Pelatihan “Berbisnis Modal Nol: From Zero to Hero” di UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa UNUSIDA Dibekali Pelatihan “Berbisnis Modal Nol: From Zero to Hero”

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang kreatif dan mandiri melalui kegiatan Pelatihan “Berbisnis Modal Nol: From Zero to Hero”. Kegiatan ini diselenggarakan di Kampus 2 UNUSIDA, lantai 5, selama 4 hari mulai dari Sabtu–Ahad (1-2/11/2025) sampai Sabtu-Ahad (8-9/11/2025).

Pelatihan yang berlangsung selama empat kali pertemuan ini diikuti oleh puluhan mahasiswa dari berbagai fakultas. Tujuan utama kegiatan ini adalah menumbuhkan semangat kewirausahaan dan membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis untuk membangun usaha dari nol tanpa bergantung pada modal besar.

Sebagai narasumber utama, panitia menghadirkan Sugiarso, seorang praktisi bisnis dan motivator kewirausahaan yang berpengalaman dalam membangun berbagai usaha dari titik awal. Dalam penyampaiannya, Sugiarso menekankan pentingnya mindset entrepreneur yang kuat, keberanian mengambil risiko, dan kemampuan melihat peluang di sekitar.

“Bisnis bukan hanya tentang modal uang, tapi tentang ide, keberanian, dan kemauan untuk terus belajar. Siapa pun bisa menjadi pengusaha asal mau memulai,” ujarnya.

Pada pertemuan pertama, mahasiswa diperkenalkan pada konsep dasar berbisnis dengan modal nol serta pentingnya berpikir kreatif. Sesi berikutnya berfokus pada strategi riset pasar dan inovasi produk, termasuk pemanfaatan platform digital sebagai sarana promosi yang efektif dan hemat biaya.

Pertemuan ketiga membahas pengelolaan keuangan usaha kecil dan strategi branding. Sugiarso menekankan pentingnya pencatatan keuangan yang tertib, perencanaan yang efisien, serta membangun citra usaha yang profesional di mata konsumen.

Pada sesi terakhir, peserta diminta menyusun rencana bisnis sederhana berdasarkan ide yang mereka gagas selama pelatihan. Beberapa kelompok mempresentasikan ide bisnis mereka dan mendapat apresiasi serta masukan langsung dari narasumber.

Selain berbagi teori, Sugiarso juga menceritakan perjalanan pribadinya dalam membangun usaha dari nol hingga berhasil, yang memberikan motivasi kuat bagi peserta. Cerita-cerita inspiratif tersebut menumbuhkan keyakinan bahwa kesuksesan bukanlah hasil instan, melainkan buah dari ketekunan, kreativitas, dan keberanian untuk mencoba.

Kepala Bagian (Kabag) Kemahasiswaan sekaligus Dosen UNUSIDA, Machfudzil Asror, mengungkapkan harapannya agar kegiatan ini dapat menjadi pemantik semangat wirausaha di kalangan mahasiswa. Melalui pelatihan ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan ilmu dan keterampilan baru, tetapi juga membangun jejaring sosial dan pengalaman berharga yang menjadi bekal menuju masa depan yang lebih mandiri dan produktif.

“Kami berharap pelatihan ini melahirkan generasi muda yang berjiwa entrepreneur, kreatif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan dunia usaha. UNUSIDA yang membawa semangat kampus wirausaha muda berkomitmen tidak hanya mencetak sarjana cerdas secara akademik, tetapi juga mandiri secara ekonomi,” harapnya.

Penulis: Feni Dwi Agustin (MY)

Ilustrasi Hari Pahlawan Nasional (Istimewa)

Semangat Kepahlawanan sebagai Puncak Pembelajaran Hidup

Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November bukan sekadar penanda sejarah, melainkan sebuah monumen pembelajaran hidup yang paling berat bagi bangsa Indonesia. Pertempuran Surabaya 1945 menjadi sekolah kehidupan yang menghasilkan “lulusan” berupa kemerdekaan dan kedaulatan, yang semuanya itu ditebus dengan darah dan pengorbanan para pejuang.

Konsep spiritual Guru dalam Kehidupan, yang terdiri dari tiga hal: Kefakiran, Hati yang Patah, dan Keinginan yang Tidak Terwujud, memberikan lensa filosofis untuk memahami kedalaman makna perjuangan para pahlawan. Tiga guru ini mengajarkan bagaimana ketakutan berubah menjadi keberanian, kekalahan menjadi kemenangan batin, dan kepasrahan menjadi tindakan nyata.

Dari sini, semangat kepahlawanan bukan hanya dimaknai sebagai keberanian mengangkat senjata, tetapi sebagai transformasi batin yang mendalam. Transformasi inilah yang membuat rakyat sipil yang minim pengalaman tempur mampu bangkit melawan kekuatan militer modern dengan tekad dan keyakinan yang tak tergoyahkan.

Guru Pertama: Kefakiran

Kefakiran, dalam konteks individu, mengajarkan ketergantungan mutlak kepada Tuhan. Ia menyadarkan manusia bahwa kekayaan sejati tidak terletak pada harta, melainkan pada rasa cukup dan keberkahan. Nilai ini tercermin jelas dalam peristiwa Pertempuran Surabaya.

Pasca-proklamasi, Indonesia adalah bangsa yang fakir secara material. Laskar rakyat berjuang dengan senjata seadanya, bambu runcing melawan tank dan pesawat tempur. Namun, kefakiran material ini justru melahirkan kekuatan spiritual yang luar biasa. Ketika manusia kehilangan segalanya, yang tersisa hanyalah keyakinan dan doa.

Kekurangan yang ekstrem membuat para pejuang mencari sumber kekuatan yang tak kasat mata: keberkahan, persatuan, dan keimanan. Inilah makna sejati kefakiran, bahwa lapang dan sempitnya hidup tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh luasnya hati. Bambu runcing yang disertai tekad dan keikhlasan jauh lebih tajam dari peluru mana pun.

Sebaliknya, pasukan Sekutu yang memiliki senjata dan logistik melimpah justru sering merasa sempit, tertekan oleh perlawanan rakyat yang tak gentar. Senjata mereka gagal menembus semangat yang lahir dari kefakiran.

Dari pelajaran ini, kita belajar bahwa kemerdekaan tidak bisa dibeli dengan uang atau teknologi. Ia ditebus dengan ketulusan berkorban dan keyakinan pada cita-cita. Kesadaran akan kefakiran material justru melahirkan mentalitas “merdeka atau mati”. Seolah menjadi penegasan bahwa kebebasan hanya bisa diraih melalui ketergantungan total kepada Tuhan, bukan kepada fasilitas duniawi.

Guru Kedua: Hati yang Patah

“Hati yang patah” mengajarkan manusia untuk tidak salah menaruh harapan. Ketika seseorang berharap pada selain Tuhan, ujungnya adalah kekecewaan. Pelajaran ini juga dialami oleh bangsa Indonesia dalam perjalanan kemerdekaannya.

Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah bunga harapan yang baru mekar. Namun, kehadiran tentara Sekutu dan kembalinya ambisi Belanda mematahkan harapan itu. Ultimatum Sekutu agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata menjadi luka kolektif yang mendalam.

Rakyat dan pemimpin Surabaya, termasuk Bung Tomo, mengalami patah hati besar. Mereka sadar, harapan terhadap janji baik pihak asing hanya berujung pengkhianatan. Ucapan Sayyidina Ali “jangan terlalu berharap pada manusia, karena yang pasti engkau dapat hanyalah kecewa” menemukan relevansinya di sini.

Kekecewaan itu bukan melemahkan, melainkan membakar tekad perlawanan. Rakyat Surabaya memilih menghadapi kematian daripada kembali diperdaya oleh janji palsu. Dari patah hati itu lahir keberanian yang sejati, keputusan untuk berjuang tanpa berharap pada belas kasihan siapa pun, kecuali pada pertolongan Tuhan.

Pelajaran besar dari Hati yang Patah adalah bahwa kedaulatan sejati hanya dapat dijaga oleh tangan sendiri. Para pahlawan menitipkan harapan kedaulatan kepada Tuhan dan rakyatnya sendiri, bukan pada pengakuan atau bantuan dari bangsa lain.

Guru Ketiga: Keinginan yang Tidak Terwujud

Guru terakhir, Keinginan yang Tidak Terwujud, mengajarkan kita untuk berserah diri dengan penuh kesadaran bahwa tidak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik menurut kehendak Tuhan.

Pasca-proklamasi, keinginan terbesar rakyat Indonesia adalah hidup damai. Namun, kenyataan berkata lain: Pertempuran Surabaya pecah, dan ribuan nyawa menjadi taruhan. Keinginan akan kedamaian tidak terwujud, tetapi dari situlah lahir pelajaran besar tentang keteguhan dan tawakal.

Para pahlawan belajar menerima kenyataan pahit bahwa kemerdekaan sejati memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit. Mereka berdoa sepenuh hati, berjuang sepenuh tenaga, dan berpasrah sepenuh jiwa. Tiga sikap inilah yang menjadikan perjuangan mereka suci dan tulus.

Kegagalan mencapai perdamaian justru menjadi batu loncatan bagi legitimasi internasional dan penguatan semangat nasionalisme. Dari keinginan yang tidak terwujud lahir keberkahan yang jauh lebih besar, yaitu pengakuan, persatuan, dan semangat juang yang tidak padam.

Pelajaran utama dari Keinginan yang Tidak Terwujud adalah bahwa perjuangan sejati tidak diukur dari keberhasilan meraih hasil, tetapi dari ketulusan dalam menjalankan peran. Pahlawan sejati adalah mereka yang berjuang sampai akhir, sambil menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.

Hari Pahlawan adalah perayaan keberhasilan bangsa Indonesia dalam menempuh tiga kurikulum kehidupan: Kefakiran yang melahirkan keikhlasan, Hati yang Patah yang menumbuhkan keberanian, dan Keinginan Tak Terwujud yang mengajarkan kepasrahan. Ketiganya membentuk karakter bangsa yang kuat, berdaulat, dan beriman.

Nilai-nilai ini harus terus diwariskan kepada generasi penerus. Semangat 10 November mengingatkan bahwa kemerdekaan batin dan kemajuan bangsa tidak akan lahir dari kemudahan dan kenyamanan, tetapi dari kesanggupan menghadapi kekurangan, kekecewaan, dan kegagalan dengan hati yang teguh.

Mengenang Hari Pahlawan seharusnya bukan sekadar upacara atau ritual tahunan, melainkan refleksi mendalam tentang bagaimana tiga guru kehidupan. Kefakiran, Hati yang Patah, dan Keinginan Tak Terwujud, telah mendidik bangsa ini menjadi bangsa yang merdeka lahir dan batin.

Penulis: Achmad Wahyudi (MY)

Mohamad Gofur, S.T. Alumni Teknik Industri UNUSIDA

Mohamad Gofur, Alumni Teknik Industri UNUSIDA Buktikan Peran Kampus Penting dalam Karir Profesional

Mohamad Gofur, S.T., alumnus Program Studi Teknik Industri Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) tahun 2022 yang kini berkarier di PT Bintang Indokarya Gemilang pada bagian HR Insurance. Sebuah pencapaian yang ia raih berkat perpaduan antara ilmu, pengalaman organisasi, dan nilai-nilai pesantren yang melekat kuat dalam dirinya.

Gofur menuturkan bahwa pengalaman belajar selama kuliah di UNUSIDA menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter profesional dan kemampuan manajerialnya di dunia kerja. Ia menilai bahwa kurikulum Teknik Industri UNUSIDA tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga menanamkan keterampilan praktis serta etika kerja yang kuat.

“Banyak hal yang saya pelajari di kampus sangat relevan dengan pekerjaan saya sekarang. Mulai dari manajemen industri, pengelolaan sumber daya manusia, hingga kemampuan komunikasi dan leadership. Semua itu menjadi bekal berharga untuk menunjang karier saya di dunia industri,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Kamis (6/11/2025).

Selain pembelajaran di kelas, Gofur juga mengakui bahwa lingkungan kampus yang inklusif dan kolaboratif turut membentuk kepercayaan dirinya untuk terus berkembang. Dukungan dosen dan kesempatan mengikuti berbagai kegiatan kampus menjadi pengalaman berharga yang memperluas wawasan dan jejaring profesionalnya.

“Peran kampus dalam karier saya sangat luar biasa, pengalaman belajar di UNUSIDA membentuk karakter profesional dan kemampuan manajerial yang menjadi bekal penting di dunia kerja,” katanya.

Selain itu, pria asli Brebes, Jawa Tengah ini dikenal sebagai sosok mahasiswa aktif dan berprestasi selama menempuh studi di UNUSIDA. Gofur memulai kiprahnya di organisasi mahasiswa sejak tahun pertama, bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi (Hima Prodi) Teknik Industri, kemudian melanjutkan langkahnya ke Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik (BEM FT).

Puncaknya, pada tahun 2021, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua BEM Fakultas Teknik UNUSIDA. Melalui peran tersebut, Gofur banyak belajar tentang kepemimpinan, manajemen tim, dan komunikasi lintas organisasi, kemampuan yang kini sangat berguna dalam karier profesionalnya.

“Organisasi mengajarkan saya bagaimana mengelola waktu, berkoordinasi dengan banyak pihak, dan mengambil keputusan yang berdampak. Semua itu menjadi bekal nyata ketika saya terjun ke dunia kerja,” ujarnya.

Tak hanya aktif di kampus, Gofur juga menjalani kehidupan sebagai santri Pondok Pesantren Al Kholil, Jetis, Sidoarjo, yang diasuh oleh Gus Arisy Karomy. Selama kuliah, ia tetap konsisten mengabdi di pondok sambil menyeimbangkan antara tanggung jawab akademik dan spiritual.

“Menjadi santri membuat saya belajar disiplin, tangguh, dan rendah hati. Nilai-nilai itulah yang selalu saya bawa dalam bekerja dan berinteraksi,” tutur Gofur.

Kini, setelah menapaki dunia profesional, Gofur melihat bahwa kombinasi antara pendidikan tinggi dan nilai-nilai pesantren merupakan kekuatan luar biasa dalam membentuk karakter dan integritas seseorang. Ia berharap semakin banyak mahasiswa UNUSIDA yang percaya diri untuk bersaing di dunia kerja dengan bekal kemampuan, karakter, dan nilai-nilai yang ditanamkan selama kuliah.

“Oleh karena itu, jangan takut untuk bermimpi besar. Kampus sudah memberi kita pondasi melalui ilmu, organisasi memberi pengalaman, dan pesantren memberi arah hidup. Semua saling melengkapi, tinggal bagaimana kita berusaha dan terus belajar,” pungkasnya.

Dekan Fakultas Teknik UNUSIDA, Listin Fitrianah, S.P., M.Si., Aktif dalam Forum CSR Bappeda Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Aktif dalam Forum CSR Bappeda: Wujud Kolaborasi Kampus, Pemerintah, dan Industri untuk Pembangunan Berkelanjutan

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang berperan aktif dalam pembangunan daerah melalui keikutsertaannya dalam Forum Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) yang digelar oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sidoarjo, Senin (3/11/2025).

Dalam kegiatan tersebut, UNUSIDA diwakili oleh Dekan Fakultas Teknik, Ibu Listin Fitrianah, S.P., M.Si, yang hadir bersama para pemangku kepentingan dari berbagai sektor, termasuk instansi pemerintah, perusahaan swasta, dan lembaga sosial masyarakat. Pertemuan ini membahas arah kebijakan CSR agar dapat berjalan selaras dengan program prioritas daerah serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

Forum CSR Bappeda menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan perguruan tinggi dalam merancang serta melaksanakan program tanggung jawab sosial perusahaan yang tepat sasaran, terukur, dan berkelanjutan.

“Melalui forum ini, UNUSIDA ingin berperan aktif memberikan kontribusi dalam bentuk riset, pendampingan masyarakat, dan pengembangan teknologi tepat guna yang bisa dimanfaatkan dalam program CSR,” ungkapnya.

Menurutnya, akademisi seharusnya hadir dengan membawa perspektif akademik melalui pendekatan penelitian, inovasi teknologi, dan kegiatan pengabdian masyarakat yang dapat mendukung pelaksanaan CSR berbasis kebutuhan lokal.

“Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam pembangunan daerah, bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat inovasi dan agen perubahan sosial,” ujarnya.

Inovasi Fakultas Teknik UNUSIDA untuk CSR Berkelanjutan

Dalam kesempatan tersebut, Listin Fitrianah juga memaparkan sejumlah inisiatif yang telah disiapkan oleh Fakultas Teknik UNUSIDA untuk dikolaborasikan bersama mitra CSR, di antaranya:

  • Inovasi pengolahan limbah ramah lingkungan,

  • Pengembangan teknologi energi terbarukan, serta

  • Digitalisasi sistem untuk pemberdayaan UMKM lokal.

Listin menjelaskan, sinergi antara dunia pendidikan dan dunia industri merupakan langkah penting untuk memastikan keberlanjutan program CSR dan memperkuat dampak sosialnya bagi masyarakat.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi awal dari kerja sama yang lebih erat antara UNUSIDA dan para pelaku CSR di Sidoarjo. Kolaborasi ini bukan hanya seremonial, tetapi akan kami tindak lanjuti dalam bentuk aksi nyata yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan lingkungan,” tegasnya.

Implementasi Tridharma Perguruan Tinggi

Partisipasi aktif UNUSIDA dalam Forum CSR Bappeda juga menjadi wujud nyata implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat — yang dijalankan secara terpadu dan kontekstual. Melalui kegiatan ini, UNUSIDA ingin memperkuat posisi kampus sebagai mitra strategis pemerintah dan industri dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Selain itu, forum ini juga membuka peluang bagi mahasiswa dan dosen UNUSIDA untuk terlibat dalam proyek-proyek pengabdian masyarakat berbasis kebutuhan lokal, sekaligus memperkenalkan berbagai hasil penelitian dan inovasi mahasiswa yang relevan dengan program CSR perusahaan mitra.

“Kami ingin menjadikan kegiatan CSR sebagai laboratorium pembelajaran sosial bagi mahasiswa, agar mereka dapat menerapkan ilmu di dunia nyata sekaligus menumbuhkan tanggung jawab sosial yang tinggi,” jelas Listin.

Komitmen untuk Pembangunan Daerah

Keterlibatan UNUSIDA dalam Forum CSR Bappeda diharapkan dapat memperkuat ekosistem kolaborasi antara dunia akademik dan dunia industri. Lebih dari sekadar partisipasi, kegiatan ini menjadi bukti tanggung jawab sosial UNUSIDA sebagai bagian dari ekosistem pembangunan daerah.

“Kami ingin UNUSIDA dikenal bukan hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga hadir di tengah masyarakat dengan solusi nyata. Melalui program CSR yang kolaboratif, kami ingin membuktikan bahwa ilmu pengetahuan bisa menjadi alat untuk membangun kesejahteraan bersama,” tuturnya.

Ke depan, UNUSIDA berkomitmen untuk terus memperluas jaringan kemitraan dengan sektor swasta dan lembaga pemerintah dalam pelaksanaan tanggung jawab sosial. Fakultas Teknik bersama seluruh fakultas di lingkungan UNUSIDA akan terus mendorong penelitian terapan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri, agar hasil akademik dapat memberikan dampak langsung dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa forum CSR Bappeda Sidoarjo menjadi momentum penting bagi UNUSIDA untuk memperkuat perannya sebagai kampus adaptif dan berorientasi pada kemaslahatan publik. Keterlibatan aktif dalam forum ini sejalan dengan visi UNUSIDA untuk menjadi universitas unggul dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis nilai-nilai Islam dan kemanusiaan.

“Kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan dunia usaha adalah kunci dalam mewujudkan Sidoarjo yang lebih maju, inklusif, dan berdaya saing. UNUSIDA akan terus hadir memberikan kontribusi terbaik untuk masyarakat melalui ilmu pengetahuan dan tindakan nyata,” pungkasnya. (AS/MY)

Kepala Divisi Sosial Budaya dan Islam Nusantara Unusida, Muhammad Idham Kholiq, S.Sos., M.AP. (Foto: UNUSIDA TV)

Akademisi UNUSIDA Jelaskan Polemik Trans7 dan Pesantren: Itu Salah Kaprah Interpretasi Budaya

Kepala Divisi Sosial Budaya dan Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Muhammad Idham Kholiq, S.Sos., M.AP., memberikan penjelasan panjang lebar terkait polemik pemberitaan stasiun televisi Trans7 dengan masyarakat pesantren, khususnya keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo yang belakangan memicu perdebatan publik.

Menurut Idham, persoalan utama bukan sekadar soal liputan jurnalistik, melainkan interpretasi terhadap praktik budaya pesantren yang dinilai keliru. “Trans7 telah melakukan liputan jurnalistik, tetapi interpretasinya terhadap budaya pesantren tidak memahami makna yang diyakini komunitas pesantren itu sendiri,” kata Idham, dikutip dari video pernyataan melalui channel You Tube UNUSIDA TV, Jum’at (31/10/2025).

Idham mencontohkan sejumlah tradisi pesantren, seperti berjalan merendah di hadapan kyai, mencium tangan, atau tata krama lain yang diberi label sebagai bentuk feodalisme oleh pihak luar. Padahal, kata dia, tindakan itu merupakan adab dan bagian dari tata krama pencari ilmu (mutallim) yang memiliki makna internal bagi santri.

“Bagi santri, merendah di hadapan guru adalah adab menuntut ilmu, bukan relasi kelas aristokrat yang dimaksud feodalisme,” ujarnya.

Dalam analisisnya, Idham mengutip pendekatan Max Weber tentang Verstehen, prosedur pemahaman mendalam terhadap makna tindakan pelaku, sebagai metode yang semestinya dipakai oleh jurnalis dan peneliti ketika merekam budaya yang bukan berasal dari komunitasnya.

“Kalau ingin menulis atau meliput budaya pesantren, lakukanlah pendalaman sehingga makna yang disampaikan akurat dan tidak menimbulkan kesalahpahaman,” pesannya.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sidoarjo itu juga menyoroti reaksi keras dari kalangan santri terhadap liputan yang dianggap menyinggung. Ia memahami reaksi sebagai respons wajar dari insider yang merasa nilai-nilainya diperlakukan keliru, namun ia mengimbau agar respons tersebut disalurkan secara konstruktif.

“Kita harus menerima kenyataan ada perbedaan perspektif. Lebih baik membuka dialog untuk menjelaskan makna tradisi kita daripada sekadar marah,” jelasnya.

Idham menekankan pentingnya membuka ruang komunikasi dan dialog antarpihak, baik antara pesantren dan media maupun masyarakat luas. Sebagai jalan meredam polemik. Dengan dialog yang beradab, menurutnya, publik akan lebih paham bahwa tradisi seperti mencium tangan kyai atau berjalan rendah bukanlah penindasan, melainkan bentuk penghormatan dan pola adab keilmuan.

Lebih lanjut, ia mengajak komunitas pesantren untuk aktif menjelaskan makna budaya mereka kepada masyarakat umum dan media. Ia mengimbau kepada insan media untuk menerapkan etika dan metode kajian budaya yang mendalam saat meliput komunitas tradisional. Sementara kepada kaum santri, ia mengajak bersikap inklusif dan berani berdialog supaya nilai-nilai pesantren dipahami secara tepat oleh publik yang lebih luas.

“Jangan sungkan menerangkan mengapa kita beradat demikian; bila orang tahu maknanya, insya Allah persepsi miring akan lurus,” pungkasnya. (MY)

FE UNUSIDA Lakukan International Company Visit ke Beryl’s Chocolate Factory: Gali Ilmu Produksi dan Manajemen Industri Global 1

FE UNUSIDA Lakukan International Company Visit ke Beryl’s Chocolate Factory: Gali Ilmu Produksi dan Manajemen Industri Global

Kuala Lumpur, 30 Oktober 2025 — Fakultas Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (FE UNUSIDA) terus memperkuat komitmennya dalam memberikan pengalaman belajar global bagi mahasiswa. Melalui kegiatan International Company Visit ke Beryl’s Chocolate Factory, Malaysia, pada Kamis, 30 Oktober 2025, mahasiswa diajak memahami secara langsung proses produksi dan manajemen industri pada salah satu perusahaan cokelat ternama di Asia Tenggara.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program internasional FE UNUSIDA yang bertujuan memperluas wawasan mahasiswa dalam bidang manajemen industri, pemasaran global, dan rantai pasok. Dalam kunjungan tersebut, rombongan dosen dan mahasiswa FE UNUSIDA diterima dengan hangat oleh pihak manajemen Beryl’s Chocolate Factory. Para peserta diajak berkeliling pabrik untuk menyaksikan langsung proses produksi, mulai dari pemilihan biji kakao, tahap pengolahan, pengemasan, hingga produk siap distribusi ke berbagai negara.

Melalui penjelasan dari pihak perusahaan, mahasiswa mendapatkan wawasan mendalam mengenai standar mutu internasional, efisiensi produksi, serta strategi Beryl’s dalam mempertahankan kualitas dan reputasi mereknya selama puluhan tahun di pasar global. Kegiatan ini menjadi ajang belajar yang aplikatif, menghubungkan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan praktik nyata di dunia industri.

Menurut Devika Cherly P., S.Mn., M.M., selaku dosen pendamping kegiatan, kunjungan ini merupakan wujud nyata dari penerapan experiential learning yang menjadi ciri khas pembelajaran di Fakultas Ekonomi UNUSIDA.

“Melalui International Company Visit ini, mahasiswa dapat melihat langsung bagaimana teori manajemen dan pemasaran diterapkan dalam konteks industri global. Mereka belajar tentang bagaimana perusahaan seperti Beryl’s mampu menjaga kualitas, efisiensi, serta inovasi dalam setiap tahapan produksi,” ujar Devika.

Beliau juga menambahkan bahwa kunjungan ini tidak hanya sekadar pembelajaran teknis, tetapi juga membentuk karakter dan wawasan global mahasiswa.

“Kami ingin mahasiswa memahami pentingnya profesionalitas, komitmen terhadap kualitas, dan adaptasi terhadap pasar global. Beryl’s menjadi contoh inspiratif bagaimana sebuah brand lokal bisa berkembang menjadi pemain internasional tanpa meninggalkan identitas dan nilai-nilai tradisionalnya. Ini sejalan dengan visi FE UNUSIDA dalam mencetak lulusan yang kreatif, tangguh, dan berdaya saing global,” tambahnya.

Salah satu mahasiswa peserta, Rizza Nahdiatul Ilmi, mengaku sangat antusias dan termotivasi setelah mengikuti kunjungan tersebut.

“Kunjungan ke Beryl’s Chocolate Factory benar-benar membuka wawasan kami. Melihat langsung bagaimana setiap proses produksi dilakukan dengan presisi tinggi membuat kami memahami bahwa keberhasilan sebuah perusahaan bukan hanya soal produk yang enak, tetapi juga manajemen yang profesional,” ungkap Rizza.

Rizza menambahkan bahwa pengalaman ini memberikan pelajaran berharga yang tidak bisa diperoleh hanya dari perkuliahan di kelas.

“Selama ini kami mempelajari teori manajemen produksi dan pemasaran, tapi di sini kami bisa melihat bagaimana teori itu diterapkan secara nyata. Saya belajar bahwa konsistensi, inovasi, dan kualitas adalah kunci utama dalam mempertahankan bisnis jangka panjang. Pengalaman ini sangat memotivasi saya untuk terus berinovasi dan berpikir global,” tambahnya dengan semangat.

Kegiatan International Company Visit ini diharapkan membawa dampak positif bagi pengembangan akademik dan kompetensi mahasiswa FE UNUSIDA. Melalui pengalaman langsung di industri internasional, mahasiswa dapat mengaitkan pengetahuan teoritis dengan praktik dunia kerja sebenarnya. Mereka juga memahami bagaimana pentingnya kolaborasi antar divisi, pengendalian mutu, serta strategi pemasaran yang efektif untuk mempertahankan posisi perusahaan di pasar global.

Menurut Devika Cherly, kegiatan seperti ini akan menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja.

“Kami berharap mahasiswa mampu merefleksikan pengalaman ini dalam studi mereka. Setelah melihat bagaimana sistem industri besar berjalan, mereka akan lebih siap untuk berpikir kritis, strategis, dan inovatif. FE UNUSIDA berkomitmen untuk terus menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual seperti ini,” ujarnya.

Selain menjadi sarana pembelajaran, kegiatan ini juga memperkuat langkah FE UNUSIDA dalam membangun jaringan kerja sama internasional. Kunjungan ke Beryl’s Chocolate Factory membuka peluang kolaborasi di bidang magang internasional, riset terapan, dan studi industri yang relevan dengan kurikulum fakultas. Dengan terjalinnya hubungan baik ini, diharapkan mahasiswa UNUSIDA ke depan dapat memperoleh akses lebih luas ke industri global.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan kunjungan ke Beryl’s Chocolate Boutique, di mana peserta berkesempatan melihat strategi display, desain kemasan, hingga tata kelola layanan pelanggan yang menjadi keunggulan kompetitif Beryl’s. Mahasiswa juga berdialog dengan staf pemasaran untuk memahami bagaimana strategi promosi dilakukan agar mampu menarik pasar domestik dan internasional.

Menutup kegiatan, Devika Cherly P., S.Mn., M.M. menyampaikan harapannya agar program International Company Visit ini menjadi kegiatan rutin bagi Fakultas Ekonomi UNUSIDA.

“Kami berencana menjadikan program ini sebagai agenda tahunan agar setiap angkatan mahasiswa memiliki kesempatan mendapatkan pengalaman belajar internasional. Dunia industri berubah cepat, dan kami ingin lulusan FE UNUSIDA siap beradaptasi dengan perubahan itu, tanpa kehilangan nilai etika dan integritas,” pungkasnya.

Dengan terlaksananya kunjungan ini, Fakultas Ekonomi UNUSIDA menegaskan perannya sebagai lembaga pendidikan tinggi yang berkomitmen menghadirkan pembelajaran berbasis praktik dan globalisasi. Program International Company Visit ke Beryl’s Chocolate Factory menjadi momentum penting dalam mencetak mahasiswa yang berwawasan internasional, memiliki jiwa wirausaha, serta siap berkontribusi bagi pengembangan ekonomi nasional dan global.

FE UNUSIDA Teken MoA dengan KOPAMA BERHAD Malaysia: Perkuat Sinergi Internasional dan Pemberdayaan UMKM Lintas Negara 2

FE UNUSIDA Teken MoA dengan KOPAMA BERHAD Malaysia: Perkuat Sinergi Internasional dan Pemberdayaan UMKM Lintas Negara

Kuala Lumpur, 29 Oktober 2025 — Fakultas Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (FE UNUSIDA) menorehkan langkah strategis dalam memperkuat jejaring global melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) dengan Koperasi KOPAMA BERHAD Malaysia (NGO). Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu, 29 Oktober 2025, ini menandai komitmen kedua pihak untuk berkolaborasi dalam bidang pengembangan UMKM, pendidikan ekonomi, dan pengabdian masyarakat internasional.

Penandatanganan MoA ini menjadi tindak lanjut dari hubungan baik antara UNUSIDA dan KOPAMA BERHAD yang telah terjalin melalui berbagai kegiatan kolaboratif. Fokus kerja sama kali ini diarahkan pada pengenalan dan penguatan sistem pengelolaan UMKM yang tergabung dalam koperasi, pertukaran pengetahuan antar lembaga, serta pengembangan kapasitas mahasiswa melalui program International Community Service dan riset kolaboratif.

Dalam kegiatan tersebut, rombongan FE UNUSIDA disambut hangat oleh jajaran pengurus KOPAMA BERHAD Malaysia di kantor pusatnya. Acara dimulai dengan sesi sharing session tentang praktik pengelolaan koperasi di Malaysia, diikuti dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Devika Cherly P., S.Mn., M.M. selaku perwakilan FE UNUSIDA dan Datuk Abd Rahim Haji Hashim, Ketua KOPAMA BERHAD Malaysia.

Menurut Devika Cherly P., S.Mn., M.M., kerja sama ini merupakan langkah penting bagi Fakultas Ekonomi UNUSIDA dalam mengembangkan model pembelajaran dan pengabdian masyarakat berbasis internasional.

“Melalui penandatanganan MoA ini, kami ingin memperluas ruang belajar mahasiswa dan dosen, agar tidak hanya memahami teori ekonomi di kelas, tetapi juga dapat melihat langsung praktik pengelolaan UMKM dan koperasi di tingkat global,” ujar Devika.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini membuka peluang besar untuk pertukaran pengetahuan dan pengalaman antar dua lembaga yang memiliki visi serupa dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“KOPAMA BERHAD memiliki sistem manajemen koperasi yang profesional dan berbasis komunitas, yang bisa menjadi inspirasi bagi koperasi di Indonesia. Kami ingin membawa semangat ini untuk memperkuat ekosistem UMKM di bawah binaan FE UNUSIDA,” imbuhnya.

Sementara itu, Datuk Abd Rahim Haji Hashim, Ketua KOPAMA BERHAD Malaysia, menyambut antusias kerja sama ini dan berharap agar kolaborasi tersebut dapat berjalan berkelanjutan.

“Kami merasa terhormat dapat menjalin kemitraan resmi dengan Fakultas Ekonomi UNUSIDA. MoA ini bukan hanya sekadar dokumen kerja sama, melainkan bentuk nyata dari komitmen dua negara serumpun untuk memperkuat ekonomi berbasis komunitas,” ungkap Datuk Abd Rahim.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa KOPAMA BERHAD selama ini berperan aktif dalam pemberdayaan UMKM di Malaysia, baik melalui pendampingan usaha, pelatihan kewirausahaan, maupun pengembangan jaringan pemasaran.
“Kami percaya, kerja sama lintas negara seperti ini akan menciptakan sinergi positif dalam mengembangkan koperasi modern yang berdaya saing global. Kami terbuka untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan mahasiswa serta dosen UNUSIDA, agar bisa bersama-sama membangun ekonomi masyarakat yang inklusif,” tambahnya.

Kegiatan ini juga mencakup kunjungan lapangan ke beberapa unit UMKM binaan KOPAMA BERHAD, seperti sektor kuliner lokal, kerajinan tangan, dan produk inovatif berbasis komunitas. Melalui kunjungan ini, delegasi FE UNUSIDA dapat mengamati langsung sistem tata kelola koperasi, manajemen keuangan, serta strategi pemasaran yang diterapkan oleh anggota koperasi.

Dari kegiatan tersebut, diharapkan muncul output konkret berupa peningkatan kerja sama dalam bentuk riset terapan, pertukaran mahasiswa dan dosen, serta pelaksanaan program joint community service yang menitikberatkan pada pengembangan UMKM lintas negara. Bagi FE UNUSIDA, kerja sama ini menjadi jembatan penting dalam memperluas wawasan internasional mahasiswa dan memperkuat kompetensi global di bidang ekonomi dan manajemen.

Devika Cherly menegaskan bahwa hasil dari penandatanganan ini tidak hanya berhenti pada simbol kerja sama, tetapi juga akan ditindaklanjuti dengan program nyata.

“Kami akan menyusun agenda lanjutan berupa workshop dan training program bersama KOPAMA BERHAD yang melibatkan dosen dan mahasiswa. Harapannya, mahasiswa kami dapat belajar langsung mengenai praktik koperasi yang berorientasi pada pemberdayaan dan keberlanjutan. Ini juga sejalan dengan visi UNUSIDA untuk mencetak lulusan yang berdaya saing global dan berjiwa sosial,” jelasnya.

Selain memperluas jejaring akademik, MoA ini juga diharapkan dapat memberi dampak sosial-ekonomi yang signifikan. Dengan menghubungkan dunia pendidikan dan sektor koperasi, kedua pihak berupaya menciptakan model kolaborasi yang mampu memperkuat ekonomi masyarakat di era digital. Mahasiswa akan mendapatkan pengalaman internasional yang aplikatif, sementara koperasi memperoleh akses terhadap inovasi dan gagasan baru dari lingkungan akademik.

Sebagai simbolisasi kerja sama, acara ditutup dengan penyerahan cenderamata antara FE UNUSIDA dan KOPAMA BERHAD serta sesi foto bersama. Kedua pihak sepakat untuk melanjutkan komunikasi intensif dalam menyiapkan program lanjutan pada tahun 2026, termasuk pengiriman mahasiswa magang dan riset bersama dalam bidang kewirausahaan dan manajemen koperasi.

Melalui penandatanganan MoA antara FE UNUSIDA dan KOPAMA BERHAD Malaysia, Fakultas Ekonomi UNUSIDA menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran akademisi dalam pembangunan ekonomi global berbasis nilai kemanusiaan dan kerja sama lintas negara. Kegiatan ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan internasionalisasi UNUSIDA, sekaligus bukti nyata bahwa kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang kolaborasi yang melahirkan perubahan bagi masyarakat dunia.

FE UNUSIDA Gelar International Community Service di Malaysia: Perkuat Kolaborasi dan Pengenalan UMKM di KOPAMA BERHAD 3

FE UNUSIDA Gelar International Community Service di Malaysia: Perkuat Kolaborasi dan Pengenalan UMKM di KOPAMA BERHAD

Kuala Lumpur, 29 Oktober 2025 — Fakultas Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (FE UNUSIDA) terus memperluas kiprah dan jejaring internasionalnya melalui kegiatan International Community Service yang dilaksanakan di Koperasi KOPAMA BERHAD Malaysia (NGO). Kegiatan ini menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat bertaraf internasional dengan fokus utama pada pengenalan dan penguatan peran UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dalam mendukung ekonomi komunitas.

Pelaksanaan kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 29 Oktober 2025 ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa FE UNUSIDA. Mereka berkesempatan untuk berdialog langsung dengan pengurus dan anggota KOPAMA BERHAD Malaysia mengenai pengelolaan koperasi, strategi pemasaran produk UMKM, serta sistem pemberdayaan anggota koperasi berbasis komunitas. Melalui kunjungan dan diskusi ini, para peserta dapat belajar langsung tentang praktik ekonomi kerakyatan yang telah sukses diterapkan di Malaysia.

Menurut Devika Cherly P., S.Mn., M.M., selaku dosen pendamping kegiatan, program ini merupakan wujud nyata komitmen FE UNUSIDA dalam mencetak lulusan yang memiliki wawasan global dan kepedulian sosial.

“Kegiatan International Community Service ini bukan hanya sekadar pertukaran pengalaman, tetapi juga bentuk nyata pengabdian lintas negara. Mahasiswa diajak untuk memahami bagaimana UMKM dapat tumbuh melalui sinergi antara koperasi, pemerintah, dan masyarakat. Ini menjadi pelajaran berharga yang bisa diadaptasi untuk pengembangan koperasi di Indonesia,” ungkap Devika Cherly.

Ia menambahkan bahwa FE UNUSIDA berkomitmen mengintegrasikan kegiatan akademik dengan program pengabdian masyarakat internasional. “Melalui pengalaman ini, mahasiswa belajar tentang pentingnya inovasi, kolaborasi, dan adaptasi dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Kami ingin lulusan kami tidak hanya siap bekerja di sektor industri, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masyarakatnya,” jelasnya.

Sementara itu, Datuk Abd Rahim Haji Hashim, selaku Ketua KOPAMA BERHAD Malaysia, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas terjalinnya kerja sama dengan FE UNUSIDA.

“Kami merasa terhormat dapat menerima kunjungan dari rekan-rekan UNUSIDA. Kolaborasi ini menunjukkan semangat persaudaraan dan komitmen kedua pihak dalam memperkuat peran UMKM di tingkat regional. Kami di KOPAMA percaya bahwa kerja sama lintas negara seperti ini sangat penting untuk memperluas wawasan, meningkatkan daya saing, dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” ujar Datuk Abd Rahim.

Beliau juga menekankan bahwa KOPAMA BERHAD selalu terbuka untuk kolaborasi di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. “Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dikembangkan agar mahasiswa dari Indonesia dan Malaysia bisa saling bertukar gagasan, inovasi, serta praktik terbaik dalam pengembangan usaha kecil dan koperasi,” tambahnya.

Kegiatan International Community Service ini diharapkan membawa dampak signifikan bagi pengembangan kapasitas mahasiswa dan lembaga. Bagi mahasiswa FE UNUSIDA, kegiatan ini menjadi ajang pembelajaran nyata tentang bagaimana koperasi dapat menjadi penggerak ekonomi rakyat yang tangguh dan profesional. Mereka juga memperoleh pemahaman tentang pentingnya digitalisasi dan inovasi produk dalam memperluas pasar UMKM di era globalisasi.

Bagi KOPAMA BERHAD, kerja sama ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan sistem tata kelola koperasi di Malaysia serta menjalin hubungan strategis dengan lembaga pendidikan di Indonesia. Sinergi ini diharapkan dapat membuka peluang kerja sama berkelanjutan dalam bidang pelatihan, riset, dan pengembangan kewirausahaan komunitas.

Devika Cherly menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi awal dari misi internasional FE UNUSIDA untuk memperkuat jejaring akademik dan sosial antarnegara ASEAN.

“Kami melihat potensi besar untuk menjadikan kegiatan ini berkelanjutan. Ke depan, kami ingin membangun joint program antara UNUSIDA dan KOPAMA dalam bentuk pelatihan, riset bersama, dan proyek pengembangan UMKM lintas negara. Hal ini sejalan dengan visi FE UNUSIDA untuk menjadi fakultas yang unggul, berdaya saing, dan berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat internasional,” paparnya.

Selain sesi diskusi dan pemaparan, kegiatan ini juga diisi dengan kunjungan lapangan ke beberapa unit usaha UMKM binaan KOPAMA BERHAD. Para peserta mengamati langsung berbagai sektor, mulai dari industri makanan, kerajinan tangan, hingga produk inovatif berbasis bahan lokal. Melalui pengalaman ini, mahasiswa dapat mengidentifikasi praktik baik dalam pengelolaan usaha kecil yang efisien dan berorientasi pasar.

Sebagai penutup kegiatan, dilakukan penyerahan cenderamata dan sertifikat kerja sama antara FE UNUSIDA dan KOPAMA BERHAD Malaysia sebagai simbol komitmen memperkuat kolaborasi dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial. Kedua pihak sepakat untuk terus menjalin komunikasi dan menindaklanjuti hasil kegiatan dengan program lanjutan di masa mendatang.

Dengan terlaksananya kegiatan ini, Fakultas Ekonomi UNUSIDA menegaskan perannya sebagai fakultas yang tidak hanya berfokus pada teori akademik, tetapi juga aktif dalam praktik nyata pemberdayaan masyarakat global. Program International Community Service ini menjadi wujud nyata dari semangat “Belajar, Berkolaborasi, dan Mengabdi untuk Dunia”, sekaligus membuka jalan bagi generasi muda UNUSIDA untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Mahasiswa UNUSIDA Dibekali Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi bersama DPR RI dan LLDikti Wilayah VII Jawa Timur (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Komitmen Wujudkan Kampus Aman untuk Semua Kalangan

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menegaskan komitmennya menjadi kampus yang aman, inklusif, dan berkeadaban bagi seluruh sivitas akademika. Hal tersebut disampaikan oleh Rektor UNUSIDA, Prof. Dr. H. Fatkul Anam, M.Si, dalam kegiatan Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT) yang berlangsung di Kampus 2 UNUSIDA, Rabu (29/10/2025).

Dalam sambutannya, Prof. Dr. H. Fatkul Anam, M.Si., menekankan bahwa UNUSIDA yang kini telah masuk dalam klaster Utama di usia ke-11, terus berkomitmen menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan integritas dalam setiap aspek kehidupan kampus.

“Kekerasan dalam bentuk apa pun, baik fisik, psikis, seksual, maupun digital—tidak boleh memiliki ruang di lingkungan UNUSIDA. Kita harus menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan membangun generasi muda yang berakhlakul karimah serta berintegritas,” ujarnya.

Prof. Anam juga menyampaikan apresiasi kepada LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur yang telah menjadi inisiator sekaligus inspirator dalam upaya menciptakan kampus yang aman dan berkeadilan. Ia berharap melalui kegiatan ini UNUSIDA semakin kokoh dalam mewujudkan visi sebagai kampus mahasantri modern yang menjunjung tinggi nilai-nilai tasamuh (toleransi), fathonah (kebijaksanaan), dan rahmatan lil ‘alamin.

“UNUSIDA adalah rumah ilmu bagi setiap generasi muda. Melalui kegiatan sosialisasi ini, mahasiswa diharapkan memahami mekanisme pelaporan kasus kekerasan secara benar dan berperspektif kemanusiaan. Mari bersama-sama menjaga kampus ini agar menjadi zona aman bagi semua kalangan,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Anggota Komisi X DPR RI, Ibu Lita Machfud Arifin, menegaskan pentingnya komitmen lembaga pendidikan untuk menciptakan ruang belajar yang aman bagi seluruh civitas akademika.

“Kami sangat mendorong agar kampus menjadi tempat yang aman bagi dosen dan mahasiswa dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar. Saya percaya UNUSIDA adalah salah satu kampus unggul di Sidoarjo yang mampu menjadi teladan dalam hal ini,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya bersama antara LLDIKTI dan DPR RI dalam memperkuat transformasi kampus di Indonesia, tidak hanya dalam bidang akademik dan riset, tetapi juga dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan berintegritas.

“Perguruan tinggi tidak cukup hanya unggul dalam publikasi atau riset global, tetapi juga harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kampus yang aman dan bebas dari kekerasan adalah fondasi penting bagi terciptanya generasi unggul. Kami mengapresiasi UNUSIDA yang terus menunjukkan kemajuan signifikan dan komitmen kuat dalam hal ini,” ungkapnya.

Beliau juga menekankan pentingnya fakta integritas yang ditandatangani oleh mahasiswa baru sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga nilai-nilai inklusivitas dan keberagaman di lingkungan kampus.

“UNUSIDA adalah kampus Nahdlatul Ulama yang terbuka untuk semua. Walaupun berakar pada nilai Aswaja, kampus ini tetap menjadi ruang inklusif bagi siapa pun tanpa memandang latar belakang agama atau budaya,” tambahnya.

Kegiatan ini diikuti oleh ratusan mahasiswa UNUSIDA yang dengan antusias mendengarkan pemaparan mengenai mekanisme pelaporan dan pendampingan bagi korban kekerasan di lingkungan perguruan tinggi. Materi juga menyoroti pentingnya peran Satgas PPKPT dalam menindaklanjuti laporan kekerasan dengan cara yang adil, berkeadilan, dan berperspektif korban. (MY)

Sosialisasi PPKPT oleh Kepala LLDikti Wilayah VII Jawa Timur (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa UNUSIDA Dibekali Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi

SIDOARJO — Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., membekali Civitas Akademika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) untuk terus memperkuat riset unggulan dan memastikan terciptanya lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.

Dalam kegiatan Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT) di Kampus UNUSIDA, Rabu (29/10/2025), Prof. Dyah menyampaikan bahwa potensi besar UNUSIDA harus dioptimalkan untuk mendukung Asta Cita pemerintah, melalui riset dan inovasi yang berkelanjutan serta berpihak pada kemaslahatan masyarakat.

“UNUSIDA memiliki kekuatan khas, yakni nilai-nilai Nahdlatul Ulama yang melekat kuat di dalam diri mahasiswa dan civitas akademikanya. Nilai ini harus menjadi energi utama untuk melahirkan riset-riset unggulan yang bermanfaat bagi bangsa dan negara,” ujarnya.

Ia menambahkan, riset yang dilakukan perguruan tinggi tidak hanya bertujuan meningkatkan peringkat dan publikasi, tetapi juga harus memiliki dampak nyata bagi masyarakat.

“Transformasi kampus tidak berhenti pada angka dan ranking global, tetapi bagaimana kampus memberikan kontribusi langsung bagi masyarakat. Lulusan yang sukses bukan hanya yang bekerja, tetapi juga yang mampu menciptakan pekerjaan dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” tegasnya.

Prof. Dyah juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara LLDIKTI Wilayah VII, DPR RI, dan perguruan tinggi dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang aman dan berkeadilan di Jawa Timur. Ia mengapresiasi Komisi X DPR RI yang turut peduli terhadap isu kekerasan di kampus dan mendukung langkah konkret dalam pencegahan serta penanganannya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa saat ini tidak ada perguruan tinggi di Jawa Timur yang ditutup, justru semakin banyak kampus yang berhasil meraih status unggul.

“Dalam tiga tahun terakhir, tidak ada universitas yang ditutup di Jawa Timur. Justru jumlah kampus unggul terus bertambah. Ini menunjukkan kualitas pendidikan tinggi di Jawa Timur semakin meningkat,” ungkapnya.

Sebagai bentuk komitmen bersama, Prof. Dyah juga mendorong UNUSIDA untuk menerapkan fakta integritas bagi seluruh mahasiswa baru, sebagai pernyataan komitmen menjaga kampus yang berkeadilan, berkeberagaman, dan bebas kekerasan.

“UNUSIDA adalah kampus Nahdlatul Ulama yang terbuka bagi siapa pun, dari agama dan latar belakang apa pun. Inilah wujud nyata kampus yang menjunjung tinggi nilai kebinekaan dan kemanusiaan,” tuturnya.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi UNUSIDA untuk memperkuat sinergi dengan LLDIKTI dan DPR RI dalam menciptakan lingkungan akademik yang sehat, aman, dan berorientasi pada kemajuan riset dan karakter mahasiswa.