Pos

Kolaborasi WWF Indonesia dan UKM MAPANUSIDA UNUSIDA Tanam Mangrove di Kepetingan (Foto: Humas UNUSIDA)

Kolaborasi WWF Indonesia dan Mahasiswa UNUSIDA Tanam Mangrove di Kepetingan, Perkuat Rehabilitasi Pesisir Sidoarjo

SIDOARJO – Di tengah kerentanan ekosistem pesisir terhadap tekanan lingkungan, WWF Indonesia bersama Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pecinta Alam (MAPANUSIDA) menggelar kegiatan penanaman mangrove di Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Sidoarjo, Sabtu (28/03/2026). Kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam rehabilitasi ekosistem pesisir sekaligus membangun kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan secara ilmiah, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Sejak pagi hari, mahasiswa pecinta alam yang tergabung dalam UKM MAPANUSIDA telah berkumpul di titik keberangkatan sebelum menempuh perjalanan menggunakan perahu menuju lokasi penanaman. Perjalanan tersebut memberikan gambaran nyata kondisi pesisir Sidoarjo, mulai dari kawasan tambak hingga wilayah muara yang dipengaruhi dinamika pasang surut.

Setibanya di Dusun Kepetingan, peserta disambut hamparan estuari dengan karakter tanah berlumpur dan vegetasi pesisir yang menjadi indikator penting keberhasilan rehabilitasi mangrove. Kondisi ini sekaligus menjadi laboratorium alam bagi mahasiswa untuk memahami ekosistem pesisir secara langsung.

Kegiatan penanaman dilakukan secara terarah dengan memperhatikan kesesuaian jenis mangrove terhadap kondisi lingkungan setempat. Beberapa jenis seperti Avicennia, Sonneratia, dan Rhizophora ditanam mengikuti zonasi alami pesisir agar dapat tumbuh optimal dan memperkuat struktur ekosistem. Para peserta terlibat aktif mulai dari pengenalan teknik penanaman hingga praktik di lapangan dengan penuh antusiasme.

Ketua UKM MAPANUSIDA, Muhammad Reza Sujali, yang memimpin delegasi mahasiswa, menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam aksi lingkungan merupakan bentuk tanggung jawab intelektual dan sosial. “Kegiatan ini bukan hanya tentang menanam mangrove, tetapi membangun kesadaran ekologis berkelanjutan. Mahasiswa harus menjadi bagian dari solusi. Apa yang kita lakukan hari ini adalah investasi jangka panjang bagi lingkungan dan generasi mendatang,” ujarnya.

Sementara itu, Mukhammad Dimas Alamsyah, selaku ketua pertama UKM MAPANUSIDA periode 2025, menilai kegiatan ini sebagai refleksi nilai dasar gerakan pecinta alam. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam menjaga lingkungan. “Menjaga alam bukan kegiatan sesaat, tetapi komitmen yang harus terus dirawat. Mangrove yang kita tanam hari ini adalah simbol harapan bahwa mahasiswa mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir,” ungkapnya.

Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan pentingnya sinergi antara berbagai pihak dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Kolaborasi antara lembaga konservasi, institusi pendidikan, dan partisipasi aktif mahasiswa menjadi kunci keberhasilan upaya rehabilitasi pesisir yang berkelanjutan.

“Setiap bibit mangrove yang ditanam menjadi simbol komitmen terhadap masa depan lingkungan yang lebih baik, sekaligus menanamkan nilai kepedulian, tanggung jawab, dan keberlanjutan dalam diri setiap peserta,” pungkasnya.

UKM MAPANUSIDA Gelar Aksi “Hiking & Planting Trees” di Gunung Bekel (Foto: UKM MAPANUSIDA)

UKM MAPANUSIDA Gelar Hiking & Planting Trees di Gunung Bekel, Gaungkan Komitmen Konservasi

MOJOKERTO — Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pecinta Alam Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (MAPANUSIDA) menyelenggarakan kegiatan bertajuk Hiking & Planting Trees Gunung Bekel dengan tema ‘Simfoni Rimba: Mendaki dalam Sunyi, Menanam untuk Esok yang Berseri, Ahad (15/02/2026). Kegiatan ini dilaksanakan di Gunung Bekel dengan ketinggian 1238 MDPL yang diakses melalui jalur Jolotundo.

Ketua UKM MAPANUSIDA, Muhammad Reza Sujali yang akrab disapa Randu, memimpin langsung rombongan menuju kaki Gunung Bekel. Ia menjelaskan Gunung Bekel dipilih sebagai ruang belajar ekologis sekaligus laboratorium lapangan bagi belasan mahasiswa pecinta alam yang turut ambil bagian.

Kegiatan Hiking & Planting Trees Gunung Bekel ini menjadi refleksi bahwa gerakan mahasiswa pecinta alam tidak berhenti pada romantisme pendakian, tetapi bertransformasi menjadi aksi konservasi yang konkret. Dalam sunyi rimba, para mahasiswa belajar tentang disiplin, solidaritas, dan tanggung jawab ekologis. Simfoni rimba yang mereka gaungkan hari itu bukan sekadar gema langkah di lereng gunung, melainkan komitmen untuk menanam harapan bagi esok yang lebih berseri.

Dalam briefing singkat sebelum pendakian dimulai, Reza menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar mencapai puncak, melainkan merawat proses. Kegiatan ini tidak hanya dimaknai sebagai pendakian rutin, tetapi juga sebagai pernyataan sikap generasi muda terhadap keberlanjutan lingkungan melalui aksi nyata menanam pohon.

“Gunung bukan hanya untuk ditaklukkan, tetapi untuk dipahami. Setiap langkah adalah refleksi, dan setiap pohon yang kita tanam adalah janji untuk masa depan,” ungkapnya.

Pendakian dimulai melalui jalur Jolotundo yang dikenal memiliki kontur menanjak dengan vegetasi hutan yang masih terjaga. Langkah demi langkah ditempuh dengan ritme teratur, sesekali diiringi diskusi ringan mengenai ekosistem pegunungan dan tantangan konservasi.

Di sepanjang jalur pendakian hingga mendekati puncak, puluhan pohon buah ditanam secara bertahap oleh para peserta. Aksi ini dirancang sebagai upaya sederhana namun berkelanjutan untuk mendukung ketersediaan vegetasi produktif yang kelak dapat memberi manfaat ekologis maupun ekonomis bagi lingkungan sekitar. Tanah digali dengan penuh kesadaran, bibit ditanam dengan kehati-hatian, lalu ditutup kembali seolah menyimpan harapan dalam sunyi rimba.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Mukhammad Dimas Alamsyah yang akrab disapa Ngerong, ketua pertama UKM MAPANUSIDA periode 2025. Kehadirannya menjadi simbol kesinambungan semangat organisasi dari generasi ke generasi. Dalam sela perjalanan, Dimas menyampaikan refleksinya mengenai pentingnya konsistensi gerakan pecinta alam di lingkungan kampus.

“Menjadi pecinta alam berarti siap menjaga komitmen, bukan hanya ketika ramai dibicarakan, tetapi juga ketika sunyi. Gunung Bekel hari ini mengajarkan kita bahwa kontribusi kecil yang dilakukan bersama dapat memberi dampak besar,” tuturnya.

Sesampainya di puncak Gunung Bekel 1238 MDPL, rasa lelah seketika terbayar oleh panorama alam yang terbentang luas dari ketinggian. Hamparan hijau perbukitan, siluet pegunungan di kejauhan, dan semilir angin yang berembus lembut menghadirkan pengalaman kontemplatif yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Para peserta beristirahat, menikmati bekal sederhana yang dibawa dari bawah, serta mengabadikan momen melalui sesi foto bersama dengan latar lanskap yang memukau. Kebersamaan di puncak bukan hanya tentang capaian geografis, melainkan tentang kesadaran kolektif bahwa perjalanan dan tujuan dapat berjalan seiring ketika dilandasi nilai kepedulian.

MAPALA UNUSIDA Jadi Relawan di Dapur Umum Musibah Ambruknya Bangunan Pesantren Al Khoziny (Foto: MAPALA UNUSIDA)

MAPALA UNUSIDA Jadi Relawan Dapur Umum di Lokasi Musibah Pesantren Al Khoziny Buduran

SIDOARJO – Musibah ambruknya salah satu bangunan di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, pada Senin (29/9/2025) lalu tidak hanya menyisakan kepanikan di kalangan santri dan pengurus, tetapi juga memunculkan gelombang kepedulian dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Unit Kegiatan Mahasiswa Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) yang sigap hadir sebagai relawan di dapur umum.

Sejak kabar musibah tersebar, puluhan anggota MAPALA UNUSIDA langsung berkoordinasi dan memutuskan terjun ke lokasi. Mereka tidak hanya fokus pada evakuasi korban, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar para santri, khususnya makanan, tetap terpenuhi. Para mahasiswa pecinta alam itu bekerja sama dengan pengurus pesantren, warga, dan tim tanggap darurat lain untuk mengolah logistik, memasak, hingga mendistribusikan makanan bagi santri, relawan, dan aparat yang berjibaku di lapangan.

Suasana kebersamaan terasa ketika mahasiswa dengan penuh semangat mengaduk panci besar, menyiapkan nasi bungkus, hingga membagikan air minum. Bahkan sebagian dari mahasiswa juga ikut mendata kebutuhan logistik agar aliran bantuan tepat sasaran.

Pembina MAPALA UNUSIDA, Jeziano Rizkita Boyas, S.E., M.M., menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa di dapur umum adalah wujud nyata pengabdian sosial sekaligus pembelajaran karakter.

“Mahasiswa tidak boleh hanya terpaku pada aktivitas akademik, tetapi juga harus hadir di tengah masyarakat dalam situasi sulit. Membantu di dapur umum bukan perkara sepele, ini adalah kerja kemanusiaan yang memastikan semua pihak memiliki energi untuk bertahan. Saya bangga anak-anak MAPALA UNUSIDA mampu menjalankan tugas dengan semangat, disiplin, dan kepedulian,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua MAPALA UNUSIDA, Reza Sujali, menambahkan bahwa peran di dapur umum sama pentingnya dengan evakuasi di lapangan. Keterlibatan MAPALA UNUSIDA dirasakan langsung oleh pesantren dan para santri. Kebutuhan pangan tetap terpenuhi meski kondisi penuh keterbatasan, sehingga relawan lain dapat fokus pada evakuasi.

“Kami sadar tidak semua orang bisa langsung terlibat dalam evakuasi, tetapi semua orang butuh makan untuk bertahan. Karena itu kami memilih fokus juga di dapur umum, menyiapkan makanan bagi santri, relawan, dan aparat. Dari sinilah semangat gotong royong terus hidup,” ungkapnya saat dikonfirmasi pada Kamis (2/10/2025).

Mahasiswa Prodi Teknik Industri tersebut menjelaskan, melalui aksi sederhana tetapi vital ini, MAPALA UNUSIDA membuktikan bahwa mahasiswa bukan hanya agen perubahan dalam teori, melainkan juga garda kemanusiaan di lapangan. Pengalaman ini menjadi ruang belajar berharga untuk melatih kedisiplinan, kerjasama tim, dan kepekaan sosial, sekaligus memperkuat sinergi antara kampus, pesantren, dan masyarakat.

Ia berharap dapat terus menanamkan nilai kepedulian, kebersamaan, dan semangat gotong royong, sesuai dengan jati diri mahasiswa dan spirit Ahlussunnah wal Jama’ah yang menjadi landasan UNUSIDA.

“Kami hadir untuk membantu meringankan beban para korban dan menunjukkan bahwa mahasiswa juga memiliki peran sosial dalam setiap musibah kemanusiaan,” pungkasnya. (MY)