Pos

Foto bersama seluruh yudisiawan Yudisium ke-12 FAI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-2 FAI UNUSIDA: Teguhkan Dedikasi Cetak Guru Unggul dan Berakhlakul Karimah

SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menggelar Yudisium ke-2 dengan mengusung semangat ‘Meneguhkan Dedikasi, Menginspirasi Negeri, Mencetak Guru Unggul, Adaptif, dan Berakhlakul Karimah’, Jumat (7/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi mahasiswa setelah menyelesaikan rangkaian pendidikan di jenjang sarjana sekaligus menjadi awal untuk mengabdikan ilmu di tengah masyarakat.

Tanpak hadir Plt. Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.HI., M.Pd., BPP UNUSIDA Hj. Yuli Qayyumillah, MA., Dekan FAI UNUSIDA Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I., Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Moh. Anang Abidin, S.H.I., M.Pd., serta Ketua Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Rifatul Anita, S.Pd., M.Pd.

Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja keras mahasiswa, dosen pembimbing, serta seluruh pemangku kepentingan di lingkungan UNUSIDA. Capaian kelulusan tersebut juga mengalami peningkatan sekitar 5,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Sudah tidak perlu mikir nilai saya jelek atau nilai saya baik. Sekarang sudah selesai. Itu masa-masa di bangku kuliah, sekarang sudah tidak lagi di bangku. Maka senyumnya jangan sampai kecut seperti saat menghadapi ujian skripsi,” ujar Feri dalam sambutannya.

Ia menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan pintu masuk menuju fase kehidupan dan pengabdian yang baru. Karena itu, para lulusan didorong untuk menentukan langkah setelah menyelesaikan pendidikan.

Menurutnya, setidaknya terdapat tiga pilihan yang dapat ditempuh para lulusan. Pertama, melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2). Kedua, membangun karier dan keluarga dengan menjadi pribadi yang berprestasi. Ketiga, mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh selama kuliah di lembaga maupun lingkungan tempat mereka mengabdi.

Khusus bagi lulusan yang telah maupun akan berkecimpung di dunia pendidikan, Feri mengingatkan bahwa gelar sarjana kependidikan membawa tanggung jawab besar. Para lulusan tidak cukup hanya memiliki ijazah, tetapi harus mampu menerapkan kompetensi yang telah diperoleh selama perkuliahan.

Ia mencontohkan berbagai kompetensi yang telah dipelajari mahasiswa, mulai dari apersepsi, pre-test, elaborasi, post-test, asesmen, hingga penyusunan perangkat pembelajaran.

“Tidak boleh ada cerita dari mitra bahwa lulusan UNUSIDA tidak bisa mengerjakan RPS. Tantangan kita sering kali adalah hal yang kita bisa itu tidak kita lakukan,” tegasnya.

Feri juga mengingatkan pentingnya integritas akademik dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Menurutnya, perangkat pembelajaran seperti RPS dan RPP harus benar-benar disusun dan dilaksanakan sebagai bagian dari proses pendidikan, bukan sekadar dibuat untuk memenuhi kebutuhan administrasi atau akreditasi.

“Kunci sukses di dunia pendidikan itu tulis apa yang sudah dikerjakan, evaluasi, dan kerjakan apa yang sudah ditulis,” pesannya.

Ia berharap para lulusan FAI UNUSIDA mampu menjadi pendidik yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga menjunjung tinggi integritas, profesionalisme, adaptif terhadap perubahan, serta memiliki akhlakul karimah.

Dalam kesempatan tersebut, Feri juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan dengan berbagai dinamika. Sebagian mahasiswa menyelesaikan studi dalam waktu empat tahun, sementara lainnya membutuhkan waktu lebih panjang maupun lebih singkat sesuai dengan kondisi masing-masing.

Ia menegaskan bahwa proses akademik yang telah dilalui merupakan bagian penting dalam membentuk kesiapan mahasiswa menghadapi dunia profesional.

Feri turut menjelaskan kepada para peserta yudisium mengenai proses administrasi kelulusan, termasuk penerbitan ijazah dan Penomoran Ijazah Nasional (PIN). Ia mengingatkan mahasiswa untuk mengikuti seluruh tahapan administrasi sesuai ketentuan agar proses penerbitan dokumen kelulusan berjalan lancar.

“Selamat kepada seluruh mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan, semoga mampu membawa nama baik almamater, mengabdikan keilmuan di tengah masyarakat, serta mengambil peran dalam mencetak generasi yang unggul, adaptif, berkarakter, dan berakhlakul karimah,” tuturnya.

FKIP UNUSIDA Gelar FGD Bahas Integrasi TPACK bersama Sri Surachmi W, dosen dan akademisi di Universitas Muria Kudus (UMK). (Foto: Humas UNUSIDA)

FKIP UNUSIDA Gelar FGD, Bahas Integrasi TPACK Berbasis Genre dalam Pembelajaran

SIDOARJO — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema ‘Integrasi TPACK Berbasis Genre-Based Pedagogy dalam Pembelajaran’ pada Senin (20/7/2026).

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Sri Surachmi W, dosen dan akademisi dari Universitas Muria Kudus (UMK), yang membahas pentingnya integrasi teknologi dalam pembelajaran di era digital.

Dalam pemaparannya, Sri Surachmi menjelaskan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kemampuan pendidik dalam mengintegrasikan materi, pedagogi, dan teknologi melalui kerangka Technological Pedagogical and Content Knowledge (TPACK).

“Teknologi bukan tujuan pembelajaran, tetapi sarana untuk membantu peserta didik memahami materi secara lebih efektif,” jelasnya.

Ia memaparkan bahwa TPACK terdiri dari tiga komponen utama, yaitu Content Knowledge (CK), Pedagogical Knowledge (PK), dan Technological Knowledge (TK). Ketiga aspek tersebut saling berinteraksi hingga membentuk integrasi pembelajaran yang utuh dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Selain itu, Sri Surachmi juga mengulas Pendekatan Berbasis Genre (Genre-Based Approach) yang berfokus pada pengembangan literasi melalui pemahaman berbagai jenis teks sesuai fungsi komunikatifnya. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan implementasi Kurikulum Merdeka karena mampu meningkatkan kemampuan membaca, menulis, berpikir kritis, dan komunikasi peserta didik.

Dalam penerapannya, pembelajaran berbasis genre dilakukan melalui empat tahapan utama, yaitu:

  1. Building Knowledge of the Field (BKOF)
  2. Modeling of the Text (MOT)
  3. Joint Construction of the Text (JCOT)
  4. Independent Construction of the Text (ICOT)

Keempat tahapan tersebut dapat dipadukan dengan pemanfaatan berbagai teknologi digital seperti YouTube, Canva, Google Docs, hingga platform kolaboratif lainnya untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif dan bermakna.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa integrasi TPACK berbasis genre tidak hanya membuat pembelajaran lebih kontekstual, tetapi juga mampu meningkatkan literasi digital serta keterampilan abad ke-21 (4C), yaitu critical thinking, creativity, collaboration, dan communication.

Meski demikian, ia juga mengingatkan adanya tantangan dalam implementasi, seperti keterbatasan kompetensi digital pendidik, akses teknologi, serta kecenderungan penggunaan aplikasi tanpa mempertimbangkan relevansi pembelajaran.

“Perencanaan yang matang menjadi kunci agar teknologi benar-benar mendukung kualitas pembelajaran, bukan sekadar mengikuti tren,” tegasnya.

Sementara itu, Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, menyampaikan bahwa kegiatan FGD ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di lingkungan fakultas.

Dengan adanya penguatan konsep TPACK berbasis genre, pihaknya berkomitmen untuk terus mendorong terciptanya praktik pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan peserta didik masa kini.

“Semoga melalui kegiatan FGD ini, para dosen dan pendidik di lingkungan FKIP UNUSIDA dapat semakin memahami pentingnya integrasi TPACK berbasis genre dalam menciptakan pembelajaran yang inovatif, adaptif, dan berpusat pada peserta didik. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah kolaborasi dan pertukaran ide antar pendidik guna menjawab tantangan pendidikan di era digital,” pungkasnya.

Mochamad Dafa Perdana, S.Pd., alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNUSIDA angkatan 2023 (Foto: Humas UNUSIDA)

Kisah Alumni PBI UNUSIDA: Dari Kampus, Tumbuh Menjadi Pendidik yang Menginspirasi

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menorehkan kebanggaan melalui kiprah para alumninya yang terus berkarya dan memberikan kontribusi nyata di dunia pendidikan. Salah satunya adalah Mochamad Dafa Perdana, S.Pd., alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNUSIDA angkatan 2023 yang kini mengabdikan diri sebagai Guru Bahasa Inggris di SMA Pembangunan Jaya Sidoarjo.

Bagi Dafa, menempuh pendidikan di UNUSIDA bukan sekadar perjalanan akademik untuk memperoleh gelar sarjana. Lebih dari itu, kampus menjadi ruang pembelajaran yang membentuk karakter, integritas, dan profesionalisme yang kini menjadi bekal utama dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.

“Menjadi alumni UNUSIDA, khususnya dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, merupakan pengalaman yang sangat bermakna. Saya tidak hanya dibekali dengan pengetahuan tentang bahasa dan pedagogi, tetapi juga nilai-nilai karakter yang kuat yang membentuk saya menjadi pendidik yang lebih siap dan berprinsip,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (26/5/2026).

Selama masa perkuliahan, Dafa mendapatkan berbagai pengalaman yang mendukung pengembangan kompetensinya sebagai calon guru. Mulai dari pembelajaran akademik, praktik mengajar, hingga pendampingan dosen yang memberikan wawasan dan pengalaman berharga dalam dunia pendidikan.

Menurutnya, UNUSIDA memiliki peran penting dalam membangun fondasi kariernya sebagai seorang pendidik. Melalui proses pembelajaran yang terintegrasi antara teori dan praktik, ia memperoleh keterampilan profesional, rasa percaya diri, serta etos kerja yang kuat untuk menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang.

“UNUSIDA has played an important role in building the foundation of my career as an English educator. Through academic learning, teaching practice, and lecturers’ guidance, I gained professional skills, confidence, and a strong work ethic that have greatly supported my career development,”

“UNUSIDA telah memainkan peran penting dalam membangun fondasi karier saya sebagai pendidik bahasa Inggris. Melalui pembelajaran akademis, praktik mengajar, dan bimbingan dosen, saya memperoleh keterampilan profesional, kepercayaan diri, dan etos kerja yang kuat yang sangat mendukung pengembangan karier saya,”,” tuturnya.

Kini, sebagai guru Bahasa Inggris, Dafa berkomitmen untuk terus menghadirkan pembelajaran yang inspiratif dan bermakna bagi para peserta didiknya. Ia percaya bahwa seorang guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi teladan dalam membangun karakter generasi muda.

“Alhamdulillah, bangga sekali pernah menempuh pendidikan di UNUSIDA yang selalu melahirkan lulusan yang kompeten, berkarakter, dan siap memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Semoga bisa terus menginspirasi dan membawa semangat perubahan bagi masa depan pendidikan Indonesia,” pungkasnya.

Zaza Wahyu Faradillah, Alumni PGSD UNUSIDA Tahun 2022 (Foto: Humas UNUSIDA)

Zaza Wahyu Faradillah, Alumni PGSD UNUSIDA Buktikan Bekal Ilmu yang Relevan dengan Dunia Kerja

Pengalaman perkuliahan yang relevan dengan kebutuhan profesi menjadi kunci keberhasilan lulusan saat memasuki dunia kerja. Hal inilah yang dirasakan oleh Zaza Wahyu Faradillah, alumni Program Studi PGSD Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) angkatan 2022.

Kini Zaza berprofesi sebagai guru di SD Negeri Pilang 1 Sidoarjo. Ia menuturkan bahwa ilmu dan pengalaman selama kuliah benar-benar membantunya memahami “medan” pekerjaan yang dijalani. Menurutnya, materi perkuliahan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi aplikatif dan selaras dengan praktik di sekolah.

“Ilmu sesuai jurusan yang saya pelajari di bangku kuliah sangat membimbing saya. Saat terjun ke dunia kerja, saya tidak terlalu kesulitan memahami ritme dan tantangan profesi guru,” ungkapnya.

Zaza menuturkan bahwa proses belajar di kampus telah membentuk fondasi penting untuk terus tumbuh, beradaptasi, serta berkembang menghadapi dinamika dunia pendidikan dan profesional yang terus berubah.

Menurutnya, pembiasaan berpikir kritis selama perkuliahan menjadi salah satu nilai utama yang sangat membantu dalam menghadapi tantangan di lapangan. Selain itu, latihan menyusun perangkat pembelajaran hingga pengalaman praktik lapangan juga menjadi bekal berharga yang kini dirasakan manfaatnya secara nyata.

“Proses belajar di kampus membentuk fondasi penting untuk tumbuh, beradaptasi, serta terus berkembang menghadapi dinamika dunia pendidikan. Pembiasaan berpikir kritis, latihan perangkat pembelajaran, hingga pengalaman praktik lapangan menjadi bekal berharga yang manfaatnya sangat terasa saat ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, selama kuliah di UNUSIDA dirinya merasakan dukungan penuh melalui kurikulum yang kontekstual, dosen yang mendampingi, serta pengalaman praktik yang terstruktur. Menurutnya, hal tersebut mampu menjembatani mahasiswa menuju dunia profesional dengan lebih siap dan percaya diri.

“UNUSIDA memberikan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan zaman. Kurikulumnya kontekstual, dosennya mendampingi, dan praktiknya terarah, sehingga mahasiswa lebih siap memasuki dunia kerja,” jelasnya.

Zaza juga mengajak generasi muda untuk tidak ragu menentukan pilihan studi sesuai minat dan cita-cita. Ia meyakini, banyak pilihan jurusan yang tepat di UNUSIDA dan jika dijalani dengan sungguh-sungguh akan memudahkan langkah dalam meraih karier impian.

“Banyak pilihan jurusan yang tepat di UNUSIDA. Jika dipadukan dengan proses belajar yang sungguh-sungguh, maka akan memudahkan langkah ketika memasuki karier yang diimpikan,” pungkasnya.

143 Mahasiswa FKIP UNUSIDA Siap Diterjunkan dalam Program "FKIP UNUSIDA Mengajar 2025" di 13 Sekolah Mitra (Foto: Humas UNUSIDA)

143 Mahasiswa Peserta Program FKIP UNUSIDA Mengajar 2025 Siap Diterjunkan di 13 Sekolah Mitra

SIDOARJO — Sebanyak 143 mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) siap diterjunkan dalam program FKIP UNUSIDA Mengajar 2025′, sebuah kegiatan praktik mengajar yang akan dilaksanakan di 13 sekolah mitra, termasuk 10 SD Negeri dan 3 sekolah swasta, mulai 23 September hingga 23 November 2025.

Wakil Rektor I UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd turut memberikan pesan khusus kepada peserta untuk tidak sungkan menunjukkan Akhlak, Kualitas, dan Integritas. Menurutnya. Program UNUSIDA Mengajar 2025 menjadi bagian penting dari visi UNUSIDA dalam mencetak lulusan pendidikan yang siap pakai, tidak hanya unggul dalam teori, tetapi juga berpengalaman dalam praktik lapangan.

“Tugas kalian bukan hanya mengajar, tapi juga membawa misi penting: membuktikan bahwa mahasiswa UNUSIDA memiliki kualitas, integritas, dan akhlakul karimah. Jangan lupa, kalian adalah duta kampus. Tunjukkan citra terbaik kepada sekolah dan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun kesan positif selama penugasan. Dengan begitu, ia berharap akan lahir generasi pendidik yang berkualitas, beretika, dan siap menjadi agen perubahan di dunia pendidikan Indonesia.

“Bukan hanya keterampilan yang diuji, tapi juga sikap dan kesungguhan dalam berinteraksi dengan kepala sekolah, guru, dan siswa dari berbagai latar belakang,” tuturnya.

Dalam acara pelepasan tersebut, Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, M.Pd menyampaikan harapan agar mahasiswa dapat melaksanakan kegiatan ini dengan penuh tanggung jawab, profesionalisme, dan akhlakul karimah. Ia menekankan agar seluruh peserta FKIP UNUSIDA Mengajar 2025 ini dapat menjaga nama baik dan mengaplikasikan ilmu di lapangan.

“Kami berharap mahasiswa tidak hanya mengajar, tapi juga menjadi teladan yang menjaga nama baik pribadi, orang tua, fakultas, dan universitas. Tunjukkan kualitas, akhlak mulia, dan karakter khas UNUSIDA yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah,” tegasnya.

Program ini bertujuan untuk memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa FKIP dalam dunia pendidikan, terutama dalam praktik mengajar, pendampingan kegiatan ekstrakurikuler, serta penguatan karakter siswa di sekolah. Program ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk LSM Mutiara Rinda dan para kepala sekolah mitra yang siap berkolaborasi untuk mendampingi mahasiswa selama dua bulan penuh.

Sementara itu, Ketua Program FKIP UNUSIDA Mengajar, Dr. Arie Widya Murni, S.Pd., M.Pd menjelaskan bahwa seluruh peserta sudah siap dan telah dinyatakan layak diterjunkan ke lapangan karena telah memenuhi semua syarat akademik dan administratif.

“Seluruh mahasiswa telah lulus seleksi dan pembekalan. Kami percaya mereka siap menebarkan ilmu dan semangat positif di sekolah-sekolah mitra. Ini adalah bentuk kontribusi nyata FKIP UNUSIDA dalam dunia pendidikan,” pungkasnya. (MY)