Pos

Suasana simulasi praktikum ergonomi di Laboratorium Teknik Industri UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

KILAB 2026, UNUSIDA Hadirkan Inovasi Smart Anthropometric Ergonomic Chair untuk Perkuat Praktikum Teknik Industri

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui Program Studi Teknik Industri mengembangkan Smart Anthropometric Ergonomic Chair sebagai karya inovasi dalam Program Kompetisi Inovasi Laboratorium (KILAB) 2026. Inovasi tersebut dirancang untuk memperkuat sarana pembelajaran praktikum ergonomi sekaligus mendukung mahasiswa memahami proses perancangan dan pengembangan produk berbasis data.

Dosen pengampu mata kuliah Ergonomi Program Studi Teknik Industri, Alifah Dian Rahmania, S.T., M.T., menyampaikan bahwa Program KILAB 2026 menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di lingkungan perguruan tinggi.

“Sebagai dosen pengampu mata kuliah Ergonomi di Program Studi Teknik Industri, kami melihat Program KILAB 2026 sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya pada mata kuliah ergonomi serta perancangan dan pengembangan produk,” tuturnya.

Ia menjelaskan, inovasi Smart Anthropometric Ergonomic Chair dapat menjadi sarana pembelajaran untuk mengembangkan kompetensi mahasiswa secara lebih holistik, mulai dari analisis, desain, hingga evaluasi produk.

“Mahasiswa tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mampu melakukan praktik langsung berbasis data. Integrasi sensor jarak pada alat ini turut mempermudah proses pengambilan data antropometri secara lebih akurat dan efisien,” terangnya.

Ketua Tim KILAB 2026, Maschan Yusuf Mustofah, menjelaskan bahwa Smart Anthropometric Ergonomic Chair hadir dari kebutuhan untuk menghadirkan media pembelajaran ergonomi yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi dapat digunakan mahasiswa secara langsung dalam kegiatan praktikum.

Menurutnya, inovasi tersebut memadukan konsep antropometri, ergonomi, perancangan produk, dan teknologi sensor dalam satu media pembelajaran. Kursi dirancang dengan mempertimbangkan dimensi tubuh manusia sehingga mahasiswa dapat mempelajari penerapan prinsip ergonomi sekaligus memahami bagaimana data antropometri digunakan dalam proses perancangan produk.

Smart Anthropometric Ergonomic Chair kami kembangkan agar mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana konsep ergonomi diterapkan dalam sebuah produk. Jadi, pembelajaran tidak berhenti pada teori, tetapi mahasiswa dapat mengikuti proses mulai dari pengukuran, pengolahan data, perancangan, hingga pengujian produk,” kata Alumni Teknik Industri UNUSIDA tersebut, Kamis (3/9/2026).

Ia menambahkan, salah satu aspek yang menjadi nilai tambah inovasi tersebut adalah integrasi sensor jarak dan sistem sensor yang mendukung proses pengambilan data antropometri. Teknologi tersebut diharapkan dapat membuat proses praktikum lebih interaktif dan membantu mahasiswa mengenal penerapan teknologi dalam pengumpulan data ergonomi.

“Integrasi teknologi menjadi bagian penting dari inovasi ini. Mahasiswa tidak hanya belajar menggunakan alat, tetapi juga memahami bagaimana data dapat diperoleh dan dimanfaatkan sebagai dasar dalam merancang produk yang sesuai dengan kebutuhan pengguna,” tambahnya.

Melalui Program KILAB 2026, ia dan tim berharap tidak hanya menjadi fasilitas laboratorium, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem pembelajaran berbasis praktik dan teknologi di Program Studi Teknik Industri UNUSIDA.

“Bagi kami, pengembangan inovasi ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan laboratorium yang semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan pembelajaran Teknik Industri. Ke depan, inovasi tersebut dapat terus dikembangkan melalui optimalisasi sistem sensor dan akuisisi data, pengujian penggunaan dalam praktikum, serta pengembangan pemanfaatannya untuk kegiatan penelitian dan inovasi produk ergonomis,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu mahasiswa Teknik Industri, M. Wafi Musafak, mengaku senang dengan hadirnya inovasi tersebut karena memberikan pengalaman belajar ergonomi secara lebih langsung.

“Alhamdulillah, saya sangat senang sekali dengan adanya inovasi pembelajaran melalui Smart Anthropometric Ergonomic Chair ini, yang membantu mahasiswa memahami ergonomi secara langsung dan aplikatif,” ungkapnya.

Menurut Wafi, keberadaan sensor jarak juga memberikan kemudahan dalam proses pengambilan data antropometri saat praktikum. Ia menilai inovasi tersebut membuat pembelajaran menjadi lebih interaktif, kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan dunia industri.

“Alat ini juga mengintegrasikan sensor jarak yang mempermudah proses pengambilan data antropometri saat praktikum secara lebih cepat dan akurat. Dengan begitu, mahasiswa dapat belajar proses perancangan dan pengembangan produk mulai dari desain hingga uji coba,” pungkasnya.

Laboran UNUSIDA Gelar Diseminasi Internal KILAB 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

Diseminasi Internal KILAB 2025, Laboran UNUSIDA Paparkan Inovasi IPAL Portabel Berbasis Fotokatalis OCN/Hydrochar

SIDOARJO Laboran Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar kegiatan Diseminasi Internal terkait Hasil Karya Inovasi Laboran (KILAB) 2025 bertempat di Hall Lantai 5 UNUSIDA, Kamis (27/11/2025). Diseminasi kali ini menampilkan hasil riset inovatif dengan tema ‘IPAL Portabel dengan Pengolahan Tersier Fotokatalis OCN/Hydrochar untuk Pengolahan Limbah Cair Laboratorium’.

Kegiatan diseminasi ini merupakan bagian dari luaran Program KILAB 2025, sebuah program pendanaan inovasi nasional yang diselenggarakan oleh Direktorat Sumber Daya – Ditdaya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknolofi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia untuk mendorong kreativitas dan inovasi laboran di lingkungan perguruan tinggi.

Ketua Tim, Khilyatul Afkar, S.T., dalam pemaparannya menjelaskan bahwa limbah cair laboratorium perguruan tinggi umumnya mengandung berbagai senyawa berbahaya seperti organik, anorganik, logam berat, serta asam dan basa kuat. Meskipun volumenya relatif kecil, kurang dari 20 liter per hari. Jumlah ini tidak memenuhi syarat minimal untuk diangkut oleh pihak ketiga.

“Kondisi tersebut membuat limbah cair laboratorium sering menumpuk hingga mendekati batas simpan 365 hari. Selain menghambat operasional laboratorium, hal ini juga menimbulkan potensi pencemaran lingkungan dan risiko keselamatan yang serius,” jelasnya.

Melihat urgensi tersebut, tim KILAB UNUSIDA mengembangkan IPAL portabel berkapasitas ±10 liter per running yang mampu mengolah limbah secara mandiri dan memenuhi standar baku mutu.

Inovasi ini bertujuan untuk merancang dan membangun prototipe IPAL portabel, serta menguji efektivitasnya dalam meningkatkan kualitas limbah sebelum dialirkan ke badan air. Target luaran yang dicanangkan antara lain Prototipe IPAL Portabel, Diseminasi Internal UNUSIDA hingga Diseminasi Nasional melalui forum ilmiah dan publikasi.

Khilya menambahkan bahwa keberhasilan riset ini juga didukung oleh beberapa aspek pendukung seperti:

  • Fasilitas laboratorium di Teknik Industri dan Teknik Lingkungan yang digunakan untuk pembuatan IPAL dan pengujian kualitas air,

  • Pendampingan ketat dari dosen, mulai dari validasi desain hingga evaluasi efektivitas pengolahan,

  • Kontribusi terhadap pengembangan ilmu, di mana IPAL portabel akan menjadi media pembelajaran di mata kuliah Kimia Lingkungan, Ekotoksikologi, Unit Proses, dan Unit Operasi,

  • Dampak jangka panjang, yakni IPAL portabel sebagai model percontohan instalasi pengolahan limbah skala kecil bagi perguruan tinggi lainnya.

Tim laboran UNUSIDA memaparkan tahapan pengembangan IPAL portabel, mulai dari sintesis komposit OCN/Hydrochar, uji karakterisasi material, pembuatan unit IPAL, pengujian kualitas limbah cair laboratorium, serta penyusunan dokumentasi dan penyusunan bunga rampai.

Setelah program selesai, tim merencanakan beberapa langkah strategis jangka panjang dalam mengembangkan IPAL Portabel ini. Diantaranya dengan melakukan uji ketahanan komposit OCN/Hydrochar, nemanfaatkan IPAL sebagai media pembelajaran dan penelitian, mengoperasikan IPAL sebagai unit pengolahan limbah laboratorium UNUSIDA, memperluas pemanfaatan untuk skala lebih besar, menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada KILAB – Ditdaya Diktisaintek atas dukungan pendanaa, hingga mendorong keberlanjutan program KILAB sebagai wadah inspiratif bagi laboran Indonesia untuk terus berinovasi.

Inovasi ini mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak yang hadir, antara lain Kaprodi Teknik Lingkungan Muchammad Tamyiz, Ph.D., Kaprodi Teknik Industri Untung Usada, S.Si., M.T., Wakil Dekan Fakultas Teknik Zahrotul Azizah, S.T., M.T., Kepala Lembaga SDM, Jeziano Riskita Boyas, S.E., M.M., Kabiro Kemahasiswaan dan Alumni Fajar Nur Yasin, S.Pd., M.Pd. serta Staf LPPM UNUSIDA Tantri Risda Zubaida, S.Ak.

Dalam kesempatan tersebut, Fajar Nur Yasin menyampaikan apresiasinya terhadap kontribusi inovasi tersebut. Menurutnya, kegiatan diseminasi ini menegaskan komitmen UNUSIDA dalam mendorong budaya riset dan inovasi, khususnya bagi tenaga laboran sebagai garda terdepan pengelolaan keselamatan dan lingkungan laboratorium. Inovasi IPAL portabel ini diharapkan menjadi kontribusi nyata bagi pengelolaan limbah laboratorium di Indonesia.

“IPAL portabel ini sangat mendukung proses perkuliahan, terutama pada praktik pengolahan limbah laboratorium. Kami berharap alat ini tidak hanya digunakan sebagai riset, tetapi juga diajarkan kepada mahasiswa agar dapat dimanfaatkan dalam penelitian maupun pengembangan akademik. Semoga inovasi ini berkembang menjadi instalasi IPAL skala besar dan bahkan membuka peluang bisnis bagi institusi,” ungkapnya.

Laboran UNUSIDA Ciptakan Inovasi IPAL Portabel (Foto: Humas UNUSIDA)

Kolaborasi Laboran UNUSIDA Buat Inovasi IPAL Portabel Berbasis Fotokatalis OCN/Hydrochar

SIDOARJO — Kolaborasi Laboran Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menorehkan prestasi membanggakan setelah berhasil memperoleh pendanaan Karya Inovasi Ilmiah Laboran (KILAB) 2025, sebuah program bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Sumber Daya, Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Ditjen Dikti), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdikti Saintek). Pendanaan ini diberikan atas inovasi pengembangan IPAL Portabel dengan Pengolahan Tersier Fotokatalis OCN/Hydrochar, sebuah solusi terobosan untuk mengatasi persoalan limbah cair laboratorium skala kecil di perguruan tinggi.

Tim Laboran UNUSIDA kali ini diisi oleh Laboran kualitas lingkungan, Khilyatul Afkar, S.T., sebagai ketua tim, Mohammad Rif’an Humaidi, S.Ds., dan Maschan Yusuf Musthofa, S.T., sebagai anggota tim, serta Medya Ayunda Fitri, S.T., M.T., sebagai dosen pembimbing.

Latar Belakang: Limbah Laboratorium yang Kerap Terabaikan

Ketua tim, Khilyatul Afkar menjelaskan, inovasi ini berangkat dari limbah cair laboratorium perguruan tinggi seringkali menjadi persoalan tersendiri karena mengandung senyawa organik dan anorganik, logam berat, serta asam-basa kuat. Meski volumenya relatif kecil (kurang dari 20 liter per hari), jumlah tersebut tidak memenuhi batas minimal untuk diangkut oleh pihak ketiga sesuai regulasi.

Akibatnya, limbah kerap disimpan hingga mendekati batas 365 hari, yang berpotensi menimbulkan risiko keselamatan dan pencemaran lingkungan. Kondisi inilah yang mendorong perlunya inovasi IPAL portabel yang efektif, murah, aman, serta sesuai dengan standar lingkungan.

Oleh karena itu, melalui inovasi yang digagas laboran UNUSIDA ini akan memadukan berbagai proses pengolahan limbah, mulai dari sedimentasi, filtrasi, koagulasi–flokulasi, adsorpsi, hingga tahap lanjutan berupa fotodegradasi menggunakan fotokatalis OCN (g-C₃N₄ terdopping oksigen) yang dikompositkan dengan hydrochar dari tempurung kelapa.

Material fotokatalis ini mampu meningkatkan efektivitas degradasi polutan di bawah cahaya tampak, sehingga tidak membutuhkan sumber energi ultraviolet berintensitas tinggi. Pendekatan ini diyakini lebih ramah lingkungan sekaligus lebih efisien untuk laboratorium skala kecil.

“Inovasi ini menjadi solusi praktis bagi laboratorium untuk mengolah limbah cair secara mandiri, aman, dan sesuai standar,” ungkapnya.

Tujuan dan Metode Pelaksanaan

Proyek ini bertujuan merancang dan membangun prototipe IPAL portabel berkapasitas ±10 L per running, serta menguji efektivitasnya dalam memperbaiki kualitas limbah cair sebelum dialirkan ke badan air.

Metode pelaksanaan mencakup beberapa tahapan:

  1. Desain dan fabrikasi purwarupa IPAL portabel,

  2. Sintesis dan karakterisasi material fotokatalis OCN/Hydrochar,

  3. Integrasi proses ke dalam prototipe IPAL,

  4. Uji kinerja berdasarkan parameter pH, BOD, COD, TSS, TDS, serta kandungan logam berat seperti Hg dan Cr,

Pengujian dilakukan mengacu pada SNI serta baku mutu air limbah sesuai PERMENLH No. 5 Tahun 2014.

Dari kegiatan ini, beberapa luaran yang ditargetkan antara lain prototipe IPAL Portabel yang siap dioperasikan, material fotokatalis OCN/Hydrochar hasil sintesis, diseminasi inovasi di tingkat perguruan tinggi dan nasional, serta publikasi ilmiah dalam bentuk bunga rampai.

Menurutnya, keberhasilan memperoleh hibah KILAB 2025 ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi UNUSIDA, tetapi juga menegaskan kontribusi tenaga laboratorium dalam pengembangan teknologi tepat guna yang bermanfaat langsung bagi keselamatan dan keberlanjutan laboratorium pendidikan.

“Dengan terobosan ini, kami berharap dapat menjadi role model dalam manajemen limbah laboratorium ramah lingkungan sekaligus mendorong budaya inovasi di kalangan laboran dan PLP di seluruh Indonesia,” harapnya.

Khilyatul Afkar, Laboran Fakultas Teknik Unusida (Foto: Humas Unusida)

Laboran Fakultas Teknik Unusida Ciptakan Inovasi dalam Pengolahan Limbah Cair Laboratorium

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) memiliki Program Studi (Prodi) Teknik Lingkungan dan Teknik Kimia yang mana kedua Prodi tersebut dilengkapi dengan kegiatan praktikum untuk memahami konsep teoritis guna menunjang pembelajaran. Namun, praktikum juga berpotensi menghasilkan limbah cair yang dapat mencemari lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan jika tidak diolah dengan benar.

Hal tersebut yang disikapi oleh Laboran (Tenaga Kerja di Laboratorium) Fakultas Teknik (FT) Unusida, Khilyatul Afkar, S. T. Ia mencoba menciptakan pengolahan limbah cair laboratorium dengan menggunakan teknologi fotokatalis. Teknologi tersebut menggunakan cahaya tampak untuk menghasilkan radikal hidroksil yang dapat mendegradasi limbah cair.

Khilya bersama kepala Laboratorium Unusida, Muchammad Tamyiz yang juga sebagai pembimbing mencoba menciptakan solusi dari masalah sebagai konsekuensi dari aktivitas praktikum di laboratorium, yaitu dua limbah cair hasil dari aktivitas di laboratorium.

Di mana limbah cair tersebut mengandung berbagai senyawa berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia jika tidak diolah dengan baik dan benar. Limbah cair laboratorium mengandung senyawa organik maupun anorganik.

Menurutnya, limbah cair laboratorium yang dikumpulkan dalam kurun waktu yang lama akan mencemari lingkungan jika langsung dibuang ke lingkungan sehingga merusak struktur tanah, membahayakan kelangsungan hidup ekosistem air maupun darat, serta berdampak bagi kesehatan manusia. Berdasarkan hal tersebut, limbah cair laboratorium perlu diolah agar tidak mencemari lingkungan.

“Keunggulan teknologi ini adalah mineralisasi total terhadap polutan organik, proses yang cepat, tanpa racun, dan memiliki kemampuan penggunaan jangka panjang,” terangnya, Kamis (20/06/2024).

Melalui Inovasi pengolahan limbah tersebut, ia menjadi penerima Hibah Karya Inovasi Laboran (KILab) 2024 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek). Dalam penelitiannya, ia mengangkat topik Pengembangan Teknologi Fotokatalis dengan judul ‘Sintesis Komposit Karbon Nitrida Grafit (g-C3N4) dan Hydrochar Tempurung Kelapa Sebagai Fotokatalis untuk Mendegradasi Limbah Cair Sisa Praktikum di Laboratorium Kualitas Lingkungan’.

Alumni Teknik Lingkungan Unusida tersebut menjelaskan, teknologi fotokatalis memanfaatkan cahaya menjadi energi kimia yang dapat menghasilkan radikal hidroksil dan akan bereaksi redoks terhadap senyawa polutan, sehingga dapat meningkatkan kualitas air karena telah terdegradasi.

Bahan fotokatalis yang digunakan adalah g-C3N4 yang disintesis dari urea, sedangkan Hydrochar disintesis dari limbah tempurung kelapa yang akan dilakukan pengujian menggunakan FTIR, XRD, dan SEM untuk mengidentifikasi senyawa organik, analisis struktur kristal, dan struktur morfologi komposit tersebut.

“Jadi, saya mencoba untuk mengurangi polutan yang terkandung di dalam limbah cair dari hasil penelitian mahasiswa yang menumpuk dengan berfokus pada penggabungan metode adsorpsi dan fotodegradasi menggunakan g-C3N4 dan Hydrochar untuk memaksimalkan degradasi limbah cair laboratorium,” terangnya.

Khilya menjelaskan, selain bahan seperti urea dan tempurung mudah didapat karena jumlahnya melimpah di alam, alasannya melakukan penelitian dengan sintesis ini karena dapat menghasilkan kuantum yang sangat tinggi di bawah cahaya tampak (LED Blue), besarnya lebih tinggi dari hasil sebelumnya untuk evolusi hidrogen dengan g-C3N4.

Dengan begitu, limbah cair laboratorium yang semula mengandung kadar polutan (sesuatu yang mencemari tanah dan air di dalam tanah) yang tinggi dapat dinetralisir untuk mencegah pencemaran lingkungan.

“Melalui proses ini dapat mengurangi kadar BOD, COD, TSS, TDS, Logam, Pb dan Cd sebesar 40% kadar polutan pada limbah,” jelasnya.

Lebih lanjut, Khilya menyebutkan bahwa penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan material yang dapat digunakan di masa depan. Seperti dengan mengembangkan material komposit aktif agar lebih kuat untuk mendegradasi kadar polutan dalam limbah hingga mencapai kadar aman.

Ia bertekad untuk menyelesaikan penelitian ini dengan sebaik-baiknya. Sebab, melalui inovasi pengolahan limbah cair laboratorium ini juga dapat mengurangi biaya dalam melakukan penampungan.

“Rencana jangka pendek selanjutnya adalah menyelesaikan penelitian ini dengan maksimal. Sudah seharusnya limbah yang bersifat toxic atau beracun lebih baik ditampung terlebih dahulu, untuk kebaikan lingkungan dan manusia,” imbuhnya.

Ia mengungkapkan bahwa inovasi yang didapatkan dari materi kuliah Teknik Lingkungan. Ia memiliki keinginan untuk menyelesaikan permasalahan limbah di laboratorium, dengan memberikan pandangan bagi mahasiswa tentang pengolahan limbah yang baik dan benar juga dapat menghemat biaya.

“Terima kasih kepada dosen pembimbing, bapak Muchammad Tamyiz, M. Si., Ph. D dan semua pihak yang selalu mendukung penelitian. Saya sangat senang dan bersyukur karena bisa lolos pendanaan dan berkontribusi untuk UNUSIDA dan lingkungan sekitar khususnya di bidang sains dan teknologi” ungkapnya.

Diketahui, program KILab tersebut resmi diluncurkan oleh Direktorat Sumber Daya pada Tahun 2023 lalu yang bertujuan untuk meningkatkan mutu dan layanan di perguruan tinggi. Juga untuk memfasilitasi hasil karya inovatif yang bermanfaat bagi perguruan tinggi pengusul.

Program ini dirancang untuk mendorong peningkatan mutu layanan di laboratorium, pengembangan kompetensi dan profesi para Penyelenggara Laboratorium Pendidikan (PLP) dan Laboran, serta mendiseminasikan pemanfaatan hasil karya inovatif mereka.

 

(my)