UNUSIDA Sukses Jadi Tuan Rumah Musyawarah Besar Aliansi BEM Delta Sidoarjo, Tegaskan Komitmen Pemimpin Muda
SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menjadi tuan rumah Musyawarah Besar BEM Delta Sidoarjo Aliansi BEM Delta Sidoarjo di Auditorium Lt. 5 UNUSIDA pada (25/02/2026). Mengusung tema ‘Muda, Berani, Berubah: Menuju Sidoarjo Berdaya’, forum ini menjadi momentum strategis dalam menentukan arah gerak kolektif mahasiswa lintas kampus di Kabupaten Sidoarjo.
Musyawarah besar tidak hanya dimaknai sebagai agenda formal organisasi, tetapi juga sebagai ruang konsolidasi ide, evaluasi kinerja, serta perumusan peta jalan gerakan mahasiswa ke depan yang lebih sistematis, progresif, dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Muhammad Azmi, Sekretaris Aliansi BEM Delta Sidoarjo Periode 2024–2025. Dalam penyampaiannya, ia menegaskan bahwa keberlanjutan organisasi terletak pada kematangan proses kaderisasi dan konsistensi nilai perjuangan.
“Aliansi ini dibangun atas dasar kolaborasi, bukan dominasi. Kepemimpinan baru harus mampu merangkul seluruh kampus serta memastikan semangat kolektif tetap terjaga,” ujarnya, sembari menekankan pentingnya integritas dan transparansi dalam estafet kepemimpinan.
Presiden Mahasiswa UNUSIDA, M. Rafly Afandi, turut menegaskan posisi strategis mahasiswa dalam dinamika sosial daerah. Ia menyoroti pentingnya membangun gerakan yang berbasis kajian ilmiah serta responsif terhadap persoalan masyarakat.
“Mahasiswa tidak boleh terjebak dalam simbolisme gerakan. Kita harus hadir dengan analisis yang kuat, sikap yang rasional, dan keberanian untuk menyampaikan kebenaran demi kemajuan Sidoarjo,” tegasnya.
Dengan terselenggaranya Musyawarah Besar ini, Aliansi BEM Delta Sidoarjo menegaskan komitmen untuk memperkuat konsolidasi mahasiswa secara berkelanjutan. Semangat Muda, Berani, Berubah tidak hanya menjadi slogan, melainkan komitmen kolektif untuk menghadirkan gerakan mahasiswa yang lebih matang, terarah, terstruktur, progresif, dan berkontribusi nyata bagi terwujudnya Sidoarjo yang berdaya, inklusif, dan berkeadilan.
Memasuki agenda inti, forum membahas dan menetapkan tata tertib persidangan sebagai fondasi mekanisme musyawarah yang demokratis, partisipatif, dan akuntabel. Proses perumusan berlangsung dinamis dengan berbagai pandangan konstruktif dari delegasi sembilan kampus. Perbedaan gagasan yang muncul menjadi bagian dari proses pendewasaan organisasi dalam menghasilkan keputusan terbaik bagi keberlanjutan aliansi.
Sidang berlanjut pada pembahasan laporan pertanggungjawaban kepengurusan sebelumnya serta rekomendasi organisasi. Forum menyoroti perlunya penguatan sistem koordinasi internal, optimalisasi program kolaboratif lintas kampus, serta pembentukan tim kajian isu strategis daerah yang lebih terstruktur. Selain itu, dibahas pula pentingnya membangun relasi konstruktif dengan pemerintah daerah tanpa menghilangkan fungsi kontrol sosial mahasiswa sebagai mitra kritis yang independen.
Agenda pemilihan Koordinator Umum Aliansi BEM Delta Sidoarjo menjadi momen penting dalam musyawarah tersebut. Proses pemilihan berlangsung demokratis, tertib, dan transparan melalui mekanisme yang telah disepakati bersama. Hasil forum menetapkan Sultan Saladin Batubara, Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), sebagai Koordinator Umum Aliansi BEM Delta Sidoarjo, serta M. Rafly Afandi, Presiden Mahasiswa UNUSIDA, sebagai Sekretaris Aliansi BEM Delta Sidoarjo untuk periode kepengurusan selanjutnya.
Dalam pernyataan perdananya, Sultan menegaskan bahwa amanah tersebut merupakan tanggung jawab kolektif seluruh kampus yang tergabung dalam aliansi.
“Ini adalah komitmen bersama untuk memperkuat konsolidasi mahasiswa dan memastikan aliansi tetap menjadi garda terdepan dalam mengawal kepentingan masyarakat,” tegasnya.
Seluruh perwakilan BEM yang tergabung dalam Aliansi BEM Delta Sidoarjo, yakni BEM UNUSIDA, BEM UMSIDA, BEM Universitas PGRI Delta Sidoarjo, BEM Universitas Maarif Hasyim Latif (UMAHA), BEM STAI An-Najah Indonesia Mandiri, BEM Poltekkes Kerta Cendekia, BEM Universitas Anwar Medika, BEM IAI Al-Khoziny, serta BEM IAI YPBWI, mengikuti musyawarah dengan penuh khidmat. Kehadiran sembilan kampus tersebut menunjukkan bahwa konsolidasi mahasiswa Sidoarjo tidak hanya bersifat simbolik, tetapi substantif dalam merumuskan arah gerak bersama.
Lebih lanjut, kegiatan dilanjutkan dengan pembahasan isu-isu strategis daerah yang relevan dengan kepentingan mahasiswa dan masyarakat. Diskusi ini menjadi fondasi awal bagi kepengurusan baru dalam menyusun agenda kerja yang responsif terhadap dinamika sosial di Kabupaten Sidoarjo.
Penulis: Muchammad Waziruddin (MY)



