Gerakan Satu Juta Pohon (Foto: Istimewa)

Hari Gerakan Satu Juta Pohon: Komitmen Peran Akademisi dalam Pelestarian Lingkungan dan Keberlanjutan

Peringatan Hari Gerakan Satu Juta Pohon setiap tanggal 10 Januari merupakan momentum strategis untuk memperkuat kesadaran kolektif dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. Bagi perguruan tinggi, peringatan ini tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan peran kampus dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam perspektif keilmuan Teknik Lingkungan, pohon memiliki fungsi ekologis yang sangat vital. Pohon berperan sebagai penyerap karbon dioksida, pengendali iklim mikro, pelindung tanah dan sumber daya air, serta peningkat kualitas udara. Di tengah tantangan perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan krisis ekologi yang semakin kompleks, keterlibatan institusi pendidikan tinggi menjadi bagian penting dari solusi jangka panjang.

Sebagai kampus yang terus mengembangkan konsep green campus, peringatan Hari Gerakan Satu Juta Pohon dapat diimplementasikan melalui kegiatan penanaman pohon yang terencana dan berbasis fungsi lingkungan. Penanaman vegetasi peneduh, tanaman penahan erosi, maupun pohon dengan kemampuan menyerap polutan merupakan langkah konkret untuk menciptakan lingkungan kampus yang sehat, asri, dan berkelanjutan.

Selain berdampak secara ekologis, kegiatan tersebut juga memiliki nilai edukatif yang kuat. Penanaman pohon dapat menjadi media pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa. Melalui keterlibatan langsung dalam aksi lingkungan, mahasiswa tidak hanya memahami konsep keberlanjutan sebagai teori di ruang kelas, tetapi juga sebagai praktik nyata yang terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, momentum Hari Gerakan Satu Juta Pohon dapat menjadi titik awal pengembangan penelitian terapan dan program pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada isu lingkungan. Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat sekitar kampus diharapkan mampu menghasilkan dampak yang lebih luas, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan sosial dan lingkungan.

Baca juga:  Rapat Perdana BEM-FT UNUSIDA 2025–2026, Bangun Fondasi Organisasi yang Solid, Disiplin, dan Kolaboratif

Melalui peringatan ini, civitas akademika diharapkan dapat menanamkan kesadaran bahwa pelestarian lingkungan bukan sekadar kegiatan tahunan, melainkan komitmen berkelanjutan yang harus diwujudkan dalam setiap aktivitas akademik. Dengan mengintegrasikan nilai lingkungan, green campus, dan keberlanjutan ke dalam Tridharma Perguruan Tinggi, kampus berkontribusi nyata dalam menyiapkan generasi yang peduli, bertanggung jawab, dan berorientasi pada masa depan bumi yang lebih baik.

Oleh: Muchammad Tamyiz, S.Si., M.Si., Ph.D.
Kepala Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA)