Jelang RAKER UNUSIDA, Mari Mewujudkan Mimpi Besar Mulai dari Hal Kecil
Setiap institusi besar tidak lahir dari keajaiban semalam. Ia tumbuh dari sebuah mimpi besar (grand vision) yang dirawat dengan ketekunan, kesabaran, dan konsistensi. Menjelang Rapat Kerja (RAKER) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) di Utama Raya Paiton, Situbondo, pada 15–16 Januari 2026 mendatang. Sudah saatnya kita melakukan pergeseran paradigma: kejayaan universitas tidak dibangun dengan mengejar apa yang belum dimiliki, melainkan dengan mengoptimalkan apa yang sudah ada di tangan.
Mewujudkan mimpi besar tidak selalu dimulai dengan langkah raksasa yang menggelegar. Ia justru bermula dari keberanian menekuni hal-hal kecil yang kerap luput dari perhatian. Seperti pohon beringin yang kokoh, ia tidak serta-merta menjulang ke langit, tetapi berawal dari sebutir benih yang sabar menguatkan akar di dalam tanah. Begitu pula UNUSIDA, mimpi menjadi mercusuar peradaban dibangun dari disiplin administratif, ketulusan pelayanan, dan integritas akademik yang dilakukan setiap hari.
Dalam strategi modern, kita sering terjebak pada obsesi lompatan besar, padahal fondasi kuat lahir dari perbaikan kecil yang konsisten. James Clear dalam Atomic Habits menyebutkan bahwa kesuksesan adalah akumulasi dari perbaikan kecil sebesar satu persen yang dilakukan terus-menerus. Jika setiap unit kerja di UNUSIDA melakukan peningkatan kualitas kecil setiap hari, maka efek bola salju akan tercipta dan mengubah wajah institusi secara signifikan.
Pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) mengajarkan kita untuk tidak terus-menerus memandang kekurangan. Dalam tradisi NU, kita diajarkan untuk qana’ah namun tetap memiliki himmah yang tinggi. UNUSIDA memiliki modal sosial besar berupa kepercayaan jamaah Nahdliyin. Raker ini semestinya menjadi ruang audit talenta, tempat mengonversi keahlian dosen, jejaring kiai, dan potensi mahasiswa menjadi kekuatan akademik dan sosial yang berdampak luas.
Membangun mimpi besar sejatinya adalah membangun sistem melalui kebiasaan. Dalam nafas pesantren, inilah yang disebut istiqamah. Konsistensi dalam hal kecil—ketepatan waktu, kerapian administrasi, dan kualitas pelayanan adalah karomah organisasi. Peter Senge dalam The Fifth Discipline mengingatkan bahaya bekerja dalam sekat-sekat. Dalam tradisi NU, kita mengenalnya sebagai pentingnya silaturahmi dan sinergi.
Menggerakkan organisasi bukan semata soal instruksi, melainkan inspirasi khidmah. Sebagaimana Fiqih Sosial KH. Sahal Mahfudh, setiap kerja harus bermuara pada kemaslahatan. Jika setiap sivitas akademika memaknai tugas kecilnya sebagai bentuk pengabdian kepada NU dan ilmu pengetahuan, maka energi besar akan lahir secara alami.
Mimpi besar UNUSIDA bukan utopia. Ia akan menjadi nyata jika kita setia pada hal-hal kecil yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Mari jadikan Raker 15–16 Januari 2026 mendatang sebagai momentum menyatukan niat khidmah. Sebab, besar adalah akumulasi dari yang kecil, dan hebat adalah kristalisasi dari yang konsisten.
Oleh: Achmad Wahyudi (Kepala UPT PMB UNUSIDA)






