Pos

Siti Fatimah Wisudawan terbaik dalam Wisuda ke-10 UNUSIDA (Foto:Humas UNUSIDA)

Siti Fatimah, Wisudawan Terbaik UNUSIDA: Gelar Sarjana Jadi Pengingat untuk Terus Bermanfaat

SURABAYA — Siti Fatimah, wisudawati Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi menjadi wisudawan terbaik dengan IPK 3.98 dalam wisuda ke-10 Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), di Dyandra Convention Center, Jl. Basuki Rahmat No.93-105, Embong Kaliasin, Kec. Genteng, Surabaya, Ahad (20/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Ima sapaan akrabnya menyampaikan rasa syukur sekaligus haru karena dapat berdiri mewakili teman-teman wisudawan. Menurutnya, mengenakan toga pada hari wisuda mengingatkan kembali pada perjalanan panjang yang telah dilalui selama masa perkuliahan.

“Perjalanan kita untuk sampai ke titik ini bukanlah perjalanan yang selalu mudah. Ada begitu banyak cerita, perjuangan, doa, air mata, dan juga harapan yang mungkin tidak semuanya dapat kita ceritakan kepada orang lain,” ungkapnya.

Ia mengajak seluruh wisudawan untuk memberikan apresiasi kepada diri sendiri atas berbagai perjuangan yang telah dilewati. Mulai dari menyelesaikan tugas, menghadapi tenggat waktu, menjalani proses skripsi, revisi, hingga berbagai tantangan akademik lainnya.

Ima yang selama kuliah juga aktif berorganisasi tersebut menyebutkan bahwa setiap mahasiswa memiliki cerita perjuangan yang berbeda. Ada yang harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan, berjuang melalui beasiswa, menjalani perkuliahan sembari mondok, aktif berorganisasi, hingga menghadapi tanggung jawab keluarga maupun persoalan pribadi.

Sebagai salah satu penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), Ima mengaku memahami bahwa kesempatan menempuh pendidikan tinggi merupakan amanah yang sangat berarti.

“Bagi saya, beasiswa ini bukan hanya tentang bantuan biaya pendidikan. Di dalamnya ada kesempatan untuk belajar, bertumbuh, membangun harapan, dan membuktikan bahwa keadaan awal seseorang tidak harus menjadi batas bagi masa depannya,” tuturnya.

Namun, ia menegaskan bahwa perjuangan tidak hanya dimiliki oleh mahasiswa penerima beasiswa. Setiap mahasiswa memiliki tantangan masing-masing yang layak untuk dihargai.

“Bukan waktunya untuk membandingkan siapa yang paling berat perjuangannya. Hari ini adalah waktunya untuk saling menghargai karena kita semua telah melewati proses yang tidak mudah,” katanya.

Gelar Sarjana sebagai Awal Perjalanan

Ima juga mengingatkan bahwa prosesi wisuda bukanlah akhir dari perjalanan. Setelah menyelesaikan pendidikan, para lulusan akan menghadapi babak kehidupan yang baru dengan berbagai pilihan, mulai dari bekerja, melanjutkan pendidikan, membangun usaha, mengabdi kepada masyarakat, maupun mencari kesempatan baru.

Ia berpesan agar para lulusan tidak menjadikan gelar sarjana sebagai tanda bahwa proses belajar telah selesai.

“Jangan pernah merasa bahwa gelar sarjana adalah tanda bahwa kita telah mengetahui segalanya. Justru gelar ini menjadi pengingat bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk terus mengembangkan ilmu dan memberikan manfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Ima juga mengajak para wisudawan untuk tetap menjaga integritas, menghargai proses, serta membawa nama baik almamater di mana pun berada.

Ia berharap ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UNUSIDA dapat menjadi bekal untuk memberikan kontribusi bagi keluarga, masyarakat, agama, dan negara.

Terima Kasih untuk Orang Tua dan Almamater

Dalam sambutannya, Siti memberikan apresiasi khusus kepada orang tua dan keluarga yang selama ini menjadi sumber dukungan bagi para mahasiswa. “Gelar sarjana yang kami raih bukan hanya tentang pencapaian pribadi kami. Di dalamnya ada doa orang tua, ada perjuangan keluarga, dan ada harapan yang selama ini kita bawa,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pimpinan UNUSIDA, para dosen, serta seluruh pihak yang telah mendukung proses pendidikan mahasiswa. Menurutnya, para dosen tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab, kedisiplinan, integritas, serta pentingnya untuk terus belajar.

Tak lupa, Siti mengapresiasi teman-teman seperjuangan yang telah menjadi bagian dari perjalanan selama masa perkuliahan. “Semoga persahabatan yang telah kita bangun selama masa perkuliahan tidak berhenti hanya karena hari ini kita telah mengenakan toga,” harapnya.

Ia mengajak seluruh wisudawan untuk terus melangkah dengan semangat dan tidak melupakan perjuangan yang telah mengantarkan mereka hingga hari wisuda.

“Jika suatu hari nanti kita menghadapi kegagalan, semoga kita mengingat kembali perjuangan hari ini. Jika suatu saat kita merasa tidak mampu, semoga kita kembali menemukan keberanian untuk melangkah,” pesannya.

Ia juga mendoakan agar seluruh lulusan senantiasa diberikan keberkahan, kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menapaki kehidupan setelah kampus. Ia mengajak para lulusan untuk turut mengenalkan dan menyampaikan kepada masyarakat bahwa UNUSIDA merupakan kampus yang luar biasa, sekaligus terus menjaga nama baik almamater di tengah masyarakat.

“Semoga ilmu yang kita peroleh menjadi ilmu yang bermanfaat, menjadi amal jariah, dan menjadi bekal untuk memberikan kontribusi bagi keluarga, masyarakat, agama, dan negara,” pungkasnya.

Sekretaris LPT-PBNU, Dr. rer. pol. Muhammad Faishal Aminuddin, S.S., M.Si. saat menyampaikan Orasi Ilmiah dalam Wisuda ke-10 UNUSIDA. (Foto: Humas UNUSIDA)

Wisuda ke-10 UNUSIDA, Sekretaris LPT-PBNU Tekankan Karakter, Lifelong Learning, dan Daya Saing Lulusan

SURABAYA — Sekretaris Lembaga Pendidikan Tinggi (LPT) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Dr. rer. pol. Muhammad Faishal Aminuddin, S.S., M.Si., menekankan pentingnya pembentukan karakter, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar bagi para lulusan perguruan tinggi. Pesan tersebut disampaikan saat dirinya memberikan Orasi Ilmiah dalam Wisuda ke-10 Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) di Dyandra Convention Center, Jl. Basuki Rahmat No.93-105, Embong Kaliasin, Kec. Genteng, Surabaya, Ahad (20/9/2026).

Di hadapan para wisudawan, orang tua, dan sivitas akademika, Faishal mengingatkan bahwa gelar sarjana bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal untuk terus mengembangkan kapasitas diri. Menurutnya, kondisi dunia kerja yang terus berubah menuntut lulusan memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Keahlian atau skill yang diperoleh selama kuliah memang penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya bekal.

“Keahlian itu bisa berubah, bisa diasah. Apa yang Anda pelajari hari ini mungkin lima atau sepuluh tahun yang akan datang tidak laku lagi,” ujarnya.

Ia mencontohkan perkembangan teknologi dan perangkat kerja yang membuat berbagai keterampilan terus mengalami perubahan. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki fondasi kemampuan belajar yang kuat agar dapat mengikuti perubahan zaman.

Karakter Lebih Panjang Umurnya daripada Skill

Faishal menilai karakter menjadi salah satu modal penting yang perlu dibawa lulusan ketika memasuki dunia profesional. Kemampuan teknis dapat dipelajari melalui berbagai pelatihan dalam waktu relatif singkat, sedangkan pembentukan karakter membutuhkan proses yang lebih panjang.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita membangun karakter diri. Itu yang paling penting agar Anda bisa diterima, pergaulannya luas, jaringannya banyak, dan Anda bisa membuktikan bahwa Anda mampu serta bisa dipercaya untuk melaksanakan pekerjaan,” jelasnya.

Ia mengingatkan para wisudawan agar tidak memandang pendidikan tinggi hanya sebagai jalan untuk mendapatkan pekerjaan. Kuliah, kata dia, pada dasarnya merupakan proses untuk mencari ilmu agar seseorang menjadi pribadi yang lebih baik dan bijaksana.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah persoalan ketenagakerjaan dan ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Faishal menyebut kondisi tersebut sebagai mismatch, yakni ketika kompetensi atau bidang yang dipelajari tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Namun, ia mengajak para lulusan untuk tidak memandang mismatch semata-mata sebagai hambatan. Lulusan justru harus mampu memperluas kemungkinan kontribusinya melalui kompetensi yang dimiliki.

“Yang menghidup kita itu Tuhan, yang menghidup kita itu Allah. Percaya sajalah,” pesannya.

Jangan Putus Hubungan dengan Almamater

Salah satu gagasan yang ditekankan Faishal dalam orasinya adalah pentingnya konsep lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat. Ia mengusulkan agar hubungan mahasiswa dengan kampus tidak berakhir setelah prosesi wisuda. Para alumni diharapkan tetap terhubung dengan almamater, bukan sekadar untuk menjaga silaturahmi, tetapi juga sebagai ruang untuk meningkatkan kemampuan.

“Setelah lulus jangan kemudian tiba-tiba lepas dari UNUSIDA. Anda sebagai alumni harus tetap terhubung, meng-upgrade diri, dan UNUSIDA selalu harus menyediakan tempat itu,” katanya.

Menurutnya, perguruan tinggi perlu menyediakan berbagai layanan pengembangan kompetensi bagi alumni, terutama dalam menghadapi perubahan keterampilan yang berlangsung cepat.

Dengan demikian, hubungan antara perguruan tinggi dan alumni dapat menjadi ekosistem pembelajaran yang terus berlangsung meskipun mahasiswa telah menyelesaikan pendidikan formalnya.

Lulusan PTNU Harus Memiliki Penciri

Dalam kesempatan tersebut, Faishal juga menjelaskan peran LPT-PBNU dalam pengembangan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama. Ia menyampaikan bahwa LPT-PBNU membawahi 44 perguruan tinggi dan terus mendorong penguatan kualitas serta kekhasan pendidikan tinggi NU.

Menurutnya, perguruan tinggi NU perlu memiliki penciri yang jelas, sehingga lulusan PTNU memiliki identitas sekaligus kualitas yang dapat dibawa ke dunia profesional.

Ia meminta para lulusan UNUSIDA untuk tidak merasa rendah diri ketika harus bersaing dengan lulusan perguruan tinggi negeri maupun swasta lainnya.

“Yang dilihat pertama kali itu adalah mutu, bukan hanya sekadar kuliah,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi NU memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan pendidikan yang dapat menampung keberagaman masyarakat. Nilai toleransi dan kemampuan hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan menjadi bagian yang perlu terus dirawat.

Karena itu, lulusan PTNU diharapkan mampu membangun jejaring dengan sesama alumni perguruan tinggi NU di berbagai daerah. Jejaring tersebut dapat dikembangkan dalam dunia kerja maupun ruang profesional lainnya.

Tiga Pesan untuk Wisudawan

Menutup orasinya, Faishal menyampaikan tiga hal yang perlu diingat para wisudawan dalam menghadapi kehidupan setelah kampus.

Pertama, lulusan harus memiliki kesadaran untuk terus melakukan upgrading skill. Dunia terus berubah sehingga proses belajar tidak boleh berhenti setelah mendapatkan ijazah.

Kedua, lulusan harus memiliki daya saing tinggi. Daya saing tersebut dibuktikan dengan kemampuan dan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan oleh dunia kerja. Bahkan, menurutnya, lulusan dengan mental kewirausahaan dapat memilih untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

Ketiga, lulusan harus tetap memegang prinsip sebagai bagian dari keluarga besar perguruan tinggi Nahdlatul Ulama yang meyakini pentingnya keberkahan.

“Saya itu mulai dari desa, kuliah sampai di luar negeri, tinggal lama, itu tidak bisa lepas dari kepercayaan mengenai barokah, keberkahan. Karena sesuatu yang tidak mungkin itu bisa menjadi mungkin,” ungkapnya.

Tegaskan Status Transisi Kepemimpinan UNUSIDA

Dalam orasi tersebut, Faishal juga menyampaikan penjelasan mengenai status kepemimpinan UNUSIDA. Ia menegaskan bahwa badan hukum UNUSIDA berada di bawah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, sehingga kewenangan strategis terkait perguruan tinggi berada pada LPT-PBNU sebagai lembaga yang menangani pendidikan tinggi NU.

Ia menjelaskan bahwa posisi Pelaksana Tugas (Plt) Rektor merupakan bagian dari masa transisi dan proses penataan kelembagaan. “Status Plt ini transisi saja. Tidak lama lagi transisi itu akan bisa berakhir dan ada rektor definitif yang hak dan kewajibannya juga sama,” ujarnya.

Ia juga memastikan kepada para wisudawan dan keluarga bahwa ijazah yang diterbitkan tetap memiliki keabsahan. Menurutnya, LPT-PBNU telah memberikan mandat terkait otoritas dan keabsahan ijazah tersebut sehingga para lulusan tidak perlu meragukan status ijazah yang mereka terima.

Lebih lanjut, ia berharap para lulusan mampu membawa ilmu yang diperoleh selama berada di kampus untuk terus berkembang, memiliki daya saing, membangun jejaring, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Wisuda, bukanlah garis akhir pendidikan. Justru setelah mengenakan toga dan menerima ijazah, para lulusan memasuki fase baru untuk membuktikan bahwa ilmu, karakter, kompetensi, dan nilai yang diperoleh selama berada di UNUSIDA dapat menjadi bekal menghadapi perubahan zaman sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.

Ketua PCNU Sidoarjo, KH Zainal Abidin saat menyampaikan sambutan dalam Wisuda ke-10 UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

KH Zainal Abidin: Sarjana UNUSIDA Harus Bawa Ilmu dan Iman ke Tengah Masyarakat

SURABAYA — Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo, KH Zainal Abidin, menyampaikan pesan kepada para wisudawan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) agar menjadikan iman dan ilmu sebagai bekal utama ketika kembali ke tengah masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan dalam Wisuda ke-10 UNUSIDA yang digelar di Dyandra Convention Center Surabaya, Ahad (20/9/2026). Di hadapan para wisudawan, KH Zainal Abidin menegaskan bahwa gelar sarjana membawa tanggung jawab untuk memberikan manfaat dan turut membangun kesejahteraan masyarakat.

“Anak-anakku yang hari ini diwisuda juga mempunyai tugas berat. Kes arjanaan Anda ke tengah-tengah masyarakat, sajikan kesejahteraan Anda di tengah masyarakat,” tuturnya.

Menurutnya, iman menjadi fondasi penting bagi seorang sarjana dalam menjalani kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan. Iman tersebut, kata dia, harus tercermin melalui akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Ia meyakini selama menempuh pendidikan di UNUSIDA, para mahasiswa telah mendapatkan penguatan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan akhlakul karimah. Pembelajaran keagamaan, budaya yang dibangun di lingkungan kampus, serta keberadaan masjid dan ruang-ruang pembinaan rohani dinilai menjadi bagian dari proses tersebut.

“Iman terpancar dalam sebuah akhlak. Di UNUSIDA saya yakin sudah dibangun akhlakul karimah. Materi-materi Ahlussunnah wal Jamaah sudah diajarkan sekian semester, nilai-nilai akhlak sudah disampaikan,” jelasnya.

Selain iman, Kiai Zainal menekankan pentingnya ilmu. Menurutnya, ilmu yang diperoleh selama berada di bangku perkuliahan harus terus dipegang dan dikembangkan agar dapat memberikan manfaat di tengah masyarakat.

“Ketika kita punya bekal ilmu yang cukup, pastilah Allah mengangkat derajat kita sekalian. Dengan dua bekal, iman dan ilmu, itulah yang nanti menjadikan Anda tidak boleh ragu, tidak boleh gampang dan tidak boleh takut menghadapi situasi dan kondisi yang hari ini menjadi tantangan kita,” pesannya.

Ia juga mengingatkan para wisudawan agar tidak khawatir menghadapi masa depan. Menurutnya, setiap manusia telah memiliki jalan kehidupan masing-masing, sementara tugas seorang sarjana adalah terus berikhtiar dan berusaha meraih kesempatan yang tersedia.

“Allah sudah menyiapkan pekerjaan kepada Anda. Tinggal Anda bagaimana berikhtiar dan mengejar pekerjaan itu untuk membangun kesejahteraan,” ujarnya.

Kiai Zainal berharap para lulusan UNUSIDA mampu menjadi alumni yang membawa kebermanfaatan bagi masyarakat. Ilmu yang diperoleh selama kuliah diharapkan tidak berhenti pada gelar akademik, tetapi diwujudkan dalam pengabdian nyata.

“Mudah-mudahan anak-anakku menjadi alumni UNUSIDA yang benar-benar manfaat ilmunya, benar-benar barokah ilmunya, dan bisa dibawa di tengah-tengah masyarakat,” harapnya.

Dalam kesempatan tersebut, KH Zainal Abidin juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran rektorat, dosen, dan seluruh pihak yang selama ini berkontribusi dalam membangun UNUSIDA. Ia menilai pengabdian para dosen tidak semata-mata diukur dari aspek materi, tetapi juga dari semangat mereka dalam mendidik dan membimbing mahasiswa.

“Terima kasih kepada jajaran rektorat, para dosen yang mungkin honornya tidak terlalu tinggi, tetapi yang tinggi adalah semangatnya. Maknai bahwa mengajar itu sudah tidak hanya sekadar mencari honor, tidak hanya sekadar mencari pendapatan, tetapi di sana tempat berkhidmah,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Kiai Zainal mendoakan seluruh keluarga besar UNUSIDA agar senantiasa diberikan keberkahan, kesehatan, serta kemudahan dalam menjalankan pengabdian. Ia mengajak para wisudawan untuk membawa semangat iman dan ilmu dalam perjalanan kehidupan setelah kampus.

“Keimanan yang ditanamkan dan ilmu yang Anda peroleh dari UNUSIDA pegang teguh. Karena di situlah tempat dibangunnya derajat yang dijanjikan oleh Allah SWT. Ketika kita punya iman, ketika kita punya ilmu, maka masyarakat akan menghargai kita sekalian,” pungkasnya.

Suasana Wisuda Program Sarjana ke-X di Dyandra Convention Center Surabaya. (Foto: Humas UNUSIDA)

Wisuda ke-10 UNUSIDA, 497 Lulusan Siap Melanjutkan Khidmat di Masyarakat

SURABAYA — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Wisuda Program Sarjana ke-X di Dyandra Convention Center Surabaya, Ahad (20/9/2026). Sebanyak 497 wisudawan dan wisudawati dari lima fakultas mengikuti prosesi wisuda dengan penuh khidmat.

Ke-497 lulusan tersebut berasal dari Fakultas Agama Islam (FAI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Ekonomi (FE), Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), dan Fakultas Teknik (FT).

Dalam sambutannya, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, menyampaikan bahwa UNUSIDA masih berada dalam usia yang relatif muda dan menghadapi berbagai keterbatasan serta kekurangan. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi alasan bagi perguruan tinggi di bawah naungan Nahdlatul Ulama tersebut untuk berhenti berprestasi.

“Usia muda bukanlah alasan untuk tidak berprestasi. Berbagai langkah inovasi telah dan sedang dijalankan untuk meningkatkan mutu pelayanan dan mendorong semangat prestasi di semua bidang,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kerukunan, kebersamaan, dan keharmonisan dengan para ulama serta Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Sidoarjo. Menurutnya, sinergi tersebut menjadi modal penting bagi UNUSIDA untuk terus tumbuh menjadi perguruan tinggi yang lebih besar, sehat, kuat, dan unggul.

Di tengah proses pengembangan tersebut, UNUSIDA telah menorehkan sejumlah prestasi, baik pada tingkat kelembagaan maupun bidang kemahasiswaan.

Salah satunya melalui penghargaan dalam Kongres Pendidikan Besar Nahdlatul Ulama 2025 dengan kategori Winner Pengabdian kepada Masyarakat. Penghargaan tersebut diraih melalui kajian mengenai pemahaman orang tua tentang substansi pendidikan dengan wilayah studi kasus Sidoarjo dan Sumenep, Madura.

Selain itu, sivitas akademika UNUSIDA terus didorong untuk menghasilkan karya dan prestasi dalam berbagai bidang, termasuk penulisan ilmiah serta kompetisi di tingkat nasional maupun internasional.

Dorong Kemandirian Finansial

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hadi juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan yang terus berkomitmen membangun UNUSIDA. Menurutnya, semangat membangun kampus juga diarahkan pada upaya memperkuat kemandirian finansial universitas melalui pengembangan berbagai program produktif.

Salah satunya melalui UNUSIDA Training Center yang telah dipercaya menyelenggarakan berbagai pelatihan berskala nasional. Program tersebut mencakup pelatihan dan sertifikasi dengan peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

UNUSIDA juga terus mengembangkan produk pengetahuan dan layanan profesional dalam bidang manajemen, tata kelola kelembagaan, pengelolaan keuangan, serta pengembangan sumber daya manusia untuk organisasi, UMKM, pesantren, masjid, sekolah, perguruan tinggi, dan berbagai lembaga lainnya.

Selain itu, universitas mengembangkan budidaya tambak sebagai salah satu potensi ekonomi produktif. Pelatihan dan praktik manasik bagi masyarakat, khususnya siswa-siswi RA Muslimat Nahdlatul Ulama, juga menjadi bagian dari pengembangan layanan UNUSIDA kepada masyarakat.

“Jajaran pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo memberikan dukungan, pembinaan, dan bimbingan kepada kami. Itu semua menjadi penyemangat bagi kami dalam bekerja dan membangun universitas ini,” jelasnya.

Pesan untuk Para Wisudawan

Lebih lanjut, Dr. Hadi mengingatkan bahwa prosesi wisuda bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan. Gelar akademik yang diperoleh diharapkan menjadi bekal bagi para lulusan untuk terus berkarya dan memberikan manfaat di tengah masyarakat. Ia mengajak seluruh keluarga besar UNUSIDA untuk terus menjaga kebersamaan dalam membangun kampus.

“Jadikan momentum ini untuk melanjutkan perjalanan menuju dunia profesional, pengabdian, dan kehidupan bermasyarakat dengan membawa ilmu serta pengalaman yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UNUSIDA,” pesannya.

Momen foto bersama seluruh peserta Yudisium ke-10 Fakultas Teknik UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-10 Fakultas Teknik UNUSIDA, Tekankan Pentingnya Menjaga Nama Baik Almamater

SIDOARJO — Fakultas Teknik (FT) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Yudisium ke-10 di Hall Gedung A, Kampus UNUSIDA Lingkar Timur Sidoarjo, Rabu (19/8/2026) malam. sebagai momentum pengukuhan sekaligus pelepasan mahasiswa yang telah menyelesaikan rangkaian pendidikan akademiknya.

Dekan Fakultas Teknik UNUSIDA, Listin Fitrianah, S.P., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan komitmen Fakultas Teknik untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan, pengajaran, serta fasilitas penunjang pembelajaran. Salah satu pengembangan yang menjadi perhatian adalah penambahan fasilitas laboratorium.

Menurutnya, keberadaan laboratorium yang lengkap menjadi bagian penting dalam mendukung proses pembelajaran mahasiswa Fakultas Teknik. Sejumlah mahasiswa juga telah memanfaatkan fasilitas tersebut dalam kegiatan perkuliahan.

“Fakultas Teknik kalau laboratoriumnya tidak lengkap juga sulit. Karena itu, kami berharap pengembangan laboratorium dapat terus didukung secara bertahap sehingga bisa menunjang kebutuhan pembelajaran mahasiswa,” ujarnya.

Listin juga menyampaikan permohonan maaf mewakili jajaran struktural Fakultas Teknik apabila selama proses pendidikan terdapat kesalahan dalam pelayanan maupun penyampaian. Ia menegaskan bahwa Fakultas Teknik terus berupaya memberikan pelayanan, pengajaran, dan fasilitas terbaik bagi mahasiswa.

Memasuki fase setelah kelulusan, ia berpesan kepada para yudisiawan agar tetap menjaga nama baik almamater. Yudisium kali ini menjadi ruang refleksi atas perjuangan mahasiswa selama menempuh pendidikan sekaligus bekal untuk memasuki kehidupan profesional dan bermasyarakat. Menurutnya, status sebagai alumni UNUSIDA merupakan bagian dari perjalanan yang perlu dibanggakan sekaligus dijaga melalui sikap dan kontribusi positif di tengah masyarakat.

“Ketika kita lulus, tolong dijaga almamater kita. Kita harus bangga sebagai alumni UNUSIDA. Jika ada informasi maupun perkembangan dari luar, mari kita saling berbagi dan menyampaikannya kepada adik-adik tingkat,” pesannya.

Ia juga mengajak para alumni untuk turut berkontribusi dalam mengenalkan Fakultas Teknik UNUSIDA kepada keluarga, tetangga, maupun calon mahasiswa yang memiliki minat melanjutkan pendidikan di bidang teknik. Listin berharap dengan bekal akademik, pengalaman organisasi, serta nilai-nilai yang diperoleh selama berada di kampus, para alumni mampu hadir sebagai tenaga profesional sekaligus bagian dari masyarakat yang memberikan kontribusi nyata.

“Kalau ada keluarga atau tetangga yang berminat menjadi mahasiswa baru, mari kita ajak dan kita sampaikan bahwa Fakultas Teknik UNUSIDA memiliki dosen-dosen yang siap mendampingi mahasiswa dalam proses perkuliahan,” lanjutnya.

Sementara itu, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menekankan bahwa kelulusan bukan sekadar capaian akademik, melainkan hasil dari perjuangan panjang mahasiswa selama menempuh pendidikan.

Ia mengapresiasi perjuangan mahasiswa Fakultas Teknik yang menjalani proses perkuliahan dengan berbagai tantangan, termasuk bagi mahasiswa yang harus membagi waktu antara perkuliahan, pekerjaan, dan kehidupan keluarga.

“Perjuangan kuliah di Fakultas Teknik tidak mudah. Karena itu, saya menghargai proses yang telah dilalui hingga hari ini. Empat tahun atau bahkan lebih bukan waktu yang pendek. Ada perjuangan, kelelahan, dan proses panjang yang akhirnya mengantarkan saudara menyandang gelar Sarjana Teknik,” ungkapnya.

Menurutnya, setelah meninggalkan ruang kelas, para lulusan akan memasuki dunia nyata yang memiliki tantangan berbeda. Karena itu, ilmu yang diperoleh selama perkuliahan harus diwujudkan dalam sikap profesional, kemampuan memecahkan persoalan, serta perilaku yang mencerminkan nilai-nilai yang telah dipelajari selama menjadi mahasiswa.

“Dari ruang kelas menuju dunia nyata, ilmu yang diperoleh selama empat tahun harus digunakan untuk menghadapi berbagai persoalan. Bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga bagaimana cara kita berperilaku dan menjadi profesional,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan para lulusan agar tetap menjaga hubungan dengan almamater sebagai bagian dari keluarga besar UNUSIDA. Kelulusan, menurutnya, bukan akhir dari hubungan mahasiswa dengan kampus, melainkan awal dari perjalanan baru untuk membawa nilai-nilai UNUSIDA ke tengah masyarakat.

Lebih lanjut, Hadi menyampaikan apresiasi kepada para lulusan atas perjuangan yang telah mereka lalui serta berharap ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, nusa, dan bangsa.

“Selamat atas kelulusan saudara. Semoga ilmu yang diperoleh selama di UNUSIDA menjadi ilmu yang bermanfaat untuk nusa dan bangsa. Tetap jaga almamater, semangat, terus berdoa, serta jangan lupa menyampaikan salam dan terima kasih kepada orang tua dan keluarga masing-masing,” pungkasnya.

Ketua Umum PBNU, KH Yahya CHolil Staquf saat menyampaikan Orasi Kebangsaan saat Wisuda IX UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Ketua Umum PBNU Gus Yahya Orasi Kebangsaan di Wisuda IX UNUSIDA: Sarjana Harus Siap Mengabdi untuk Bangsa

SURABAYA — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya, hadir memberikan orasi kebangsaan pada Wisuda IX Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) yang dilaksanakan di Dyandra Convention Center, Surabaya, Sabtu (6/9/2025).

Dalam orasinya, Gus Yahya menekankan bahwa wisuda bukan sekadar pengakuan status akademik, melainkan juga rekognisi atas kapasitas dan kompetensi yang harus diwujudkan dalam pengabdian nyata kepada masyarakat, bangsa, dan agama.

Menurut Gus Yahya, dalam tradisi Islam, pengakuan keilmuan bersifat kualitatif, sehingga tidak dapat sepenuhnya disamakan dengan istilah ‘sarjana’ dalam pendidikan modern. Seperti pengakuan terhadap seorang ulama atau ilmuwan tidak berhenti pada ijazah, tetapi lebih kepada kualitas keilmuan, kompetensi, dan dedikasi yang diakui oleh masyarakat. Ia mencontohkan ulama besar seperti Imam Syafi’i, Imam Al-Ghazali, hingga Imam Fakhruddin Ar-Razi, yang diakui bukan karena gelar formal semata, tetapi karena kapasitas dan integritas keilmuannya.

“Pertanyaan pentingnya adalah, apakah kesarjanaan kita ini hanya dipahami sebagai status lulusan, ataukah juga sebagai kompetensi dan kapasitas yang sesungguhnya?” tegasnya.

Gus Yahya mengingatkan bahwa perjalanan para wisudawan tidak berhenti pada prosesi wisuda. Justru setelah menyandang gelar sarjana, mereka akan berhadapan dengan tantangan hidup yang lebih besar. “Urusan kalian belum selesai. Masih banyak pergulatan kehidupan yang harus dihadapi. Karena itu, selain ikhtiar lahir, jangan pernah melepaskan ikhtiar batin dengan terus bergantung kepada Allah,” pesannya.

Ia juga mengutip nasehat ulama bahwa seluruh ikhtiar manusia berjalan dalam bingkai takdir Allah. Karena itu, seorang sarjana harus bermental kuat, siap bersyukur ketika mendapat keberhasilan, dan siap ridha ketika menghadapi ujian. “Dengan sikap mental seperti ini, tantangan apapun tidak akan menggoyahkan langkah kita untuk mencapai kemajuan dan kemuliaan,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Gus Yahya juga menyinggung tentang strategi ekonomi nasional yang dipaparkan Presiden RI Prabowo Subianto, yang menurutnya membuka jutaan lapangan kerja baru. Hal ini menjadi peluang besar bagi para sarjana, termasuk lulusan UNUSIDA, untuk turut berkontribusi. Namun, ia mengingatkan agar para wisudawan tidak hanya berorientasi pada pekerjaan di satu daerah, tetapi siap mengabdi di seluruh wilayah Indonesia.

“Indonesia akan makmur apabila sarjana-sarjana Universitas Nahdlatul Ulama siap mengabdi secara nasional, di seluruh tanah air. Bukan hanya mencari kehidupan yang lebih baik, tapi juga berbakti kepada bangsa dan negara. Karena dengan berbakti dan mengabdi, insya Allah kita akan mendapatkan kemuliaan,” pungkasnya. (MY)