Pos

Webinar Nasional “Sinergi Nilai Aswaja dan Pancasila: UNUSIDA Go Nusantara” melalui Zoom Meeting (Foto: Humas UNUSIDA)

Webinar Nasional Hari Lahir Pancasila, UNUSIDA Perkuat Sinergi Nilai Aswaja dan Kebangsaan

SIDOARJO — Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila, Unit Pelaksana Teknis Pengkajian Islam dan Keaswajaan (UPT PIK) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk ‘Sinergi Nilai Aswaja dan Pancasila: UNUSIDA Go Nusantara’ pada Senin (01/06/2026) melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menjadi ruang intelektual untuk merefleksikan kembali relevansi nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan Pancasila sebagai fondasi kebangsaan dalam menjawab berbagai tantangan sosial, pendidikan, ekonomi, teknologi, dan ideologi di era transformasi digital.

Webinar yang terbuka untuk pelajar, mahasiswa, santri pondok pesantren, serta masyarakat umum ini menghadirkan akademisi lintas disiplin ilmu dari lingkungan UNUSIDA.

Kepala UPT PIK UNUSIDA H. Aris Kuswanto, S.T., M.Pd.I., menjelaskan bahwa Webinar akan mengulas berbagai isu strategis dengan menempatkan Pancasila dan Aswaja bukan sekadar konsep normatif, melainkan sebagai pedoman hidup yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Melalui webinar nasional ini, UNUSIDA ingin menunjukkan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang dialog akademik yang mempertemukan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Peringatan Hari Lahir Pancasila tidak hanya dimaknai sebagai agenda seremonial tahunan, tetapi juga sebagai momentum refleksi bersama untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam membangun masyarakat yang religius, moderat, inovatif, dan berdaya saing.

“Semangat ‘Sinergi Nilai Aswaja dan Pancasila: UNUSIDA Go Nusantara’ semoga menjadi energi kolektif dalam memperkuat peran kampus sebagai pusat peradaban yang mampu menjawab tantangan masa depan tanpa kehilangan akar nilai yang menjadi identitas bangsa Indonesia,” katanya.

Dalam keynote speech, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menegaskan bahwa Pancasila dan Aswaja memiliki titik temu yang kuat dalam membangun peradaban yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis untuk menjaga relevansi nilai-nilai tersebut di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan sosial.

“Pancasila dan Aswaja bukan dua entitas yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan dua kekuatan moral yang saling menguatkan dalam membangun karakter bangsa. Dari kampus inilah lahir generasi yang mampu berpikir global tanpa kehilangan identitas keindonesiaannya,” ungkapnya.

Materi pertama disampaikan oleh Dosen Teknik Kimia UNUSIDA Dr. Trisna Kumala Dhaniswara, S.T., M.T., yang mengangkat tema inovasi teknologi dan keberlanjutan sebagai implementasi nilai-nilai Pancasila. Ia menjelaskan bahwa kemajuan teknologi harus diarahkan untuk menciptakan kemanfaatan yang merata bagi masyarakat dan lingkungan.

“Teknologi yang berlandaskan nilai Pancasila tidak hanya mengejar efisiensi dan keuntungan, tetapi juga menjamin keberlanjutan lingkungan, keadilan sosial, serta kesejahteraan generasi mendatang. Inovasi sejati adalah inovasi yang menghadirkan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat,” jelasnya.

Selanjutnya, Dosen DKV UNUSIDA Sonhaji Arif, S.Pd., M.Sn. membahas transformasi digital dan tanggung jawab moral dalam kehidupan masyarakat modern. Menurutnya, perkembangan teknologi informasi telah membuka ruang yang sangat luas bagi masyarakat untuk berinteraksi dan berkarya, namun juga menghadirkan tantangan etika yang semakin kompleks.

“Transformasi digital harus dibarengi dengan transformasi karakter. Kemajuan teknologi tanpa tanggung jawab moral hanya akan melahirkan disrupsi sosial. Karena itu, nilai-nilai Pancasila harus menjadi kompas etis dalam setiap aktivitas digital masyarakat Indonesia,” tuturnya.

Dari perspektif ekonomi, Dosen Manajemen UNUSIDA Ayu Lucy Larassaty, S.E., M.M. menekankan pentingnya membangun ekonomi berkarakter melalui sinergi nilai Aswaja dan Pancasila. Menurutnya, pembangunan ekonomi tidak dapat diukur semata-mata dari pertumbuhan angka statistik, tetapi juga harus memperhatikan aspek kebermanfaatan sosial dan keadilan distribusi.

“Ekonomi yang berkarakter adalah ekonomi yang menghadirkan keberkahan dan keadilan. Nilai Aswaja mengajarkan keseimbangan, sedangkan Pancasila memberikan arah agar aktivitas ekonomi tidak meninggalkan nilai kemanusiaan dan kesejahteraan bersama,” paparnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNUSIDA Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNUSIDA, menyoroti peran strategis pendidikan dalam memperkuat karakter kebangsaan. Ia menegaskan bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter peserta didik yang berintegritas.

“Pendidikan harus menjadi ruang tumbuh bagi lahirnya generasi yang cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kuat secara moral. Di sinilah nilai Aswaja dan Pancasila memiliki peran penting sebagai fondasi pendidikan karakter yang relevan dengan kebutuhan zaman,” ujarnya.

Tak hanya itu, Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I. yang mengulas hubungan antara ideologi kebangsaan dan keaswajaan dalam konteks kehidupan berbangsa. Ia menjelaskan bahwa Aswaja memiliki kesesuaian nilai dengan Pancasila, terutama dalam menjaga moderasi, toleransi, dan persatuan nasional.

“Aswaja mengajarkan sikap tawassuth, tasamuh, dan tawazun yang selaras dengan semangat Pancasila. Ketika nilai-nilai tersebut diinternalisasikan dengan baik, maka masyarakat akan memiliki daya tahan ideologis yang kuat terhadap berbagai bentuk radikalisme, ekstremisme, maupun disintegrasi bangsa,” tegasnya.

Mahasiswa Teknik Lingkungan UNUSIDA usai mengikuti Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Alun-alun Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

Manifesto Teo-Ekologis Mahasiswa Teknik Lingkungan Melawan Kolonialisme Sampah

Bagaimana mungkin kita dapat khusyuk memperingati Hari Lahir Pancasila, sementara pada saat yang sama bumi tempat kita berpijak perlahan kehilangan daya dukungnya akibat limbah yang kita hasilkan sendiri?

Setiap tanggal 1 Juni, masyarakat Indonesia kembali mengenang lahirnya dasar negara yang menjadi pemersatu bangsa. Tahun ini, tema yang diusung adalah Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia. Tema tersebut mengandung pesan luhur tentang pentingnya persatuan dan perdamaian. Namun, sebagai mahasiswa Teknik Lingkungan yang tumbuh dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), kami memandang bahwa perdamaian tidak hanya berbicara tentang hubungan antarmanusia, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan lingkungan.

Perdamaian dunia tidak akan pernah terwujud jika kita masih gagal berdamai dengan alam yang menjadi sumber kehidupan. Keadilan sosial yang menjadi cita-cita Pancasila pun tidak mungkin tercapai apabila lingkungan hidup terus mengalami kerusakan akibat perilaku manusia yang eksploitatif.

Krisis Sampah yang Mengkhawatirkan
Realitas pengelolaan sampah di Indonesia menunjukkan kondisi yang patut menjadi perhatian bersama. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah nasional mencapai puluhan juta ton setiap tahun, dengan sampah plastik menjadi salah satu penyumbang terbesar.

Persoalan tidak berhenti pada jumlah sampah yang dihasilkan, melainkan juga pada rendahnya tingkat pengelolaan yang optimal. Sebagian besar sampah masih berakhir di tempat pemrosesan akhir yang kapasitasnya semakin terbatas, mencemari sungai, laut, dan lingkungan sekitar.

Bagi masyarakat Jawa Timur, termasuk Kabupaten Sidoarjo yang berada di kawasan penyangga metropolitan Surabaya, persoalan sampah bukanlah isu yang asing. Tumpukan sampah, pencemaran badan air, hingga berkurangnya kualitas lingkungan menjadi tantangan yang nyata di hadapan kita.

Krisis ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga mencerminkan krisis kesadaran kolektif. Ketika sampah terus meningkat dan lingkungan semakin tercemar, sesungguhnya kita sedang menghadapi kegagalan dalam menjaga amanah sebagai penghuni bumi.

Pancasila dan Aswaja dalam Perspektif Ekologis
Pancasila sejatinya mengandung nilai-nilai yang sangat relevan dalam menjawab persoalan lingkungan. Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengajarkan bahwa setiap tindakan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap sesama, termasuk generasi yang akan datang. Sementara Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menegaskan pentingnya distribusi manfaat dan risiko lingkungan secara adil.

Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini pada dasarnya merupakan bentuk ketidakadilan ekologis. Generasi mendatang harus menanggung konsekuensi dari perilaku konsumtif dan pengelolaan sampah yang tidak bertanggung jawab yang dilakukan hari ini.

Dalam tradisi Aswaja An-Nahdliyah, nilai-nilai tersebut diperkuat melalui prinsip-prinsip dasar yang menjadi pedoman kehidupan. Nilai tawassuth (moderat) dan iqtishad (hemat serta proporsional) mengajarkan pentingnya menghindari perilaku berlebihan, termasuk dalam pola konsumsi yang menghasilkan banyak sampah. Sementara nilai tawazun (keseimbangan) menuntut harmonisasi hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam semesta.

Ketika seseorang membuang sampah sembarangan atau mengabaikan upaya pengurangan sampah, sesungguhnya ia sedang merusak keseimbangan yang diajarkan dalam nilai tawazun. Menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban sosial, melainkan juga bentuk pengabdian spiritual sebagai khalifah fil ardh yang diberi amanah untuk merawat bumi.

Melawan Kolonialisme Sampah
Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah apa yang dapat disebut sebagai kolonialisme sampah. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika kehidupan manusia dikendalikan oleh budaya konsumtif yang menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Kita menjadi bergantung pada produk sekali pakai, kemasan plastik berlebih, dan pola hidup instan yang secara perlahan menjajah kesadaran ekologis masyarakat.

Kolonialisme sampah tidak hadir dalam bentuk penjajahan fisik, melainkan melalui kebiasaan yang membuat manusia kehilangan kendali atas lingkungannya sendiri. Akibatnya, ruang hidup yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan berubah menjadi tempat akumulasi limbah.

Sebagai mahasiswa Teknik Lingkungan, kami percaya bahwa perlawanan terhadap kolonialisme sampah harus dilakukan melalui pendekatan ilmiah sekaligus moral. Pengembangan teknologi pengelolaan limbah, penerapan ekonomi sirkular, peningkatan budaya daur ulang, serta edukasi lingkungan harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai Pancasila dan Aswaja.

Persatuan untuk Keadilan Ekologis
Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momentum untuk memperluas makna persatuan bangsa. Persatuan tidak hanya diwujudkan melalui slogan dan seremoni, tetapi juga melalui gotong royong menjaga lingkungan hidup.

Di hadapan ancaman krisis iklim, pencemaran mikroplastik, dan menurunnya kualitas lingkungan, seluruh elemen masyarakat memiliki nasib yang sama. Perbedaan suku, agama, golongan, maupun latar belakang sosial menjadi tidak relevan ketika kualitas udara yang kita hirup, air yang kita minum, dan tanah yang kita pijak mengalami kerusakan.

Karena itu, menjaga lingkungan adalah bentuk nyata pengamalan Pancasila di abad ke-21. Bumi bukan warisan yang dapat dieksploitasi tanpa batas, melainkan titipan yang harus dijaga untuk generasi berikutnya.

Selamat Hari Lahir Pancasila. Mari bersatu melawan kolonialisme sampah, merawat bumi sebagai rumah bersama, dan menegakkan keadilan ekologis demi Indonesia yang berkelanjutan. Sebab, mencintai lingkungan bukan sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab kebangsaan dan kemanusiaan.

Penulis: Muchammad Waziruddin