Ketua BPP UNUSIDA, KH Arly Fauzi: Ilmu Harus Bermuara pada Keimanan dan Amal Saleh
SIDOARJO — Ketua Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), KH Arly Fauzi, menegaskan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban sekaligus bagian penting dalam membangun kehidupan manusia. Namun, ilmu pengetahuan tidak cukup hanya dikuasai secara intelektual, melainkan harus dilandasi keimanan dan diwujudkan melalui amal saleh.
Hal tersebut disampaikan dalam tausiahnya dalam Kajian Rutin Aswaja An-Nahdliyah UNUSIDA yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengkajian Islam dan Keaswajaan (PIK) UNUSIDA, di Masjid KH. Hasyim Asy’ari, Kamis (29/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak civitas akademika UNUSIDA untuk memahami hakikat menuntut ilmu, baik ilmu yang bersifat fardhu ain maupun fardhu kifayah. Menurutnya, ilmu fardhu ain merupakan ilmu yang wajib dipelajari setiap individu untuk memenuhi kebutuhan ibadah dan kewajiban agama. Misalnya, setiap Muslim wajib memahami tata cara salat. Begitu pula ketika seseorang telah memenuhi syarat untuk menunaikan ibadah haji, maka mempelajari ilmu tentang pelaksanaan haji menjadi sebuah kewajiban.
Sementara itu, ilmu fardhu kifayah merupakan ilmu yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan masyarakat secara luas. Di antaranya ilmu kedokteran, teknik, dan berbagai bidang keilmuan lainnya yang dibutuhkan untuk menunjang keberlangsungan kehidupan manusia.
“Pada dasarnya, menuntut ilmu adalah untuk memenuhi kebutuhan kita. Ada ilmu yang wajib dipelajari setiap individu untuk menjalankan ibadah, dan ada pula ilmu yang harus dipelajari sebagian orang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa orang yang menempuh jalan untuk mencari ilmu akan mendapatkan kemudahan jalan menuju surga. Karena itu, ilmu pengetahuan harus menjadi prioritas dalam membangun kemajuan suatu bangsa.
Lebih lanjut, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ikhlas Sepande tersebut menguraikan alasan mengapa Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Menurutnya, ilmu yang dilandasi keimanan akan mengantarkan seseorang semakin mengenal kekuasaan Allah, meningkatkan ketakwaan, serta membentuk perilaku yang semakin baik terhadap sesama.
Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu bukan sekadar bertambahnya pengetahuan, gelar akademik, atau kemampuan intelektual, melainkan juga meningkatnya kualitas keimanan dan amal saleh.
“Ketika ilmu itu dilandasi oleh keimanan dan didorong oleh keimanan, maka ilmu yang didapatkan semakin menjadikan seseorang beriman kepada Allah, semakin taat kepada Allah, semakin mengenal kekuasaan Allah, dan semakin baik kepada sesama,” tuturnya.
Dalam penjelasannya, ia juga mengingatkan bahwa ilmu tanpa disertai ketakwaan dapat menjauhkan seseorang dari Allah SWT. Pengetahuan yang semakin luas seharusnya membuat manusia semakin menyadari keterbatasan dirinya di hadapan Sang Pencipta.
Menurutnya, berbagai cabang ilmu pengetahuan, mulai dari astronomi, biologi, kedokteran, meteorologi hingga teknik, sesungguhnya dapat menjadi jalan untuk mengenali tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Melalui ilmu astronomi, misalnya, manusia dapat mempelajari keteraturan benda-benda langit. Begitu pula ilmu biologi dan kedokteran yang mengungkap kompleksitas kehidupan serta anatomi tubuh manusia. Semua itu semestinya semakin memperkuat keyakinan terhadap kekuasaan Allah.
“Semakin luas ilmu pengetahuan seseorang, seharusnya semakin terlihat tanda-tanda kekuasaan Allah. Maka, semakin besar pula ketundukan, rasa takut, dan sikap tawaduknya di hadapan Allah SWT,” ungkapnya.
Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo tersebut menambahkan, ilmu pengetahuan harus memiliki orientasi yang jelas, yakni mengantarkan manusia kepada kebenaran dan menghasilkan amal yang bermanfaat. Ilmu tidak boleh berhenti sebagai teori atau sekadar menjadi alat untuk memperoleh pengakuan pribadi.
Bahkan, kepedulian terhadap sesama menjadi salah satu indikator penting dari meningkatnya kualitas keimanan seseorang. Semakin baik kualitas keimanan dan ketakwaan, seharusnya semakin besar pula kepedulian sosial yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Semua ilmu itu harus bermuara pada semakin kuatnya iman kepada Allah, semakin taat kepada-Nya, semakin mengenal kekuasaan-Nya, serta semakin baik dan bermanfaat bagi kehidupan manusia,” tegasnya.
Melalui tausiah tersebut, Kiai Arly mengajak seluruh civitas akademika UNUSIDA untuk menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jalan pengabdian. Perguruan tinggi tidak hanya bertugas melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk insan beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Ilmu dan iman harus berjalan beriringan serta diwujudkan melalui amal saleh. Sebab, hakikat ilmu yang sesungguhnya bukan hanya membuat seseorang semakin cerdas, tetapi juga semakin dekat kepada Allah SWT dan semakin bermanfaat bagi sesama,” pungkasnya.










