (17/07/2025) ini diikuti dengan antusias oleh mahasiswa, akademisi, dan praktisi lingkungan dari berbagai daerah di Indonesia.

Webinar tersebut menjadi ruang dialog penting dalam memperkuat kesadaran publik mengenai peran instrumen ekonomi dalam pengendalian emisi karbon. Pajak karbon dibahas bukan hanya sebagai kebijakan fiskal, melainkan sebagai pilar transisi menuju sistem energi rendah emisi dan ekonomi berketahanan iklim.

Dalam pemaparannya, Carbon Specialist Muhammad Luthfan Awwal, S.Pt., M.Sc., M.IL., menjelaskan bahwa pajak karbon merupakan langkah strategis untuk mendorong inovasi teknologi bersih, investasi energi terbarukan, serta efisiensi industri.

“Pajak karbon bukan hanya menekan pelaku usaha, tetapi menginternalisasi biaya eksternal emisi ke dalam sistem ekonomi dan membuka jalan menuju ekonomi hijau,” tegasnya.

Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HIMA TL) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo turut berpartisipasi aktif dalam forum ini melalui jalur kolaboratif bersama PT Eco Edu Indonesia, lembaga pelatihan lingkungan yang berfokus pada peningkatan kapasitas publik. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari program unggulan ENVIRO INSIGHT yang digagas oleh Departemen Akademik, Inovasi, dan Riset (AIR) dan dijalankan bersama Departemen Urusan Sosial, Diplomasi, dan Relasi Kemitraan (UDARA).

Kepala Departemen AIR, Chalimatus Sa’diyah, menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam forum lintas institusi seperti ini sangat penting untuk mempertemukan teori di kelas dengan dinamika kebijakan yang terjadi di lapangan.

“Pajak karbon bukan hanya isu kebijakan, tetapi tantangan interdisipliner yang membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk mahasiswa,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa webinar ini relevan dengan kurikulum Prodi Teknik Lingkungan UNUSIDA, khususnya pada topik emisi, transisi energi, dan pengendalian pencemaran.

Selain memperkaya diskursus akademik, forum ini juga memperkuat jejaring antar mahasiswa teknik lingkungan dari berbagai perguruan tinggi. HIMA TL UNUSIDA menyatakan komitmennya untuk terus menjalin kerja sama jangka panjang dengan PT Eco Edu Indonesia dalam penyelenggaraan webinar, pelatihan, dan berbagai program edukatif lainnya terkait isu lingkungan dan keberlanjutan.

Di tengah dinamika kebijakan iklim global maupun nasional, partisipasi aktif mahasiswa dalam forum ilmiah seperti ini menjadi bentuk kontribusi nyata untuk masa depan bumi. Webinar EcoEdu.id tidak hanya menyajikan wawasan, tetapi juga menyampaikan pesan penting: masa depan lingkungan bergantung pada keberanian kita menata ulang sistem hari ini, dan kolaborasi adalah kuncinya.

Penulis: Muchammad Waziruddin (MY)

Dekan FILKOM UNUSIDA Arda Surya Editya Jadi Narasumber dalam FGD Penelitian di Politeknik Aceh Selatan, Dorong Peningkatan Riset Bidang AI (Foto: UNUSIDA/Arda)

Dekan FILKOM UNUSIDA Jadi Narasumber FGD Penelitian di Politeknik Aceh Selatan

SIDOARJO – Dekan Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Arda Surya Editya, M.T., diundang sebagai narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) penelitian yang diselenggarakan oleh Politeknik Aceh Selatan. Kiprah Dr. Arda yang juga merupakan doktor di bidang Ilmu Komputer tersebut menjadi prestasi tersendiri bagi civitas akademika UNUSIDA di level nasional.

FGD yang mengusung tema ‘Peningkatan Kualitas Riset Bidang Pengolahan Citra Pada Perkebunan Sawit’ tersebut diikuti oleh para peneliti, dosen, mahasiswa, dan perwakilan instansi daerah, Kamis (14/8/2025).

Hal tersebut mendapatkan apresiasi dari Direktur Politeknik Aceh Selatan. Ia menyebut bahwa kehadiran Dr. Arda menjadi inspirasi dalam memperkuat kolaborasi riset antar perguruan tinggi di Indonesia.

Dalam paparan materinya, Dr. Arda menjelaskan tentang pengembangan metodologi penelitian serta strategi implementasi hasil riset, khususnya dalam penerapan Machine Learning pada sektor perkebunan sawit.

“Penelitian tidak hanya berhenti pada publikasi, tetapi harus berdampak nyata bagi masyarakat. Kuncinya adalah kolaborasi dan keberanian untuk menguji gagasan di lapangan,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa dengan analisis data yang tepat, efisiensi pengelolaan perkebunan dapat ditingkatkan, potensi penyakit tanaman bisa diprediksi, serta hasil panen dapat dioptimalkan.

Ia mengatakan pemanfaatan Machine Learning harus didukung oleh analisis data yang akurat. Dengan pendekatan data-driven,efisiensi pengelolaan perkebunan dapat ditingkatkan, potensi penyakit tanaman bisa diprediksi lebih dini, serta hasil panen dapat dioptimalkan sesuai kondisi lapangan. Hal inilah yang menurutnya menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem perkebunan modern berbasis teknologi.

“Ini adalah masa depan perkebunan modern yang harus kita wujudkan bersama,” tambahnya.

Ia menekankan pentingnya sinergi antara akademisi, pemerintah daerah, dan industri agar riset yang dilakukan tidak berhenti sebatas publikasi, melainkan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, melalui sinergi tersebut, hasil-hasil penelitian tidak sekadar menjadi dokumentasi ilmiah, tetapi dapat diterapkan langsung di lapangan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daya saing daerah.

“Dengan kolaborasi yang baik, penelitian dapat menghasilkan inovasi yang tidak hanya bermanfaat secara akademik, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia industri,” tuturnya.

Partisipasi Dr. Arda pada tingkat nasional ini menunjukkan komitmen UNUSIDA dalam mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai institusi di seluruh Indonesia. (MY)

Schreenshot Webinar Upgrading Aswaja yang diikuti oleh ratusan peserta (Foto: Humas UNUSIDA)

Webinar Upgrading Aswaja, Menguatkan Sanad Ulama Nusantara Menyambut HUT RI ke-80

SIDOARJO – Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengkajian Islam dan Keaswajaan (PIK) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Webinar Upgrading Aswaja dengan tema ‘Sanad Nasionalisme Ulama Nusantara dan Implementasi Masa Kini’, Kamis (15/8/2025).

Kegiatan yang diselenggarakan secara daring melalui zoom meeting ini diikuti oleh ratusan peserta yang berasal dari unsur dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, santri pondok pesantren, serta kader muda NU. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari instruktur PD-PKPNU wilayah dan nasional, yaitu Wakil Katib PWNU Jawa Tengah KH Hudalloh Ridwan Naim dan Wakil Katib PCNU Kediri, Dr. Imam Fachruddin, S.H., M.Si.

Rektor UNUSIDA, H. Fatkul Anam menyampaikan bahwa ulama Nusantara bukan hanya pewaris ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, tetapi juga menjadi tokoh penggerak sekaligus benteng utama dalam memperjuangkan kemerdekaan dan menjaga persatuan bangsa.

“Para ulama menjadikan agama dan nasionalisme bukan sebagai dua hal yang bertentangan, tetapi satu kesatuan yang saling menguatkan,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penguatan nilai-nilai nasionalisme di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial yang sangat cepat. Menurutnya, generasi muda harus menyadari bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman, sebagaimana diajarkan para ulama terdahulu.

Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus memperkaya wawasan civitas akademika dan memperkuat sinergi antara nilai-nilai Aswaja dan semangat nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Melalui forum ini, saya berharap lahir gagasan-gagasan konkret tentang bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai Aswaja dengan penguatan nasionalisme di era digital,” harapnya.

Sementara itu, Ketua UPT PIK UNUSIDA, H Arisy Karomi sangat mengapresiasi antusiasme seluruh peserta serta komitmen panitia dalam menyelenggarakan kegiatan yang sangat strategis ini.

“Terima kasih atas kesetiaan para peserta untuk hadir dan mengikuti kegiatan ini. Insya Allah akan banyak ilmu dan manfaat yang dapat kita ambil dari para narasumber,” ujarnya.

Webinar ini menegaskan pentingnya mempertahankan hubungan sanad keilmuan para ulama Nusantara yang selama ini menjadi pondasi bagi tegaknya nilai-nilai Aswaja dan semangat kebangsaan di Indonesia.

“Nilai religiusitas yang mendalam harus senantiasa disambungkan secara terus-menerus, karena hal ini menjadi landasan perjuangan bangsa kita untuk membersihkan diri dari penjajahan dan tetap relevan untuk diimplementasikan pada masa kini,” pungkasnya. (MY)

Ketua BPP UNUSIDA, KH Arly Fauzi saat menyampaikan sambutan dalam Yudisium ke-9 Fakultas Teknik UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Ketua BPP UNUSIDA Tekankan 3 Hal Penting Bagi Lulusan Fakultas Teknik

SIDOARJO – Di tengah-tengah momen penuh khidmat Yudisium Ke-9 Fakultas Teknik Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Ketua Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) UNUSIDA, KH Arly Fauzi dalam sambutannya, memberikan dorongan semangat kepada para calon alumni agar terus meningkatkan kompetensi dan menjaga integritas di dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.

Kiai Arly menekankan tiga hal penting bagi lulusan Fakultas Teknik UNUSIDA, yaitu:

  1. Jangan Berhenti Belajar dan Berinovasi
    Teknologi terus berkembang, sehingga kemampuan diri harus selalu ditingkatkan. Belajar tidak selalu harus di bangku kuliah, namun jika ada peluang melanjutkan pendidikan formal, hal itu sangat baik.

    “Jangan berhenti belajar, berkreasi, dan berinovasi. Pendidikan formal itu bagus, tetapi bukan satu-satunya jalan. Jangan menutup diri untuk mengembangkan kemampuan,” pesannya.

  2. Jadilah Orang yang Jujur dan Murah Hati
    Menurutnya, di era sekarang orang pintar banyak, tetapi yang jujur masih langka. Lulusan UNUSIDA harus memegang kejujuran, peduli pada orang lain, dan berusaha membahagiakan sekitarnya.

    “Tidak semua kebaikan diukur dengan uang. Semakin banyak kebaikan kita, semakin besar energi positif yang menarik kebaikan kembali kepada kita,” tuturnya.

  3. Jangan Malas
    Beliau mengingatkan bahwa dalam Islam, kemalasan tidak dibenarkan. Manusia dibekali akal dan tenaga untuk memenuhi kebutuhan hidup.

    “Gunakan akal, tenaga, dan pikiran untuk berkarya. Jangan jadi pemalas, karena dalam Islam itu hukumnya haram,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Arly mendoakan agar para lulusan yang sudah bekerja dapat terus meningkatkan karier, yang belum memiliki pekerjaan segera mendapatkannya, dan yang sudah berkeluarga diberi keberkahan rumah tangga.

“Semoga karier kalian meningkat, yang belum bekerja segera mendapat pekerjaan, dan yang sudah berumah tangga diberi kebahagiaan. Amin Allahumma Amin,” ujarnya saat menyampaikan sambutan dalam Yudisium ke-9 Fakultas Teknik UNUSIDA, Rabu (13/8/2025).

Tak hanya itu, ia sangat mengapresiasi kepada seluruh dosen dan struktural Fakultas Teknik yang dengan teladan dan sepenuh hati melayani mahasiswa, termasuk dalam proses bimbingan hingga kelulusan.

Kiai Arly menegaskan bahwa Fakultas Teknik adalah bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan yang selalu relevan dengan tantangan zaman. Oleh karena itu, ia berharap lulusannya mampu menjadi insan yang profesional, berintegritas, dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Kami berharap lulusan mampu menjadi insan yang profesional, berintegritas, dan bermanfaat bagi masyarakat,” harapnya. (MY)

Yudisium Ke-9 Fakultas Teknik UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium Ke-9 Fakultas Teknik UNUSIDA, Wujudkan Lulusan yang Berkompeten, Profesional, dan Berintegritas

SIDOARJO – Fakultas Teknik Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Yudisium ke-9 pada Rabu (13/8/2025) malam, yang dihadiri pimpinan universitas, dosen, dan para calon alumni. Yudisium Ke-9 Fakultas Teknik UNUSIDA kali ini menjadi momentum kebanggaan bersama, mengukuhkan dedikasi dosen dan mahasiswa dalam mewujudkan lulusan yang berkompeten, profesional, dan berintegritas.

Dalam kesempatan tersebut, Dekan Fakultas Teknik, Listin Fitrianah, S.P., M.Si., sangat mengaapresiasi kepada pimpinan UNUSIDA, para dosen, dan seluruh mahasiswa yang telah berjuang hingga tahap akhir perkuliahan.

“Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pimpinan dan seluruh dosen yang telah bekerja keras, bahkan hingga detik-detik terakhir, siang dan malam, demi membantu mahasiswa agar bisa lulus,” ungkapnya.

Menurutnya, Fakultas Teknik memiliki karakteristik berbeda dengan fakultas lain, karena 90% mahasiswanya bekerja sambil kuliah. Kondisi ini membuat para dosen harus lebih memahami situasi mahasiswa, termasuk keterlambatan hadir akibat lembur atau tuntutan pekerjaan.

“Bapak-ibu dosen sangat ramah dan penuh pengertian. Kami tahu ada yang datang dengan tangan dingin karena lelah bekerja, namun semua itu bisa diatasi dengan komunikasi dan saling memahami,” tambahnya.

Tahun ini menjadi istimewa karena sebagian besar mahasiswa angkatan 2021 lulus tepat waktu, bahkan ada yang berhasil lulus tanpa pernah mengulang mata kuliah. Selain itu, Fakultas Teknik juga konsisten meraih hibah penelitian dan pengabdian masyarakat dari tingkat pusat.

Listin juga menyoroti prestasi dosen-dosen Fakultas Teknik yang aktif melanjutkan studi S3 sambil tetap mengajar dan membimbing mahasiswa. “Kekurangan dari segi waktu karena kesibukan studi lanjut tetap bisa diimbangi dengan dedikasi tinggi membimbing mahasiswa. Ini luar biasa,” ujarnya.

Lebih lanjut, Listin berpesan agar para alumni menjaga nama baik almamater di dunia kerja dan masyarakat. Melalui konektivitas di dunia kerja, ia berharap, alumni Fakultas Teknik UNUSIDA dapat menjadi promotor perkembangan nantinya.

“Yudisium ini bukan akhir perjuangan. Kita akan bertemu lagi di dunia kerja dan pengabdian masyarakat. Jaga nama baik prodi, fakultas, dan universitas kita. Ajak juga saudara dan teman untuk kuliah di UNUSIDA,” pungkasnya. (MY)