Pos

FKIP UNUSIDA Gelar Webinar Internasional Melalui Hybrid (Foto: Humas UNUSIDA)

FKIP UNUSIDA Gelar Webinar Internasional: Memberdayakan Guru di Era Digital, Mengajar Melampaui Batas

SIDOARJO — Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional 2025, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan Webinar Internasional yang mengusung tema “Empowering Teachers in the Digital Era: Teaching Beyond Boundaries”, Selasa (25/11/2025).

Kegiatan ini digelar secara hybrid, menghadirkan narasumber dari Indonesia dan Thailand untuk membahas bagaimana guru dapat mengajar tanpa batas melalui pemanfaatan teknologi digital.

Webinar ini menghadirkan pembicara utama Executive Director for International Affair Thai Global Business Administration Technological College, Thailand, Dr. Nico Irawan, M.Pd., Wakil Rektor 2 UNUSIDA Dr. Ana Christanti, M.Pd., serta Direktor of Ban Ai Batu School, Thailand, Muhammad Abdullah Boraheng.

Dalam sambutannya, Rektor UNUSIDA, Dr. H. Fatkul Anam, M.Si., menyampaikan bahwa webinar ini menjadi momentum penting untuk memberikan pembaruan keilmuan dan memperkuat pemahaman guru mengenai perkembangan teknologi terbaru.

“Webinar ini memberikan pembaruan penting yang mencakup perkembangan selama enam hingga delapan tahun terakhir dan mencerminkan komitmen kita bersama dalam memajukan upaya keamanan digital saat ini. Saya berharap seluruh peserta mendapatkan diskusi yang inspiratif dan produktif. Dengan penuh rasa terima kasih, saya mengundang Anda semua untuk bergabung dalam Konferensi Divisi Data Internasional ini,” ungkapnya.

Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya FKIP UNUSIDA mempersiapkan guru masa depan yang mampu berkolaborasi dengan teknologi digital dalam proses pembelajaran.

“Guru harus mampu menjaga keseimbangan antara teknologi dan kemanusiaan. Digital learning membutuhkan arsitek yang mumpuni, dan seorang guru adalah arsiteknya,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya penguasaan keilmuan dan kesiapan kompetensi dalam menghadapi persaingan global.

“Teknologi hanya alat, tapi guru yang membuatnya lebih berarti dan terarah. Di mana pun kalian belajar, kuasai ilmu dengan matang karena kompetisi pasti ada. Tantangannya adalah bagaimana kita bisa menjadi yang terbaik,” tambahnya.

Menurutnya, webinar internasional ini menjadi bukti komitmen FKIP UNUSIDA dalam mendorong kolaborasi global, eningkatkan kualitas guru, mengembangkan inovasi pembelajaran, dan enghadirkan ruang belajar yang melampaui batas geografis.

“Saya harap FKIP UNUSIDA menjadi ruang pengembangan untuk mencetak guru-guru unggul yang siap menghadapi tantangan pendidikan di era digital,” harapnya.

Webinar internasional ini menghadirkan diskusi tentang berbagai peluang dan tantangan yang dihadapi guru di era digital, termasuk pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran lintas negara, transformasi digital dalam kurikulum, keamanan digital dalam ruang pendidikan, pembelajaran kreatif berbasis platform online, dan praktik mengajar tanpa batas ruang dan waktu.

Para narasumber dari Thailand juga berbagi praktik baik tentang bagaimana sekolah-sekolah di sana mengintegrasikan teknologi untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Serta berbagi tentang budaya pendidikan karakter di lintas negara.

Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta yang tidak hanya hadir dari Sidoarjo, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia dan perwakilan lembaga pendidikan di Thailand.

FAI UNUSIDA Gelar Webinar Internasional: “Komparasi Pendidikan Anak Lintas Negara Mesir–Indonesia” (Foto: Istimewa)

FAI UNUSIDA Gelar Webinar Internasional: Komparasi Pendidikan Anak Lintas Negara Mesir–Indonesia

SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring akademik global melalui penyelenggaraan Webinar Internasional bertema ‘Komparasi Pendidikan Anak Lintas Negara: Mesir–Indonesia’, yang digelar pada Jumat (10/10/2025) secara daring melalui platform Zoom Meeting.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber inspiratif lintas negara, yakni LikLik Siti Anisa, S.Pd.I., Kepala TK NU Ar-Raudhah Mesir, sekaligus praktisi pendidikan Islam di Kairo, Mesir dan Moh. Anang Abidin, S.H.I., M.Pd., Ketua Program Studi PGMI UNUSIDA, yang juga merupakan dosen dan peneliti bidang pendidikan dasar Islam.

Webinar ini membahas secara mendalam perbandingan sistem dan praktik pendidikan anak antara Mesir dan Indonesia, baik dari sisi filosofi pendidikan, metode pembelajaran, maupun nilai-nilai keislaman yang menjadi dasar pengembangannya.

Dalam sambutannya, Rektor UNUSIDA, Dr. H. Fatkul Anam, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis dan relevan di tengah dinamika global pendidikan Islam dewasa ini.

“Mesir dikenal sebagai salah satu pusat peradaban dan pendidikan Islam dunia, terutama melalui Universitas Al-Azhar yang telah melahirkan banyak ulama dan pemikir besar sepanjang sejarah. Sementara itu, Indonesia dengan kekayaan budaya serta nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah terus berupaya menghadirkan sistem pendidikan yang moderat, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” terangnya.

Lebih lanjut, Rektor menegaskan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu menjadi wadah saling belajar dan berbagi pengalaman lintas negara.

“Melalui webinar ini, kita ingin melihat bagaimana kedua negara memaknai dan mengimplementasikan pendidikan anak berbasis nilai-nilai keselamatan dan kemanusiaan universal. Pengalaman lintas negara dapat menjadi inspirasi dalam membangun model pendidikan Islam yang holistik, berkarakter, dan berdaya saing global,” imbuhnya.

Ia juga menegaskan bahwa FAI UNUSIDA terus berkomitmen mengembangkan kegiatan internasional sebagai bentuk nyata implementasi visi universitas, yaitu menjadi Universitas unggul berkarakter Aswaja dan berdaya saing nasional pada tahun 2029.

“Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, narasumber, dan peserta. Semoga diskusi dan pertukaran gagasan hari ini membawa manfaat besar bagi pengembangan pendidikan Islam. Semoga Allah SWT meneguhkan hikmah keilmuan dan pendidikan Islam yang membawa keselamatan bagi umat,” ungkapnya.

Sementara itu, LikLik Siti Anisa dalam pemaparannya mengangkat topik menarik mengenai kesamaan budaya, sosial, dan pendidikan antara Indonesia dan Mesir, berdasarkan pengalamannya menetap dan mengajar di Kairo. Ia menjelaskan bahwa kedua negara memiliki kedekatan historis dan kultural yang kuat, terutama dalam hal nilai keagamaan, karakter sosial, dan tradisi keilmuan.

“Baik Indonesia maupun Mesir sama-sama dikenal sebagai bangsa religius yang menjunjung tinggi nilai gotong royong dan semangat belajar sepanjang hayat. Keduanya memiliki sistem pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter dan akhlak anak,” tutur LikLik dalam sesi presentasinya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa dalam konteks sosial, kedua negara memiliki populasi mayoritas Muslim dengan masyarakat yang majemuk dan terbuka. Hal ini menjadikan lembaga pendidikan di kedua negara tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar akademik, tetapi juga wadah pembentukan nilai moral dan spiritual.

Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya pendidikan karakter anak sejak dini. Di Mesir, proses pendidikan di taman kanak-kanak tidak hanya berfokus pada kemampuan kognitif, tetapi juga pada penanaman nilai disiplin, spiritualitas, dan kemandirian, nilai yang juga sejalan dengan tradisi pendidikan Islam di Indonesia.

Kegiatan ini berlangsung dinamis dan interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta yang berasal dari berbagai kalangan akademisi, mahasiswa, dan praktisi pendidikan. Diskusi mencakup berbagai aspek mulai dari metode pembelajaran anak usia dini, pendekatan karakter berbasis nilai Islam, hingga perbandingan struktur kurikulum antara kedua negara.

Dengan terselenggaranya Webinar Internasional ini, FAI UNUSIDA menegaskan perannya sebagai garda terdepan dalam memperluas wawasan global mahasiswa, memperkuat jejaring internasional, serta membangun tradisi akademik yang berorientasi pada keilmuan, kemanusiaan, dan nilai Aswaja An-Nahdliyah. (MY)