Wujud Guru Muda Profesional dari PGSD UNUSIDA 1

Wujud Guru Muda Profesional dari PGSD UNUSIDA

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menghadirkan kisah inspiratif dari para lulusan terbaiknya. Kali ini, sorotan tertuju kepada Alfiadny Firdausy, S.Pd., alumni Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) angkatan lulus 2024 yang kini berkarier sebagai guru di SD Islam Sabilillah Sidoarjo. Sosoknya dikenal ramah, tekun, dan penuh dedikasi—sebuah representasi nyata dari kualitas lulusan UNUSIDA yang siap berkontribusi dalam dunia pendidikan.

Dalam perbincangan yang hangat, Alfiadny berbagi pengalaman selama menempuh pendidikan di UNUSIDA, pengalaman yang tidak hanya memberi bekal akademik tetapi juga membentuk karakter, jaringan pertemanan, dan kemampuan profesional yang kini sangat menunjang kariernya. Baginya, masa kuliah bukan sekadar proses memperoleh gelar, tetapi sebuah perjalanan penuh pembelajaran yang sangat berkesan.

UNUSIDA memberi banyak pengetahuan dan ilmu yang sangat bermanfaat bagi karier saya,” ujarnya. Ia menuturkan bahwa pengalaman belajar di PGSD UNUSIDA merupakan fondasi kuat yang membentuk cara berpikir kritis, kedewasaan bersikap, dan kesiapan mental untuk terjun ke dunia kerja. Setiap mata kuliah, proyek, dan bimbingan dosen menjadi batu loncatan menuju kompetensi guru profesional yang ia bangun hari ini.

Salah satu hal yang paling membekas bagi Alfiadny adalah sosok para dosen yang disebutnya “luar biasa dan penuh dedikasi”. Menurutnya, setiap dosen memiliki karakter, metode, dan gaya mengajar yang berbeda-beda, namun sama-sama memiliki satu tujuan: mengembangkan mahasiswa menjadi calon pendidik yang kompeten dan berkarakter.

Ia menceritakan bagaimana para dosen PGSD tidak hanya mengajar teori, tetapi juga memberikan contoh nyata praktik pembelajaran, mengajak mahasiswa berdiskusi aktif, dan membimbing dengan penuh kesabaran. “Banyak dosen di UNUSIDA yang benar-benar peduli pada mahasiswanya. Mereka bukan hanya mengajar, tetapi mendampingi dan memberi motivasi ketika kami kesulitan,” ceritanya.

Baca juga:  Spirit Qurani Sambut Harlah ke-11 UNUSIDA: Tumbuh Bersama, Berdampak untuk Bangsa

Bagi Alfiadny, interaksi dengan dosen adalah bagian penting dari proses pendewasaan diri. Ia belajar bagaimana seorang pendidik semestinya bersikap: profesional, tegas, namun tetap humanis. Hal itu pula yang kini ia praktikkan saat mengajar murid-muridnya di SD Islam Sabilillah.

Selain dukungan dari dosen, pengalaman belajar dalam kelas maupun lapangan menjadi kenangan yang membentuk keterampilannya sebagai guru. Proses microteaching, observasi ke sekolah, hingga praktik mengajar langsung membuatnya semakin percaya diri dalam menghadapi berbagai karakter siswa.

Menurutnya, kurikulum PGSD UNUSIDA sangat relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Mata kuliah tentang literasi, numerasi, media pembelajaran digital, hingga kurikulum merdeka menjadi bekal nyata dalam merancang pembelajaran kreatif, inovatif, dan efektif.

Cara belajar di UNUSIDA itu benar-benar membuka wawasan saya. Tidak hanya menerima materi, tetapi kami diajak berpikir, menganalisis, mencoba, dan menciptakan sesuatu,” ungkapnya. Ia merasa setiap pengalaman akademik selama kuliah memperkaya strategi mengajar yang kini ia gunakan di kelas.

Memperluas Relasi Hingga ke Luar Kampus

Tak hanya itu, selama berkuliah Alfiadny mendapatkan jaringan relasi yang sangat luas. Baginya, hubungan baik dengan teman seangkatan, senior, alumni, hingga pihak luar kampus menjadi aset penting yang masih ia rasakan manfaatnya hingga sekarang.

Ia tidak hanya bersosialisasi dalam lingkup perkuliahan, tetapi juga terlibat dalam kegiatan di luar kampus yang memperluas koneksi dan pemahaman tentang dunia pendidikan. “Relasi itu penting sekali. Banyak kesempatan yang saya dapatkan justru lewat teman, alumni, atau kegiatan organisasi yang saya ikuti. Semua itu berawal dari UNUSIDA,” jelasnya.

Relasi inilah yang pada akhirnya turut membuka peluang kerja dan kesempatan pengembangan diri setelah lulus kuliah.

Baca juga:  Mohamad Gofur, Alumni Teknik Industri UNUSIDA Buktikan Peran Kampus Penting dalam Karir Profesional

Selama kuliah, Alfiadny juga aktif mengikuti beberapa organisasi kampus. Kegiatan ini menjadi ruang untuk mengasah kemampuan leadership, komunikasi, kerja sama tim, serta manajemen waktu—soft skills yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja, terutama profesi guru.

Ia menuturkan bahwa organisasi membuatnya lebih percaya diri dan mampu menghadapi tantangan dengan lebih tenang. “Lewat organisasi, saya belajar bagaimana mengatur kegiatan, berkolaborasi dengan banyak orang, menghadapi konflik, bahkan belajar berbicara di depan umum. Semua itu sangat membantu saya saat harus memimpin kelas sebagai guru,” katanya.

Kini, dalam perannya sebagai guru, Alfiadny merasakan betul betapa pentingnya ilmu dan pembiasaan yang ia dapatkan di PGSD UNUSIDA. Mulai dari menyusun RPP, membuat media pembelajaran kreatif, mengelola kelas, hingga membangun kedekatan emosional dengan siswa—semuanya merupakan kompetensi yang ia pelajari selama kuliah.

Ia mengaku bangga menjadi bagian dari keluarga besar UNUSIDA. “Pengalaman belajar di kampus menjadi bekal berharga dalam membentuk cara berpikir, sikap profesional, dan kemampuan beradaptasi di dunia kerja,” tuturnya.

Kisah Alfiadny Firdausy membuktikan bahwa UNUSIDA bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter, jejaring, dan pengalaman yang mempersiapkan mahasiswa menjadi profesional sejati. Perjalanan seorang guru tidak dimulai dari kelas tempat ia mengajar, tetapi dari kampus yang membentuknya.

Dengan semangat dan dedikasi yang ia tunjukkan, Alfiadny menjadi contoh bahwa lulusan UNUSIDA siap bersaing, siap mengabdi, dan siap menjadi agen perubahan dalam dunia pendidikan.