Mahasiswa FAI UNUSIDA Gelar Seminar Bijak Digital Sejak Dini (Foto: FAI UNUSIDA)

Mahasiswa FAI UNUSIDA Gelar Seminar Bijak Digital Sejak Dini, Dampingi Orang Tua Hadapi Tantangan Parenting

SIDOARJO – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, tantangan pengasuhan anak (parenting) kini memasuki babak baru. Menyikapi kondisi tersebut, mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan seminar edukasi bertajuk ‘Bijak Digital Sejak Dini’ di lembaga RA Al-Qur’an Hidayatulloh Sidoarjo, Jumat (19/12/2025) lalu.

Kegiatan ini bertujuan membantu para orang tua memahami cara menyeimbangkan pemanfaatan teknologi dengan tumbuh kembang optimal anak, khususnya pada masa usia emas (golden age). Seminar ini mendapat respons positif dari para wali murid yang hadir, mengingat meningkatnya penggunaan gawai pada anak usia dini dalam kehidupan sehari-hari.

Data menunjukkan bahwa paparan layar (screen time) pada anak usia dini mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Meski smartphone menawarkan beragam konten edukatif, penggunaan yang tidak terkontrol berpotensi menimbulkan dampak negatif, seperti keterlambatan bicara (speech delay), menurunnya konsentrasi, hingga terbatasnya kemampuan interaksi sosial anak.

Salah satu pemateri, Ziyarotul Ummah, mahasiswi Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) UNUSIDA, menegaskan pentingnya peran aktif orang tua dalam mendampingi anak saat menggunakan teknologi.

Smartphone bukanlah pengasuh elektronik. Kunci utama bagi anak usia dini bukan pada pelarangan total, melainkan pada pembatasan durasi dan pendampingan aktif dari orang tua. Kita ingin anak-anak menjadi pengguna teknologi yang cerdas, bukan sekadar konsumen konten yang pasif,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, Ziyarotul membagikan tiga pilar utama penggunaan smartphone yang bijak bagi anak usia dini. Pertama, durasi yang terukur, di mana anak usia di bawah dua tahun disarankan tidak terpapar layar sama sekali kecuali untuk video call, sementara anak usia 2–5 tahun dibatasi maksimal satu jam per hari dengan konten berkualitas. Kedua, konten yang edukatif dan interaktif, yakni konten yang mendorong kreativitas dan kemampuan berpikir, bukan tontonan berulang yang bersifat pasif. Ketiga, interaksi dua arah, di mana orang tua diajak untuk turut menemani anak dan berdiskusi tentang konten yang ditonton guna menstimulasi kemampuan bahasa dan kognitif.

Baca juga:  Mahasiswa UNUSIDA Raih Juara 3 International Business Plan Competition, Usung Inovasi Cheese Moringa Biscuits Dukung Program MBG

Selain fokus pada pengelolaan layar, seminar ini juga menekankan pentingnya aktivitas fisik dan permainan sensorik di dunia nyata. Keseimbangan antara aktivitas digital dan eksplorasi fisik dinilai sangat penting untuk mendukung perkembangan motorik kasar dan halus anak.

Ia menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat. Ia berharap, berbagai seminar dan panduan praktis seperti ini dapat membantu keluarga Indonesia tetap berdaya, bijak, dan berakhlak di tengah gempuran teknologi digital.

“Semoga melalui pendampingan kepada orang tua dapat semakin bijak dalam membimbing putra-putrinya dalam menggunakan teknologi,” pungkasnya.