Plt Rektor Ajak Mahasiswa Baru FAI UNUSIDA Aktif Berkarya dan Bangun Narasi Positif tentang Islam
SIDOARJO — Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto, mengajak mahasiswa baru Fakultas Agama Islam (FAI) untuk tidak sekadar menjalani perkuliahan, tetapi aktif mengembangkan potensi, memperluas pengalaman, serta berani membangun narasi positif tentang Islam di tengah masyarakat.
Di hadapan mahasiswa baru, ia membagikan perjalanan pendidikan dan kariernya sebagai contoh bahwa latar belakang pendidikan tidak menjadi batas untuk berkembang selama seseorang memiliki kemauan untuk belajar dan terus berusaha.
Dr. Hadi menceritakan bahwa dirinya merupakan lulusan Sarjana Hukum Islam. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia sempat berdoa agar segera mendapatkan pekerjaan. Perjalanan tersebut kemudian membawanya pada pengalaman menjadi pendidik dan berbagai kesempatan pengembangan profesional.
Ia mengisahkan salah satu pengalaman ketika mendapatkan kesempatan mengajar. Saat itu, dirinya menghadapi tantangan karena harus menguasai materi pembelajaran dan berhadapan dengan banyak peserta didik. Kondisi tersebut justru membuatnya terdorong untuk belajar lebih keras.
“Bukunya banyak, maka buku itu harus saya kuasai. Saya baca berkali-kali. Setelah saya mampu, baru saya masuk kelas,” tuturnya saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan kegiatan Kajian, Orientasi, dan Silaturahmi Mahasiswa (KARISMA) FAI UNUSIDA 2026, Rabu (16/9/2026).
Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bahwa kemampuan tidak hadir secara instan. Seseorang harus mau berproses, belajar, berlatih, dan menghadapi tantangan secara langsung.
Perjalanan tersebut kemudian membawanya memperoleh berbagai pengalaman profesional dan kesempatan mengikuti program pengembangan pendidikan. Bagi Dr. Hadi, setiap kesempatan yang datang harus dimanfaatkan sebagai ruang untuk belajar dan meningkatkan kapasitas diri.
Jangan Diam, Bangun Narasi tentang Islam
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hadi juga menekankan pentingnya mahasiswa FAI memiliki keberanian untuk menyampaikan narasi positif tentang Islam dan pendidikan Islam kepada masyarakat.
Ia menggunakan kisah tentang kuliner Indonesia sebagai ilustrasi mengenai pentingnya narasi. Menurutnya, sesuatu yang memiliki nilai dan berasal dari Indonesia dapat dikenal secara berbeda ketika narasi yang dibangun tidak cukup kuat.
“Jangan diam saja, nanti seperti rawon. Jelas-jelas berasal dari Indonesia, tetapi kalau narasinya tidak dibangun, bisa saja orang lain yang lebih dulu dikenal,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa FAI memiliki peran untuk memperkenalkan nilai-nilai Islam secara lebih luas. Kebanggaan terhadap agama, menurutnya, tidak cukup hanya disimpan dalam diri, tetapi perlu diwujudkan melalui dakwah, karya, tulisan, maupun pemanfaatan media sosial.
“Sekarang tugas kita bersama, ceritakan. Jangan malu-malu, bangga dengan agama Islam. Bangga itu tidak cukup, tetapi bagaimana kita menyampaikan dan mendakwahkannya,” pesannya.
Menurutnya, media sosial dapat menjadi salah satu ruang strategis bagi mahasiswa untuk menyebarkan pengetahuan dan narasi positif. Mahasiswa tidak harus selalu menyampaikan sesuatu yang besar, tetapi dapat memulai dari informasi sederhana yang memiliki dasar data dan pengetahuan. “Kalau menyampaikan sesuatu, sampaikan data. Itulah narasi,” tegasnya.
Mahasiswa Diminta Tidak Hanya Pulang Setelah Kuliah
Dr. Hadi juga mengingatkan mahasiswa FAI agar tidak menjadikan kampus hanya sebagai tempat mengikuti perkuliahan kemudian pulang. Masa mahasiswa, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk membangun pengalaman sebanyak mungkin. “Di FAI jangan pulang saja. Kalau pulang, harus beraktivitas untuk mengembangkan potensi saudara-saudara,” ujarnya.
Ia mendorong mahasiswa untuk mengikuti organisasi, komunitas, pelatihan, kursus, maupun kegiatan lain yang dapat meningkatkan kompetensi. Kemampuan tambahan, termasuk bahasa, komunikasi, kepemimpinan, dan keterampilan digital, dinilai dapat menjadi bekal penting bagi mahasiswa ketika terjun ke masyarakat.
Ia juga menyinggung pentingnya membangun kebiasaan belajar dan berlatih secara konsisten. Menurutnya, keberhasilan bukan semata-mata hasil dari keberuntungan, melainkan buah dari proses panjang dan latihan yang dilakukan secara terus-menerus.
Dr. Hadi kemudian menggunakan analogi olahraga untuk menggambarkan pentingnya latihan. Seorang pemain yang mampu melakukan teknik tertentu dengan baik, menurutnya, tidak langsung mendapat kemampuan tersebut, tetapi melalui latihan berulang. “Berhasil itu karena latihan. Itu namanya semangat,” pesannya.
Pentingnya Membuat Jurnal dan Menetapkan Target
Selain aktif berkegiatan, mahasiswa juga diajak untuk memiliki perencanaan yang jelas selama menempuh pendidikan. Dr. Hadi mendorong mahasiswa membuat jurnal atau catatan perkembangan diri sebagai sarana untuk menetapkan target dan mengevaluasi pencapaian.
Menurutnya, mahasiswa perlu mengetahui apa yang ingin dicapai selama empat tahun masa kuliah. Target tersebut kemudian dapat dipecah menjadi langkah-langkah yang lebih konkret dan terukur.
“Kalau kita tidak bisa berhitung, bagaimana kita tahu perkembangannya? Maka harus jelas tahapannya,” jelasnya.
Ia berharap mahasiswa FAI dapat memanfaatkan masa kuliah untuk membangun kompetensi sekaligus menghasilkan karya. Menurutnya, proses tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan lulusan yang memiliki bekal keilmuan dan pengalaman ketika kembali ke masyarakat.
Mengakhiri pesannya, Dr. Hadi mengucapkan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru FAI UNUSIDA. Ia berharap mahasiswa mampu menjalani perkuliahan dengan penuh semangat, aktif mengambil kesempatan, dan terus mengembangkan potensi diri.
“Selamat datang di Fakultas Agama Islam. Jangan hanya menjadi mahasiswa yang datang untuk kuliah, tetapi jadilah mahasiswa yang terus belajar, beraktivitas, berkarya, dan mengembangkan potensi,” pesannya.










