Pos

HIMA Manajemen UNUSIDA Gelar Acara Forum Tinjau Proposal P2MW 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

HIMA Manajemen UNUSIDA Gelar Forum Tinjau Proposal P2MW 2026, Dorong Inovasi Mahasiswa di Bidang Wirausaha

SIDOARJO — Himpunan Mahasiswa Progra, Studi (Himaprodi) Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menyelenggarakan Forum Tinjau Proposal sebagai persiapan mengikuti Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026. Kegiatan ini berlangsung secara offline di Auditorium Lantai 5 Kampus II Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo, Jum’at (13/03/2026).

Dengan mengusung tema ‘Student Innovation for Social and Economics Transformation’, kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa UNUSIDA yang telah terbagi dalam beberapa kelompok usaha. Forum ini bertujuan untuk memberikan pendampingan serta evaluasi terhadap proposal bisnis yang akan diajukan dalam Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026.

Ketua HIMA Manajemen UNUSIDA menyampaikan bahwa forum ini tidak hanya bertujuan membantu mahasiswa dalam penyusunan proposal, tetapi juga membangun kesiapan mental dan konseptual mereka sebelum mengikuti kompetisi kewirausahaan tingkat nasional.

Melalui kegiatan Forum Tinjau Proposal ini, pihaknya berharap mahasiswa dapat mempersiapkan proposal secara lebih matang sekaligus meningkatkan kesiapan mereka dalam mengikuti program P2MW.

“Program PM2W ini tidak hanya memberikan dukungan pendanaan bagi usaha mahasiswa, tetapi juga menjadi sarana untuk mengasah kreativitas, memperkuat kerja sama tim, serta meningkatkan pengalaman mahasiswa dalam dunia kewirausahaan,” jelasnya.

Dalam sesi pemaparan materi, Jeziano Rizkita Boyas menjelaskan bahwa P2MW merupakan program yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan ide bisnis serta merintis usaha sejak di bangku kuliah.

Menurutnya, melalui program ini mahasiswa didorong untuk menjadi lebih kreatif, inovatif, dan berani memulai usaha. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan sebagai pencari kerja setelah lulus, tetapi juga mampu menjadi pencipta lapangan pekerjaan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Lulusan perguruan tinggi tidak hanya dipersiapkan sebagai pencari kerja, tetapi juga mampu menjadi pencipta lapangan pekerjaan yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, pemateri kedua, Latifah Irsyadiah, menjelaskan bahwa keberhasilan dalam mengikuti program P2MW dimulai dari pembentukan tim yang solid. Setiap tim harus memiliki pembagian peran yang jelas, mulai dari ketua tim, bagian keuangan, produksi, hingga pemasaran, serta didukung dengan komitmen dan kerja sama yang baik antaranggota.

Ia juga menekankan pentingnya menentukan ide usaha yang inovatif, menarik, memiliki nilai jual tinggi, serta memiliki keunikan yang dapat membedakan produk dari kompetitor dan berpotensi berkembang dalam jangka panjang. Dalam proses penyusunan proposal, mahasiswa juga perlu memperhatikan kesesuaian dengan panduan yang berlaku, berbasis data pasar, serta melibatkan dosen pendamping agar proposal lebih terarah.

“Sebuah produk harus memiliki keunikan yang mampu membedakannya dari kompetitor, sekaligus memiliki peluang untuk berkembang secara berkelanjutan dalam jangka panjang,” terangnya.

Setelah proposal disusun, tim akan melalui berbagai tahapan mulai dari pengumpulan proposal, proses seleksi, pengunggahan ke sistem, hingga menunggu hasil pendanaan. Apabila dinyatakan lolos, tim akan memperoleh dana untuk menjalankan usaha, melakukan pencatatan penggunaan dana secara tertib, serta menyusun laporan perkembangan dan laporan akhir.

Pada tahap selanjutnya, tim juga berkesempatan mempresentasikan perkembangan produknya serta mengikuti kegiatan nasional seperti KMI Expo.

Workshop Digital Marketing Batch 4 UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Workshop Digital Marketing Batch 4, Bekali Mahasiswa UNUSIDA Strategi Bisnis Digital Berbasis AI

SIDOARJOUniversitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo kembali menyelenggarakan Workshop Digital Marketing Batch 4 pada Rabu (11/2/2026) di Hall kampus UNUSIDA, Sidoarjo. Kegiatan ini diikuti mahasiswa dari berbagai program studi yang antusias mempelajari strategi pemasaran digital terkini untuk menunjang kesiapan di dunia kerja maupun wirausaha.

Workshop menghadirkan narasumber Fidi Handoko, seorang konsultan bisnis yang juga aktif sebagai praktisi di bidang pemasaran digital. Dalam pemaparannya, ia membahas tema seputar pembuatan konten otomatis, strategi mendapatkan cuan melalui affiliate marketing, hingga pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam platform e-commerce seperti Shopee.

Menurut Fidi, perkembangan teknologi digital membuka peluang besar bagi generasi muda untuk menciptakan sumber pendapatan baru tanpa harus memiliki modal besar.

“Sekarang siapa pun bisa memulai bisnis digital, kuncinya adalah konsisten membuat konten, memahami pasar, dan memanfaatkan teknologi AI untuk mempercepat proses kerja,” ujarnya di hadapan peserta.

Ketua Himma Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Sidoarjo tersebut menekankan bahwa mahasiswa harus mampu memanfaatkan peluang teknologi sebagai sarana membangun usaha mandiri sekaligus meningkatkan daya saing. Menurutnya, era digital membuka kesempatan luas bagi generasi muda untuk berinovasi tanpa harus terbatas pada modal besar, selama memiliki kreativitas dan kemauan belajar yang tinggi.

Ia juga berharap kegiatan seperti ini mampu mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi soft skills, kreativitas, serta jiwa kewirausahaan di era digital. Selain itu, kegiatan tersebut dinilai sebagai bentuk komitmen kampus dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan industri masa depan.

“Mahasiswa hari ini adalah calon pemimpin ekonomi masa depan. Mereka harus berani mencoba, berinovasi, dan memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk berkembang,” ujarnya.

Salah satu peserta mengaku kegiatan ini memberikan wawasan baru mengenai peluang bisnis digital. Ia merasa termotivasi untuk mencoba mengembangkan konten kreatif sekaligus belajar membangun personal branding di media sosial.

Suasana workshop berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga mendapatkan contoh praktik langsung terkait strategi pemasaran digital yang efektif dan relevan dengan tren saat ini.

Flyer Ucapan Mahasiswa UNUSIDA Raih Juara 3 International Business Plan Competition di Universitas Khairun Maluku (Foto: Istimewa)

Mahasiswa UNUSIDA Raih Juara 3 International Business Plan Competition, Usung Inovasi Cheese Moringa Biscuits Dukung Program MBG

SIDOARJO Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Tim mahasiswa lintas prodi berhasil meraih Juara 3 International Business Plan Competition 2025 yang diselenggarakan oleh Universitas Khairun Maluku.

Tim ini beranggotakan tiga mahasiswa dari program studi berbeda, yaitu Ketua Tim Lailatul Ma’rifah (Manajemen 2024), Syifa Aristawati (Akuntansi 2024), Aulia Hilda Bilqis Maruapey (Pendidikan Bahasa Inggris 2024) dengan Dosen Pembimbing: Jeziano Riskita Boyas, S.E., M.M., CH.

Dalam kompetisi tingkat internasional ini, tim UNUSIDA mengusung inovasi produk bertajuk ‘Cheese Moringa Biscuits: A Healthy Snack Innovation for Supporting MBG’. Produk camilan sehat ini dirancang sebagai solusi inovatif untuk mendukung program MBG (Makan Bergizi) pemerintah, terutama dalam upaya mengurangi angka stunting di Indonesia.

Ketua tim, Lailatul Ma’rifah mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian ini. Menurutnya, prestasi ini menjadi bukti komitmen tim dalam memperbaiki kualitas ide bisnis sekaligus meningkatkan kemampuan berkompetisi di tingkat internasional.

“Alhamdulillah, pastinya sangat senang. Ini tahun kedua UNUSIDA mengikuti kompetisi ini. Tahun lalu kami meraih juara 5, dan tahun ini bisa meningkat menjadi juara 3. Ada peningkatan, dan itu sangat membahagiakan bagi kami,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Kamis (4/11/2025).

Laila mengatakan, meski berasal dari prodi yang berbeda dan memiliki jadwal yang tidak selalu sejalan, tim ini tetap solid.

“Tantangan terbesar adalah waktu. Kami jarang bisa bertemu langsung, jadi koordinasi banyak dilakukan lewat grup WhatsApp. Tapi komunikasi tetap terjaga dan semua tetap berkontribusi,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, gagasan biskuit daun kelor dan keju ini lahir dari kepekaan tim terhadap kondisi di lapangan, terutama terkait program MBG yang digagas pemerintah. Daun kelor dipilih karena kandungan nutrisinya yang kaya, seperti protein, vitamin, mineral, dan lemak sehat. Produk ini juga mendukung kebutuhan nutrisi anak serta membantu mengatasi malnutrisi.

“Banyak anak-anak yang kurang menyukai sayuran. Akhirnya sayur dari program MBG kadang terbuang. Kami membuat solusi agar nutrisi sayuran tetap bisa dikonsumsi melalui camilan yang mereka suka: biskuit berbahan kelor dan keju,” jelas Laila.

Ia menegaskan bahwa Cheese Moringa Biscuits memiliki kelebihan dibanding biskuit sehat lainnya, antara lain menggunakan daun kelor yang memiliki sumber nutrisi tinggi, pemakaian gula aren sebagai pemanis alami, bukan gula pasir. Kemudian kandungan dalam Gluten-free yang menggunakan tepung jagung, sehingga aman untuk lansia dan pelaku diet, serta rasa tetap enak, gurih, dan manis, meski berbahan kelor.

Laila menerangkan bahwa saat ini produk masih dalam tahap rencana bisnis, namun tim sudah membuat prototipenya meski uji pasar belum dilakukan. Terkait strategi bisnis, tim telah menyiapkan konsep pemasaran hybrid.

“Online lewat marketplace seperti Shopee, Lazada, dan Tokopedia. Offline lewat kantin sekolah, posyandu anak, hingga peluang masuk ke program MBG,” terang Syifa.

Meski belum merencanakan inkubasi atau kolaborasi UMKM, Laila dan tim berharap ke depan produk ini dapat dikembangkan lebih serius. Ia yakin produk ini bisa memberi manfaat luas. Sebab, Branding produk akan menonjolkan nilai utama, yaitu camilan sehat pengganti sayuran yang enak dan bergizi.

“Karena bahan-bahannya sehat, bukan hanya anak-anak, tapi juga orang tua lanjut usia bisa mengonsumsinya. Kandungan vitamin A, kalsium, protein, dan lemak baik sangat bermanfaat untuk otak dan jantung,” tandasnya.

Sementara itu, Dosen pembimbing, Jeziano Riskita Boyas, S.E., M.M., CH., mengapresiasi kerja keras mahasiswa dan menegaskan bahwa inovasi ini relevan dengan isu kekinian. Ia memandang pentingnya mahasiswa mengikuti tren dan fenomena aktual, seperti program MBG.

“Inovasi ini muncul dari fenomena nyata. Banyak anak tidak suka sayur, sehingga nutrisi perlu diolah ke bentuk yang lebih disukai. Itulah yang mereka lakukan,” katanya.

Jeziano juga berpesan kepada mahasiswa UNUSIDA untuk berani mencoba. Ia mengingatkan pentingnya menghormati orang tua dan menjaga niat baik dalam berkarya.

“Jangan takut melakukan hal baru. Gagasan tidak akan menjadi apa-apa jika hanya disimpan dalam pikiran. Cobalah, bahkan kalau gagal sekali pun, kalian tetap selangkah lebih maju daripada yang tidak pernah mencoba,” tuturnya.

Ke depan, hasil inovasi ini rencananya akan diikutsertakan dalam PKM maupun P2MW, serta berbagai ajang kompetisi kewirausahaan lainnya. Pihaknya berkomitmen untuk terus mendorong munculnya generasi muda kreatif yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, salah satunya melalui inovasi pangan sehat seperti Cheese Moringa Biscuits.

“Prestasi ini sekaligus menegaskan bahwa mahasiswa UNUSIDA mampu bersaing di tingkat internasional dengan inovasi yang solutif dan relevan. Selamat kepada Tim Cheese Moringa Biscuits, Semoga prestasi ini menjadi langkah awal lahirnya produk sehat yang bermanfaat bagi bangsa dan menginspirasi mahasiswa UNUSIDA lainnya,” pungkasnya.

PGMI UNUSIDA Gelar FGD Bersama Stakeholder, Penguatan Kompetensi Lulusan dan Sinkronisasi Kebutuhan Dunia Kerja 1

PGMI UNUSIDA Gelar FGD Bersama Stakeholder, Penguatan Kompetensi Lulusan dan Sinkronisasi Kebutuhan Dunia Kerja

SIDOARJO — Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Kurikulum pada Jumat (21/11/2025). Kegiatan yang digelar di Hall Lantai 5 Gedung A Kampus 2 UNUSIDA ini melibatkan berbagai stakeholder strategis bidang pendidikan dasar Islam.

Mengusung tema ‘Penguatan Kompetensi Lulusan dan Sinkronisasi Kebutuhan Dunia Kerja’, FGD ini menjadi langkah penting bagi Prodi PGMI dalam memastikan kurikulum yang diterapkan mampu menjawab tantangan perkembangan pendidikan, sekaligus memenuhi standar kompetensi yang dibutuhkan sekolah/madrasah sebagai pengguna lulusan.

Dalam kesempatan tersebut, Dekan Fakultas Agama Islam UNUSIDA, Feri Kuswanto, M. Pd.I., mengatakan, kegiatan FGD ini merupakan bentuk komitmen fakultas dalam memastikan kurikulum dan proses pembelajaran tetap relevan dengan perkembangan pendidikan dasar serta kebutuhan sekolah dan madrasah.

“Kami di FAI UNUSIDA meyakini bahwa perguruan tinggi tidak boleh berjalan sendiri dalam menyiapkan calon guru. Dunia kerja, terutama madrasah dan satuan pendidikan dasar, terus mengalami perkembangan yang sangat cepat. Guru masa kini tidak cukup hanya menguasai pedagogik, tetapi juga harus adaptif, kreatif, dan mampu menjawab tantangan era digital,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa FGD ini menjadi wadah strategis untuk menyerap masukan langsung dari para pengguna lulusan agar Prodi PGMI dapat terus memperkuat kualitas akademik dan profesionalisme calon guru madrasah ibtidaiyah. “Kami ingin memastikan bahwa lulusan PGMI UNUSIDA benar-benar siap mengajar, siap berkarya, dan siap memimpin perubahan positif di sekolah tempat mereka mengabdi,” tandasnya.

Sementara itu, Kaprodi PGMI UNUSIDA, Moh. Anang Abidin, S.H.I., M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud komitmen prodi untuk terus berinovasi serta melibatkan mitra eksternal dalam penyusunan kurikulum yang relevan dan adaptif. Pihaknya mengaku selalu menekankan membangun hubungan kolaboratif dan berkelanjutan dengan sekolah/madrasah mitra, lembaga pendidikan, serta para pengguna lulusan. Kolaborasi ini dipandang penting untuk meningkatkan mutu lulusan agar unggul, kompeten, dan berdaya saing.

“PGMI harus mampu menjawab perubahan zaman. Kurikulum tidak boleh statis, tetapi harus berkembang sesuai kebutuhan lapangan,” tegasnya.

Ia menjelaskan secara mendalam visi, misi, serta capaian pembelajaran lulusan (CPL) yang saat ini telah diimplementasikan di PGMI, termasuk rencana pengembangan kompetensi pedagogik, digital, karakter, dan ke-NU-an yang menjadi ciri khas lulusan.

Menurutnya, kegiatan menjadi upaya memperkuat profil lulusan, menyelaraskan kurikulum dengan tuntutan dunia kerja, serta membangun kemitraan berkelanjutan dengan lembaga pendidikan dan instansi terkait. Dengan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari madrasah, kementerian, organisasi pendidikan, hingga alumni diharapkan dapat memberikan masukan komprehensif terhadap arah pengembangan Prodi PGMI UNUSIDA.

“Melalui kegiatan FGD ini, kami berharap dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya cakap dalam kompetensi pedagogik dan profesional, namun juga memiliki karakter kuat, integritas, kemampuan adaptif, serta kepekaan terhadap tantangan pendidikan abad 21,” ungkapnya.

Pelaksanaan FGD dipandu oleh Dr. Wachyudi Achmad, S.Th.I., M.Pd.I., selaku Ketua Tim, didampingi Ibu Rofiqoh Nirwana, S.Pd.I., M.Pd.I. sebagai Sekretaris. Tim penyusun kurikulum juga diperkuat oleh para anggota, yakni:

  • Risalul Ummah, S.Pd., M.Pd. (Dosen PGMI),

  • Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I. (Dekan Fakultas Agama Islam),

  • H. Aris Kuswanto, S.T., M.Pd.I. (Dosen PGMI),

  • Mohammad Setyo Wardono, S.Pd., M.Pd. (Sekretaris Pengembangan Pembelajaran),

  • Yuni Pratiwi, S.Pd. (Alumni PGMI).

Kegiatan ini turut menghadirkan pemangku kepentingan pendidikan yang memiliki peran strategis dalam penyelarasan kurikulum, antara lain:

  • Dr. Niswatin, S.Pd., M.Pd. (Perwakilan LPTNU Sidoarjo),

  • M. Saifulloh Asyari, S.Si., M.Pd.I. (Ketua LP Ma’arif NU Sidoarjo),

  • Drs. H. Abdul Muis, MM. (Pengawas Madrasah Kemenag Sidoarjo),

  • Hj. Anis Faridah, M.Pd. (Kepala MINU KH. Mukmin Sidoarjo),

  • Nur Cholisah, M.Pd. (Kepala MI Ma’arif Pagerwojo),

  • Habib Zakariyah, S.Sos. (Kepala MI Al Falah).

Dalam sesi diskusi berjalan dinamis dengan berbagai masukan konstruktif dari peserta. Para stakeholder memberikan pandangan, kritik konstruktif, serta masukan penting terkait penguatan kompetensi lulusan, mulai dari kurikulum berbasis kompetensi, soft skills, kesiapan digital, kemampuan pedagogik, hingga karakter profesional guru MI yang ideal.

Berbagai masukan ini menjadi bahan sangat penting bagi Prodi PGMI untuk memperkuat kurikulum dan memperbaiki proses pembelajaran yang lebih kontekstual. Yang nantinya akan menjadi dasar penyempurnaan kurikulum PGMI agar semakin selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan dinamika pendidikan madrasah ibtidaiyah.

Penulis: Nuzula Firdausi (MY)

Pelatihan “Berbisnis Modal Nol: From Zero to Hero” di UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa UNUSIDA Dibekali Pelatihan “Berbisnis Modal Nol: From Zero to Hero”

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang kreatif dan mandiri melalui kegiatan Pelatihan “Berbisnis Modal Nol: From Zero to Hero”. Kegiatan ini diselenggarakan di Kampus 2 UNUSIDA, lantai 5, selama 4 hari mulai dari Sabtu–Ahad (1-2/11/2025) sampai Sabtu-Ahad (8-9/11/2025).

Pelatihan yang berlangsung selama empat kali pertemuan ini diikuti oleh puluhan mahasiswa dari berbagai fakultas. Tujuan utama kegiatan ini adalah menumbuhkan semangat kewirausahaan dan membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis untuk membangun usaha dari nol tanpa bergantung pada modal besar.

Sebagai narasumber utama, panitia menghadirkan Sugiarso, seorang praktisi bisnis dan motivator kewirausahaan yang berpengalaman dalam membangun berbagai usaha dari titik awal. Dalam penyampaiannya, Sugiarso menekankan pentingnya mindset entrepreneur yang kuat, keberanian mengambil risiko, dan kemampuan melihat peluang di sekitar.

“Bisnis bukan hanya tentang modal uang, tapi tentang ide, keberanian, dan kemauan untuk terus belajar. Siapa pun bisa menjadi pengusaha asal mau memulai,” ujarnya.

Pada pertemuan pertama, mahasiswa diperkenalkan pada konsep dasar berbisnis dengan modal nol serta pentingnya berpikir kreatif. Sesi berikutnya berfokus pada strategi riset pasar dan inovasi produk, termasuk pemanfaatan platform digital sebagai sarana promosi yang efektif dan hemat biaya.

Pertemuan ketiga membahas pengelolaan keuangan usaha kecil dan strategi branding. Sugiarso menekankan pentingnya pencatatan keuangan yang tertib, perencanaan yang efisien, serta membangun citra usaha yang profesional di mata konsumen.

Pada sesi terakhir, peserta diminta menyusun rencana bisnis sederhana berdasarkan ide yang mereka gagas selama pelatihan. Beberapa kelompok mempresentasikan ide bisnis mereka dan mendapat apresiasi serta masukan langsung dari narasumber.

Selain berbagi teori, Sugiarso juga menceritakan perjalanan pribadinya dalam membangun usaha dari nol hingga berhasil, yang memberikan motivasi kuat bagi peserta. Cerita-cerita inspiratif tersebut menumbuhkan keyakinan bahwa kesuksesan bukanlah hasil instan, melainkan buah dari ketekunan, kreativitas, dan keberanian untuk mencoba.

Kepala Bagian (Kabag) Kemahasiswaan sekaligus Dosen UNUSIDA, Machfudzil Asror, mengungkapkan harapannya agar kegiatan ini dapat menjadi pemantik semangat wirausaha di kalangan mahasiswa. Melalui pelatihan ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan ilmu dan keterampilan baru, tetapi juga membangun jejaring sosial dan pengalaman berharga yang menjadi bekal menuju masa depan yang lebih mandiri dan produktif.

“Kami berharap pelatihan ini melahirkan generasi muda yang berjiwa entrepreneur, kreatif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan dunia usaha. UNUSIDA yang membawa semangat kampus wirausaha muda berkomitmen tidak hanya mencetak sarjana cerdas secara akademik, tetapi juga mandiri secara ekonomi,” harapnya.

Penulis: Feni Dwi Agustin (MY)

Flyer 3 Tim Mahasiswa Unusida Lolos Pendanaan P2MW 2025 (Foto: Humas Unusida)

Tiga Tim Mahasiswa UNUSIDA Lolos Pendanaan P2MW 2025: Inovasi Wirausaha Sosial dan Kreatif Berbasis Kearifan Lokal

Sidoarjo – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menorehkan prestasi gemilang dalam dunia kewirausahaan mahasiswa. Tiga tim dari UNUSIDA berhasil lolos dan mendapatkan pendanaan dalam ajang bergengsi Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2025, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

Ketiga tim tersebut berasal dari dua program studi, yaitu: Dua tim dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Satu tim dari Program Studi Manajemen. Tim pertama bersama dosen pembimbing, Mohammad Setyo Wardono, S.Pd., M.Pd, yang diketuai oleh Bahtiar Fuadi, mengusung judul ‘Local Wisdom Academy: Bimbingan Belajar Kreatif untuk Anak Marjinal’.

Sedangan tim kedua bersama dosen pembimbing Fajar Nur Yasin, S.Pd., M.Pd, yang diketuai oleh Ahmad Rofiun Nizar, mengusung judul ‘EcoCraft by Craft House Inovasi Kerajinan Estetik dan Fungsional Berbasis Limbah Kertas Nasi Stik dan Sendok Menuju Ekonomi Kreatif Berkelanjutan’, dan tim ketiga bersama dosen pembimbing Jeziano Rizkita Boyas, S.E., M.M, yang diketuai oleh Ahmad Bakhrul Ulum dengan mengusung judul ‘Ahmad Cathouse Solusi Breeding Kucing Ras Berkualitas Bebas Bau dan Ideal untuk Keluarga’.

Rektor UNUSIDA, Dr. H. Fatkul Anam, M.Si, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas capaian ini. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UNUSIDA tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki semangat inovasi, jiwa sosial, dan potensi wirausaha yang kuat, terutama dalam menciptakan solusi atas berbagai persoalan di masyarakat.

“P2MW adalah ajang yang tidak hanya melatih kemampuan berwirausaha mahasiswa, tetapi juga melatih kepekaan sosial, daya inovasi, dan keberanian mengambil peran di tengah masyarakat. Kami bangga, mahasiswa UNUSIDA mampu bersaing di tingkat nasional dan menunjukkan bahwa mereka siap membawa perubahan,” ungkapnya.

Salah satu ketua tim, Bahtiar Fuadi menjelaskan, ia dan tim mengusung konsep wirausaha sosial berbasis pendidikan yang mengintegrasikan kearifan lokal sebagai pendekatan pembelajaran alternatif dan inklusif. Program ini ditujukan secara khusus kepada anak-anak marjinal yang selama ini kerap terpinggirkan dalam sistem pendidikan formal.

Program ini fokus pada pelestarian budaya lokal melalui metode bimbingan belajar yang ramah anak dan inklusif, ditujukan bagi anak-anak dari kelompok marjinal. Dengan pendekatan berbasis kearifan lokal, tim ini berusaha memberikan akses pendidikan berkualitas dengan biaya terjangkau sambil menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.

Local Wisdom Academy lahir dari keprihatinan terhadap hilangnya nilai-nilai kearifan lokal di kalangan anak-anak, terutama di era modern yang didominasi oleh gadget dan teknologi. Anak-anak sekarang lebih mengenal game online daripada permainan tradisional atau budaya lokal. Kami ingin menghidupkan kembali warisan budaya tersebut sambil memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak yang kurang beruntung,” jelasnya, Rabu (30/7/2025).

Program ini tidak hanya menyediakan bimbingan akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai budaya lokal melalui metode kreatif, seperti permainan tradisional, eksplorasi lingkungan, dan diskusi kelompok. Pendekatan ini diharapkan mampu membentuk karakter sekaligus memperkuat identitas budaya peserta didik.

Dalam pelaksanaannya, Local Wisdom Academy dirancang agar bisa berkelanjutan melalui beberapa strategi kewirausahaan, seperti membuka kelas berbayar untuk siswa umum (subsidi silang), menjual modul pembelajaran berbasis kearifan lokal, hingga menjalin kerja sama dengan lembaga CSR dan pemerintah daerah.

Secara sosial, inisiatif ini ingin menghapus stigma diskriminatif terhadap anak-anak marjinal. “Kami percaya bahwa semua anak berhak atas pendidikan yang setara, meskipun di luar sistem formal. Maka dari itu, kami hadir dengan biaya yang sangat terjangkau dan pendekatan yang ramah terhadap realitas mereka,” tambahnya.

Tim Local Wisdom Academy menyadari tantangan besar dalam menjalankan program ini, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, rendahnya minat anak terhadap budaya lokal, hingga kesulitan dalam merancang modul yang relevan dengan kurikulum. Namun, tim ini sudah menyusun timeline kegiatan secara rinci, sistem monitoring dan evaluasi berkala, serta menjalin komunikasi intensif antaranggota untuk memastikan keberhasilan program.

Sebagai bentuk dukungan terhadap mahasiswa wirausaha sosial, tim ini juga menyampaikan harapan kepada UNUSIDA agar semakin memperkuat kemitraan dengan komunitas lokal, UMKM, dan sektor swasta. Selain itu, dukungan pembiayaan juga menjadi aspek penting agar mahasiswa dapat terus mengembangkan inovasi sosial.

“Kami berharap UNUSIDA bisa menjadi jembatan yang menghubungkan mahasiswa dengan akses pendanaan, CSR, dan lembaga sosial yang relevan. Karena wirausaha sosial seperti kami juga membutuhkan keberpihakan dan dorongan konkret dari institusi,” pungkasnya. (MY)