Pos

Prodi PGMI UNUSIDA Gelar Pelatihan Perencanaan Pembelajaran Mendalam Berbasis Cinta (Foto: Humas UNUSIDA)

Prodi PGMI UNUSIDA Gelar Pelatihan Perencanaan Pembelajaran Mendalam Berbasis Cinta

SIDOARJO – Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Pelatihan Perencanaan Pembelajaran Mendalam (PPM) Kurikulum Berbasis Cinta dengan tema ‘Merancang Pembelajaran Mendalam yang Memanusiakan Peserta Didik Melalui Kurikulum Berbasis Cinta’. Kegiatan ini berlangsung di Hall Lantai 5 Gedung A Kampus 2 UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Rabu (4/2/2026).

Pelatihan ini menghadirkan narasumber Fithriyah Mulyasari, M.Pd., Kepala SDN Klurak, Sidoarjo, dan diikuti oleh mahasiswa semester 6 PGMI sebagai bekal persiapan menghadapi Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) serta Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Kepala Prodi PGMI UNUSIDA, Moh. Anang Abidin, S.H.I., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian penting dalam menyiapkan mahasiswa sebagai calon guru profesional yang relevan dengan perkembangan zaman.

“Pelatihan ini kami rancang khusus untuk mahasiswa semester 6 sebagai bekal sebelum mereka memasuki semester 7 yang di dalamnya terdapat PLP dan KKN. Fokus kami adalah menyiapkan calon guru yang tidak hanya mumpuni secara pedagogis, tetapi juga mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna, mendalam, dan berlandaskan nilai-nilai cinta,” ujarnya.

Ia menambahkan, melalui pendekatan deep learning dan Kurikulum Berbasis Cinta, mahasiswa dibimbing mulai dari tahap awal hingga akhir perencanaan pembelajaran. Output dari kegiatan ini berupa produk perencanaan pembelajaran yang siap diterapkan di lapangan.

Melalui kegiatan ini, ia menegaskan komitmennya dalam mencetak calon guru madrasah ibtidaiyah yang profesional, berkarakter, serta mampu menghadirkan pembelajaran yang memanusiakan peserta didik sesuai semangat Kurikulum Berbasis Cinta.

“Mahasiswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga menghasilkan produk RPP pembelajaran mendalam yang kontekstual dan aplikatif. Ini menjadi bekal konkret saat mereka terjun ke sekolah,” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Rektor II UNUSIDA, Dr. Ana Christanti, S.Pd., M.Pd., menekankan pentingnya pembentukan karakter dan keteladanan mahasiswa sebagai calon pendidik. Menurutnya, menjadi guru bukan sekadar soal mengajar, tetapi juga memberi contoh sikap dan akhlak.

“Seorang guru pertama-tama dinilai dari perilakunya. Keteladanan itu sangat penting, baik sebagai guru di sekolah maupun sebagai guru di rumah kelak. Mahasiswa PGMI harus menunjukkan akhlak yang baik kepada Allah, Rasul, dan Al-Qur’an, termasuk menghormati saat pembacaan Al-Qur’an berlangsung,” pesannya.

Ia juga mengingatkan pentingnya kedisiplinan, kemampuan mendengar, serta sikap saling menghargai dalam forum pembelajaran sebagai bekal menghadapi dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.

Pelatihan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor II UNUSIDA dengan harapan seluruh materi yang disampaikan dapat diserap secara optimal oleh mahasiswa dan menjadi bekal nyata dalam pelaksanaan PLP maupun KKN mendatang.

Rutinan Bulanan HIMA PGMI UNUSIDA (Foto: Putri Hidayati/Humas UNUSIDA)

Rutinan Bulanan HIMA PGMI UNUSIDA, Perkuat Ukhuwah dan Spiritualitas Mahasiswa

SIDOARJO — Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (HIMA PGMI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) secara konsisten menyelenggarakan Rutinan Bulanan sebagai kegiatan keagamaan yang dilaksanakan secara berkala setiap bulan. Kegiatan ini menjadi salah satu program unggulan HIMA PGMI dalam upaya mempererat ukhuwah antaranggota sekaligus meningkatkan kualitas spiritual mahasiswa Program Studi PGMI.

Ketua HIMA PGMI UNUSIDA, Nurul Eka menyampaikan bahwa rutinan bulanan ini tidak hanya berorientasi pada aspek ritual semata, tetapi juga memiliki nilai pembentukan karakter. Mahasiswa diajak untuk menumbuhkan kesadaran spiritual agar mampu menjalani kehidupan kampus dengan penuh tanggung jawab, disiplin, dan keikhlasan.

“Dengan fondasi spiritual yang kuat, semoga kami sebagai mahasiswa mampu menghadapi tantangan akademik maupun organisasi dengan sikap yang lebih tenang dan bijaksana,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Jum’at (9/1/2026).

Selain itu, ia menyebutkan bahwa rutinan ini juga menjadi sarana ibadah, kegiatan ini juga menjadi wadah refleksi diri bagi mahasiswa. Melalui kebersamaan dalam doa dan dzikir, ia berharap mampu menyeimbangkan antara tuntutan akademik, aktivitas organisasi, dan kehidupan spiritual. Keseimbangan tersebut dinilai penting untuk membentuk pribadi mahasiswa yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia.

Rutinan bulanan ini diisi dengan istighotsah bersama ini dilaksanakan dengan penuh khidmat dan kekhusyukan. Melalui istighotsah, mahasiswa memanjatkan doa dan ikhtiar batin kepada Allah SWT untuk memohon ampunan, ketenangan hati, kemudahan dalam menuntut ilmu, serta keberkahan dalam setiap aktivitas akademik maupun organisasi yang dijalani.

“Kegiatan ini juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT di tengah padatnya aktivitas perkuliahan. Juga menjadi momentum dalam memperkuat solidaritas antar sesama,” harapnya.

Rutinan Bulanan HIMA PGMI menjadi bukti komitmen mahasiswa PGMI dalam menjaga nilai-nilai religius di lingkungan kampus. Dengan istiqamah melaksanakan kegiatan ini, HIMA PGMI berharap dapat mencetak generasi pendidik madrasah ibtidaiyah yang beriman, berilmu, dan berakhlakul karimah, serta siap mengabdikan diri kepada masyarakat dan bangsa.

“Alhamdulillah, semoga kegiatan ini dapat istiqamah dan memiliki manfaat dalam menunjang semangat dalam berkuliah,” pungkasnya.

Penulis: Putri Hidayati

Webinar Nasional “Aswaja di Dunia Digital” PGMI UNUSIDA (Foto: Istimewa)

PGMI UNUSIDA Inisiasi Gelar Webinar Nasional Aswaja di Dunia Digital, Meneguhkan Adab Bermedia Sosial

SIDOARJO — Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat menuntut generasi muda untuk tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga matang secara etika dan adab. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) bersama Pimpinan Ranting (PR) GP Ansor Banjarasri  menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk ‘Aswaja di Dunia Digital: Adab Bermedsos Menurut Ulama Aswaja’ dengan semangat tagline #AswajaDiDuniaDigital.

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Ahad (21/12/2025) lalu ini menjadi bagian dari upaya edukatif sekaligus pemenuhan tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Aswaja. Webinar ini bertujuan membekali generasi muda dengan pemahaman mendalam tentang bagaimana bermedia sosial secara bijak, beradab, dan selaras dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).

Webinar nasional ini menghadirkan pemateri eksklusif H. M. Arisy Karomy, S.T., M.Pd.I., (Gus Arisy) Pengasuh Pondok Pesantren Al-Kholil Jetis Sidoarjo sekaligus Dosen PGMI UNUSIDA. Selain itu, turut hadir sebagai pembicara utama Moh. Anang Abidin, M.Pd., selaku Ketua Program Studi PGMI Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).

Dalam pemaparannya, Gus Arisy menekankan bahwa media sosial tidak boleh dipandang semata sebagai ruang hiburan tanpa batas. Bermedia sosial, menurut perspektif ulama Aswaja, memiliki berbagai dimensi, antara lain sebagai sarana hiburan, gaya hidup, kebutuhan, ibadah, hingga alat perjuangan dan dakwah. Oleh karena itu, setiap aktivitas digital harus dilandasi niat yang benar serta adab yang terjaga.

“Saya harap nilai-nilai Aswaja dapat terus hidup dan relevan di tengah arus digitalisasi, serta menjadi pedoman etis bagi generasi muda dalam bermedia sosial secara cerdas, santun, dan bertanggung jawab,” harapnya.

Lebih lanjut, Gus Arisy menjelaskan bahwa terdapat sejumlah prinsip penting yang harus diperhatikan dalam bermedia sosial, seperti ghadhul bashar (menjaga pandangan), menjaga aurat, menghindari riya’, serta menjaga privasi diri dan orang lain. Media sosial juga diingatkan dapat menjadi ladang amal jariyah, namun sebaliknya dapat pula berpotensi menjadi dosa jariyah apabila disalahgunakan.

“Mari menjadikan media sosial sebagai sarana dakwah, mempererat silaturahmi, serta menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat digital. Bermedia sosial bukan hanya tentang eksistensi, tetapi tentang tanggung jawab moral dan spiritual,” tuturnya.

Tampak antusiasme peserta terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai lebih dari 130 orang, berasal dari berbagai perguruan tinggi dan kalangan umum. Mayoritas peserta merupakan mahasiswa PGMI UNUSIDA, disusul peserta dari Surabaya serta masyarakat umum. Selain memperoleh wawasan baru, peserta juga mendapatkan ruang diskusi interaktif serta kesempatan memperluas jejaring dalam memahami praktik bermedia sosial ala ulama Aswaja.

FAI UNUSIDA Gelar Webinar Internasional: “Komparasi Pendidikan Anak Lintas Negara Mesir–Indonesia” (Foto: Istimewa)

FAI UNUSIDA Gelar Webinar Internasional: Komparasi Pendidikan Anak Lintas Negara Mesir–Indonesia

SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring akademik global melalui penyelenggaraan Webinar Internasional bertema ‘Komparasi Pendidikan Anak Lintas Negara: Mesir–Indonesia’, yang digelar pada Jumat (10/10/2025) secara daring melalui platform Zoom Meeting.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber inspiratif lintas negara, yakni LikLik Siti Anisa, S.Pd.I., Kepala TK NU Ar-Raudhah Mesir, sekaligus praktisi pendidikan Islam di Kairo, Mesir dan Moh. Anang Abidin, S.H.I., M.Pd., Ketua Program Studi PGMI UNUSIDA, yang juga merupakan dosen dan peneliti bidang pendidikan dasar Islam.

Webinar ini membahas secara mendalam perbandingan sistem dan praktik pendidikan anak antara Mesir dan Indonesia, baik dari sisi filosofi pendidikan, metode pembelajaran, maupun nilai-nilai keislaman yang menjadi dasar pengembangannya.

Dalam sambutannya, Rektor UNUSIDA, Dr. H. Fatkul Anam, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis dan relevan di tengah dinamika global pendidikan Islam dewasa ini.

“Mesir dikenal sebagai salah satu pusat peradaban dan pendidikan Islam dunia, terutama melalui Universitas Al-Azhar yang telah melahirkan banyak ulama dan pemikir besar sepanjang sejarah. Sementara itu, Indonesia dengan kekayaan budaya serta nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah terus berupaya menghadirkan sistem pendidikan yang moderat, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” terangnya.

Lebih lanjut, Rektor menegaskan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu menjadi wadah saling belajar dan berbagi pengalaman lintas negara.

“Melalui webinar ini, kita ingin melihat bagaimana kedua negara memaknai dan mengimplementasikan pendidikan anak berbasis nilai-nilai keselamatan dan kemanusiaan universal. Pengalaman lintas negara dapat menjadi inspirasi dalam membangun model pendidikan Islam yang holistik, berkarakter, dan berdaya saing global,” imbuhnya.

Ia juga menegaskan bahwa FAI UNUSIDA terus berkomitmen mengembangkan kegiatan internasional sebagai bentuk nyata implementasi visi universitas, yaitu menjadi Universitas unggul berkarakter Aswaja dan berdaya saing nasional pada tahun 2029.

“Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, narasumber, dan peserta. Semoga diskusi dan pertukaran gagasan hari ini membawa manfaat besar bagi pengembangan pendidikan Islam. Semoga Allah SWT meneguhkan hikmah keilmuan dan pendidikan Islam yang membawa keselamatan bagi umat,” ungkapnya.

Sementara itu, LikLik Siti Anisa dalam pemaparannya mengangkat topik menarik mengenai kesamaan budaya, sosial, dan pendidikan antara Indonesia dan Mesir, berdasarkan pengalamannya menetap dan mengajar di Kairo. Ia menjelaskan bahwa kedua negara memiliki kedekatan historis dan kultural yang kuat, terutama dalam hal nilai keagamaan, karakter sosial, dan tradisi keilmuan.

“Baik Indonesia maupun Mesir sama-sama dikenal sebagai bangsa religius yang menjunjung tinggi nilai gotong royong dan semangat belajar sepanjang hayat. Keduanya memiliki sistem pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter dan akhlak anak,” tutur LikLik dalam sesi presentasinya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa dalam konteks sosial, kedua negara memiliki populasi mayoritas Muslim dengan masyarakat yang majemuk dan terbuka. Hal ini menjadikan lembaga pendidikan di kedua negara tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar akademik, tetapi juga wadah pembentukan nilai moral dan spiritual.

Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya pendidikan karakter anak sejak dini. Di Mesir, proses pendidikan di taman kanak-kanak tidak hanya berfokus pada kemampuan kognitif, tetapi juga pada penanaman nilai disiplin, spiritualitas, dan kemandirian, nilai yang juga sejalan dengan tradisi pendidikan Islam di Indonesia.

Kegiatan ini berlangsung dinamis dan interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta yang berasal dari berbagai kalangan akademisi, mahasiswa, dan praktisi pendidikan. Diskusi mencakup berbagai aspek mulai dari metode pembelajaran anak usia dini, pendekatan karakter berbasis nilai Islam, hingga perbandingan struktur kurikulum antara kedua negara.

Dengan terselenggaranya Webinar Internasional ini, FAI UNUSIDA menegaskan perannya sebagai garda terdepan dalam memperluas wawasan global mahasiswa, memperkuat jejaring internasional, serta membangun tradisi akademik yang berorientasi pada keilmuan, kemanusiaan, dan nilai Aswaja An-Nahdliyah. (MY)