Pos

Ketua PCNU Sidoarjo, KH Zainal Abidin saat menyampaikan sambutan dalam Wisuda ke-10 UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

KH Zainal Abidin: Sarjana UNUSIDA Harus Bawa Ilmu dan Iman ke Tengah Masyarakat

SURABAYA — Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo, KH Zainal Abidin, menyampaikan pesan kepada para wisudawan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) agar menjadikan iman dan ilmu sebagai bekal utama ketika kembali ke tengah masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan dalam Wisuda ke-10 UNUSIDA yang digelar di Dyandra Convention Center Surabaya, Ahad (20/9/2026). Di hadapan para wisudawan, KH Zainal Abidin menegaskan bahwa gelar sarjana membawa tanggung jawab untuk memberikan manfaat dan turut membangun kesejahteraan masyarakat.

“Anak-anakku yang hari ini diwisuda juga mempunyai tugas berat. Kes arjanaan Anda ke tengah-tengah masyarakat, sajikan kesejahteraan Anda di tengah masyarakat,” tuturnya.

Menurutnya, iman menjadi fondasi penting bagi seorang sarjana dalam menjalani kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan. Iman tersebut, kata dia, harus tercermin melalui akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Ia meyakini selama menempuh pendidikan di UNUSIDA, para mahasiswa telah mendapatkan penguatan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan akhlakul karimah. Pembelajaran keagamaan, budaya yang dibangun di lingkungan kampus, serta keberadaan masjid dan ruang-ruang pembinaan rohani dinilai menjadi bagian dari proses tersebut.

“Iman terpancar dalam sebuah akhlak. Di UNUSIDA saya yakin sudah dibangun akhlakul karimah. Materi-materi Ahlussunnah wal Jamaah sudah diajarkan sekian semester, nilai-nilai akhlak sudah disampaikan,” jelasnya.

Selain iman, Kiai Zainal menekankan pentingnya ilmu. Menurutnya, ilmu yang diperoleh selama berada di bangku perkuliahan harus terus dipegang dan dikembangkan agar dapat memberikan manfaat di tengah masyarakat.

“Ketika kita punya bekal ilmu yang cukup, pastilah Allah mengangkat derajat kita sekalian. Dengan dua bekal, iman dan ilmu, itulah yang nanti menjadikan Anda tidak boleh ragu, tidak boleh gampang dan tidak boleh takut menghadapi situasi dan kondisi yang hari ini menjadi tantangan kita,” pesannya.

Ia juga mengingatkan para wisudawan agar tidak khawatir menghadapi masa depan. Menurutnya, setiap manusia telah memiliki jalan kehidupan masing-masing, sementara tugas seorang sarjana adalah terus berikhtiar dan berusaha meraih kesempatan yang tersedia.

“Allah sudah menyiapkan pekerjaan kepada Anda. Tinggal Anda bagaimana berikhtiar dan mengejar pekerjaan itu untuk membangun kesejahteraan,” ujarnya.

Kiai Zainal berharap para lulusan UNUSIDA mampu menjadi alumni yang membawa kebermanfaatan bagi masyarakat. Ilmu yang diperoleh selama kuliah diharapkan tidak berhenti pada gelar akademik, tetapi diwujudkan dalam pengabdian nyata.

“Mudah-mudahan anak-anakku menjadi alumni UNUSIDA yang benar-benar manfaat ilmunya, benar-benar barokah ilmunya, dan bisa dibawa di tengah-tengah masyarakat,” harapnya.

Dalam kesempatan tersebut, KH Zainal Abidin juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran rektorat, dosen, dan seluruh pihak yang selama ini berkontribusi dalam membangun UNUSIDA. Ia menilai pengabdian para dosen tidak semata-mata diukur dari aspek materi, tetapi juga dari semangat mereka dalam mendidik dan membimbing mahasiswa.

“Terima kasih kepada jajaran rektorat, para dosen yang mungkin honornya tidak terlalu tinggi, tetapi yang tinggi adalah semangatnya. Maknai bahwa mengajar itu sudah tidak hanya sekadar mencari honor, tidak hanya sekadar mencari pendapatan, tetapi di sana tempat berkhidmah,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Kiai Zainal mendoakan seluruh keluarga besar UNUSIDA agar senantiasa diberikan keberkahan, kesehatan, serta kemudahan dalam menjalankan pengabdian. Ia mengajak para wisudawan untuk membawa semangat iman dan ilmu dalam perjalanan kehidupan setelah kampus.

“Keimanan yang ditanamkan dan ilmu yang Anda peroleh dari UNUSIDA pegang teguh. Karena di situlah tempat dibangunnya derajat yang dijanjikan oleh Allah SWT. Ketika kita punya iman, ketika kita punya ilmu, maka masyarakat akan menghargai kita sekalian,” pungkasnya.

Suasana Wisuda Program Sarjana ke-X di Dyandra Convention Center Surabaya. (Foto: Humas UNUSIDA)

Wisuda ke-10 UNUSIDA, 497 Lulusan Siap Melanjutkan Khidmat di Masyarakat

SURABAYA — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Wisuda Program Sarjana ke-X di Dyandra Convention Center Surabaya, Ahad (20/9/2026). Sebanyak 497 wisudawan dan wisudawati dari lima fakultas mengikuti prosesi wisuda dengan penuh khidmat.

Ke-497 lulusan tersebut berasal dari Fakultas Agama Islam (FAI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Ekonomi (FE), Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), dan Fakultas Teknik (FT).

Dalam sambutannya, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, menyampaikan bahwa UNUSIDA masih berada dalam usia yang relatif muda dan menghadapi berbagai keterbatasan serta kekurangan. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi alasan bagi perguruan tinggi di bawah naungan Nahdlatul Ulama tersebut untuk berhenti berprestasi.

“Usia muda bukanlah alasan untuk tidak berprestasi. Berbagai langkah inovasi telah dan sedang dijalankan untuk meningkatkan mutu pelayanan dan mendorong semangat prestasi di semua bidang,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kerukunan, kebersamaan, dan keharmonisan dengan para ulama serta Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Sidoarjo. Menurutnya, sinergi tersebut menjadi modal penting bagi UNUSIDA untuk terus tumbuh menjadi perguruan tinggi yang lebih besar, sehat, kuat, dan unggul.

Di tengah proses pengembangan tersebut, UNUSIDA telah menorehkan sejumlah prestasi, baik pada tingkat kelembagaan maupun bidang kemahasiswaan.

Salah satunya melalui penghargaan dalam Kongres Pendidikan Besar Nahdlatul Ulama 2025 dengan kategori Winner Pengabdian kepada Masyarakat. Penghargaan tersebut diraih melalui kajian mengenai pemahaman orang tua tentang substansi pendidikan dengan wilayah studi kasus Sidoarjo dan Sumenep, Madura.

Selain itu, sivitas akademika UNUSIDA terus didorong untuk menghasilkan karya dan prestasi dalam berbagai bidang, termasuk penulisan ilmiah serta kompetisi di tingkat nasional maupun internasional.

Dorong Kemandirian Finansial

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hadi juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan yang terus berkomitmen membangun UNUSIDA. Menurutnya, semangat membangun kampus juga diarahkan pada upaya memperkuat kemandirian finansial universitas melalui pengembangan berbagai program produktif.

Salah satunya melalui UNUSIDA Training Center yang telah dipercaya menyelenggarakan berbagai pelatihan berskala nasional. Program tersebut mencakup pelatihan dan sertifikasi dengan peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

UNUSIDA juga terus mengembangkan produk pengetahuan dan layanan profesional dalam bidang manajemen, tata kelola kelembagaan, pengelolaan keuangan, serta pengembangan sumber daya manusia untuk organisasi, UMKM, pesantren, masjid, sekolah, perguruan tinggi, dan berbagai lembaga lainnya.

Selain itu, universitas mengembangkan budidaya tambak sebagai salah satu potensi ekonomi produktif. Pelatihan dan praktik manasik bagi masyarakat, khususnya siswa-siswi RA Muslimat Nahdlatul Ulama, juga menjadi bagian dari pengembangan layanan UNUSIDA kepada masyarakat.

“Jajaran pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo memberikan dukungan, pembinaan, dan bimbingan kepada kami. Itu semua menjadi penyemangat bagi kami dalam bekerja dan membangun universitas ini,” jelasnya.

Pesan untuk Para Wisudawan

Lebih lanjut, Dr. Hadi mengingatkan bahwa prosesi wisuda bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan. Gelar akademik yang diperoleh diharapkan menjadi bekal bagi para lulusan untuk terus berkarya dan memberikan manfaat di tengah masyarakat. Ia mengajak seluruh keluarga besar UNUSIDA untuk terus menjaga kebersamaan dalam membangun kampus.

“Jadikan momentum ini untuk melanjutkan perjalanan menuju dunia profesional, pengabdian, dan kehidupan bermasyarakat dengan membawa ilmu serta pengalaman yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UNUSIDA,” pesannya.

Penandatanganan MoU oleh Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, dan Ketua Bawaslu Kabupaten Sidoarjo, Agung Nugraha. (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Perkuat Pendidikan Demokrasi melalui Kerja Sama dengan Bawaslu Sidoarjo

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) memperkuat komitmennya dalam mendukung pendidikan demokrasi dan literasi politik masyarakat melalui kerja sama dengan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Sidoarjo. Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Ruang Pertemuan Gedung B, Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Kamis (17/9/2026).

MoU ditandatangani oleh Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, dan Ketua Bawaslu Kabupaten Sidoarjo, Agung Nugraha. Kerja sama ini membuka ruang kolaborasi kedua lembaga dalam pengembangan pendidikan kepemiluan, pendidikan demokrasi, serta pengawasan partisipatif yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat.

Bagi UNUSIDA, kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya melalui pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Lingkungan perguruan tinggi dipandang memiliki ruang strategis untuk membangun sikap kritis mahasiswa sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai demokrasi dan kepemiluan.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, menyampaikan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan Bawaslu dapat menghadirkan ruang pembelajaran yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa.

“Kemitraan ini membuka ruang bagi kedua lembaga untuk mengembangkan berbagai kegiatan kepemiluan yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat, sekaligus memperkuat pemahaman serta partisipasi dalam pengawasan pemilu,” ujar Hadi.

Menurutnya, pendidikan politik menjadi salah satu bagian penting dalam membangun masyarakat yang memiliki pemahaman memadai terhadap proses demokrasi. Karena itu, perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui kegiatan akademik maupun pengabdian yang berkaitan dengan isu kepemiluan.

Ia menambahkan, masyarakat perlu mendapatkan ruang untuk memahami proses pemilu secara kritis, termasuk kemampuan menyaring informasi dan memahami pentingnya integritas dalam penyelenggaraan pemilu.

“Kolaborasi antara lembaga pendidikan dengan Bawaslu sangat diperlukan dalam rangka bersama-sama melaksanakan pendidikan politik kepada masyarakat. Masyarakat perlu dididik agar kritis terhadap penyelenggaraan pemilu, menjadi pemilih yang cerdas, tidak mudah termakan hoaks, serta memiliki sikap untuk menolak politik uang,” jelasnya.

Kerja sama UNUSIDA dan Bawaslu Sidoarjo juga diarahkan untuk memperluas pengalaman mahasiswa dalam memahami persoalan kepemiluan. Sejumlah kegiatan yang dapat dikembangkan antara lain kuliah tamu, pendampingan Pemilu Raya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), KKN Tematik, serta program magang.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, mahasiswa dapat memperoleh kesempatan untuk belajar, berdiskusi, sekaligus memahami praktik kepemiluan dan pengawasan partisipatif secara lebih dekat. Bagi UNUSIDA, ruang pembelajaran semacam ini juga menjadi bagian dari upaya menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan yang berkembang di masyarakat.

Kolaborasi tersebut sekaligus memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, serta kepedulian terhadap persoalan publik.

Ketua Bawaslu Kabupaten Sidoarjo Agung Nugraha menyampaikan bahwa pengawasan pemilu membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk perguruan tinggi. Menurutnya, kampus dapat menjadi ruang strategis untuk memperluas pemahaman kepemiluan sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam pengawasan partisipatif.

Agung juga menyebut sinergi dengan kalangan akademisi UNUSIDA dapat menjadi ruang pembelajaran praktis bagi mahasiswa, termasuk melalui KKN Tematik dan program magang.

Kerja sama tersebut hadir di tengah berbagai upaya Bawaslu Sidoarjo memperluas pendidikan demokrasi dan partisipasi masyarakat. Pada September 2026, Bawaslu Sidoarjo juga menjalankan kegiatan seperti Bawaslu Goes to School dan #KODESEPEKAN sebagai ruang dialog dan penguatan pemahaman demokrasi.

Melalui MoU tersebut, UNUSIDA berkomitmen menjadikan kampus sebagai ruang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan kompetensi akademik, tetapi juga mendorong mahasiswa memahami persoalan publik dan mengambil bagian dalam kegiatan kemasyarakatan secara bertanggung jawab.

Sinergi dengan Bawaslu Sidoarjo diharapkan dapat menghadirkan berbagai program yang memberikan manfaat bagi mahasiswa sekaligus masyarakat. Penguatan literasi politik, pendidikan demokrasi, dan pengawasan partisipatif menjadi ruang kolaborasi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

“Dengan kolaborasi ini, mari bersama terus mendorong terwujudnya pendidikan yang berdampak, melalui pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan masyarakat sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam membangun kesadaran demokrasi di Kabupaten Sidoarjo,” pungkasnya.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto saat menyampaikan sambutan dalam Pembukaan KARISMA FAI 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

Plt Rektor Ajak Mahasiswa Baru FAI UNUSIDA Aktif Berkarya dan Bangun Narasi Positif tentang Islam

SIDOARJO — Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto, mengajak mahasiswa baru Fakultas Agama Islam (FAI) untuk tidak sekadar menjalani perkuliahan, tetapi aktif mengembangkan potensi, memperluas pengalaman, serta berani membangun narasi positif tentang Islam di tengah masyarakat.

Di hadapan mahasiswa baru, ia membagikan perjalanan pendidikan dan kariernya sebagai contoh bahwa latar belakang pendidikan tidak menjadi batas untuk berkembang selama seseorang memiliki kemauan untuk belajar dan terus berusaha.

Dr. Hadi menceritakan bahwa dirinya merupakan lulusan Sarjana Hukum Islam. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia sempat berdoa agar segera mendapatkan pekerjaan. Perjalanan tersebut kemudian membawanya pada pengalaman menjadi pendidik dan berbagai kesempatan pengembangan profesional.

Ia mengisahkan salah satu pengalaman ketika mendapatkan kesempatan mengajar. Saat itu, dirinya menghadapi tantangan karena harus menguasai materi pembelajaran dan berhadapan dengan banyak peserta didik. Kondisi tersebut justru membuatnya terdorong untuk belajar lebih keras.

“Bukunya banyak, maka buku itu harus saya kuasai. Saya baca berkali-kali. Setelah saya mampu, baru saya masuk kelas,” tuturnya saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan kegiatan Kajian, Orientasi, dan Silaturahmi Mahasiswa (KARISMA) FAI UNUSIDA 2026, Rabu (16/9/2026).

Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bahwa kemampuan tidak hadir secara instan. Seseorang harus mau berproses, belajar, berlatih, dan menghadapi tantangan secara langsung.

Perjalanan tersebut kemudian membawanya memperoleh berbagai pengalaman profesional dan kesempatan mengikuti program pengembangan pendidikan. Bagi Dr. Hadi, setiap kesempatan yang datang harus dimanfaatkan sebagai ruang untuk belajar dan meningkatkan kapasitas diri.

Jangan Diam, Bangun Narasi tentang Islam

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hadi juga menekankan pentingnya mahasiswa FAI memiliki keberanian untuk menyampaikan narasi positif tentang Islam dan pendidikan Islam kepada masyarakat.

Ia menggunakan kisah tentang kuliner Indonesia sebagai ilustrasi mengenai pentingnya narasi. Menurutnya, sesuatu yang memiliki nilai dan berasal dari Indonesia dapat dikenal secara berbeda ketika narasi yang dibangun tidak cukup kuat.

“Jangan diam saja, nanti seperti rawon. Jelas-jelas berasal dari Indonesia, tetapi kalau narasinya tidak dibangun, bisa saja orang lain yang lebih dulu dikenal,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa mahasiswa FAI memiliki peran untuk memperkenalkan nilai-nilai Islam secara lebih luas. Kebanggaan terhadap agama, menurutnya, tidak cukup hanya disimpan dalam diri, tetapi perlu diwujudkan melalui dakwah, karya, tulisan, maupun pemanfaatan media sosial.

“Sekarang tugas kita bersama, ceritakan. Jangan malu-malu, bangga dengan agama Islam. Bangga itu tidak cukup, tetapi bagaimana kita menyampaikan dan mendakwahkannya,” pesannya.

Menurutnya, media sosial dapat menjadi salah satu ruang strategis bagi mahasiswa untuk menyebarkan pengetahuan dan narasi positif. Mahasiswa tidak harus selalu menyampaikan sesuatu yang besar, tetapi dapat memulai dari informasi sederhana yang memiliki dasar data dan pengetahuan. “Kalau menyampaikan sesuatu, sampaikan data. Itulah narasi,” tegasnya.

Mahasiswa Diminta Tidak Hanya Pulang Setelah Kuliah

Dr. Hadi juga mengingatkan mahasiswa FAI agar tidak menjadikan kampus hanya sebagai tempat mengikuti perkuliahan kemudian pulang. Masa mahasiswa, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk membangun pengalaman sebanyak mungkin. “Di FAI jangan pulang saja. Kalau pulang, harus beraktivitas untuk mengembangkan potensi saudara-saudara,” ujarnya.

Ia mendorong mahasiswa untuk mengikuti organisasi, komunitas, pelatihan, kursus, maupun kegiatan lain yang dapat meningkatkan kompetensi. Kemampuan tambahan, termasuk bahasa, komunikasi, kepemimpinan, dan keterampilan digital, dinilai dapat menjadi bekal penting bagi mahasiswa ketika terjun ke masyarakat.

Ia juga menyinggung pentingnya membangun kebiasaan belajar dan berlatih secara konsisten. Menurutnya, keberhasilan bukan semata-mata hasil dari keberuntungan, melainkan buah dari proses panjang dan latihan yang dilakukan secara terus-menerus.

Dr. Hadi kemudian menggunakan analogi olahraga untuk menggambarkan pentingnya latihan. Seorang pemain yang mampu melakukan teknik tertentu dengan baik, menurutnya, tidak langsung mendapat kemampuan tersebut, tetapi melalui latihan berulang. “Berhasil itu karena latihan. Itu namanya semangat,” pesannya.

Pentingnya Membuat Jurnal dan Menetapkan Target

Selain aktif berkegiatan, mahasiswa juga diajak untuk memiliki perencanaan yang jelas selama menempuh pendidikan. Dr. Hadi mendorong mahasiswa membuat jurnal atau catatan perkembangan diri sebagai sarana untuk menetapkan target dan mengevaluasi pencapaian.

Menurutnya, mahasiswa perlu mengetahui apa yang ingin dicapai selama empat tahun masa kuliah. Target tersebut kemudian dapat dipecah menjadi langkah-langkah yang lebih konkret dan terukur.

“Kalau kita tidak bisa berhitung, bagaimana kita tahu perkembangannya? Maka harus jelas tahapannya,” jelasnya.

Ia berharap mahasiswa FAI dapat memanfaatkan masa kuliah untuk membangun kompetensi sekaligus menghasilkan karya. Menurutnya, proses tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan lulusan yang memiliki bekal keilmuan dan pengalaman ketika kembali ke masyarakat.

Mengakhiri pesannya, Dr. Hadi mengucapkan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru FAI UNUSIDA. Ia berharap mahasiswa mampu menjalani perkuliahan dengan penuh semangat, aktif mengambil kesempatan, dan terus mengembangkan potensi diri.

“Selamat datang di Fakultas Agama Islam. Jangan hanya menjadi mahasiswa yang datang untuk kuliah, tetapi jadilah mahasiswa yang terus belajar, beraktivitas, berkarya, dan mengembangkan potensi,” pesannya.

Suasana Pembukaan KARISMA Fakultas Agama Islam 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

KARISMA FAI UNUSIDA 2026, Ajak Mahasiswa Baru Aktif Berorganisasi dan Kembangkan Pengalaman

SIDOARJO — Masa Kajian, Orientasi, dan Silaturahmi Mahasiswa (KARISMA) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) 2026 menjadi momentum bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan kampus sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akademik dan sosial selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa baru FAI UNUSIDA tidak hanya diperkenalkan dengan lingkungan akademik, tetapi juga diajak aktif mencari pengalaman melalui organisasi, kegiatan kemahasiswaan, serta berbagai aktivitas di luar ruang perkuliahan.

Ketua BEM FAI UNUSIDA, Wiwin Lestari, mengingatkan mahasiswa baru agar tidak menjadikan aktivitas kuliah sebatas datang ke kampus, mengikuti pembelajaran, kemudian langsung pulang. Menurutnya, masa perkuliahan merupakan kesempatan penting untuk memperluas pengalaman dan mengembangkan kemampuan yang nantinya dapat diterapkan di tengah masyarakat.

“Ilmu akademik adalah pembelajaran yang bisa kalian ikuti. Kuliah tidak harus pulang kuliah langsung pulang saja. Kalau seperti itu, pengalaman yang kalian dapatkan juga terbatas. Di kampus ini banyak pengalaman yang bisa kalian cari dan kembangkan untuk nantinya kalian bawa ketika terjun di masyarakat,” tuturnya saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan KARISMA FAI 2026, Rabu (16/9/2026).

Ia juga menekankan bahwa mahasiswa FAI memiliki tanggung jawab lebih dalam mengembangkan keilmuan dan pengalaman, khususnya karena berada di lingkungan Fakultas Agama Islam. Pengalaman berorganisasi, berkomunikasi, bekerja sama, dan terlibat dalam berbagai kegiatan dinilai menjadi bagian penting dalam proses pembentukan mahasiswa.

“Apalagi kalian berada di Fakultas Agama Islam. Ada tuntutan untuk terus mengembangkan diri, bukan hanya dari sisi akademik, tetapi juga bagaimana ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat memberikan manfaat di masyarakat,” lanjutnya.

Sementara itu, Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru yang telah memilih FAI UNUSIDA sebagai tempat melanjutkan pendidikan.

“Selamat bergabung di Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo. Kalian adalah mahasiswa yang terpilih dari sekian banyak anak yang memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Kesempatan yang baik ini mari kita gunakan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Feri menegaskan bahwa kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi tidak dimiliki oleh semua anak. Karena itu, mahasiswa diharapkan mampu memanfaatkan masa perkuliahan dengan sungguh-sungguh, baik dalam kegiatan akademik maupun pengembangan diri.

“Tidak semua anak di Indonesia mendapatkan kesempatan seperti ini. Maka di Fakultas Agama Islam, bagaimana mahasiswa mendapat kesempatan sebanyak-banyaknya untuk belajar, berkembang, dan memperoleh pengalaman,” jelasnya.

Ia juga mengajak mahasiswa baru untuk memandang masa perkuliahan sebagai proses menyiapkan masa depan. Setiap ilmu, pengalaman, dan proses yang dijalani selama menjadi mahasiswa merupakan bagian dari investasi untuk kehidupan setelah lulus.

“Percayalah, kita saat ini sedang menanam bibit kesuksesan dan akan memetik kesuksesan kelak,” pesannya.

Melalui KARISMA FAI UNUSIDA 2026, ia berharap mahasiswa baru tidak hanya mampu beradaptasi dengan lingkungan perguruan tinggi, tetapi juga memiliki semangat untuk belajar, aktif berorganisasi, mengembangkan potensi, serta membangun jejaring dan pengalaman sebagai bekal berkontribusi di tengah masyarakat.

“Jadikan momentum ini menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru FAI UNUSIDA untuk menapaki perjalanan akademik sekaligus membangun karakter sebagai insan yang berilmu, berpengalaman, dan memiliki kepedulian sosial,” pungkasnya.

Seluruh peserta, panitia dan Dosen dan Pimpinan FILKOM UNUSIDA Berfoto Bersama dalam Pembukaan Pafiliun 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

PAFILIUN FILKOM UNUSIDA 2026 Jadi Awal Mahasiswa Baru Mengembangkan Potensi dan Mengenal Teknologi

SIDOARJO — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Orientasi Mahasiswa Baru bertajuk Pafiliun FILKOM UNUSIDA 2026 dengan tema “Connecting Minds, Creating Futures”. Kegiatan berlangsung di Hall Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Rabu-Kamis (16-17/9/2026).

Wakil Ketua BEM FILKOM UNUSIDA, Siti Aisyah, mengatakan Pafiliun 2026 tidak sekadar menjadi kegiatan penyambutan mahasiswa baru. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan awal dari perjalanan mahasiswa untuk terus belajar, berkembang, membangun relasi, dan menciptakan berbagai prestasi.

“Dari kegiatan penyambutan, tetapi menjadi awal dari perjalanan untuk belajar, berkembang, dan membangun relasi serta menciptakan banyak prestasi,” ujarnya.

Ia berharap mahasiswa baru tidak hanya mengejar keberhasilan di bidang akademik, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan. Menurutnya, keberanian untuk berproses, rasa tanggung jawab, dan kemauan untuk berkontribusi menjadi bagian penting dalam perjalanan mahasiswa.

“Semoga teman-teman tidak hanya sukses secara akademik, tapi juga menjadi mahasiswa aktif, berani, dan bertanggung jawab serta mampu memberikan kontribusi positif bagi Fakultas Ilmu Komputer,” tuturnya.

Aisyah mengajak untuk menikmati setiap proses selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. “Selamat datang di Pafiliun 2026, selamat berproses dan juga selamat berkembang,” katanya.

Sementara itu, Wakil Dekan FILKOM UNUSIDA, Neni Kurniati, S.Kom., M.T., memberikan pengenalan mengenai perkembangan teknologi serta bidang-bidang keilmuan yang dapat dipelajari mahasiswa selama menempuh pendidikan di FILKOM.

Ia menekankan bahwa perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak semestinya membuat mahasiswa berhenti belajar. Menurutnya, meskipun teknologi dapat membantu berbagai pekerjaan, pemahaman terhadap konsep dan kemampuan berpikir tetap menjadi hal mendasar yang harus dimiliki mahasiswa.

“AI itu banyak yang pakai. Tetapi konsepnya harus tetap pintar,” jelas Neni.

Ia kemudian memberikan gambaran mengenai salah satu bidang yang dapat dipelajari mahasiswa Informatika, yakni computer vision. Bidang tersebut berkaitan dengan bagaimana komputer dapat memproses dan memahami informasi visual melalui gambar atau video.

“Computer vision itu membuat bagaimana komputer punya mata seperti matanya manusia,” terangnya.

Neni memberikan contoh sederhana mengenai penerapan computer vision, seperti sistem yang dapat menganalisis gambar dari kamera dan mengenali objek maupun karakteristik tertentu berdasarkan data yang diproses.

Menurutnya, perkembangan teknologi membuka peluang yang luas bagi mahasiswa FILKOM untuk mempelajari berbagai bidang. Tidak hanya computer vision, mahasiswa juga dapat mengenal bidang seperti data science, kecerdasan bisnis, arsitektur bisnis, hingga pengembangan berbagai layanan berbasis teknologi.

Ia mendorong mahasiswa baru untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi memahami bagaimana teknologi bekerja dan mampu mengembangkannya sesuai kebutuhan masyarakat.

“Manfaat kesempatan ini menjadi ruang awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal potensi keilmuan di fakultas sekaligus membangun jejaring dengan sesama mahasiswa. Manfaatkan masa perkuliahan untuk terus belajar, mengembangkan kompetensi, serta menciptakan karya dan prestasi di bidang teknologi,” pungkasnya.

Dekan FILKOM UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya saat menyampaikan sambutan dalam PAFILIUN 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

PAFILIUN 2026, Dekan FILKOM UNUSIDA Tekankan Konsistensi Prestasi Internasional Mahasiswa

SIDOARJO — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Orientasi Mahasiswa Baru bertajuk Pafiliun FILKOM UNUSIDA 2026 dengan tema ‘Connecting Minds, Creating Futures’, di Hall Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Rabu-Kamis (16-17/9/2026).

Dekan FILKOM UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru. Ia mengajak mahasiswa untuk tidak hanya menjalani perkuliahan, tetapi juga aktif mengembangkan potensi dan mengambil berbagai kesempatan yang tersedia selama menjadi bagian dari FILKOM UNUSIDA.

“Marhaban, selamat datang untuk teman-teman mahasiswa angkatan 2026 di Fakultas Ilmu Komputer,” ujar Arda.

Menurutnya, FILKOM merupakan salah satu fakultas di UNUSIDA yang memiliki tingkat aktivitas dan capaian prestasi yang cukup tinggi. Ia menyebut, mahasiswa FILKOM secara konsisten mencatatkan prestasi dalam kompetisi internasional setiap tahunnya sejak 2022.

“Mulai tahun 2022 sampai sekarang, alhamdulillah setiap tahun pasti ada yang juara, ada yang ketiga dan satu. Jadi kalian tidak usah berkecil hati ketika kalian kuliah di sini,” ungkapnya.

Arda menegaskan bahwa mahasiswa baru memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan kemampuan dan meraih prestasi. Dukungan dari dosen serta lingkungan akademik di FILKOM diharapkan dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi berbagai bidang sesuai minat masing-masing.

FILKOM UNUSIDA sendiri terdiri atas tiga program studi, yakni Informatika, Sistem Informasi, dan Desain Komunikasi Visual (DKV). Ketiga bidang tersebut dinilai memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja di masa depan.

Dalam sambutannya, Arda juga menyinggung semakin berkembangnya teknologi internet, media sosial, serta kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, mahasiswa FILKOM tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi perlu memiliki kemampuan untuk memanfaatkan dan mengembangkan teknologi sebagai solusi atas berbagai persoalan di masyarakat.

“Di Fakultas Ilmu Komputer saya harapkan kalian ini bukan hanya jadi pengguna teknologi, tapi kalian juga bisa memanfaatkan AI ini untuk membantu atau untuk mengembangkan solusi di masyarakat,” tuturnya.

Ia mengingatkan bahwa mahasiswa sebagai bagian dari perguruan tinggi memiliki peran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, mahasiswa baru didorong untuk tidak ragu mengeksplorasi berbagai potensi yang dimiliki sejak awal masa perkuliahan.

Selain bidang akademik dan teknologi, Arda juga mengajak mahasiswa untuk aktif mengikuti berbagai kegiatan dan organisasi di lingkungan kampus. Bagi mahasiswa yang memiliki minat terhadap kompetisi, FILKOM siap memberikan ruang untuk mengikuti berbagai ajang, termasuk kompetisi tingkat internasional.

Sementara bagi mahasiswa yang tertarik pada organisasi dan pengembangan kemampuan nonakademik, ia mendorong mereka untuk aktif berproses dan belajar mengelola kegiatan.

“Apapun bakat kalian, silakan kembangkan di Fakultas Ilmu Komputer. Jangan takut, karena kita lihat dosennya juga support,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun hubungan yang baik antara mahasiswa dan dosen. Menurutnya, suasana akademik yang akrab dan komunikatif dapat membantu mahasiswa dalam mengembangkan diri, dengan tetap menjaga etika serta batasan sebagai sivitas akademika.

Lebih lanjut, Arda menyinggung keberadaan mahasiswa internasional di FILKOM sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan pembelajaran yang semakin terbuka. Interaksi dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang diharapkan dapat menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan dan membangun komunikasi lintas negara.

Ia berharap mahasiswa baru dapat memanfaatkan masa perkuliahan untuk mengembangkan kompetensi, prestasi, organisasi, maupun kemampuan personal. “Harapan kami, kalian bisa mengembangkan potensi dan pengembangan diri kalian, sehingga besok ketika lulus kalian bisa bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Dr. H. Rangga Sa’adilah, S.A.P., M.Pd.I. saat menyampaikan tausiah dalam kajian rutin setelah sholat Dhuhur tersebut bertempat di Masjid KH. M. Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo. (Foto: Humas UNUSIDA)

Kajian Aswaja, Dosen FAI UNUSIDA Dorong Pelestarian Sholawat Thobibiyah dan Budaya Sholat Jamaah

SIDOARJO — Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) Dr. H. Rangga Sa’adilah, S.A.P., M.Pd.I., menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga keberadaan sholawat atau pujian yang dilantunkan setelah adzan dan sebelum iqamah. Menurutnya, tradisi tersebut tidak sekadar menjadi lantunan yang mengisi waktu antara adzan dan iqamah, tetapi juga memiliki nilai pendidikan dan pembiasaan bagi umat.

Sholawat Thobibiyah dipandang sebagai salah satu bentuk doa dan pujian kepada Allah SWT serta Nabi Muhammad SAW. Lantunan tersebut menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang telah dilakukan secara turun-temurun di tengah masyarakat Muslim, khususnya dalam lingkungan Nahdlatul Ulama.

“Pembiasaan melantunkan sholawat dan pujian sebelum pelaksanaan sholat berjamaah sangat penting dalam melestarikan tradisi yang telah diwariskan oleh para ulama dan leluhur dalam kehidupan umat Islam,” jelasnya saat menyampaikan tausiah dalam kajian rutin setelah sholat Dhuhur tersebut bertempat di Masjid KH. M. Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo, Selasa (15/9/2026).

Dalam kajian tematik tersebut, Dr. Rangga menjelaskan bahwa waktu antara adzan dan iqamah merupakan waktu yang memiliki keutamaan untuk berdoa. Karena itu, lantunan pujian sebelum iqamah dapat menjadi momentum bagi jamaah untuk memanjatkan doa sekaligus mempersiapkan diri melaksanakan sholat berjamaah.

“Setiap doa di antara adzan dan iqamah tidak akan pernah tertolak,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut sebagai pengingat kepada jamaah agar memanfaatkan waktu antara adzan dan iqamah dengan aktivitas yang bernilai ibadah.

Lebih dari sekadar tradisi, lantunan sholawat dan pujian sebelum iqamah juga dinilai memiliki fungsi edukatif. Suara sholawat yang terdengar oleh lingkungan sekitar dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk segera bersiap melaksanakan sholat berjamaah.

Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu strategi untuk mendidik umat Islam, termasuk generasi muda dan anak-anak, agar semakin dekat dengan masjid dan terbiasa dengan suasana sholat berjamaah. Pesan-pesan keagamaan yang disampaikan melalui lantunan sholawat dapat diterima secara sederhana dan berulang dalam kehidupan sehari-hari.

“Lantunan pujian sebelum iqamah adalah strategi untuk mendidik umat Islam, tetangga kita, dan anak-anak kita,” ungkapnya.

Tradisi tersebut juga memperlihatkan bagaimana dakwah dapat dilakukan melalui pendekatan yang lembut dan merangkul. Sholawat yang dilantunkan sebelum iqamah menjadi sarana untuk mengajak masyarakat menuju masjid tanpa tekanan. Suasana religius yang tercipta diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap sholat berjamaah.

Hal ini sejalan dengan karakter dakwah Ahlussunnah wal Jamaah yang mengedepankan pendekatan yang santun dalam menyampaikan ajaran Islam. Tradisi yang diwariskan para ulama tidak hanya dipandang dari bentuk pelaksanaannya, tetapi juga perlu dipahami nilai dan tujuan yang terkandung di dalamnya.

“Begitu indahnya lantunan sholawat yang diajarkan oleh ulama-ulama kita, dengan merangkul tanpa memukul. Mari kita lestarikan bersama,” pesannya.

Pelestarian tradisi keagamaan tersebut juga dinilai penting di lingkungan pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Kampus bukan hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan profesional, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan karakter, spiritualitas, serta kepedulian sosial mahasiswa.

Dalam konteks UNUSIDA, budaya sholat berjamaah diharapkan dapat terus tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan sivitas akademika. Kebiasaan sederhana seperti memenuhi panggilan adzan, menuju masjid, melaksanakan sholat berjamaah, hingga menjaga suasana religius di lingkungan kampus dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter mahasiswa.

“Mari kita gerakkan budaya sholat jamaah menjadi mempengaruhi di setiap lini di kampus kita,” menjadi ajakan untuk menjadikan sholat berjamaah bukan sekadar aktivitas rutin, tetapi budaya positif yang dapat memberikan pengaruh bagi lingkungan sekitar.

Kajian Aswaja ini menjadi salah satu ikhtiar untuk menjaga kesinambungan tradisi keislaman sekaligus memperkuat pemahaman warga UNUSIDA dan masyarakat terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Melalui kajian dan pembiasaan, tradisi keagamaan diharapkan tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus hidup dan relevan dalam kehidupan generasi saat ini.

Dengan semangat merangkul tanpa memukul, pelestarian sholawat, pujian sebelum iqamah, dan budaya sholat berjamaah diharapkan mampu menjadi gerakan bersama. Dari masjid, lingkungan keluarga, masyarakat, hingga kampus, nilai-nilai tersebut dapat terus ditanamkan sebagai bagian dari kehidupan umat Islam.

“Menjaga tradisi bukan hanya tentang mempertahankan kebiasaan, tetapi juga memahami nilai pendidikan, spiritualitas, dan kebersamaan yang ada di dalamnya. Melalui langkah-langkah sederhana dan dilakukan secara konsisten, budaya sholat berjamaah diharapkan semakin kuat dan memberikan dampak positif bagi kehidupan sivitas akademika serta masyarakat luas,” pungkasnya.

Plt. Rektor UNUSIDA saat menandatangani MoU dan PKS bersama Mitra Pegadaian (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Resmi Jalin Kerja Sama dengan Pegadaian, Perkuat Sinergi dan Buka Peluang Layanan Keuangan

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) resmi menjalin kerja sama dengan PT Pegadaian (Persero) Area Surabaya melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) terkait layanan Tabungan Emas dan Arrum Multiguna di Ruang Pertemuan Gedung B, Kampus UNUSIDA Lingkar Timur, Sidoarjo, Kamis (3/9/2026).

Layanan Tabungan Emas menjadi salah satu bentuk akses investasi yang dapat dikenalkan kepada civitas akademika, sementara layanan Arrum Multiguna membuka peluang pemanfaatan layanan pembiayaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, menyampaikan bahwa kerja sama yang telah terjalin diharapkan dapat menjadi awal dari berbagai program kolaboratif yang berkelanjutan. Menurutnya, penandatanganan MoU dan PKS bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu pembuka untuk menghadirkan manfaat nyata melalui implementasi program bersama.

“Harapan kami, kerja sama ini tidak berhenti pada penandatanganan dokumen. MoU dan PKS yang telah disepakati harus dapat berkembang menjadi kolaborasi yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata, khususnya bagi civitas akademika UNUSIDA,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa sebuah kemitraan akan memiliki arti lebih besar ketika diwujudkan dalam berbagai kegiatan dan program yang dapat dirasakan manfaatnya. Oleh karena itu, UNUSIDA berharap sinergi dengan Pegadaian dapat terus berkembang melalui berbagai bentuk kerja sama yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh civitas akademika.

Lebih lanjut, Dr. Hadi Ismanto berharap kolaborasi tersebut dapat turut mendukung penguatan literasi dan inklusi keuangan di lingkungan kampus. Pemahaman mengenai pengelolaan keuangan yang baik menjadi salah satu hal penting yang perlu dimiliki oleh civitas akademika dalam menghadapi perkembangan ekonomi dan semakin beragamnya layanan keuangan.

“Melalui kerja sama ini, kami berharap civitas akademika UNUSIDA dapat memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai layanan keuangan sekaligus memiliki pemahaman yang baik dalam memanfaatkannya secara bijak dan sesuai dengan kebutuhan,” tambahnya.

Kerja sama antara UNUSIDA dan Pegadaian menjadi langkah strategis dalam mempertemukan potensi dunia pendidikan dengan dunia industri. Perguruan tinggi memiliki peran dalam menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif dan memiliki wawasan luas, sementara dunia industri dapat menjadi mitra dalam memberikan pengalaman, pengetahuan, serta akses terhadap berbagai layanan yang relevan dengan perkembangan kebutuhan masyarakat.

Dalam konteks layanan keuangan, kolaborasi tersebut diharapkan dapat memberikan ruang pembelajaran bagi civitas akademika untuk mengenal lebih dekat berbagai pilihan dan layanan keuangan. Dengan meningkatnya pemahaman, mahasiswa dan civitas akademika diharapkan mampu mengambil keputusan keuangan secara lebih bijak, terukur, dan sesuai kebutuhan.

Penguatan literasi keuangan juga menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kemandirian. Pemahaman yang baik mengenai pengelolaan keuangan dapat membantu seseorang dalam merencanakan kebutuhan, menentukan prioritas, serta memanfaatkan layanan keuangan secara bertanggung jawab.

Melalui kemitraan ini, ia mendorong untuk dapat menghadirkan program-program yang memberikan nilai tambah bagi civitas akademika. Tidak hanya berorientasi pada kemudahan akses terhadap layanan, kerja sama tersebut juga diharapkan dapat membuka kesempatan untuk berbagai kegiatan edukatif yang mampu memperluas wawasan dan meningkatkan kapasitas mahasiswa.

Sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri juga memiliki peran penting dalam menjawab tantangan perkembangan zaman. Dunia pendidikan tidak dapat berjalan sendiri dalam mempersiapkan generasi yang siap menghadapi perubahan. Diperlukan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar mahasiswa memiliki kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan wawasan yang lebih luas.

“Bagi kami, perluasan jejaring kemitraan menjadi salah satu upaya untuk terus menghadirkan peluang kolaborasi yang berdampak. Kerja sama dengan berbagai lembaga dan dunia industri diharapkan mampu mendukung pengembangan institusi sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi civitas akademika,” ungkapnya.

Dengan adanya MoU dan PKS bersama Pegadaian, ia memiliki komitmen untuk membangun kerja sama yang saling menguatkan. Kesepakatan tersebut sekaligus membuka ruang bagi lahirnya berbagai peluang kolaborasi baru di masa mendatang yang dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan potensi kedua institusi. Ia optimistis dapat membangun kolaborasi yang saling memberikan manfaat sekaligus menciptakan peluang baru dalam mendukung pengembangan kapasitas dan kesejahteraan civitas akademika UNUSIDA di masa mendatang.

“Semoga ke depan kemitraan ini dapat terus tumbuh menjadi sinergi yang produktif dan berkelanjutan. Kolaborasi tidak hanya dimaknai sebagai sebuah kesepakatan formal, tetapi diwujudkan melalui langkah-langkah nyata yang memberikan dampak positif bagi civitas akademika,” pungkasnya.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto usai menjadi Keynote Speaker dalam kegiatan 16th International Conference on Economics, Law, Social, Engineering, and Innovation (IC-ELSEI 2026) (Foto: Humas UNUSIDA)

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto Bawa Gagasan Inovasi Berkelanjutan di Forum Internasional IC-ELSEI 2026

BALI — Plt. Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto, S.HI., M.Pd., dipercaya sebagai Keynote Speaker dalam kegiatan 16th International Conference on Economics, Law, Social, Engineering, and Innovation (IC-ELSEI 2026) yang diselenggarakan di Hotel Santika Kuta, Badung, Bali, Sabtu (5/9/2026).

Dalam forum internasional tersebut, Dr. Hadi Ismanto hadir dengan membawa perspektif mengenai inovasi berkelanjutan ala Nahdlatul Ulama (NU). Gagasan yang disampaikan menekankan bahwa inovasi dan perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi dapat dibangun melalui kebiasaan sederhana yang dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Hadi Ismanto, yang tercantum sebagai Rector of Universitas Nahdlatul Ulama, Sidoarjo, Indonesia, menegaskan bahwa membangun inovasi berkelanjutan membutuhkan proses yang konsisten. Perubahan dapat dimulai dari keluarga dengan membiasakan pola pikir, perilaku, dan budaya akademik yang terstruktur.

Menurutnya, keluarga merupakan lingkungan pertama yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kebiasaan seseorang. Dari lingkungan tersebut, nilai-nilai positif kemudian dapat berkembang ke lingkungan pendidikan, organisasi, hingga masyarakat.

“Inovasi berkelanjutan ala Nahdlatul Ulama dimulai dari keluarga terdekat. Kita membiasakan kebiasaan akademik yang terstruktur, kemudian menularkannya kepada masyarakat sekitar hingga akhirnya menjadi sebuah gerakan bersama,” jelas Dr. Hadi dalam pemaparannya.

Gagasan tersebut menjadi salah satu penekanan penting dalam materi yang disampaikan di hadapan peserta IC-ELSEI 2026. Inovasi, menurutnya, tidak cukup hanya menghasilkan gagasan baru, tetapi harus mampu menciptakan kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus sehingga memberikan dampak nyata.

Dimulai dari Kebiasaan Kecil

Dr. Hadi menjelaskan bahwa budaya inovasi dapat tumbuh ketika lingkungan terdekat mampu menciptakan kebiasaan yang mendukung proses belajar, berpikir kritis, berdiskusi, dan menyelesaikan persoalan secara sistematis.

Kebiasaan akademik yang terstruktur dapat diwujudkan melalui berbagai aktivitas sederhana. Misalnya, membangun budaya membaca, berdiskusi, mencatat, melakukan evaluasi, menyusun rencana, serta membiasakan diri mencari solusi atas berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

“Ketika kebiasaan baik sudah terbentuk di keluarga, kebiasaan tersebut akan lebih mudah dibawa ke lingkungan yang lebih luas. Dari keluarga ke kampus, dari kampus ke masyarakat, dan dari masyarakat kemudian menjadi gerakan bersama,” ungkapnya.

Konsep tersebut sejalan dengan semangat pengabdian dan pemberdayaan yang menjadi bagian penting dari nilai-nilai Nahdlatul Ulama. Pengetahuan tidak berhenti pada individu, tetapi diharapkan dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Dari Individu Menjadi Gerakan Bersama

Lebih lanjut, Dr. Hadi menekankan pentingnya membangun inovasi yang memiliki keberlanjutan. Sebuah inovasi tidak boleh berhenti pada sebuah program atau kegiatan sesaat, melainkan harus mampu melahirkan ekosistem yang membuat masyarakat dapat melanjutkan dan mengembangkannya.

Dalam konteks perguruan tinggi, budaya tersebut dapat dibangun melalui sinergi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa dan sivitas akademika tidak hanya didorong untuk memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu mengimplementasikan ilmu pengetahuan dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

Semangat tersebut juga menjadi bagian dari upaya UNUSIDA dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memiliki dampak sosial. Perguruan tinggi diharapkan mampu menjadi ruang lahirnya gagasan, inovasi, dan gerakan yang memberikan manfaat secara berkelanjutan.

Kehadiran Dr. Hadi Ismanto sebagai keynote speaker dalam IC-ELSEI 2026 sekaligus menjadi momentum bagi UNUSIDA untuk memperkenalkan perspektif pendidikan dan inovasi berbasis nilai-nilai Nahdlatul Ulama di forum internasional.

Forum IC-ELSEI 2026 ini sendiri mempertemukan berbagai akademisi dan pemangku kepentingan dari sejumlah institusi dalam membahas perkembangan ekonomi, hukum, sosial, teknik, serta inovasi.

Melalui forum tersebut, Dr. Hadi Ismanto membawa pesan bahwa inovasi berkelanjutan bukan sekadar tentang teknologi atau menciptakan sesuatu yang baru, tetapi tentang membangun kebiasaan baik, menumbuhkan budaya akademik, dan memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Dari keluarga sebagai lingkungan terdekat, kebiasaan baik ditanamkan. Dari kebiasaan, lahirlah budaya. Dari budaya, tumbuh inovasi. Dan dari inovasi yang dilakukan secara bersama-sama, tercipta gerakan yang memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.

“UNUSIDA terus berkomitmen menghadirkan pendidikan yang berdaya, inovatif, dan berdampak, sekaligus membawa nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah untuk menjawab tantangan masa depan,” tandasnya.