Pos

Foto bersama seluruh yudisiawan Yudisium ke-12 FAI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-2 FAI UNUSIDA: Teguhkan Dedikasi Cetak Guru Unggul dan Berakhlakul Karimah

SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menggelar Yudisium ke-2 dengan mengusung semangat ‘Meneguhkan Dedikasi, Menginspirasi Negeri, Mencetak Guru Unggul, Adaptif, dan Berakhlakul Karimah’, Jumat (7/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi mahasiswa setelah menyelesaikan rangkaian pendidikan di jenjang sarjana sekaligus menjadi awal untuk mengabdikan ilmu di tengah masyarakat.

Tanpak hadir Plt. Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.HI., M.Pd., BPP UNUSIDA Hj. Yuli Qayyumillah, MA., Dekan FAI UNUSIDA Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I., Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Moh. Anang Abidin, S.H.I., M.Pd., serta Ketua Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Rifatul Anita, S.Pd., M.Pd.

Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja keras mahasiswa, dosen pembimbing, serta seluruh pemangku kepentingan di lingkungan UNUSIDA. Capaian kelulusan tersebut juga mengalami peningkatan sekitar 5,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Sudah tidak perlu mikir nilai saya jelek atau nilai saya baik. Sekarang sudah selesai. Itu masa-masa di bangku kuliah, sekarang sudah tidak lagi di bangku. Maka senyumnya jangan sampai kecut seperti saat menghadapi ujian skripsi,” ujar Feri dalam sambutannya.

Ia menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan pintu masuk menuju fase kehidupan dan pengabdian yang baru. Karena itu, para lulusan didorong untuk menentukan langkah setelah menyelesaikan pendidikan.

Menurutnya, setidaknya terdapat tiga pilihan yang dapat ditempuh para lulusan. Pertama, melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2). Kedua, membangun karier dan keluarga dengan menjadi pribadi yang berprestasi. Ketiga, mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh selama kuliah di lembaga maupun lingkungan tempat mereka mengabdi.

Khusus bagi lulusan yang telah maupun akan berkecimpung di dunia pendidikan, Feri mengingatkan bahwa gelar sarjana kependidikan membawa tanggung jawab besar. Para lulusan tidak cukup hanya memiliki ijazah, tetapi harus mampu menerapkan kompetensi yang telah diperoleh selama perkuliahan.

Ia mencontohkan berbagai kompetensi yang telah dipelajari mahasiswa, mulai dari apersepsi, pre-test, elaborasi, post-test, asesmen, hingga penyusunan perangkat pembelajaran.

“Tidak boleh ada cerita dari mitra bahwa lulusan UNUSIDA tidak bisa mengerjakan RPS. Tantangan kita sering kali adalah hal yang kita bisa itu tidak kita lakukan,” tegasnya.

Feri juga mengingatkan pentingnya integritas akademik dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Menurutnya, perangkat pembelajaran seperti RPS dan RPP harus benar-benar disusun dan dilaksanakan sebagai bagian dari proses pendidikan, bukan sekadar dibuat untuk memenuhi kebutuhan administrasi atau akreditasi.

“Kunci sukses di dunia pendidikan itu tulis apa yang sudah dikerjakan, evaluasi, dan kerjakan apa yang sudah ditulis,” pesannya.

Ia berharap para lulusan FAI UNUSIDA mampu menjadi pendidik yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga menjunjung tinggi integritas, profesionalisme, adaptif terhadap perubahan, serta memiliki akhlakul karimah.

Dalam kesempatan tersebut, Feri juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan dengan berbagai dinamika. Sebagian mahasiswa menyelesaikan studi dalam waktu empat tahun, sementara lainnya membutuhkan waktu lebih panjang maupun lebih singkat sesuai dengan kondisi masing-masing.

Ia menegaskan bahwa proses akademik yang telah dilalui merupakan bagian penting dalam membentuk kesiapan mahasiswa menghadapi dunia profesional.

Feri turut menjelaskan kepada para peserta yudisium mengenai proses administrasi kelulusan, termasuk penerbitan ijazah dan Penomoran Ijazah Nasional (PIN). Ia mengingatkan mahasiswa untuk mengikuti seluruh tahapan administrasi sesuai ketentuan agar proses penerbitan dokumen kelulusan berjalan lancar.

“Selamat kepada seluruh mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan, semoga mampu membawa nama baik almamater, mengabdikan keilmuan di tengah masyarakat, serta mengambil peran dalam mencetak generasi yang unggul, adaptif, berkarakter, dan berakhlakul karimah,” tuturnya.

Seluruh yudisiawan berfoto bersama dengan Dosen dan Tenaga Kependidikan dalam Yudisium ke-11 UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-11 FKIP UNUSIDA Cetak 171 Calon Pendidik Berkarakter, Inovatif, dan Adaptif

SIDOARJO — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Yudisium ke-11 dengan mengusung tema ‘Mencetak Pendidik yang Berkarakter, Inovatif, dan Adaptif untuk Mewujudkan Pendidikan yang Berdampak’ di Graha Delta Sekretariat Daerah Kabupaten Sidoarjo, Rabu (5/8/2026).

Sebanyak 171 mahasiswa resmi diyudisium, terdiri atas 23 lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) dan 148 lulusan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Para peserta berasal dari beberapa angkatan, yakni mahasiswa angkatan 2019, 2020, 2021, dan 2022 yang berhasil menuntaskan studinya pada semester genap Tahun Akademik 2025/2026.

Hadir dalam kegiatan tersebut Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.H., M.Pd., Ketua Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) UNUSIDA, Dekan FKIP Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., jajaran pimpinan universitas dan fakultas, dosen, orang tua, serta para yudisiumwan.

Dalam sambutannya, Dekan FKIP UNUSIDA Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd. menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya prosesi yudisium yang diikuti 171 lulusan. Ia berharap momen tersebut menjadi awal keberkahan bagi seluruh lulusan dalam mengabdikan ilmunya kepada masyarakat.

Menurutnya, tema yudisium tahun ini menegaskan pentingnya tiga kompetensi utama yang harus dimiliki seorang calon pendidik, yaitu berkarakter, inovatif, dan adaptif. Ketiga kompetensi tersebut dinilai menjadi bekal penting dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika dunia pendidikan.

“Jadilah pendidik yang memiliki karakter positif, mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta terus menghadirkan inovasi dalam proses pembelajaran,” ujarnya.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa terdapat satu nilai yang lebih utama daripada seluruh kompetensi tersebut, yakni akhlakul karimah yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah. “Jadilah pendidik yang berakhlakul karimah dengan menjunjung tinggi nilai kejujuran. Akhlak menjadi fondasi utama yang harus dimiliki setiap lulusan FKIP UNUSIDA,” pesannya.

Ia mengingatkan bahwa seorang guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi teladan bagi peserta didik melalui ucapan, sikap, dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyebutkan bahwa momen Yudisium awal pengabdian sebagai lulusan untuk menjadi pendidik profesional, berkarakter, inovatif, adaptif, dan memberikan dampak positif bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.

“Mulai hari ini, apa yang kalian lakukan akan menjadi contoh bagi peserta didik. Jadikan seluruh proses selama kuliah sebagai pengalaman positif yang dapat dibanggakan dan diceritakan kepada generasi berikutnya,” tambahnya.

Sementara itu, Plt. Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.H., M.Pd. menyampaikan apresiasi atas capaian para lulusan FKIP. Ia menekankan bahwa guru merupakan sosok yang menjadi role model bagi peserta didik sehingga harus terus meningkatkan kualitas diri, baik dari sisi keilmuan maupun akhlak.

Menurutnya, seorang pendidik tidak boleh berhenti belajar karena perkembangan ilmu pengetahuan terus berlangsung.

“Guru adalah teladan bagi muridnya. Seorang guru tidak boleh berhenti menambah ilmu, kemampuan, dan kualitas dirinya,” katanya.

Hadi juga mengingatkan pentingnya menjaga ibadah, khususnya salat lima waktu, sebagai kunci keselamatan dan keberkahan dalam menjalani kehidupan maupun profesi sebagai pendidik.

“Kunci hidup adalah menjaga salat lima waktu. Kalau bisa berjamaah dan dilaksanakan di awal waktu. Insyaallah Allah akan menjaga setiap langkah kehidupan kita,” pesannya.

Di kesempatan yang sama, Ketua Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) UNUSIDA, Drs. H. Arli Fauzi, S.H., M.Hum., menyampaikan bahwa profesi guru merupakan salah satu profesi yang paling mulia karena mendidik manusia dengan penuh ketulusan.

“Seorang guru mengajar dan mendidik dengan hati. Guru menerima peserta didik apa adanya, membimbing yang sudah baik menjadi lebih baik, dan membantu yang belum baik agar berkembang. Itulah amal jariyah seorang pendidik,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan para lulusan agar tidak berkecil hati apabila nantinya berkarier di luar profesi guru. Menurutnya, ilmu yang diperoleh selama kuliah tetap dapat memberikan manfaat dalam berbagai bidang pekerjaan.

“Kesuksesan seseorang tidak selalu ditentukan oleh kesesuaian antara ijazah dan profesinya. Yang terpenting adalah tetap menjaga nilai-nilai yang telah dipelajari dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT,” tuturnya.

Ayu Munjidah, S.Pd., alumni Program Studi S1 PGSD UNUSIDA sebagai guru di MI Al Abror Pekauman. (Foto: Humas UNUSIDA)

Inspiratif! Ayu Munjidah Menebar Manfaat sebagai Pendidik Berbekal Ilmu dan Pengalaman Organisasi

Pendidikan bukan sekadar proses memperoleh gelar akademik, tetapi juga perjalanan membentuk karakter, mengembangkan potensi, serta menyiapkan generasi muda untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Nilai itulah yang dirasakan oleh Ayu Munjidah, S.Pd., alumni Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) angkatan 2020 yang kini mengabdikan diri sebagai guru di MI Al Abror Pekauman.

Bagi Ayu, perjalanan selama menempuh pendidikan di UNUSIDA menjadi salah satu fase paling berharga dalam hidupnya. Tidak hanya memperoleh bekal ilmu akademik, ia juga mendapatkan pengalaman organisasi, karya ilmiah, hingga pembinaan karakter yang menjadi modal utama dalam menjalankan profesinya sebagai seorang pendidik.

Saat mengenang masa-masa kuliah, Ayu mengaku memiliki banyak pengalaman yang sulit dilupakan. Salah satu momen yang paling membanggakan adalah ketika dirinya berhasil menerbitkan dua buku antologi puisi bersama beberapa dosen UNUSIDA.

Karya tersebut lahir melalui proses pendampingan dan bimbingan yang intensif dari para dosen, khususnya Agung Purnomo, beserta dosen-dosen lainnya yang terus mendorong mahasiswa untuk berani berkarya dan mengembangkan kreativitas di luar kegiatan akademik.

“Pengalaman saya selama kuliah di UNUSIDA yang paling berkesan adalah ketika saya memiliki dua buku puisi karya saya bersama beberapa dosen UNUSIDA dengan bimbingan Pak Agung Purnomo dan beberapa dosen lainnya,” ungkap Ayu.

Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa lingkungan akademik UNUSIDA tidak hanya mendorong mahasiswa untuk unggul di bidang akademik, tetapi juga memberikan ruang yang luas bagi pengembangan minat, bakat, dan kreativitas mahasiswa.

Selain aktif berkarya, Ayu juga menjadi bagian dari perjalanan awal berdirinya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Unggul. Bersama rekan-rekan mahasiswa lainnya, ia turut merintis organisasi tersebut dari awal hingga berkembang menjadi salah satu wadah pengembangan prestasi mahasiswa di lingkungan kampus.

Menurutnya, membangun sebuah organisasi bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan komitmen, kerja sama, serta semangat untuk terus belajar dan berproses bersama.

“Pengalaman bersama teman-teman UKM Mahasiswa Unggul menjadi salah satu cerita yang tidak akan pernah saya lupakan. Kami merintis dan membangun UKM tersebut mulai dari nol hingga berada di titik seperti sekarang,” kenangnya.

Melihat perkembangan UKM Mahasiswa Unggul yang terus melahirkan mahasiswa berprestasi setiap tahunnya memberikan kebanggaan tersendiri bagi Ayu. Ia merasa perjuangan yang dilakukan bersama teman-teman saat merintis organisasi tersebut kini mulai membuahkan hasil.

“Saya sangat bangga melihat perkembangan UKM Mahasiswa Unggul yang dari tahun ke tahun bisa berkarya lebih baik lagi dan terus dilanjutkan oleh adik-adik junior yang hebat,” ujarnya.

Kini, ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama menjadi mahasiswa UNUSIDA menjadi bekal utama Ayu dalam menjalankan amanah sebagai seorang pendidik di MI Al Abror Pekauman.

Ia menilai bahwa UNUSIDA memberikan banyak manfaat bagi perjalanan kariernya. Tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi akademik, tetapi juga membentuk karakter serta memberikan nilai-nilai kehidupan yang sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan.

“Kampus UNUSIDA banyak memberikan manfaat untuk karier saya yang sekarang, alhamdulillah masih diamanahi menjadi seorang pendidik,” tuturnya.

Menurut Ayu, keberhasilan seorang guru tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengajar, tetapi juga oleh keteladanan, kesabaran, dan semangat untuk terus belajar. Nilai-nilai tersebut banyak ia pelajari dari para dosen selama menempuh pendidikan di UNUSIDA.

Ia mengaku masih mengingat dengan baik setiap ilmu, nasihat, dan keteladanan yang diberikan oleh para dosen. Baginya, para dosen UNUSIDA bukan hanya pengajar, tetapi juga mentor yang memberikan inspirasi dalam menjalani profesi sebagai pendidik.

“Di bangku kuliah, saya bertemu dengan dosen-dosen yang hebat dan kompeten. Mereka menjadi salah satu penunjang bagi saya ketika kuliah dan sampai detik ini saya masih mengingat jasa serta ilmu yang beliau ajarkan kepada kami,” katanya.

Pengalaman belajar bersama dosen yang berdedikasi membuat Ayu semakin yakin bahwa menjadi seorang guru adalah profesi yang mulia sekaligus penuh tanggung jawab. Ia berkomitmen untuk meneruskan nilai-nilai yang telah diajarkan selama kuliah kepada peserta didiknya.

Sebagai alumni, Ayu berharap UNUSIDA terus melahirkan lulusan-lulusan yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, semangat berkarya, serta siap memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia juga berpesan kepada mahasiswa yang saat ini sedang menempuh pendidikan agar memanfaatkan setiap kesempatan yang ada di kampus, baik melalui kegiatan akademik maupun organisasi kemahasiswaan.

Menurutnya, pengalaman berorganisasi, berkarya, dan membangun jejaring selama kuliah akan menjadi bekal yang sangat berharga ketika memasuki dunia kerja.

“Perjalanan di bangku kuliah bukan sekadar mengejar nilai atau gelar, melainkan proses membentuk pribadi yang tangguh, kreatif, dan siap mengabdi kepada masyarakat. Dengan bekal ilmu, pengalaman organisasi, serta bimbingan para dosen, yang menjadi inspirasi hingga kini untuk terus mengabdikan diri di dunia pendidikan dengan harapan dapat mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia,” pungkasnya.

Zaza Wahyu Faradillah, Alumni PGSD UNUSIDA Tahun 2022 (Foto: Humas UNUSIDA)

Zaza Wahyu Faradillah, Alumni PGSD UNUSIDA Buktikan Bekal Ilmu yang Relevan dengan Dunia Kerja

Pengalaman perkuliahan yang relevan dengan kebutuhan profesi menjadi kunci keberhasilan lulusan saat memasuki dunia kerja. Hal inilah yang dirasakan oleh Zaza Wahyu Faradillah, alumni Program Studi PGSD Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) angkatan 2022.

Kini Zaza berprofesi sebagai guru di SD Negeri Pilang 1 Sidoarjo. Ia menuturkan bahwa ilmu dan pengalaman selama kuliah benar-benar membantunya memahami “medan” pekerjaan yang dijalani. Menurutnya, materi perkuliahan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi aplikatif dan selaras dengan praktik di sekolah.

“Ilmu sesuai jurusan yang saya pelajari di bangku kuliah sangat membimbing saya. Saat terjun ke dunia kerja, saya tidak terlalu kesulitan memahami ritme dan tantangan profesi guru,” ungkapnya.

Zaza menuturkan bahwa proses belajar di kampus telah membentuk fondasi penting untuk terus tumbuh, beradaptasi, serta berkembang menghadapi dinamika dunia pendidikan dan profesional yang terus berubah.

Menurutnya, pembiasaan berpikir kritis selama perkuliahan menjadi salah satu nilai utama yang sangat membantu dalam menghadapi tantangan di lapangan. Selain itu, latihan menyusun perangkat pembelajaran hingga pengalaman praktik lapangan juga menjadi bekal berharga yang kini dirasakan manfaatnya secara nyata.

“Proses belajar di kampus membentuk fondasi penting untuk tumbuh, beradaptasi, serta terus berkembang menghadapi dinamika dunia pendidikan. Pembiasaan berpikir kritis, latihan perangkat pembelajaran, hingga pengalaman praktik lapangan menjadi bekal berharga yang manfaatnya sangat terasa saat ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, selama kuliah di UNUSIDA dirinya merasakan dukungan penuh melalui kurikulum yang kontekstual, dosen yang mendampingi, serta pengalaman praktik yang terstruktur. Menurutnya, hal tersebut mampu menjembatani mahasiswa menuju dunia profesional dengan lebih siap dan percaya diri.

“UNUSIDA memberikan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan zaman. Kurikulumnya kontekstual, dosennya mendampingi, dan praktiknya terarah, sehingga mahasiswa lebih siap memasuki dunia kerja,” jelasnya.

Zaza juga mengajak generasi muda untuk tidak ragu menentukan pilihan studi sesuai minat dan cita-cita. Ia meyakini, banyak pilihan jurusan yang tepat di UNUSIDA dan jika dijalani dengan sungguh-sungguh akan memudahkan langkah dalam meraih karier impian.

“Banyak pilihan jurusan yang tepat di UNUSIDA. Jika dipadukan dengan proses belajar yang sungguh-sungguh, maka akan memudahkan langkah ketika memasuki karier yang diimpikan,” pungkasnya.

Zahra Jahriah Zainal Alumni PIAUD UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Zahra Jahriah Zainal: Kuliah di PIAUD UNUSIDA Jadi Bekal Membentuk Guru RA yang Percaya Diri dan Profesional

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) terus membuktikan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan profesional. Hal ini tercermin dari kisah inspiratif Zahra Jahriah Zainal, Alumni Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Tahun 2025, yang kini mengabdikan diri sebagai guru di RA Insan Madani Surabaya.

Zahra mengungkapkan rasa syukur atas pengalaman perkuliahan yang ia jalani selama menempuh studi di UNUSIDA. Menurutnya, proses kuliah tidak hanya memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan spiritualitas sebagai calon pendidik.

“Alhamdulillah, kuliah di UNUSIDA memberikan saya banyak pembelajaran berharga, baik akademik maupun spiritual. Pengalaman ini membantu saya lebih percaya diri dan profesional di dunia kerja, dan Alhamdulillah saat ini saya bekerja sesuai dengan jurusan saya,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (16/12/2025).

Sebagai alumni PIAUD, Zahra menilai kesan paling berharga selama kuliah adalah suasana pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. Ia merasa dibekali ilmu tentang pendidikan anak usia dini yang diajarkan di UNUSIDA sangat relevan, sekaligus diarahkan menjadi pendidik yang berkarakter religius dan memiliki kepedulian tinggi terhadap tumbuh kembang anak.

Ia juga menegaskan bahwa mata kuliah berbasis praktik menjadi bekal utama dalam menjalankan profesinya saat ini. Mata kuliah seperti strategi pembelajaran PAUD, pengembangan kurikulum, asesmen perkembangan anak, serta microteaching sangat membantu Zahra dalam menjalankan tugasnya sebagai guru RA.

Melalui pengalaman akademik yang aplikatif, ditambah suasana kampus yang mendukung pengembangan diri, membuatnya merasa lebih siap ketika memasuki dunia profesional. Ia mengaku mampu beradaptasi dengan cepat, bekerja secara percaya diri, serta menjalankan tugas secara bertanggung jawab sesuai kompetensi yang dimiliki.

“Ilmu tersebut sangat relevan dan langsung dapat diterapkan di RA Insan Madani, mulai dari merancang RPPH, mengelola kelas, hingga memahami karakter setiap anak,” jelasnya.

Lebih lanjut, Zahra menekankan pentingnya menempuh pendidikan sesuai dengan jurusan yang diminati. Menurutnya, kuliah yang linier dengan profesi sangat berpengaruh terhadap rasa percaya diri dan profesionalisme di dunia kerja.

“Kuliah sesuai jurusan itu sangat penting karena membuat saya lebih siap dan yakin menjalankan peran sebagai guru RA, dengan pemahaman yang tepat tentang perkembangan anak dan metode pembelajaran yang sesuai,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Zahra memberikan pesan inspiratif kepada mahasiswa PIAUD UNUSIDA agar benar-benar memanfaatkan masa perkuliahan sebagai proses pembentukan diri. Ia ingin membuktikan bahwa UNUSIDA sebagai kampus NU terus melahirkan lulusan yang religius, profesional, dan siap mengabdi, khususnya di bidang pendidikan anak usia dini, demi mencetak generasi masa depan yang unggul dan berakhlakul karimah.

“Manfaatkan setiap proses perkuliahan dengan sungguh-sungguh. Perbanyak pengalaman praktik, jangan takut belajar dari lapangan, dan tanamkan niat yang tulus dalam mendidik anak. Ilmu yang diperoleh di bangku kuliah akan menjadi bekal berharga saat terjun ke dunia kerja,” pesannya.

Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili bersama Calon Guru (Foto: Humas UNUSIDA)

Hari Guru Nasional Jangan Berhenti pada Seremonial

Dalam momentum Hari Guru Nasional yang diperingati setiap 25 November, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., menyampaikan pandangan mengenai pentingnya mengembalikan esensi peringatan Hari Guru sebagai upaya penguatan martabat dan profesionalitas pendidik. Ia menegaskan bahwa Hari Guru tidak seharusnya berhenti pada rangkaian seremoni dan ucapan formal tahunan.

Dalam keterangannya, ia mengajak semua pihak untuk menjadikan Hari Guru sebagai refleksi kolektif atas kondisi nyata profesi pendidik di Indonesia. “Hari Guru Nasional tidak boleh berhenti pada ucapan selamat dan unggahan foto. Ini adalah momen penting untuk meninjau kembali bagaimana negara, masyarakat, dan institusi pendidikan memahami profesi guru,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (25/11/2025).

Menurutnya, guru saat ini menghadapi spektrum tantangan yang makin kompleks, mulai dari beban administrasi yang tinggi, tuntutan kurikulum yang dinamis, hingga kewajiban beradaptasi dengan teknologi pendidikan yang berkembang begitu cepat.

“Guru adalah aktor utama dalam masa depan pendidikan. Namun, sering kali mereka justru menjadi pihak yang paling terbebani oleh sistem. Jika pendidikan adalah fondasi bangsa, maka guru harus ditempatkan pada posisi terhormat, bukan hanya dipuji setahun sekali,” imbuhnya.

Sebagai lembaga pencetak tenaga pendidik, FKIP UNUSIDA menegaskan komitmennya dalam membekali mahasiswa dengan kompetensi komprehensif, mulai dari penguatan karakter, pedagogi inovatif, integrasi teknologi digital, hingga kepekaan sosial sebagai dasar pendidikan yang berkelanjutan.

Ia menekankan bahwa peringatan Hari Guru tahun ini perlu dimaknai sebagai ajakan untuk menghadirkan kebijakan yang lebih manusiawi, memberikan ruang kreativitas bagi guru, serta mengurangi beban administratif yang selama ini kerap menghambat kinerja mereka.

“FKIP UNUSIDA terus mendorong mahasiswa calon guru memahami bahwa profesi ini bukan hanya pekerjaan, tetapi panggilan moral. Namun panggilan ini membutuhkan ekosistem yang sehat, mulai dari penghargaan, dukungan kebijakan, dan kesempatan untuk berkembang,” jelasnya.

Ia juga mengajak masyarakat agar melihat guru sebagai mitra strategis dalam membangun peradaban, bukan sekadar penyampai materi pelajaran.

Sebagai bentuk kontribusi akademik, FKIP UNUSIDA juga akan menyelenggarakan International Webinar dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional 2025 dengan menghadirkan narasumber dari Indonesia dan Thailand.

Peringatan Hari Guru Nasional diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam memberikan dukungan nyata bagi guru sebagai pilar utama pendidikan bangsa. Hari Guru semestinya menjadi pengingat bahwa kualitas pendidikan tidak akan pernah melampaui kualitas guru yang mengabdikan diri di dalamnya.

143 Mahasiswa FKIP UNUSIDA Siap Diterjunkan dalam Program "FKIP UNUSIDA Mengajar 2025" di 13 Sekolah Mitra (Foto: Humas UNUSIDA)

143 Mahasiswa Peserta Program FKIP UNUSIDA Mengajar 2025 Siap Diterjunkan di 13 Sekolah Mitra

SIDOARJO — Sebanyak 143 mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) siap diterjunkan dalam program FKIP UNUSIDA Mengajar 2025′, sebuah kegiatan praktik mengajar yang akan dilaksanakan di 13 sekolah mitra, termasuk 10 SD Negeri dan 3 sekolah swasta, mulai 23 September hingga 23 November 2025.

Wakil Rektor I UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd turut memberikan pesan khusus kepada peserta untuk tidak sungkan menunjukkan Akhlak, Kualitas, dan Integritas. Menurutnya. Program UNUSIDA Mengajar 2025 menjadi bagian penting dari visi UNUSIDA dalam mencetak lulusan pendidikan yang siap pakai, tidak hanya unggul dalam teori, tetapi juga berpengalaman dalam praktik lapangan.

“Tugas kalian bukan hanya mengajar, tapi juga membawa misi penting: membuktikan bahwa mahasiswa UNUSIDA memiliki kualitas, integritas, dan akhlakul karimah. Jangan lupa, kalian adalah duta kampus. Tunjukkan citra terbaik kepada sekolah dan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun kesan positif selama penugasan. Dengan begitu, ia berharap akan lahir generasi pendidik yang berkualitas, beretika, dan siap menjadi agen perubahan di dunia pendidikan Indonesia.

“Bukan hanya keterampilan yang diuji, tapi juga sikap dan kesungguhan dalam berinteraksi dengan kepala sekolah, guru, dan siswa dari berbagai latar belakang,” tuturnya.

Dalam acara pelepasan tersebut, Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, M.Pd menyampaikan harapan agar mahasiswa dapat melaksanakan kegiatan ini dengan penuh tanggung jawab, profesionalisme, dan akhlakul karimah. Ia menekankan agar seluruh peserta FKIP UNUSIDA Mengajar 2025 ini dapat menjaga nama baik dan mengaplikasikan ilmu di lapangan.

“Kami berharap mahasiswa tidak hanya mengajar, tapi juga menjadi teladan yang menjaga nama baik pribadi, orang tua, fakultas, dan universitas. Tunjukkan kualitas, akhlak mulia, dan karakter khas UNUSIDA yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah,” tegasnya.

Program ini bertujuan untuk memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa FKIP dalam dunia pendidikan, terutama dalam praktik mengajar, pendampingan kegiatan ekstrakurikuler, serta penguatan karakter siswa di sekolah. Program ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk LSM Mutiara Rinda dan para kepala sekolah mitra yang siap berkolaborasi untuk mendampingi mahasiswa selama dua bulan penuh.

Sementara itu, Ketua Program FKIP UNUSIDA Mengajar, Dr. Arie Widya Murni, S.Pd., M.Pd menjelaskan bahwa seluruh peserta sudah siap dan telah dinyatakan layak diterjunkan ke lapangan karena telah memenuhi semua syarat akademik dan administratif.

“Seluruh mahasiswa telah lulus seleksi dan pembekalan. Kami percaya mereka siap menebarkan ilmu dan semangat positif di sekolah-sekolah mitra. Ini adalah bentuk kontribusi nyata FKIP UNUSIDA dalam dunia pendidikan,” pungkasnya. (MY)