SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) secara resmi meluncurkan Program Pembiasaan Amaliyah Aswaja (P2A) sebagai ikhtiar strategis dalam membentuk karakter mahasiswa yang religius, berakhlak, serta siap menjadi pemimpin kegiatan keagamaan di tengah masyarakat. Kegiatan tersebut dipusatkan di Hall Kampus 2 Gedung A, Lantai 5 UNUSIDA, Jum’at (23/1/2026).
Launching program ini disampaikan langsung oleh Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I., yang menegaskan bahwa pelaksanaan P2A telah dipertimbangkan secara matang agar tidak mengganggu aktivitas akademik mahasiswa, khususnya di awal semester ganjil.
“Kami melaporkan kepada Bapak Rektor dan memilih waktu yang tepat agar program ini tidak mengganggu perkuliahan. P2A ini adalah inisiatif dosen-dosen FAI untuk memfasilitasi mahasiswa mempersiapkan diri menjadi pemimpin di masyarakat, tanpa harus menunggu lulus,” ujarnya.
Tujuh Amaliyah Aswaja Dibiasakan Secara Terstruktur
Feri menyebutkan bahwa program P2A dirancang dengan tujuh bentuk amaliyah Aswaja yang akan dibiasakan secara berkelanjutan, meliputi pembukaan acara, pembacaan tawassul, Yasin, istighotsah, tahlil, doa, hingga sambutan. Seluruh rangkaian ini dikemas menyerupai tradisi keagamaan di pesantren dan masyarakat Nahdlatul Ulama.
Pada tahap awal, mahasiswa tidak dituntut untuk menghafal, melainkan membaca sesuai pedoman yang telah disiapkan fakultas. Mahasiswa dibagi dalam kelompok kecil beranggotakan 10–11 orang dan didampingi oleh Dosen Wali Aswaja. Setiap pertemuan, peran mahasiswa akan diputar agar seluruh peserta memperoleh pengalaman memimpin seluruh rangkaian amaliyah.
“Target kami, mahasiswa bukan hanya bisa mengikuti, tetapi mampu memimpin. Hafal istighotsah, berani tampil, dan siap memimpin kegiatan keagamaan di lingkungannya,” tegasnya.
Merangkul Mahasiswa Beragam Latar Belakang
Ia mengungkapkan, program ini dirancang inklusif bagi mahasiswa yang berlatar belakang pesantren maupun non-pesantren. Mahasiswa yang belum terbiasa dengan amaliyah Aswaja tidak perlu khawatir, karena seluruh proses dilakukan bertahap dengan pendampingan intensif.
“FAI ini lengkap. Ada yang dari pesantren, ada yang bukan. Justru P2A menjadi kawah candradimuka untuk membekali yang belum terbiasa sekaligus memperkuat yang sudah memiliki dasar,” imbuhnya.
Sementara itu, Rektor UNUSIDA, Prof. Dr. H. Fatkul Anam, M.Si. dalam sambutannya menyampaikan bahwa nilai-nilai dalam pembiasaan amaliyah Aswaja sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial yang cepat.
Menurutnya, pembiasaan ini bukan hanya membentuk kecakapan spiritual, tetapi juga memperkuat karakter, akhlak, kecintaan terhadap tradisi, serta rasa tanggung jawab sosial mahasiswa.
“Nilai-nilai Aswaja ini menjadi pondasi penting agar mahasiswa tetap kokoh dalam akidah, berakhlak mulia, dan cinta tanah air. Ini perlu dimonitor dan dievaluasi agar menjadi budaya akademik yang berkelanjutan,” terangnya.
Ia berharap menjadi keunggulan khas FAI UNUSIDA, sekaligus identitas lulusan yang matang secara intelektual, spiritual, dan sosial. Ke depan, P2A akan dilaksanakan secara rutin setiap Jumat tanpa perkuliahan, terpusat, dan dievaluasi secara berkala. Selain itu, program ini akan menjadi pilot project bagi seluruh prodi dan fakultas di UNUSIDA.
“Melalui Program Pembiasaan Amaliyah Aswaja, kami optimistis UNUSIDA mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga siap hadir, memimpin, dan mengabdi di tengah masyarakat dengan nilai-nilai ke-NU-an yang kokoh dan relevan sepanjang zaman,” pungkasnya.