UNUSIDA Fasilitasi Aktivasi Coretax dan Pelaporan SPT PPh 21 Tahunan WP OP (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Fasilitasi Aktivasi Coretax dan Pelaporan SPT PPh 21 Tahunan WP OP

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui Biro Keuangan memfasilitasi kegiatan aktivasi Coretax dan pelaporan SPT PPh 21 Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi (WP OP) di Hall Kampus 2 UNUSIDA, Kamis (9/4/2026). Kegiatan ini diikuti dosen dan tenaga kependidikan sebagai bagian dari upaya peningkatan literasi serta kepatuhan pajak di lingkungan perguruan tinggi.

Dalam sambutannya, Plt. Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menegaskan bahwa pelaporan pajak merupakan kewajiban administratif yang tidak bisa dihindari oleh setiap warga negara yang memiliki NPWP, terlepas dari besar kecilnya nominal pajak yang dibayarkan.

“Ini bukan semata soal nominal, tetapi soal pelaporan. Kepatuhan administrasi menjadi bagian penting dari tata kelola yang baik, termasuk di lingkungan perguruan tinggi,” ujarnya.

Ia juga mengaitkan kepatuhan administrasi, termasuk pelaporan pajak, dengan komitmen UNUSIDA dalam menata sistem tata kelola menuju perguruan tinggi yang unggul. Ketertiban pelaporan, audit, dan kerapian administrasi SDM dinilai menjadi unsur penting dalam proses peningkatan mutu kelembagaan.

Sementara itu, Kepala Bagian Akuntansi dan Pelaporan: Aris Firmansyah, S.E., menjelaskan bahwa mulai tahun 2026, pelaporan PPh 21 diarahkan menggunakan sistem Coretax milik Direktorat Jenderal Pajak. Sistem ini dirancang untuk merekam aktivitas perpajakan wajib pajak secara lebih terintegrasi dan terdigitalisasi.

Pada masa awal penerapannya di 2025, sistem ini masih menghadapi sejumlah kendala teknis seperti server dan tampilan aplikasi. Namun kini, penggunaan Coretax semakin disempurnakan dan menjadi kanal utama pelaporan pajak.

Peserta mendapatkan pendampingan langsung mulai dari proses aktivasi akun Coretax, pemutakhiran data, hingga praktik pelaporan SPT Tahunan PPh 21.

Aris menekankan bahwa lapor pajak tidak selalu berarti membayar pajak. Setidaknya terdapat tiga status pelaporan dalam SPT Tahunan:

  1. Nihil (tidak ada pajak yang harus dibayar),
  2. Kurang bayar,
  3. Lebih bayar.

Wajib pajak yang penghasilannya masih di bawah PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) tetap wajib melapor, meskipun statusnya nihil. Hal ini penting agar data perpajakan tetap tertib dan terdokumentasi dengan baik.

Melalui kegiatan ini, pihaknya berkomitmen dalam membangun budaya tertib administrasi, patuh regulasi, dan melek digital di kalangan sivitas akademika. Pendampingan ini diharapkan membantu dosen dan tenaga kependidikan memahami alur baru pelaporan pajak secara benar, mudah, dan sesuai ketentuan.

“Langkah ini menjadi bagian dari ikhtiar UNUSIDA dalam menyiapkan ekosistem tata kelola kampus yang rapi, akuntabel, dan siap menghadapi tuntutan sistem administrasi digital di masa depan,” pungkasnya.

Evaluasi VMTS FE dan Visi Keilmuan Prodi Manajemen UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Prodi Manajemen UNUSIDA Gelar Evaluasi VMTS dan FGD Kurikulum, Perkuat Relevansi Lulusan dengan Dunia Kerja

SIDOARJO – Program Studi (Prodi) Manajemen Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar kegiatan Evaluasi Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran (VMTS) serta Visi Keilmuan Program Studi Manajemen di Ruang Pertemuan Gedung B Kampus 2 UNUSIDA, Rabu (8/4/2026). Kegiatan ini dikemas dalam Forum Group Discussion (FGD) yang melibatkan berbagai stakeholder terkait.

Dekan FE UNUSIDA, Dr. Hj. Muhafidhah Novie, S.E., M.M., menyampaikan apresiasi kepada Kaprodi, Sekretaris serta seluruh Dosen di Prodi Manajemen atas kerja keras dalam menyusun dan mengembangkan kurikulum yang adaptif terhadap kebutuhan zaman.

“Kurikulum harus terus berkembang mengikuti dinamika kebutuhan dunia kerja. Kami berharap melalui FGD ini akan muncul berbagai masukan yang benar-benar relevan untuk pengembangan skill mahasiswa, sehingga output pembelajaran siap diterapkan di dunia kerja,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa masukan dari berbagai pihak, mulai dari mahasiswa, alumni, hingga mitra industri, menjadi bagian penting dalam penyempurnaan kurikulum. Hal ini bertujuan agar lulusan Fakultas Ekonomi tidak hanya siap menjadi entrepreneur, tetapi juga mampu berkontribusi di berbagai sektor profesional.

“Semoga kolaborasi antara kampus dan mitra dapat terus berlanjut guna menciptakan lulusan yang berkualitas, adaptif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” harapnya.

Sementara itu, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menegaskan pentingnya relevansi antara dunia pendidikan dan dunia kerja sebagaimana ditekankan oleh kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

“Perguruan tinggi tidak boleh tertutup terhadap inovasi. Harus ada pembaruan yang menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Kompetensi mahasiswa juga harus dikembangkan secara cepat agar mampu membaca peluang dan menghadapi perubahan,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa pembelajaran di kelas harus terhubung dengan implementasi nyata di lapangan. Selain itu, mahasiswa turut didorong untuk aktif memberikan masukan terhadap kurikulum yang diterapkan, guna menjaga kredibilitas institusi pendidikan di mata masyarakat.

Melalui forum ini, berbagai masukan strategis dihimpun sebagai bahan evaluasi dan pengembangan kurikulum ke depan. FGD ini menghadirkan berbagai pihak, mulai dari mahasiswa, organisasi mahasiswa seperti BEM Fakultas Ekonomi dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Manajemen, alumni, hingga mitra industri.

Di antaranya Direktur Utama PT Surya Inti Aneka Pangan (SIAP) Andri Halim Gunawan, perwakilan dari PT Sekala Biru Amerta Hardiansyah,perwakilan dari PT Aliyan Jaya Perkasa Moh Viky Aliyan, CV. Mysneaker Retail Indo Zharvan Pradito Utomo. Selain itu, juga dihadiri oleh beberapa alumni, seperti Finance Supervisor PT Dream Dare Discovery Izzah Nadhifah Kirana, S.M., HRD PT Cin Rui Internasional Konstruksi Moch Tegar Pratama, S.M., Direktur CJB M Syafril Nurdiansyah, S.M.

HIMA PGMI UNUSIDA Gelar Webinar Kurikulum Berbasis Cinta (Foto: Tangkapan Layar HIMA PGMI UNUSIDA)

HIMA PGMI UNUSIDA Gelar Webinar Kurikulum Berbasis Cinta, Dorong Pendidikan Humanis dan Berkarakter

SIDOARJO — Himpunan Mahasiswa Program Studi (Hima Prodi) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menyelenggarakan Webinar Nasional dengan mengusung tema ‘Mendesain Masa Depan Pendidikan melalui Kurikulum Berbasis Cinta’ yang dilaksanakan secara daring, Sabtu (4/42026). Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa, pendidik, serta peserta umum dari berbagai daerah.

Ketua HIMA PGMI UNUSIDA, Nurul Eka Maulidia, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi ikhtiar untuk membuka ruang refleksi sekaligus inspirasi dalam merancang kurikulum pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga berlandaskan nilai cinta, empati, dan kemanusiaan.

“Saya sangat mengapresiasi kepada seluruh jajaran panitia maupun peserta yang telah antusias mengikuti kegiatan ini. Harapannya, tema yang diangkat mampu menjadi gagasan transformatif di dunia pendidikan,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, ia berharap peserta tidak hanya memperoleh wawasan baru, tetapi juga termotivasi untuk mengimplementasikan nilai-nilai cinta dan empati dalam praktik pendidikan sehari-hari. “Semoga webinar ini menjadi kontribusi nyata dalam upaya membangun masa depan pendidikan yang lebih berkarakter, humanis, dan bermakna,” ungkapnya.

Memasuki sesi inti, webinar menghadirkan narasumber kompeten di bidang pendidikan, yakni Risalul Ummah, S.Pd., M.Pd. dan Moh Anang Abidin, M.Pd. Keduanya memaparkan konsep, strategi, serta contoh implementasi kurikulum berbasis cinta dalam praktik pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan.

Dalam pemaparannya, Ketua Program Studi PGMI UNUSIDA, Moh. Anang Abidin menjelaskan bahwa kurikulum berbasis cinta menekankan pada pendekatan humanis yang mengedepankan empati, kasih sayang, serta penghargaan terhadap potensi setiap individu. Menurutnya, suasana belajar yang dilandasi rasa cinta akan menciptakan lingkungan yang nyaman, inklusif, dan mendorong siswa untuk berkembang secara optimal.

“Pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga proses membangun hubungan yang penuh makna antara guru dan peserta didik. Dari situlah nilai-nilai kebaikan dapat tumbuh secara alami,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menguraikan sejumlah strategi implementasi, seperti pendekatan pembelajaran yang dialogis, penguatan pendidikan karakter, serta integrasi nilai-nilai spiritual dan sosial dalam setiap kegiatan belajar. Selain itu, guru juga didorong untuk menjadi teladan dalam menumbuhkan sikap peduli, toleransi, dan tanggung jawab.

Tidak hanya sebatas konsep, Moh. Anang Abidin juga memberikan contoh konkret penerapan kurikulum berbasis cinta di kelas, mulai dari pembiasaan sikap saling menghargai, penggunaan metode pembelajaran kolaboratif, hingga refleksi harian yang membantu siswa memahami nilai-nilai kehidupan.

“Melalui gagasan ini, saya yakin para pendidik mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih bermakna dan berdampak positif bagi perkembangan akademik maupun karakter peserta didik di semua jenjang pendidikan,” jelasnya.

Suasana kegiatan berlangsung interaktif saat sesi diskusi dan tanya jawab dibuka. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan menyampaikan pertanyaan, pandangan, serta berbagi pengalaman dalam mengelola pembelajaran di berbagai konteks pendidikan.

Secara keseluruhan, webinar berjalan lancar, tertib, dan sesuai dengan rencana. Tingginya partisipasi peserta menjadi indikator bahwa tema kurikulum berbasis cinta dinilai relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini yang menekankan keseimbangan antara aspek akademik dan nilai kemanusiaan.

Kolaborasi WWF Indonesia dan UKM MAPANUSIDA UNUSIDA Tanam Mangrove di Kepetingan (Foto: Humas UNUSIDA)

Kolaborasi WWF Indonesia dan Mahasiswa UNUSIDA Tanam Mangrove di Kepetingan, Perkuat Rehabilitasi Pesisir Sidoarjo

SIDOARJO – Di tengah kerentanan ekosistem pesisir terhadap tekanan lingkungan, WWF Indonesia bersama Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pecinta Alam (MAPANUSIDA) menggelar kegiatan penanaman mangrove di Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Sidoarjo, Sabtu (28/03/2026). Kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam rehabilitasi ekosistem pesisir sekaligus membangun kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan secara ilmiah, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Sejak pagi hari, mahasiswa pecinta alam yang tergabung dalam UKM MAPANUSIDA telah berkumpul di titik keberangkatan sebelum menempuh perjalanan menggunakan perahu menuju lokasi penanaman. Perjalanan tersebut memberikan gambaran nyata kondisi pesisir Sidoarjo, mulai dari kawasan tambak hingga wilayah muara yang dipengaruhi dinamika pasang surut.

Setibanya di Dusun Kepetingan, peserta disambut hamparan estuari dengan karakter tanah berlumpur dan vegetasi pesisir yang menjadi indikator penting keberhasilan rehabilitasi mangrove. Kondisi ini sekaligus menjadi laboratorium alam bagi mahasiswa untuk memahami ekosistem pesisir secara langsung.

Kegiatan penanaman dilakukan secara terarah dengan memperhatikan kesesuaian jenis mangrove terhadap kondisi lingkungan setempat. Beberapa jenis seperti Avicennia, Sonneratia, dan Rhizophora ditanam mengikuti zonasi alami pesisir agar dapat tumbuh optimal dan memperkuat struktur ekosistem. Para peserta terlibat aktif mulai dari pengenalan teknik penanaman hingga praktik di lapangan dengan penuh antusiasme.

Ketua UKM MAPANUSIDA, Muhammad Reza Sujali, yang memimpin delegasi mahasiswa, menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam aksi lingkungan merupakan bentuk tanggung jawab intelektual dan sosial. “Kegiatan ini bukan hanya tentang menanam mangrove, tetapi membangun kesadaran ekologis berkelanjutan. Mahasiswa harus menjadi bagian dari solusi. Apa yang kita lakukan hari ini adalah investasi jangka panjang bagi lingkungan dan generasi mendatang,” ujarnya.

Sementara itu, Mukhammad Dimas Alamsyah, selaku ketua pertama UKM MAPANUSIDA periode 2025, menilai kegiatan ini sebagai refleksi nilai dasar gerakan pecinta alam. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam menjaga lingkungan. “Menjaga alam bukan kegiatan sesaat, tetapi komitmen yang harus terus dirawat. Mangrove yang kita tanam hari ini adalah simbol harapan bahwa mahasiswa mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir,” ungkapnya.

Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan pentingnya sinergi antara berbagai pihak dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Kolaborasi antara lembaga konservasi, institusi pendidikan, dan partisipasi aktif mahasiswa menjadi kunci keberhasilan upaya rehabilitasi pesisir yang berkelanjutan.

“Setiap bibit mangrove yang ditanam menjadi simbol komitmen terhadap masa depan lingkungan yang lebih baik, sekaligus menanamkan nilai kepedulian, tanggung jawab, dan keberlanjutan dalam diri setiap peserta,” pungkasnya.

FILKOM UNUSIDA Gelar Sertifikasi Cisco Networking Academy (Foto: Humas UNUSIDA)

FILKOM UNUSIDA Gelar Sertifikasi Cisco Networking Academy, Cetak Talenta Jaringan Berstandar Global

SIDOARJO — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menghadirkan kegiatan Sertifikasi Cisco Networking Academy sebagai wujud komitmen peningkatan kompetensi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan di bidang teknologi jaringan.

Melalui program resmi dari Cisco Systems, para peserta dibekali pengetahuan sekaligus keterampilan praktis yang mencakup dasar-dasar jaringan komputer, konfigurasi perangkat router dan switch, hingga penguatan aspek network security sesuai standar industri global.

Kegiatan ini dirancang tidak hanya berorientasi pada pemahaman teori, tetapi juga praktik langsung di laboratorium jaringan. Peserta berlatih melakukan instalasi, pengkabelan, pengalamatan IP, konfigurasi perangkat, serta simulasi pemecahan masalah jaringan (troubleshooting) yang lazim ditemui di dunia kerja.

Dekan FILKOM UNUSIDA Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T., menyampaikan bahwa sertifikasi ini menjadi bagian dari strategi fakultas dalam menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri.

“Kami ingin lulusan FILKOM UNUSIDA memiliki daya saing tinggi, tidak hanya dibekali ijazah akademik, tetapi juga sertifikasi profesional yang diakui secara internasional,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Senin (6/4/2026).

Dengan mengikuti sertifikasi Cisco Networking Academy, peserta memiliki peluang lebih besar untuk meniti karier di bidang IT Networking, Network Administrator, System Engineer, hingga Cybersecurity. Sertifikat yang diperoleh menjadi nilai tambah signifikan saat memasuki dunia kerja.

Menurutnya, kegiatan sertifikasi ini menunjukkan komitmen Fakultas dalam mencetak sumber daya manusia unggul di bidang teknologi informasi melalui berbagai program pengembangan kompetensi mahasiswa. Pihaknya berharap sertifikasi ini dapat menjadi program berkelanjutan dan unggulan di tingkat fakultas. Program ini difokuskan pada peningkatan keterampilan mahasiswa, khususnya di bidang jaringan dan teknologi digital, agar mampu bersaing di era transformasi digital.

Dr. Arda menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya bersifat insidental, melainkan dirancang untuk dilaksanakan secara berkala sebagai bagian dari strategi penguatan kompetensi mahasiswa. Melalui program ini, mahasiswa didorong untuk terus meningkatkan skill teknis, memperluas peluang karier, serta mempersiapkan diri menjadi profesional yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

“Kegiatan ini diharapkan mampu mencetak talenta digital yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi tantangan dunia kerja yang terus berkembang,” ungkapnya.

Selain itu, mahasiswa juga diberikan ruang untuk mengembangkan kemampuan praktis yang relevan dengan kebutuhan industri, khususnya dalam bidang jaringan komputer. Hal ini menjadi langkah strategis dalam menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan dunia kerja.

“Dengan adanya program ini, kami berharap dapat melahirkan lulusan yang profesional, adaptif, serta siap berkontribusi dalam pengembangan teknologi informasi di tingkat nasional maupun global,” pungkasnya.

Mahasiswa FKIP UNUSIDA Mulai Jalani KKN dan PLP Internasional di 7 Sanggar Bimbingan Malaysia (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa FKIP UNUSIDA Mulai Jalani KKN dan PLP Internasional di 7 Sanggar Bimbingan Malaysia

KUALA LUMPUR – Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) resmi memulai rangkaian Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Internasional melalui prosesi penyerahan di sejumlah Sanggar Bimbingan (SB) yang tersebar di beberapa wilayah Malaysia.

Prosesi penyerahan mahasiswa dilaksanakan di beberapa titik, di antaranya Sanggar Bimbingan An-Nahdloh di Tanjung Sepat, SB At Tanzil, SB Segambut, serta SB Pantai Dalam. Momentum ini menandai dimulainya aktivitas pengabdian dan praktik kependidikan mahasiswa FKIP UNUSIDA di lingkungan pendidikan nonformal bagi anak-anak Indonesia di perantauan.

Dalam sambutan penyerahan, dosen pendamping FKIP UNUSIDA, Wahyu Maulida Lestari, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa di Sanggar Bimbingan bukan hanya untuk menjalankan program akademik, tetapi juga menjadi duta pendidikan dan budaya Indonesia. Mahasiswa diharapkan mampu beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus memberikan kontribusi nyata melalui kegiatan literasi, numerasi, pendampingan belajar, hingga aktivitas kreatif edukatif.

Pengelola Sanggar Bimbingan menyambut hangat kedatangan mahasiswa FKIP UNUSIDA. Mereka menilai program KKN dan PLP Internasional ini sangat membantu proses pembelajaran anak-anak Indonesia yang berada di Malaysia, khususnya dalam penguatan materi dasar sekolah serta motivasi belajar.

Adapun terdapat 7 Sanggar Bimbingan yang menjadi lokasi penempatan mahasiswa FKIP UNUSIDA, yaitu:

  1. SB An-Nahdloh (Tanjung Sepat)
  2. SB At Tanzil
  3. SB Ampang
  4. SB Pandan Jaya
  5. SB Sentul
  6. SB Segambut
  7. SB Pantai Dalam

Melalui sebaran lokasi ini, mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung menghadapi karakteristik peserta didik yang beragam, kondisi sarana prasarana yang berbeda, serta tantangan pembelajaran di lingkungan komunitas pekerja migran Indonesia.

Program KKN dan PLP Internasional ini menjadi bagian dari penguatan kompetensi mahasiswa sebagai calon pendidik FKIP UNUSIDA dalam konteks global. Selain mengasah keterampilan mengajar, mahasiswa juga belajar tentang empati sosial, komunikasi lintas budaya, serta pengabdian nyata kepada masyarakat Indonesia di luar negeri.

Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung selama beberapa pekan ke depan dengan pendampingan intensif dari dosen pembimbing serta koordinasi bersama pengelola Sanggar Bimbingan di masing-masing lokasi.

“Kami berharap kehadiran mahasiswa FKIP UNUSIDA mampu memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi proses pendidikan anak-anak Indonesia di Malaysia,” pungkasnya.

FKIP UNUSIDA dan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur Teken MoA dan IA untuk KKN–PLP Internasional (Foto: Humas UNUSIDA)

FKIP UNUSIDA Teken MoA dan IA Bersama SIKL Malaysia, Buka Ruang Belajar Lintas Negara Bagi Mahasiswa

KUALA LUMPUR – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui FKIP resmi menjalin kerja sama internasional dengan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) dan Implementation Arrangement (IA), Jum’at (3/5/2026). Kesepakatan ini difokuskan pada pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Internasional bagi mahasiswa FKIP.

Penandatanganan dokumen kerja sama ini menjadi tonggak penting dalam penguatan jejaring global FKIP UNUSIDA, sekaligus membuka ruang pengalaman belajar lintas negara bagi mahasiswa calon pendidik. Melalui MoA dan IA tersebut, mahasiswa akan mendapatkan kesempatan melaksanakan praktik kependidikan secara langsung di lingkungan sekolah Indonesia di luar negeri dengan standar internasional.

Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., menyampaikan bahwa program ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian mahasiswa dalam konteks pendidikan global. “Mahasiswa tidak hanya belajar mengajar di kelas, tetapi juga belajar adaptasi budaya, komunikasi lintas negara, serta memahami sistem pendidikan Indonesia di luar negeri,” ujarnya.

Ia menyebutkan program KKN–PLP Internasional ini juga menjadi bagian dari strategi internasionalisasi kampus yang terus dikembangkan UNUSIDA. Dengan pengalaman praktik di luar negeri, mahasiswa diharapkan memiliki daya saing lebih tinggi serta perspektif pendidikan yang lebih luas saat kembali mengabdi di masyarakat.

” Kami berharap kerja sama internasional ini menjadi awal dari kolaborasi berkelanjutan di bidang pendidikan, penelitian, serta pengembangan kapasitas guru dan calon guru dalam skala internasional,” ungkapnya.

Sementara itu, pihak SIKL menyambut baik kolaborasi ini sebagai bagian dari penguatan peran sekolah Indonesia di luar negeri dalam mendukung peningkatan kualitas calon guru dari tanah air. Kehadiran mahasiswa FKIP UNUSIDA dinilai akan memberikan energi baru dalam proses pembelajaran, sekaligus menjadi ajang pertukaran pengalaman pendidikan.

Ruang lingkup kerja sama dalam IA mencakup penempatan mahasiswa KKN dan PLP, pendampingan oleh guru pamong di SIKL, supervisi akademik dari dosen pembimbing FKIP, hingga evaluasi bersama terhadap pelaksanaan program. Skema ini memastikan kegiatan berjalan terstruktur, terukur, dan memberikan dampak nyata baik bagi mahasiswa maupun pihak sekolah.

UNUSIDA Menghadiri Forum Bersama WWF Indonesia (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Tunjukkan Peran Aktif di Forum Lingkungan, Jalin Kolaborasi bersama WWF Indonesia

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menunjukkan komitmen kuat dalam isu lingkungan dengan berpartisipasi aktif dalam forum kolaborasi bersama WWF Indonesia dan berbagai pemangku kepentingan di Kabupaten Sidoarjo.

Kegiatan yang dikemas dalam forum silaturahmi dan diskusi ini menjadi momentum penting untuk membahas keberlanjutan program lingkungan, khususnya terkait berakhirnya Project COAST yang selama ini berjalan di wilayah pesisir Sidoarjo.

Dalam forum tersebut, perwakilan WWF Indonesia menyampaikan bahwa program yang sebelumnya didukung hingga April 2028 mengalami penyesuaian dan akan berakhir lebih awal pada Maret 2026. Meski demikian, WWF menegaskan komitmennya untuk tetap melanjutkan kegiatan pendampingan di Sidoarjo melalui sumber pendanaan lain.

“Kegiatan seperti penanaman mangrove dan program lingkungan lainnya tetap kami jalankan selama masa transisi ini. Ke depan, WWF Indonesia akan tetap hadir dan melanjutkan kolaborasi dengan berbagai pihak,” ungkapnya.

Melalui forum ini, WWF Indonesia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan program, terutama setelah berakhirnya dukungan pendanaan utama. WWF Indonesia berharap dukungan dari pemerintah, akademisi, hingga masyarakat tetap terjaga agar inisiatif yang telah berjalan tidak terhenti.

“Selain menjadi ajang penyampaian informasi, kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai ruang diskusi santai antar stakeholder untuk memperkuat sinergi ke depan,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Biro Humas dan Kerja Sama UNUSIDA, Sonhaji Arif, S.Pd., M.Sn., menegaskan kesiapan untuk terus berperan aktif dalam mendukung program-program lingkungan berkelanjutan.

Pihaknya berkomitmen mengakomodasi mahasiswa agar terlibat langsung sebagai agent of change melalui berbagai skema akademik, antara lain Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, Penelitian mahasiswa sesuai bidang keilmuan, Program pengabdian kepada masyarakat dan kegiatan edukasi dan literasi lingkungan.

Langkah ini dinilai strategis dalam membangun kesadaran sekaligus kapasitas mahasiswa untuk berkontribusi nyata terhadap persoalan lingkungan di masyarakat.

Partisipasi aktif UNUSIDA dalam forum ini menegaskan peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai motor penggerak perubahan sosial dan lingkungan.

“Melalui keterlibatan mahasiswa dalam program nyata di lapangan, kami berharap mampu menciptakan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian dan kontribusi nyata bagi keberlanjutan lingkungan dan masyarakat,” pungkasnya.

Mahasiswa Informatika UNUSIDA (dari kiri) Achmad Raffy Nadjib, Muhammad Rafi Nur Setyawan, dan M. Satrio Rohmatullah (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa Informatika UNUSIDA Raih Juara 1 IYSA 2026 Kategori Sosial, Angkat Isu Kesenjangan Digital

SIDOARJO — Tiga mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association tahun 2026 kategori sosial.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Achmad Raffy Nadjib, Muhammad Rafi Nur Setyawan, dan M. Satrio Rohmatullah. Mereka mengusung karya berjudul ‘Implementasi Infrastruktur Nirkabel Point to Point (P2P) Jarak Jauh sebagai Solusi Kesenjangan Digital Pendidikan dan Masyarakat di Dusun Pucukan, Sidoarjo’.

Dengan mengangkat isu kesenjangan digital yang masih terjadi di wilayah Sidoarjo, khususnya di Dusun Pucukan. Ketua tim, Rafi Nur Setyawan menjelaskan bahwa ide tersebut berangkat dari kondisi nyata di lapangan, di mana masih terdapat wilayah yang memiliki keterbatasan akses digital, terutama untuk kebutuhan pendidikan.

“Awalnya ini dari keresahan kami melihat masih adanya kesenjangan akses internet. Padahal di era sekarang, akses digital sangat penting, khususnya untuk pendidikan,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (31/3/2026).

Karya yang diusung berfokus pada pembangunan infrastruktur jaringan nirkabel jarak jauh berbasis point to point (P2P) untuk mengatasi kesenjangan akses digital, khususnya di wilayah terpencil seperti Dusun Pucukan, Sidoarjo. Solusi ini diharapkan mampu meningkatkan akses pendidikan dan informasi bagi masyarakat setempat.

Menurutnya, keunggulan dari solusi yang mereka tawarkan terletak pada efisiensi dan kemampuannya menjangkau wilayah yang sulit terakses jaringan konvensional. Meski demikian, mereka mengakui terdapat tantangan dalam proses implementasi, terutama pada aspek teknis dan pengujian jaringan agar tetap stabil dalam berbagai kondisi.

“Harapan kami, solusi ini bisa benar-benar diterapkan dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” tambahnya.

Ia menilai bahwa inovasi ini memiliki potensi besar untuk diterapkan secara lebih luas di berbagai daerah dengan kondisi geografis serupa di Indonesia.

Meski berhasil meraih juara pertama, Rafi dan tim mengaku belum merasa puas. Mereka menganggap capaian ini sebagai langkah awal dari perjalanan panjang dalam pengembangan karya.

“Bagi kami, lomba ini hanya panggung kecil. Tujuan kami bukan sekadar penghargaan, tetapi bagaimana solusi ini benar-benar bisa diterapkan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ungkap mereka.

Solusi yang ditawarkan berupa pembangunan jaringan nirkabel jarak jauh menggunakan teknologi point to point (P2P). Teknologi ini dinilai mampu menjangkau daerah terpencil dengan biaya yang lebih efisien dibandingkan infrastruktur konvensional.

Ke depan, ia berharap inovasi ini tidak hanya berhenti pada tahap karya ilmiah, tetapi dapat diimplementasikan secara nyata dan diperluas ke wilayah lain yang memiliki permasalahan serupa. Ia menekankan kepada mahasiswa terus peka terhadap permasalahan di sekitar dan berani mengembangkan solusi nyata.

“Mulailah dari masalah di sekitar kita, bukan hanya mencari judul yang terlihat menarik. Tetap santai, serius, dan sukses,” pungkasnya.

Mahasiswa Informatika (dari kiri) Khoirul Anam, Mochammad Rifky Sabilur Khaqiq, Muhammad Athaalf Attohir (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa Informatika UNUSIDA Raih Juara 1 IYSA 2026 Lewat Inovasi Deteksi Longsor Si-Palang

SIDOARJO — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa program studi Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Kali ini, 2 tim mahasiswa Program Studi Informatika berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) tahun 2026.

Ketua tim, Moch Rifky Sabilul Khaqiq menyebutkan bahwa keberhasilan ini berawal dari ide sederhana yang lama tertahan di kepala. Momentum hadir ketika kompetisi dari IYSA dibuka. Tim melihatnya sebagai wadah yang tepat untuk mengeksekusi gagasan tersebut.
“Bisa dibilang kami memanfaatkan kesempatan. Mumpung ada peluang, kami ambil dan kami maksimalkan,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (31/3/2026).

Rifky menjelaskan, ketertarikan terhadap topik ini tidak muncul begitu saja. Titik baliknya terjadi saat bencana longsor di Aceh pada tahun 2025. Peristiwa tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi tim, terutama karena longsor sebenarnya memiliki tanda-tanda awal yang berpotensi dideteksi.

Ia membandingkan dengan kemajuan teknologi di negara seperti Jepang, di mana gempa bumi saja sudah dapat diprediksi. Dari situ muncul dorongan kuat untuk menghadirkan solusi berbasis teknologi yang relevan dengan kondisi Indonesia.

Dari keresahan tersebut, lahirlah inovasi bernama Si-Palang (Sistem Pantau Lahan & Longsor). Sistem ini menggabungkan sensor kemiringan tanah dan kelembapan dengan algoritma Dynamic Thresholding.

Secara sederhana, alat ini mampu menyesuaikan ambang batas secara otomatis, seperti semakin miring tanah, semakin kecil toleransi kadar air sebelum sistem memberikan peringatan, serta dapat mengirim notifikasi ke ponsel warga melalui sistem geofencing.

“Keunggulan utama dari sistem ini adalah meminimalisir false alarm (peringatan palsu di area datar), mencegah gagal deteksi pada area lereng curam dan lebih dinamis, karena tidak bergantung pada satu parameter saja,” jelasnya.

Dalam proses pengembangan, tantangan terbesar yang dihadapi adalah tahap pengujian sistem, khususnya dalam menemukan korelasi yang tepat antara tingkat kemiringan dan kelembapan tanah.

Meski begitu, ia dan tim optimis bahwa inovasi ini memiliki potensi besar. Mengingat kondisi geografis Indonesia yang didominasi wilayah perbukitan dan dataran tinggi, teknologi seperti Si-Palang dapat menjadi solusi nyata dalam mitigasi bencana.

“Ke depan, kami berkomitmen untuk terus mengembangkan sistem agar semakin adaptif dan responsif terhadap kondisi lingkungan,” tandasnya.

Baginya, kemenangan ini bukanlah akhir. Rifky menganggap ajang ini hanya sebagai langkah awal dari perjalanan panjang inovasi mereka.

“Jujur saja, kami belum puas. Ini baru panggung kecil. Tujuan kami bukan sekadar piala atau sertifikat, tapi ketika Si-Palang benar-benar dipasang di daerah rawan longsor dan bisa menyelamatkan nyawa,” ungkapnya.

Menurutnya, prestasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi kampus, tetapi juga menjadi bukti bahwa karya mahasiswa mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Mulailah dari masalah nyata di sekitar kita, bukan sekadar mencari judul yang terlihat keren. Tetap santai, serius, dan sukses,” pungkasnya.