BEM UNUSIDA Hadirkan Diskusi Kritis Lewat Pemutaran Film Dokumenter Pesta Babi (Foto: Humas UNUSIDA)

BEM UNUSIDA Gelar Nobar Film Dokumenter Pesta Babi, Bangun Kepekaan Sosial Mahasiswa

SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (BEM UNUSIDA) bekerja sama dengan berbagai organisasi kemahasiswaan dan komunitas intelektual kampus menyelenggarakan kegiatan Nonton Bareng (Nobar) film dokumenter Pesta Babi di area parkir belakang Gedung A UNUSIDA, Rabu (10/06/2026) malam. Mengusung tema ‘Membaca Realitas Sosial Melalui Film Dokumenter: Ruang Belajar, Refleksi, dan Diskusi Mahasiswa’, kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran alternatif yang mengajak mahasiswa memahami berbagai persoalan sosial, budaya, dan lingkungan yang terjadi di Indonesia, khususnya di Papua.

Suasana hangat dan penuh antusiasme mahasiswa dari berbagai program studi mewarnai jalannya pemutaran film yang berlangsung secara khidmat. Film dokumenter Pesta Babi menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat adat Papua yang berhadapan dengan berbagai perubahan sosial akibat ekspansi pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam.

Melalui narasi visual yang kuat, film tersebut tidak hanya menampilkan persoalan hilangnya ruang hidup masyarakat adat, tetapi juga menggambarkan pergulatan identitas budaya, hubungan manusia dengan alam, serta tantangan yang dihadapi masyarakat lokal dalam mempertahankan nilai-nilai yang diwariskan secara turun-temurun.

Presiden Mahasiswa UNUSIDA, M. Rafly Afandi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mahasiswa untuk memperluas ruang belajar di luar lingkungan kelas. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membentuk mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial terhadap berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi di tengah masyarakat.

“Film dokumenter memiliki kekuatan untuk menghadirkan realitas yang sering kali tidak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak mahasiswa melihat Indonesia secara lebih utuh, memahami keberagaman persoalan yang dihadapi masyarakat, serta menumbuhkan empati sebagai fondasi penting dalam kehidupan berbangsa,” ujarnya.

Kegiatan tersebut turut mendapat apresiasi dari Kepala Biro Kemahasiswaan, Karir, dan Alumni UNUSIDA, Fajar Nur Yasin, S.Pd., M.Pd. Ia menilai bahwa inisiatif mahasiswa dalam menghadirkan ruang diskusi yang kritis dan edukatif merupakan bentuk nyata pengembangan budaya akademik di lingkungan kampus.

Menurutnya, media budaya dan seni seperti film dokumenter dapat menjadi instrumen pembelajaran yang relevan untuk membantu mahasiswa memahami kompleksitas realitas sosial yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Pihaknya terus berupaya menghadirkan ruang dialog yang sehat, reflektif, dan bermakna bagi mahasiswa.

“Kampus harus menjadi ruang yang terbuka bagi pertukaran gagasan dan refleksi kritis. Film dokumenter bukan sekadar tontonan, melainkan sumber pengetahuan yang mampu memperkaya perspektif mahasiswa terhadap realitas sosial yang kompleks. Inilah bentuk pembelajaran kontekstual yang perlu terus dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi,” ungkapnya.

Setelah pemutaran film selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang keilmuan dan pengalaman. Forum ini menjadi ruang refleksi sekaligus pendalaman isu yang diangkat dalam film.

Founder The Indonesian Foresight Research Institute (IFRI), Ali Mursyid Azisi, menyoroti pentingnya kemampuan generasi muda dalam membaca arah pembangunan secara kritis dan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa berbagai persoalan yang ditampilkan dalam film tidak dapat dipandang sebagai isu lokal semata, melainkan bagian dari tantangan pembangunan yang dihadapi bangsa secara lebih luas.

“Persoalan yang ditampilkan dalam film ini bukan sekadar isu lokal, melainkan gambaran tentang bagaimana pembangunan harus selalu mempertimbangkan aspek sosial, budaya, dan lingkungan. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan melihat persoalan hari ini dalam konteks masa depan agar mampu melahirkan solusi yang lebih berkeadilan,” jelasnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh Bung Wawan Leak, Senator ProDEM sekaligus Eksponen 80-an. Ia mengajak mahasiswa untuk terus menjaga keberpihakan terhadap kelompok-kelompok masyarakat yang selama ini kurang mendapatkan ruang dalam narasi pembangunan nasional.

“Bangsa yang besar bukan bangsa yang hanya membangun gedung-gedung tinggi, tetapi bangsa yang mampu mendengar suara masyarakat di pinggiran. Film ini mengingatkan kita bahwa kemajuan harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap martabat manusia dan hak-hak masyarakat adat,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Studi Sosial Budaya dan Islam Nusantara UNUSIDA, M. Idham Kholiq, S.Sos., M.AP., memberikan perspektif mengenai pentingnya menjaga identitas budaya masyarakat adat sebagai bagian dari kekayaan bangsa Indonesia. Menurutnya, kehilangan ruang hidup bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga berkaitan dengan hilangnya memori kolektif dan pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Ketika suatu komunitas kehilangan ruang hidupnya, yang hilang bukan hanya tanah secara fisik, tetapi juga memori kolektif, pengetahuan lokal, dan identitas budaya yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, menjaga keberlanjutan budaya sama pentingnya dengan menjaga keberlanjutan lingkungan,” tuturnya.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta yang menyoroti isu lingkungan, hak masyarakat adat, pembangunan berkelanjutan, hingga peran generasi muda dalam menghadapi tantangan sosial kontemporer. Melalui forum tersebut, mahasiswa diajak untuk tidak hanya menjadi penonton atas berbagai persoalan bangsa, tetapi juga menjadi bagian dari solusi melalui penguatan literasi, riset, advokasi, dan aksi sosial yang konstruktif.

 

Penulis: Muchammad Waziruddin (MY)

Kerja sama antara FILKOM UNUSIDA dan Media Dakwah Pondok Pesantren Langitan Tuban (Foto: Humas UNUSIDA)

Transformasi Digital Pesantren, FILKOM UNUSIDA Dampingi Media Dakwah Langitan Kelola Database dan AI

TUBAN — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menjalin kolaborasi strategis dengan Media Dakwah Pondok Pesantren Langitan dalam penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) Akademi Media Dakwah Langitan bertema ‘Akselerasi Dakwah Santri: Sinkronisasi Manajemen Database dan Optimalisasi AI untuk Efisiensi Media Pesantren’ di Kantor Pusat Langitan Lantai 3, Kamis (11/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Dekan FILKOM UNUSIDA Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T. sebagai fasilitator utama sekaligus narasumber menyebutkan bahwa kolaborasi ini menjadi langkah nyata dalam mendukung transformasi digital di lingkungan pesantren, khususnya dalam pengelolaan data dan pengembangan media dakwah berbasis teknologi. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, lembaga pesantren dituntut untuk mampu mengelola berbagai aset data secara efektif agar dapat mendukung aktivitas dakwah yang lebih terstruktur, efisien, dan berkelanjutan.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah mendorong pertumbuhan data yang sangat cepat di lingkungan pesantren. Berbagai data penting mulai dari data personalia, arsip dakwah digital, inventaris media, hingga rekam jejak konten terus bertambah seiring meningkatnya aktivitas dakwah dan publikasi digital.

Dalam pemaparannya, Dr. Arda Surya Editya menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital harus diawali dengan tata kelola data yang baik.

“AI akan memberikan manfaat yang optimal apabila didukung oleh sistem database yang terstruktur, terdokumentasi dengan baik, dan mampu terintegrasi antar-unit kerja. Karena itu, pembenahan manajemen data menjadi fondasi utama sebelum melakukan pengembangan teknologi yang lebih lanjut,” jelasnya.

Namun demikian, Direktur Media Dakwah Pondok Pesantren Langitan Ustadz Muhammad Sholeh menerangkan bahwa tantangan yang dihadapi saat ini tidak hanya terletak pada jumlah data yang semakin besar, melainkan juga bagaimana data tersebut dapat dikelola, disimpan, dan disinkronisasikan secara efektif antar-divisi. Ketidakteraturan pengelolaan data berpotensi menimbulkan duplikasi informasi, kesulitan pencarian arsip, hingga risiko kehilangan data penting yang dibutuhkan dalam proses kerja media.

Melihat kondisi tersebut, pihaknya mencoba berkolaborasi bersama FILKOM UNUSIDA menginisiasi forum diskusi terarah untuk merumuskan sistem pengelolaan data yang lebih terstruktur, aman, dan aplikatif dengan memanfaatkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI).

“FGD ini diikuti oleh anggota Media Dakwah Langitan yang terlibat langsung dalam pengelolaan media dan arsip digital pesantren. Kegiatan dibagi menjadi dua sesi utama yang dirancang untuk menghasilkan solusi yang dapat diterapkan secara nyata,” katanya.

Pada sesi pertama, peserta melakukan pemetaan struktur database internal yang selama ini digunakan. Diskusi difokuskan pada identifikasi berbagai kendala sinkronisasi data antar-divisi, sekaligus merancang alur pengelolaan data yang lebih sistematis dan terintegrasi.

Sementara itu, sesi kedua membahas pemanfaatan teknologi AI dalam mendukung pengelolaan database media pesantren. Berbagai peluang penerapan AI diperkenalkan, mulai dari otomatisasi pengarsipan, pencarian data yang lebih cepat dan cerdas, hingga pengolahan informasi yang mampu meningkatkan produktivitas kerja tim media.

Diskusi berlangsung secara partisipatif dengan melibatkan seluruh peserta berdasarkan bidang kerja masing-masing, seperti tim redaksi, tim kreatif, dan tim administrasi arsip. Setiap kelompok melakukan identifikasi terhadap kondisi pengelolaan data yang berjalan saat ini, kemudian merumuskan berbagai rekomendasi perbaikan berdasarkan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi.

Lebih lanjut, kegiatan ini menargetkan terbentuknya draf blueprint standarisasi database internal Media Dakwah Langitan yang lebih terintegrasi dan mudah diimplementasikan. Selain itu, peserta juga menyusun rekomendasi berbagai perangkat berbasis AI yang dapat mendukung otomatisasi pengelolaan data guna meningkatkan efisiensi administrasi media.

“Kami berharap, hasil FGD ini menjadi pijakan awal dalam membangun sistem pengelolaan data yang lebih modern, terukur, dan berkelanjutan di lingkungan pesantren,” ungkapnya.

FGD Penelitian Dosen PIAUD UNUSIDA Ungkap Tingkat Pemahaman Orang Tua tentang Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini (Foto: Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Soroti Peran Orang Tua dan Lembaga PAUD dalam Peningkatan Kesehatan dan Gizi Anak

SIDOARJO — Upaya meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi anak usia dini membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari keluarga, lembaga pendidikan, hingga pemerintah. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) penelitian yang diselenggarakan oleh tim peneliti dari Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Rabu (10/6/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari riset yang dipimpin oleh Ketua Peneliti, Shofiyatuz Zahroh, S.Sos., M.Pd. FGD tersebut menjadi forum strategis untuk memotret kondisi riil di lapangan sekaligus menghimpun berbagai masukan guna memperkuat kebijakan dan praktik pendidikan anak usia dini, khususnya terkait kesehatan dan gizi anak.

Dalam pemaparannya, tim peneliti menegaskan bahwa kesehatan dan gizi merupakan dua faktor utama yang sangat menentukan tumbuh kembang anak. Kedua aspek tersebut juga menjadi perhatian serius dalam berbagai program nasional, termasuk upaya percepatan penanganan masalah gizi anak di Indonesia.

“Data yang kami sampaikan masih bersifat sementara dan apa adanya. Namun, dari temuan awal ini akan muncul berbagai hal yang mungkin tidak kita duga sebelumnya dan dapat membuka kesadaran bersama tentang pentingnya peran orang tua,” ungkapnya.

Hasil sementara penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat pemahaman orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak berdasarkan wilayah. Kabupaten Sidoarjo mencatat skor tertinggi dalam pemahaman kesehatan dan gizi anak. Sebaliknya, wilayah Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, masih berada pada tingkat pemahaman yang relatif rendah.

Temuan menarik lainnya menunjukkan bahwa keberadaan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam meningkatkan literasi orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak. Di wilayah Waru, misalnya, tingkat pemahaman orang tua terkait kesehatan dan gizi anak tergolong lebih baik dibandingkan daerah lainnya.

Penelitian ini juga menemukan bahwa tingkat pendidikan maupun pendapatan orang tua tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman gizi anak. Orang tua dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi yang lebih tinggi cenderung memberikan kebebasan lebih besar kepada anak dalam memilih makanan atau jajanan. Namun di sisi lain, mereka umumnya memiliki perhatian lebih tinggi terhadap aspek kesehatan seperti imunisasi, pemeriksaan kesehatan, dan penanganan medis.

Wakil Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA tersebut berharap, melalui FGD ini mampu melahirkan berbagai rekomendasi yang dapat menjadi dasar penguatan program pendidikan keluarga, peningkatan literasi kesehatan, serta pengembangan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan tumbuh kembang anak usia dini.

“Investasi terbaik dalam pembangunan bangsa sesungguhnya dimulai dari perhatian yang serius terhadap kesehatan, gizi, dan pendidikan anak sejak usia dini. Sebab, kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh bagaimana bangsa ini merawat dan mempersiapkan anak-anaknya hari ini,” terangnya.

Sementara itu, Koordinator Litbangjirap BRIDA Jawa Timur, Wiwik Heny Winarsih, M.Si., yang hadir sebagai narasumber memberikan penekanan penting terkait literasi gizi bagi masyarakat. Menurutnya, masih banyak orang tua yang memiliki persepsi keliru mengenai indikator kesehatan anak.

“Pemahaman masyarakat masih perlu diperkuat. Tidak semua anak yang tampak gemuk itu sehat. Justru sekarang banyak ditemukan kasus kelebihan gula pada anak. Ini perlu edukasi serius, termasuk pembatasan konsumsi makanan tertentu sejak dini,” ujarnya.

Wiwik juga mengingatkan pentingnya mengenalkan berbagai jenis makanan kepada anak sejak usia dini. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat membantu anak memiliki pola konsumsi yang lebih sehat dan beragam. Oleh karena itu, pihaknya sepakat bahwa peningkatan kualitas kesehatan dan gizi anak tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Sinergi antara keluarga, lembaga pendidikan, tenaga kesehatan, dan pemangku kebijakan menjadi kunci utama agar berbagai program intervensi dapat berjalan efektif dan memberikan dampak nyata.

“Anak yang sejak kecil tidak dikenalkan variasi makanan cenderung memiliki preferensi makanan yang terbatas dan lebih mudah bergantung pada makanan instan. Karena itu, pembiasaan pola makan beragam perlu dilakukan sejak dini,” tambahnya.

Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak strategis sebagai pemangku kebijakan, di antaranya perwakilan dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sidoarjo. Selain itu, forum ini juga dihadiri oleh organisasi profesi dan mitra lembaga pendidikan anak usia dini, seperti IGRA, IGTKI, HIMPAUDI, serta sejumlah kepala RA, TK, dan KB di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya.

KKN UNUSIDA BERDAYA 2026 Siap Digelar, UNUSIDA Bangun Kolaborasi Kuat dengan Dinas PMD 1

KKN UNUSIDA BERDAYA 2026 Siap Digelar, UNUSIDA Bangun Kolaborasi Kuat dengan Dinas PMD

Sidoarjo, 10 Juni 2026 — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (LPPM UNUSIDA) melaksanakan koordinasi dan audiensi dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Sidoarjo sebagai langkah awal persiapan pelaksanaan KKN UNUSIDA BERDAYA 2026. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (10/6/2026) tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mewujudkan program pengabdian yang lebih terarah, aplikatif, dan berkelanjutan.

Audiensi ini menjadi momentum penting untuk menyamakan persepsi sekaligus membangun kolaborasi dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan akademik mahasiswa, tetapi juga berfokus pada pemberdayaan masyarakat desa melalui pendekatan berbasis keilmuan dan kebutuhan riil masyarakat.

Pada tahun 2026, KKN UNUSIDA mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Keilmuan Fakultas untuk Mewujudkan Desa dan Komunitas yang Cerdas, Mandiri, Produktif, Sehat, serta Berkarakter Ahlussunnah wal Jama’ah.” Tema tersebut mencerminkan komitmen UNUSIDA dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat, dengan menghadirkan mahasiswa sebagai agen perubahan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan desa.

Melalui program KKN ini, mahasiswa akan didorong untuk terlibat secara langsung dalam proses pemberdayaan masyarakat. Mereka tidak hanya menjalankan kegiatan seremonial, tetapi juga berperan dalam memetakan potensi desa, mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, menyusun program kerja yang relevan, melaksanakan kegiatan berbasis kebutuhan masyarakat, hingga memberikan rekomendasi keberlanjutan program setelah masa KKN berakhir.

Dalam audiensi tersebut, LPPM UNUSIDA memaparkan konsep pelaksanaan KKN yang akan berfokus pada penguatan kapasitas masyarakat sesuai dengan bidang keilmuan yang dimiliki oleh masing-masing fakultas. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan program yang lebih spesifik, terukur, dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat desa.

Ruang lingkup program KKN UNUSIDA BERDAYA 2026 meliputi berbagai bidang strategis yang relevan dengan kebutuhan pembangunan desa saat ini. Pada bidang pendidikan dan pengasuhan anak, mahasiswa akan mendukung peningkatan kualitas pendidikan, literasi, serta pendampingan anak dan keluarga. Pada bidang ekonomi, program akan diarahkan pada penguatan UMKM, pemasaran digital, serta peningkatan kapasitas pelaku usaha lokal dalam menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompetitif.

Selain itu, mahasiswa juga akan berkontribusi dalam bidang lingkungan dan sanitasi melalui berbagai program edukasi serta pendampingan masyarakat terkait pengelolaan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan. Di bidang transformasi digital desa, mahasiswa akan membantu meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung pelayanan publik, administrasi desa, dan promosi potensi lokal. Sementara itu, pada aspek ketahanan sosial dan keislaman, mahasiswa akan mendorong penguatan nilai-nilai sosial, keagamaan, serta karakter Ahlussunnah wal Jama’ah yang menjadi ciri khas UNUSIDA sebagai perguruan tinggi di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Keberhasilan pelaksanaan program tersebut tentu membutuhkan dukungan berbagai pihak. Dalam hal ini, DPMD Kabupaten Sidoarjo memiliki peran strategis sebagai mitra utama dalam memastikan program KKN dapat berjalan secara efektif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa. DPMD akan memberikan arahan terkait isu-isu prioritas pembangunan desa, membantu proses penelaahan program kerja mahasiswa, serta memfasilitasi penyelarasan antara program KKN dengan agenda pembangunan desa yang sedang berjalan.

Tidak hanya itu, DPMD juga diharapkan dapat memperkuat koordinasi antara UNUSIDA, mahasiswa peserta KKN, dosen pembimbing lapangan, pemerintah desa, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Dengan koordinasi yang baik, program yang disusun mahasiswa dapat lebih realistis untuk dilaksanakan, tepat sasaran, dan memiliki peluang lebih besar untuk dilanjutkan oleh pemerintah desa setelah kegiatan KKN selesai.

KKN UNUSIDA BERDAYA 2026 direncanakan akan dilaksanakan di 19 desa yang tersebar di beberapa wilayah Kabupaten Sidoarjo. Desa-desa tersebut berada di Kecamatan Candi, Krembung, Porong, Tanggulangin, Tulangan, Tarik, Sidoarjo, dan Buduran. Sebaran lokasi tersebut dipilih dengan mempertimbangkan potensi desa, kebutuhan masyarakat, serta peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan selama pelaksanaan program.

Program ini akan melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas di lingkungan UNUSIDA, yakni Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Ekonomi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, serta Fakultas Agama Islam. Keterlibatan lintas disiplin ilmu tersebut diharapkan mampu menghasilkan program-program inovatif yang menjawab berbagai tantangan pembangunan desa secara komprehensif.

LPPM UNUSIDA menegaskan bahwa KKN UNUSIDA BERDAYA 2026 bukan sekadar kewajiban akademik mahasiswa, melainkan sebuah ruang pembelajaran sekaligus pengabdian yang mendorong lahirnya kolaborasi antara kampus dan masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa diharapkan mampu meningkatkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, serta kemampuan problem solving yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat maupun dunia kerja.

Mengusung semangat “Berkhidmah dan Berkarya di Desa,” UNUSIDA berkomitmen menghadirkan pelaksanaan KKN yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Selain menghasilkan berbagai program pemberdayaan, kegiatan ini juga ditargetkan menghasilkan luaran akademik dan dokumentatif berupa laporan akhir, artikel pengabdian kepada masyarakat, poster publikasi, video dokumentasi kegiatan, serta rekomendasi keberlanjutan program yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah desa.

Melalui sinergi yang kuat antara UNUSIDA, DPMD Kabupaten Sidoarjo, pemerintah desa, masyarakat, dan berbagai mitra lokal, KKN UNUSIDA BERDAYA 2026 diharapkan menjadi model pengabdian yang mampu memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan desa yang cerdas, mandiri, produktif, sehat, dan berkarakter Ahlussunnah wal Jama’ah.

BEM FILKOM dan UKM Mahasiswa Unggul UNUSIDA Gelar Seminar Personal (Foto: Humas UNUSIDA)

Kolaboratif! BEM FILKOM dan UKM Mahasiswa Unggul UNUSIDA Gelar Seminar Personal Branding for Career

SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menyelenggarakan seminar bertajuk ‘Personal Branding for Career’ di Auditorium Kampus 2 UNUSIDA, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan yang berlangsung pada pagi hari tersebut merupakan hasil kolaborasi antara BEM FILKOM dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Unggul (MU) sebagai upaya meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif.

Dengan mengusung tema ‘Optimalkan LinkedIn dan CV agar Diminati Recruiter‘, seminar ini memberikan wawasan praktis kepada mahasiswa mengenai pentingnya membangun citra profesional sejak masa perkuliahan. Kegiatan yang diselenggarakan secara gratis tersebut mendapat sambutan positif dari mahasiswa berbagai program studi yang antusias mengikuti seluruh rangkaian acara.

Seminar menghadirkan Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T. sebagai narasumber utama. Sebagai akademisi sekaligus praktisi yang memiliki pengalaman dalam pengembangan karier mahasiswa, kehadiran beliau menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta yang ingin memahami strategi membangun personal branding yang efektif.

Dalam pemaparannya, Dr. Arda menjelaskan bahwa personal branding merupakan salah satu aspek penting yang dapat menentukan keberhasilan seseorang dalam memasuki dunia profesional.

“Personal branding bukan hanya tentang bagaimana seseorang terlihat di media sosial, tetapi juga bagaimana membangun reputasi, kompetensi, dan nilai diri yang dapat dipercaya oleh perusahaan maupun recruiter,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan platform LinkedIn sebagai sarana profesional yang dapat membantu mahasiswa memperluas jaringan, membangun kredibilitas, dan menemukan peluang karier yang sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.

“LinkedIn merupakan media profesional yang dapat digunakan untuk memperluas jaringan, mencari peluang kerja, serta menampilkan pengalaman dan keterampilan yang dimiliki secara lebih profesional,” tuturnya.

Selain membahas optimalisasi profil LinkedIn, Dr. Arda juga memberikan panduan mengenai penyusunan Curriculum Vitae (CV) yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan industri saat ini. Peserta diajak memahami bagaimana menyusun CV yang informatif, menarik, dan mampu menonjolkan kompetensi yang relevan dengan posisi yang dilamar.

Suasana seminar berlangsung interaktif ketika peserta diminta untuk meninjau kembali profil LinkedIn dan CV yang mereka miliki. Narasumber memberikan berbagai contoh nyata mengenai kesalahan yang sering dilakukan oleh pencari kerja, mulai dari penyusunan informasi yang kurang tepat hingga tampilan profil yang belum optimal. Melalui sesi tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk memahami langkah-langkah perbaikan yang dapat meningkatkan daya tarik profil profesional mereka di mata recruiter.

Ketua Pelaksana kegiatan, Nur Hidayat, menjelaskan bahwa seminar ini dirancang untuk memberikan bekal yang relevan bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja yang semakin dinamis.

“Melalui seminar ini, peserta memperoleh banyak manfaat, mulai dari wawasan mengenai personal branding, pemahaman tentang optimalisasi LinkedIn, teknik penyusunan CV profesional, hingga pengalaman praktik langsung bersama narasumber,” jelasnya.

Menurutnya, penguasaan keterampilan dalam membangun citra profesional menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa dan lulusan baru. Tidak hanya memiliki kemampuan akademik yang baik, mahasiswa juga perlu mampu mempresentasikan kompetensi dan pengalaman yang dimiliki secara efektif kepada perusahaan maupun institusi yang membutuhkan tenaga kerja.

Ia berharap para peserta dapat menerapkan ilmu yang diperoleh untuk membangun citra profesional yang lebih baik, meningkatkan kualitas profil LinkedIn dan CV, serta mempersiapkan diri menghadapi persaingan dunia kerja dengan lebih percaya diri, kompetitif, dan siap bersaing di era digital.

“Kegiatan ini sekaligus menjadi kami di Organisasi Mahasiswa (Ormawa) dalam mendukung pengembangan soft skills mahasiswa. Dengan materi aplikatif dan sesuai kebutuhan industri, dapat meningkatkan kesiapan mahasiswa untuk memasuki dunia profesional,” pungkasnya.

 

Penulis: Feni Dwi Agustin (MY)

PIAUD UNUSIDA Gelar FGD Penelitian tentang Pemahaman Orang Tua terhadap Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini di Sumenep (Foto: Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Gelar FGD Penelitian tentang Pemahaman Orang Tua terhadap Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini

SUMENEP — Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Focus Group Discussion (FGD) penelitian bertema ‘Tingkat Pemahaman Orang Tua Tentang Kesehatan dan Gizi Pada Anak Usia Dini 4–6 Tahun’, Kamis (7/6/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian berjudul ‘Analisis Tingkat Pemahaman Orang Tua tentang Stunting (Kesehatan dan Gizi) pada Anak Usia Dini (4–6 Tahun) (Studi Kasus di Sidoarjo–Sumenep)’.

Penelitian tersebut diketuai oleh Shofiyatuz Zahro, S.Sos., M.Pd., dosen PIAUD UNUSIDA. FGD diselenggarakan sebagai upaya akademik untuk mengkaji sejauh mana pemahaman orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak usia dini, khususnya dalam pencegahan stunting yang masih menjadi perhatian nasional.

Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh tim dosen PIAUD UNUSIDA, Akhmad Supriyanto, S.Pd., M.Pd., perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Desy Febriana, S.St., M.Kes. selaku Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Kabupaten Sumenep, Diah Evi Nurani, S.Tp., M.Si. selaku Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia (PPM) Bappeda Kabupaten Sumenep, jajaran Pengurus Yayasan Pendidikan Al Hidayah Guluk-Guluk Sumenep, IGRA Sumenep, IGTKI Sumenep, serta kepala PAUD, TK, dan RA se-Kabupaten Sumenep.

Ketua peneliti, Shofiyatuz Zahro, menyampaikan bahwa penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran nyata mengenai tingkat pengetahuan orang tua terkait kesehatan dan gizi anak usia dini, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pemahaman tersebut.

“Orang tua memiliki peran sentral dalam memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal. Melalui penelitian ini, kami ingin mengetahui sejauh mana pemahaman mereka terkait pemenuhan gizi, pola hidup sehat, serta pencegahan stunting pada anak usia dini,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa hasil dari kegiatan ini akan menjadi bahan kajian ilmiah sekaligus referensi dalam penyusunan program edukasi dan pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada peningkatan kualitas kesehatan dan gizi anak usia dini. Selain itu, temuan penelitian juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan dan program yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

“Melalui kegiatan penelitian ini, kami berkomitmen dalam menghasilkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta berkontribusi dalam mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ketua Program Studi PIAUD UNUSIDA, Rif’atul Anita, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menggali informasi mengenai tingkat pengetahuan dan pemahaman orang tua dalam memenuhi kebutuhan kesehatan dan gizi anak usia dini. Menurutnya, aspek kesehatan dan gizi merupakan fondasi penting yang akan menentukan kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa emas (golden age).

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai pemahaman orang tua terkait kesehatan dan gizi anak usia dini. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam merancang program edukasi yang lebih tepat sasaran bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Desy Febriana, S.St., M.Kes. menegaskan bahwa pencegahan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi juga memerlukan keterlibatan keluarga, lembaga pendidikan, dan pemerintah secara berkelanjutan.

Pihaknya sangat mengapresiasi inisiatif penelitian yang dilakukan UNUSIDA karena dinilai dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan dan program pembangunan sumber daya manusia, khususnya dalam meningkatkan kualitas kesehatan anak sejak usia dini.

“Kami berharap hasil penelitian dosen PIAUD UNUSIDA dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan program edukasi kesehatan dan gizi keluarga, serta mendukung upaya pemerintah dalam percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Sumenep,” harapnya.

Webinar Nasional “Sinergi Nilai Aswaja dan Pancasila: UNUSIDA Go Nusantara” melalui Zoom Meeting (Foto: Humas UNUSIDA)

Webinar Nasional Hari Lahir Pancasila, UNUSIDA Perkuat Sinergi Nilai Aswaja dan Kebangsaan

SIDOARJO — Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila, Unit Pelaksana Teknis Pengkajian Islam dan Keaswajaan (UPT PIK) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk ‘Sinergi Nilai Aswaja dan Pancasila: UNUSIDA Go Nusantara’ pada Senin (01/06/2026) melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menjadi ruang intelektual untuk merefleksikan kembali relevansi nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan Pancasila sebagai fondasi kebangsaan dalam menjawab berbagai tantangan sosial, pendidikan, ekonomi, teknologi, dan ideologi di era transformasi digital.

Webinar yang terbuka untuk pelajar, mahasiswa, santri pondok pesantren, serta masyarakat umum ini menghadirkan akademisi lintas disiplin ilmu dari lingkungan UNUSIDA.

Kepala UPT PIK UNUSIDA H. Aris Kuswanto, S.T., M.Pd.I., menjelaskan bahwa Webinar akan mengulas berbagai isu strategis dengan menempatkan Pancasila dan Aswaja bukan sekadar konsep normatif, melainkan sebagai pedoman hidup yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Melalui webinar nasional ini, UNUSIDA ingin menunjukkan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang dialog akademik yang mempertemukan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Peringatan Hari Lahir Pancasila tidak hanya dimaknai sebagai agenda seremonial tahunan, tetapi juga sebagai momentum refleksi bersama untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam membangun masyarakat yang religius, moderat, inovatif, dan berdaya saing.

“Semangat ‘Sinergi Nilai Aswaja dan Pancasila: UNUSIDA Go Nusantara’ semoga menjadi energi kolektif dalam memperkuat peran kampus sebagai pusat peradaban yang mampu menjawab tantangan masa depan tanpa kehilangan akar nilai yang menjadi identitas bangsa Indonesia,” katanya.

Dalam keynote speech, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menegaskan bahwa Pancasila dan Aswaja memiliki titik temu yang kuat dalam membangun peradaban yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis untuk menjaga relevansi nilai-nilai tersebut di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan sosial.

“Pancasila dan Aswaja bukan dua entitas yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan dua kekuatan moral yang saling menguatkan dalam membangun karakter bangsa. Dari kampus inilah lahir generasi yang mampu berpikir global tanpa kehilangan identitas keindonesiaannya,” ungkapnya.

Materi pertama disampaikan oleh Dosen Teknik Kimia UNUSIDA Dr. Trisna Kumala Dhaniswara, S.T., M.T., yang mengangkat tema inovasi teknologi dan keberlanjutan sebagai implementasi nilai-nilai Pancasila. Ia menjelaskan bahwa kemajuan teknologi harus diarahkan untuk menciptakan kemanfaatan yang merata bagi masyarakat dan lingkungan.

“Teknologi yang berlandaskan nilai Pancasila tidak hanya mengejar efisiensi dan keuntungan, tetapi juga menjamin keberlanjutan lingkungan, keadilan sosial, serta kesejahteraan generasi mendatang. Inovasi sejati adalah inovasi yang menghadirkan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat,” jelasnya.

Selanjutnya, Dosen DKV UNUSIDA Sonhaji Arif, S.Pd., M.Sn. membahas transformasi digital dan tanggung jawab moral dalam kehidupan masyarakat modern. Menurutnya, perkembangan teknologi informasi telah membuka ruang yang sangat luas bagi masyarakat untuk berinteraksi dan berkarya, namun juga menghadirkan tantangan etika yang semakin kompleks.

“Transformasi digital harus dibarengi dengan transformasi karakter. Kemajuan teknologi tanpa tanggung jawab moral hanya akan melahirkan disrupsi sosial. Karena itu, nilai-nilai Pancasila harus menjadi kompas etis dalam setiap aktivitas digital masyarakat Indonesia,” tuturnya.

Dari perspektif ekonomi, Dosen Manajemen UNUSIDA Ayu Lucy Larassaty, S.E., M.M. menekankan pentingnya membangun ekonomi berkarakter melalui sinergi nilai Aswaja dan Pancasila. Menurutnya, pembangunan ekonomi tidak dapat diukur semata-mata dari pertumbuhan angka statistik, tetapi juga harus memperhatikan aspek kebermanfaatan sosial dan keadilan distribusi.

“Ekonomi yang berkarakter adalah ekonomi yang menghadirkan keberkahan dan keadilan. Nilai Aswaja mengajarkan keseimbangan, sedangkan Pancasila memberikan arah agar aktivitas ekonomi tidak meninggalkan nilai kemanusiaan dan kesejahteraan bersama,” paparnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNUSIDA Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNUSIDA, menyoroti peran strategis pendidikan dalam memperkuat karakter kebangsaan. Ia menegaskan bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter peserta didik yang berintegritas.

“Pendidikan harus menjadi ruang tumbuh bagi lahirnya generasi yang cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kuat secara moral. Di sinilah nilai Aswaja dan Pancasila memiliki peran penting sebagai fondasi pendidikan karakter yang relevan dengan kebutuhan zaman,” ujarnya.

Tak hanya itu, Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I. yang mengulas hubungan antara ideologi kebangsaan dan keaswajaan dalam konteks kehidupan berbangsa. Ia menjelaskan bahwa Aswaja memiliki kesesuaian nilai dengan Pancasila, terutama dalam menjaga moderasi, toleransi, dan persatuan nasional.

“Aswaja mengajarkan sikap tawassuth, tasamuh, dan tawazun yang selaras dengan semangat Pancasila. Ketika nilai-nilai tersebut diinternalisasikan dengan baik, maka masyarakat akan memiliki daya tahan ideologis yang kuat terhadap berbagai bentuk radikalisme, ekstremisme, maupun disintegrasi bangsa,” tegasnya.

UNUSIDA Perkuat Kemitraan Strategis dengan KADIN Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Perkuat Kemitraan Strategis dengan KADIN Sidoarjo untuk Advokasi Hukum dan Pengembangan SDM

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) terus memperluas jejaring kemitraan strategis dengan berbagai pihak guna mendukung pengembangan sumber daya manusia dan pemberdayaan masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kehadiran UNUSIDA dalam agenda koordinasi dan penandatanganan kerja sama yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sidoarjo di Ruang Rapat Hj. Maimunah, Kantor Sekretariat KADIN Sidoarjo, Jumat (5/6/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Wakil Ketua Bidang Hukum dan Etika Bisnis KADIN Sidoarjo, Sigit Hermawan memaparkan sejumlah program strategis, salah satunya pembentukan Klinik Hukum dan Etika Bisnis KADIN Sidoarjo. Program ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman pelaku usaha, pengurus KADIN, UMKM, dan profesional mengenai aspek hukum bisnis, tata kelola perusahaan, etika bisnis, kepatuhan regulasi, serta penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG).

“Terima kasih atas kehadirannya, pertemuan ini membahas berbagai peluang kolaborasi antara KADIN Sidoarjo dan perguruan tinggi di Kabupaten Sidoarjo, khususnya dalam bidang hukum, etika bisnis, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia,” jelasnya.

Selain itu, dipaparkan pula berbagai usulan kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi dan lembaga pendidikan, termasuk dengan Program Studi Hukum UNUSIDA. Kerja sama tersebut meliputi penyelenggaraan kuliah umum, penguatan pendidikan hukum bisnis, hingga kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan seperti Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Jawa Timur.

Salah satu program prioritas yang menjadi perhatian adalah Advokasi dan Bantuan Hukum bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Sidoarjo, pelaku UMKM, serta anggota dan pengurus KADIN Sidoarjo.

“Kegiatan ini bertujuan memberikan pendampingan hukum, edukasi, serta perlindungan bagi para pekerja migran dan pelaku usaha agar memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap aspek hukum dalam aktivitas kerja maupun usaha,” katanya.

Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Kerja Sama UNUSIDA, Sonhaji Arif menyampaikan bahwa kemitraan dengan KADIN merupakan langkah strategis dalam mendukung visi UNUSIDA sebagai perguruan tinggi yang unggul dan berdampak.

“Kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia usaha menjadi kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan. Melalui kerja sama ini, kami berharap mahasiswa memperoleh akses yang lebih luas terhadap pengalaman industri, penguatan kompetensi profesional, serta kesempatan untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi daerah,” ujarnya.

Melalui kerja sama tersebut, pihaknya sangat mendukung untuk terus mengembangkan program-program yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan, penguatan kompetensi mahasiswa, serta percepatan terwujudnya lulusan yang siap bersaing di dunia kerja dan dunia usaha. Selain itu juga untuk membuka peluang bagi UNUSIDA untuk berkontribusi dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pendampingan hukum dan bisnis yang sejalan dengan kebutuhan dunia industri saat ini.

“Sinergi ini sekaligus menjadi wujud nyata implementasi konsep link and match antara perguruan tinggi dan industri dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul, profesional, dan mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa. Semoga kolaborasi ini mampu membuka peluang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman praktis, memperluas jaringan profesional, serta meningkatkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama juga dilaksanakan penandatanganan kerja sama sebagai langkah konkret memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan dunia usaha. Kerja sama yang direncanakan akan dituangkan dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA) yang disertai pelaksanaan berbagai kegiatan akademik maupun praktis.

Program tersebut direncanakan berlangsung pada periode Maret hingga Juli 2026 dengan menggandeng Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sidoarjo sebagai mitra kerja sama.

Guru Besar UiTM Malaysia Prof Shukor Sanim saat menjadi narasumber dalam International Guest Lecture UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Guru Besar UiTM Malaysia Prof Shukor Sanim Bahas Masa Depan Peradaban di Era AI dalam International Guest Lecture di UNUSIDA

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali memperkuat jejaring akademik internasional melalui kegiatan International Guest Lecture yang menghadirkan akademisi dari Malaysia, Assoc. Prof. Ts. Dr. Shukor Sanim Mohd Fauzi dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), Kamis (4/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 5 Gedung A UNUSIDA ini mengangkat tema “AI and the Future of Civilization: Pedagogical Reconstruction, Economic Acceleration, and Contemporary Ethical Matrices in the ASEAN Context”.

Kuliah tamu internasional ini diikuti oleh mahasiswa, dosen, dan civitas akademika UNUSIDA yang antusias mendiskusikan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) serta dampaknya terhadap pendidikan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat ASEAN. Dalam rangka menghadirkan wawasan global bagi mahasiswa serta memperkuat kesiapan generasi muda menghadapi perubahan peradaban yang dipengaruhi oleh perkembangan kecerdasan buatan.

Dalam pemaparannya, Prof. Shukor Sanim menegaskan bahwa AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan atau fiksi ilmiah, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Saat ini, AI telah digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, perbankan, pertanian, hingga penelitian ilmiah.

“Teknologi sebelumnya membantu pekerjaan fisik manusia, sedangkan AI membantu pekerjaan kognitif manusia, termasuk proses berpikir, pengambilan keputusan, dan kreativitas,” jelasnya.

Menurutnya, perkembangan AI merupakan salah satu lompatan besar dalam sejarah peradaban manusia setelah revolusi industri, penemuan listrik, dan internet. Jika revolusi industri mengubah cara manusia bekerja secara fisik, maka AI mengubah cara manusia berpikir dan memproses informasi.

Trasformasi Pendidikan di Era AI
Salah satu fokus utama yang dibahas adalah perubahan paradigma pendidikan di era kecerdasan buatan. Prof. Shukor menjelaskan bahwa perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menjadi tempat penyampaian informasi, karena informasi kini dapat diakses dengan mudah melalui teknologi AI.

“Mahasiswa tidak lagi membutuhkan dosen hanya sebagai sumber informasi. Mereka membutuhkan dosen sebagai pembimbing yang mampu menanamkan kebijaksanaan, pemikiran kritis, dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pendidikan masa depan harus berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, kepemimpinan, kecerdasan emosional, dan kemampuan berkolaborasi lintas disiplin ilmu. Perguruan tinggi harus bertransformasi dari sekadar penyedia informasi menjadi pusat pengembangan kapasitas manusia.

Selain itu, AI telah mengubah cara belajar melalui kemampuan melakukan sintesis penelitian, menghasilkan kode program, menerjemahkan bahasa secara instan, hingga membantu pembuatan laporan dan presentasi secara cepat.

Peluang Besar Ekonomi Digital ASEAN
Pada sektor ekonomi, Prof. Shukor memaparkan bahwa AI menjadi motor penggerak utama ekonomi digital yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional di berbagai sektor industri.

Ia mengutip proyeksi ekonomi digital ASEAN yang diperkirakan akan tumbuh dari sekitar 200 miliar dolar AS pada tahun 2022 menjadi 1 triliun dolar AS pada tahun 2030. Oleh karena itu, negara-negara ASEAN perlu menentukan posisi strategisnya di tengah perkembangan teknologi global.

“Pertanyaan penting bagi ASEAN adalah apakah kita hanya akan menjadi konsumen teknologi, atau mampu menjadi produsen dan inovator teknologi AI,” katanya.

Menurutnya, transformasi tenaga kerja juga akan terjadi secara signifikan. Sejumlah pekerjaan administratif rutin diprediksi akan berkurang, sementara profesi baru seperti AI Engineer, Data Scientist, AI Ethicist, dan Digital Strategist akan semakin dibutuhkan.

Tantangan Etika dan Integritas Akademik
Di balik berbagai peluang yang ditawarkan AI, Prof. Shukor juga mengingatkan adanya tantangan etika yang harus dihadapi. Ia menyebut bahwa tantangan terbesar AI bukanlah persoalan teknologi, melainkan persoalan moral dan etika.

Fenomena deepfake, manipulasi suara dan video, penyebaran informasi palsu, serta penyalahgunaan AI untuk menghasilkan sumber referensi fiktif menjadi ancaman nyata yang perlu diantisipasi.

Dalam dunia pendidikan, penggunaan AI juga memunculkan tantangan baru terkait integritas akademik, seperti plagiarisme, ketergantungan berlebihan terhadap teknologi, serta menurunnya kemampuan berpikir mandiri mahasiswa.

“Output AI harus selalu diverifikasi. Teknologi dapat membantu manusia, tetapi tidak boleh menggantikan kemampuan berpikir kritis dan tanggung jawab akademik,” tegasnya.

Universitas Harus menjadi Pemimpin Tranformasi AI
Lebih lanjut, Prof. Shukor menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat inovasi dan pengembangan talenta digital di kawasan ASEAN. Universitas diharapkan mampu menjadi pelopor dalam menciptakan solusi AI yang sesuai dengan karakteristik masyarakat ASEAN yang multikultural, multibahasa, dan beragam secara ekonomi.

Ia juga mendorong kolaborasi antarnegara ASEAN dalam bidang kesehatan digital, pendidikan berbasis teknologi, serta pengembangan kebijakan AI yang berlandaskan etika dan nilai-nilai kemanusiaan.

Lebih lanjut, Prof. Shukor menyampaikan bahwa masa depan bukanlah tentang menggantikan manusia dengan AI, melainkan memberdayakan manusia melalui teknologi.

“Teknologi tidak akan mampu membangun peradaban yang lebih baik sendirian. Manusia harus memandunya dengan etika, kepemimpinan, dan visi yang bijaksana,” pungkasnya.

Ketua PCNU Sidoarjo, KH Zainal Abidin saat menyampaikan sambutan dalam International Guest Lecture di UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Ketua PCNU Sidoarjo Ajak Mahasiswa UNUSIDA Bangun Mimpi Besar untuk Berdaya Saing Global

SIDOARJO — Semangat untuk terus belajar, memiliki cita-cita tinggi, dan menghilangkan rasa malas menjadi pesan utama yang disampaikan Ketua PCNU Sidoarjo, KH. Muhammad Zainal Abidin dalam kegiatan International Guest Lecture yang menghadirkan Associate Professor Ts. Dr. Shukor Sanim Mohd Fauzi dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Kamis (4/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Zainal mengingatkan para mahasiswa bahwa kemajuan individu maupun bangsa tidak akan tercapai jika seseorang merasa bangga dengan kebodohan dan berhenti belajar. Menurutnya, di tengah persaingan global yang semakin ketat, generasi muda harus memiliki komitmen kuat untuk terus menambah wawasan dan pengetahuan.

Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan internasional mengenai perkembangan kecerdasan buatan dan peradaban masa depan, tetapi juga mendapatkan motivasi untuk terus belajar, bermimpi besar, dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang berintegritas serta berdaya saing global.

“Kalau kita tidak ingin tertinggal dengan negara lain, kampus lain, atau kelompok lain, maka jangan pernah bangga dengan kebodohan. Bangun komitmen untuk terus ingin tahu, terus belajar, dan terus mengejar cita-cita,” pesannya di hadapan mahasiswa dan civitas akademika UNUSIDA.

Ia juga mengajak mahasiswa untuk memiliki impian yang besar dan tidak membatasi diri pada target-target yang terlalu kecil. Menurutnya, cita-cita harus digantungkan setinggi langit agar mampu melahirkan semangat dan kerja keras yang luar biasa.

“Jangan hanya bercita-cita menjadi dokter atau dosen. Gantungkan cita-cita setinggi mungkin. Jika ingin memiliki banyak dokter sebagai bawahan, berarti Anda harus memiliki rumah sakit. Jika ingin memiliki banyak dosen sebagai bawahan, berarti Anda harus memiliki kampus. Cita-cita besar akan melahirkan langkah besar,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mencontohkan perkembangan lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU yang saat ini telah memiliki ratusan satuan pendidikan dan ribuan tenaga pendidik. Menurutnya, keberhasilan tersebut lahir dari keberanian untuk bermimpi besar dan konsisten bekerja mewujudkannya.

Selain itu, Kiai Zainal juga menyoroti tantangan terbesar yang sering dihadapi generasi muda, yaitu rasa malas. Ia menilai Indonesia, khususnya Sidoarjo, memiliki berbagai kemudahan dan kenyamanan yang seharusnya menjadi modal untuk berkembang, bukan justru menjadi alasan untuk bermalas-malasan.

“Allah telah memberikan lingkungan yang nyaman kepada kita. Tetapi sering kali dari kenyamanan itu muncul rasa malas. Jika rasa malas tidak dilawan, kita akan tertinggal dari kelompok lain yang lebih giat belajar dan bekerja,” tuturnya.

Menurutnya, Islam sendiri telah mengajarkan umatnya untuk memerangi kemalasan. Oleh karena itu, mahasiswa harus membangun semangat belajar sepanjang hayat dan tidak cepat merasa puas dengan pencapaian yang dimiliki saat ini.

Lebih lanjut, Kiai Zainal menyampaikan harapannya agar mahasiswa UNUSIDA, khususnya kader-kader Nahdlatul Ulama, menjadi generasi penerus yang mampu membawa organisasi, masyarakat, dan bangsa menuju masa depan yang lebih baik.

“Jika hari ini kalian memiliki semangat belajar yang luar biasa dan mampu menghilangkan rasa malas, maka kalian pantas menjadi pemimpin Nahdlatul Ulama, pemimpin Kabupaten Sidoarjo, pemimpin Jawa Timur, bahkan pemimpin bangsa di masa depan,” tegasnya.