Pos

Webinar Nasional “Aswaja di Dunia Digital” PGMI UNUSIDA (Foto: Istimewa)

PGMI UNUSIDA Inisiasi Gelar Webinar Nasional Aswaja di Dunia Digital, Meneguhkan Adab Bermedia Sosial

SIDOARJO — Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat menuntut generasi muda untuk tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga matang secara etika dan adab. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) bersama Pimpinan Ranting (PR) GP Ansor Banjarasri  menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk ‘Aswaja di Dunia Digital: Adab Bermedsos Menurut Ulama Aswaja’ dengan semangat tagline #AswajaDiDuniaDigital.

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Ahad (21/12/2025) lalu ini menjadi bagian dari upaya edukatif sekaligus pemenuhan tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Aswaja. Webinar ini bertujuan membekali generasi muda dengan pemahaman mendalam tentang bagaimana bermedia sosial secara bijak, beradab, dan selaras dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).

Webinar nasional ini menghadirkan pemateri eksklusif H. M. Arisy Karomy, S.T., M.Pd.I., (Gus Arisy) Pengasuh Pondok Pesantren Al-Kholil Jetis Sidoarjo sekaligus Dosen PGMI UNUSIDA. Selain itu, turut hadir sebagai pembicara utama Moh. Anang Abidin, M.Pd., selaku Ketua Program Studi PGMI Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).

Dalam pemaparannya, Gus Arisy menekankan bahwa media sosial tidak boleh dipandang semata sebagai ruang hiburan tanpa batas. Bermedia sosial, menurut perspektif ulama Aswaja, memiliki berbagai dimensi, antara lain sebagai sarana hiburan, gaya hidup, kebutuhan, ibadah, hingga alat perjuangan dan dakwah. Oleh karena itu, setiap aktivitas digital harus dilandasi niat yang benar serta adab yang terjaga.

“Saya harap nilai-nilai Aswaja dapat terus hidup dan relevan di tengah arus digitalisasi, serta menjadi pedoman etis bagi generasi muda dalam bermedia sosial secara cerdas, santun, dan bertanggung jawab,” harapnya.

Lebih lanjut, Gus Arisy menjelaskan bahwa terdapat sejumlah prinsip penting yang harus diperhatikan dalam bermedia sosial, seperti ghadhul bashar (menjaga pandangan), menjaga aurat, menghindari riya’, serta menjaga privasi diri dan orang lain. Media sosial juga diingatkan dapat menjadi ladang amal jariyah, namun sebaliknya dapat pula berpotensi menjadi dosa jariyah apabila disalahgunakan.

“Mari menjadikan media sosial sebagai sarana dakwah, mempererat silaturahmi, serta menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat digital. Bermedia sosial bukan hanya tentang eksistensi, tetapi tentang tanggung jawab moral dan spiritual,” tuturnya.

Tampak antusiasme peserta terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai lebih dari 130 orang, berasal dari berbagai perguruan tinggi dan kalangan umum. Mayoritas peserta merupakan mahasiswa PGMI UNUSIDA, disusul peserta dari Surabaya serta masyarakat umum. Selain memperoleh wawasan baru, peserta juga mendapatkan ruang diskusi interaktif serta kesempatan memperluas jejaring dalam memahami praktik bermedia sosial ala ulama Aswaja.

Mahasiswa FAI UNUSIDA Gelar Seminar Bijak Digital Sejak Dini (Foto: FAI UNUSIDA)

Mahasiswa FAI UNUSIDA Gelar Seminar Bijak Digital Sejak Dini, Dampingi Orang Tua Hadapi Tantangan Parenting

SIDOARJO – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, tantangan pengasuhan anak (parenting) kini memasuki babak baru. Menyikapi kondisi tersebut, mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan seminar edukasi bertajuk ‘Bijak Digital Sejak Dini’ di lembaga RA Al-Qur’an Hidayatulloh Sidoarjo, Jumat (19/12/2025) lalu.

Kegiatan ini bertujuan membantu para orang tua memahami cara menyeimbangkan pemanfaatan teknologi dengan tumbuh kembang optimal anak, khususnya pada masa usia emas (golden age). Seminar ini mendapat respons positif dari para wali murid yang hadir, mengingat meningkatnya penggunaan gawai pada anak usia dini dalam kehidupan sehari-hari.

Data menunjukkan bahwa paparan layar (screen time) pada anak usia dini mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Meski smartphone menawarkan beragam konten edukatif, penggunaan yang tidak terkontrol berpotensi menimbulkan dampak negatif, seperti keterlambatan bicara (speech delay), menurunnya konsentrasi, hingga terbatasnya kemampuan interaksi sosial anak.

Salah satu pemateri, Ziyarotul Ummah, mahasiswi Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) UNUSIDA, menegaskan pentingnya peran aktif orang tua dalam mendampingi anak saat menggunakan teknologi.

Smartphone bukanlah pengasuh elektronik. Kunci utama bagi anak usia dini bukan pada pelarangan total, melainkan pada pembatasan durasi dan pendampingan aktif dari orang tua. Kita ingin anak-anak menjadi pengguna teknologi yang cerdas, bukan sekadar konsumen konten yang pasif,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, Ziyarotul membagikan tiga pilar utama penggunaan smartphone yang bijak bagi anak usia dini. Pertama, durasi yang terukur, di mana anak usia di bawah dua tahun disarankan tidak terpapar layar sama sekali kecuali untuk video call, sementara anak usia 2–5 tahun dibatasi maksimal satu jam per hari dengan konten berkualitas. Kedua, konten yang edukatif dan interaktif, yakni konten yang mendorong kreativitas dan kemampuan berpikir, bukan tontonan berulang yang bersifat pasif. Ketiga, interaksi dua arah, di mana orang tua diajak untuk turut menemani anak dan berdiskusi tentang konten yang ditonton guna menstimulasi kemampuan bahasa dan kognitif.

Selain fokus pada pengelolaan layar, seminar ini juga menekankan pentingnya aktivitas fisik dan permainan sensorik di dunia nyata. Keseimbangan antara aktivitas digital dan eksplorasi fisik dinilai sangat penting untuk mendukung perkembangan motorik kasar dan halus anak.

Ia menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat. Ia berharap, berbagai seminar dan panduan praktis seperti ini dapat membantu keluarga Indonesia tetap berdaya, bijak, dan berakhlak di tengah gempuran teknologi digital.

“Semoga melalui pendampingan kepada orang tua dapat semakin bijak dalam membimbing putra-putrinya dalam menggunakan teknologi,” pungkasnya.

Dosen FILKOM UNUSIDA Beri Pelatihan Content Creator bagi Warga Glagaharum (Foto: FILKOM UNUSIDA)

Dosen FILKOM UNUSIDA Beri Pelatihan Content Creator bagi Warga Glagaharum: Dorong Branding Desa dan Kreativitas Digital

SIDOARJO — Dalam upaya memperkuat literasi digital dan memperkenalkan potensi lokal, Dosen Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) memberikan pelatihan content creator bagi warga Desa Glagaharum, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Ahad (19/10/2025).

Kegiatan ini menjadi bagian dari pengabdian masyarakat yang mengusung tema ‘Branding Desa dan Personal Branding Menuju Desa Kreatif Digital’, dengan peserta terdiri dari perangkat desa, karang taruna, dan pelaku UMKM lokal.

Pelatihan ini menghadirkan Dekan FILKOM UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya, M.T., sebagai narasumber utama dengan materi tentang Branding Desa: Membangun Citra Positif dan Identitas Lokal’. Dalam paparannya, Dr. Arda menjelaskan bahwa branding desa bukan sekadar membuat logo atau slogan, tetapi tentang membangun citra positif melalui identitas visual, cerita, dan aktivitas digital.

“Branding desa adalah upaya membangun citra positif desa melalui identitas visual, cerita, dan aktivitas digital. Tujuannya agar desa dikenal, dipercaya, dan menarik bagi wisatawan, investor, serta masyarakat luas,” jelasnya.

Menurutnya, manfaat branding desa meliputi peningkatan daya tarik wisata dan produk lokal, memperkuat rasa bangga warga terhadap desanya, menarik mitra dan investor, serta menumbuhkan semangat gotong royong dan inovasi.

Dalam sesi materi, peserta juga diajak memahami unsur penting dalam membangun citra digital desa, antara lain logo dan tagline desa yang mudah diingat, warna dan simbol khas lokal, cerita unik (storytelling), aktivitas media sosial yang aktif, produk unggulan seperti UMKM, hasil pertanian, dan wisata.

Dr. Arda juga menekankan langkah-langkah praktis untuk memulai branding desa, seperti mengidentifikasi potensi lokal, membuat logo dan slogan, mendokumentasikan kegiatan positif, menggunakan media sosial secara konsisten, serta melibatkan warga dalam promosi digital.

Selain branding desa, pelatihan juga membahas branding personal dan pembuatan konten kreatif. Mahasiswa dan dosen FILKOM UNUSIDA memberikan panduan teknis tentang pembuatan video pendek, fotografi digital, hingga strategi storytelling untuk media sosial.

Content creator bukan hanya pekerjaan, tetapi juga peluang besar dalam ekonomi digital. Siapa pun bisa menjadi kreator asalkan memiliki ide, konsistensi, dan kemampuan beradaptasi dengan tren,” terangnya.

Menurut Dr. Arda, profesi content creator kini tidak hanya menjadi sarana ekspresi, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi baru. Banyak pelaku UMKM, komunitas, dan individu yang berhasil mengembangkan usahanya melalui strategi digital marketing dan konten kreatif yang menarik.

“Dengan kemampuan storytelling yang kuat dan konsistensi dalam membangun audiens, masyarakat desa pun bisa memasarkan produk dan potensi lokalnya ke tingkat nasional, bahkan global,” tambahnya.

Dr. Arda juga menerangkan bahwa menjadi content creator sukses memerlukan strategi dan etika yang kuat, bukan hanya sekadar aktif di media sosial. Ia menyampaikan lima langkah utama dalam membangun karier sebagai kreator digital:

 

  • Temukan niche, yakni topik spesifik yang disukai dan dikuasai,
  • Buat konten yang bermanfaat dan konsisten, agar audiens percaya dan setia,
  • Gunakan gaya dan ciri khas pribadi, untuk membedakan diri dari kreator lain,
  • Bangun interaksi dengan audiens, melalui komentar, diskusi, dan kolaborasi,
  • Evaluasi insight dan kembangkan kualitas konten, agar tetap relevan dan menarik.

Selain strategi teknis, Dr. Arda juga menekankan pentingnya etika dalam membuat konten. Ia menegaskan beberapa prinsip etika yang harus dijunjung tinggi oleh content creator, yakni Gunakan konten untuk mendidik dan menginspirasi, Hindari hoaks, ujaran kebencian, dan plagiarisme, Jaga citra diri dan nama baik desa, serta Gunakan bahasa yang sopan dan visual yang positif.

Tak hanya fokus pada konten digital, Dr. Arda juga mengupas pentingnya personal branding, terutama bagi pemuda Karang Taruna sebagai garda depan perubahan sosial di desa. Oleh karena itu itu, ia mendorong pemuda setempat untuk menjadi content creator yang dapat membagikan berbagai bentuk konten digital di platform seperti YouTube, Instagram, TikTok, hingga Facebook.

“Personal branding bukan pencitraan palsu, tapi cara menampilkan diri dengan karakter dan kontribusi nyata. Dari sanalah kepercayaan publik tumbuh,” ujarnya.

Menurutnya, personal branding yang baik dapat membantu pemuda menjadi teladan positif di masyarakat, membangun kepercayaan publik terhadap Karang Taruna, memudahkan kolaborasi dengan mitra desa, serta meningkatkan peluang kerja dan usaha.

Karang Taruna Desa Glagaharum juga didorong menjadi duta digital desa, dengan peran aktif seperti membuat konten kreatif di media sosial, meliput dan mendokumentasikan kegiatan masyarakat, serta mengedukasi warga tentang pentingnya citra positif di dunia digital.

“Kreator digital harus bertanggung jawab atas apa yang dibagikan. Konten seharusnya mengedukasi, menginspirasi, dan membawa nilai positif bagi masyarakat,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, warga akan diajak membuat aktivitas branding desa, seperti video promosi wisata dan produk lokal, poster digital kegiatan karang taruna, kampanye kebersihan, hingga lomba foto desa.

Ia berharap, kegiatan ini dapat memperkuat peran kampus sebagai mitra strategis desa dalam menghadapi era digital, sekaligus mendorong masyarakat untuk bangga, kreatif, dan mandiri melalui identitas desanya sendiri.

“Kami ingin masyarakat Glagaharum mampu memanfaatkan media digital secara bijak dan kreatif untuk kemajuan desanya,” pungkasnya. (MY)