Pos

Dr. Hj. Muhafidhah Novie, S.E., M.M. Dekan Fakultas Ekonomi UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Prospek Ekonomi 2026: Tantangan Digitalisasi, Ekonomi Hijau, dan SDM

Menatap tahun 2026, Indonesia berada pada persimpangan penting dalam perjalanan pembangunan ekonominya. Di tengah dinamika global yang terus berubah, mulai dari disrupsi teknologi hingga tekanan isu lingkungan. Indonesia dihadapkan pada peluang besar sekaligus tantangan serius. Setidaknya terdapat tiga isu strategis yang akan sangat menentukan arah dan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional, yakni digitalisasi, pengembangan ekonomi hijau, dan penguatan sumber daya manusia (SDM).

Digitalisasi: Peluang Inklusif yang Masih Menyisakan Kesenjangan
Digitalisasi telah menjadi keniscayaan dalam kehidupan ekonomi modern. Pemanfaatan kecerdasan buatan, big data, serta otomatisasi kini bukan lagi sekadar inovasi, melainkan standar baru dalam dunia usaha dan industri. Transformasi digital memberikan peluang efisiensi, perluasan pasar, serta peningkatan daya saing nasional.

Namun demikian, tantangan besar masih membayangi, terutama kesenjangan digital yang dialami sektor UMKM. Banyak pelaku usaha kecil dan menengah yang belum memiliki literasi digital memadai, keterbatasan infrastruktur, maupun akses pembiayaan untuk adopsi teknologi. Tanpa kebijakan yang berpihak pada peningkatan kapasitas UMKM, digitalisasi justru berpotensi memperlebar ketimpangan ekonomi. Oleh karena itu, intervensi pemerintah melalui pelatihan, perluasan infrastruktur digital, serta skema pembiayaan yang inklusif menjadi kebutuhan mendesak.

Ekonomi Hijau: Antara Potensi Besar dan Tantangan Transformasi
Di sisi lain, ekonomi hijau menjadi agenda strategis yang tak terpisahkan dari komitmen Indonesia terhadap pembangunan berkelanjutan. Tekanan global akibat perubahan iklim mendorong negara-negara, termasuk Indonesia, untuk mengadopsi praktik ekonomi yang lebih ramah lingkungan. Dengan kekayaan sumber daya alam dan potensi energi terbarukan yang melimpah, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama dalam ekonomi hijau.

Meski demikian, transisi menuju ekonomi hijau bukanlah proses yang mudah. Diperlukan keberanian untuk mengubah pola produksi konvensional, investasi serius pada teknologi hijau, serta konsistensi kebijakan publik dalam mendukung transisi energi. Tanpa komitmen jangka panjang, ekonomi hijau berisiko hanya menjadi jargon tanpa dampak nyata.

SDM: Fondasi Utama Transformasi Ekonomi
Keberhasilan digitalisasi dan ekonomi hijau pada akhirnya sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia. Tantangan terbesar Indonesia ke depan adalah memastikan tenaga kerja memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan zaman. Kemampuan analitik, literasi teknologi, kreativitas, hingga green skills menjadi kompetensi kunci yang harus dimiliki generasi mendatang.

Dalam konteks ini, perguruan tinggi memegang peran strategis. Institusi pendidikan tinggi dituntut untuk adaptif melalui pengembangan kurikulum yang relevan, pembelajaran berbasis praktik, serta kolaborasi erat dengan dunia industri. Perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat transfer ilmu, tetapi juga motor penghasil SDM unggul yang siap menjawab tantangan ekonomi masa depan.

Bagi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), tantangan ekonomi tersebut selaras dengan identitas kampus NU yang mengusung motto Religius Campus With Entrepreneurship Spirit. Artinya, pembangunan ekonomi tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga harus berpijak pada nilai-nilai keislaman, kemandirian, dan kemaslahatan umat.

UNUSIDA memandang penguatan SDM sebagai proses menyeluruh: mengintegrasikan keilmuan, nilai ke-NU-an, dan semangat kewirausahaan. Mahasiswa diharapkan tidak hanya siap menjadi pekerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja yang berorientasi pada kemaslahatan.

Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, akademisi, dan sektor bisnis, tantangan digitalisasi, ekonomi hijau, dan penguatan SDM bukanlah hambatan, melainkan peluang strategis. Saya optimis, jika dikelola secara terencana dan berkelanjutan, tahun 2026 dapat menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk melangkah menuju ekonomi yang lebih tangguh, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan.

Oleh: Dr. Hj. Muhafidhah Novie, S.E., M.M.
Dekan Fakultas Ekonomi

Rektor Unusida, Dr. H. Fatkul Anam, M.Si (Foto: Istimewa)

Rektor Unusida: Transformasi Digital di PTNU, Kunci Sukses Menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0

Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. H. Fatkul Anam menjelaskan bahwa transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan sebuah kewajiban untuk perguruan tinggi, agar tetap relevan dan berdaya saing di era digital. Transformasi ini diperlukan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada mahasiswa dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Menurutnya transformasi digital sangat penting untuk mulai diterapkan di Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, di mana masyarakat harus berkolaborasi dengan teknologi, perguruan tinggi harus siap mengimplementasikan digitalisasi dalam berbagai aspek, seperti pembelajaran, administrasi, dan pelayanan kepada mahasiswa. Juga digitalisasi juga penting dalam membekali generasi Z dan selanjutnya yang sudah sangat akrab dengan teknologi.

“Melalui transformasi digital, pendidikan tinggi dapat terus berkembang, mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi generasi yang siap berkolaborasi dengan teknologi, serta menghadapi tantangan global di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0,” terangnya dalam sesi diskusi di salah satu stasiun TV, Rabu (12/2/2025).

Dalam kesempatan tersebut, ia menceritakan pengalaman dalam mengimplementasikan sistem teknologi di UNUSIDA. Di mana digitalisasi sudah dimulai sejak 2020, dengan penerapan platform digital untuk memudahkan pembelajaran dan administrasi. Contohnya adalah perpustakaan digital yang memungkinkan mahasiswa mengakses buku secara online tanpa harus datang ke perpustakaan fisik. Selain itu, platform Learning Management System (LMS) digunakan untuk memudahkan proses pembelajaran dengan mengintegrasikan materi, tugas, dan penilaian dalam satu sistem.

UNUSIDA telah mengembangkan 26 sistem informasi yang saling terhubung, mencakup berbagai aspek seperti administrasi mahasiswa dan pengelolaan karier dosen. Dengan sistem ini, dokumen-dokumen penting, seperti pengajuan jabatan fungsional dosen, bisa diakses secara digital tanpa perlu mencari dokumen fisik,” ungkapnya.

Lebih lanjut, pihaknya juga menyusun strategi pengembangan infrastruktur digital Untuk mendukung transformasi digital, pengembangan infrastruktur fisik seperti server dan jaringan internet yang cepat dan stabil sangat penting. Namun, ia menekankan bahwa sekarang banyak alternatif penyedia layanan yang menawarkan solusi infrastruktur dengan biaya lebih terjangkau, seperti penyewaan server, sehingga perguruan tinggi dapat fokus pada implementasi teknologi tanpa khawatir biaya tinggi.

“Kami juga menyusun strategi pengembangan infrastruktur digital yang mencakup penguatan infrastruktur fisik, seperti server dan jaringan internet yang cepat serta stabil. Langkah ini sangat penting untuk memastikan kelancaran proses pembelajaran dan administrasi di era digital,” jelasnya.

Ketua Forum Rektor PTNU tersebut menjelaskan tantangan dan harapan ke depan, meskipun digitalisasi memberikan banyak kemudahan, perguruan tinggi perlu memastikan bahwa teknologi ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing lulusan. Dengan mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran dan tata kelola, PTNU diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan layanan pendidikan yang lebih baik di era digital ini.

“Secara keseluruhan, semua PTNU sedang berusaha memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing lulusan. Dengan pendekatan yang hati-hati dan terencana, oleh karena itu saya harap dapat memajukan pendidikan berbasis teknologi tanpa mengabaikan nilai-nilai luhur yang diusung oleh NU,” pungkasnya.

 

(my)