PGMI UNUSIDA Gelar FGD Bersama Stakeholder, Penguatan Kompetensi Lulusan dan Sinkronisasi Kebutuhan Dunia Kerja 1

PGMI UNUSIDA Gelar FGD Bersama Stakeholder, Penguatan Kompetensi Lulusan dan Sinkronisasi Kebutuhan Dunia Kerja

SIDOARJO — Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Kurikulum pada Jumat (21/11/2025). Kegiatan yang digelar di Hall Lantai 5 Gedung A Kampus 2 UNUSIDA ini melibatkan berbagai stakeholder strategis bidang pendidikan dasar Islam.

Mengusung tema ‘Penguatan Kompetensi Lulusan dan Sinkronisasi Kebutuhan Dunia Kerja’, FGD ini menjadi langkah penting bagi Prodi PGMI dalam memastikan kurikulum yang diterapkan mampu menjawab tantangan perkembangan pendidikan, sekaligus memenuhi standar kompetensi yang dibutuhkan sekolah/madrasah sebagai pengguna lulusan.

Dalam kesempatan tersebut, Dekan Fakultas Agama Islam UNUSIDA, Feri Kuswanto, M. Pd.I., mengatakan, kegiatan FGD ini merupakan bentuk komitmen fakultas dalam memastikan kurikulum dan proses pembelajaran tetap relevan dengan perkembangan pendidikan dasar serta kebutuhan sekolah dan madrasah.

“Kami di FAI UNUSIDA meyakini bahwa perguruan tinggi tidak boleh berjalan sendiri dalam menyiapkan calon guru. Dunia kerja, terutama madrasah dan satuan pendidikan dasar, terus mengalami perkembangan yang sangat cepat. Guru masa kini tidak cukup hanya menguasai pedagogik, tetapi juga harus adaptif, kreatif, dan mampu menjawab tantangan era digital,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa FGD ini menjadi wadah strategis untuk menyerap masukan langsung dari para pengguna lulusan agar Prodi PGMI dapat terus memperkuat kualitas akademik dan profesionalisme calon guru madrasah ibtidaiyah. “Kami ingin memastikan bahwa lulusan PGMI UNUSIDA benar-benar siap mengajar, siap berkarya, dan siap memimpin perubahan positif di sekolah tempat mereka mengabdi,” tandasnya.

Sementara itu, Kaprodi PGMI UNUSIDA, Moh. Anang Abidin, S.H.I., M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud komitmen prodi untuk terus berinovasi serta melibatkan mitra eksternal dalam penyusunan kurikulum yang relevan dan adaptif. Pihaknya mengaku selalu menekankan membangun hubungan kolaboratif dan berkelanjutan dengan sekolah/madrasah mitra, lembaga pendidikan, serta para pengguna lulusan. Kolaborasi ini dipandang penting untuk meningkatkan mutu lulusan agar unggul, kompeten, dan berdaya saing.

“PGMI harus mampu menjawab perubahan zaman. Kurikulum tidak boleh statis, tetapi harus berkembang sesuai kebutuhan lapangan,” tegasnya.

Ia menjelaskan secara mendalam visi, misi, serta capaian pembelajaran lulusan (CPL) yang saat ini telah diimplementasikan di PGMI, termasuk rencana pengembangan kompetensi pedagogik, digital, karakter, dan ke-NU-an yang menjadi ciri khas lulusan.

Menurutnya, kegiatan menjadi upaya memperkuat profil lulusan, menyelaraskan kurikulum dengan tuntutan dunia kerja, serta membangun kemitraan berkelanjutan dengan lembaga pendidikan dan instansi terkait. Dengan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari madrasah, kementerian, organisasi pendidikan, hingga alumni diharapkan dapat memberikan masukan komprehensif terhadap arah pengembangan Prodi PGMI UNUSIDA.

“Melalui kegiatan FGD ini, kami berharap dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya cakap dalam kompetensi pedagogik dan profesional, namun juga memiliki karakter kuat, integritas, kemampuan adaptif, serta kepekaan terhadap tantangan pendidikan abad 21,” ungkapnya.

Pelaksanaan FGD dipandu oleh Dr. Wachyudi Achmad, S.Th.I., M.Pd.I., selaku Ketua Tim, didampingi Ibu Rofiqoh Nirwana, S.Pd.I., M.Pd.I. sebagai Sekretaris. Tim penyusun kurikulum juga diperkuat oleh para anggota, yakni:

  • Risalul Ummah, S.Pd., M.Pd. (Dosen PGMI),

  • Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I. (Dekan Fakultas Agama Islam),

  • H. Aris Kuswanto, S.T., M.Pd.I. (Dosen PGMI),

  • Mohammad Setyo Wardono, S.Pd., M.Pd. (Sekretaris Pengembangan Pembelajaran),

  • Yuni Pratiwi, S.Pd. (Alumni PGMI).

Kegiatan ini turut menghadirkan pemangku kepentingan pendidikan yang memiliki peran strategis dalam penyelarasan kurikulum, antara lain:

  • Dr. Niswatin, S.Pd., M.Pd. (Perwakilan LPTNU Sidoarjo),

  • M. Saifulloh Asyari, S.Si., M.Pd.I. (Ketua LP Ma’arif NU Sidoarjo),

  • Drs. H. Abdul Muis, MM. (Pengawas Madrasah Kemenag Sidoarjo),

  • Hj. Anis Faridah, M.Pd. (Kepala MINU KH. Mukmin Sidoarjo),

  • Nur Cholisah, M.Pd. (Kepala MI Ma’arif Pagerwojo),

  • Habib Zakariyah, S.Sos. (Kepala MI Al Falah).

Dalam sesi diskusi berjalan dinamis dengan berbagai masukan konstruktif dari peserta. Para stakeholder memberikan pandangan, kritik konstruktif, serta masukan penting terkait penguatan kompetensi lulusan, mulai dari kurikulum berbasis kompetensi, soft skills, kesiapan digital, kemampuan pedagogik, hingga karakter profesional guru MI yang ideal.

Berbagai masukan ini menjadi bahan sangat penting bagi Prodi PGMI untuk memperkuat kurikulum dan memperbaiki proses pembelajaran yang lebih kontekstual. Yang nantinya akan menjadi dasar penyempurnaan kurikulum PGMI agar semakin selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan dinamika pendidikan madrasah ibtidaiyah.

Penulis: Nuzula Firdausi (MY)

Wujud Guru Muda Profesional dari PGSD UNUSIDA 2

Wujud Guru Muda Profesional dari PGSD UNUSIDA

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menghadirkan kisah inspiratif dari para lulusan terbaiknya. Kali ini, sorotan tertuju kepada Alfiadny Firdausy, S.Pd., alumni Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) angkatan lulus 2024 yang kini berkarier sebagai guru di SD Islam Sabilillah Sidoarjo. Sosoknya dikenal ramah, tekun, dan penuh dedikasi—sebuah representasi nyata dari kualitas lulusan UNUSIDA yang siap berkontribusi dalam dunia pendidikan.

Dalam perbincangan yang hangat, Alfiadny berbagi pengalaman selama menempuh pendidikan di UNUSIDA, pengalaman yang tidak hanya memberi bekal akademik tetapi juga membentuk karakter, jaringan pertemanan, dan kemampuan profesional yang kini sangat menunjang kariernya. Baginya, masa kuliah bukan sekadar proses memperoleh gelar, tetapi sebuah perjalanan penuh pembelajaran yang sangat berkesan.

“UNUSIDA memberi banyak pengetahuan dan ilmu yang sangat bermanfaat bagi karier saya,” ujarnya. Ia menuturkan bahwa pengalaman belajar di PGSD UNUSIDA merupakan fondasi kuat yang membentuk cara berpikir kritis, kedewasaan bersikap, dan kesiapan mental untuk terjun ke dunia kerja. Setiap mata kuliah, proyek, dan bimbingan dosen menjadi batu loncatan menuju kompetensi guru profesional yang ia bangun hari ini.

Salah satu hal yang paling membekas bagi Alfiadny adalah sosok para dosen yang disebutnya “luar biasa dan penuh dedikasi”. Menurutnya, setiap dosen memiliki karakter, metode, dan gaya mengajar yang berbeda-beda, namun sama-sama memiliki satu tujuan: mengembangkan mahasiswa menjadi calon pendidik yang kompeten dan berkarakter.

Ia menceritakan bagaimana para dosen PGSD tidak hanya mengajar teori, tetapi juga memberikan contoh nyata praktik pembelajaran, mengajak mahasiswa berdiskusi aktif, dan membimbing dengan penuh kesabaran. “Banyak dosen di UNUSIDA yang benar-benar peduli pada mahasiswanya. Mereka bukan hanya mengajar, tetapi mendampingi dan memberi motivasi ketika kami kesulitan,” ceritanya.

Bagi Alfiadny, interaksi dengan dosen adalah bagian penting dari proses pendewasaan diri. Ia belajar bagaimana seorang pendidik semestinya bersikap: profesional, tegas, namun tetap humanis. Hal itu pula yang kini ia praktikkan saat mengajar murid-muridnya di SD Islam Sabilillah.

Selain dukungan dari dosen, pengalaman belajar dalam kelas maupun lapangan menjadi kenangan yang membentuk keterampilannya sebagai guru. Proses microteaching, observasi ke sekolah, hingga praktik mengajar langsung membuatnya semakin percaya diri dalam menghadapi berbagai karakter siswa.

Menurutnya, kurikulum PGSD UNUSIDA sangat relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Mata kuliah tentang literasi, numerasi, media pembelajaran digital, hingga kurikulum merdeka menjadi bekal nyata dalam merancang pembelajaran kreatif, inovatif, dan efektif.

“Cara belajar di UNUSIDA itu benar-benar membuka wawasan saya. Tidak hanya menerima materi, tetapi kami diajak berpikir, menganalisis, mencoba, dan menciptakan sesuatu,” ungkapnya. Ia merasa setiap pengalaman akademik selama kuliah memperkaya strategi mengajar yang kini ia gunakan di kelas.

Memperluas Relasi Hingga ke Luar Kampus

Tak hanya itu, selama berkuliah Alfiadny mendapatkan jaringan relasi yang sangat luas. Baginya, hubungan baik dengan teman seangkatan, senior, alumni, hingga pihak luar kampus menjadi aset penting yang masih ia rasakan manfaatnya hingga sekarang.

Ia tidak hanya bersosialisasi dalam lingkup perkuliahan, tetapi juga terlibat dalam kegiatan di luar kampus yang memperluas koneksi dan pemahaman tentang dunia pendidikan. “Relasi itu penting sekali. Banyak kesempatan yang saya dapatkan justru lewat teman, alumni, atau kegiatan organisasi yang saya ikuti. Semua itu berawal dari UNUSIDA,” jelasnya.

Relasi inilah yang pada akhirnya turut membuka peluang kerja dan kesempatan pengembangan diri setelah lulus kuliah.

Selama kuliah, Alfiadny juga aktif mengikuti beberapa organisasi kampus. Kegiatan ini menjadi ruang untuk mengasah kemampuan leadership, komunikasi, kerja sama tim, serta manajemen waktu—soft skills yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja, terutama profesi guru.

Ia menuturkan bahwa organisasi membuatnya lebih percaya diri dan mampu menghadapi tantangan dengan lebih tenang. “Lewat organisasi, saya belajar bagaimana mengatur kegiatan, berkolaborasi dengan banyak orang, menghadapi konflik, bahkan belajar berbicara di depan umum. Semua itu sangat membantu saya saat harus memimpin kelas sebagai guru,” katanya.

Kini, dalam perannya sebagai guru, Alfiadny merasakan betul betapa pentingnya ilmu dan pembiasaan yang ia dapatkan di PGSD UNUSIDA. Mulai dari menyusun RPP, membuat media pembelajaran kreatif, mengelola kelas, hingga membangun kedekatan emosional dengan siswa—semuanya merupakan kompetensi yang ia pelajari selama kuliah.

Ia mengaku bangga menjadi bagian dari keluarga besar UNUSIDA. “Pengalaman belajar di kampus menjadi bekal berharga dalam membentuk cara berpikir, sikap profesional, dan kemampuan beradaptasi di dunia kerja,” tuturnya.

Kisah Alfiadny Firdausy membuktikan bahwa UNUSIDA bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter, jejaring, dan pengalaman yang mempersiapkan mahasiswa menjadi profesional sejati. Perjalanan seorang guru tidak dimulai dari kelas tempat ia mengajar, tetapi dari kampus yang membentuknya.

Dengan semangat dan dedikasi yang ia tunjukkan, Alfiadny menjadi contoh bahwa lulusan UNUSIDA siap bersaing, siap mengabdi, dan siap menjadi agen perubahan dalam dunia pendidikan.

Mahasiswa Dikenalkan Visi dan Misi Program Studi Manajemen oleh Kaprodi dalam MANIFEST 2025 (Foto: Hima Manajemen UNUSIDA)

MANIFEST 2025 Jadi Momentum Pengenalan Visi dan Misi Program Studi Manajemen Kepada Mahasiswa

TRAWAS – Himpunan Mahasiswa Manajemen (HIMA Manajemen) UNUSIDA memberikan penguatan fundamental kepada mahasiswa baru melalui sesi pengenalan visi dan misi Program Studi Manajemen dalam rangkaian kegiatan yang bertajuk Management Family Establishment (MANIFEST) 2025. Kegiatan yang digelar di Villa Pondok Darul Mutta’allimin, Trawas, Mojokerto pada 20–21 Oktober 2025 tersebut menghadirkan Kepala Program Studi Manajemen, Mustaqim, S.E., M.M sebagai narasumber utama.

Dalam penyampaiannya, Mustaqim menegaskan bahwa Program Studi Manajemen UNUSIDA memiliki visi menjadi prodi unggul yang menghasilkan lulusan berkompeten melalui integrasi keilmuan manajemen bisnis, kewirausahaan, dan nilai-nilai Aqidah Islam Ahlussunnah Wal Jamaah an-Nahdliyah. Visi tersebut menjadi identitas dan fondasi dalam merancang seluruh kebijakan akademik maupun arah pengembangan karakter mahasiswa.

Untuk merealisasikan visi tersebut, Prodi Manajemen menerapkan sejumlah strategi, di antaranya:

  • Peningkatan mutu pembelajaran melalui metode pengajaran adaptif, kolaboratif, dan berbasis proyek.

  • Penguatan riset yang berdampak, termasuk fasilitasi publikasi jurnal penelitian dan jurnal pengabdian masyarakat melalui Fakultas Ekonomi.

  • Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat (PKM) yang berorientasi pada manajemen berkelanjutan serta selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya bidang pertumbuhan ekonomi inklusif dan pekerjaan layak.

Tak hanya itu, Prodi Manajemen juga terus mengembangkan kurikulum yang selaras dengan perkembangan kebutuhan industri dan dunia usaha. Pengembangan tersebut diwujudkan melalui:

  • Pelatihan kepemimpinan dan soft skills manajerial.

  • Penyediaan program sertifikasi kompetensi BNSP untuk meningkatkan daya saing lulusan.

  • Integrasi nilai-nilai keagamaan dan etika profesi dalam seluruh aktivitas akademik dan non-akademik.

Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan teoritis dan praktis, tetapi juga karakter keislaman yang moderat, berintegritas, dan berorientasi pada kemaslahatan.

Melalui paparan visi dan misi ini, Prodi Manajemen UNUSIDA menegaskan komitmennya untuk mencetak lulusan yang kompeten, moderat, adaptif, dan siap bersaing di tingkat global. Para mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan potensi diri, menjawab tantangan dunia industri, serta tetap berpegang teguh pada identitas keislaman Nahdlatul Ulama.

“Pengenalan visi dan misi ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam mengikuti seluruh rangkaian MANIFEST 2025 dan perjalanan akademik mereka di Prodi Manajemen UNUSIDA,” tandasnya.

UNUSIDA Resmi Menjadi Co-Host KOPEMAS 6 Tahun 2025, Hadirkan Enam Program Inovatif Pengabdian Masyarakat (Foto: Istimewa)

UNUSIDA Jadi Co-Host KOPEMAS 6 Tahun 2025, Hadirkan Enam Program Inovatif Pengabdian Masyarakat

SIDOARJO – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) secara resmi ditetapkan sebagai Co-Host dalam Konferensi Nasional Pengabdian kepada Masyarakat (KOPEMAS) ke-6 Tahun 2025, sebuah agenda nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Malang (UNISMA) secara virtual.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNUSIDA, Elsa Rosyidah, S.TP., M.I.L., menjelaskan bahwa keterlibatan ini menegaskan komitmen UNUSIDA dalam memperkuat implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat yang berbasis riset, teknologi, dan pemberdayaan komunitas.

Ia menekankan partisipasi UNUSIDA sebagai Co-Host tidak hanya bersifat seremonial belaka. Akan tetapi diwujudkan melalui kontribusi langsung dengan mengirimkan enam tim pengabdian masyarakat terbaik. “Saya sangat mengapresiasi kepada seluruh tim UNUSIDA yang membawa inovasi unggulan yang relevan dengan tema KOPEMAS 2025, yaitu Strategi Membangkitkan Ekosistem Pengabdian Terintegrasi: Riset, Industri, dan Komunitas Membangun Inovasi Berdampak,” ungkapnya, Ahad (23/11/2025).

Berikut program-program pengabdian masyarakat yang dipresentasikan oleh tim UNUSIDA:

1. Pelatihan Content Creator & Branding Desa untuk Kreativitas Warga Glagaharum
Tim: Arda Surya Editya, Sonhaji Arif, Amalia Hartiningrum, Akhya’ Muhammad K., Athika Dwi Wiji Utami, Trias Widha Andari, Putra Uji Deva Satrio, Ragil Noviyanti.
Program ini mengasah kreativitas warga melalui pelatihan produksi konten digital, storytelling, dan branding desa, sehingga potensi lokal dapat dipromosikan secara lebih luas di media sosial.

2. Pelatihan Coding dan AI untuk Guru Madrasah Ibtidaiyah se-Kecamatan Tulangan
Tim: Mochammad Machlul Alamin, Anggay Luri Pramana, Arda Surya Editya, Neny Kurniati, Ahmad Khoir Alhaq.
Kegiatan ini fokus meningkatkan literasi digital guru melalui pemrograman dasar, pemanfaatan kecerdasan buatan untuk edukasi, hingga integrasi teknologi dalam pembelajaran.

3. Optimalisasi Legalitas dan Daya Saing UMKM melalui Penerbitan NIB Berbasis OSS Digital
Tim: Yasmin Qhurota A’yun, Rikke Kurniawati, Esthi Dippoprameswari, Lintang Rahma Putri, Arifin.
Program ini memberi pendampingan kepada UMKM untuk memperoleh legalitas usaha, memahami OSS-RBA, serta meningkatkan kredibilitas dan daya saing usaha.

4. Pendampingan Strategi Branding untuk UMKM Naik Kelas di Desa Kepatihan
Tim: Daniel Achmad Farizki, Ainul Farisa, Nur Chamidah Ajijah, Laily Muzdalifah.
Tim melakukan penguatan identitas merek, strategi pemasaran, dan peningkatan kualitas tampilan produk agar UMKM lebih siap bersaing di pasar digital.

5. Pelatihan Pembuatan Kain Tie Dye untuk Kreativitas Anak di Jumputrejo
Tim: Maulida Nikmatul Azizah, Naswa Ika Febrianty, Ruri Fadhilah Kurniati.
Kegiatan ini menjadi wadah edukasi dan kreativitas bagi anak-anak melalui seni pewarnaan kain, sekaligus membuka peluang pengembangan kerajinan bernilai ekonomi.

6. Implementasi Website Sistem Informasi Desa untuk Promosi Potensi dan Transparansi Informasi
Tim: M. Syifa’ul Anam, Achmad Mu’afi Taufiqurrochman, Fitto Ardiansyah, Nadhif Fathur Rahman, Ismawati Ainol Robbi, Nur Syaifuddin, Anggay Luri Pramana.
Program ini menghasilkan website desa sebagai etalase digital potensi lokal, sarana publikasi informasi, serta upaya peningkatan transparansi pemerintah desa.

Menurutnya, keterlibatan UNUSIDA sebagai Co-Host KOPEMAS 2025 kali ini menjadi bukti nyata bahwa kampus NU semakin aktif dalam memberikan kontribusi sosial berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui enam program unggulan yang dihadirkan, UNUSIDA menunjukkan keberpihakan kepada pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.

“Program-program ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga menjadi model praktik baik bagi pengabdian masyarakat di tingkat nasional. UNUSIDA menegaskan bahwa kolaborasi antara kampus, masyarakat, industri, dan pemerintah menjadi kunci untuk menciptakan inovasi yang berdampak luas,” pungkasnya.

Temu Perdana Tim Kreatif Admisi UNUSIDA: Satukan Empat Bidang untuk Perkuat Citra Kampus (Foto: Humas UNUSIDA)

Temu Perdana Tim Kreatif Admisi UNUSIDA: Sinergi Perkuat Branding Citra Kampus

SIDOARJO – Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) resmi menggelar Temu Perdana Tim Kreatif Admisi 2025, hasil dari proses open recruitment yang melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas. Tim kreatif tahun ini terbagi menjadi empat divisi utama, yakni Content Creator, Desain Grafis, Protokoler, dan Jurnalistik, yang berada di bawah koordinasi Biro Humas dan Kerja Sama UNUSIDA.

Pertemuan perdana yang dilaksanakan di Kampus 2 UNUSIDA, Jum’at (21/11/2025) ini menjadi momentum penting dalam membangun sinergi lintas kemampuan mahasiswa untuk mendukung strategi komunikasi publik dan branding kampus dalam menghadapi proses Admisi 2025.

Dalam arahannya, Kepala Biro Humas dan Kerja Sama, Sonhaji Arif, S.Pd., M.Sn., menekankan bahwa tim kreatif bukan hanya sekadar unit pendukung, tetapi motor penggerak citra kampus di mata masyarakat. Ia menyoroti bahwa generasi muda saat ini memiliki kreativitas, kepekaan tren, dan kemampuan adaptasi yang tinggi, nilai yang sangat penting untuk kebutuhan promosi kampus.

“Sesuai dengan karakter generasi muda sekarang, kalian punya ide-ide segar yang lebih tahu apa yang disukai anak muda di Sidoarjo dan sekitarnya. Kalian bukan sekadar tim bantu, kalian adalah bagian dari wajah UNUSIDA,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pengalaman praktis dalam tim kreatif sebagai bekal karier mahasiswa. “Guru, tenaga pendidik, dan berbagai profesi sekarang dituntut bisa membuat konten. Tidak cukup hanya bisa mengajar, tapi harus bisa mengkomunikasikan nilai. Tim ini adalah ruang kalian untuk belajar langsung, mulai dari komunikasi, konten, MC, sampai menulis berita. Kemampuan sederhana seperti ini sangat dibutuhkan di dunia kerja,” tegasnya.

Beliau berharap tim kreatif Admisi 2025 dapat menjadi kelompok yang solid dan profesional. “Terima kasih sudah meluangkan waktu dan energi. Kita harap bisa bekerja satu tahun penuh dengan komitmen. Tidak hanya untuk kita, tapi untuk UNUSIDA secara keseluruhan,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Humas UNUSIDA, Afifatus Sholikhah, S.M., M.M., menegaskan bahwa Admisi bukan sekadar proses administrasi penerimaan mahasiswa baru, tetapi pintu utama yang membentuk persepsi publik tentang UNUSIDA.

“Admisi adalah panggung pertama yang memperkenalkan UNUSIDA kepada dunia. Setiap desain, video, berita, dan tata acara yang kita buat adalah bagian dari cerita besar yang membangun citra universitas,” jelasnya.

Dalam paparannya, ia menyampaikan beberapa tantangan yang harus diatasi oleh tim kreatif tahun ini yaitu konten kampus masih belum konsisten, waktu produksi yang sering mepet, event Admisi membutuhkan protokoler yang lebih rapi, brand visual belum seragam, dan kolaborasi antarbidang belum maksimal

Afifatus Sholikhah menegaskan bahwa keempat bidang dalam tim kreatif adalah satu kesatuan. “Desain memberi wajah, Content Creator memberi suara, Protokoler memberi panggung, dan Jurnalistik memberikan cerita. Empat divisi ini bukan unit yang berdiri sendiri, mereka seperti satu tubuh. Jika satu tertunda, yang lain ikut terhambat,” tuturnya.

Dengan terbentuknya Tim Kreatif Admisi 2025, ia optimis dapat menghadirkan strategi komunikasi yang lebih profesional, terstruktur, dan berdampak. Keempat divisi ini diharapkan dapat saling melengkapi dalam menghasilkan konten dan layanan kreatif yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga kuat secara pesan, rapi dalam protokoler, dan tajam dalam penyajian informasi.

“Yang dibutuhkan bukan hanya kreativitas, tetapi disiplin, kolaborasi, dan kualitas yang konsisten. Kolaborasi kita hari ini akan menentukan citra UNUSIDA tahun ini. Semakin profesional kita bekerja, semakin besar dampaknya bagi Admisi 2025,” pungkasnya.

Hima Prodi Manajemen UNUSIDA Sukses Gelar MANIFEST 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

HIMA Manajemen UNUSIDA Gelar MANIFEST 2025: Bangun Harmoni, Kreativitas, dan Kepemimpinan Mahasiswa

SIDOARJO – Himpunan Mahasiswa Manajemen (HIMA Manajemen) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menyelenggarakan kegiatan tahunan Management Family Establishment (MANIFEST) 2025 dengan mengangkat tema ‘Manifestasi dalam Harmoni, Menata Langkah dan Mulai Berkreatifitas’. Kegiatan ini digelar pada Kamis–Jumat (20–21/10/2025) di Kampus 2 UNUSIDA dan Villa Pondok Darul Muttaalimin, Selotapak, Trawas, Mojokerto.

Kegiatan MANIFEST 2025 dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan Fakultas Ekonomi UNUSIDA Ayu Lucy Larassaty, S.E., M.M., yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif HIMA dalam menghadirkan wadah pengembangan diri bagi mahasiswa Manajemen. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kegiatan seperti MANIFEST sangat penting untuk memperkuat kompetensi non-akademik mahasiswa.

Menurutnya, kegiatan ini menjadi wadah strategis bagi mahasiswa untuk mengasah kompetensi kepemimpinan, kreativitas, problem solving, serta ketahanan mental. Sebab sejalan dengan visi dan misi Program Studi, MANIFEST harus menjadi salah satu proses membentuk mahasiswa Manajemen harus menjadi generasi yang adaptif dan berdaya saing.

“MANIFEST bukan hanya kegiatan penyambutan, tetapi sarana strategis untuk mengasah mental, kreativitas, kepemimpinan, dan kemampuan problem solving. Ini adalah bagian dari proses pembentukan mahasiswa Manajemen yang unggul dan adaptif,” ujarnya.

Selama dua hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai agenda berbobot mulai dari materi Mental Health, Problem Solving, Leadership, hingga pelatihan kerja tim. Kegiatan outdoor di Trawas juga dirancang untuk memperkuat kerja sama, kedisiplinan, dan karakter tangguh mahasiswa. Suasana harmonis dan kolaboratif menjadi ciri khas MANIFEST tahun ini.

Ketua HIMA Manajemen UNUSIDA, Romaldi Jabbar, berharap MANIFEST 2025 dapat menjadi momentum untuk menguatkan rasa kekeluargaan antar-angkatan. Dengan terselenggaranya MANIFEST 2025, Ia berharap tradisi ini dapat terus dilanjutkan sebagai wahana penguatan kapasitas dan karakter mahasiswa, sehingga melahirkan generasi Manajemen UNUSIDA yang kreatif, solutif, dan mampu tampil sebagai pemimpin masa depan.

“Kami ingin seluruh mahasiswa Manajemen semakin solid dan saling mengenal. MANIFEST adalah ruang untuk menata langkah dan mulai berkreativitas bersama. Harmoni dan kebersamaan adalah modal penting untuk membangun organisasi yang kuat,” ungkapnya.

MANIFEST 2025 tidak hanya menghadirkan materi, tetapi juga menjadi ajang pembentukan identitas mahasiswa Manajemen sebagai pribadi yang inovatif, komunikatif, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja. Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti komitmen HIMA Manajemen dalam mendukung pencapaian visi program studi untuk mencetak mahasiswa yang berdaya saing dan berkarakter.

“Semoga kegiatan ini mampu menjadi tradisi akademik yang konsisten mendorong peningkatan soft skill, karakter unggul, serta solidaritas organisasi, agar mahasiswa Manajemen semakin siap menjadi generasi profesional, kreatif, dan kompetitif di masa depan,” harapnya.

Laboran UNUSIDA Ciptakan Inovasi IPAL Portabel (Foto: Humas UNUSIDA)

Kolaborasi Laboran UNUSIDA Buat Inovasi IPAL Portabel Berbasis Fotokatalis OCN/Hydrochar

SIDOARJO — Kolaborasi Laboran Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menorehkan prestasi membanggakan setelah berhasil memperoleh pendanaan Karya Inovasi Ilmiah Laboran (KILAB) 2025, sebuah program bergengsi yang diselenggarakan oleh Direktorat Sumber Daya, Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Ditjen Dikti), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdikti Saintek). Pendanaan ini diberikan atas inovasi pengembangan IPAL Portabel dengan Pengolahan Tersier Fotokatalis OCN/Hydrochar, sebuah solusi terobosan untuk mengatasi persoalan limbah cair laboratorium skala kecil di perguruan tinggi.

Tim Laboran UNUSIDA kali ini diisi oleh Laboran kualitas lingkungan, Khilyatul Afkar, S.T., sebagai ketua tim, Mohammad Rif’an Humaidi, S.Ds., dan Maschan Yusuf Musthofa, S.T., sebagai anggota tim, serta Medya Ayunda Fitri, S.T., M.T., sebagai dosen pembimbing.

Latar Belakang: Limbah Laboratorium yang Kerap Terabaikan

Ketua tim, Khilyatul Afkar menjelaskan, inovasi ini berangkat dari limbah cair laboratorium perguruan tinggi seringkali menjadi persoalan tersendiri karena mengandung senyawa organik dan anorganik, logam berat, serta asam-basa kuat. Meski volumenya relatif kecil (kurang dari 20 liter per hari), jumlah tersebut tidak memenuhi batas minimal untuk diangkut oleh pihak ketiga sesuai regulasi.

Akibatnya, limbah kerap disimpan hingga mendekati batas 365 hari, yang berpotensi menimbulkan risiko keselamatan dan pencemaran lingkungan. Kondisi inilah yang mendorong perlunya inovasi IPAL portabel yang efektif, murah, aman, serta sesuai dengan standar lingkungan.

Oleh karena itu, melalui inovasi yang digagas laboran UNUSIDA ini akan memadukan berbagai proses pengolahan limbah, mulai dari sedimentasi, filtrasi, koagulasi–flokulasi, adsorpsi, hingga tahap lanjutan berupa fotodegradasi menggunakan fotokatalis OCN (g-C₃N₄ terdopping oksigen) yang dikompositkan dengan hydrochar dari tempurung kelapa.

Material fotokatalis ini mampu meningkatkan efektivitas degradasi polutan di bawah cahaya tampak, sehingga tidak membutuhkan sumber energi ultraviolet berintensitas tinggi. Pendekatan ini diyakini lebih ramah lingkungan sekaligus lebih efisien untuk laboratorium skala kecil.

“Inovasi ini menjadi solusi praktis bagi laboratorium untuk mengolah limbah cair secara mandiri, aman, dan sesuai standar,” ungkapnya.

Tujuan dan Metode Pelaksanaan

Proyek ini bertujuan merancang dan membangun prototipe IPAL portabel berkapasitas ±10 L per running, serta menguji efektivitasnya dalam memperbaiki kualitas limbah cair sebelum dialirkan ke badan air.

Metode pelaksanaan mencakup beberapa tahapan:

  1. Desain dan fabrikasi purwarupa IPAL portabel,

  2. Sintesis dan karakterisasi material fotokatalis OCN/Hydrochar,

  3. Integrasi proses ke dalam prototipe IPAL,

  4. Uji kinerja berdasarkan parameter pH, BOD, COD, TSS, TDS, serta kandungan logam berat seperti Hg dan Cr,

Pengujian dilakukan mengacu pada SNI serta baku mutu air limbah sesuai PERMENLH No. 5 Tahun 2014.

Dari kegiatan ini, beberapa luaran yang ditargetkan antara lain prototipe IPAL Portabel yang siap dioperasikan, material fotokatalis OCN/Hydrochar hasil sintesis, diseminasi inovasi di tingkat perguruan tinggi dan nasional, serta publikasi ilmiah dalam bentuk bunga rampai.

Menurutnya, keberhasilan memperoleh hibah KILAB 2025 ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi UNUSIDA, tetapi juga menegaskan kontribusi tenaga laboratorium dalam pengembangan teknologi tepat guna yang bermanfaat langsung bagi keselamatan dan keberlanjutan laboratorium pendidikan.

“Dengan terobosan ini, kami berharap dapat menjadi role model dalam manajemen limbah laboratorium ramah lingkungan sekaligus mendorong budaya inovasi di kalangan laboran dan PLP di seluruh Indonesia,” harapnya.

Rektor UNUSIDA, Dr. H. Fatkul Anam, M.Si saat membuka UNUSIDA Futsal Competition 2025 di GOR Serbaguna Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

Rektor Resmi Buka UNUSIDA Futsal Competition 2025, 32 Tim Siap Bersaing Menjadi yang Terbaik

SIDOARJO — UNUSIDA Futsal Competition (UFC) 2025 resmi dibuka oleh Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo pada Sabtu (15/11/2025) di Gedung Serbaguna Komplek Gelora Delta Sidoarjo. Kegiatan bergengsi yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNUSIDA Kabinet Infinity ini menjadi ajang kompetisi futsal terbesar yang melibatkan pelajar tingkat SMA/SMK se-Sidoarjo dan wilayah sekitarnya.

Tahun ini, UFC 2025 mencatat antusiasme luar biasa dengan keikutsertaan 32 tim futsal yang siap bersaing menampilkan kemampuan terbaik mereka. Para peserta akan menjalani pertandingan mulai dari babak grup, kemudian dilanjutkan ke fase knock out system, hingga akhirnya bertemu di partai final yang akan menentukan juara UFC 2025 kali ini.

Dalam sambutannya, Rektor UNUSIDA, Dr. H. Fatkul Anam, M.Si., menyampaikan apresiasi kepada BEM UNUSIDA yang konsisten menghadirkan kegiatan positif dan kompetitif bagi generasi muda. Ia menegaskan bahwa olahraga bukan hanya tentang prestasi, tetapi juga tentang membangun karakter, sportivitas, dan kerja sama tim.

“UFC 2025 bukan sekadar kompetisi, tetapi ruang tumbuh bagi pelajar untuk belajar disiplin, meningkatkan kemampuan, dan memperluas jaringan pertemanan. UNUSIDA selalu mendukung kegiatan-kegiatan yang berdampak positif bagi perkembangan pemuda,” ujarnya.

Ketua BEM UNUSIDA Kabinet Infinity, M. Burhanuddin Robbani menambahkan bahwa kompetisi ini diharapkan dapat menjadi agenda tahunan yang semakin besar dan mampu melahirkan bakat-bakat baru di dunia futsal. Ajang ini tidak hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga wadah untuk mempererat silaturahmi antar pelajar, memperkuat karakter pemuda, dan mendorong minat generasi muda pada olahraga.

Ia menjelaskan bahwa format ini dipilih agar para peserta merasakan pengalaman kompetisi yang lengkap, mulai dari strategi saat liga grup hingga tekanan mental pada pertandingan gugur. Sistem pertandingan ini dirancang untuk memberikan ruang kompetisi yang adil, sekaligus menguji konsistensi dan ketahanan tiap tim dalam menghadapi lawan dari berbagai level.

“Kami ingin setiap tim mendapatkan pengalaman bermain yang maksimal, sekaligus mengasah sportivitas, disiplin, dan mental kompetitif mereka,” ungkapnya.

Dengan dibukanya UNUSIDA Futsal Competition 2025 secara resmi, seluruh tim kini bersiap memberikan yang terbaik, menjunjung tinggi sportivitas, dan menampilkan permainan terbaik mereka. UFC 2025 siap menghadirkan pertandingan seru, penuh antusiasme, dan kompetitif hingga babak final yang akan dilaksanakan pada 24 November 2025 mendatang. (MY)

Dosen FKIP UNUSIDA - Fajar Nur Yasin (Foto: Humas UNUSIDA)

Dosen FKIP UNUSIDA: Peringatan Hari Ayah Momentum Menguatkan Peran Orang Tua sebagai Pendidik di Era Digital

Peringatan Hari Ayah Nasional 2025 menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali peran ayah sebagai pendidik utama dalam keluarga, terutama di tengah tantangan era digital. Hal ini disampaikan oleh Fajar Nur Yasin, S.Pd., M.Pd., Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA).

Momentum peringatan Hari Ayah menjadi refleksi ilmiah untuk menegaskan kembali peran strategis sosok ayah dalam membentuk karakter dan literasi emosional anak. UNUSIDA berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi antara pendidikan tinggi dan keluarga, khususnya dalam membangun generasi muda yang berkarakter, cerdas digital, dan berakhlakul karimah.

Menurutnya, di tengah dinamika era digital, peran ayah tidak lagi cukup hanya sebagai pencari nafkah. Lebih dari itu, ayah memiliki fungsi edukatif dan moral yang penting dalam menumbuhkan nilai-nilai tanggung jawab, kedisiplinan, serta keteladanan di lingkungan keluarga.

“Ayah perlu menjadi pembelajar sepanjang hayat dan pendidik digital di rumah. Anak-anak tidak hanya membutuhkan pengawasan, tetapi juga bimbingan nilai dan karakter dari sosok ayah,” ujarnya, Rabu (12/11/2025).

Ia menambahkan, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan memiliki korelasi positif terhadap perkembangan akademik, sosial, dan emosional anak. Anak yang tumbuh dengan peran aktif ayah cenderung memiliki literasi emosional, kemandirian, dan kepercayaan diri yang lebih kuat dibandingkan dengan anak yang mengalami pola pengasuhan tunggal.

Dalam perspektif pendidikan, Fajar menekankan bahwa dosen dan calon guru perlu memahami posisi ayah sebagai bagian integral dari ekosistem pendidikan keluarga.

“Di FKIP, kita mendidik calon guru agar memahami bahwa pendidikan anak tidak hanya berlangsung di sekolah. Kolaborasi antara ayah, ibu, dan guru merupakan kunci keberhasilan pembentukan karakter,” jelasnya.

Selain itu, Fajar juga menyoroti pentingnya program literasi keluarga dan pendidikan pengasuhan berbasis nilai, agar para ayah di Indonesia mampu beradaptasi dengan perubahan sosial dan teknologi tanpa kehilangan peran dasarnya sebagai pendidik pertama bagi anak.

“Momentum Hari Ayah Nasional harus menjadi pengingat bahwa pendidikan dimulai dari rumah. Keteladanan seorang ayah akan menjadi pelajaran pertama yang diingat anak seumur hidup,” pungkasnya.

Alumni Prodi Infromatika Unusida, Edi Arianto atau Mas Owdy saat menerima Penghargaan Santri of The Year 2025 Kategori Santri Milenial Inspiratif (Foto: Mas Owdy)

Alumni Informatika UNUSIDA, Edi Arianto Raih Penghargaan “Santri of The Year 2025” Kategori Santri Milenial Inspiratif

SIDOARJO — Alumni Program Studi (Prodi) Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Edi Arianto, atau yang akrab disapa Mas Owdy, berhasil menorehkan prestasi membanggakan di penghujung tahun 2025. Ia dianugerahi Penghargaan Santri of The Year 2025 Kategori Santri Milenial Inspiratif. Penghargaan tersebut diberikan oleh Islam Nusantara Center (INC) bekerja sama dengan DPR RI dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional 2025, yang puncaknya digelar di Kompleks DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Ahad (9/11/2025) lalu.

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kreativitasnya dalam berdakwah melalui media digital. Melalui karya-karya konten positif dan syiar shalawat, Edi Arianto dinilai mampu menghadirkan semangat keislaman yang damai, kreatif, dan relevan dengan generasi muda masa kini.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan rasa syukur dan haru atas penghargaan yang diterimanya. Ia mendedikasikan capaian tersebut kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam perjalanan hidup dan kariernya.

“Alhamdulillah, di penghujung tahun 2025 ini kami mendapatkan penghargaan Santri of The Year 2025. Penghargaan ini saya persembahkan untuk kedua orang tua, istri tercinta, para guru, sahabat, kerabat, serta keluarga besar Banjari Hero Multimedia dan Delta Video Shooting. Semoga prestasi ini menambah semangat untuk terus bersyiar melalui konten positif di media sosial, serta menjadi inspirasi bagi santri lainnya,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (11/11/2025).

Ajang Santri of The Year merupakan kegiatan tahunan yang digelar untuk menampilkan figur-figur santri yang memberikan kontribusi nyata bagi bangsa, baik melalui gagasan, karya, maupun prestasi. Pada tahun ini, INC memperkenalkan beberapa kategori baru, di antaranya Santri Milenial Inspiratif, Santri Legislator Inspiratif, Santri Perempuan Penggerak Inspiratif, Santri Bhayangkara Inspiratif, dan Mahasantri Bhakti Negeri.

Secara umum, kategori Santri Milenial Inspiratif diberikan kepada individu yang dinilai berhasil memanfaatkan teknologi dan platform digital untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan. Dalam hal ini, Edi Arianto menonjol karena konsistensi dan orisinalitasnya dalam menggabungkan tradisi pesantren (shalawat) dengan media modern seperti YouTube dan broadcast digital.

“Konten saya bukan sekadar hiburan, tapi juga dakwah yang ringan, relevan, dan mudah diterima audiens milenial. Ini adalah upaya membawa ruh pesantren ke ruang digital yang sangat luas. Kami berupaya menjembatani gap antara kearifan lokal pesantren dengan tren global digital,” ungkapnya.

Edi menuturkan bahwa motivasinya sederhana, yakni khidmah (pengabdian) kepada para guru, kiai, dan agamanya. Melalui karya konten shalawat dan siar digital, ia ingin menunjukkan bahwa santri tidak hanya bisa mengaji kitab kuning, tetapi juga bisa menjadi pelopor dakwah kreatif di era modern.

“Konten shalawat yang saya buat adalah bentuk rasa cinta dan syukur kepada Rasulullah SAW. Saya ingin menunjukkan bahwa santri juga bisa menjadi garda terdepan dalam menyebarkan kedamaian, akhlakul karimah, dan kecintaan kepada Nabi melalui bahasa dan platform yang dimengerti oleh anak muda,” terangnya.

Bagi Edi, penghargaan ini bukan sekadar pengakuan nasional, melainkan amanah besar untuk terus konsisten dalam berdakwah melalui media digital. Edi juga menceritakan bahwa sumber inspirasinya datang dari dua kutub penting dalam kehidupannya.

“Pertama, para kiai dan guru di pesantren yang mengajarkan tentang istiqamah dan keikhlasan. Mereka adalah kompas spiritual saya. Kedua, tokoh-tokoh santripreneur yang sukses memadukan nilai spiritual dengan profesionalisme. Mereka menjadi contoh bahwa santri juga bisa modern tanpa kehilangan ruh keislamannya,” jelasnya.

Kombinasi ajaran salaf dan semangat milenial inilah yang menurutnya menjadi energi tak terbatas dalam setiap karya yang ia hasilkan. “Apresiasi ini adalah cambuk semangat untuk terus berbuat baik. Saya ingin setiap karya digital santri menjadi bagian dari dakwah yang menenangkan, bukan memecah. Karena dunia digital pun bisa menjadi ladang amal jika dijalani dengan niat yang tulus,” tandasnya.

Alumni Pondok Pesantren Sabilillah Lamongan tersebut, berharap dapat terus menjadi inspirasi bagi santri-santri muda di seluruh Indonesia untuk berani berkarya, berinovasi, dan berdakwah dengan cara yang kreatif namun tetap berakar pada nilai-nilai pesantren.

“Bagi saya, kata inspiratif bagi santri milenial adalah tentang kemampuan untuk beradaptasi tanpa kehilangan identitas. Inspiratif berarti menjadi jembatan: menjembatani ajaran salaf dengan tantangan khalaf (masa kini); menjembatani ruang Pesantren yang damai dengan hutan belantara dunia maya yang kadang toksik,” imbuhnya.

Menurutnya, santri masa kini harus mampu menjadi Filter dan Fountain di dunia digital. “Sebagai Filter, santri harus mampu menyaring hoaks, radikalisme, dan konten negatif dengan bekal ilmu agama dan akhlaq. Sebagai Fountain (air mancur), santri juga harus aktif menyebarkan konten positif dan mencerahkan. Bukan hanya mengaji teks, tapi juga mengaji konteks. Literasi digital adalah bagian dari dakwah masa kini,” terangnya.

Melalui kanal dan komunitas kreatif yang ia rintis, seperti Banjari Hero Multimedia dan Delta Video Shooting, ia berupaya menghidupkan semangat dakwah yang ringan, estetis, dan mudah diterima generasi muda. Konten yang ia produksi tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi sarana syiar yang menyejukkan dan penuh nilai spiritual.

Ke depan, Edi yang juga mahir bermain berbagai alat musik seperti rebana, kendang dan piano modern tersebut, berkomitmen memperluas ekosistem broadcast dan santripreneurship yang telah dibangunnya. Ia berharap pemerintah dan lembaga terkait dapat memberikan dukungan nyata berupa pelatihan digital, infrastruktur, dan permodalan bagi para santri kreatif di seluruh Indonesia.

“Langkah terdekat adalah memperluas ekosistem broadcast dan entrepreneurship yang sudah ada. Saya ingin menciptakan lebih banyak ruang bagi santri lain untuk berkolaborasi dan berkarya. Harapan saya, kategori Santri Milenial Inspiratif ini terus ada dan makin diakui secara nasional,” harapnya.

“Jadilah santri yang merawat tradisi dan merangkul teknologi. Jangan takut dengan perubahan zaman. Pondasi kita adalah tafaqquh fiddin dan akhlaq mulia. Manfaatkan gadget bukan hanya untuk konsumsi, tapi untuk kontribusi. Jadikan setiap karya sebagai dakwah, dan setiap unggahan sebagai amal jariyah. Karena masa depan bangsa ini ada di tangan santri yang berdaya di segala bidang,” pungkasnya. (MY)