Sekretaris LPPM UNUSIDA Nur Asitah, Peringkat 2 Anugerah LPTNU Award 2026 Bidang Pengabdian (Foto: Humas UNUSIDA)

Sekretaris LPPM UNUSIDA, Nur Asitah Raih Peringkat 2 Anugerah LPTNU Award 2026 Bidang Pengabdian

SIDOARJO – Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Nur Asitah, S.Pd., M.Pd., berhasil meraih Peringkat 2 Kategori Tenaga Kependidikan Bidang Pengabdian dalam ajang LPTNU Award 2026. Kegiatan sebagai ajang Anugerah LPTNU Award 2026 ini dilaksanakan di Auditorium Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) Tower Lt.9 Jalan Jemursari No.51-57 Surabaya, Selasa (10/03/2026) malam.

Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusinya dalam mengembangkan program-program pengabdian kepada masyarakat di lingkungan UNUSIDA. Penghargaan ini sekaligus menegaskan komitmen UNUSIDA untuk terus menghadirkan tridharma perguruan tinggi yang berdampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah.

Usai menerima penghargaan tersebut, Nur Asitah mengaku merasa sangat bersyukur dan terharu atas pencapaian yang diraih. Menurutnya, penghargaan ini bukan sekadar simbol prestasi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap langkah pengabdian yang dilakukan dengan tulus akan selalu memiliki makna.

“Penghargaan ini seperti cahaya kecil yang menegaskan bahwa setiap langkah pengabdian yang dilakukan dengan tulus akan menemukan maknanya. Ini bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi buah dari kerja bersama, doa, dedikasi, dan semangat untuk terus hadir di tengah masyarakat,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Jum’at (13/3/2026).

Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tersebut, menambahkan bahwa penghargaan tersebut juga menjadi motivasi bagi dirinya untuk terus belajar, bertumbuh, dan memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat. Baginya, setiap upaya yang dilakukan secara konsisten dan penuh tanggung jawab akan memiliki nilai dan dampak yang berarti.

Sementara bagi LPPM UNUSIDA, penghargaan ini memiliki makna strategis dalam memperkuat komitmen institusi dalam membangun budaya pengabdian masyarakat yang berdampak, terukur, dan berkelanjutan. Selain itu, capaian ini juga diharapkan dapat mendorong semakin banyak dosen dan mahasiswa untuk aktif menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Selama ini, kegiatan pengabdian masyarakat di UNUSIDA difokuskan pada program-program pemberdayaan yang memberikan solusi nyata bagi masyarakat. Beberapa di antaranya meliputi pemberdayaan UMKM, pendampingan pendidikan dan literasi, penguatan kapasitas masyarakat desa, digitalisasi layanan dan usaha masyarakat, kesehatan lingkungan, pengelolaan sampah, serta pengembangan potensi lokal berbasis kebutuhan masyarakat.

Program-program tersebut juga dirancang dengan pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan, sehingga tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, tetapi mampu menciptakan perubahan dan peningkatan kapasitas masyarakat secara nyata.

Ke depan, LPPM UNUSIDA berharap penghargaan ini dapat menjadi penyemangat untuk terus memperkuat peran pengabdian kepada masyarakat. Selain meningkatkan kualitas program, lembaga ini juga berupaya memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, komunitas, hingga dunia usaha.

“Pengabdian yang kuat lahir dari kerja bersama. Karena itu, kami berharap ke depan semakin banyak kolaborasi yang bisa dibangun agar manfaat program pengabdian dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” pungkasnya.

Kepala UPT PIK UNUSIDA, Aris Kuswanto saat menerima penghargaan LPTNU Award 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

Kepala UPT PIK UNUSIDA, Aris Kuswanto Raih Peringkat 2 Dosen Berdampak pada Masyarakat dalam Anugerah LPTNU Award 2026

SIDOARJO – Kepala UPT Pengkajian Islam dan Keaswajaan (PIK) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Aris Kuswanto, M.Pd.I, meraih Peringkat 2 Kategori Dosen Berdampak pada Masyarakat Bidang Khidmat Jam’iyah dalam ajang Anugerah LPTNU Award 2026 di Auditorium Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Tower Lt.9 Jalan Jemursari No.51-57 Surabaya, Selasa (10/03/2026) malam.

Penghargaan ini diberikan oleh Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai bentuk apresiasi kepada dosen yang dinilai memiliki kontribusi nyata dalam pengabdian kepada masyarakat serta penguatan nilai-nilai ke-NU-an di lingkungan perguruan tinggi.

Menanggapi penghargaan tersebut, Aris Kuswanto menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT atas kesempatan yang diberikan untuk terus berkhidmat melalui dunia pendidikan tinggi.

“Pertama tentu saya bersyukur kepada Allah SWT karena diberi kesempatan untuk terus melanjutkan khidmah melalui pendidikan tinggi sebagai dosen, akademisi, dan pendidik. Bisa bertemu dengan mahasiswa, berdiskusi dengan sesama dosen, serta bersama-sama berkontribusi untuk kemajuan pendidikan dan bangsa,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Jum’at (13/3/2026).

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan, mulai dari LPTNU, pimpinan UNUSIDA, hingga rekan-rekan dosen serta civitas akademika yang selama ini bekerja bersama dalam membangun kampus. Menurutnya, penghargaan tersebut bukanlah capaian pribadi semata, melainkan hasil dari kerja bersama seluruh elemen di lingkungan UNUSIDA.

“Ini sebenarnya bukan prestasi individu. Banyak pihak yang berkontribusi dan bekerja keras di kampus. Kebetulan saja nama saya yang mewakili dalam kategori ini. Jadi penghargaan ini milik kita bersama,” ungkapnya.

Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA tersebut, mengenang perjalanan panjang keterlibatannya dalam proses berdirinya UNUSIDA sejak masa awal perintisan. Ia mengaku turut berkontribusi dalam berbagai upaya pengembangan kampus, mulai dari penyusunan kurikulum Aswaja, pendampingan organisasi kampus, hingga berbagai tugas pengelolaan lembaga.

“Sejak sebelum kampus berdiri kami sudah berikhtiar bersama, baik secara lahir maupun batin. Saya juga pernah diminta membantu menyusun kurikulum Aswaja, ikut dalam berbagai tim pengembangan, hingga mendampingi pengelolaan di beberapa unit di kampus,” jelasnya.

Baginya, khidmah di perguruan tinggi merupakan bentuk pelayanan terhadap lembaga dan masyarakat. Dalam konsep tersebut, dosen tidak hanya mengajar, tetapi juga melayani dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan institusi.

“Dalam khidmah, kita melayani lembaga. Artinya kita menjalankan tugas sesuai amanah yang diberikan. Sebagai pelayan lembaga, tugas kita adalah melaksanakan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya,” tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga keistiqamahan dalam berjuang membangun lembaga pendidikan. Menurutnya, perjalanan membangun kampus tidak selalu mudah, karena terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Kholil, Jetis, Sidoarjo tersebut mengingat kembali masa-masa awal ketika UNUSIDA masih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari sarana prasarana hingga proses perkuliahan yang harus menumpang di beberapa sekolah.

“Kami pernah mengalami masa ketika kampus masih kekurangan ruang kelas dan harus menumpang di sekolah lain. Bahkan ada pengalaman-pengalaman yang cukup menguji kesabaran. Namun semua itu menjadi bagian dari proses perjuangan,” kenangnya.

Kini, setelah berbagai upaya dan kerja keras dilakukan, ia mengaku bersyukur dapat menyaksikan perkembangan UNUSIDA yang semakin maju dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

“Sekarang kita mulai menikmati hasil dari perjuangan tersebut. Ini sekaligus menjadi tantangan bagi kita semua untuk tetap menjaga keikhlasan dan komitmen dalam berkhidmah,” katanya.

Selain manfaat ekonomi, Aris menilai pengabdian di perguruan tinggi juga memberikan banyak pengalaman berharga, seperti perluasan jaringan, peningkatan kapasitas keilmuan, serta kesempatan bertemu dengan berbagai tokoh akademisi dan ulama.

“Banyak hal yang saya dapatkan di sini, bukan hanya materi tetapi juga ilmu, jaringan pertemanan, serta kesempatan belajar dari para profesor, doktor, dan kiai. Itu semua menjadi pengalaman yang sangat berharga,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Aris memberikan pesan kepada generasi muda, khususnya para akademisi dan mahasiswa, agar tetap istiqamah dalam menjalankan tugas dan proses kehidupan.

“Pesannya sederhana, nikmati proses yang diberikan Allah kepada kita. Jalankan tugas dengan sebaik-baiknya, terus belajar, dan tingkatkan kapasitas intelektual serta emosional. Jika itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, insyaAllah hasilnya akan mengikuti,” pesannya.

LPPM UNUSIDA Raih Dua Penghargaan Nasional di Bidang Riset dan Pengabdian Masyarakat LPTNU Award 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

LPPM UNUSIDA Raih 2 Penghargaan LPTNU Award 2026 di Bidang Riset dan Pengabdian Masyarakat

SURABAYA – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Di bidang kelembagaan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNUSIDA (LPPM) berhasil meraih Peringkat 1 Kategori Lembaga Riset dan Pengabdian Masyarakat Bidang Pembangunan Komunitas, serta Peringkat 2 Kategori Lembaga Riset dan Pengabdian Masyarakat Bidang Kerja Sama.

Penghargaan tersebut diberikan dalam Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Award 2026 yang dilaksanakan di Auditorium Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) Tower Lt.9 Jl. Jemursari No. 51-57 Surabaya, Selasa (10/3/2026) malam.

Penghargaan tersebut semakin menegaskan peran aktif UNUSIDA dalam mengembangkan program riset dan pengabdian yang berdampak langsung bagi masyarakat. Berbagai program yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada kegiatan akademik, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat.

Ketua LPPM UNUSIDA, Elsa Rosyidah, S.TP., M.I.L mengungkapkan rasa syukur atas capaian tersebut. Menurutnya, penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas kerja kolektif seluruh tim yang selama ini berkomitmen menjalankan program pengabdian secara konsisten.

“Kami sangat bersyukur, terharu, dan bangga. Penghargaan ini bukan sekadar simbol pencapaian, tetapi seperti cahaya kecil yang menegaskan bahwa setiap langkah pengabdian yang dilakukan dengan tulus akan selalu menemukan maknanya. Bagi kami, ini adalah buah dari kerja bersama, doa, dedikasi, dan semangat untuk terus hadir di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa penghargaan ini juga menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan hanya sekadar program, melainkan jejak kebaikan yang harus terus dirawat dan diperluas manfaatnya.

Secara pribadi, penghargaan tersebut menjadi motivasi untuk terus belajar dan memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat. Sementara bagi LPPM UNUSIDA, penghargaan ini memiliki makna strategis sebagai pengakuan atas komitmen institusi dalam membangun budaya pengabdian masyarakat yang berdampak, terukur, dan berkelanjutan.

“Penghargaan ini memperkuat semangat kami untuk terus meningkatkan kualitas program, memperluas kolaborasi, serta mendorong dosen dan mahasiswa agar semakin aktif menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,” tambahnya.

Selama ini, program pengabdian masyarakat di UNUSIDA difokuskan pada kegiatan pemberdayaan dan solusi nyata bagi masyarakat. Beberapa program yang menjadi prioritas antara lain pemberdayaan UMKM, pendampingan pendidikan dan literasi, penguatan kapasitas masyarakat desa, digitalisasi layanan dan usaha masyarakat, kesehatan lingkungan, pengelolaan sampah, serta pengembangan potensi lokal berbasis kebutuhan masyarakat.

Selain itu, UNUSIDA juga mendorong model pengabdian yang bersifat kolaboratif dan berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, kegiatan pengabdian tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, tetapi mampu menghasilkan perubahan nyata serta peningkatan kapasitas masyarakat.

Ke depan, LPPM UNUSIDA berharap penghargaan ini dapat menjadi pemacu semangat untuk terus memperkuat kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

“Harapan kami sederhana, semoga penghargaan ini menjadi penyemangat untuk terus bergerak dan berbuat lebih baik. Kami ingin kegiatan pengabdian di UNUSIDA semakin kuat, semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat, dan semakin luas dampaknya,” ujarnya.

Ia juga berharap semakin banyak kolaborasi yang terbangun dengan berbagai pihak, baik pemerintah, komunitas, dunia usaha, maupun mitra lainnya. Menurutnya, pengabdian yang kuat lahir dari kerja bersama.

“Penghargaan ini bukan akhir, tetapi justru awal untuk melangkah lebih jauh dalam menghadirkan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan umat.” tutupnya.

UNUSIDA Borong Penghargaan di LPTNU Award 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

Prestasi Gemilang, UNUSIDA Raih 6 Penghargaan dalam LPTNU Award 2026

SURABAYA — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang LPTNU Award 2026 yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Tinggi (LPT) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Kegiatan tersebut digelar di Auditorium Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya Tower Lt.9, Jalan Jemursari No. 51–57, Surabaya, pada Selasa (10/3/2026) malam.

Dalam ajang penghargaan bergengsi bagi perguruan tinggi Nahdlatul Ulama tersebut, UNUSIDA berhasil meraih sejumlah penghargaan dari berbagai kategori. Capaian ini menunjukkan komitmen kampus dalam pengembangan pendidikan, riset, serta pengabdian kepada masyarakat.

Salah satu penghargaan paling bergengsi diraih oleh Rektor UNUSIDA masa khidmah 2014–2026, Prof. Dr. H. Fatkul Anam, M.Si., yang menerima apresiasi pada kategori Tokoh Pengabdian Sepanjang Hayat Bidang Pembangunan Perguruan Tinggi. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Fatkul Anam menyampaikan rasa syukur atas penghargaan yang diterimanya. Menurutnya, capaian tersebut bukan hanya penghargaan pribadi, tetapi merupakan hasil kerja kolektif seluruh sivitas akademika.

“Alhamdulillah, penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus berkhidmah dalam pengembangan PTNU. Pembangunan perguruan tinggi harus terus bergerak mengikuti perkembangan zaman, termasuk melalui penguatan manajemen berbasis digital,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa capaian ini menjadi bukti komitmen UNUSIDA dalam mengembangkan kualitas akademik, riset, serta pengabdian kepada masyarakat. Ia berharap, prestasi dalam LPTNU Award 2026 dapat semakin memotivasi seluruh sivitas akademika UNUSIDA untuk terus berinovasi dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan tinggi Nahdlatul Ulama serta pembangunan bangsa.

Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas dedikasi dan kontribusinya dalam membangun dan mengembangkan pendidikan tinggi, khususnya di lingkungan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama. Ia terpilih setelah melalui proses penilaian ketat dan bersaing dengan 23 nominator lainnya dari berbagai perguruan tinggi NU di Indonesia.

“Alhamdulillah, rangkaian prestasi dalam LPTNU Award 2026 ini semakin mempertegas posisi UNUSIDA sebagai salah satu perguruan tinggi Nahdlatul Ulama yang aktif mengembangkan inovasi pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat demi kemajuan umat dan bangsa,” katanya.

Selain itu, prestasi juga datang dari mahasiswa UNUSIDA. Aininna Halizah Rahma dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) berhasil meraih Peringkat 1 Duta PTNU Putri. Capaian ini menunjukkan potensi mahasiswa UNUSIDA dalam bidang kepemimpinan, komunikasi, serta representasi perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di tingkat nasional.

Sementara itu, dosen UNUSIDA Aris Kuswanto berhasil meraih Peringkat 2 Kategori Dosen Berdampak pada Masyarakat Bidang Khidmat Jam’iyah, sebagai bentuk pengakuan atas kontribusinya dalam pengabdian kepada masyarakat serta penguatan nilai-nilai ke-NU-an di tengah masyarakat.

Di bidang kelembagaan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNUSIDA juga mencatatkan prestasi gemilang dengan meraih Peringkat 1 Kategori Lembaga Riset dan Pengabdian Masyarakat Bidang Pembangunan Komunitas, serta Peringkat 2 Kategori Lembaga Riset dan Pengabdian Masyarakat Bidang Kerja Sama. Penghargaan ini menegaskan peran aktif UNUSIDA dalam mengembangkan program riset dan pengabdian yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Tidak hanya dari kalangan dosen, penghargaan juga diraih oleh tenaga kependidikan UNUSIDA. Nur Asita berhasil memperoleh Peringkat 2 Kategori Tenaga Kependidikan Bidang Pengabdian, yang menunjukkan dedikasi tenaga kependidikan dalam mendukung pengembangan kampus sekaligus memberikan kontribusi bagi masyarakat.

“Terima kasih. Tentu kami sangat bersyukur dan merasa bangga atas penghargaan ini. Bagi kami, penghargaan ini bukan sekadar capaian individu atau lembaga, tetapi merupakan hasil kerja bersama seluruh tim di lingkungan UNUSIDA yang selama ini berkomitmen menjalankan program pengabdian kepada masyarakat,” ungkap Asita yang kini menjadi dosen PGSD tersebut.

BEM FKIP UNUSIDA Gelar GARASI 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

BEM FKIP UNUSIDA Gelar GARASI 2026, Wadah Dialog Aspiratif Mahasiswa dan Dosen

SIDOARJO – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (BEM FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan kegiatan Gapai Aspirasi (GARASI) sebagai wadah dialog terbuka antara mahasiswa dan dosen di lingkungan Fakultas. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Hall Kampus 2 Gedung A, Kamis (5/3/2026).

Ketua BEM FKIP UNUSIDA, Zakiyatul Fakhiroh menyampaikan bahwa GARASI merupakan ruang dialog yang bertujuan menjembatani komunikasi antara mahasiswa dan pihak fakultas. Melalui forum ini, mahasiswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan gagasan, kritik, maupun saran yang membangun demi terciptanya lingkungan akademik yang lebih baik dan kondusif.

Menurutnya, forum dialog seperti GARASI menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi, gagasan, maupun masukan secara terbuka dan konstruktif. Aspirasi yang disampaikan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bersama demi kemajuan fakultas serta peningkatan kualitas proses pembelajaran.

“Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat komunikasi, menyampaikan aspirasi mahasiswa, sekaligus membangun sinergi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan Fakultas,” jelasnya.

Ia menyampaikan terima kasih atas kehadiran jajaran dosen FKIP serta perwakilan mahasiswa dari 2 program studi. Menurutnya, kehadiran para dosen menunjukkan komitmen bersama dalam mendengarkan, memahami, serta menindaklanjuti berbagai aspirasi dan masukan dari mahasiswa terkait proses akademik, fasilitas pembelajaran, maupun pengembangan kegiatan kemahasiswaan.

Kegiatan berjalan dengan sesi diskusi dan penyampaian aspirasi mahasiswa. Dalam sesi tersebut, berbagai isu dan masukan disampaikan secara terbuka, mulai dari peningkatan kualitas pembelajaran, penguatan kegiatan organisasi mahasiswa, hingga harapan terhadap fasilitas penunjang kegiatan akademik di lingkungan fakultas.

Para dosen FKIP yang hadir memberikan tanggapan positif sekaligus apresiasi atas keberanian dan kepedulian mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi mereka. Diskusi berlangsung dengan suasana yang hangat, penuh keakraban, serta dilandasi semangat keterbukaan.

Tidak hanya memberikan tanggapan, para dosen juga berbagi pandangan mengenai pentingnya kolaborasi antara mahasiswa dan tenaga pendidik dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang berkualitas. Hal ini menunjukkan bahwa FKIP tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang pembelajaran bersama dalam membangun budaya akademik yang sehat dan demokratis.

Ia berharap, kegiatan GARASI 2026 kaali ini dapat menjadi agenda rutin yang mampu memperkuat hubungan antara mahasiswa dan dosen. Dengan adanya forum dialog seperti ini, aspirasi mahasiswa dapat tersampaikan secara konstruktif dan menjadi bahan evaluasi bersama demi kemajuan Fakultas.

Zakiya menegaskan bahwa komunikasi yang baik antara mahasiswa dan dosen merupakan salah satu kunci dalam menciptakan lingkungan akademik yang sehat dan produktif. Dengan adanya forum aspirasi seperti GARASI, mahasiswa tidak hanya menjadi peserta didik, tetapi juga turut berperan aktif dalam memberikan kontribusi terhadap pengembangan institusi.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa kegiatan GARASI juga menjadi momentum untuk membangun semangat kebersamaan dan kolaborasi di lingkungan kampus. Sinergi antara mahasiswa dan dosen dinilai sangat penting dalam menciptakan suasana akademik yang aspiratif, partisipatif, dan progresif.

“Melalui kegiatan GARASI ini kami berharap aspirasi mahasiswa dapat tersampaikan dengan baik dan menjadi bahan evaluasi bersama untuk kemajuan Fakultas bersama,” pungkasnya.

Penulis: Muhammad Fikull

LPTNU Gelar Seminar dan Anugerah Pendidikan Tinggi 2026 1

LPTNU Gelar Seminar dan Anugerah Pendidikan Tinggi 2026

Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) akan menggelar rangkaian anugerah pendidikan tinggi 2026. Kegiatan ini diselenggarakan pada hari selasa, 10 Maret 2026 di Kampus B Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Dalam rangkaian kegiatan ini, terdapat dua agenda utama yaitu Seminar untuk merumuskan rekomendasi arah pendidikan tinggi NU dalam 15 tahun kedepan. Seminar ini akan diikuti oleh semua pimpinan PTNU dengan 6 rektor sebagai penyaji utama yaitu untuk sesi Pembaruan Kurikulum dan Metode Pembelajaran akan diisi oleh Prof.Dr Fatkul Anam (UNU Sidoarjo), Prof.Dr Junadi Mistar (Unisma Malang), Prof.Dr Muammar Bakry (UIM Makasar) dan dimoderatori oleh Dr. Baiq Mulianah (UNU NTB). Dalam sesi membangun ekosistem riset dan inovasi, terdapat Prof.Dr.Helmy Purwanto (Unwahas Semarang), Prof.Dr.Tri Yogi Yuwono (UNUSA Surabaya), Prof.Dr Hamdani (UNU Kaltim) dengan Dr. Ali Formen sebagai moderator. Seluruh pimpinan PTNU akan memberikan tanggapan secara tertulis yang dikompilasi dan dibahas dalam sesi rekomendasi yang dipimpin oleh Dr. Abu Amar Bustomi (UNU Pasuruan).

Ketua LPTNU, Prof.Dr. H. Ainun Na’im menjelaskan bahwa tujuan penyelenggaraan kegiatan ini ada dua yaitu: “Pertama, memastikan bahwa PTNU memiliki tingkat respon dan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan. Pendidikan tinggi memiliki persoalan yang kompleks sehingga perlu diurai lalu secara simultan mempersiapkan berbagai skenario dan perencanaan untuk menjawabnya. Kedua, anugerah pendidikan tinggi adalah bagian dari apresiasi yang dilakukan oleh LPTNU terhadap kinerja dan capaian dari sivitas akademikanya. Diharapkan bisa memberikan kebanggaan dan motivasi terhadap yang lain agar senantiasa memberikan kontribusi terbaik terhadap lembaga”.

Secara terpisah, Sekretaris LPTNU Dr.H.M.Faishal Aminuddin menjelaskan bahwa Anugerah LPTNU ini terdiri atas beberapa kategori: 1) kategori ilmuwan muslim berpengaruh dalam bidang kedokteran, sains terapan, teknologi, ekonomi dan lingkungan hidup. 2) kategori Pengabdi sepanjang hayat bagi tokoh NU yang berkontribusi terhadap pendidikan tinggi dalam proses kebijakan, filantropi dan pembangunan infrastruktur. 3) Dosen dengan Karya Ilmiah dalam bidang Saintek, Sosial Humaniora, Ilmu Agama dan Karya Kemasyarakatan dengan total 18 bidang ilmu. 4) Tenaga Kependidikan terbaik dengan bidang layanan dan pengabdian. 5) Lembaga / Pusat Studi terbaik dalam bidang inovasi, kerjasama dan pembangunan komunitas dan 6) Mahasiswa berprestasi dengan kategori akademik, olahraga, keagamaan dan Duta PTNU. “Anugerah LPTNU ini menjadi pengakuan bersama atas segala daya, upaya, ketekunan dan capaian sivitas akademika yang senantiasa berkhidmat dalam pengembangan ilmu pengetahuan, kontribusi terhadap masyarakat dan kemandirian jam’iyyah” tuturnya.

Dalam keterangan selanjutnya, Ketua Tim Juri, Prof.Dr Fatkul Anam memaparkan bahwa proses penjurian dilakukan oleh tim panel juri dengan cara berjenjang dimana sumber data utama berasal dari penambangan data yang dilakukan oleh tim LPTNU dan nominasi usulan dari PTNU. Semua data yang masuk diverifikasi, diberikan penilaian dan diusulkan sampai kandidat 3 besar. Setiap kategori yang berisi 3 kandidat akan diputuskan dalam rapat pleno untuk diputuskan siapa yang mendapatkan penghargaan. Dia menegaskan bahwa “Tim dari LPTNU sudah bekerja mengumpulkan data sejak awal bulan Januari 2026. Kami benar-benar menjaga integritas dalam semua proses penilaian. Kehati-hatian dan kerahasiaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penilaian yang diberikan”. Sekalipun misalnya, ada rektor PTNU yang kebetulan menjadi Ketua tim panel kategori, tidak bisa begitu saja memasukkan calon dari kampusnya sebagai kandidat 3 besar. Bahkan dia harus legowo, seandainya tidak ada satupun nominasi dari kampusnya tidak masuk kriteria.

Sementara Ketua panitia seminar, Dr Abu Amar Bustomi menyampaikan bahwa acara seminar dibuka dengan pemaparan Prof.Dr. M Nuh sebagai Keynote Speaker. “beliau akan menyampaikan topik mendefinisikan tantangan Perguruan Tinggi dalam 10 tahun kedepan dan peran PTNU didalamnya”. Seminar ini berangkat dari dinamika global dunia pendidikan menuntut sebuah reorientasi fundamental terhadap peran institusi akademik dalam
ekosistem kehidupan berbangsa. Seiring dengan percepatan disrupsi teknologi
yang ditandai oleh integrasi kecerdasan buatan (AI) yang semakin masif,
transformasi sosial yang dinamis, serta kompleksitas geopolitik. Institusi pendidikan tinggi saat ini memikul mandat untuk menjadi motor penggerak yang adaptif, kolaboratif, dan mampu memberikan solusi nyata terhadap berbagai persoalan kebangsaan yang semakin kompleks. Semua pimpinan PTNU memberikan pandangan secara tertulis dan memberikan umpan balik dalam diskusi panel dimana semua hasilnya akan dirumuskan oleh LPTNU menjadi rekomendasi kepada PBNU.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Panitia Malam Anugerah LPTNU, Dr. Mustadin menyampaikan bahwa perhelatan yang digelar setelah shalat tarawih tersebut akan dihadiri oleh 200 undangan dari PTNU dan 100 undangan dari perwakilan pengurus NU dan Banom serta undangan dari lembaga lainnya. Dia menambahkan bahwa yang diumumkan profil peraih anugerah LPTNU bisa dibagi sesuai dengan jenis penghargaannya yaitu: Plakat emas diberikan kepada kategori Ilmuwan Muslim berpengaruh dan Pengabdian Sepanjang Hayat. Lalu untuk Plakat perak diberikan kepada Kategori Dosen dengan Karya Ilmiah dan Karya Kemasyarakatan. Terakhir Plakat Perunggu untuk kategori Tenaga Kependidikan dan Pusat Studi Terbaik. Adapun untuk mahasiswa terdapat medali bintang emas untuk Duta PTNU pertama, perak untuk kedua dan perunggu untuk ketiga. Sedangkan untuk kategori prestasi mahasiswa akan diberikan medali. Selain kategori penghargaan diatas, ada tambahan penghargaan lain-lain yang lebih bersifat apresiasi daripada kompetisi. Pungkasnya. (FA)

Alumni PGSD UNUSIDA, Izathun Alcharimah Ana Safitri, S.Pd., M.Pd. (Foto Humas UNUSIDA)

Dari Dunia Pendidikan ke Ruang Publik, Kisah Izathun Alcharimah Alumni PGSD UNUSIDA Berkiprah di Bawaslu Sidoarjo

Perjalanan karier tidak selalu berjalan lurus sesuai bidang studi. Hal inilah yang dibuktikan oleh alumni Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Izathun Alcharimah Ana Safitri, S.Pd., M.Pd. Lulusan tahun 2019 tersebut kini berkiprah sebagai penyelenggara pemilu di Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Sidoarjo.

Berangkat dari latar belakang pendidikan dasar, Izathun membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh selama kuliah tidak hanya relevan di ruang kelas, tetapi juga dapat menjadi bekal penting dalam dunia publik yang dinamis. Menurutnya, pendidikan adalah fondasi dalam membangun kesadaran demokrasi dan integritas masyarakat.

“PGSD mengajarkan saya tentang kesabaran, komunikasi, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itu sangat relevan ketika bekerja di ruang publik,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Kamis (5/3/2026).

Dalam perannya sebagai penyelenggara pemilu di Bawaslu Sidoarjo, Izathun terlibat dalam pengawasan berbagai tahapan pemilu di tingkat kabupaten. Tugasnya meliputi memastikan proses berjalan sesuai regulasi, menjaga netralitas, hingga menangani berbagai dinamika yang muncul di lapangan.

Peran tersebut menuntut ketelitian administrasi, keberanian dalam mengambil keputusan, serta kemampuan menyampaikan informasi secara objektif kepada masyarakat. Menurutnya, dunia kepemiluan merupakan ruang pembelajaran yang sangat kaya akan pengalaman.

“Ketika berada di dunia publik, kita belajar untuk lebih dewasa. Setiap ucapan dan tindakan memiliki konsekuensi. Kita harus bijak, netral, dan tetap berpegang pada aturan,” jelasnya.

Pengalaman tersebut menjadi jembatan menuju kematangan pribadi. Ia belajar mengelola emosi, bersikap profesional di tengah perbedaan pandangan, serta membangun komunikasi yang sehat dengan berbagai pihak—baik peserta pemilu, sesama penyelenggara, maupun masyarakat.

Sebagai alumni PGSD, Izathun juga merasakan bahwa kemampuan mendidik dan memberikan pemahaman kepada masyarakat menjadi nilai tambah tersendiri. Dalam berbagai kegiatan sosialisasi pengawasan partisipatif, latar belakang pendidikannya membantu dalam menyampaikan informasi secara komunikatif dan mudah dipahami.

“Edukasi kepada masyarakat itu penting. Demokrasi yang sehat tidak hanya bergantung pada penyelenggara, tetapi juga pada kesadaran masyarakat,” tuturnya.

Ia pun membagikan sejumlah pesan bagi mahasiswa, khususnya dari Prodi PGSD, agar tidak membatasi diri dalam menentukan masa depan. Menurutnya, lulusan PGSD memiliki kompetensi komunikasi, manajemen, dan kepemimpinan yang dapat diterapkan di berbagai bidang.

Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun integritas sejak dini. Dalam dunia kepemiluan, netralitas dan kejujuran menjadi prinsip utama yang tidak dapat ditawar. Kemauan untuk terus belajar serta kesiapan menghadapi kritik juga menjadi bekal penting bagi siapa pun yang ingin berkiprah di ruang publik.

Bagi Izathun, perjalanan kariernya bukan sekadar tentang posisi atau jabatan, tetapi tentang proses bertumbuh sebagai pribadi. Dunia publik membentuknya menjadi lebih sabar, tegas, dan bertanggung jawab dalam menjalankan amanah.

Kini, sebagai bagian dari Bawaslu Sidoarjo, ia merasa memiliki tanggung jawab besar untuk turut menjaga kualitas demokrasi di daerah. Ia percaya bahwa demokrasi yang kuat memerlukan pengawasan yang profesional serta individu-individu yang matang secara karakter.

Kisah Izathun menjadi bukti bahwa alumni PGSD memiliki ruang kontribusi yang luas, termasuk di dunia kepemiluan. Pendidikan yang ia tempuh menjadi fondasi untuk memahami masyarakat, membangun komunikasi, serta menjaga integritas dalam setiap langkah pengabdian.

“Menjadi bagian dari penyelenggara pemilu bukan hanya tentang bekerja, tetapi tentang mengabdi. Dunia publik adalah ruang untuk belajar menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

Rapat Koordinasi Pimpinan UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Rapat Koordinasi Pimpinan UNUSIDA, Perkuat Konsolidasi dan Orientasi Pelayanan Prima

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Rapat Koordinasi Pimpinan pada Jum’at (27/2/2026) di Hall Kampus 2, Lingkar Timur, Sidoarjo. Rapat ini diikuti oleh seluruh jajaran pimpinan, mulai dari Dekan dan Wakil Dekan Fakultas, Kepala Program Studi, Kepala Biro, Kepala Bagian, hingga Kepala UPT di lingkungan UNUSIDA.

Sekretaris BPP UNUSIDA, Dr. Sholehudin, dalam arahannya menegaskan bahwa momentum bulan puasa hendaknya dimaknai lebih dari sekadar ibadah ritual. Menurutnya, mentalitas puasa tidak hanya mengajarkan tentang ruhaniyah, tetapi juga membentuk kekuatan spiritual dan ketangguhan mental.

“Puasa tidak hanya berbicara tentang dimensi ruhaniyah, tetapi juga spiritualitas yang membentuk karakter. Hal ini harus diartikan bahwa UNUSIDA harus menjadi kampus yang tangguh, memiliki ketangguhan mental untuk bersaing dengan perguruan tinggi lain, sekaligus melaksanakan pelayanan prima dalam pengabdian,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa orientasi pelayanan di UNUSIDA harus ditekankan dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, sehingga budaya kerja yang dibangun tidak hanya profesional, tetapi juga berlandaskan akhlak dan prinsip ke-NU-an.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menyampaikan bahwa rapat koordinasi ini dilaksanakan dalam rangka memperkuat konsolidasi pimpinan di semua lini. Selain itu, rapat juga membahas strategi rekrutmen dosen dan karyawan, serta tindak lanjut hasil rapat kerja universitas.

“Rapat ini menjadi momentum untuk menguatkan konsolidasi pimpinan, membahas rekrutmen dosen dan karyawan, serta menindaklanjuti rapat kerja universitas, termasuk strategi promosi UNUSIDA agar semakin dikenal luas oleh masyarakat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Dr. Hadi menekankan pentingnya peningkatan kualitas lulusan sebagai prioritas utama. Salah satu langkah strategis yang dibahas adalah penentuan syarat kelulusan yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja, sehingga lulusan UNUSIDA tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dan kompetitif di pasar kerja.

Melalui rapat koordinasi ini, pihaknya berkomitmen untuk terus memperkuat tata kelola kelembagaan, meningkatkan mutu layanan, serta membangun sinergi antarunit demi mewujudkan kampus yang tangguh, berdaya saing, dan berorientasi pada pelayanan prima kepada masyarakat.

Selain itu, sinergi antarunit juga menjadi perhatian penting. Setiap fakultas, lembaga, dan unit kerja didorong untuk saling berkolaborasi, bukan berjalan sendiri-sendiri. Dengan sinergi yang kuat, ia yakin UNUSIDAmampu menghadirkan inovasi serta pelayanan yang lebih optimal kepada mahasiswa dan masyarakat luas.

“Koordinasi yang solid adalah kunci kemajuan institusi. Kita harus bergerak bersama, saling mendukung, dan berorientasi pada pelayanan prima,” pungkasnya.

Safari Ramadhan UNUSIDA 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

Safari Ramadhan UNUSIDA 2026, Wujud Kehadiran Kampus untuk Mengabdi di Tengah Masyarakat

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menggelar kegiatan rutin Safari Ramadhan UNUSIDA 2026. Dengan semangat berkhidmah dan berkarya, kegiatan ini dilaksanakan di sejumlah masjid di wilayah Sidoarjo sebagai bentuk pengabdian dan penguatan hubungan kampus dengan masyarakat selama bulan suci Ramadhan 1447 Hijriyah ini.

Adapun rangkaian kegiatan berlangsung pada 24–27 Februari 2026 di beberapa lokasi, yakni Masjid Al-Huda Gebang, Masjid Al-Huda Rangkah Lor Bluru Kidul, Masjid Muttahidin Klurak Candi, serta Masjid Al-Badar Pecantingan Sekardangan, Sidoarjo. Dalam setiap titik kegiatan, UNUSIDA menghadirkan beragam program sosial dan keagamaan seperti medical checkup gratis, santunan marbot masjid, salat tarawih berjamaah, serta kuliah sembilan menit (kultum) Ramadhan.

Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas konsistensi pelaksanaan Safari Ramadhan yang telah berjalan selama lima tahun terakhir. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bentuk komitmen nyata kampus dalam mengimplementasikan nilai pengabdian kepada masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan rutin setiap bulan Ramadhan ini yang telah berjalan selama lima tahun terakhir. Safari Ramadhan menjadi ikhtiar kami untuk mendekatkan UNUSIDA di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial dan spiritual warga,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa kehadiran UNUSIDA melalui program-program sosial dan keagamaan di masjid-masjid menjadi sarana memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, lembaga keagamaan, dan masyarakat luas. Melalui kegiatan ini, mahasiswa, dosen, dan civitas akademika dapat terlibat langsung dalam pelayanan sosial, dakwah, dan pemberdayaan umat.

Pihaknya terus berupaya menghadirkan kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif berkontribusi dalam membangun masyarakat yang sehat, religius, dan berdaya. “Safari Ramadhan menjadi salah satu manifestasi nyata bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam merawat nilai kebersamaan dan kepedulian sosial di tengah kehidupan bermasyarakat,” jelasnya.

Safari Ramadhan UNUSIDA juga melibatkan berbagai unsur lembaga di lingkungan kampus, termasuk LAZISNU UNUSIDA, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) KSR PMI, RSI Siti Hajar Sidoarjo dan unit-unit pendukung lainnya, sehingga kegiatan dapat berjalan secara kolaboratif dan berdampak luas. Antusiasme masyarakat di setiap lokasi kegiatan menjadi bukti bahwa program ini diterima dengan baik dan dinantikan setiap tahunnya.

Musyawarah Besar Aliansi BEM Delta Sidoarjo di UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Sukses Jadi Tuan Rumah Musyawarah Besar Aliansi BEM Delta Sidoarjo, Tegaskan Komitmen Pemimpin Muda

SIDOARJO — Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menjadi tuan rumah Musyawarah Besar BEM Delta Sidoarjo Aliansi BEM Delta Sidoarjo di Auditorium Lt. 5 UNUSIDA pada (25/02/2026). Mengusung tema ‘Muda, Berani, Berubah: Menuju Sidoarjo Berdaya’, forum ini menjadi momentum strategis dalam menentukan arah gerak kolektif mahasiswa lintas kampus di Kabupaten Sidoarjo.

Musyawarah besar tidak hanya dimaknai sebagai agenda formal organisasi, tetapi juga sebagai ruang konsolidasi ide, evaluasi kinerja, serta perumusan peta jalan gerakan mahasiswa ke depan yang lebih sistematis, progresif, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Kegiatan dibuka dengan sambutan Muhammad Azmi, Sekretaris Aliansi BEM Delta Sidoarjo Periode 2024–2025. Dalam penyampaiannya, ia menegaskan bahwa keberlanjutan organisasi terletak pada kematangan proses kaderisasi dan konsistensi nilai perjuangan.

“Aliansi ini dibangun atas dasar kolaborasi, bukan dominasi. Kepemimpinan baru harus mampu merangkul seluruh kampus serta memastikan semangat kolektif tetap terjaga,” ujarnya, sembari menekankan pentingnya integritas dan transparansi dalam estafet kepemimpinan.

Presiden Mahasiswa UNUSIDA, M. Rafly Afandi, turut menegaskan posisi strategis mahasiswa dalam dinamika sosial daerah. Ia menyoroti pentingnya membangun gerakan yang berbasis kajian ilmiah serta responsif terhadap persoalan masyarakat.

“Mahasiswa tidak boleh terjebak dalam simbolisme gerakan. Kita harus hadir dengan analisis yang kuat, sikap yang rasional, dan keberanian untuk menyampaikan kebenaran demi kemajuan Sidoarjo,” tegasnya.

Dengan terselenggaranya Musyawarah Besar ini, Aliansi BEM Delta Sidoarjo menegaskan komitmen untuk memperkuat konsolidasi mahasiswa secara berkelanjutan. Semangat Muda, Berani, Berubah tidak hanya menjadi slogan, melainkan komitmen kolektif untuk menghadirkan gerakan mahasiswa yang lebih matang, terarah, terstruktur, progresif, dan berkontribusi nyata bagi terwujudnya Sidoarjo yang berdaya, inklusif, dan berkeadilan.

Memasuki agenda inti, forum membahas dan menetapkan tata tertib persidangan sebagai fondasi mekanisme musyawarah yang demokratis, partisipatif, dan akuntabel. Proses perumusan berlangsung dinamis dengan berbagai pandangan konstruktif dari delegasi sembilan kampus. Perbedaan gagasan yang muncul menjadi bagian dari proses pendewasaan organisasi dalam menghasilkan keputusan terbaik bagi keberlanjutan aliansi.

Sidang berlanjut pada pembahasan laporan pertanggungjawaban kepengurusan sebelumnya serta rekomendasi organisasi. Forum menyoroti perlunya penguatan sistem koordinasi internal, optimalisasi program kolaboratif lintas kampus, serta pembentukan tim kajian isu strategis daerah yang lebih terstruktur. Selain itu, dibahas pula pentingnya membangun relasi konstruktif dengan pemerintah daerah tanpa menghilangkan fungsi kontrol sosial mahasiswa sebagai mitra kritis yang independen.

Agenda pemilihan Koordinator Umum Aliansi BEM Delta Sidoarjo menjadi momen penting dalam musyawarah tersebut. Proses pemilihan berlangsung demokratis, tertib, dan transparan melalui mekanisme yang telah disepakati bersama. Hasil forum menetapkan Sultan Saladin Batubara, Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), sebagai Koordinator Umum Aliansi BEM Delta Sidoarjo, serta M. Rafly Afandi, Presiden Mahasiswa UNUSIDA, sebagai Sekretaris Aliansi BEM Delta Sidoarjo untuk periode kepengurusan selanjutnya.

Dalam pernyataan perdananya, Sultan menegaskan bahwa amanah tersebut merupakan tanggung jawab kolektif seluruh kampus yang tergabung dalam aliansi.

“Ini adalah komitmen bersama untuk memperkuat konsolidasi mahasiswa dan memastikan aliansi tetap menjadi garda terdepan dalam mengawal kepentingan masyarakat,” tegasnya.

Seluruh perwakilan BEM yang tergabung dalam Aliansi BEM Delta Sidoarjo, yakni BEM UNUSIDA, BEM UMSIDA, BEM Universitas PGRI Delta Sidoarjo, BEM Universitas Maarif Hasyim Latif (UMAHA), BEM STAI An-Najah Indonesia Mandiri, BEM Poltekkes Kerta Cendekia, BEM Universitas Anwar Medika, BEM IAI Al-Khoziny, serta BEM IAI YPBWI, mengikuti musyawarah dengan penuh khidmat. Kehadiran sembilan kampus tersebut menunjukkan bahwa konsolidasi mahasiswa Sidoarjo tidak hanya bersifat simbolik, tetapi substantif dalam merumuskan arah gerak bersama.

Lebih lanjut, kegiatan dilanjutkan dengan pembahasan isu-isu strategis daerah yang relevan dengan kepentingan mahasiswa dan masyarakat. Diskusi ini menjadi fondasi awal bagi kepengurusan baru dalam menyusun agenda kerja yang responsif terhadap dinamika sosial di Kabupaten Sidoarjo.

Penulis: Muchammad Waziruddin (MY)