BEM UNUSIDA Hadirkan Diskusi Kritis Lewat Pemutaran Film Dokumenter Pesta Babi (Foto: Humas UNUSIDA)

BEM UNUSIDA Gelar Nobar Film Dokumenter Pesta Babi, Bangun Kepekaan Sosial Mahasiswa

SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (BEM UNUSIDA) bekerja sama dengan berbagai organisasi kemahasiswaan dan komunitas intelektual kampus menyelenggarakan kegiatan Nonton Bareng (Nobar) film dokumenter Pesta Babi di area parkir belakang Gedung A UNUSIDA, Rabu (10/06/2026) malam. Mengusung tema ‘Membaca Realitas Sosial Melalui Film Dokumenter: Ruang Belajar, Refleksi, dan Diskusi Mahasiswa’, kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran alternatif yang mengajak mahasiswa memahami berbagai persoalan sosial, budaya, dan lingkungan yang terjadi di Indonesia, khususnya di Papua.

Suasana hangat dan penuh antusiasme mahasiswa dari berbagai program studi mewarnai jalannya pemutaran film yang berlangsung secara khidmat. Film dokumenter Pesta Babi menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat adat Papua yang berhadapan dengan berbagai perubahan sosial akibat ekspansi pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam.

Melalui narasi visual yang kuat, film tersebut tidak hanya menampilkan persoalan hilangnya ruang hidup masyarakat adat, tetapi juga menggambarkan pergulatan identitas budaya, hubungan manusia dengan alam, serta tantangan yang dihadapi masyarakat lokal dalam mempertahankan nilai-nilai yang diwariskan secara turun-temurun.

Presiden Mahasiswa UNUSIDA, M. Rafly Afandi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mahasiswa untuk memperluas ruang belajar di luar lingkungan kelas. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membentuk mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial terhadap berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi di tengah masyarakat.

“Film dokumenter memiliki kekuatan untuk menghadirkan realitas yang sering kali tidak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak mahasiswa melihat Indonesia secara lebih utuh, memahami keberagaman persoalan yang dihadapi masyarakat, serta menumbuhkan empati sebagai fondasi penting dalam kehidupan berbangsa,” ujarnya.

Baca juga:  BEM-FT UNUSIDA Gelar Workshop PPK Ormawa, Siap Hadirkan Program Pengabdian Berdampak

Kegiatan tersebut turut mendapat apresiasi dari Kepala Biro Kemahasiswaan, Karir, dan Alumni UNUSIDA, Fajar Nur Yasin, S.Pd., M.Pd. Ia menilai bahwa inisiatif mahasiswa dalam menghadirkan ruang diskusi yang kritis dan edukatif merupakan bentuk nyata pengembangan budaya akademik di lingkungan kampus.

Menurutnya, media budaya dan seni seperti film dokumenter dapat menjadi instrumen pembelajaran yang relevan untuk membantu mahasiswa memahami kompleksitas realitas sosial yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Pihaknya terus berupaya menghadirkan ruang dialog yang sehat, reflektif, dan bermakna bagi mahasiswa.

“Kampus harus menjadi ruang yang terbuka bagi pertukaran gagasan dan refleksi kritis. Film dokumenter bukan sekadar tontonan, melainkan sumber pengetahuan yang mampu memperkaya perspektif mahasiswa terhadap realitas sosial yang kompleks. Inilah bentuk pembelajaran kontekstual yang perlu terus dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi,” ungkapnya.

Setelah pemutaran film selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang keilmuan dan pengalaman. Forum ini menjadi ruang refleksi sekaligus pendalaman isu yang diangkat dalam film.

Founder The Indonesian Foresight Research Institute (IFRI), Ali Mursyid Azisi, menyoroti pentingnya kemampuan generasi muda dalam membaca arah pembangunan secara kritis dan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa berbagai persoalan yang ditampilkan dalam film tidak dapat dipandang sebagai isu lokal semata, melainkan bagian dari tantangan pembangunan yang dihadapi bangsa secara lebih luas.

“Persoalan yang ditampilkan dalam film ini bukan sekadar isu lokal, melainkan gambaran tentang bagaimana pembangunan harus selalu mempertimbangkan aspek sosial, budaya, dan lingkungan. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan melihat persoalan hari ini dalam konteks masa depan agar mampu melahirkan solusi yang lebih berkeadilan,” jelasnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh Bung Wawan Leak, Senator ProDEM sekaligus Eksponen 80-an. Ia mengajak mahasiswa untuk terus menjaga keberpihakan terhadap kelompok-kelompok masyarakat yang selama ini kurang mendapatkan ruang dalam narasi pembangunan nasional.

Baca juga:  Ketua DPRD Bekali Mahasiswa Wawasan Legislatif

“Bangsa yang besar bukan bangsa yang hanya membangun gedung-gedung tinggi, tetapi bangsa yang mampu mendengar suara masyarakat di pinggiran. Film ini mengingatkan kita bahwa kemajuan harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap martabat manusia dan hak-hak masyarakat adat,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Studi Sosial Budaya dan Islam Nusantara UNUSIDA, M. Idham Kholiq, S.Sos., M.AP., memberikan perspektif mengenai pentingnya menjaga identitas budaya masyarakat adat sebagai bagian dari kekayaan bangsa Indonesia. Menurutnya, kehilangan ruang hidup bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga berkaitan dengan hilangnya memori kolektif dan pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Ketika suatu komunitas kehilangan ruang hidupnya, yang hilang bukan hanya tanah secara fisik, tetapi juga memori kolektif, pengetahuan lokal, dan identitas budaya yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, menjaga keberlanjutan budaya sama pentingnya dengan menjaga keberlanjutan lingkungan,” tuturnya.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta yang menyoroti isu lingkungan, hak masyarakat adat, pembangunan berkelanjutan, hingga peran generasi muda dalam menghadapi tantangan sosial kontemporer. Melalui forum tersebut, mahasiswa diajak untuk tidak hanya menjadi penonton atas berbagai persoalan bangsa, tetapi juga menjadi bagian dari solusi melalui penguatan literasi, riset, advokasi, dan aksi sosial yang konstruktif.

 

Penulis: Muchammad Waziruddin (MY)