Guru Besar UiTM Malaysia Prof Shukor Sanim saat menjadi narasumber dalam International Guest Lecture UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Guru Besar UiTM Malaysia Prof Shukor Sanim Bahas Masa Depan Peradaban di Era AI dalam International Guest Lecture di UNUSIDA

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali memperkuat jejaring akademik internasional melalui kegiatan International Guest Lecture yang menghadirkan akademisi dari Malaysia, Assoc. Prof. Ts. Dr. Shukor Sanim Mohd Fauzi dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), Kamis (4/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 5 Gedung A UNUSIDA ini mengangkat tema “AI and the Future of Civilization: Pedagogical Reconstruction, Economic Acceleration, and Contemporary Ethical Matrices in the ASEAN Context”.

Kuliah tamu internasional ini diikuti oleh mahasiswa, dosen, dan civitas akademika UNUSIDA yang antusias mendiskusikan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) serta dampaknya terhadap pendidikan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat ASEAN. Dalam rangka menghadirkan wawasan global bagi mahasiswa serta memperkuat kesiapan generasi muda menghadapi perubahan peradaban yang dipengaruhi oleh perkembangan kecerdasan buatan.

Dalam pemaparannya, Prof. Shukor Sanim menegaskan bahwa AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan atau fiksi ilmiah, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Saat ini, AI telah digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, perbankan, pertanian, hingga penelitian ilmiah.

“Teknologi sebelumnya membantu pekerjaan fisik manusia, sedangkan AI membantu pekerjaan kognitif manusia, termasuk proses berpikir, pengambilan keputusan, dan kreativitas,” jelasnya.

Menurutnya, perkembangan AI merupakan salah satu lompatan besar dalam sejarah peradaban manusia setelah revolusi industri, penemuan listrik, dan internet. Jika revolusi industri mengubah cara manusia bekerja secara fisik, maka AI mengubah cara manusia berpikir dan memproses informasi.

Trasformasi Pendidikan di Era AI
Salah satu fokus utama yang dibahas adalah perubahan paradigma pendidikan di era kecerdasan buatan. Prof. Shukor menjelaskan bahwa perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menjadi tempat penyampaian informasi, karena informasi kini dapat diakses dengan mudah melalui teknologi AI.

Baca juga:  UKM Pramuka Khatulistiwa UNUSIDA Gelar Latihan Rutin Bahas Struktur Organisasi

“Mahasiswa tidak lagi membutuhkan dosen hanya sebagai sumber informasi. Mereka membutuhkan dosen sebagai pembimbing yang mampu menanamkan kebijaksanaan, pemikiran kritis, dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pendidikan masa depan harus berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, kepemimpinan, kecerdasan emosional, dan kemampuan berkolaborasi lintas disiplin ilmu. Perguruan tinggi harus bertransformasi dari sekadar penyedia informasi menjadi pusat pengembangan kapasitas manusia.

Selain itu, AI telah mengubah cara belajar melalui kemampuan melakukan sintesis penelitian, menghasilkan kode program, menerjemahkan bahasa secara instan, hingga membantu pembuatan laporan dan presentasi secara cepat.

Peluang Besar Ekonomi Digital ASEAN
Pada sektor ekonomi, Prof. Shukor memaparkan bahwa AI menjadi motor penggerak utama ekonomi digital yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional di berbagai sektor industri.

Ia mengutip proyeksi ekonomi digital ASEAN yang diperkirakan akan tumbuh dari sekitar 200 miliar dolar AS pada tahun 2022 menjadi 1 triliun dolar AS pada tahun 2030. Oleh karena itu, negara-negara ASEAN perlu menentukan posisi strategisnya di tengah perkembangan teknologi global.

“Pertanyaan penting bagi ASEAN adalah apakah kita hanya akan menjadi konsumen teknologi, atau mampu menjadi produsen dan inovator teknologi AI,” katanya.

Menurutnya, transformasi tenaga kerja juga akan terjadi secara signifikan. Sejumlah pekerjaan administratif rutin diprediksi akan berkurang, sementara profesi baru seperti AI Engineer, Data Scientist, AI Ethicist, dan Digital Strategist akan semakin dibutuhkan.

Tantangan Etika dan Integritas Akademik
Di balik berbagai peluang yang ditawarkan AI, Prof. Shukor juga mengingatkan adanya tantangan etika yang harus dihadapi. Ia menyebut bahwa tantangan terbesar AI bukanlah persoalan teknologi, melainkan persoalan moral dan etika.

Baca juga:  Unusida Diharapkan jadi Solusi Kurangi Kemiskinan di Sidoarjo

Fenomena deepfake, manipulasi suara dan video, penyebaran informasi palsu, serta penyalahgunaan AI untuk menghasilkan sumber referensi fiktif menjadi ancaman nyata yang perlu diantisipasi.

Dalam dunia pendidikan, penggunaan AI juga memunculkan tantangan baru terkait integritas akademik, seperti plagiarisme, ketergantungan berlebihan terhadap teknologi, serta menurunnya kemampuan berpikir mandiri mahasiswa.

Output AI harus selalu diverifikasi. Teknologi dapat membantu manusia, tetapi tidak boleh menggantikan kemampuan berpikir kritis dan tanggung jawab akademik,” tegasnya.

Universitas Harus menjadi Pemimpin Tranformasi AI
Lebih lanjut, Prof. Shukor menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat inovasi dan pengembangan talenta digital di kawasan ASEAN. Universitas diharapkan mampu menjadi pelopor dalam menciptakan solusi AI yang sesuai dengan karakteristik masyarakat ASEAN yang multikultural, multibahasa, dan beragam secara ekonomi.

Ia juga mendorong kolaborasi antarnegara ASEAN dalam bidang kesehatan digital, pendidikan berbasis teknologi, serta pengembangan kebijakan AI yang berlandaskan etika dan nilai-nilai kemanusiaan.

Lebih lanjut, Prof. Shukor menyampaikan bahwa masa depan bukanlah tentang menggantikan manusia dengan AI, melainkan memberdayakan manusia melalui teknologi.

“Teknologi tidak akan mampu membangun peradaban yang lebih baik sendirian. Manusia harus memandunya dengan etika, kepemimpinan, dan visi yang bijaksana,” pungkasnya.