OASE 2.0 Prodi Teknik Lingkungan UNUSIDA (Foto: Prodi Teknik Lingkungan UNUSIDA)

HMTL UNUSIDA Bekali Mahasiswa Baru Perancangan Program Nyata dalam Berorganisasi

PACET — Kegiatan Orientation and Academic Skills for Environmental Engineers (OASE 2.0) kembali menjadi ruang pembelajaran awal bagi mahasiswa baru Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Kegiatan ini diselenggarakan di Villa Greenpeace, Kambengan, Pacet, Mojokerto, Sabtu-Ahad (22–23/11/2025) lalu.

Dalam kesempatan tersebut juga menjadi ajang mengenalkan Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) UNUSIDA yang sejalan dengan tujuan kegiatan yang menekankan penguatan orientasi akademik sekaligus keorganisasian bagi mahasiswa baru angkatan 2025. Hal tersebut menjadi salah satu fokus utama OASE 2.0 tahun ini yaitu orientasi berorganisasi di lingkungan HMTL UNUSIDA.

Ketua HMTL UNUSIDA, Ihsan Abu Ridho menegaskan bahwa OASE 2.0 tidak berhenti pada pengenalan kampus semata, melainkan diarahkan untuk membangun kesiapan mahasiswa baru dalam memahami dinamika organisasi, tanggung jawab struktural, serta budaya kerja kolektif selama menjadi bagian dari HMTL UNUSIDA.

“OASE 2.0 kami arahkan sebagai proses awal pembentukan karakter berorganisasi. Mahasiswa baru tidak hanya diperkenalkan pada lingkungan kampus, tetapi juga dibekali pemahaman tentang bagaimana bekerja dalam tim, memikul tanggung jawab, dan berkontribusi secara nyata selama menjadi bagian dari HMTL UNUSIDA,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, peserta juga dibekali dengan materi pengenalan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di lingkup program studi yaitu HMTL, termasuk keterkaitannya dengan Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia (IMTLI) serta struktur dan fungsi departemen di HMTL UNUSIDA yang disampaikan oleh Sheli Juwati Anggreni, Wakil Ketua HIMA Teknik Lingkungan UNUSIDA Periode 2023–2024. ]

Dalam pemaparannya, Sheli menegaskan bahwa organisasi mahasiswa merupakan ruang belajar kepemimpinan dan pengabdian. “Himpunan bukan sekadar tempat berkegiatan, tetapi laboratorium karakter, tempat mahasiswa belajar mengelola gagasan, konflik, dan tanggung jawab secara nyata,” ujarnya.

Sheli juga menjelaskan bahwa keberadaan HMTL UNUSIDA sebagai bagian dari jejaring IMTLI membuka peluang kolaborasi yang luas, baik di tingkat regional maupun nasional. Pemahaman struktur organisasi sejak awal dinilai penting agar mahasiswa baru dapat menentukan peran dan minatnya secara terarah, sekaligus menyadari kontribusi strategis setiap departemen dalam mendukung keberlanjutan organisasi dan program studi.

Lebih lanjut, mahasiswa juga dibekali dengan materi Administrasi dan Kesekretariatan yang disampaikan oleh Muchammad Waziruddin, Sekretaris 1 HIMA Teknik Lingkungan UNUSIDA Periode 2025. Materi ini menitikberatkan pada praktik dasar administrasi organisasi, mulai dari tata naskah dinas, pengelolaan surat-menyurat, hingga penyusunan proposal kegiatan dan rencana anggaran biaya (RAB).

“Administrasi sering dianggap teknis, padahal ia adalah fondasi profesionalisme organisasi. Gagasan yang baik tidak akan berjalan tanpa administrasi yang rapi, tertib, dan akuntabel,” tegas Wazir.

Diskusi pada sesi ini berlangsung dinamis dan interaktif. Mahasiswa baru secara aktif mengajukan pertanyaan seputar mekanisme penyusunan proposal, pembagian peran kepanitiaan, hingga strategi menyusun program kerja yang selaras dengan visi organisasi. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa peserta tidak hanya memahami organisasi secara konseptual, tetapi juga mulai berpikir aplikatif.

Kedua materi orientasi berorganisasi ini menjadi penegasan arah OASE 2.0 sebagai orientasi berbasis praktik. Output utama yang dihasilkan adalah penugasan kepada seluruh peserta untuk menyusun proposal kegiatan secara berkelompok, yang mencakup konsep kegiatan, tujuan, susunan kepanitiaan, serta rencana anggaran biaya yang realistis dan terukur.

Menariknya, proposal-proposal tersebut tidak sekadar menjadi latihan, melainkan akan dikurasi dan diproyeksikan untuk direalisasikan sebagai program kerja HMTL UNUSIDA pada periode kepengurusan berikutnya. Dengan demikian, OASE 2.0 menjadi titik awal keterlibatan aktif mahasiswa baru dalam proses perencanaan dan pengembangan kegiatan kemahasiswaan yang berkelanjutan.

Melalui pendekatan ini, ia menegaskan komitmennya dalam membentuk mahasiswa Teknik Lingkungan UNUSIDA yang tidak hanya memahami identitas akademiknya, tetapi juga siap berorganisasi, berpikir sistematis, dan bertanggung jawab dalam mewujudkan gagasan menjadi program nyata.

“Semangat Green Integrity, Bright Future bukan sekadar sebagai slogan kegiatan, melainkan diimplementasikan sebagai praktik pembelajaran nyata yang ditanamkan sejak hari pertama mahasiswa memasuki dunia kampus. Nilai integritas, kepedulian lingkungan, dan tanggung jawab akademik dihadirkan melalui proses belajar yang reflektif, kolaboratif, dan aplikatif, sehingga mahasiswa sejak awal diarahkan untuk membangun karakter sebagai insan akademik dan calon engineer lingkungan yang beretika serta berorientasi pada keberlanjutan,” pungkasnya.

OASE 2.0 Teknik Lingkungan UNUSIDA (Foto: Muchammad Waziruddin)

OASE 2.0 Teknik Lingkungan UNUSIDA, Kuatkan Integritas dan Keilmuan Sebagai Fondasi Pembentukan Karakter Mahasiswa

PACET — Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (HIMA TL UNUSIDA) berkolaborasi dengan Program Studi Teknik Lingkungan UNUSIDA menyelenggarakan Orientation and Academic Skills for Environmental Engineers (OASE 2.0) sebagai implementasi Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus bagi mahasiswa baru angkatan 2025. Kegiatan yang mengusung tema ‘Green Integrity, Bright Future: Mendorong Mahasiswa Berintegritas dan Peduli Lingkungan untuk Masa Depan’ ini dilaksanakan pada Sabtu–Ahad (22–23 November 2025) bertempat di Villa Greenpeace, Kambengan, Pacet, Mojokerto.

Ketua Pelaksana Kegiatan Moh. Rofiqi Malik, mengatakan bahwa OASE 2.0 dirancang dengan pendekatan pembelajaran kontekstual yang menekankan penguatan integritas, keilmuan, dan kepedulian lingkungan sebagai fondasi awal pembentukan karakter mahasiswa Teknik Lingkungan. Kegiatan ini menjadi ruang transisi akademik bagi mahasiswa baru agar siap menghadapi dunia perkuliahan sekaligus tantangan profesi sebagai calon engineer lingkungan.

Mahasiswa Teknik Lingkungan angkatan 2024 menegaskan bahwa OASE 2.0 tidak hanya bertujuan mengenalkan lingkungan kampus, tetapi juga membekali mahasiswa baru dengan orientasi nilai, keterampilan belajar, serta kesiapan berorganisasi.

“Melalui OASE 2.0, kami ingin mahasiswa baru memahami arah pengembangan diri sebagai calon engineer lingkungan yang berintegritas dan solutif terhadap persoalan lingkungan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua HIMA Teknik Lingkungan UNUSIDA, Ihsan Abu Ridho, menekankan peran strategis mahasiswa sebagai agen perubahan berbasis sains dan etika. Menurutnya, HIMA TL hadir sebagai ruang pendampingan agar mahasiswa memiliki keberanian berpikir kritis, kepekaan sosial, serta komitmen kuat terhadap keberlanjutan lingkungan.

Ia menyoroti pentingnya solidaritas dan kolaborasi lintas program studi di lingkup Fakultas Teknik (FT) UNUSIDA dalam mendukung kegiatan yang berdampak nantinya. Melalui OASE 2.0, ia berkomitmen dalam mencetak engineer lingkungan muda yang berintegritas, berwawasan ilmiah, dan peduli lingkungan.

“Alhamdulillah, terima kasih atas dukungan dari seluruh pihak. Kegiatan ini menjadi pijakan awal menuju masa depan cerah, tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan ekologis. Keberagaman latar belakang mahasiswa adalah kekuatan. Dari sana, kolaborasi antarbidang teknik dapat melahirkan solusi lingkungan yang berdampak nyata,” ungkapnya.

Kegiatan OASE 2.0 dibuka secara resmi oleh Kepala Program Studi Teknik Lingkungan UNUSIDA, Muchammad Tamyiz, S.Si., M.Si., Ph.D. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa OASE 2.0 merupakan fondasi awal pembentukan karakter akademik mahasiswa.

“OASE 2.0 adalah pintu masuk untuk menanamkan integritas, etos ilmiah, dan tanggung jawab profesional. Output yang kami harapkan adalah mahasiswa yang unggul secara kompetensi dan matang secara karakter,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan materi pertama bertajuk Lingkup dan Kompetensi Program Studi Teknik Lingkungan. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan tentang peta kompetensi lulusan, relevansi kurikulum dengan tantangan lingkungan global dan nasional, serta peran strategis engineer lingkungan dalam pembangunan berkelanjutan.

“Teknik lingkungan tidak hanya soal teknologi, tetapi juga keputusan berbasis data, etika profesi, dan keberpihakan pada keberlanjutan,” jelasnya.

Lebih lanjut, materi kedua mengenai PKM, PPK Ormawa, dan Safety Laboratorium disampaikan oleh Khilyatul Afkar, S.T., yang merupakan laboran Laboratorium Kualitas Lingkungan Fakultas Teknik UNUSIDA. Berbekal pengalaman lolos pendanaan PKM dan PPK Ormawa, ia menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam riset dan pengabdian masyarakat, tanpa mengabaikan aspek keselamatan kerja.

“Pengalaman riset dan pengabdian akan membentuk daya saing mahasiswa. Namun, keselamatan di laboratorium adalah prasyarat utama yang tidak bisa ditawar,” terang khilya yang merupakan alumni Teknik Lingkungan angkatan 2018 tersebut.

Penulis: Muchammad Waziruddin (MY)

Dr. Hj. Muhafidhah Novie, S.E., M.M. Dekan Fakultas Ekonomi UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Prospek Ekonomi 2026: Tantangan Digitalisasi, Ekonomi Hijau, dan SDM

Menatap tahun 2026, Indonesia berada pada persimpangan penting dalam perjalanan pembangunan ekonominya. Di tengah dinamika global yang terus berubah, mulai dari disrupsi teknologi hingga tekanan isu lingkungan. Indonesia dihadapkan pada peluang besar sekaligus tantangan serius. Setidaknya terdapat tiga isu strategis yang akan sangat menentukan arah dan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional, yakni digitalisasi, pengembangan ekonomi hijau, dan penguatan sumber daya manusia (SDM).

Digitalisasi: Peluang Inklusif yang Masih Menyisakan Kesenjangan
Digitalisasi telah menjadi keniscayaan dalam kehidupan ekonomi modern. Pemanfaatan kecerdasan buatan, big data, serta otomatisasi kini bukan lagi sekadar inovasi, melainkan standar baru dalam dunia usaha dan industri. Transformasi digital memberikan peluang efisiensi, perluasan pasar, serta peningkatan daya saing nasional.

Namun demikian, tantangan besar masih membayangi, terutama kesenjangan digital yang dialami sektor UMKM. Banyak pelaku usaha kecil dan menengah yang belum memiliki literasi digital memadai, keterbatasan infrastruktur, maupun akses pembiayaan untuk adopsi teknologi. Tanpa kebijakan yang berpihak pada peningkatan kapasitas UMKM, digitalisasi justru berpotensi memperlebar ketimpangan ekonomi. Oleh karena itu, intervensi pemerintah melalui pelatihan, perluasan infrastruktur digital, serta skema pembiayaan yang inklusif menjadi kebutuhan mendesak.

Ekonomi Hijau: Antara Potensi Besar dan Tantangan Transformasi
Di sisi lain, ekonomi hijau menjadi agenda strategis yang tak terpisahkan dari komitmen Indonesia terhadap pembangunan berkelanjutan. Tekanan global akibat perubahan iklim mendorong negara-negara, termasuk Indonesia, untuk mengadopsi praktik ekonomi yang lebih ramah lingkungan. Dengan kekayaan sumber daya alam dan potensi energi terbarukan yang melimpah, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama dalam ekonomi hijau.

Meski demikian, transisi menuju ekonomi hijau bukanlah proses yang mudah. Diperlukan keberanian untuk mengubah pola produksi konvensional, investasi serius pada teknologi hijau, serta konsistensi kebijakan publik dalam mendukung transisi energi. Tanpa komitmen jangka panjang, ekonomi hijau berisiko hanya menjadi jargon tanpa dampak nyata.

SDM: Fondasi Utama Transformasi Ekonomi
Keberhasilan digitalisasi dan ekonomi hijau pada akhirnya sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia. Tantangan terbesar Indonesia ke depan adalah memastikan tenaga kerja memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan zaman. Kemampuan analitik, literasi teknologi, kreativitas, hingga green skills menjadi kompetensi kunci yang harus dimiliki generasi mendatang.

Dalam konteks ini, perguruan tinggi memegang peran strategis. Institusi pendidikan tinggi dituntut untuk adaptif melalui pengembangan kurikulum yang relevan, pembelajaran berbasis praktik, serta kolaborasi erat dengan dunia industri. Perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat transfer ilmu, tetapi juga motor penghasil SDM unggul yang siap menjawab tantangan ekonomi masa depan.

Bagi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), tantangan ekonomi tersebut selaras dengan identitas kampus NU yang mengusung motto Religius Campus With Entrepreneurship Spirit. Artinya, pembangunan ekonomi tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga harus berpijak pada nilai-nilai keislaman, kemandirian, dan kemaslahatan umat.

UNUSIDA memandang penguatan SDM sebagai proses menyeluruh: mengintegrasikan keilmuan, nilai ke-NU-an, dan semangat kewirausahaan. Mahasiswa diharapkan tidak hanya siap menjadi pekerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja yang berorientasi pada kemaslahatan.

Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, akademisi, dan sektor bisnis, tantangan digitalisasi, ekonomi hijau, dan penguatan SDM bukanlah hambatan, melainkan peluang strategis. Saya optimis, jika dikelola secara terencana dan berkelanjutan, tahun 2026 dapat menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk melangkah menuju ekonomi yang lebih tangguh, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan.

Oleh: Dr. Hj. Muhafidhah Novie, S.E., M.M.
Dekan Fakultas Ekonomi

FKIP UNUSIDA Gelar Workshop Proyek Independen bagi Mahasiswa tahun akademik 2025–2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

FKIP UNUSIDA Gelar Workshop Proyek Independen, Perkuat Skill Penelitian Mahasiswa Menuju Tugas Akhir yang Berkualitas

SIDOARJO — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas akademik mahasiswa melalui penyelenggaraan Workshop Proyek Independen pada Kamis (11/12/2025). Kegiatan yang membahas tentang ‘Penyusunan Pendahuluan Penelitian’ ini digelar sebagai langkah strategis dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi penyusunan Tugas Akhir (TA) tahun akademik 2025–2026.

Workshop yang bersifat wajib bagi mahasiswa pemrogram Skripsi/TA ini menghadirkan dua narasumber berpengalaman di bidang penelitian, yaitu: Evi Mahsunah, S.S., M.Pd., dan Masyitah Noviyanti, S.Pd., M.Hum., yang juga seorang dosen UNUSIDA.

“Kegiatan ini dirancang untuk membantu mahasiswa unlock skill penelitian mahasiswa, sekaligus memperkuat pemahaman mengenai struktur pendahuluan, penyusunan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, hingga landasan teoritis yang menjadi fondasi utama sebuah karya ilmiah,” terang Masyitah Noviyanti dalam pemaparan materinya.

Dalam kesempatan tersebut, ia membahas secara detail tentang rumusan masalah, tujuan penelitian, serta manfaat penelitian. Ia menekankan pentingnya konsistensi antara rumusan masalah, tujuan penelitian, serta metodologi yang nantinya akan digunakan.

“Ketepatan merumuskan masalah akan menentukan kualitas keseluruhan penelitian. Mahasiswa perlu cermat membangun alur logis sejak bagian awal,” jelasnya.

Sementara itu, Evi Mahsunah menekankan pentingnya menyusun pendahuluan penelitian dengan rapi, sistematis, dan argumentatif. Bagian pendahuluan dianggap sebagai gerbang utama yang menentukan arah penelitian sekaligus menjadi indikator kualitas akademik mahasiswa.

Dosen Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNUSIDA tersebut menjelaskan pentingnya membangun latar belakang penelitian yang kuat sebagai dasar dari keseluruhan karya ilmiah. Ia menjelaskan bahwa latar belakang harus menunjukkan urgensi penelitian, relevansi masalah, dan celah penelitian yang ingin diisi oleh peneliti.

“Pendahuluan adalah pintu pertama sebuah penelitian. Jika disusun dengan baik, maka arah penelitian akan lebih jelas dan terarah,” ujarnya.

Menurutnya, workshop ini juga menjadi ruang diskusi interaktif bagi mahasiswa untuk berkonsultasi mengenai rancangan penelitian, pemilihan topik, serta teknik penguatan teori yang relevan dengan bidang keilmuan masing-masing. Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen FKIP UNUSIDA dalam mendampingi mahasiswa sejak awal proses penelitian hingga penyelesaian tugas akhir.

“Saya harap mahasiswa lebih siap menghadapi proses penyusunan tugas akhir, memiliki pondasi metodologis yang kuat, serta mampu menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas, orisinal, dan berkontribusi pada pengembangan ilmu pendidikan,” harapnya.

LPPM UNUSIDA dan LPT PBNU Gelar Webinar “Strategi Sukses Lolos Hibah Pengabdian BIMA 2026 (Foto: UNUSIDA TV)

LPPM UNUSIDA Gelar Webinar Strategi Sukses Lolos Hibah Pengabdian BIMA 2026

SIDOARJO — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) bersama dengan Lembaga Perguruan Tinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LPT-PBNU) menyelenggarakan Webinar Strategi Sukses Lolos Hibah Pengabdian BIMA 2026, yang diikuti oleh puluhan dosen PTNU dari berbagai daerah, Rabu (10/12/2025) melalui zoom meeting.

Webinar ini menghadirkan narasumber utama Prof. Dr. Ir. Wardah, M.P., M.M., dosen Agroindustri Fakultas Vokasi Untag Surabaya, dosen Ekonomi Pembangunan, serta reviewer nasional hibah penelitian dan pengabdian masyarakat Kemdikbud sejak 2020.

Dalam sambutannya, Rektor UNUSIDA Dr. H. Fatkul Anam, M.Si. menegaskan bahwa penguatan budaya riset harus menjadi komitmen bersama untuk sukses dalam program hibah BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) merupakan instrumen strategis untuk meningkatkan kapasitas dosen sekaligus memperluas dampak nyata perguruan tinggi kepada masyarakat.

“Persaingan proposal pengabdian secara nasional semakin ketat. Ini menuntut kita tidak hanya kreatif dan inovatif, tetapi juga mampu merancang program pengabdian yang relevan, berkelanjutan, dan berakar pada kebutuhan riil masyarakat,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kegiatan pendampingan seperti ini menjadi ruang belajar bersama, berbagi pengalaman, dan memperkuat kesiapan akademik dosen agar mampu berkompetisi di tingkat nasional. Ia sangat mengapresiasi kepada LPPM UNUSIDA serta LPT-PBNU atas inisiasi kegiatan ini, serta kepada Prof. Wardah yang telah bersedia berbagi pengalaman kepada seluruh peserta.

“Dengan kolaborasi, ketekunan, dan komitmen, saya yakin jumlah proposal pengabdian dari UNUSIDA dan PTNU lain dapat meningkat dan meraih pendanaan pada tahun 2026,” tambahnya.

LPT-PBNU: Proses Review adalah Tradisi Akademik yang Harus Dijunjung
Sekretaris LPT-PBNU dalam bidang penelitian dan pengabdian masyarakat menyampaikan bahwa pendanaan dari pemerintah, termasuk hibah dari Kemenristekdikti, harus melalui proses akademik yang benar—mulai dari review, perbaikan, hingga penjaminan kelayakan proposal.

Ia berharap pendampingan dapat terus berlanjut dan melahirkan peneliti serta pengabdi masyarakat yang unggul dari kampus-kampus NU.

“Tradisi akademik seperti review dan kompetisi itu penting. Ia melahirkan proposal yang berkualitas dan benar-benar layak didanai. Pendampingan seperti ini bukan sekadar tips and trick, tetapi memperkuat substansi dan proses penyusunan proposal itu sendiri,” tegasnya.

Ia menyebutkan, kegiatan webinar ini menjadi langkah serius PTNU menuju kompetisi hibah nasional. Ke depan pendampingan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkala sebagai komitmen PTNU dalam meningkatkan budaya riset dan pengabdian.

“Dengan kolaborasi UNUSIDA, LPT-PBNU, serta para dosen PTNU di seluruh Indonesia, semoga semakin banyak proposal pengabdian masyarakat yang lolos hibah BIMA 2026 dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas,” harapnya.

Prof. Wardah Kupas Tuntas Skema BIMA dan Kriteria Penilaian Reviewer
Dalam pemaparannya, Prof. Wardah menjelaskan secara detail berbagai skema Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dalam BIMA, di antaranya Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) seperti Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM/3M), Skema Pemberdayaan Berbasis Kewirausahaan (PBK) seperti PM-UBUD (Produk Unggulan Daerah) dan Pemberdayaan Usaha Kampus (PUK),  serta Skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah (PBB) seperti Pemberdayaan Desa Binaan (PDB).

Selain skema, ia juga menguraikan kriteria rekam jejak yang dinilai reviewer, seperti kualitas dan kuantitas publikasi jurnal, prosiding, perolehan HKI, serta rekam jejak pengabdian sebelumnya.

Prof. Wardah menegaskan beberapa aspek utama dalam penilaian proposal, mulai dari ketajaman analisis situasi dan permasalahan mitra, rumusan masalah yang tepat dan prioritas, kesesuaian solusi dengan kebutuhan, metode kegiatan yang jelas dan terukur, kompetensi tim pelaksana, kualitas iptek yang ditawarkan serta output wajib berupa artikel ilmiah bereputasi, artikel media massa, video kegiatan dan peningkatan level keberdayaan mitra.

“Intinya, proposal yang baik bukan hanya menjawab kewajiban tridarma, tetapi benar-benar menyentuh persoalan masyarakat dan memberi dampak nyata,” terangnya.

PIAUD UNUSIDA Gelar Kuliah Tamu “Cipta Lagu Anak Usia Dini” Bersama Dosen PG-PAUD Universitas Trunojoyo Madura (Foto: Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Gelar Kuliah Tamu Cipta Lagu Anak Usia Dini Bersama Dosen PG PAUD UTM

SIDOARJO — Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Guest Lecturer atau Kuliah Tamu dalam Mata Kuliah Pembelajaran Seni Musik dengan tema ‘Cipta Lagu Anak Usia Dini: Proses Produksi Lagu dari Ide Hingga Penyajian’, Selasa (9/12/2025).

Acara ini menghadirkan narasumber Angga Fitriyono, S.Pd., M.Pd., dosen PG-PAUD Universitas Trunojoyo Madura (UTM) sekaligus praktisi serta komposer musik anak yang telah menghasilkan berbagai karya edukatif. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai proses kreatif dalam menciptakan karya musik untuk anak usia dini.

Dalam pemaparannya, Angga menjelaskan kepada mahasiswa tentang memahami proses kreatif menciptakan lagu anak usia dini, mulai dari menggali ide, membuat lirik, menentukan melodi, hingga menyusun lagu lengkap dengan bait dan reff. Ia juga mencontohkan penyajian lagu-lagu anak modern yang ramah anak dan mudah diterapkan dalam pembelajaran PAUD.

Selain praktik cipta lagu, Angga menekankan pentingnya membangun budaya pendidikan kreatif sejak dini. Ia mengajak mahasiswa memahami dampak penggunaan gawai pada perkembangan anak serta mengajarkan strategi membatasi penggunaan handphone.

Ia mencontohkan inovasi tugas akhir mahasiswa PG PAUD UTM yang menghasilkan karya lagu anak beserta rekaman audio dan video sebagai bentuk kreativitas sekaligus pendokumentasian pembelajaran, lengkap dengan laporan pengkaryaan tugas akhir.

“Anak perlu dilatih membuat kesepakatan penggunaan HP agar tumbuh berkembang secara optimal dan terhindar dari kecanduan,” ujar Angga.

Sementara itu, Kaprodi PIAUD UNUSIDA, Rif’atul Anita, S. Pd., M. Pd., menyampaikan bahwa kuliah tamu ini merupakan bagian dari realisasi kerja sama dengan Program Studi PG PAUD UTM. Sebelumnya, Himpunan Mahasiswa (Hima) PIAUD UNUSIDA juga melakukan benchmarking bersama HIMA PIAUD UTM, juga bersama dosen-dosen untuk mengembangkan kualitas akademik dan kreativitas calon guru PAUD.

“Kegiatan ini diharapkan memberi manfaat besar bagi pendidikan calon guru PAUD, terutama dalam memperkuat kompetensi seni dan kreativitas,” ungkapnya.

Ke depan, mahasiswa PIAUD UNUSIDA akan memperoleh tugas khusus menciptakan lagu anak sebagai portofolio wajib setiap angkatan. Karya-karya tersebut akan dihimpun menjadi album lagu anak versi PIAUD UNUSIDA yang tidak hanya menjadi arsip kreatif, tetapi juga dapat diajarkan kepada peserta didik mereka kelak.

Dengan adanya kuliah tamu ini, ia berharap mahasiswa semakin percaya diri dalam berinovasi dan mampu menjadi pendidik PAUD yang kreatif, adaptif, serta siap menghadirkan pendidikan anak usia dini yang berkualitas dan menyenangkan.

“Kami berkomitmen PIAUD UNUSIDA dalam menghadirkan pembelajaran kolaboratif yang relevan dengan kebutuhan pendidikan anak usia dini. Guna mempersiapkan calon guru PAUD yang menginspirasi dan mampu menghasilkan karya kreatif,” pungkasnya.

Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I. Dekan Fakultas Agama Islam UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Membangun Budaya Anti Korupsi dalam Perspektif Fikih dan Tasawuf, Jalan Menuju Umat yang Berintegritas

Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia yang diperingati setiap tanggal 9 Desember 2025 ini, menjadi momentum bagi Bangsa Indonesia yang harus kembali dihadapkan pada refleksi mendalam terkait persoalan besar yang belum kunjung usai, yaitu korupsi. Meski berbagai instrumen regulasi telah disiapkan oleh negara, praktik korupsi masih terjadi di banyak sektor—pemerintahan, pendidikan, bisnis, bahkan institusi sosial yang seharusnya menjadi teladan moral bagi publik.

Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum. Ia adalah luka moral, kerusakan akhlak, dan penyakit sosial yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa. Karena itulah, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan hukum, sanksi, dan pengawasan. Dibutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif: pendekatan fikih, tasawuf, dan pendidikan karakter yang dapat membersihkan perilaku lahir sekaligus menata batin.

Undang-undang Indonesia melalui UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 mengelompokkan tujuh jenis utama tindak pidana korupsi:

  1. Merugikan keuangan negara,

  2. Suap-menyuap,

  3. Penggelapan dalam jabatan,

  4. Pemerasan,

  5. Perbuatan curang,

  6. Benturan kepentingan,

  7. Gratifikasi.

Fikih Islam memandang seluruh tindakan ini sebagai perbuatan yang bertentangan secara mutlak dengan syariat. Korupsi bukan hanya mencederai hukum negara, tetapi juga pengkhianatan terhadap amanah yang berasal dari Allah SWT. Dalam literatur fikih, perilaku koruptif dikenal dengan istilah:

  • Ghulul (penggelapan),

  • Risywah (suap),

  • Aklu al-maal bi al-bathil (memakan harta secara batil),

  • Khiyanah (pengkhianatan).

Selain itu, Al-Qur’an juga mengingatkan dengan tegas dalam QS. Al-Baqarah: 188: “Janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil dan janganlah kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim untuk memakan sebagian harta orang lain dengan dosa, padahal kamu mengetahui”

Korupsi merendahkan martabat pelakunya, mencoreng lembaga yang menaunginya, menistakan keluarganya, dan menurunkan kepercayaan publik. Pelaku korupsi tidak hanya diadili di dunia, melalui pidana dan kewajiban mengembalikan kerugian negara, tetapi juga akan dihukum oleh masyarakat secara moral serta diadili di hadapan Allah SWT.

Jika fikih mengatur batasan hukum, maka tasawuf menata kedalaman hati. Korupsi adalah buah dari penyakit spiritual seperti tamak, cinta dunia berlebihan, hilangnya rasa malu, dan hilangnya kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi.

Yang ironis, pelaku korupsi bukan orang yang kekurangan, tetapi mereka yang telah berkecukupan, namun tetap tidak merasa puas.

Tasawuf menawarkan “obat rohani” melalui nilai-nilai seperti:

  • Muraqabah (merasa diawasi Allah)

  • Muhasabah (introspeksi diri)

  • Zuhud (tidak diperbudak oleh dunia)

  • Qana’ah (merasa cukup atas karunia Allah)

Nilai-nilai ini bukan menghalangi manusia untuk sukses secara duniawi, tetapi menempatkan harta pada tempatnya: sebagai sarana ibadah, bukan tujuan hidup. Ketika tasawuf mengaliri karakter seseorang, ia akan menolak korupsi meski tidak ada yang melihat, karena merasa diawasi oleh Yang Maha Melihat.

Fikih dan tasawuf tidak dapat dipisahkan dalam membangun budaya antikorupsi. Fikih mengatur apa yang halal dan haram. Sementara Tasawuf mengajarkan apa yang pantas dan tidak pantas.

Jika digabungkan, keduanya akan melahirkan pribadi yang taat hukum, jujur, berakhlak, matang secara emosional dan spiritual, dan menjauhi korupsi bukan karena takut hukuman, tetapi karena cinta pada kebenaran. Inilah konsep ideal Muslim berintegritas.

Peran Strategis Fakultas Agama Islam UNUSIDA
Sebagai institusi pendidikan Islam, UNUSIDA khususnya Fakultas Agama Islam memiliki tanggung jawab moral dalam menyiapkan generasi muda yang berkarakter antikorupsi. Pendidikan agama tidak boleh berhenti pada teori, tetapi harus hadir dalam praktik kehidupan kampus. Beberapa langkah penting yang perlu terus diperkuat, diantaranya:

  • Kajian fikih antikorupsi,

  • Seminar dan diskusi integritas publik,

  • Mata kuliah ASWAJA,

  • Program Pembiasaan Amaliyah ASWAJA (P2A),

  • Budaya akademik yang jujur dan transparan,

  • Keteladanan dosen dan pimpinan fakultas,

  • Bebas pungutan liar dan administrasi yang bersih,

  • Penilaian akademik yang objektif.

Mahasiswa harus melihat teladan langsung, bukan hanya mendengar teori. Ketika kampus bersih, mahasiswa akan belajar menjadi pribadi yang bersih.

Momentum Hari Antikorupsi: Saatnya Refleksi Kolektif
Hari Antikorupsi Sedunia bukan sekadar seremoni tahunan. Ini adalah momen untuk memperbaiki diri dan sistem sosial yang kita jalankan. Setiap pemangku kebijakan—baik lembaga pemerintah, pendidikan, maupun masyarakat—perlu memperkuat komitmen bersama untuk menghentikan praktik KKN di segala lini.

Amanah yang diberikan kepada kita bukan sekadar tugas duniawi, tetapi janji yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Semoga semangat antikorupsi tumbuh dalam diri kita, keluarga kita, kampus, dan masyarakat Indonesia secara luas. Dengan integritas moral dan kekuatan spiritual, kita dapat membangun bangsa yang lebih bersih, adil, dan bermartabat.

Oleh: Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I.
Dekan Fakultas Agama Islam UNUSIDA.

Flyer Ucapan Mahasiswa UNUSIDA Raih Juara 3 International Business Plan Competition di Universitas Khairun Maluku (Foto: Istimewa)

Mahasiswa UNUSIDA Raih Juara 3 International Business Plan Competition, Usung Inovasi Cheese Moringa Biscuits Dukung Program MBG

SIDOARJO — Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Tim mahasiswa lintas prodi berhasil meraih Juara 3 International Business Plan Competition 2025 yang diselenggarakan oleh Universitas Khairun Maluku.

Tim ini beranggotakan tiga mahasiswa dari program studi berbeda, yaitu Ketua Tim Lailatul Ma’rifah (Manajemen 2024), Syifa Aristawati (Akuntansi 2024), Aulia Hilda Bilqis Maruapey (Pendidikan Bahasa Inggris 2024) dengan Dosen Pembimbing: Jeziano Riskita Boyas, S.E., M.M., CH.

Dalam kompetisi tingkat internasional ini, tim UNUSIDA mengusung inovasi produk bertajuk ‘Cheese Moringa Biscuits: A Healthy Snack Innovation for Supporting MBG’. Produk camilan sehat ini dirancang sebagai solusi inovatif untuk mendukung program MBG (Makan Bergizi) pemerintah, terutama dalam upaya mengurangi angka stunting di Indonesia.

Ketua tim, Lailatul Ma’rifah mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian ini. Menurutnya, prestasi ini menjadi bukti komitmen tim dalam memperbaiki kualitas ide bisnis sekaligus meningkatkan kemampuan berkompetisi di tingkat internasional.

“Alhamdulillah, pastinya sangat senang. Ini tahun kedua UNUSIDA mengikuti kompetisi ini. Tahun lalu kami meraih juara 5, dan tahun ini bisa meningkat menjadi juara 3. Ada peningkatan, dan itu sangat membahagiakan bagi kami,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Kamis (4/11/2025).

Laila mengatakan, meski berasal dari prodi yang berbeda dan memiliki jadwal yang tidak selalu sejalan, tim ini tetap solid.

“Tantangan terbesar adalah waktu. Kami jarang bisa bertemu langsung, jadi koordinasi banyak dilakukan lewat grup WhatsApp. Tapi komunikasi tetap terjaga dan semua tetap berkontribusi,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, gagasan biskuit daun kelor dan keju ini lahir dari kepekaan tim terhadap kondisi di lapangan, terutama terkait program MBG yang digagas pemerintah. Daun kelor dipilih karena kandungan nutrisinya yang kaya, seperti protein, vitamin, mineral, dan lemak sehat. Produk ini juga mendukung kebutuhan nutrisi anak serta membantu mengatasi malnutrisi.

“Banyak anak-anak yang kurang menyukai sayuran. Akhirnya sayur dari program MBG kadang terbuang. Kami membuat solusi agar nutrisi sayuran tetap bisa dikonsumsi melalui camilan yang mereka suka: biskuit berbahan kelor dan keju,” jelas Laila.

Ia menegaskan bahwa Cheese Moringa Biscuits memiliki kelebihan dibanding biskuit sehat lainnya, antara lain menggunakan daun kelor yang memiliki sumber nutrisi tinggi, pemakaian gula aren sebagai pemanis alami, bukan gula pasir. Kemudian kandungan dalam Gluten-free yang menggunakan tepung jagung, sehingga aman untuk lansia dan pelaku diet, serta rasa tetap enak, gurih, dan manis, meski berbahan kelor.

Laila menerangkan bahwa saat ini produk masih dalam tahap rencana bisnis, namun tim sudah membuat prototipenya meski uji pasar belum dilakukan. Terkait strategi bisnis, tim telah menyiapkan konsep pemasaran hybrid.

“Online lewat marketplace seperti Shopee, Lazada, dan Tokopedia. Offline lewat kantin sekolah, posyandu anak, hingga peluang masuk ke program MBG,” terang Syifa.

Meski belum merencanakan inkubasi atau kolaborasi UMKM, Laila dan tim berharap ke depan produk ini dapat dikembangkan lebih serius. Ia yakin produk ini bisa memberi manfaat luas. Sebab, Branding produk akan menonjolkan nilai utama, yaitu camilan sehat pengganti sayuran yang enak dan bergizi.

“Karena bahan-bahannya sehat, bukan hanya anak-anak, tapi juga orang tua lanjut usia bisa mengonsumsinya. Kandungan vitamin A, kalsium, protein, dan lemak baik sangat bermanfaat untuk otak dan jantung,” tandasnya.

Sementara itu, Dosen pembimbing, Jeziano Riskita Boyas, S.E., M.M., CH., mengapresiasi kerja keras mahasiswa dan menegaskan bahwa inovasi ini relevan dengan isu kekinian. Ia memandang pentingnya mahasiswa mengikuti tren dan fenomena aktual, seperti program MBG.

“Inovasi ini muncul dari fenomena nyata. Banyak anak tidak suka sayur, sehingga nutrisi perlu diolah ke bentuk yang lebih disukai. Itulah yang mereka lakukan,” katanya.

Jeziano juga berpesan kepada mahasiswa UNUSIDA untuk berani mencoba. Ia mengingatkan pentingnya menghormati orang tua dan menjaga niat baik dalam berkarya.

“Jangan takut melakukan hal baru. Gagasan tidak akan menjadi apa-apa jika hanya disimpan dalam pikiran. Cobalah, bahkan kalau gagal sekali pun, kalian tetap selangkah lebih maju daripada yang tidak pernah mencoba,” tuturnya.

Ke depan, hasil inovasi ini rencananya akan diikutsertakan dalam PKM maupun P2MW, serta berbagai ajang kompetisi kewirausahaan lainnya. Pihaknya berkomitmen untuk terus mendorong munculnya generasi muda kreatif yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, salah satunya melalui inovasi pangan sehat seperti Cheese Moringa Biscuits.

“Prestasi ini sekaligus menegaskan bahwa mahasiswa UNUSIDA mampu bersaing di tingkat internasional dengan inovasi yang solutif dan relevan. Selamat kepada Tim Cheese Moringa Biscuits, Semoga prestasi ini menjadi langkah awal lahirnya produk sehat yang bermanfaat bagi bangsa dan menginspirasi mahasiswa UNUSIDA lainnya,” pungkasnya.

Muh. Zakaria Dimas Pratama, S.Kom., Alumni Prodi Informatika UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Muh. Zakaria Dimas Pratama, S.Kom., dari Aktivis Kampus Menuju Anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menorehkan kebanggaan melalui kiprah salah satu alumninya, Muh. Zakaria Dimas Pratama, S.Kom., yang kini mengemban amanah sebagai Anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo. Lulusan Program Studi Informatika tersebut membagikan kisah inspiratif tentang perjalanan akademik dan pengalaman organisasi yang membentuk karakter serta mengantarnya pada dunia kepemimpinan dan politik.

Dimas sapaan akrabnya, mengenang masa kuliahnya di UNUSIDA sebagai periode yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan identitas diri. Ia mengaku bahwa pengalaman paling berkesan adalah ketika aktif dalam organisasi kemahasiswaan.

“Menjadi mahasiswa di UNUSIDA adalah pengalaman yang bukan hanya sebatas akademik, tetapi perjalanan pembentukan karakter. Melalui organisasi, saya belajar mengelola waktu antara kuliah, kegiatan, dan kehidupan pribadi,” ujarnya.

Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan memberikan ruang belajar yang luas di luar kelas. Diskusi panjang, kegiatan sosial, hingga advokasi mahasiswa menjadi sarana untuk memahami arti kepemimpinan, solidaritas, serta keberanian menyuarakan aspirasi.

“UNUSIDA memberi wadah bagi kami untuk tumbuh melalui forum ilmiah, pengabdian masyarakat, dan kegiatan budaya. Yang paling berkesan adalah bagaimana kami saling mendukung dan bergandengan tangan untuk mewujudkan perubahan kecil yang bermanfaat,” tambahnya.

Menurutnya, pengalaman sebagai aktivis kampus menjadi bekal berharga dalam perjalanan hidupnya setelah lulus. Ia belajar bahwa gelar akademik harus diimbangi dengan integritas, jiwa sosial, serta kepedulian terhadap sesama, nilai yang terus ia pegang dalam dunia profesional dan pengabdiannya di masyarakat.

Peran UNUSIDA dalam Perjalanan Karier
Dimas menegaskan bahwa UNUSIDA memiliki peran besar dalam membentuk dirinya hingga dipercaya duduk sebagai wakil rakyat.

“Di bangku kuliah, saya tidak hanya mendapatkan ilmu akademik, tetapi juga dibentuk dengan nilai kepemimpinan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial,” jelasnya.

Organisasi kemahasiswaan, diskusi intelektual, serta kegiatan pengabdian masyarakat melatihnya untuk menyerap aspirasi, memahami persoalan di lapangan, dan mencari solusi tepat. Pengalaman-pengalaman inilah yang menguatkan mentalitasnya ketika menghadapi dinamika politik di DPRD.

“Kampus mengajarkan kedisiplinan, komitmen, dan pentingnya menjaga integritas. Nilai-nilai ini saya bawa ketika mengemban amanah sebagai wakil rakyat,” ungkapnya.

Ia menilai bahwa UNUSIDA bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi merupakan kawah candradimuka yang menyiapkan mahasiswa untuk berkiprah lebih luas, termasuk dalam ranah kepemimpinan dan pelayanan publik.

Alumni yang Menjadi Teladan
Kisah perjalanan Muh. Zakaria Dimas Pratama menjadi inspirasi bagi seluruh mahasiswa UNUSIDA. Dedikasinya dalam organisasi, semangat belajar, serta komitmennya dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat menunjukkan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter mulia dan integritas.

“Ia berharap kehadiran para alumni dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa agar terus berkembang, berprestasi, dan berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, serta Nahdlatul Ulama,” pungkasnya.

Campus Visit SMK NU Ketegan ke Kampus 2 UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

SMK NU Ketegan Campus Visit di UNUSIDA: Kenalkan Dunia Perkuliahan kepada Siswa Akuntansi dan DKV

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menerima kunjungan dari siswa-siswi SMK NU Ketegan pada Rabu (3/11/2025). Kegiatan campus visit ini diikuti oleh peserta didik kelas XI dan XII dari Jurusan Akuntansi serta Desain Komunikasi Visual (DKV). Kunjungan tersebut dipusatkan di Kampus 2 UNUSIDA dan bertujuan memberikan wawasan perguruan tinggi serta mengenalkan lingkungan akademik kepada para siswa.

Wakil Rektor 3 UNUSIDA, H. Ali Masykuri, M.Pd.I., menyambut baik rombongan SMK NU Ketegan. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan berbagai program studi yang ada di UNUSIDA, termasuk pilihan jurusan yang relevan bagi siswa Akuntansi maupun DKV.

“Kalau di SMK ada DKV dan Akuntansi, di UNUSIDA ada lebih banyak pilihan. Saat ini terdapat 12 program studi, mulai dari PGSD, PIAUD, Manajemen, Teknik, dan prodi lain yang modern sesuai kebutuhan zaman,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa UNUSIDA terus berkembang dan tengah meningkatkan berbagai sarana serta kualitas akademik.

“Kami targetkan tahun 2026–2027, sebanyak 90% program studi akan terakreditasi unggul. Hampir seluruh ruang kelas sudah dilengkapi Smart TV atau LED untuk pembelajaran. Kami ingin memberikan pengalaman belajar terbaik bagi mahasiswa,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala SMK NU Ketegan M. Dzulfikar Fanani, S.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi agenda penting untuk membuka cakrawala siswa tentang dunia kampus, terutama kampus yang berada dalam satu rumpun keilmuan di bawah naungan Nahdlatul Ulama.

“Kami memiliki niat untuk memberikan wawasan kepada anak-anak tentang perguruan tinggi. Kami mohon maaf bila kegiatan ini dilaksanakan lebih pagi, karena setelah dari UNUSIDA kami dijadwalkan kunjungan industri ke PT Yakult,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan bahwa kunjungan ini bukan hanya untuk mengenalkan kampus, tetapi juga sebagai motivasi agar para siswa melanjutkan pendidikan. Ia berharap kunjungan ini menjadi inspirasi bagi mereka untuk menata masa depan setelah lulus sekolah.

Ia menambahkan bahwa para siswa dipersilakan bertanya kepada dosen-dosen UNUSIDA mengenai program studi, peluang masuk perguruan tinggi, hingga masa depan karier.

“Saya berharap setelah lulus, kalian tidak berhenti hanya bekerja. Boleh bekerja, tapi jangan menutup peluang untuk kuliah atau berwirausaha. Di Sidoarjo ini ada kampus NU seperti UNUSIDA yang satu nasab keilmuan dengan sekolah kita,” ujarnya.

Melalui kegiatan campus visit ini, siswa-siswi SMK NU Ketegan dikenalkan dan diajak melihat langsung lingkungan perkuliahan, fasilitas, karya mahasiswa DKV, serta kultur akademik kampus Nahdlatul Ulama. (MY)