Kisah Inspiratif Adinda Jannatin Aliyah, Alumni PIAUD UNUSIDA yang Berhasil Taklukkan Rasa Introvert dan Mengabdi sebagai Pendidik Anak Usia Dini
SIDOARJO – Perjalanan menjadi seorang pendidik bukan hanya tentang menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga keberanian untuk terus berkembang, membangun kepercayaan diri, dan mengabdikan diri bagi generasi masa depan. Hal inilah yang tergambar dalam kisah Adinda Jannatin Aliyah Wahyu Permani, S.Pd., alumni Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) tahun 2025, yang kini berkiprah sebagai operator di RA Salman Al Farizi Medayu Utara.
Perjalanan Adinda menjadi inspirasi bahwa latar belakang kepribadian bukanlah batasan untuk meraih cita-cita. Berangkat dari pribadi yang cenderung introvert, ia berhasil membangun kepercayaan diri untuk tampil di depan kelas, berinteraksi dengan anak-anak, serta menjalankan peran dalam dunia pendidikan anak usia dini. Pengalaman selama menempuh pendidikan di PIAUD UNUSIDA menjadi salah satu bagian penting dalam proses pertumbuhan tersebut.
Bagi Adinda, kuliah di UNUSIDA bukan sekadar perjalanan akademik untuk memperoleh gelar sarjana. Lebih dari itu, masa perkuliahan menjadi ruang untuk mengenali potensi diri, mengembangkan keterampilan, dan mempersiapkan mental agar mampu menghadapi tantangan di dunia kerja. Berbagai ilmu dan pengalaman praktik yang diperoleh selama perkuliahan memberinya bekal untuk menjalani profesi di lingkungan pendidikan anak usia dini.
Menurutnya, pendidikan di PIAUD tidak hanya memberikan pemahaman teoretis mengenai tumbuh kembang anak, tetapi juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal praktik pembelajaran secara lebih dekat. Pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi calon pendidik dalam memahami karakteristik anak, membangun komunikasi, serta menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan.
Bagi seseorang yang sebelumnya merasa kurang percaya diri untuk tampil di hadapan banyak orang, pengalaman praktik menjadi kesempatan berharga untuk melatih keberanian. Proses belajar, mencoba, dan menghadapi berbagai situasi selama perkuliahan membantunya membangun kesiapan untuk terjun ke dunia pendidikan. Kepercayaan diri yang tumbuh secara bertahap menjadi salah satu bekal yang ia bawa setelah menyelesaikan studi.
“Dari seorang introvert, menjadi seorang guru yang berani berdiri di depan kelas dengan penuh percaya diri. PIAUD UNUSIDA menjadi bagian penting dalam perjalanan karier saya sebagai Guru RA. Dari kampus ini, saya mendapatkan banyak ilmu, pengalaman praktik, sekaligus mental untuk mengajar dengan hati,” ungkap Adinda dalam refleksinya mengenai perjalanan selama menempuh pendidikan di UNUSIDA.
Kini, Adinda menjalankan perannya sebagai operator di RA Salman Al Farizi Medayu Utara. Pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya selama kuliah menjadi bekal untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja serta memahami dinamika lembaga pendidikan anak usia dini. Perannya di lingkungan RA juga menjadi bagian dari kontribusi dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan yang baik bagi anak-anak.
Dunia pendidikan anak usia dini membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menyampaikan materi. Dibutuhkan kesabaran, kepedulian, komunikasi yang baik, serta kemauan untuk memahami setiap anak sebagai individu yang memiliki karakter dan kebutuhan berbeda. Karena itu, pembelajaran selama kuliah menjadi fondasi penting untuk membangun sikap profesional sekaligus kepedulian terhadap proses tumbuh kembang anak.
Bagi Adinda, menjadi bagian dari dunia pendidikan merupakan kesempatan untuk terus belajar dan memberikan manfaat. Ia memahami bahwa setiap pengalaman, baik selama masa perkuliahan maupun ketika memasuki dunia kerja, dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan diri. Tantangan yang dihadapi bukan alasan untuk berhenti, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih siap dalam menjalankan tanggung jawab.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada PIAUD UNUSIDA atas ilmu dan pengalaman yang telah menjadi bagian dari perjalanannya. Menurutnya, bekal yang diperoleh dari kampus memberikan dorongan untuk terus berkembang, mendidik dengan penuh kepedulian, dan memberikan yang terbaik bagi anak-anak.
“Terima kasih PIAUD UNUSIDA. Berkat ilmu dan pengalaman yang diberikan, saya semakin percaya diri untuk mendidik, mendampingi, dan memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Karena pendidikan bukan hanya tentang mengajar, tetapi tentang mengabdi dengan hati dan tumbuh bersama generasi masa depan,” tuturnya.
Kisah Adinda menjadi gambaran bahwa keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari perubahan positif dalam diri mahasiswa dan kemampuan mereka menerapkan ilmu di tengah masyarakat. Keberanian untuk keluar dari zona nyaman, kemauan untuk terus belajar, dan kesungguhan dalam menjalankan profesi merupakan nilai penting yang dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa maupun calon mahasiswa.
Melalui kisah alumninya, UNUSIDA terus menghadirkan inspirasi mengenai pentingnya pendidikan yang mendukung pengembangan kompetensi sekaligus karakter. Pengalaman Adinda menunjukkan bahwa kampus dapat menjadi ruang untuk bertumbuh, menemukan potensi, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.
Perjalanan dari pribadi yang introvert hingga mampu membangun kepercayaan diri dalam dunia pendidikan menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang. Dengan bekal ilmu, pengalaman, dan semangat pengabdian, Adinda Jannatin Aliyah Wahyu Permani membuktikan bahwa langkah kecil untuk berani mencoba dapat menjadi awal dari perjalanan besar dalam memberikan manfaat bagi generasi masa depan.
UNUSIDA, tempat bertumbuh, berdaya, dan melahirkan generasi yang siap memberikan dampak nyata bagi masyarakat.










