FAI UNUSIDA Gelar Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran, Perkuat Kurikulum Cinta dan Pendekatan Mutakhir
SIDOARJO – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran sebagai upaya meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran di lingkungan fakultas. Kegiatan ini dilaksanakan di Hall Kampus 2 Gedung A UNUSIDA, Senin (27/4/2026).
Workshop ini mendatangkan narasumber Dosen Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Angga Fitriyono, S.Pd., M.Pd., yang diharapkan mampu melengkapi bekal para mahasiswa sebelum diterjunkan ke sekolah nantinya.
Ketua Pelaksana, Dr. H. Rangga Sa’adillah, S.A.P., M.Pd.I., dalam sambutannya menegaskan pentingnya menggunakan metode yang tepat dan mutakhir dalam menyusun perangkat pembelajaran. Menurutnya, penyusunan perangkat tidak cukup hanya administratif, tetapi harus mampu menjawab kebutuhan zaman dan karakter peserta didik.
“Kita harus menggunakan cara yang tepat dan mutakhir. Kurikulum cinta yang tadi disebutkan semoga bisa kita nikmati bersama dalam workshop ini, dan mudah-mudahan semakin menambah ilmu yang bermanfaat bagi kita semua,” ujarnya.
Sementara itu, Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I., menekankan bahwa kurikulum merupakan sesuatu yang dinamis dan tidak pernah benar-benar selesai. Ia menyebut adanya dialektika dalam pengembangan kurikulum yang menuntut evaluasi dan penyempurnaan secara berkala.
Ia juga menyoroti Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang dirilis pada 24 Juli 2025, namun hingga kini belum tersosialisasikan secara masif kepada seluruh pemangku kepentingan, termasuk mahasiswa angkatan sebelumnya. Oleh karena itu, workshop ini dinilai menjadi momentum strategis untuk mereview, mengingat kembali, serta menyempurnakan mata kuliah dan perangkat pembelajaran yang telah berjalan.
Menurutnya, implementasi kurikulum cinta bukan perkara mudah. Guru dituntut untuk menghadirkan pembelajaran yang adil, penuh kasih sayang, dan konsisten dalam memperlakukan peserta didik. Dengan perangkat pembelajaran yang terstruktur dan berlandaskan nilai kasih sayang, FAI UNUSIDA optimistis mampu melahirkan pendidik profesional yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.
“Kita bisa membayangkan betapa sulitnya mengajar dengan cinta. Anak-anak sangat peka terhadap perlakuan guru. Ketika ada ketidakadilan, sekecil apa pun, mereka akan mengingatnya. Maka senyum yang tulus, sikap yang adil, dan kesabaran menjadi kunci,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa menjadi pendidik bukan sekadar mentransfer ilmu, tetapi juga membangun karakter serta menghadirkan keteladanan. Guru diharapkan terus belajar, tidak pernah merasa berhenti menjadi murid, dan senantiasa memperbaiki diri dalam proses pembelajaran.
“Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam penguatan kurikulum berbasis nilai, khususnya implementasi Kurikulum Cinta yang tengah dikembangkan. Mari berkomitmen bersama untuk menjadikan pembelajaran sebagai ladang pengabdian yang penuh makna dan keberkahan,” pungkasnya.


