Magang di WIJABA Jadi Momentum untuk Belajar, Mengabdi, dan Menginspirasi Bagi Calon Guru
SIDOARJO — Semangat Hari Kartini menemukan wujud nyatanya dalam diri Aininna Halizah Rahma, Putri Kampus dari Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) yang saat ini menjalani magang sebagai pengajar di WIJABA. Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini memaknai Kartini bukan sekadar simbol kebaya dan seremoni, melainkan simbol pendidikan, kebebasan berpikir, dan keberanian mengambil peran.
Motivasinya mengikuti program WIJABA terbilang sederhana: keluar dari zona nyaman. Berawal dari ajakan teman lombanya, Ainina tertarik pada program edukasi lingkungan yang menantang dirinya untuk mengenal karakter anak, memahami sistem sekolah, sekaligus melatih emosi dan kemampuan adaptasi. Dari sejumlah pendaftar, ia menjadi satu-satunya mahasiswa dari Prodi PGSD yang lolos seleksi.
“Bagi saya, Hari Kartini adalah simbol pendidikan dan kebebasan. Esensinya bisa diambil siapa saja, terutama calon guru yang idealis,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (21/4/2026).
Selama mendampingi proses belajar, Ainina mengaku mendapatkan pengalaman yang sangat berkesan. Ia belajar memahami beragam karakter anak, mendengarkan cerita-cerita polos mereka, hingga berinteraksi langsung dengan kepala sekolah dan guru fasilitator. Pengalaman ini juga membawanya menjangkau sekolah-sekolah di daerah yang sebelumnya belum pernah ia datangi.
Tantangan terberat yang ia hadapi adalah perbedaan kemampuan belajar anak dalam satu kelas, terlebih ketika mendampingi anak berkebutuhan khusus yang belum memiliki shadow teacher. Untuk mengatasinya, Ainina menggunakan pendekatan variatif seperti ice breaking kreatif, belajar sambil bermain dan bernyanyi, serta membangun komunikasi personal dengan siswa.
Menurutnya, semangat Kartini tercermin dari keberanian untuk terus belajar, berinovasi, dan tidak menyerah dalam mendidik. Prinsip yang selalu ia pegang adalah, “Tidak ada yang langsung mahir menjadi guru. Muridmu akan tumbuh, begitu juga dengan dirimu,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya menanamkan rasa percaya diri, rasa ingin tahu, dan kemandirian kepada anak-anak generasi saat ini. Harapannya, mereka bisa menjadi Kartini kecil zaman now yang berani bermimpi dan berusaha meraih impian. Ia merasa pengalaman magang ini terasa sangat relevan dengan perkuliahannya di PGSD. Beberapa mata kuliah yang paling ia rasakan manfaatnya di lapangan antara lain Manajemen Pendidikan, Dasar-dasar Perencanaan Pembelajaran, dan Bimbingan Konseling SD.
Lebih jauh, Aininna menyadari bahwa profesi guru bukan sekadar mengajar. Guru adalah teman, pendengar, pembimbing, bahkan figur orang tua di sekolah. Ia menilai profesi ini sangat prestisius, namun masih sering diremehkan dari sisi kesejahteraan, yang berdampak pada kualitas pendidikan nasional.
Ainina berpesan agar setiap langkah hidup meninggalkan jejak kebaikan. Baginya, menjadi perempuan adalah fitrah, tetapi menjadi tangguh dan mandiri adalah pilihan yang memperkuat martabat.
“Negara tidak akan maju jika kualitas pendidikannya tidak baik. Sudah saatnya profesi guru dihargai melalui peningkatan kualitas dan kesejahteraannya,” tegasnya.




