KH. Abdul Mun’im DZ: Sejak Awal Berdiri, NU Memiliki Misi Merawat Jagat hingga Tingkat Internasional
SIDOARJO — Nahdlatul Ulama (NU) sejak awal berdiri telah memiliki visi perjuangan yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan umat Islam di dalam negeri, tetapi juga mencakup upaya menjaga perdamaian dan kemaslahatan dunia. Semangat tersebut menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan Drs. K.H. Abdul Mun’im DZ dalam Webinar Nasional Hari Santri 2026 yang diselenggarakan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Rabu (21/10/2026), secara daring melalui Zoom Meeting.
Mengusung tema ‘Santri Go Internasional, Kontribusi Nahdlatul Ulama Merawat Jagat’, kegiatan ini menjadi ruang untuk mengulas kembali sejarah perjuangan NU sekaligus menggali relevansinya dalam menghadapi tantangan global. Dalam pemaparannya, K.H. Abdul Mun’im DZ menegaskan bahwa perjuangan umat Islam tidak semata-mata terbatas pada lingkungan pesantren. Meskipun NU lahir dari tradisi pesantren, cita-cita perjuangannya memiliki cakupan yang jauh lebih luas.
Menurutnya, tema merawat jagat bukanlah gagasan baru yang muncul karena mengikuti perkembangan zaman. Sejak awal pendiriannya, NU telah memiliki visi untuk berkontribusi dalam menjaga kehidupan, memperjuangkan kepentingan umat, serta menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat luas.
Ia menjelaskan bahwa kelahiran NU dilatarbelakangi oleh semangat para ulama dalam menjaga ajaran Islam dan memperjuangkan kepentingan umat ketika menghadapi berbagai tantangan. Salah satu bentuk perjuangan penting yang disorot adalah keterlibatan ulama Indonesia dalam merespons persoalan pelaksanaan ajaran Islam di Tanah Suci. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ulama pesantren Indonesia memiliki keberanian dan kapasitas untuk mengambil peran dalam persoalan umat Islam pada tingkat internasional.
Lebih lanjut, K.H. Abdul Mun’im DZ mengungkapkan bahwa visi internasional NU sebenarnya telah tercermin dalam dokumen-dokumen organisasi sejak masa awal berdirinya. Salah satunya dapat ditelusuri melalui dokumen NU tahun 1928, ketika organisasi tersebut masih berusia sekitar tiga tahun.
Dalam catatan sejarah tersebut, NU menunjukkan perkembangan organisasi yang cukup pesat. Pergerakannya tidak hanya berkembang di wilayah Jawa, tetapi mulai menjangkau berbagai daerah di luar Jawa. Hal ini memperlihatkan bahwa sejak awal NU telah memiliki semangat untuk memperluas jangkauan perjuangan dan membangun kontribusi yang lebih besar.
Ia menambahkan, cita-cita untuk menjadikan NU sebagai organisasi yang memiliki kepedulian terhadap persoalan dunia telah diletakkan sejak generasi pendahulu. Karena itu, upaya membawa santri dan NU ke tingkat internasional sejatinya merupakan kelanjutan dari fondasi perjuangan yang telah dibangun oleh para ulama terdahulu.
Salah satu bukti nyata kontribusi NU dalam percaturan internasional juga terlihat melalui perjuangan pembebasan Irian Barat. K.H. Abdul Mun’im DZ menyoroti peran NU melalui kekuatan politiknya pada masa itu, khususnya ketika dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti K.H. Abdul Wahab Hasbullah.
Di tengah situasi ketika belum banyak kekuatan politik yang secara serius memperjuangkan persoalan tersebut melalui forum internasional, NU mengambil bagian dalam mendukung langkah pemerintah Indonesia. Perjuangan dilakukan dengan membangun dukungan dari negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), memengaruhi pandangan negara lain, serta memperkuat posisi Indonesia dalam memperjuangkan pembebasan Irian Barat.
Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan bahwa NU tidak hanya berperan dalam urusan keagamaan dan pendidikan pesantren, tetapi juga memiliki kontribusi dalam perjuangan kebangsaan dan diplomasi internasional. Keterlibatan NU dalam persoalan Irian Barat menjadi gambaran bagaimana organisasi keagamaan dapat mengambil peran strategis dalam memperjuangkan kepentingan bangsa di hadapan dunia.
Dari berbagai catatan sejarah tersebut, K.H. Abdul Mun’im DZ mengajak generasi santri untuk memahami bahwa semangat go international bukan sekadar tuntutan zaman atau upaya mengikuti tren globalisasi. Lebih dari itu, semangat tersebut merupakan bagian dari cita-cita perjuangan NU yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
“Saya mempunyai kespektasi bahwa santri masa kini mampu melanjutkan perjuangan tersebut dengan meningkatkan kapasitas keilmuan, memperluas wawasan, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan dan perdamaian dunia. Nilai-nilai pesantren harus tetap menjadi landasan dalam menghadapi perkembangan global, sehingga kemajuan yang dicapai tidak membuat generasi santri kehilangan identitas dan akar perjuangannya,” pesannya.
Pemikiran tersebut sekaligus mempertegas bahwa menjadi santri bukan berarti hanya berkiprah di lingkungan pesantren. Santri dapat hadir dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, politik, sosial, ekonomi, diplomasi, hingga pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ketua tim penyusun buku biografi K.H. Abdul Wahab Hasbullah (KH. Abdul Wahab Hasbullah Pendiri NU Penggerak NKRI) tersebut memberikan perspektif bahwa kontribusi Nahdlatul Ulama dalam merawat jagat memiliki akar sejarah yang kuat. Generasi santri saat ini memiliki tanggung jawab untuk meneruskan warisan perjuangan tersebut dengan menghadirkan gagasan, karya, dan pengabdian yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dunia.
“Semangat Santri Go Internasional bukan hanya tentang kemampuan bersaing di tingkat global, melainkan juga tentang bagaimana membawa nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin, tradisi pesantren, dan semangat kebangsaan untuk ikut merawat kehidupan serta membangun perdamaian dunia,” tuturnya.

Drs. K.H. Abdul Mun’im DZ sebagai narasumber dalam Webinar Nasional Hari Santri 2026 melalui Zoom Meeting. (Foto: Tangkapan Layar YouTube UINUSIDA TV)






