Menguatkan Ukhuwah dan Membuka Jalan Surga, Hadis ke-21 Dorong Umat Gemar Menolong dan Menuntut Ilmu
Sidoarjo — Semangat untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama kembali ditekankan dalam kajian keislaman melalui pembahasan Hadis ke-21 dalam Kitab Adab. Kajian tersebut mengangkat pesan penting tentang keutamaan membantu sesama Muslim, meringankan kesulitan, menjaga aib, serta menempuh jalan untuk mencari ilmu sebagai bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pembahasan diawali dengan hadis Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda:
«“Barang siapa menghilangkan satu kesusahan dari seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat.”»
Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa kepedulian kepada sesama bukan sekadar bentuk hubungan sosial, tetapi juga memiliki nilai ibadah yang besar. Setiap Muslim dianjurkan untuk peka terhadap kondisi saudaranya dan berusaha memberikan pertolongan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Dalam kehidupan sehari-hari, pertolongan tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Tidak harus selalu berupa materi, tetapi juga dapat berupa makanan, tenaga, waktu, perhatian, maupun bantuan dalam menyelesaikan persoalan. Hal sederhana yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi amal yang bernilai di sisi Allah.
“Kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain sebenarnya akan kembali kepada diri kita sendiri. Kita membantu saudara kita di dunia, dan Allah menjanjikan pertolongan bagi kita di akhirat,” menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan dalam kajian.
Pembahasan kemudian berlanjut pada keutamaan memberikan kemudahan kepada orang yang sedang menghadapi kesulitan. Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa siapa saja yang memberikan kemudahan kepada orang yang mengalami kesulitan, Allah akan memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat.
Pesan tersebut menjadi motivasi agar umat tidak bersikap acuh ketika melihat orang lain sedang membutuhkan pertolongan. Selama memiliki kemampuan untuk membantu, seseorang dianjurkan mengambil peran untuk meringankan beban saudaranya.
Selain membantu secara nyata, bentuk kepedulian lainnya adalah menjaga kehormatan sesama Muslim. Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira bahwa siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.
Pesan ini sangat relevan dalam kehidupan sosial, terlebih di tengah kemudahan masyarakat dalam menyebarkan informasi melalui media sosial. Setiap orang perlu berhati-hati agar tidak menjadikan kekurangan atau kesalahan orang lain sebagai bahan pembicaraan, candaan, maupun konsumsi publik.
Menutup aib bukan berarti membenarkan perbuatan yang salah. Namun, menjaga kehormatan seseorang, memberikan nasihat dengan cara yang baik, dan tidak menyebarkan keburukannya merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim.
Lebih lanjut, kajian tersebut menekankan janji Rasulullah ﷺ bahwa Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Pesan ini memperkuat keyakinan bahwa menjadi pribadi yang bermanfaat merupakan salah satu jalan untuk mendapatkan pertolongan Allah.
“Jangan takut kehilangan ketika kita membantu orang lain. Ketika dilakukan dengan ikhlas karena Allah, pertolongan tersebut dapat menjadi sebab datangnya pertolongan Allah kepada kita,” menjadi refleksi yang disampaikan dalam kajian.
Tidak berhenti pada hubungan sosial, Hadis ke-21 juga memberikan perhatian besar terhadap aktivitas mencari ilmu. Rasulullah ﷺ bersabda:
«“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”»
Pesan tersebut menjadi motivasi khususnya bagi para pelajar dan mahasiswa agar memandang proses pendidikan tidak hanya sebagai sarana memperoleh nilai, ijazah, atau gelar. Jika dilakukan dengan niat yang benar, proses belajar dapat menjadi bagian dari ibadah dan jalan mendekatkan diri kepada Allah.
Membaca, berdiskusi, mendengarkan penjelasan guru atau dosen, membaca kitab, mengikuti kajian, serta mempelajari ilmu yang bermanfaat merupakan aktivitas yang dapat bernilai ibadah ketika dilandasi niat karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam konteks tradisi keagamaan masyarakat Nahdliyyin, semangat menuntut ilmu juga berjalan beriringan dengan upaya menjaga berbagai tradisi keagamaan seperti majelis ilmu, dzikir, istighatsah, mujahadah, tahlil, dan pembacaan maulid Nabi ﷺ. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat spiritualitas, mempererat ukhuwah, memperbanyak dzikir dan shalawat, serta meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.
Dari keseluruhan pembahasan, terdapat beberapa pesan utama yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari: membantu saudara yang mengalami kesulitan, memberikan kemudahan, menjaga aib sesama Muslim, menjadi pribadi yang bermanfaat, serta istiqamah dalam menuntut ilmu.
Kajian tersebut pada akhirnya mengajak setiap Muslim untuk tidak berhenti pada pemahaman terhadap hadis, tetapi mengubahnya menjadi amalan nyata.
“Ketika ada saudara kita yang kesulitan, kita bantu. Ketika ada saudara kita yang memiliki kekurangan, kita jaga aibnya. Ketika ada kesempatan untuk menuntut ilmu, mari kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.”
Dengan menghidupkan nilai-nilai tersebut, diharapkan tumbuh pribadi-pribadi yang tidak hanya memiliki ilmu, tetapi juga memiliki kepedulian, akhlak, dan semangat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Semoga setiap langkah dalam membantu sesama, menjaga ukhuwah, dan menuntut ilmu menjadi bagian dari ikhtiar untuk memperoleh pertolongan Allah serta dimudahkan menuju jalan surga-Nya.
Amin, amin ya Rabbal ‘alamin.
Sumber: Shahih Muslim, Hadis No. 2699a.










