UNUSIDA Menghadiri Forum Bersama WWF Indonesia (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Tunjukkan Peran Aktif di Forum Lingkungan, Jalin Kolaborasi bersama WWF Indonesia

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menunjukkan komitmen kuat dalam isu lingkungan dengan berpartisipasi aktif dalam forum kolaborasi bersama WWF Indonesia dan berbagai pemangku kepentingan di Kabupaten Sidoarjo.

Kegiatan yang dikemas dalam forum silaturahmi dan diskusi ini menjadi momentum penting untuk membahas keberlanjutan program lingkungan, khususnya terkait berakhirnya Project COAST yang selama ini berjalan di wilayah pesisir Sidoarjo.

Dalam forum tersebut, perwakilan WWF Indonesia menyampaikan bahwa program yang sebelumnya didukung hingga April 2028 mengalami penyesuaian dan akan berakhir lebih awal pada Maret 2026. Meski demikian, WWF menegaskan komitmennya untuk tetap melanjutkan kegiatan pendampingan di Sidoarjo melalui sumber pendanaan lain.

“Kegiatan seperti penanaman mangrove dan program lingkungan lainnya tetap kami jalankan selama masa transisi ini. Ke depan, WWF Indonesia akan tetap hadir dan melanjutkan kolaborasi dengan berbagai pihak,” ungkapnya.

Melalui forum ini, WWF Indonesia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan program, terutama setelah berakhirnya dukungan pendanaan utama. WWF Indonesia berharap dukungan dari pemerintah, akademisi, hingga masyarakat tetap terjaga agar inisiatif yang telah berjalan tidak terhenti.

“Selain menjadi ajang penyampaian informasi, kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai ruang diskusi santai antar stakeholder untuk memperkuat sinergi ke depan,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Biro Humas dan Kerja Sama UNUSIDA, Sonhaji Arif, S.Pd., M.Sn., menegaskan kesiapan untuk terus berperan aktif dalam mendukung program-program lingkungan berkelanjutan.

Pihaknya berkomitmen mengakomodasi mahasiswa agar terlibat langsung sebagai agent of change melalui berbagai skema akademik, antara lain Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, Penelitian mahasiswa sesuai bidang keilmuan, Program pengabdian kepada masyarakat dan kegiatan edukasi dan literasi lingkungan.

Langkah ini dinilai strategis dalam membangun kesadaran sekaligus kapasitas mahasiswa untuk berkontribusi nyata terhadap persoalan lingkungan di masyarakat.

Partisipasi aktif UNUSIDA dalam forum ini menegaskan peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai motor penggerak perubahan sosial dan lingkungan.

“Melalui keterlibatan mahasiswa dalam program nyata di lapangan, kami berharap mampu menciptakan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian dan kontribusi nyata bagi keberlanjutan lingkungan dan masyarakat,” pungkasnya.

Mahasiswa Informatika UNUSIDA (dari kiri) Achmad Raffy Nadjib, Muhammad Rafi Nur Setyawan, dan M. Satrio Rohmatullah (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa Informatika UNUSIDA Raih Juara 1 IYSA 2026 Kategori Sosial, Angkat Isu Kesenjangan Digital

SIDOARJO — Tiga mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association tahun 2026 kategori sosial.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Achmad Raffy Nadjib, Muhammad Rafi Nur Setyawan, dan M. Satrio Rohmatullah. Mereka mengusung karya berjudul ‘Implementasi Infrastruktur Nirkabel Point to Point (P2P) Jarak Jauh sebagai Solusi Kesenjangan Digital Pendidikan dan Masyarakat di Dusun Pucukan, Sidoarjo’.

Dengan mengangkat isu kesenjangan digital yang masih terjadi di wilayah Sidoarjo, khususnya di Dusun Pucukan. Ketua tim, Rafi Nur Setyawan menjelaskan bahwa ide tersebut berangkat dari kondisi nyata di lapangan, di mana masih terdapat wilayah yang memiliki keterbatasan akses digital, terutama untuk kebutuhan pendidikan.

“Awalnya ini dari keresahan kami melihat masih adanya kesenjangan akses internet. Padahal di era sekarang, akses digital sangat penting, khususnya untuk pendidikan,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (31/3/2026).

Karya yang diusung berfokus pada pembangunan infrastruktur jaringan nirkabel jarak jauh berbasis point to point (P2P) untuk mengatasi kesenjangan akses digital, khususnya di wilayah terpencil seperti Dusun Pucukan, Sidoarjo. Solusi ini diharapkan mampu meningkatkan akses pendidikan dan informasi bagi masyarakat setempat.

Menurutnya, keunggulan dari solusi yang mereka tawarkan terletak pada efisiensi dan kemampuannya menjangkau wilayah yang sulit terakses jaringan konvensional. Meski demikian, mereka mengakui terdapat tantangan dalam proses implementasi, terutama pada aspek teknis dan pengujian jaringan agar tetap stabil dalam berbagai kondisi.

“Harapan kami, solusi ini bisa benar-benar diterapkan dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” tambahnya.

Ia menilai bahwa inovasi ini memiliki potensi besar untuk diterapkan secara lebih luas di berbagai daerah dengan kondisi geografis serupa di Indonesia.

Meski berhasil meraih juara pertama, Rafi dan tim mengaku belum merasa puas. Mereka menganggap capaian ini sebagai langkah awal dari perjalanan panjang dalam pengembangan karya.

“Bagi kami, lomba ini hanya panggung kecil. Tujuan kami bukan sekadar penghargaan, tetapi bagaimana solusi ini benar-benar bisa diterapkan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ungkap mereka.

Solusi yang ditawarkan berupa pembangunan jaringan nirkabel jarak jauh menggunakan teknologi point to point (P2P). Teknologi ini dinilai mampu menjangkau daerah terpencil dengan biaya yang lebih efisien dibandingkan infrastruktur konvensional.

Ke depan, ia berharap inovasi ini tidak hanya berhenti pada tahap karya ilmiah, tetapi dapat diimplementasikan secara nyata dan diperluas ke wilayah lain yang memiliki permasalahan serupa. Ia menekankan kepada mahasiswa terus peka terhadap permasalahan di sekitar dan berani mengembangkan solusi nyata.

“Mulailah dari masalah di sekitar kita, bukan hanya mencari judul yang terlihat menarik. Tetap santai, serius, dan sukses,” pungkasnya.

Mahasiswa Informatika (dari kiri) Khoirul Anam, Mochammad Rifky Sabilur Khaqiq, Muhammad Athaalf Attohir (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa Informatika UNUSIDA Raih Juara 1 IYSA 2026 Lewat Inovasi Deteksi Longsor Si-Palang

SIDOARJO — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa program studi Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Kali ini, 2 tim mahasiswa Program Studi Informatika berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) tahun 2026.

Ketua tim, Moch Rifky Sabilul Khaqiq menyebutkan bahwa keberhasilan ini berawal dari ide sederhana yang lama tertahan di kepala. Momentum hadir ketika kompetisi dari IYSA dibuka. Tim melihatnya sebagai wadah yang tepat untuk mengeksekusi gagasan tersebut.
“Bisa dibilang kami memanfaatkan kesempatan. Mumpung ada peluang, kami ambil dan kami maksimalkan,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (31/3/2026).

Rifky menjelaskan, ketertarikan terhadap topik ini tidak muncul begitu saja. Titik baliknya terjadi saat bencana longsor di Aceh pada tahun 2025. Peristiwa tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi tim, terutama karena longsor sebenarnya memiliki tanda-tanda awal yang berpotensi dideteksi.

Ia membandingkan dengan kemajuan teknologi di negara seperti Jepang, di mana gempa bumi saja sudah dapat diprediksi. Dari situ muncul dorongan kuat untuk menghadirkan solusi berbasis teknologi yang relevan dengan kondisi Indonesia.

Dari keresahan tersebut, lahirlah inovasi bernama Si-Palang (Sistem Pantau Lahan & Longsor). Sistem ini menggabungkan sensor kemiringan tanah dan kelembapan dengan algoritma Dynamic Thresholding.

Secara sederhana, alat ini mampu menyesuaikan ambang batas secara otomatis, seperti semakin miring tanah, semakin kecil toleransi kadar air sebelum sistem memberikan peringatan, serta dapat mengirim notifikasi ke ponsel warga melalui sistem geofencing.

“Keunggulan utama dari sistem ini adalah meminimalisir false alarm (peringatan palsu di area datar), mencegah gagal deteksi pada area lereng curam dan lebih dinamis, karena tidak bergantung pada satu parameter saja,” jelasnya.

Dalam proses pengembangan, tantangan terbesar yang dihadapi adalah tahap pengujian sistem, khususnya dalam menemukan korelasi yang tepat antara tingkat kemiringan dan kelembapan tanah.

Meski begitu, ia dan tim optimis bahwa inovasi ini memiliki potensi besar. Mengingat kondisi geografis Indonesia yang didominasi wilayah perbukitan dan dataran tinggi, teknologi seperti Si-Palang dapat menjadi solusi nyata dalam mitigasi bencana.

“Ke depan, kami berkomitmen untuk terus mengembangkan sistem agar semakin adaptif dan responsif terhadap kondisi lingkungan,” tandasnya.

Baginya, kemenangan ini bukanlah akhir. Rifky menganggap ajang ini hanya sebagai langkah awal dari perjalanan panjang inovasi mereka.

“Jujur saja, kami belum puas. Ini baru panggung kecil. Tujuan kami bukan sekadar piala atau sertifikat, tapi ketika Si-Palang benar-benar dipasang di daerah rawan longsor dan bisa menyelamatkan nyawa,” ungkapnya.

Menurutnya, prestasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi kampus, tetapi juga menjadi bukti bahwa karya mahasiswa mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Mulailah dari masalah nyata di sekitar kita, bukan sekadar mencari judul yang terlihat keren. Tetap santai, serius, dan sukses,” pungkasnya.

FKIP Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo Berangkatkan 19 Mahasiswa KKN–PLP Internasional ke Malaysia (Foto: Humas UNUSIDA)

FKIP UNUSIDA Berangkatkan 19 Mahasiswa KKN–PLP Internasional ke Malaysia

SIDOARJO – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) secara resmi memberangkatkan 19 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Internasional ke Malaysia pada Selasa (31/3/2026). Program ini akan berlangsung mulai 2 April hingga 29 April 2026 di sejumlah sanggar bimbingan dan satuan pendidikan mitra di wilayah Kuala Lumpur dan sekitarnya.

Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, M.Pd., menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas mahasiswa melalui pengalaman pembelajaran berbasis internasional. Menurutnya, kegiatan ini memberikan banyak manfaat strategis bagi mahasiswa, baik dari sisi akademik maupun pengalaman lapangan.

“Mahasiswa akan mendapatkan konversi akademik hingga 20 SKS, dengan maksimal 12 SKS berasal dari mata kuliah. Selain itu, mereka juga memperoleh sertifikat kegiatan internasional yang menjadi nilai tambah penting dalam dunia kerja,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keikutsertaan dalam program ini akan memberikan pengalaman berbeda dibandingkan mahasiswa lainnya, terutama dalam hal adaptasi budaya, komunikasi global, serta praktik pendidikan di lingkungan internasional.

Program KKN dan PLP internasional ini akan dilaksanakan di beberapa sekolah mitra di wilayah Kuala Lumpur. FKIP UNUSIDA telah menjalin komunikasi dan kerja sama dengan pihak sekolah serta institusi setempat, sehingga pelaksanaan kegiatan dipastikan berjalan dengan baik dan terstruktur.

Mahasiswa akan didampingi oleh dosen pembimbing lapangan (DPL) serta tim pendamping selama kegiatan berlangsung. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa akan ditempatkan di berbagai sekolah dengan sistem pembagian kelompok. Setiap lokasi telah disiapkan fasilitas penunjang, termasuk tempat tinggal dan kebutuhan dasar mahasiswa.

“Alhamdulillah, lokasi kegiatan sudah siap dan beberapa institusi di Malaysia juga sudah berpengalaman menerima mahasiswa dari Indonesia untuk program serupa,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan kepada mahasiswa untuk menjaga komunikasi yang baik dengan orang tua serta menjaga nama baik institusi selama berada di luar negeri.

Selain kegiatan akademik dan pengabdian, mahasiswa juga akan mendapatkan kesempatan mengenal lingkungan sekitar sebagai bagian dari pembelajaran budaya dan sosial. Program ini dijadwalkan berakhir pada tanggal 28–29 April 2026 mendatang, dengan kepulangan mahasiswa ke Indonesia setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan.

“Melalui program ini, kami berkomitmen untuk mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki wawasan global, kemampuan adaptasi, serta kesiapan menghadapi tantangan di dunia internasional,” ungkapnya.

Daftar Mahasiswa & Penempatan KKN–PLP Internasional Malaysia

No Nama Prodi Penempatan
1 Azzawiyatul Annajiyah PBI Sanggar Bimbingan An Nahdlo
2 Afifah Rochmadin PBI Sanggar Bimbingan An Nahdlo
3 Fahira Nur Ramadhania PGSD Sanggar Bimbingan An Nahdlo
4 Luthfiyah Rahmah Ahmadiy PBI Sanggar Bimbingan Sentul
5 Alycia Agnie Aryane Putri PGSD Sanggar Bimbingan Sentul
6 Ariandin Nur Yasidh PBI Sanggar Bimbingan Segambut
7 Hanifah PBI Sanggar Bimbingan Segambut
8 Muhammad Adani Maulidan PBI Sanggar Bimbingan Pantai Dalam
9 Ahmad Isrofi Kholilurrohman PGSD Sanggar Bimbingan Pantai Dalam
10 M. Anwar Rofik PGSD Sanggar Bimbingan Pantai Dalam
11 Muhammad Firman Firdaus PGSD Sanggar Bimbingan Pantai Dalam
12 Nuril Safra Rahayu PBI Sanggar Bimbingan Ampang
13 Yesi Alviyanti PBI Sanggar Bimbingan Ampang
14 Lailatul Rahma Agustina PGSD Sanggar Bimbingan Ampang
15 Ken Izun Nadlifah PBI Sanggar Bimbingan Pandan Jaya
16 Aula Fadhi Olivia PGSD Sanggar Bimbingan Pandan Jaya
17 Azlin Azha PBI Sanggar Bimbingan At-Tanzil
18 Nur Thazim M. PGSD Sanggar Bimbingan At-Tanzil
19 Durrotun Naliyah Putri Al Arifani PGSD Sanggar Bimbingan At-Tanzil

Lebih lanjut, Plt. Rektor UNUSIDA Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., mengingatkan agar seluruh mahasiswa menyusun perencanaan kegiatan dengan baik sejak awal keberangkatan. Setiap aktivitas yang dilakukan selama di luar negeri diharapkan terdokumentasi secara sistematis.

Ia juga menyoroti bahwa pengalaman belajar di luar negeri harus mampu meningkatkan kemampuan komunikasi, keberanian, serta kesiapan mahasiswa dalam menghadapi tantangan global. Mahasiswa juga diminta untuk mencatat rencana dan aktivitas harian dalam bentuk laporan atau buku kegiatan sebagai bentuk akuntabilitas kepada kampus dan orang tua.

“Semua kegiatan harus terencana dan terdokumentasi dengan baik, sehingga orang tua juga dapat memantau perkembangan aktivitas mahasiswa selama di luar negeri,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia turut memberikan motivasi kepada mahasiswa agar tetap menjaga sikap, etika, serta nama baik institusi selama berada di Malaysia.

“Selamat berjuang. Tunjukkan bahwa mahasiswa UNUSIDA mampu bersaing, beradaptasi, dan memberikan kontribusi nyata di lingkungan internasional,” pesannya.

Halal Bihalal Keluarga Besar Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

Halal Bihalal Keluarga Besar UNUSIDA: Teguhkan Profesionalisme dan Khidmah Pasca Ramadhan

SIDOARJO — Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti agenda Halal Bihalal keluarga besar Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) di Hall Kampus 2, Lingkar Timur, Sidoarjo, Senin (30/3/2026). Kegiatan ini menjadi momentum saling memaafkan sekaligus meneguhkan kembali komitmen kerja yang profesional dan berlandaskan khidmah setelah sebulan ditempa dalam madrasah ruhaniyah Ramadhan.

Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., dalam sambutannya mengajak seluruh unsur kampus dosen, tenaga kependidikan, keamanan, hingga driver untuk menjaga semangat kebersamaan. Ia menekankan bahwa bekerja di perguruan tinggi tidak cukup hanya hadir, tetapi harus terukur kinerjanya.

“Ukuran profesional itu nyata. Kita punya instrumen penilaian kinerja, mulai dari kehadiran hingga performa. Profesionalisme bukan slogan, tetapi budaya kerja,” tegasnya.

Menurutnya, profesionalisme harus dibaca selaras dengan tata kelola kelembagaan. Setiap unit rektorat, fakultas, dan lembaga memiliki indikator kinerja yang tertuang dalam rencana kerja institusional. Karena itu, transformasi mutu SDM perlu diiringi manajemen yang terbuka pada perbaikan dari dalam dan pembelajaran dari luar.

Halal Bihalal ini juga diisi tausiyah oleh Ketua Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) UNUSIDA, KH Arli Fauzi, yang mengajak sivitas akademika merefleksikan capaian Ramadhan. Disampaikan bahwa ketika Allah menerima amal seorang hamba, maka Allah memudahkan langkahnya pada amal-amal saleh berikutnya. Artinya, keberhasilan Ramadhan semestinya tampak pada kebiasaan baik yang berlanjut setelahnya.

Dalam tausiyahnya, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ikhlas Sepande tersebut menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga nilai-nilai Ramadhan setelah bulan suci berlalu. Ia menegaskan bahwa tanda diterimanya amal seseorang oleh Allah adalah dimudahkannya ia untuk melakukan amal-amal saleh berikutnya.

“Jika Ramadan kita diterima, maka Allah akan memudahkan kita untuk terus berbuat kebaikan setelahnya. Tugas kita di bulan Syawal dan seterusnya adalah menjaga apa yang sudah kita raih selama Ramadhan,” tuturnya.

Kiai Arli juga mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan besar dalam menjaga mata, telinga, hati, serta mengendalikan hawa nafsu. Menurutnya, keberkahan Ramadhan seharusnya tidak berhenti ketika bulan itu usai.

“Secara waktu, Ramadhan hanya satu bulan. Namun secara substansi, nilai dan keberkahannya bisa kita rasakan selama satu tahun penuh, bahkan sepanjang hayat, jika mampu kita jaga,” imbuhnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam diri manusia terdapat pergulatan antara hati, akal, dan nafsu. Ketika nafsu tidak dikendalikan, maka ia dapat menyeret manusia pada kesewenang-wenangan, keangkuhan, bahkan penyakit-penyakit hati. Karena itu, Ramadhan menjadi sarana pendidikan ruhani agar manusia mampu mengendalikan dirinya.

Kiai Arli mengemukakan pentingnya mengendalikan diri. Manusia memiliki potensi akal, hati, dan nafsu yang saling memengaruhi. Jika nafsu tak terkendali, ia dapat menyeret pada penyakit batin seperti mudah tersinggung, marah, dan merasa paling benar. Karena itu, puasa menjadi latihan pengendalian yang hasilnya harus dijaga dalam keseharian kerja.

“Hidup bukan tentang siapa yang menang, tetapi siapa yang mampu menerima dengan ikhlas. Dari situlah kualitas diri dan kualitas kerja tumbuh,” pesannya.

Dr. Rangga Sa’adillah S.A.P. (Kabag MKU UNUSIDA)

Memperoleh Lailatul Qadar dan Habituasi Setelahnya, Membangun Spiritualitas yang Berkelanjutan

Malam 27 Bulan Ramadhan kali ini tampak berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Pada malam ini hampir separuhnya diguyur hujan dengan intensitas tinggi hingga sedang. Bagi sebagian wilayah yang merasakan guyuran hujan dengan intensitas tinggi mereka akan merasakan bahwa hujan pada malam ini tidak menimbulkan dampak negatif, seperti banjir yang merusak atau angin yang memporak-porandakan lingkungan. Kelembaban udara serta suhu pada malam ini juga tidak begitu gerah dan tidak begitu dingin serasa sejuk meski tidak ada angin yang berhembus.

Suasana yang nyaman pada malam 27 ini dimanfaatkan oleh banyak orang untuk beribadah secara individual maupun kolektif. Pada waktu sepertiganya, sekitar pukul satu dini hari. Tampak terlihat beberapa kerumunan orang berbondong-bondong ke masjid atau musholla untuk qiyamul lail. Mereka benar-benar menghidupkan malam ini dengan pengabdian penuh kepada Allah SWT. Shalat Tahajud, Shalat Taubat, Shalat Hajat hingga Shalat Tasbih mereka persembahkan untuk Allah. Demikian juga dengan panjatan harapan serta doa terbaik mereka mohonkan kepada Sang Penunai Hajat. Mereka menengadahkan tangan, memohon, meminta, memuji, mengagungkan Tuhan Semesta Alam. Memang pada dasarnya malam 27 ini seperti terkondisikan nyaman untuk beribadah.

Praktik beribadah secara kolektif semacam ini dilakukan dengan berbagai macam motivasi. Seperti motivasi untuk memperoleh fadhilah malam Lailatul Qadar. Beribadah dengan motivasi mendapatkan Lailatul Qadar sah saja sebab kaum Muslimin memang diajarkan untuk mencari dan menghidupkan malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Artinya, nilai ibadah pada malam tersebut memiliki keutamaan yang luar biasa besar, melampaui nilai ibadah yang dilakukan selama puluhan tahun.

Motivasi memperoleh Lailatul Qadar inilah yang kemudian mendorong banyak orang untuk meningkatkan intensitas ibadahnya pada penghujung Ramadhan. Masjid-masjid yang biasanya mulai sepi setelah pertengahan malam tiba-tiba kembali hidup. Lampu-lampu menyala, lantunan doa terdengar khusyuk, dan jamaah duduk bersila membaca Al-Qur’an atau berzikir dengan penuh harap. Ada semacam kesadaran kolektif bahwa kesempatan ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Namun demikian, terdapat satu pertanyaan penting yang patut kita renungkan bersama. Apakah semangat ibadah yang memuncak pada malam-malam tertentu di bulan Ramadhan itu akan terus berlanjut setelah Ramadhan berlalu? Ataukah semangat tersebut hanya menjadi fenomena musiman yang menghilang begitu saja ketika kalender telah berganti menjadi bulan Syawal?

Di sinilah pentingnya memahami makna spiritual Lailatul Qadar secara lebih mendalam. Lailatul Qadar bukan sekadar malam yang diburu untuk mendapatkan pahala berlipat ganda, tetapi juga momentum transformasi spiritual bagi seorang Muslim. Malam ini seharusnya menjadi titik balik kesadaran manusia untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Jika seseorang benar-benar merasakan kehadiran spiritual Lailatul Qadar, maka dampaknya tidak berhenti pada satu malam saja. Pengalaman spiritual tersebut semestinya melahirkan perubahan sikap, perubahan perilaku, dan perubahan orientasi hidup hingga seribu bulan lamanya. Orang yang merasakan kedekatan dengan Tuhan pada malam itu akan terdorong untuk mempertahankan kualitas ibadahnya pada hari-hari berikutnya, itulah Lailatul Qadar yang membekas pada spiritualitasnya.

Dalam perspektif pendidikan spiritual, hal ini dapat disebut sebagai proses habituasi atau pembiasaan. Ramadhan pada dasarnya adalah madrasah ruhaniyah yang melatih manusia untuk membentuk kebiasaan baik. Puasa melatih pengendalian diri, tarawih melatih konsistensi ibadah malam, sedekah melatih kepedulian sosial, dan tadarus Al-Qur’an melatih kedekatan dengan wahyu Ilahi.

Semua latihan tersebut mencapai puncaknya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan ketika umat Islam berlomba-lomba mencari Lailatul Qadar. Namun, tujuan akhir dari latihan tersebut bukanlah sekadar pengalaman spiritual yang bersifat sesaat, melainkan terbentuknya karakter religius yang berkelanjutan.

Dalam konteks inilah, habituasi setelah Ramadan menjadi sangat penting. Orang yang terbiasa bangun malam selama Ramadhan idealnya tetap melanjutkan kebiasaan tersebut meskipun dalam kadar yang lebih sederhana. Orang yang terbiasa membaca Al-Qur’an setiap hari selama Ramadhan juga diharapkan tetap menjaga kedekatannya dengan Al-Qur’an pada bulan-bulan berikutnya. Demikian pula dengan kebiasaan bersedekah, menjaga lisan, dan memperbanyak doa.

Habituasi ini penting karena dalam ajaran Islam, amal yang paling dicintai oleh Allah bukanlah amal yang besar tetapi dilakukan sekali, melainkan amal yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit. Konsistensi atau istiqamah inilah yang menjadi indikator kematangan spiritual seseorang.

Dengan demikian, keberhasilan seseorang memperoleh keberkahan Lailatul Qadar tidak hanya diukur dari seberapa khusyuk ia beribadah pada malam itu, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu mempertahankan nilai-nilai spiritual Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari setelahnya. Jika setelah Ramadhan seseorang kembali pada kebiasaan lama yang jauh dari nilai-nilai ketakwaan, maka bisa jadi ia hanya mendapatkan euforia spiritual sesaat tanpa transformasi yang nyata.

Sebaliknya, jika pengalaman spiritual pada malam-malam Ramadhan mampu melahirkan kebiasaan baik yang terus dipelihara, maka di situlah hakikat keberkahan Lailatul Qadar benar-benar terwujud. Malam itu tidak hanya menjadi malam yang penuh pahala, tetapi juga menjadi awal dari perjalanan spiritual yang lebih matang.

Walhasil, Lailatul Qadar bukan hanya tentang satu malam yang penuh kemuliaan, tetapi tentang bagaimana kemuliaan malam tersebut mampu membentuk kebiasaan hidup yang lebih baik hingga seribu bulan. Ramadhan mungkin akan berlalu, tetapi nilai-nilai spiritual yang ditanamkan di dalamnya seharusnya tetap hidup dalam diri setiap Muslim. Dengan cara itulah, cahaya Lailatul Qadar tidak hanya menerangi satu malam, tetapi juga menerangi perjalanan hidup manusia sepanjang waktu. Semoga kita diperkenankan oleh Allah untuk menjumpai Ramadhan berikutnya.

Oleh: Dr. Rangga Sa’adillah S.A.P. (Kabag MKU UNUSIDA)

Alumni Prodi Manajemen UNUSIDA Tahun 2023, Izzah Nadlifah Kirana (Foto: Humas UNUSIDA)

Inspirasi Alumni UNUSIDA: Izzah Nadlifah Kirana, dari Bangku Kuliah Menuju Finance Supervisor ZUMA Indonesia

Perjalanan pendidikan di bangku kuliah sering kali menjadi titik awal bagi seseorang untuk menemukan arah masa depan. Hal inilah yang dirasakan oleh Izzah Nadlifah Kirana, S.M., alumni Program Studi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) yang kini berkarier sebagai Finance Supervisor di PT Dream Dare Discover atau yang lebih dikenal dengan ZUMA Indonesia.

Perempuan yang lulus pada tahun 2023 ini mengaku bahwa empat tahun masa kuliahnya di UNUSIDA menjadi pengalaman yang sangat berkesan dan penuh makna. Selama menempuh pendidikan, ia tidak hanya memperoleh ilmu akademik, tetapi juga berbagai pengalaman, relasi, serta kesempatan belajar yang sangat berharga sebagai bekal menghadapi dunia kerja.

“Empat tahun menempuh perjalanan kuliah di UNUSIDA sungguh luar biasa. Segala ilmu, relasi hingga pengalaman berharga saya dapatkan di sana,” ungkap Izzah ketika mengenang masa-masa kuliahnya.

Menurutnya, lingkungan akademik yang terbuka dan komunikatif menjadi salah satu faktor penting yang membentuk cara berpikirnya hingga saat ini. Di UNUSIDA, para dosen tidak hanya menyampaikan materi secara teoritis di dalam kelas, tetapi juga aktif mengajak mahasiswa untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman.

Hal tersebut menjadi pengalaman belajar yang sangat berkesan bagi Izzah. Ia merasakan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan dosen benar-benar mendorong mahasiswa untuk memahami ilmu secara lebih mendalam serta mengaitkannya dengan situasi nyata di masyarakat maupun di dunia kerja.

“Yang paling menyenangkan adalah ketika dosen-dosen saya tidak pernah bosan untuk mengajak sharing dan diskusi. Seakan mereka selalu memastikan bahwa apa yang telah mereka ajarkan secara teori benar-benar mahasiswa terapkan dalam kehidupan nyata,” jelasnya.

Bagi Izzah, metode pembelajaran seperti ini membuat mahasiswa tidak hanya menjadi pendengar pasif di kelas, tetapi juga terlibat aktif dalam proses berpikir kritis. Diskusi yang dilakukan bersama dosen dan teman-teman kuliah sering kali membuka wawasan baru serta membantu mahasiswa memahami bagaimana teori manajemen dapat diterapkan secara praktis.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal penting ketika ia memasuki dunia kerja. Setelah menyelesaikan studi di Program Studi Manajemen UNUSIDA, Izzah berhasil mendapatkan pekerjaan di PT Dream Dare Discover atau ZUMA Indonesia. Di perusahaan tersebut, ia dipercaya untuk mengemban tanggung jawab sebagai Finance Supervisor.

Posisi tersebut tentu tidak mudah karena membutuhkan kemampuan analisis keuangan, ketelitian dalam mengelola data, serta kemampuan mengambil keputusan yang tepat. Namun, Izzah merasa bahwa ilmu yang ia pelajari selama kuliah memberikan fondasi yang kuat untuk menjalankan tugas tersebut.

Ia mengaku banyak materi perkuliahan yang ternyata sangat relevan dengan pekerjaan yang dijalaninya saat ini, mulai dari manajemen keuangan, pengelolaan anggaran, hingga kemampuan analisis data dan pengambilan keputusan dalam organisasi.

“Hal itulah yang membuat saya akhirnya mendapatkan pekerjaan sesuai dengan ilmu yang saya dapatkan di kuliah,” katanya.

Selain ilmu akademik, pengalaman berdiskusi dan membangun relasi selama masa kuliah juga membantu Izzah dalam mengembangkan kemampuan komunikasi dan kerja sama tim. Kemampuan tersebut menjadi salah satu keterampilan penting dalam dunia profesional, terutama ketika harus berkoordinasi dengan berbagai divisi di perusahaan.

Sebagai seorang supervisor di bidang keuangan, Izzah tidak hanya bertanggung jawab terhadap pengelolaan data finansial perusahaan, tetapi juga harus mampu memimpin tim dan memastikan seluruh proses keuangan berjalan secara efektif dan akurat. Tanggung jawab ini menuntut ketelitian, kedisiplinan, serta kemampuan berpikir strategis.

Menurutnya, pengalaman selama kuliah di UNUSIDA telah membantunya membangun kepercayaan diri untuk menghadapi berbagai tantangan di dunia kerja. Ia merasa bahwa bekal yang diberikan selama masa studi tidak hanya berupa teori, tetapi juga cara berpikir dan sikap profesional yang sangat dibutuhkan dalam karier.

Izzah juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para dosen yang telah membimbing dan memberikan banyak ilmu selama ia menempuh pendidikan di UNUSIDA. Baginya, dukungan dan dedikasi para dosen menjadi salah satu faktor penting yang membantunya mencapai posisi saat ini.

“Terima kasih bapak ibu dosen atas semua ilmu dan bimbingannya,” ujarnya.

Kini, setelah merasakan langsung manfaat dari pendidikan yang ia jalani, Izzah berharap kisah perjalanannya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa maupun calon mahasiswa UNUSIDA. Ia percaya bahwa kesungguhan dalam belajar serta kemauan untuk terus berdiskusi dan berkembang akan membuka banyak peluang di masa depan.

Baginya, masa kuliah bukan hanya tentang mendapatkan gelar sarjana, tetapi juga tentang membangun karakter, memperluas jaringan, serta mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan dunia profesional.

Dengan penuh rasa bangga, Izzah menutup ceritanya dengan satu kalimat sederhana yang mencerminkan rasa cintanya terhadap almamater.

“UNUSIDA THE BEST!,” pungkasnya.

HIMA Manajemen UNUSIDA Gelar Acara Forum Tinjau Proposal P2MW 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

HIMA Manajemen UNUSIDA Gelar Forum Tinjau Proposal P2MW 2026, Dorong Inovasi Mahasiswa di Bidang Wirausaha

SIDOARJO — Himpunan Mahasiswa Progra, Studi (Himaprodi) Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menyelenggarakan Forum Tinjau Proposal sebagai persiapan mengikuti Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026. Kegiatan ini berlangsung secara offline di Auditorium Lantai 5 Kampus II Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo, Jum’at (13/03/2026).

Dengan mengusung tema ‘Student Innovation for Social and Economics Transformation’, kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa UNUSIDA yang telah terbagi dalam beberapa kelompok usaha. Forum ini bertujuan untuk memberikan pendampingan serta evaluasi terhadap proposal bisnis yang akan diajukan dalam Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026.

Ketua HIMA Manajemen UNUSIDA menyampaikan bahwa forum ini tidak hanya bertujuan membantu mahasiswa dalam penyusunan proposal, tetapi juga membangun kesiapan mental dan konseptual mereka sebelum mengikuti kompetisi kewirausahaan tingkat nasional.

Melalui kegiatan Forum Tinjau Proposal ini, pihaknya berharap mahasiswa dapat mempersiapkan proposal secara lebih matang sekaligus meningkatkan kesiapan mereka dalam mengikuti program P2MW.

“Program PM2W ini tidak hanya memberikan dukungan pendanaan bagi usaha mahasiswa, tetapi juga menjadi sarana untuk mengasah kreativitas, memperkuat kerja sama tim, serta meningkatkan pengalaman mahasiswa dalam dunia kewirausahaan,” jelasnya.

Dalam sesi pemaparan materi, Jeziano Rizkita Boyas menjelaskan bahwa P2MW merupakan program yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan ide bisnis serta merintis usaha sejak di bangku kuliah.

Menurutnya, melalui program ini mahasiswa didorong untuk menjadi lebih kreatif, inovatif, dan berani memulai usaha. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan sebagai pencari kerja setelah lulus, tetapi juga mampu menjadi pencipta lapangan pekerjaan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Lulusan perguruan tinggi tidak hanya dipersiapkan sebagai pencari kerja, tetapi juga mampu menjadi pencipta lapangan pekerjaan yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, pemateri kedua, Latifah Irsyadiah, menjelaskan bahwa keberhasilan dalam mengikuti program P2MW dimulai dari pembentukan tim yang solid. Setiap tim harus memiliki pembagian peran yang jelas, mulai dari ketua tim, bagian keuangan, produksi, hingga pemasaran, serta didukung dengan komitmen dan kerja sama yang baik antaranggota.

Ia juga menekankan pentingnya menentukan ide usaha yang inovatif, menarik, memiliki nilai jual tinggi, serta memiliki keunikan yang dapat membedakan produk dari kompetitor dan berpotensi berkembang dalam jangka panjang. Dalam proses penyusunan proposal, mahasiswa juga perlu memperhatikan kesesuaian dengan panduan yang berlaku, berbasis data pasar, serta melibatkan dosen pendamping agar proposal lebih terarah.

“Sebuah produk harus memiliki keunikan yang mampu membedakannya dari kompetitor, sekaligus memiliki peluang untuk berkembang secara berkelanjutan dalam jangka panjang,” terangnya.

Setelah proposal disusun, tim akan melalui berbagai tahapan mulai dari pengumpulan proposal, proses seleksi, pengunggahan ke sistem, hingga menunggu hasil pendanaan. Apabila dinyatakan lolos, tim akan memperoleh dana untuk menjalankan usaha, melakukan pencatatan penggunaan dana secara tertib, serta menyusun laporan perkembangan dan laporan akhir.

Pada tahap selanjutnya, tim juga berkesempatan mempresentasikan perkembangan produknya serta mengikuti kegiatan nasional seperti KMI Expo.

Mahasiswa Teknik UNUSIDA Didorong Siap Sambut Peluang Program Nasional PPK Ormawa (Foto: BEM FT UNUSIDA)

BEM-FT UNUSIDA Gelar Workshop PPK Ormawa, Siap Hadirkan Program Pengabdian Berdampak

SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik (FT) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan Workshop Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dengan mengusung tema ‘Lead the Change, Impact in Action’ di Auditorium Lantai 5 Kampus 2 UNUSIDA, Ahad (08/03/2026). Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran strategis bagi organisasi mahasiswa di lingkungan Fakultas Teknik dalam mempersiapkan proposal program pengabdian masyarakat melalui skema PPK Ormawa.

Program PPK Ormawa merupakan inisiatif Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Belmawa yang mendorong organisasi mahasiswa berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat berbasis inovasi, riset terapan, serta solusi nyata bagi desa atau kelurahan mitra.

Dekan Fakultas Teknik UNUSIDA, Listin Fitrianah turut memberikan apresiasi terhadap konsistensi organisasi mahasiswa di lingkungan Fakultas Teknik. Ia menilai selama ini mahasiswa telah menunjukkan semangat yang tinggi dalam mengikuti berbagai program pengembangan organisasi, termasuk PPK Ormawa.

Menurutnya, partisipasi aktif mahasiswa dalam program nasional tersebut menjadi bukti bahwa organisasi mahasiswa Fakultas Teknik mampu bersaing dan berprestasi di tingkat nasional. Bahkan, beberapa organisasi mahasiswa di lingkungan fakultas tersebut berhasil memperoleh pendanaan dari program PPK Ormawa.

“Kami sangat mengapresiasi konsistensi organisasi mahasiswa Fakultas Teknik yang terus aktif mengikuti program PPK Ormawa hingga berhasil mendapatkan pendanaan nasional. Ini menjadi bukti bahwa mahasiswa kita memiliki potensi besar untuk berkontribusi melalui program-program yang inovatif dan berdampak,” ungkapnya.

Ketua pelaksana, Annisa Lailatul Rahmadini, menyampaikan bahwa workshop ini diikuti oleh seluruh organisasi mahasiswa di Fakultas Teknik, yakni BEM Fakultas Teknik, Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI), Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL), serta Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HMTK).

“Melalui workshop ini kami berharap seluruh ormawa Fakultas Teknik dapat memahami mekanisme penyusunan proposal PPK Ormawa secara komprehensif sehingga mampu menghadirkan program pengabdian yang inovatif dan berdampak nyata bagi masyarakat,” ujar mahasiswa Program Studi Teknik Industri angkatan 2023 yang juga menjabat sebagai Sekretaris I BEM-FT 2026 tersebut.

Sementara itu, Gubernur BEM Fakultas Teknik periode 2026, Marendra Firdaus Putra menekankan bahwa mahasiswa harus mampu memanfaatkan berbagai program pengembangan organisasi yang disediakan pemerintah, salah satunya melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa). Menurutnya, program tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi ide, tetapi juga ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan gagasan yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa kesiapan organisasi mahasiswa sangat penting, baik dari segi manajemen program, kolaborasi tim, maupun kemampuan merancang program pengabdian yang berkelanjutan. Dengan kesiapan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu berpartisipasi aktif sekaligus meraih prestasi di tingkat nasional.

“PPK Ormawa menjadi peluang besar bagi mahasiswa untuk mengembangkan kapasitas organisasi sekaligus memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Oleh karena itu, organisasi mahasiswa harus siap merespons peluang tersebut dengan perencanaan yang matang dan kerja tim yang solid,” jelasnya.

Memasuki sesi inti, materi disampaikan oleh Medya Ayunda Fitri, S.T., M.T., dosen Program Studi Teknik Kimia yang berpengalaman sebagai dosen pendamping tim PPK Ormawa. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai aspek teknis penyusunan proposal, mulai dari pemformatan dokumen hingga keterkaitan program dengan agenda pembangunan global Sustainable Development Goals (SDGs).

Kegiatan dilanjutkan dengan presentasi subproposal oleh BEM Fakultas Teknik dan HIMA Teknik Industri yang memaparkan rancangan program pemberdayaan UMKM dan pengembangan teknologi tepat guna bagi masyarakat desa mitra. Presentasi tersebut mendapatkan berbagai masukan dari narasumber untuk penyempurnaan proposal sebelum diajukan ke seleksi nasional.

Melalui kegiatan ini, Marendra berharap Ormawa Fakultas Teknik UNUSIDA mampu menyusun proposal PPK Ormawa yang berkualitas sekaligus memperkuat kontribusi mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat melalui inovasi dan pengabdian berbasis keilmuan.

“Semoga ke depan semakin banyak organisasi mahasiswa yang terlibat dalam program-program nasional serupa, sehingga dapat memperkuat kapasitas organisasi sekaligus memperluas kontribusi mahasiswa dalam pembangunan masyarakat,” pungkasnya.

Aininna Halizah Rahma Raih Juara 1 Duta Putri LPTNU Award 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

Putri Kampus UNUSIDA, Aininna Halizah Rahma Raih Juara 1 Kategori Duta dalam LPTNU Award 2026

SIDOARJO – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Aininna Halizah Rahma, mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) angkatan 2023 sekaligus Wakil Sekretaris 2 IPPNU UNUSIDA, berhasil meraih Juara 1 Duta Putri PTNU dalam ajang LPTNU Award 2026 yang diselenggarakan oleh LPT PBNU di di Auditorium Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Tower Lt.9 Jalan Jemursari No.51-57 Surabaya, Selasa (10/03/2026).

Capaian ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar UNUSIDA, organisasi kemahasiswaan, serta jaringan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) di seluruh Indonesia.

Ninna sapaan akrabnya, mengaku sangat bersyukur atas penghargaan yang diraihnya. Ia mengatakan bahwa kemenangan tersebut pada awalnya tidak ia sangka, namun ia memandangnya sebagai sebuah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

“Saya tentu merasa sangat bersyukur dan awalnya tidak menyangka akan pencapaian ini. Namun bagi saya ini bukan sekadar gelar, melainkan tanggung jawab untuk terus berkontribusi membawa nama baik kampus, organisasi, serta PTNU agar semakin berkembang dan berdaya saing,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Jum’at (13/3/2026).

Ia mengaku, motivasinya mengikuti ajang pemilihan Duta Putri PTNU berangkat dari keinginannya untuk berkontribusi di dunia pendidikan. Sebagai mahasiswa PGSD, ia ingin menjadi bagian dari generasi muda yang mampu menghadirkan gagasan dan inovasi bagi kemajuan pendidikan, khususnya di lingkungan PTNU.

Dalam proses seleksi, Ninna harus melalui berbagai tahapan yang cukup menantang. Seleksi dimulai dari penulisan esai yang membahas ide kontribusi mahasiswa terhadap pengembangan PTNU di tingkat global. Selanjutnya, para peserta mengikuti sesi wawancara menggunakan bahasa Inggris yang membahas berbagai isu pendidikan.

Tidak hanya itu, peserta juga menjalani serangkaian penilaian lain seperti tes kepemimpinan (leadership), public speaking, serta kemampuan menjawab isu-isu strategis, termasuk diskusi mengenai perdamaian global atau Board of Peace.

Menurutnya, setiap tahapan seleksi memberikan pengalaman berharga yang turut meningkatkan rasa percaya diri serta kemampuan kepemimpinannya.

Dalam persiapannya, Ninna yang juga Putri Kampus UNUSIDA melakukan berbagai langkah sederhana namun konsisten, seperti mempelajari isu-isu yang berkembang di media sosial, memperdalam kemampuan bahasa Inggris, memahami perkembangan PTNU, hingga melatih public speaking dan bahasa Arab.

Tantangan terbesar yang ia rasakan adalah kualitas para peserta yang sangat kompetitif. Menurutnya, sebagian besar peserta merupakan mahasiswa berprestasi bahkan duta kampus dari berbagai PTNU di Indonesia. Namun hal tersebut justru menjadi motivasi baginya untuk terus belajar dan memberikan yang terbaik.

Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa sekaligus pengurus organisasi, Aininna tetap mampu membagi waktu dengan baik. Ia menerapkan manajemen waktu dengan membuat skala prioritas sehingga dapat menyeimbangkan tanggung jawab organisasi, perkuliahan, dan persiapan kompetisi.

Melalui ajang tersebut, Aininna juga ingin menyampaikan pesan kepada generasi muda agar berani bermimpi dan terus mengembangkan potensi diri. Menurutnya, di era digital saat ini generasi muda memiliki akses luas terhadap informasi yang dapat dimanfaatkan untuk berkarya dan memberikan kontribusi positif.

Ia juga menekankan pentingnya peran perempuan dalam organisasi dan masyarakat. Menurutnya, perempuan masa kini harus mampu berkembang tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi jati dirinya. Hal ini selaras dengan prinsip dalam tradisi Nahdlatul Ulama, yaitu ‘Al-Muhafadzatu ‘ala al-qadim al-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah’, menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.

Keberhasilan tersebut juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Aininna menyampaikan terima kasih kepada keluarga, teman-teman organisasi, serta pihak kampus yang telah memberikan doa dan dukungan penuh. Ia juga menyebut dukungan dari para pimpinan kampus dan dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang terus memberikan semangat.

Ke depan, Aininna berharap dapat menjalankan amanah sebagai Duta Putri PTNU dengan sebaik-baiknya serta terus berkontribusi dalam mempromosikan dan memperkuat peran PTNU agar semakin maju dan dikenal luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Melalui capaian ini, ia berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam berbagai kegiatan pendidikan, pengembangan kapasitas generasi muda, serta program yang memperkuat peran mahasiswa dan kader Nahdlatul Ulama dalam menghadapi tantangan zaman.

Ia juga berpesan kepada kader IPNU–IPPNU dan mahasiswa UNUSIDA agar tidak takut mencoba berbagai kesempatan. “Keberuntungan dan kemenangan itu tercipta ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan,” tutupnya.