Pos

Dr. Hadi Ismanto saat memberikan tausiyah dalam Kajian Rutin Aswaja An-Nahdliyah. (Foto: Humas UNUSIDA)

Dr. Hadi Ismanto Ajak Civitas Akademika UNUSIDA untuk Pandai Bersyukur dengan Istiqamah Shalat Berjamaah

SIDOARJO — Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengkajian Islam dan Keaswajaan (PIK) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menggelar Kajian Rutin Aswaja An-Nahdliyah dengan mengangkat tema ‘Keutamaan Salat Berjamaah’. Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid KH. M. Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo, Kamis (5/11/2026).

Kajian kali ini menghadirkan Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., sebagai narasumber. Dalam tausiyahnya, ia mengajak jamaah, khususnya dosen dan tenaga kependidikan UNUSIDA, untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah SWT serta meningkatkan kesadaran dalam menjalankan ibadah, terutama salat berjamaah.

Mengawali tausiyah, Dr. Hadi mengingatkan bahwa nikmat Allah sering kali baru disadari ketika seseorang kehilangan sesuatu yang selama ini dianggap biasa. Ia mengisahkan seorang pengusaha yang mengalami gangguan pada kelopak mata akibat kecelakaan ringan. Meskipun memiliki kekayaan yang melimpah dan mampu menjalani pengobatan ke luar negeri, gangguan tersebut tidak mudah dipulihkan.

Menurutnya, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa nikmat kesehatan dan kesempurnaan anggota tubuh memiliki nilai yang sangat besar. Bahkan, kemampuan sederhana seperti mengedipkan mata merupakan karunia Allah yang patut disyukuri.

“Sering kali kita merasa perlu bersyukur ketika mendapatkan uang, gaji, atau barang berharga. Padahal, nikmat yang kita gunakan setiap hari, seperti kesehatan dan kemampuan melihat, nilainya luar biasa,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kemampuan seseorang dalam menjalankan ibadah juga merupakan bentuk rahmat dan pertolongan Allah SWT. Mulai dari kesehatan untuk berdiri, kemampuan berwudu, hingga kesempatan menunaikan salat, semuanya merupakan anugerah yang tidak boleh dianggap biasa.

“Untuk bisa melaksanakan salat, seseorang harus mampu berdiri. Siapa yang memberikan kesehatan? Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, salat bukan sekadar kewajiban, tetapi juga nikmat yang harus kita syukuri,” jelasnya.

Mengutamakan Akhlak dan Memahami Keutamaan Salat Berjamaah

Dalam tausiyahnya, Dr. Hadi juga mengutip kisah dalam kitab Al-Mawa’izh Al-‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar Al-‘Ushfuri tentang keteladanan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam menjaga akhlak.

Dikisahkan, ketika hendak menuju masjid untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah, Sayyidina Ali bertemu dengan seorang lanjut usia. Beliau memilih memperlambat langkah dan tidak mendahului orang tersebut, meskipun ingin segera mendapatkan keutamaan salat berjamaah.

Kisah tersebut, menurut Dr. Hadi, memberikan pelajaran bahwa semangat beribadah harus berjalan beriringan dengan akhlak mulia dan penghormatan kepada sesama.

Ia juga menekankan pentingnya menuntut ilmu agama agar umat Islam memahami dasar, hukum, dan keutamaan setiap ibadah yang dijalankan. Dalam konteks salat berjamaah, terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai hukumnya. Namun, dalam pandangan mazhab Syafi’i, salat berjamaah termasuk sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan.

“Berusahalah untuk melaksanakan salat berjamaah karena begitu besar keutamaannya. Jangan sampai kesibukan pekerjaan membuat kita melupakan kewajiban salat,” pesannya.

Ia menambahkan, pemahaman terhadap fikih juga penting agar umat Islam mampu menjalankan ibadah sesuai tuntunan syariat dengan mempertimbangkan kondisi dan kemampuan masing-masing.

Mengajak Keluarga Menjaga Salat

Menutup tausiyahnya, Dr. Hadi mengingatkan pentingnya tanggung jawab setiap Muslim dalam menjaga ibadah, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga keluarga dan orang-orang terdekat.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah At-Tahrim ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat agar setiap Muslim senantiasa memberikan perhatian terhadap pelaksanaan salat di lingkungan keluarga. Upaya tersebut dapat dimulai dengan memberikan keteladanan, mengajak, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

“Pastikan setiap orang melaksanakan salat. Jika mereka belum berkenan, berusahalah untuk mengajak. Mulailah dari diri sendiri, kemudian orang-orang terdekat kita,” tuturnya.

Melalui kajian rutin Aswaja An-Nahdliyah ini, diharapkan civitas akademika UNUSIDA semakin meningkatkan keimanan, memperdalam pemahaman keislaman, serta membiasakan diri melaksanakan salat berjamaah di tengah kesibukan aktivitas sehari-hari.

Ia pun mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa memohon pertolongan Allah SWT agar diberikan kekuatan dan keistiqamahan dalam beribadah, sekaligus mampu memberikan manfaat bagi keluarga, lingkungan, masyarakat, dan kemajuan bangsa.

“Sebab, ilmu yang dipelajari hendaknya tidak berhenti menjadi pengetahuan, tetapi harus tercermin dalam akhlak, ibadah, dan pengabdian kepada sesama,” pungkasnya.

Ketua BPP UNUSIDA, KH. Arly Fauzi saat menyampaikan Tausiyah dalam Kajian Rutin Aswaja An-Nahdliyah UNUSIDA. (Foto: Humas UNUSIDA)

Ketua BPP UNUSIDA, KH Arly Fauzi: Ilmu Harus Bermuara pada Keimanan dan Amal Saleh

SIDOARJO — Ketua Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), KH Arly Fauzi, menegaskan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban sekaligus bagian penting dalam membangun kehidupan manusia. Namun, ilmu pengetahuan tidak cukup hanya dikuasai secara intelektual, melainkan harus dilandasi keimanan dan diwujudkan melalui amal saleh.

Hal tersebut disampaikan dalam tausiahnya dalam Kajian Rutin Aswaja An-Nahdliyah UNUSIDA yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengkajian Islam dan Keaswajaan (PIK) UNUSIDA, di Masjid KH. Hasyim Asy’ari, Kamis (29/10/2026).

Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak civitas akademika UNUSIDA untuk memahami hakikat menuntut ilmu, baik ilmu yang bersifat fardhu ain maupun fardhu kifayah. Menurutnya, ilmu fardhu ain merupakan ilmu yang wajib dipelajari setiap individu untuk memenuhi kebutuhan ibadah dan kewajiban agama. Misalnya, setiap Muslim wajib memahami tata cara salat. Begitu pula ketika seseorang telah memenuhi syarat untuk menunaikan ibadah haji, maka mempelajari ilmu tentang pelaksanaan haji menjadi sebuah kewajiban.

Sementara itu, ilmu fardhu kifayah merupakan ilmu yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan masyarakat secara luas. Di antaranya ilmu kedokteran, teknik, dan berbagai bidang keilmuan lainnya yang dibutuhkan untuk menunjang keberlangsungan kehidupan manusia.

“Pada dasarnya, menuntut ilmu adalah untuk memenuhi kebutuhan kita. Ada ilmu yang wajib dipelajari setiap individu untuk menjalankan ibadah, dan ada pula ilmu yang harus dipelajari sebagian orang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa orang yang menempuh jalan untuk mencari ilmu akan mendapatkan kemudahan jalan menuju surga. Karena itu, ilmu pengetahuan harus menjadi prioritas dalam membangun kemajuan suatu bangsa.

Lebih lanjut, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ikhlas Sepande tersebut menguraikan alasan mengapa Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Menurutnya, ilmu yang dilandasi keimanan akan mengantarkan seseorang semakin mengenal kekuasaan Allah, meningkatkan ketakwaan, serta membentuk perilaku yang semakin baik terhadap sesama.

Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu bukan sekadar bertambahnya pengetahuan, gelar akademik, atau kemampuan intelektual, melainkan juga meningkatnya kualitas keimanan dan amal saleh.

“Ketika ilmu itu dilandasi oleh keimanan dan didorong oleh keimanan, maka ilmu yang didapatkan semakin menjadikan seseorang beriman kepada Allah, semakin taat kepada Allah, semakin mengenal kekuasaan Allah, dan semakin baik kepada sesama,” tuturnya.

Dalam penjelasannya, ia juga mengingatkan bahwa ilmu tanpa disertai ketakwaan dapat menjauhkan seseorang dari Allah SWT. Pengetahuan yang semakin luas seharusnya membuat manusia semakin menyadari keterbatasan dirinya di hadapan Sang Pencipta.

Menurutnya, berbagai cabang ilmu pengetahuan, mulai dari astronomi, biologi, kedokteran, meteorologi hingga teknik, sesungguhnya dapat menjadi jalan untuk mengenali tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

Melalui ilmu astronomi, misalnya, manusia dapat mempelajari keteraturan benda-benda langit. Begitu pula ilmu biologi dan kedokteran yang mengungkap kompleksitas kehidupan serta anatomi tubuh manusia. Semua itu semestinya semakin memperkuat keyakinan terhadap kekuasaan Allah.

“Semakin luas ilmu pengetahuan seseorang, seharusnya semakin terlihat tanda-tanda kekuasaan Allah. Maka, semakin besar pula ketundukan, rasa takut, dan sikap tawaduknya di hadapan Allah SWT,” ungkapnya.

Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo tersebut menambahkan, ilmu pengetahuan harus memiliki orientasi yang jelas, yakni mengantarkan manusia kepada kebenaran dan menghasilkan amal yang bermanfaat. Ilmu tidak boleh berhenti sebagai teori atau sekadar menjadi alat untuk memperoleh pengakuan pribadi.

Bahkan, kepedulian terhadap sesama menjadi salah satu indikator penting dari meningkatnya kualitas keimanan seseorang. Semakin baik kualitas keimanan dan ketakwaan, seharusnya semakin besar pula kepedulian sosial yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Semua ilmu itu harus bermuara pada semakin kuatnya iman kepada Allah, semakin taat kepada-Nya, semakin mengenal kekuasaan-Nya, serta semakin baik dan bermanfaat bagi kehidupan manusia,” tegasnya.

Melalui tausiah tersebut, Kiai Arly mengajak seluruh civitas akademika UNUSIDA untuk menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jalan pengabdian. Perguruan tinggi tidak hanya bertugas melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk insan beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Ilmu dan iman harus berjalan beriringan serta diwujudkan melalui amal saleh. Sebab, hakikat ilmu yang sesungguhnya bukan hanya membuat seseorang semakin cerdas, tetapi juga semakin dekat kepada Allah SWT dan semakin bermanfaat bagi sesama,” pungkasnya.

Kepala UPT PIK UNUSIDA, Gus Arisy Kuswanto saat Ngaji Rutin Kitab Nashoihul Ibad. (Foto: Humas UNUSIDA)

Ngaji Rutin Kitab Nashoihul Ibad: Koreksi Diri dalam Ibadah dan Belajar Menumbuhkan Rasa Syukur

SIDOARJO — Kajian rutin Kitab Nashoihul Ibad bersama H. M. Arisy Karomy, S.T., M.Pd.I., kembali digelar di Masjid KH Muhammad Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo, Selasa Kliwon, (22/9/2026). Dalam kajian tersebut, Gus Arisy mengajak jamaah untuk senantiasa melakukan muhasabah atau introspeksi diri, khususnya dalam pelaksanaan ibadah salat. Menurutnya, seorang muslim perlu membiasakan diri mengevaluasi kualitas ibadah, bukan sibuk menilai ibadah orang lain.

“Coba koreksi diri kita sendiri. Salat kita, gerakan dan doa-doanya, apakah sudah sempurna?” pesannya.

Ia juga mengingatkan agar amal ibadah tidak menjadi alasan untuk menyombongkan diri ataupun mencari pengakuan dari orang lain. Amal seharusnya menjadi jalan seorang hamba untuk semakin merendahkan diri di hadapan Allah SWT.

“Tidak perlu melihat validasi orang lain. Cukup bersimpuh di hadapan Allah. Kita perlu melatih diri setiap hari untuk mengakui kekurangan dan kelemahan kita,” tuturnya.

Melihat ke Atas dalam Urusan Akhirat

Dalam kajian tersebut, jamaah juga diajak membangun cara pandang yang tepat dalam menjalani kehidupan. Untuk urusan akhirat, seseorang dianjurkan melihat kepada mereka yang lebih baik dalam beribadah.

Jika ada orang yang lebih disiplin menjaga salat, termasuk menjalankan salat-salat sunnah, maka hal tersebut dapat dijadikan teladan. Begitu pula ketika melihat orang yang lebih tekun membaca Al-Qur’an, hendaknya muncul keinginan untuk meniru dan meningkatkan kualitas diri.

Menurutnya, melihat orang lain dalam konteks tersebut bukan untuk merasa rendah diri, melainkan sebagai motivasi untuk memperbaiki kualitas ibadah.

Dalam Urusan Dunia, Belajarlah Melihat ke Bawah

Sebaliknya, ketika berbicara mengenai urusan duniawi, manusia dianjurkan melihat kepada mereka yang memiliki keterbatasan lebih besar.

Ia memberikan gambaran sederhana. Ketika seseorang sudah memiliki sepeda motor, jangan hanya melihat orang yang mempunyai mobil. Sebaliknya, lihatlah mereka yang bahkan belum memiliki sepeda motor.

Begitu pula dengan kesehatan. Ketika diberikan kesehatan, jangan hanya membandingkan diri dengan orang yang memiliki kondisi lebih baik. Lihat pula mereka yang sedang sakit dan mungkin belum memiliki kesempatan untuk datang mengaji atau menjalankan aktivitas seperti biasa.

Cara pandang tersebut dapat menumbuhkan rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Menurutnya, kehidupan tidak hanya membutuhkan usaha untuk meningkatkan kualitas diri, tetapi juga kemampuan untuk mengenali nikmat dan keterbatasan yang dimiliki.

“Dengan begitu akan muncul rasa syukur. Melalui muhasabah, keteladanan dalam ibadah, serta kebiasaan melihat ke bawah dalam urusan dunia, seseorang diharapkan mampu menjalani kehidupan dengan hati yang lebih rendah diri, tidak mudah membandingkan diri secara berlebihan, dan semakin dekat kepada Allah SWT.,” jelasnya.

Dr. H. Rangga Sa’adilah, S.A.P., M.Pd.I. saat menyampaikan tausiah dalam kajian rutin setelah sholat Dhuhur tersebut bertempat di Masjid KH. M. Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo. (Foto: Humas UNUSIDA)

Kajian Aswaja, Dosen FAI UNUSIDA Dorong Pelestarian Sholawat Thobibiyah dan Budaya Sholat Jamaah

SIDOARJO — Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) Dr. H. Rangga Sa’adilah, S.A.P., M.Pd.I., menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga keberadaan sholawat atau pujian yang dilantunkan setelah adzan dan sebelum iqamah. Menurutnya, tradisi tersebut tidak sekadar menjadi lantunan yang mengisi waktu antara adzan dan iqamah, tetapi juga memiliki nilai pendidikan dan pembiasaan bagi umat.

Sholawat Thobibiyah dipandang sebagai salah satu bentuk doa dan pujian kepada Allah SWT serta Nabi Muhammad SAW. Lantunan tersebut menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang telah dilakukan secara turun-temurun di tengah masyarakat Muslim, khususnya dalam lingkungan Nahdlatul Ulama.

“Pembiasaan melantunkan sholawat dan pujian sebelum pelaksanaan sholat berjamaah sangat penting dalam melestarikan tradisi yang telah diwariskan oleh para ulama dan leluhur dalam kehidupan umat Islam,” jelasnya saat menyampaikan tausiah dalam kajian rutin setelah sholat Dhuhur tersebut bertempat di Masjid KH. M. Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo, Selasa (15/9/2026).

Dalam kajian tematik tersebut, Dr. Rangga menjelaskan bahwa waktu antara adzan dan iqamah merupakan waktu yang memiliki keutamaan untuk berdoa. Karena itu, lantunan pujian sebelum iqamah dapat menjadi momentum bagi jamaah untuk memanjatkan doa sekaligus mempersiapkan diri melaksanakan sholat berjamaah.

“Setiap doa di antara adzan dan iqamah tidak akan pernah tertolak,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut sebagai pengingat kepada jamaah agar memanfaatkan waktu antara adzan dan iqamah dengan aktivitas yang bernilai ibadah.

Lebih dari sekadar tradisi, lantunan sholawat dan pujian sebelum iqamah juga dinilai memiliki fungsi edukatif. Suara sholawat yang terdengar oleh lingkungan sekitar dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk segera bersiap melaksanakan sholat berjamaah.

Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu strategi untuk mendidik umat Islam, termasuk generasi muda dan anak-anak, agar semakin dekat dengan masjid dan terbiasa dengan suasana sholat berjamaah. Pesan-pesan keagamaan yang disampaikan melalui lantunan sholawat dapat diterima secara sederhana dan berulang dalam kehidupan sehari-hari.

“Lantunan pujian sebelum iqamah adalah strategi untuk mendidik umat Islam, tetangga kita, dan anak-anak kita,” ungkapnya.

Tradisi tersebut juga memperlihatkan bagaimana dakwah dapat dilakukan melalui pendekatan yang lembut dan merangkul. Sholawat yang dilantunkan sebelum iqamah menjadi sarana untuk mengajak masyarakat menuju masjid tanpa tekanan. Suasana religius yang tercipta diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap sholat berjamaah.

Hal ini sejalan dengan karakter dakwah Ahlussunnah wal Jamaah yang mengedepankan pendekatan yang santun dalam menyampaikan ajaran Islam. Tradisi yang diwariskan para ulama tidak hanya dipandang dari bentuk pelaksanaannya, tetapi juga perlu dipahami nilai dan tujuan yang terkandung di dalamnya.

“Begitu indahnya lantunan sholawat yang diajarkan oleh ulama-ulama kita, dengan merangkul tanpa memukul. Mari kita lestarikan bersama,” pesannya.

Pelestarian tradisi keagamaan tersebut juga dinilai penting di lingkungan pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Kampus bukan hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan profesional, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan karakter, spiritualitas, serta kepedulian sosial mahasiswa.

Dalam konteks UNUSIDA, budaya sholat berjamaah diharapkan dapat terus tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan sivitas akademika. Kebiasaan sederhana seperti memenuhi panggilan adzan, menuju masjid, melaksanakan sholat berjamaah, hingga menjaga suasana religius di lingkungan kampus dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter mahasiswa.

“Mari kita gerakkan budaya sholat jamaah menjadi mempengaruhi di setiap lini di kampus kita,” menjadi ajakan untuk menjadikan sholat berjamaah bukan sekadar aktivitas rutin, tetapi budaya positif yang dapat memberikan pengaruh bagi lingkungan sekitar.

Kajian Aswaja ini menjadi salah satu ikhtiar untuk menjaga kesinambungan tradisi keislaman sekaligus memperkuat pemahaman warga UNUSIDA dan masyarakat terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Melalui kajian dan pembiasaan, tradisi keagamaan diharapkan tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus hidup dan relevan dalam kehidupan generasi saat ini.

Dengan semangat merangkul tanpa memukul, pelestarian sholawat, pujian sebelum iqamah, dan budaya sholat berjamaah diharapkan mampu menjadi gerakan bersama. Dari masjid, lingkungan keluarga, masyarakat, hingga kampus, nilai-nilai tersebut dapat terus ditanamkan sebagai bagian dari kehidupan umat Islam.

“Menjaga tradisi bukan hanya tentang mempertahankan kebiasaan, tetapi juga memahami nilai pendidikan, spiritualitas, dan kebersamaan yang ada di dalamnya. Melalui langkah-langkah sederhana dan dilakukan secara konsisten, budaya sholat berjamaah diharapkan semakin kuat dan memberikan dampak positif bagi kehidupan sivitas akademika serta masyarakat luas,” pungkasnya.