Pos

Refleksi Hari Sumpah Pemuda 2025 (Foto: Istimewa)

Refleksi Sumpah Pemuda 2025: Orkestrasi Ego Organisasi Mahasiswa Jalan Menuju Sinergi dan Mutu

Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober bukan sekadar momen historis, tetapi refleksi abadi tentang resolusi, semangat, dan persatuan. Di tengah derasnya arus globalisasi dan visi besar Indonesia Emas 2045, semangat persatuan itu harus dihidupkan kembali, terutama di lingkungan kampus, tempat lahirnya calon pemimpin bangsa yang Unggul dan Bermutu.

Momentum sumpah pemuda selalu menjadi ruang reflektif bagi kaum muda Indonesia untuk meneguhkan kembali semangat persatuan dan kemajuan sebagaimana tercermin dalam Sumpah Pemuda 1928. Namun, di era modern, bentuk perjuangan itu tak lagi berupa angkat senjata, melainkan ikhtiar intelektual dan kolaboratif dalam membangun bangsa melalui pendidikan. Bagi mahasiswa, semangat Sumpah Pemuda harus diwujudkan dalam kontribusi nyata terhadap Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kini berada pada fase penting dalam upaya meraih Akreditasi Institusi Unggul. Capaian awal sudah terlihat, misalnya Program Studi PGSD yang telah meraih Akreditasi Unggul (A) dari LAMDIK sejak 2022. Capaian ini bukan sekadar tanggung jawab struktural pimpinan kampus, tetapi juga bergantung pada mutu mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan (Ormawa) yang menjadi motor penggerak kegiatan non-akademik.

Ego Sektoral: Penghalang Mutu Non-Akademik

Khususnya, Ormawa di UNUSIDA baik BEM, DPM, HIMA, UKM, maupun organisasi eksternal seperti PMII dan IPNU-IPPNU, sejatinya merupakan garda depan pengembangan mutu non-akademik. Namun, ego sektoral sering kali menjadi batu sandungan. Alih-alih berkolaborasi, banyak Ormawa justru sibuk berebut panggung dan menggelar acara serupa tanpa arah yang terukur. Padahal, prestasi nasional dan internasional merupakan indikator langsung bagi pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Akreditasi Unggul.

Di banyak kampus, termasuk UNUSIDA, sering muncul fenomena kompetisi internal antar-organisasi, di mana masing-masing berlomba menunjukkan eksistensi pribadi tanpa memperhatikan sinergi dan dampak kolektif terhadap mutu kampus. Akibatnya, energi yang seharusnya diarahkan untuk membangun kemajuan bersama justru terpecah oleh perbedaan orientasi dan kepentingan struktural.

Oleh karena itu, tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan Mutu Mahasiswa secara institusional, yakni melalui penguatan peran Organisasi Mahasiswa (Ormawa) baik intra maupun ekstra kampus.

Orkestrasi Ego: Jalan Menuju Sinergi dan Mutu

Dari sinilah gagasan Orkestrasi Ego menjadi penting. Seperti orkestra musik yang membutuhkan keselarasan instrumen agar menghasilkan harmoni, Ormawa pun perlu menyatukan visi dan program agar menghasilkan dampak nyata bagi kampus.

Orkestrasi ego bukan berarti meniadakan perbedaan, melainkan mengelola perbedaan menjadi kekuatan kolektif. Dengan satu visi bersama, mewujudkan mahasiswa UNUSIDA yang Unggul dan Bermutu. Setiap Ormawa dapat memainkan peran spesifiknya dalam mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi.

  • Dalam Pendidikan, Ormawa intra seperti BEM, HIMA, dan UKM dapat berperan memperkuat soft skill, kepemimpinan, dan literasi digital mahasiswa melalui pelatihan, seminar, serta lomba-lomba inovatif.

  • Dalam Penelitian, kolaborasi lintas prodi dan Ormawa bisa menjadi ruang aktualisasi ide-ide kreatif mahasiswa. Contohnya, sinergi lintas disiplin menghasilkan karya seperti Ecodrone, inovasi yang membawa mahasiswa Unusida meraih Gold Award di International Innovation & Invention Summit 2024 di Polandia. Hal serupa perlu direplikasi oleh Ormawa intra kampus agar kolaborasi lintas bidang menjadi budaya baru.

  • Dalam Pengabdian Masyarakat, Ormawa ekstra kampus seperti PMII dan IPNU-IPPNU telah berperan aktif melalui kegiatan sosial, pendidikan keagamaan, dan penguatan karakter berbasis nilai Aswaja An-Nahdliyah. PMII dengan fokus pada nalar kritis dan advokasi sosial, serta IPNU-IPPNU dengan kekuatan kaderisasi dan nilai Aswaja An-Nahdliyah, harus diorkestrasi menjadi kekuatan soft skill mahasiswa UNUSIDA: kritis, berkarakter, dan beretika.

Ketiga ranah ini, bila diorkestrasi dengan baik, akan memperkuat posisi mahasiswa sebagai pelaku Tri Dharma sejati, tidak hanya akademis, tetapi juga sosial dan moral.

Satu Visi, Tujuh Aksi, Tunggal Dedikasi

Penyelarasan seluruh program Ormawa dirasa sangat penting agar bergerak dalam harmoni menuju satu tujuan: meningkatkan mutu dan capaian prestasi mahasiswa. Refleksi Sumpah Pemuda 2025 di Unusida menegaskan pentingnya satu kesepahaman bersama:

“Satu Visi: Unggul dan Bermutu 2026; Tujuh Aksi Terkoneksi; Tunggal Dedikasi demi Akreditasi Unggul.”

Untuk mewujudkan Visi Unggul dan Bermutu, Ormawa UNUSIDA perlu menjalankan Tujuh Aksi strategis, yaitu:

  1. Peningkatan Prestasi Nasional & Internasional

  2. Peningkatan Kualitas Kepemimpinan & Manajerial

  3. Penguatan Riset Mahasiswa

  4. Pengembangan Pengabdian Masyarakat

  5. Penciptaan Start-up dan Kewirausahaan

  6. Penguatan Jejaring Alumni & Industri

  7. Penguatan Karakter Ke-NU-an

Setiap aksi harus diukur dengan data luaran konkret dan kontribusinya terhadap mutu mahasiswa. Jika seluruh Ormawa bergerak dalam tujuh poros aksi tersebut, maka setiap kegiatan akan memiliki nilai terukur terhadap IKU dan secara langsung mendukung mutu institusi.

Dalam hal ini, upaya kampus melalui pelaksanaan Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa Tingkat Menengah (LKMM-TM) yang menekankan pada manajemen dan pengukuran kinerja pengurus Ormawa harus menjadi fondasi nyata dalam penerapan program. Orkestrasi ego memastikan pelatihan tidak berhenti di ruang seminar, tetapi diterapkan di lingkungan kampus dan masyarakat.

Pemimpin sebagai Dirigen Perubahan

Pemimpin Ormawa dituntut menjadi dirigen, bukan rival. Mereka harus menundukkan ego pribadi dan struktural untuk membangun harmoni kolektif. Inilah makna Tunggal Dedikasi: komitmen moral untuk menomorsatukan mutu kader dan prestasi lembaga di atas popularitas pribadi.

Pemimpin Ormawa bukan sekadar pengatur agenda, tetapi dirigen perubahan yang mampu menyatukan potensi individu menjadi kekuatan kolektif. Mereka harus memiliki kecerdasan emosional, visi strategis, dan integritas moral agar dapat menengahi konflik antar organisasi serta menjaga fokus pada misi akademik dan sosial kampus.

Pemimpin yang mampu mengorkestrasi ego adalah mereka yang memiliki kecerdasan emosional, integritas, dan kenegarawanan. Mereka bukan hanya pemimpin organisasi, tetapi penggerak peradaban kampus.

Setiap kegiatan mahasiswa seharusnya menjadi perwujudan nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi:

  • Pendidikan yang melahirkan insan cendekia berkarakter,

  • Penelitian yang berorientasi pada solusi sosial dan inovasi teknologi,

  • Pengabdian masyarakat yang memperkuat nilai kemanusiaan dan kebangsaan.

Dengan semangat itu, kegiatan mahasiswa tidak lagi sebatas acara seremonial, tetapi bagian dari ekosistem mutu kampus yang berkelanjutan.

Jika seluruh Ormawa, baik Intra maupun Ekstra Kampus mampu menerapkan model Satu Visi, Tujuh Aksi, Tunggal Dedikasi, maka Unusida akan menjadi model kampus NU unggulan dalam mencetak Pemuda Unggul Bermutu yang siap bersaing di level nasional dan global.

Refleksi Spirit Sumpah Pemuda

Pada momentum Sumpah Pemuda 2025, mari seluruh Ormawa UNUSIDA berseru dalam satu irama:

“Jadilah Dirigen atas dirimu sendiri. Rangkul perbedaan, reduksi ego, dan ciptakan simfoni program yang harmonis demi mutu tertinggi mahasiswa Unusida.”

Spirit Sumpah Pemuda 1928 mengajarkan bahwa persatuan bukanlah keseragaman, melainkan komitmen untuk berjalan dalam arah yang sama. Dalam konteks Ormawa, hal itu berarti mengubah pola pikir “siapa yang paling unggul” menjadi “bagaimana kita bisa unggul bersama”.

UNUSIDA memiliki semua modal menuju hal itu. Mulai SDM potensial, prestasi nasional dan internasional, serta nilai-nilai ke-NU-an yang menjadi fondasi moral. Yang dibutuhkan kini hanyalah orkestrasi ego agar setiap potensi berjalan seirama menuju kampus Unggul dan Bermutu. Sekaligus mewujudkan cita-cita besar: Mahasiswa Unggul Bermutu, Pemimpin Bangsa Masa Depan.

Penulis; Achmad Wahyudi (MY)

Sejarah Sumpah Pemuda (Foto: Ilustrasi)

Bersatu dalam Bingkai NKRI: Refleksi Sumpah Pemuda di Era VUCA

Momentum Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober menjadi satu tonggak utama dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Ikrar kebangsaan tersebut  mencerminkan semangat persatuan dan solidaritas di kalangan pemuda, yang menjadi landasan bagi perjuangan bangsa untuk mencapai kemerdekaan dari penjajahan.

Bangsa Indonesia merupakan negara yang majemuk, terdapat banyak suku, ras, budaya, serta agama di dalamnya. Di tengah keberagaman itu, persatuan menjadi kunci untuk menciptakan suasana yang harmonis sehingga dapat saling menghormati dan memahami antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, pentingnya peran pemuda saat ini sangat diharapkan dalam menjaga persaudaraan dan persatuan antar sesama.

Kita saat ini memasuki era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) yang banyak mempengaruhi banyak sendi-sendi kehidupan, khususnya di kalangan pemuda. Pengaruh modernitas dan perkembangan teknologi yang mendorong perubahan seseorang dari segi kesehatan mental, gaya hidup serta pengambilan keputusan yang lebih kompleks.

Situasi atau kondisi sulit dianalisis, ditanggapi, atau direncanakan menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk memahami dinamika yang kompleks di dunia saat ini. Seperti perubahan yang cepat, ketidakpastian karir, kompleksitas informasi, tuntutan keterampilan baru, kesehatan mental, ketidakstabilan sosial serta toleransi terhadap perbedaan yang perlu dihadapi dengan ketangguhan dan kreativitas.

Menurut Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey, 15,5 juta (34,9 persen) remaja mengalami masalah mental dan 2,45 juta (5,5 persen) remaja mengalami gangguan mental. Dari jumlah itu, baru 2,6 persen yang mengakses layanan konseling, baik emosi maupun perilaku.

Selain itu, jumlah Gen Z yang  jumlahnya mencapai 27,94% dari total penduduk, atau 74,93 juta jiwa Indonesia juga cenderung rendah dalam melaporkan masalah tentang kesehatan mental jika dibandingkan dengan generasi lainnya.

Banyak ketidakpastian tersebut dapat menimbulkan ancaman berupa polarisasi sosial, pengaruh globalisasi, disinformasi di media sosial, hingga krisis kesehatan mental dan lingkungan. Seperti halnya kasus mahasiswa di Yogyakarta yang bunuh diri akibat masalah psikologi. Oleh karena itu, masalah kesehatan mental di kalangan pemuda saat ini tidak bisa dipandang sebelah mata.

Menyikapi hal tersebut, penting untuk memperkuat nilai-nilai lokal sambil tetap terbuka terhadap inovasi dan pengaruh global. Nilai-nilai Sumpah Pemuda masih dianggap relevan di era VUCA saat ini karena dapat memberikan landasan moral dan identitas kolektif terhadap generasi muda di tengah perubahan global yang cepat dan tidak pasti.

Pentingnya mengajarkan persatuan, identitas nasional, kolaborasi lintas budaya, dan kebhinnekaan dalam menghadapi ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas global. Nilai-nilai ini menjadi fondasi kuat bagi pemuda saat ini untuk tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan modern sambil tetap menjaga identitas dan integritas sebagai bangsa.

Semangat sumpah pemuda dan kebangsaan dapat dipadukan karena memiliki hubungan yang erat dan saling melengkapi. Sumpah pemuda seolah menjadi identitas nasional, bahasa pemersatu, simbol persatuan dan kesatuan, pembelajaran perjuangan untuk kemerdekaan, kepemudaan sebagai agen perubahan, serta memupuk nilai toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman.

Peran pemuda saat ini dalam memaknai semangat sumpah pemuda adalah dengan menumbuhkan jiwa saling berkolaborasi melalui ruang dialog yang inklusif, proyek kolaboratif, pertukaran budaya, pemanfaatan teknologi, serta pelatihan keterampilan kerja sama tim. Jadi. Pemuda saat ini harus lebih banyak bersosialisasi dengan menjalin komunikasi antara berbagai lapisan masyarakat.

Selain itu, pentingnya mendorong organisasi pemuda dan kebijakan pemerintah terkait yang mendukung dapat memberikan struktur dan peluang nyata bagi pemuda untuk bekerja sama dan berinovasi. Dengan kolaborasi ini, pemuda tidak hanya akan belajar menghargai keberagaman, tetapi juga menciptakan dampak positif yang lebih besar bagi masyarakat luas.

Generasi muda adalah aset masa depan bangsa, dan peran mereka dalam menguatkan persatuan nasional sangat krusial. Oleh karena itu, dalam momentum peringatan Sumpah Pemuda saat ini, mari bersatu, gotong royong dan saling berkolaborasi untuk kepentingan bersama. Generasi Z dan Alpha dapat agen persatuan dan pembawa perubahan positif bagi masa depan.

 

(my)