Pos

Mahasiswa KKN 05 UNUSIDA Gelar Malam Tirakatan Bersama Warga di Perumahan Alam Mutiara RT 04 Desa Kendalpecabean (Foto: Zulfaa Gunawan)

KKN 05 UNUSIDA Suguhkan Drama Tradisional dalam Malam Tirakatan Bersama Warga Perumahan Alam Mutiara Desa Kendalpecabean

SIDOARJO — Dalam rangka menyemarakkan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 05 Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Malam Tirakatan bersama warga Perumahan Alam Mutiara, Desa Kendalpecabean RT 04 RW 04, Kecamatan Candi, pada Sabtu (16/8/2025) lalu.

Acara tersebut dihadiri warga dari Dawis 1 hingga 5, Ketua RT, Ketua RW, serta sesepuh perumahan. Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama dan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan bangsa.

Kegiatan malam tirakatan ini menjadi momen kebersamaan antara mahasiswa KKN dengan masyarakat setempat. Acara diisi dengan doa bersama untuk para pahlawan bangsa, pembacaan refleksi kemerdekaan, serta ramah tamah yang berlangsung hangat dan khidmat.

Suasana semakin meriah dengan berbagai persembahan budaya. Mahasiswa KKN menampilkan drama tradisional dengan mengusung tema ‘Menjaga Budaya dengan Pesan’ yang mengingatkan pentingnya melestarikan budaya sebagai identitas bangsa. Pesan utama drama tersebut adalah bahwa budaya tidak boleh dibiarkan terkekang atau hilang, melainkan harus diwariskan agar tetap hidup di tengah modernisasi.

Ketua KKN 05 UNUSIDA, M. Rafly Alfandi menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian mahasiswa sekaligus ajang mempererat hubungan dengan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN 05 UNUSIDA berharap dapat meninggalkan kesan positif sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam menjaga kebersamaan warga, memperkuat identitas budaya, serta menghidupkan kembali semangat gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

“Malam tirakatan ini tidak hanya menjadi tradisi tahunan dalam memperingati Hari Kemerdekaan, tetapi juga wadah untuk memperkuat rasa persaudaraan, kebersamaan, dan rasa syukur atas perjuangan para pahlawan,” ujarnya, Kamis (4/9/2025).

Selain itu, remaja desa turut menampilkan Tari Remo sebagai wujud kebanggaan terhadap seni lokal. Tidak kalah menarik, mahasiswa KKN 05 bersama Karang Taruna Perumahan Alam Mutiara membawakan Tari Gugur Gunung yang melambangkan semangat kebersamaan dalam membangun desa.

Untuk menambah keakraban, panitia juga mengadakan quiz interaktif berhadiah yang disambut antusias oleh warga dari berbagai kalangan usia. Kemeriahan acara terlihat dari ramainya partisipasi warga hingga akhir kegiatan.

Sementara itu, Ketua RT 04, Hery Wahyu Wibowo sangat mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN UNUSIDA. RT 04 Perumahan Alam Mutiara sendiri dikenal sebagai RT dengan kategori Menang Budaya. Penampilan seni dan budaya dalam malam tirakatan ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat bersama generasi mudanya terus menjaga tradisi.

“Kami senang karena anak-anak muda ini mau ikut serta menjaga tradisi tirakatan. Kehadiran mereka membuat suasana lebih semarak sekaligus memberi warna baru bagi lingkungan kami,” ungkapnya.

Penulis: Zulfaa Gunawan (MY)

Suasana Upcara Bendera dalam rangka HUT ke-80 RI di halaman Kampus 2 UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Upacara HUT ke-80 RI di UNUSIDA, Kenakan Baju Adat dan Kostum Pejuang Kemerdekaan

SIDOARJO – Suasana khidmat dan penuh semangat kebangsaan menyelimuti Halaman Kampus 2 Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), saat civitas akademika menggelar upacara memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, Ahad (17/8/2025).

Yang menarik, seluruh peserta mulai dari pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan hingga mahasiswa hadir dengan mengenakan baju adat dari seluruh penjuru nusantara serta seragam pejuang kemerdekaan. Kehadiran berbagai ragam pakaian adat tersebut menghadirkan nuansa kebhinnekaan dan mempertegas komitmen UNUSIDA dalam merawat tradisi dan persatuan bangsa.

Bertindak sebagai pembina upacara, Wakil Rektor 1 UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd. menyampaikan amanat yang menyentuh tentang makna 80 tahun kemerdekaan. Menurutnya, delapan dekade bukanlah waktu yang panjang jika dibandingkan dengan besarnya pengorbanan para pejuang dan ulama terdahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

“Jika para pendahulu kita dan para ulama terdahulu memberikan negara ini dengan perjuangan yang gigih hingga bertaruh nyawa, maka apa yang mau kita berikan untuk generasi kita di masa depan,” ujarnya di hadapan peserta upacara.

Lebih lanjut, Dr. Hadi menegaskan bahwa momentum peringatan HUT RI ke-80 ini menjadi tantangan sekaligus panggilan bagi seluruh civitas akademika UNUSIDA. Mulai dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan hingga mahasiswa untuk terus berkhidmat dan memberikan kontribusi terbaik.

Ia mengingatkan bahwa semangat perjuangan tersebut harus terus diwariskan kepada generasi selanjutnya, sebagaimana para ulama dan santri yang senantiasa berbuat baik agar dapat menjadi amal jariyah yang tak terputus hingga Yaumil Qiyamah.

“Kita beruntung karena di kampus UNUSIDA dapat belajar untuk berkhidmat. Tidak semua lembaga memiliki keistimewaan dan semangat seperti ini. Jika saat ini kita belum bisa memberikan sesuatu yang terbaik, setidaknya jangan meninggalkan catatan yang buruk bagi UNUSIDA dan Jam’iyah Nahdlatul Ulama,” tegasnya.

Ia mengajak seluruh peserta untuk terus mengukir prestasi, membawa UNUSIDA menjadi kampus yang berdaya saing di tingkat regional, nasional maupun global sesuai kapasitasnya masing-masing, agar dapat menjadi contoh bagi generasi selanjutnya. Sebab, profesionalitas dan gaji hanyalah bagian dari kewajiban, namun semangat khidmat adalah nilai utama yang harus terus dipegang oleh seluruh warga kampus.

“Khidmat adalah ruh perjuangan yang membedakan UNUSIDA dengan lembaga lain. Semoga Allah meridhoi kita semua untuk berkhidmat di Unusida dan Nahdlatul Ulama sebagai bentuk pengorbanan,” tuturnya.

Dosen PGSD UNUSIDA, Achmad Wahyudi, S.Pd.I., M.Pd. (Foto: Humas UNUSIDA)

Refleksi HUT RI Ke-80: Dosen UNUSIDA Ajak Meneladani Sikap Keberanian dan Keikhlasan Para Pendiri Bangsa

SIDOARJO – Delapan puluh tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia dengan keberanian dan keikhlasan yang luar biasa. Mereka tidak hanya bermimpi, tetapi bertindak untuk membangun fondasi kokoh yang kita pijak hingga hari ini.

Dalam momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia yang mengusung tema ‘Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju’, Dosen PGSD Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Achmad Wahyudi, S.Pd.I., M.Pd. mengajak seluruh masyarakat untuk kembali meneladani keberanian dan keikhlasan luar biasa para pendiri bangsa.

Menurutnya, proklamasi kemerdekaan yang digaungkan pada 17 Agustus 1945 bukanlah hasil proses yang mudah atau instan. Melainkan buah dari perjuangan panjang, pengorbanan, dan keikhlasan para pejuang yang mempertaruhkan segalanya untuk bangsa.

“Para pendiri bangsa bukan hanya berani bermimpi tentang Indonesia merdeka, tetapi juga berani mengambil risiko, meninggalkan kenyamanan, dan bertindak dengan penuh keikhlasan demi mewujudkan cita-cita tersebut,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Ahad (17/8/2025).

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UNUSIDA tersebut, menekankan bahwa di tengah euforia perayaan HUT RI ke-80 ini, masyarakat sepatutnya merenungkan apakah semangat keberanian dan keikhlasan itu masih tertanam dalam diri kita sebagai generasi penerus bangsa.

Ia menyampaikan bahwa keberanian hari ini bukan lagi mengangkat senjata, tetapi keberanian untuk bersikap jujur, untuk menjaga integritas, membela kebenaran, dan mengambil peran nyata dalam menjaga persatuan bangsa. Begitu pula keikhlasan tidak lagi berarti berperang secara fisik, tetapi lebih pada kesediaan untuk melayani masyarakat, peduli pada sesama, dan menjaga bumi pertiwi sebagai wujud cinta tanah air.

“Kemerdekaan akan kehilangan maknanya jika kita terjebak pada kepentingan pribadi dan enggan berkorban untuk kepentingan bersama,” tegasnya.

Lebih lanjut, Wahyudi menyampaikan bahwa HUT RI ke-80 harus menjadi alarm kesadaran bersama. Ia menjelaskan bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika setiap warga negara mampu menjadi pribadi yang bertanggung jawab, tidak hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga terhadap lingkungan.

Sayangnya, pembangunan selama ini seringkali mengorbankan kelestarian alam. Sungai-sungai tercemar dan udara tidak lagi sebersih dahulu. Ini menjadi ironi di tengah kebebasan yang kita nikmati. Lebih dari 60% sungai di Indonesia tercemar (KLHK, 2024) yang mayoritas pencemaran berasal dari limbah domestik dan industri. Tak hanya itu, dalam survei LIPI (2023) menunjukkan hanya 43% responden yang secara rutin terlibat dalam kegiatan sosial atau gotong royong di lingkungannya.

Oleh karena itu, peringatan HUT RI ke-80 harus menjadi momentum untuk menumbuhkan kembali kesadaran merawat semesta. Bumi pertiwi bukanlah warisan yang dapat dihabiskan, melainkan amanah bersama yang wajib dijaga dan diwariskan dalam keadaan baik kepada anak cucu.

Wahyudi yang juga Ketua Tanfidziyah Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kedungsumur, Kecamatan Krembung tersebut, menegaskan bahwa nilai-nilai kemerdekaan sangat relevan dengan kiprah NU yang secara konsisten merawat semesta dan peduli sesama melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat.

Seperti Gerakan NU Berdaya Kedungsumur Sejahtera misalnya, menjadi representasi nyata dari bagaimana semangat keberanian dan keikhlasan diwujudkan dalam konteks kekinian melalui gerakan sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Dalam konteks ini, gerakan NU Berdaya Kedungsumur Sejahtera yang ia terapkan di tengah masyarakat menjadi contoh konkret bagaimana semangat kemerdekaan diterjemahkan dalam tindakan nyata.

Gerakan ini tidak hanya menekankan aspek keagamaan, sosial, dan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan dan memperkuat persatuan sosial. Menjaga lahan pertanian, mengelola sampah secara kolektif, serta melestarikan sumber daya alam desa merupakan bagian dari upaya merawat semesta.

Ia mengatakan bahwa peringatan HUT RI ke-80 bukan hanya perayaan tahunan, tetapi juga panggilan untuk terus peduli terhadap sesama dan menjaga alam yang telah memberi kehidupan.

“Mari jadikan peringatan kemerdekaan ini sebagai kesempatan untuk bertanya: apakah kita sudah menjadi bagian dari solusi, atau justru bagian dari masalah? Dirgahayu Republik Indonesia. Semoga negeri ini semakin lestari dan masyarakatnya semakin sejahtera,” pungkasnya. (MY)

Upacara 17 Agustus 2024 oleh Sivitas Akademika Unusida pada HUT RI Ke-79 (Foto: Humas Unusida)

HUT RI ke-79, Momentum Meneladani Semangat Juang Para Pahlawan

Bulan Agustus menjadi momentum bersejarah bagi bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Kemerdekaan Indonesia tidak diperoleh dengan mudah, terdapat semangat juang para pahlawan dalam melawan para penjajah. Semangat juang tersebut yang harus dijaga dan menjadi teladan bagi generasi-generasi selanjutnya.

Hal tersebut yang juga disikapi oleh sivitas akademika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) yang menggelar berbagai kegiatan bendera dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) ke-79 Tahun, dimulai dari upacara bendera yang dilaksanakan di halaman utama Kampus 2 Unusida, Sabtu (17/08/2024).

Upacara tersebut diikuti oleh seluruh sivitas akademika Unusida, mulai dari dosen, tenaga kependidikan (tendik), serta mahasiswa. Dalam kesempatan tersebut, yang bertindak sebagai inspektur upacara, Wakil Rektor 3 Unusida H Ali Masykuri.

Ia berpesan agar momentum kemerdekaan digunakan untuk meneladani semangat juang para pahlawan. Baik ketika merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI pada zamannya.

“Bangsa Indonesia merdeka dicapai dengan perjuangan yang luar biasa. Oleh karena itu, mari kita tanamkan pada diri kita bahwa segala sesuatu harus dicapai dengan perjuangan,” tegasnya saat menyampaikan amanat upacara.

Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo tersebut menyampaikan, sebagai akademisi NU harus senantiasa berjuang untuk membesarkan instansi dan jamiyah NU sendiri. Dosen dapat mengarahkan dan membimbing mahasiswa untuk menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tendik bekerja sesuai dengan bidang keahliannya, serta mahasiswa dapat belajar melalui pembelajaran di bangku kuliah serta mengembangkan skill yang dimiliki dengan mengikuti kegiatan organisasi di kampus maupun di masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa peringatan kemerdekaan kali ini menjadi sarana untuk menguatkan sikap nasionalis dan cinta tanah air generasi yang akan memajukan bangsa nantinya. Akademisi NU harus mengambil peran dalam memupuk sikap nasionalisme di tengah masyarakat.

“Saat ini kita sudah merdeka, akan tetapi tidak boleh terlena. Masih banyak peluang dan potensi yang harus dimanfaatkan serta dikelola dengan baik untuk kemaslahatan bersama,” jelasnya.

Selain itu, sivitas akademika juga menggelar berbagai lomba, di antaranya lomba memasukkan paku ke dalam botol, lomba makan kerupuk, lomba estafet kardus serta lomba tenis meja. Lomba tersebut diikuti oleh dosen dan tendik Unusida dalam rangka memeriahkan HUT RI ke 79 tahun.

 

(my)