IRONI PERAYAAN KEMERDEKAAN 1

IRONI PERAYAAN KEMERDEKAAN

Rangga Sa’adillah S.A.P.

Tatkala memasuki bulan Agustus, suasana perayaan mulai terasa di berbagai pelosok desa. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, gang-gang dihiasi berbagai ornamen kemerdekaan, perlombaan digelar, panggung hiburan didirikan, dan masyarakat larut dalam kegembiraan. Anak-anak berlarian mengikuti berbagai permainan, para pemuda sibuk mempersiapkan kegiatan, sementara orang tua turut menikmati suasana kebersamaan.

Semua itu tentu sah-sah saja sebagai bentuk ekspresi kebahagiaan atas kemerdekaan yang telah kita nikmati selama puluhan tahun. Bahkan, kegembiraan dan kebersamaan masyarakat merupakan bagian penting dari kehidupan sosial. Kemerdekaan memang patut dirayakan.

Namun, saya merasakan sebuah ironi ketika perayaan kemerdekaan justru kehilangan ruh kemerdekaan itu sendiri. Ketika semangat memperingati perjuangan para pahlawan bergeser menjadi sekadar hura-hura. Ketika kebahagiaan seolah diukur dari seberapa meriah panggung hiburan, seberapa besar kerumunan masyarakat, dan seberapa keras suara musik yang diperdengarkan.

Sound horeg menjadi pusat perhatian dalam perayaan. Persoalannya bukan semata-mata tentang musik atau hiburan. Yang patut kita renungkan adalah ketika kemeriahan tersebut justru mengganggu ketenteraman masyarakat, mengusik kenyamanan orang lain, atau menjadikan perayaan kemerdekaan kehilangan nilai edukatif dan moralnya.

Apakah demikian cara kita memaknai kemerdekaan?

Pertanyaan yang sama juga layak kita ajukan terhadap berbagai bentuk perlombaan. Perlombaan sejatinya dapat menjadi media pendidikan karakter. Di dalamnya terdapat nilai perjuangan, sportivitas, kerja sama, keberanian, kreativitas, dan kegigihan. Namun, ketika perlombaan justru lebih banyak diarahkan kepada sekadar tontonan dan sensasi, kita patut melakukan refleksi.

Misalnya, ketika sebuah perlombaan sepak bola dikemas dengan menggunakan kostum yang menyerupai perempuan atau waria: seperti sepak bola berdaster, barangkali bagi sebagian orang itu dianggap lucu dan menghibur. Tetapi apakah kita pernah bertanya, nilai pendidikan apa yang sedang kita tanamkan kepada anak-anak dan generasi muda melalui tontonan tersebut?

Baca juga:  Disiplin Salat Berjamaah, Kunci Membangun Etos Kerja dan Keberkahan Hidup

Kita tentu tidak sedang berbicara tentang persoalan boleh atau tidak boleh seseorang mengenakan pakaian tertentu dalam sebuah permainan. Yang lebih penting adalah pertanyaan mengenai arah budaya perayaan yang sedang kita bangun. Apakah kita sedang membentuk generasi yang gagah dalam arti positif berani, tangguh, kreatif, sportif, dan bertanggung jawab. Atau justru membiasakan mereka bahwa kemeriahan harus selalu diwujudkan melalui sensasi dan olok-olok?

Kemerdekaan Republik Indonesia adalah rahmat dan nikmat dari Allah SWT yang semestinya disyukuri dengan cara-cara yang baik dan benar. Kemerdekaan bukan sekadar momentum untuk bersenang-senang, tetapi amanah yang diwariskan oleh para pendahulu kepada generasi penerus.

Kemerdekaan juga bukan hadiah yang turun begitu saja dari langit. Ia lahir dari perjuangan panjang. Ada air mata, darah, harta, bahkan nyawa yang dikorbankan oleh para pahlawan. Mereka berjuang bukan agar generasi setelahnya hanya menikmati pesta kemerdekaan, tetapi agar anak cucunya dapat hidup sebagai bangsa yang merdeka, bermartabat, dan memiliki masa depan.

Karena itu, memperingati kemerdekaan semestinya tidak berhenti pada merayakan, tetapi juga menghayati dan melanjutkan perjuangan.

Jika para pahlawan dahulu berjuang mengangkat senjata untuk merebut kemerdekaan, maka perjuangan kita hari ini adalah menjaga kemerdekaan agar tidak kehilangan makna. Kita berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, korupsi, ketidakadilan, intoleransi, kerusakan lingkungan, narkoba, dan berbagai bentuk penjajahan baru yang secara perlahan dapat menggerogoti martabat bangsa.

Perjuangan hari ini tidak selalu membutuhkan senjata. Seorang guru berjuang melalui pendidikan. Orang tua berjuang mendidik anak-anaknya. Pelajar berjuang dengan belajar. Mahasiswa berjuang dengan ilmu dan gagasan. Para pekerja berjuang dengan kejujuran dan profesionalitas. Para pemimpin berjuang dengan amanah. Dan masyarakat berjuang dengan menjaga persaudaraan serta ketenteraman lingkungan.

Baca juga:  Unusida Jalin Kerja Sama dengan BTN Sidoarjo, Gelar Seminar Entrepreneur dan Pembukaan Rekening Juara bagi Mahasiswa

Maka, tidak ada salahnya kita bergembira. Tidak ada salahnya mengadakan perlombaan, pentas seni, pengajian, kegiatan sosial, maupun berbagai kegiatan masyarakat. Tetapi kegembiraan jangan sampai mengalahkan rasa syukur; kemeriahan jangan sampai menghilangkan penghormatan kepada para pahlawan; dan kebebasan jangan sampai berubah menjadi kebisingan yang mengganggu kebebasan orang lain.

Bukankah salah satu hakikat kemerdekaan adalah hidup dalam kebebasan yang tetap menghormati hak dan ketenteraman sesama?

Karena itu, barangkali kita perlu bertanya kembali kepada diri sendiri:

Sudahkah cara kita merayakan kemerdekaan menjadi bagian dari rasa syukur kepada Allah?

Sudahkah perayaan itu mendidik anak-anak kita untuk mengenal sejarah perjuangan bangsanya?

Sudahkah kemeriahan itu mempererat persaudaraan warga?

Sudahkah kegembiraan itu menghadirkan kemaslahatan bagi lingkungan?

Dan yang tidak kalah penting, sudahkah kita mengisi kemerdekaan dengan menjadi manusia yang lebih baik dan bangsa yang lebih bermartabat?

Kemerdekaan tidak membutuhkan kebisingan untuk membuktikan bahwa kita bahagia. Kemerdekaan membutuhkan kesadaran bahwa ada harga yang sangat mahal yang telah dibayar oleh para pahlawan.

Maka, mari kita rayakan kemerdekaan dengan gembira, tetapi jangan kehilangan makna. Kita boleh meriah, tetapi tetap santun. Kita boleh bersenang-senang, tetapi tetap peduli kepada sesama. Kita boleh menikmati kebebasan, tetapi jangan menjadikan kebebasan sebagai alasan untuk mengganggu orang lain.

Sebab kemerdekaan bukan sekadar tentang bebas dari penjajahan. Kemerdekaan adalah tentang kemampuan sebuah bangsa menggunakan kebebasannya untuk menghadirkan kebaikan.

Mari kita wariskan kepada generasi berikutnya bukan hanya cerita tentang betapa meriahnya perayaan kemerdekaan, tetapi juga cerita tentang betapa besar perjuangan untuk mendapatkannya dan betapa mulianya tanggung jawab untuk menjaganya.

Dirgahayu Republik Indonesia.

Mari merayakan kemerdekaan dengan syukur, bukan sekadar dengan gemuruh.

Baca juga:  Mahasiswa Manajemen UNUSIDA Kompak Ikuti Capital Market Summit & Expo 2025 Secara Virtual

 

*(Kabag MKU UNUSIDA, Komisi Pendidikan MUI Kab. Sidoarjo, KP3 MUI Jatim)