Pos

Momen foto bersama seluruh peserta Yudisium ke-10 Fakultas Teknik UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-10 Fakultas Teknik UNUSIDA, Tekankan Pentingnya Menjaga Nama Baik Almamater

SIDOARJO — Fakultas Teknik (FT) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Yudisium ke-10 di Hall Gedung A, Kampus UNUSIDA Lingkar Timur Sidoarjo, Rabu (19/8/2026) malam. sebagai momentum pengukuhan sekaligus pelepasan mahasiswa yang telah menyelesaikan rangkaian pendidikan akademiknya.

Dekan Fakultas Teknik UNUSIDA, Listin Fitrianah, S.P., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan komitmen Fakultas Teknik untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan, pengajaran, serta fasilitas penunjang pembelajaran. Salah satu pengembangan yang menjadi perhatian adalah penambahan fasilitas laboratorium.

Menurutnya, keberadaan laboratorium yang lengkap menjadi bagian penting dalam mendukung proses pembelajaran mahasiswa Fakultas Teknik. Sejumlah mahasiswa juga telah memanfaatkan fasilitas tersebut dalam kegiatan perkuliahan.

“Fakultas Teknik kalau laboratoriumnya tidak lengkap juga sulit. Karena itu, kami berharap pengembangan laboratorium dapat terus didukung secara bertahap sehingga bisa menunjang kebutuhan pembelajaran mahasiswa,” ujarnya.

Listin juga menyampaikan permohonan maaf mewakili jajaran struktural Fakultas Teknik apabila selama proses pendidikan terdapat kesalahan dalam pelayanan maupun penyampaian. Ia menegaskan bahwa Fakultas Teknik terus berupaya memberikan pelayanan, pengajaran, dan fasilitas terbaik bagi mahasiswa.

Memasuki fase setelah kelulusan, ia berpesan kepada para yudisiawan agar tetap menjaga nama baik almamater. Yudisium kali ini menjadi ruang refleksi atas perjuangan mahasiswa selama menempuh pendidikan sekaligus bekal untuk memasuki kehidupan profesional dan bermasyarakat. Menurutnya, status sebagai alumni UNUSIDA merupakan bagian dari perjalanan yang perlu dibanggakan sekaligus dijaga melalui sikap dan kontribusi positif di tengah masyarakat.

“Ketika kita lulus, tolong dijaga almamater kita. Kita harus bangga sebagai alumni UNUSIDA. Jika ada informasi maupun perkembangan dari luar, mari kita saling berbagi dan menyampaikannya kepada adik-adik tingkat,” pesannya.

Ia juga mengajak para alumni untuk turut berkontribusi dalam mengenalkan Fakultas Teknik UNUSIDA kepada keluarga, tetangga, maupun calon mahasiswa yang memiliki minat melanjutkan pendidikan di bidang teknik. Listin berharap dengan bekal akademik, pengalaman organisasi, serta nilai-nilai yang diperoleh selama berada di kampus, para alumni mampu hadir sebagai tenaga profesional sekaligus bagian dari masyarakat yang memberikan kontribusi nyata.

“Kalau ada keluarga atau tetangga yang berminat menjadi mahasiswa baru, mari kita ajak dan kita sampaikan bahwa Fakultas Teknik UNUSIDA memiliki dosen-dosen yang siap mendampingi mahasiswa dalam proses perkuliahan,” lanjutnya.

Sementara itu, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menekankan bahwa kelulusan bukan sekadar capaian akademik, melainkan hasil dari perjuangan panjang mahasiswa selama menempuh pendidikan.

Ia mengapresiasi perjuangan mahasiswa Fakultas Teknik yang menjalani proses perkuliahan dengan berbagai tantangan, termasuk bagi mahasiswa yang harus membagi waktu antara perkuliahan, pekerjaan, dan kehidupan keluarga.

“Perjuangan kuliah di Fakultas Teknik tidak mudah. Karena itu, saya menghargai proses yang telah dilalui hingga hari ini. Empat tahun atau bahkan lebih bukan waktu yang pendek. Ada perjuangan, kelelahan, dan proses panjang yang akhirnya mengantarkan saudara menyandang gelar Sarjana Teknik,” ungkapnya.

Menurutnya, setelah meninggalkan ruang kelas, para lulusan akan memasuki dunia nyata yang memiliki tantangan berbeda. Karena itu, ilmu yang diperoleh selama perkuliahan harus diwujudkan dalam sikap profesional, kemampuan memecahkan persoalan, serta perilaku yang mencerminkan nilai-nilai yang telah dipelajari selama menjadi mahasiswa.

“Dari ruang kelas menuju dunia nyata, ilmu yang diperoleh selama empat tahun harus digunakan untuk menghadapi berbagai persoalan. Bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga bagaimana cara kita berperilaku dan menjadi profesional,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan para lulusan agar tetap menjaga hubungan dengan almamater sebagai bagian dari keluarga besar UNUSIDA. Kelulusan, menurutnya, bukan akhir dari hubungan mahasiswa dengan kampus, melainkan awal dari perjalanan baru untuk membawa nilai-nilai UNUSIDA ke tengah masyarakat.

Lebih lanjut, Hadi menyampaikan apresiasi kepada para lulusan atas perjuangan yang telah mereka lalui serta berharap ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, nusa, dan bangsa.

“Selamat atas kelulusan saudara. Semoga ilmu yang diperoleh selama di UNUSIDA menjadi ilmu yang bermanfaat untuk nusa dan bangsa. Tetap jaga almamater, semangat, terus berdoa, serta jangan lupa menyampaikan salam dan terima kasih kepada orang tua dan keluarga masing-masing,” pungkasnya.

Ketua Umum PBNU, KH Yahya CHolil Staquf saat menyampaikan Orasi Kebangsaan saat Wisuda IX UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Ketua Umum PBNU Gus Yahya Orasi Kebangsaan di Wisuda IX UNUSIDA: Sarjana Harus Siap Mengabdi untuk Bangsa

SURABAYA — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya, hadir memberikan orasi kebangsaan pada Wisuda IX Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) yang dilaksanakan di Dyandra Convention Center, Surabaya, Sabtu (6/9/2025).

Dalam orasinya, Gus Yahya menekankan bahwa wisuda bukan sekadar pengakuan status akademik, melainkan juga rekognisi atas kapasitas dan kompetensi yang harus diwujudkan dalam pengabdian nyata kepada masyarakat, bangsa, dan agama.

Menurut Gus Yahya, dalam tradisi Islam, pengakuan keilmuan bersifat kualitatif, sehingga tidak dapat sepenuhnya disamakan dengan istilah ‘sarjana’ dalam pendidikan modern. Seperti pengakuan terhadap seorang ulama atau ilmuwan tidak berhenti pada ijazah, tetapi lebih kepada kualitas keilmuan, kompetensi, dan dedikasi yang diakui oleh masyarakat. Ia mencontohkan ulama besar seperti Imam Syafi’i, Imam Al-Ghazali, hingga Imam Fakhruddin Ar-Razi, yang diakui bukan karena gelar formal semata, tetapi karena kapasitas dan integritas keilmuannya.

“Pertanyaan pentingnya adalah, apakah kesarjanaan kita ini hanya dipahami sebagai status lulusan, ataukah juga sebagai kompetensi dan kapasitas yang sesungguhnya?” tegasnya.

Gus Yahya mengingatkan bahwa perjalanan para wisudawan tidak berhenti pada prosesi wisuda. Justru setelah menyandang gelar sarjana, mereka akan berhadapan dengan tantangan hidup yang lebih besar. “Urusan kalian belum selesai. Masih banyak pergulatan kehidupan yang harus dihadapi. Karena itu, selain ikhtiar lahir, jangan pernah melepaskan ikhtiar batin dengan terus bergantung kepada Allah,” pesannya.

Ia juga mengutip nasehat ulama bahwa seluruh ikhtiar manusia berjalan dalam bingkai takdir Allah. Karena itu, seorang sarjana harus bermental kuat, siap bersyukur ketika mendapat keberhasilan, dan siap ridha ketika menghadapi ujian. “Dengan sikap mental seperti ini, tantangan apapun tidak akan menggoyahkan langkah kita untuk mencapai kemajuan dan kemuliaan,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Gus Yahya juga menyinggung tentang strategi ekonomi nasional yang dipaparkan Presiden RI Prabowo Subianto, yang menurutnya membuka jutaan lapangan kerja baru. Hal ini menjadi peluang besar bagi para sarjana, termasuk lulusan UNUSIDA, untuk turut berkontribusi. Namun, ia mengingatkan agar para wisudawan tidak hanya berorientasi pada pekerjaan di satu daerah, tetapi siap mengabdi di seluruh wilayah Indonesia.

“Indonesia akan makmur apabila sarjana-sarjana Universitas Nahdlatul Ulama siap mengabdi secara nasional, di seluruh tanah air. Bukan hanya mencari kehidupan yang lebih baik, tapi juga berbakti kepada bangsa dan negara. Karena dengan berbakti dan mengabdi, insya Allah kita akan mendapatkan kemuliaan,” pungkasnya. (MY)