Tangkapan Layar YouTube UNUSIDA TV saat Webinar Nasional Hari Santri 2026

Webinar Nasional Hari Santri 2026, UNUSIDA Dorong Santri Go Internasional dan Berkontribusi Merawat Jagat

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengkajian Islam dan Keaswajaan (PIK) menyelenggarakan Webinar Nasional dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026 pada Rabu (21/10/2026) secara daring melalui Zoom Meeting. Mengusung tema ‘Santri Go Internasional, Kontribusi Nahdlatul Ulama Merawat Jagat’, kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan wawasan bagi generasi santri untuk mengambil peran lebih luas di tingkat nasional maupun internasional.

Webinar tersebut menghadirkan Drs. K.H. Abdul Mun’im DZ sebagai narasumber. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan. Dalam sambutannya, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan. Ia menyebutkan bahwa jumlah peserta yang tercatat mencapai 267 orang dan terus mengalami peningkatan.

Dalam kesempatan tersebut Dr. Hadi Ismanto menegaskan bahwa pembahasan mengenai santri dan Nahdlatul Ulama (NU) tidak dapat dilepaskan dari keberadaan pesantren. Pesantren merupakan embrio sekaligus fondasi penting dalam perjalanan dan perkembangan NU. Meskipun seseorang tidak secara langsung menempuh pendidikan di pesantren, identitas santri tetap memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai perjuangan, keilmuan, dan tradisi Nahdlatul Ulama.

Ia juga menyoroti besarnya potensi sumber daya manusia yang dimiliki NU. Berdasarkan data yang disampaikan dalam sambutannya, terdapat puluhan ribu pesantren dengan jutaan santri yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama. Potensi tersebut juga terlihat dalam bidang pendidikan tinggi. Ia menyampaikan bahwa terdapat sekitar 285 perguruan tinggi yang terafiliasi dengan NU, dengan 44 di antaranya berbadan hukum Nahdlatul Ulama serta jumlah mahasiswa yang mencapai sekitar 500 ribu orang.

Menurutnya, besarnya potensi tersebut perlu diiringi dengan upaya penguatan kualitas sumber daya manusia agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Tantangan selanjutnya bukan sekadar memiliki jumlah pesantren, santri, dan perguruan tinggi yang besar, melainkan bagaimana seluruh potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi kekuatan yang mampu bersaing di tingkat global.

Baca juga:  Serah Terima SK Plt Rektor UNUSIDA, Prof. Fatkul Anam Sampaikan Laporan Kinerja dan Capaian Institusi 2025

“Bagaimana kita merawat potensi yang begitu besar ini? Kemudian, apa yang harus dimiliki oleh santri sehingga mampu go internasional?” menjadi salah satu pertanyaan penting yang perlu dijawab bersama melalui peningkatan kualitas pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, dan penguatan kompetensi.

Lebih lanjut, Dr. Hadi Ismanto mengajak peserta untuk merefleksikan peran mahasiswa sekaligus santri dalam menjaga dan membangun bangsa. Menurutnya, generasi muda NU perlu mempersiapkan bekal yang memadai agar mampu berkontribusi di tengah perkembangan dunia yang semakin kompetitif. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, integritas, dan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan.

“Semoga kegiatan ini mampu menumbuhkan kebanggaan sebagai bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama sekaligus mendorong lahirnya generasi santri yang berwawasan luas, kompetitif, dan memiliki kontribusi nyata bagi masyarakat. Sebab, perjuangan santri hari ini tidak hanya tentang menjaga warisan para pendahulu, tetapi juga tentang menghadirkan solusi, membangun peradaban, dan merawat jagat melalui karya serta pengabdian yang berdampak,” harapnya.

Sementara itu, Kepala UPT PIK UNUSIDA, H. Arisy Karomi, dalam pengantarnya menjelaskan bahwa kehadiran narasumber dalam webinar ini memiliki tujuan lebih dari sekadar berbagi pengetahuan. Kegiatan tersebut juga menjadi upaya menyambungkan pemikiran dan sanad perjuangan antara tokoh NU dengan generasi muda.

Ia berharap pertemuan secara daring ini dapat menjadi kesempatan bagi para kader dan mahasiswa untuk mengenal lebih dekat pemikiran serta pengalaman perjuangan narasumber, meskipun belum pernah bertemu secara langsung.

Menurut H. Arisy Karomi, kesinambungan pemikiran merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan perjuangan organisasi. Dari pemahaman terhadap pemikiran para tokoh, generasi muda diharapkan dapat meneruskan nilai perjuangan, membangun pergerakan, dan mengambil peran dalam menjawab tantangan zaman.

Baca juga:  Pemberitahuan Daftar Peserta Wisuda IX UNUSIDA 2025

Ia juga mengungkapkan bahwa narasumber memiliki pengalaman dan kontribusi dalam berbagai proses perdamaian serta penyelesaian konflik. Melalui jalur organisasi dan pendekatan sosial-keagamaan, NU dinilai memiliki ruang untuk berkontribusi dalam membangun perdamaian, menjembatani perbedaan, serta merawat kehidupan masyarakat di tengah berbagai dinamika.

Selain itu, H. Arisy Karomi turut menyinggung perjalanan awal berdirinya UNUSIDA. Ia menyampaikan bahwa proses pengajuan pendirian universitas telah dimulai sejak 2010 dan menghadapi tantangan kebijakan moratorium perguruan tinggi. Dalam proses tersebut, terdapat kontribusi berbagai pihak, termasuk tokoh-tokoh yang turut memperjuangkan kebijakan agar pendirian perguruan tinggi dapat kembali memperoleh ruang.

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa keberadaan UNUSIDA saat ini merupakan hasil dari proses panjang, ikhtiar, dan perjuangan berbagai pihak. Nilai perjuangan inilah yang diharapkan dapat dipahami serta diteruskan oleh generasi muda NU.

Melalui webinar ini, ia mengajak peserta untuk melihat bahwa menjadi santri tidak membatasi seseorang untuk berkembang dan berkiprah di tingkat global. Sebaliknya, nilai-nilai kepesantrenan seperti keilmuan, akhlak, kemandirian, toleransi, dan kepedulian sosial dapat menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan internasional.

“Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum bagi UNUSIDA untuk memperkuat identitas sebagai perguruan tinggi yang berakar pada tradisi Nahdlatul Ulama, tetapi tetap terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan dinamika global,” tuturnya.