Pos

Alumni Prodi Infromatika Unusida, Edi Arianto atau Mas Owdy saat menerima Penghargaan Santri of The Year 2025 Kategori Santri Milenial Inspiratif (Foto: Mas Owdy)

Alumni Informatika UNUSIDA, Edi Arianto Raih Penghargaan “Santri of The Year 2025” Kategori Santri Milenial Inspiratif

SIDOARJO — Alumni Program Studi (Prodi) Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Edi Arianto, atau yang akrab disapa Mas Owdy, berhasil menorehkan prestasi membanggakan di penghujung tahun 2025. Ia dianugerahi Penghargaan Santri of The Year 2025 Kategori Santri Milenial Inspiratif. Penghargaan tersebut diberikan oleh Islam Nusantara Center (INC) bekerja sama dengan DPR RI dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional 2025, yang puncaknya digelar di Kompleks DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Ahad (9/11/2025) lalu.

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kreativitasnya dalam berdakwah melalui media digital. Melalui karya-karya konten positif dan syiar shalawat, Edi Arianto dinilai mampu menghadirkan semangat keislaman yang damai, kreatif, dan relevan dengan generasi muda masa kini.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan rasa syukur dan haru atas penghargaan yang diterimanya. Ia mendedikasikan capaian tersebut kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam perjalanan hidup dan kariernya.

“Alhamdulillah, di penghujung tahun 2025 ini kami mendapatkan penghargaan Santri of The Year 2025. Penghargaan ini saya persembahkan untuk kedua orang tua, istri tercinta, para guru, sahabat, kerabat, serta keluarga besar Banjari Hero Multimedia dan Delta Video Shooting. Semoga prestasi ini menambah semangat untuk terus bersyiar melalui konten positif di media sosial, serta menjadi inspirasi bagi santri lainnya,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (11/11/2025).

Ajang Santri of The Year merupakan kegiatan tahunan yang digelar untuk menampilkan figur-figur santri yang memberikan kontribusi nyata bagi bangsa, baik melalui gagasan, karya, maupun prestasi. Pada tahun ini, INC memperkenalkan beberapa kategori baru, di antaranya Santri Milenial Inspiratif, Santri Legislator Inspiratif, Santri Perempuan Penggerak Inspiratif, Santri Bhayangkara Inspiratif, dan Mahasantri Bhakti Negeri.

Secara umum, kategori Santri Milenial Inspiratif diberikan kepada individu yang dinilai berhasil memanfaatkan teknologi dan platform digital untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan. Dalam hal ini, Edi Arianto menonjol karena konsistensi dan orisinalitasnya dalam menggabungkan tradisi pesantren (shalawat) dengan media modern seperti YouTube dan broadcast digital.

“Konten saya bukan sekadar hiburan, tapi juga dakwah yang ringan, relevan, dan mudah diterima audiens milenial. Ini adalah upaya membawa ruh pesantren ke ruang digital yang sangat luas. Kami berupaya menjembatani gap antara kearifan lokal pesantren dengan tren global digital,” ungkapnya.

Edi menuturkan bahwa motivasinya sederhana, yakni khidmah (pengabdian) kepada para guru, kiai, dan agamanya. Melalui karya konten shalawat dan siar digital, ia ingin menunjukkan bahwa santri tidak hanya bisa mengaji kitab kuning, tetapi juga bisa menjadi pelopor dakwah kreatif di era modern.

“Konten shalawat yang saya buat adalah bentuk rasa cinta dan syukur kepada Rasulullah SAW. Saya ingin menunjukkan bahwa santri juga bisa menjadi garda terdepan dalam menyebarkan kedamaian, akhlakul karimah, dan kecintaan kepada Nabi melalui bahasa dan platform yang dimengerti oleh anak muda,” terangnya.

Bagi Edi, penghargaan ini bukan sekadar pengakuan nasional, melainkan amanah besar untuk terus konsisten dalam berdakwah melalui media digital. Edi juga menceritakan bahwa sumber inspirasinya datang dari dua kutub penting dalam kehidupannya.

“Pertama, para kiai dan guru di pesantren yang mengajarkan tentang istiqamah dan keikhlasan. Mereka adalah kompas spiritual saya. Kedua, tokoh-tokoh santripreneur yang sukses memadukan nilai spiritual dengan profesionalisme. Mereka menjadi contoh bahwa santri juga bisa modern tanpa kehilangan ruh keislamannya,” jelasnya.

Kombinasi ajaran salaf dan semangat milenial inilah yang menurutnya menjadi energi tak terbatas dalam setiap karya yang ia hasilkan. “Apresiasi ini adalah cambuk semangat untuk terus berbuat baik. Saya ingin setiap karya digital santri menjadi bagian dari dakwah yang menenangkan, bukan memecah. Karena dunia digital pun bisa menjadi ladang amal jika dijalani dengan niat yang tulus,” tandasnya.

Alumni Pondok Pesantren Sabilillah Lamongan tersebut, berharap dapat terus menjadi inspirasi bagi santri-santri muda di seluruh Indonesia untuk berani berkarya, berinovasi, dan berdakwah dengan cara yang kreatif namun tetap berakar pada nilai-nilai pesantren.

“Bagi saya, kata inspiratif bagi santri milenial adalah tentang kemampuan untuk beradaptasi tanpa kehilangan identitas. Inspiratif berarti menjadi jembatan: menjembatani ajaran salaf dengan tantangan khalaf (masa kini); menjembatani ruang Pesantren yang damai dengan hutan belantara dunia maya yang kadang toksik,” imbuhnya.

Menurutnya, santri masa kini harus mampu menjadi Filter dan Fountain di dunia digital. “Sebagai Filter, santri harus mampu menyaring hoaks, radikalisme, dan konten negatif dengan bekal ilmu agama dan akhlaq. Sebagai Fountain (air mancur), santri juga harus aktif menyebarkan konten positif dan mencerahkan. Bukan hanya mengaji teks, tapi juga mengaji konteks. Literasi digital adalah bagian dari dakwah masa kini,” terangnya.

Melalui kanal dan komunitas kreatif yang ia rintis, seperti Banjari Hero Multimedia dan Delta Video Shooting, ia berupaya menghidupkan semangat dakwah yang ringan, estetis, dan mudah diterima generasi muda. Konten yang ia produksi tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi sarana syiar yang menyejukkan dan penuh nilai spiritual.

Ke depan, Edi yang juga mahir bermain berbagai alat musik seperti rebana, kendang dan piano modern tersebut, berkomitmen memperluas ekosistem broadcast dan santripreneurship yang telah dibangunnya. Ia berharap pemerintah dan lembaga terkait dapat memberikan dukungan nyata berupa pelatihan digital, infrastruktur, dan permodalan bagi para santri kreatif di seluruh Indonesia.

“Langkah terdekat adalah memperluas ekosistem broadcast dan entrepreneurship yang sudah ada. Saya ingin menciptakan lebih banyak ruang bagi santri lain untuk berkolaborasi dan berkarya. Harapan saya, kategori Santri Milenial Inspiratif ini terus ada dan makin diakui secara nasional,” harapnya.

“Jadilah santri yang merawat tradisi dan merangkul teknologi. Jangan takut dengan perubahan zaman. Pondasi kita adalah tafaqquh fiddin dan akhlaq mulia. Manfaatkan gadget bukan hanya untuk konsumsi, tapi untuk kontribusi. Jadikan setiap karya sebagai dakwah, dan setiap unggahan sebagai amal jariyah. Karena masa depan bangsa ini ada di tangan santri yang berdaya di segala bidang,” pungkasnya. (MY)

Pengenalan Maskot PMB UNUSIDA Jadi Tanda Kick Off PMB UNUSIDA saat Upacara Hari Santri 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

Semarak Hari Santri 2025, UNUSIDA Resmi Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026/2027

SIDOARJO — Dalam semarak peringatan Hari Santri Nasional 2025, Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) resmi menggelar Kick Off Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Tahun Akademik 2026–2027 di Halaman Masjid KH. Hasyim Asy’ari, Komplek Kampus 2 UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Rabu (22/10/2025) pagi.

Tampak hadir, jajaran pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta perwakilan Badan Otonom Nahdlatul Ulama (Banom NU) di Kabupaten Sidoarjo.

Kick Off PMB ini menjadi momentum penting bagi UNUSIDA untuk menegaskan jati dirinya sebagai kampus mahasantri modern yang siap mencetak lulusan berilmu, berakhlak, dan berjiwa nasionalis. Pembukaan secara simbolis dibukanya pendaftaran UNUSIDA Tahun Akademik 2026/2027 ditandai dengan peluncuran maskot resmi PMB yang mengambil bentuk udang dengan almamater UNUSIDA dan Udeng Pacul Gowang, yang menjadi semangat kebanggaan akan budaya dan kekayaan alam yang menjadi identitas daerah.

Dalam kesempatan tersebut,  Ketua PCNU Sidoarjo KH Zainal Abidin sangat mengapresiasi langkah UNUSIDA yang menjadikan Hari Santri sebagai awal dimulainya pendaftaran mahasiswa baru. Menurutnya, keputusan tersebut memiliki nilai simbolik yang kuat dan relevan dengan jati diri kampus Nahdlatul Ulama.

“Saya sangat mengapresiasi UNUSIDA yang menjadikan momentum Hari Santri sebagai pembukaan PMB kali ini. Ini langkah yang luar biasa dan penuh makna. Karena semangat santri adalah semangat menuntut ilmu dan mengabdi untuk agama, bangsa, dan negara,” tuturnya.

Ia pun mengajak seluruh kader NU dan generasi muda santri untuk menjadikan UNUSIDA sebagai pilihan utama dalam menempuh pendidikan tinggi. “Kalau kader-kader NU mengaku sebagai kader NU, mari bersama-sama kuliah di UNUSIDA. Insyaallah, ilmu yang didapat akan bermanfaat dan berkah,” pesannya.

Momentum Hari Santri Sebagai Spirit Mahasiswa Baru

Kepala Biro PMB UNUSIDA, Achmad Wahyudi, M.Pd., menjelaskan bahwa pemilihan momentum Hari Santri untuk memulai program PMB memiliki makna simbolik yang kuat.

“Hari Santri memiliki makna mendalam bagi UNUSIDA karena kampus ini lahir dari rahim Nahdlatul Ulama. Semangat santri adalah semangat keilmuan, pengabdian, dan nasionalisme. Dengan memulai Kick Off PMB bertepatan dengan Hari Santri, kami ingin menanamkan nilai bahwa mahasiswa UNUSIDA bukan hanya pencari ilmu, tetapi juga pejuang peradaban,” ujarnya.

Ia menambahkan, peluncuran PMB ini menjadi langkah awal memperkenalkan berbagai inovasi UNUSIDA untuk tahun akademik baru, seperti pembukaan program studi unggulan, sistem penerimaan berbasis digital, hingga peningkatan layanan akademik dan non-akademik.

“Kami ingin menunjukkan bahwa UNUSIDA siap menjadi pilihan utama bagi generasi muda NU dan masyarakat luas yang menginginkan pendidikan tinggi berkualitas, berkarakter, dan berdaya saing global,” imbuhnya.

Mahasantri Unggul, Berkarakter, dan Siap Mengabdi

Achmad Wahyudi menegaskan bahwa PMB ini bukan sekadar peluncuran administratif, tetapi juga gerakan moral dan kultural untuk melahirkan lulusan yang berdaya guna bagi masyarakat.

Output yang kami harapkan adalah mahasiswa santri yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga unggul secara spiritual dan sosial. Mahasiswa UNUSIDA harus mampu berpikir global dengan tetap berpijak pada nilai-nilai lokal dan keislaman Ahlussunnah Wal Jama’ah An-Nahdliyah,” jelasnya.

Menurutnya, sinergi antara nilai pesantren dan sistem pendidikan tinggi modern menjadi fondasi utama UNUSIDA dalam mencetak generasi unggul. “Santri itu adaptif. Santri bisa menjadi teknokrat, birokrat, desainer, pengusaha, atau peneliti, tapi tetap berakar pada nilai keislaman dan keindonesiaan,” tegasnya.

Inovasi dan Kolaborasi sebagai Strategi Branding UNUSIDA

Dalam kegiatan Kick Off ini, UNUSIDA juga memperkenalkan sejumlah inisiatif baru, antara lain:

  • Program Beasiswa Santri Berprestasi,

  • Kerjasama strategis dengan pesantren dan lembaga pendidikan Islam di Jawa Timur, dan

  • Kampanye digital nasional untuk menjangkau calon mahasiswa di seluruh Indonesia.

Lebih lanjut, Wahyudi menuturkan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi memperkuat branding UNUSIDA sebagai universitas berbasis nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah yang modern, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

“UNUSIDA berkomitmen terus berinovasi tanpa kehilangan ruh keislaman dan ke-NU-annya. Kuliah di UNUSIDA berarti menempuh pendidikan yang berlandaskan nilai, karakter, dan semangat perjuangan,” ungkapnya.

Berikut timeline Pendaftaran Mahasiswa Baru UNUSIDA Tahun Akademik 2026/2027:

📌Gelombang 1
22 Oktober 2025 s.d 09 Januari 2026
📌Gelombang 2
12 Januari s.d 03 April 2026
📌Gelombang 3
06 April s.d 03 Juli 2026
📌Gelombang 4
06 Juli s.d 28 Agustus 2026

Pendaftaran bisa dilakukan secara tatap muka di Kampus II UNUSIDA: JI. Lingkar Timur KM 5,5 Rangkah Kidul, Kec. Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur 61234. Mulai jam 08.00-16.00 WIB. Atau pendaftaran secara online melalui Website PMB UNUSIDA.

Sinergi Santri dan Kampus Menuju Indonesia Emas 2045

Kegiatan yang bertepatan dengan Hari Santri Nasional ini memberikan dampak positif bagi mahasiswa dan masyarakat. Bagi mahasiswa, menjadi wadah aktualisasi nilai-nilai santri yang menumbuhkan semangat belajar, disiplin, dan solidaritas. Bagi masyarakat, kegiatan ini memperkuat citra UNUSIDA sebagai kampus yang berkomitmen terhadap pengembangan ilmu dan akhlak secara seimbang.

Achmad Wahyudi menegaskan, dengan semangat Hari Santri, UNUSIDA menegaskan kembali jati dirinya bukan sekadar mencetak sarjana, tetapi membentuk manusia berkarakter santri yang tangguh, cerdas, dan siap menjadi pemimpin masa depan bangsa.

“UNUSIDA akan terus menjadi wadah bagi generasi muda NU untuk mengasah potensi, berinovasi, dan berkontribusi bagi bangsa. Dari kampus mahasantri inilah akan lahir generasi emas Indonesia. Generasi yang berilmu, beriman, berintegritas, dan ikhlas,” pungkasnya. (MY)

Civitas Akademika UNUSIDA Turut Meriahkan Upacara Hari Santri Nasional 2025 PCNU Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

Civitas Akademika UNUSIDA Turut Meriahkan Upacara Hari Santri Nasional 2025 PCNU Sidoarjo

SIDOARJO – Civitas Akademika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) turut ambil bagian dalam memeriahkan Upacara Hari Santri Nasional 2025 yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo di Halaman Masjid KH Hasyim Asy’ari, Komplek Kampus 2 UNUSIDA, Lingkar Timur Sidoarjo, Rabu (22/10/2025) pagi.

Kegiatan yang berlangsung khidmat dan penuh semangat kebangsaan ini diikuti oleh ratusan santri, dosen, mahasiswa, dan warga NU dari berbagai lembaga. UNUSIDA sebagai kampus berbasis Nahdlatul Ulama menjadi tuan rumah sekaligus bagian dari penyelenggara kegiatan tersebut.

Salah satu mahasiswa UNUSIDA, Ainina Halizah, mengungkapkan rasa bangganya dapat berkontribusi langsung dalam upacara tersebut. Ia dipercaya menjadi petugas protokoler dalam pelaksanaan upacara Hari Santri Nasional tahun ini.

“Saya senang sekali bisa ikut berkontribusi dalam mensukseskan Upacara Hari Santri Nasional 2025. Bagi saya, Hari Santri bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi simbol jati diri dan perjuangan bangsa Indonesia, terutama bagi para santri,” ujar Nina usai upacara.

Ia juga menyampaikan harapannya agar para santri masa kini mampu menepis berbagai stigma negatif yang sering muncul di media sosial mengenai budaya pesantren.

“Kita sering melihat framing buruk tentang pesantren. Padahal, santri adalah anak bangsa yang justru mampu berkontribusi besar dalam berbagai disiplin ilmu, bukan hanya bidang agama,” tegasnya.

Ainina menambahkan, menjadi santri berarti memiliki semangat belajar yang luas dan tangguh dalam menghadapi tantangan zaman. “Santri bukan hanya orang yang pandai dalam ilmu agama, tetapi juga bisa berprestasi di berbagai bidang. Seperti sains, teknologi, sosial, dan budaya. Itulah semangat santri yang sesungguhnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua PCNU Sidoarjo, KH Zainal Abidin, menyampaikan pesan mendalam tentang makna perjuangan santri di masa lalu dan relevansinya bagi generasi hari ini.

“Hari ini kita mungkin hanya kepanasan saat upacara, tapi itu belum seberapa dibandingkan dengan perjuangan para syuhada, para kiai, dan para pejuang yang mempertaruhkan nyawa untuk kemerdekaan Indonesia,” terangnya saat menyampaikan amnat upacara.

Lebih lanjut, KH Zainal menegaskan bahwa kader Nahdlatul Ulama bukan hanya mampu dalam hal ritual keagamaan seperti tahlil, istighosah, dan sholawat, tetapi juga memiliki kapasitas untuk berkontribusi nyata bagi bangsa dan negara.

“Kader-kader NU hari ini mampu menunjukkan kemampuan, bahwa kita adalah bagian dari hasil perjuangan bangsa yang siap mengawal keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya disambut takbir oleh peserta upacara.

KH Zainal juga menepis pandangan miring terhadap pesantren dan NU yang dianggap hanya sibuk dengan kegiatan keagamaan. “Mereka yang nyinyir itu tidak pernah tahu bagaimana para kiai dan santri meneteskan keringat, air mata, dan darah demi mempertahankan kemerdekaan. Maka nyinyiran itu harus kita jawab dengan karya dan kontribusi nyata,” tegasnya.

Partisipasi civitas akademika UNUSIDA dalam upacara ini menunjukkan komitmen kampus dalam menanamkan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan ke-NU-an kepada seluruh mahasiswa. Semangat Santri Siaga Jiwa Raga tidak hanya menjadi slogan, tetapi juga wujud nyata dedikasi santri masa kini untuk menjaga agama dan mengawal bangsa.