Pos

Guru Besar UiTM Malaysia Prof Shukor Sanim saat menjadi narasumber dalam International Guest Lecture UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Guru Besar UiTM Malaysia Prof Shukor Sanim Bahas Masa Depan Peradaban di Era AI dalam International Guest Lecture di UNUSIDA

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali memperkuat jejaring akademik internasional melalui kegiatan International Guest Lecture yang menghadirkan akademisi dari Malaysia, Assoc. Prof. Ts. Dr. Shukor Sanim Mohd Fauzi dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), Kamis (4/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 5 Gedung A UNUSIDA ini mengangkat tema “AI and the Future of Civilization: Pedagogical Reconstruction, Economic Acceleration, and Contemporary Ethical Matrices in the ASEAN Context”.

Kuliah tamu internasional ini diikuti oleh mahasiswa, dosen, dan civitas akademika UNUSIDA yang antusias mendiskusikan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) serta dampaknya terhadap pendidikan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat ASEAN. Dalam rangka menghadirkan wawasan global bagi mahasiswa serta memperkuat kesiapan generasi muda menghadapi perubahan peradaban yang dipengaruhi oleh perkembangan kecerdasan buatan.

Dalam pemaparannya, Prof. Shukor Sanim menegaskan bahwa AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan atau fiksi ilmiah, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Saat ini, AI telah digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, perbankan, pertanian, hingga penelitian ilmiah.

“Teknologi sebelumnya membantu pekerjaan fisik manusia, sedangkan AI membantu pekerjaan kognitif manusia, termasuk proses berpikir, pengambilan keputusan, dan kreativitas,” jelasnya.

Menurutnya, perkembangan AI merupakan salah satu lompatan besar dalam sejarah peradaban manusia setelah revolusi industri, penemuan listrik, dan internet. Jika revolusi industri mengubah cara manusia bekerja secara fisik, maka AI mengubah cara manusia berpikir dan memproses informasi.

Trasformasi Pendidikan di Era AI
Salah satu fokus utama yang dibahas adalah perubahan paradigma pendidikan di era kecerdasan buatan. Prof. Shukor menjelaskan bahwa perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menjadi tempat penyampaian informasi, karena informasi kini dapat diakses dengan mudah melalui teknologi AI.

“Mahasiswa tidak lagi membutuhkan dosen hanya sebagai sumber informasi. Mereka membutuhkan dosen sebagai pembimbing yang mampu menanamkan kebijaksanaan, pemikiran kritis, dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pendidikan masa depan harus berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, kepemimpinan, kecerdasan emosional, dan kemampuan berkolaborasi lintas disiplin ilmu. Perguruan tinggi harus bertransformasi dari sekadar penyedia informasi menjadi pusat pengembangan kapasitas manusia.

Selain itu, AI telah mengubah cara belajar melalui kemampuan melakukan sintesis penelitian, menghasilkan kode program, menerjemahkan bahasa secara instan, hingga membantu pembuatan laporan dan presentasi secara cepat.

Peluang Besar Ekonomi Digital ASEAN
Pada sektor ekonomi, Prof. Shukor memaparkan bahwa AI menjadi motor penggerak utama ekonomi digital yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional di berbagai sektor industri.

Ia mengutip proyeksi ekonomi digital ASEAN yang diperkirakan akan tumbuh dari sekitar 200 miliar dolar AS pada tahun 2022 menjadi 1 triliun dolar AS pada tahun 2030. Oleh karena itu, negara-negara ASEAN perlu menentukan posisi strategisnya di tengah perkembangan teknologi global.

“Pertanyaan penting bagi ASEAN adalah apakah kita hanya akan menjadi konsumen teknologi, atau mampu menjadi produsen dan inovator teknologi AI,” katanya.

Menurutnya, transformasi tenaga kerja juga akan terjadi secara signifikan. Sejumlah pekerjaan administratif rutin diprediksi akan berkurang, sementara profesi baru seperti AI Engineer, Data Scientist, AI Ethicist, dan Digital Strategist akan semakin dibutuhkan.

Tantangan Etika dan Integritas Akademik
Di balik berbagai peluang yang ditawarkan AI, Prof. Shukor juga mengingatkan adanya tantangan etika yang harus dihadapi. Ia menyebut bahwa tantangan terbesar AI bukanlah persoalan teknologi, melainkan persoalan moral dan etika.

Fenomena deepfake, manipulasi suara dan video, penyebaran informasi palsu, serta penyalahgunaan AI untuk menghasilkan sumber referensi fiktif menjadi ancaman nyata yang perlu diantisipasi.

Dalam dunia pendidikan, penggunaan AI juga memunculkan tantangan baru terkait integritas akademik, seperti plagiarisme, ketergantungan berlebihan terhadap teknologi, serta menurunnya kemampuan berpikir mandiri mahasiswa.

Output AI harus selalu diverifikasi. Teknologi dapat membantu manusia, tetapi tidak boleh menggantikan kemampuan berpikir kritis dan tanggung jawab akademik,” tegasnya.

Universitas Harus menjadi Pemimpin Tranformasi AI
Lebih lanjut, Prof. Shukor menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat inovasi dan pengembangan talenta digital di kawasan ASEAN. Universitas diharapkan mampu menjadi pelopor dalam menciptakan solusi AI yang sesuai dengan karakteristik masyarakat ASEAN yang multikultural, multibahasa, dan beragam secara ekonomi.

Ia juga mendorong kolaborasi antarnegara ASEAN dalam bidang kesehatan digital, pendidikan berbasis teknologi, serta pengembangan kebijakan AI yang berlandaskan etika dan nilai-nilai kemanusiaan.

Lebih lanjut, Prof. Shukor menyampaikan bahwa masa depan bukanlah tentang menggantikan manusia dengan AI, melainkan memberdayakan manusia melalui teknologi.

“Teknologi tidak akan mampu membangun peradaban yang lebih baik sendirian. Manusia harus memandunya dengan etika, kepemimpinan, dan visi yang bijaksana,” pungkasnya.

Ketua PCNU Sidoarjo, KH Zainal Abidin saat menyampaikan sambutan dalam International Guest Lecture di UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Ketua PCNU Sidoarjo Ajak Mahasiswa UNUSIDA Bangun Mimpi Besar untuk Berdaya Saing Global

SIDOARJO — Semangat untuk terus belajar, memiliki cita-cita tinggi, dan menghilangkan rasa malas menjadi pesan utama yang disampaikan Ketua PCNU Sidoarjo, KH. Muhammad Zainal Abidin dalam kegiatan International Guest Lecture yang menghadirkan Associate Professor Ts. Dr. Shukor Sanim Mohd Fauzi dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Kamis (4/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Zainal mengingatkan para mahasiswa bahwa kemajuan individu maupun bangsa tidak akan tercapai jika seseorang merasa bangga dengan kebodohan dan berhenti belajar. Menurutnya, di tengah persaingan global yang semakin ketat, generasi muda harus memiliki komitmen kuat untuk terus menambah wawasan dan pengetahuan.

Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan internasional mengenai perkembangan kecerdasan buatan dan peradaban masa depan, tetapi juga mendapatkan motivasi untuk terus belajar, bermimpi besar, dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang berintegritas serta berdaya saing global.

“Kalau kita tidak ingin tertinggal dengan negara lain, kampus lain, atau kelompok lain, maka jangan pernah bangga dengan kebodohan. Bangun komitmen untuk terus ingin tahu, terus belajar, dan terus mengejar cita-cita,” pesannya di hadapan mahasiswa dan civitas akademika UNUSIDA.

Ia juga mengajak mahasiswa untuk memiliki impian yang besar dan tidak membatasi diri pada target-target yang terlalu kecil. Menurutnya, cita-cita harus digantungkan setinggi langit agar mampu melahirkan semangat dan kerja keras yang luar biasa.

“Jangan hanya bercita-cita menjadi dokter atau dosen. Gantungkan cita-cita setinggi mungkin. Jika ingin memiliki banyak dokter sebagai bawahan, berarti Anda harus memiliki rumah sakit. Jika ingin memiliki banyak dosen sebagai bawahan, berarti Anda harus memiliki kampus. Cita-cita besar akan melahirkan langkah besar,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mencontohkan perkembangan lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU yang saat ini telah memiliki ratusan satuan pendidikan dan ribuan tenaga pendidik. Menurutnya, keberhasilan tersebut lahir dari keberanian untuk bermimpi besar dan konsisten bekerja mewujudkannya.

Selain itu, Kiai Zainal juga menyoroti tantangan terbesar yang sering dihadapi generasi muda, yaitu rasa malas. Ia menilai Indonesia, khususnya Sidoarjo, memiliki berbagai kemudahan dan kenyamanan yang seharusnya menjadi modal untuk berkembang, bukan justru menjadi alasan untuk bermalas-malasan.

“Allah telah memberikan lingkungan yang nyaman kepada kita. Tetapi sering kali dari kenyamanan itu muncul rasa malas. Jika rasa malas tidak dilawan, kita akan tertinggal dari kelompok lain yang lebih giat belajar dan bekerja,” tuturnya.

Menurutnya, Islam sendiri telah mengajarkan umatnya untuk memerangi kemalasan. Oleh karena itu, mahasiswa harus membangun semangat belajar sepanjang hayat dan tidak cepat merasa puas dengan pencapaian yang dimiliki saat ini.

Lebih lanjut, Kiai Zainal menyampaikan harapannya agar mahasiswa UNUSIDA, khususnya kader-kader Nahdlatul Ulama, menjadi generasi penerus yang mampu membawa organisasi, masyarakat, dan bangsa menuju masa depan yang lebih baik.

“Jika hari ini kalian memiliki semangat belajar yang luar biasa dan mampu menghilangkan rasa malas, maka kalian pantas menjadi pemimpin Nahdlatul Ulama, pemimpin Kabupaten Sidoarjo, pemimpin Jawa Timur, bahkan pemimpin bangsa di masa depan,” tegasnya.

Dekan FILKOM UNUSIDA Turut Berkontribusi dalam YSEALI Regional Workshop CyberSafe ASEAN di Jakarta (Foto: Humas UNUSIDA)

Dekan FILKOM UNUSIDA Diundang dalam Forum ASEAN Outsmart the Scammers, Perkuat Kolaborasi Lawan Kejahatan Siber

JAKARTA — Dekan Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T., turut berkontribusi dalam kegiatan YSEALI Regional Workshop CyberSafe ASEAN: Equipping Young Leaders to Outsmart Scammers yang digelar di Jakarta pada akhir Januari 2026 lalu.

Workshop regional ini menjadi wadah strategis bagi para pemimpin muda dari negara-negara anggota ASEAN dan Timor-Leste untuk meningkatkan kapasitas, memperdalam pemahaman, serta membangun jejaring kolaboratif dalam menghadapi ancaman keamanan siber dan penipuan daring yang kian kompleks.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Arda menyampaikan bahwa pihaknya sangat mendukung upaya memperkuat kolaborasi regional menghadapi maraknya penipuan online dan kejahatan siber ini. Sebagai seorang dari kalangan akademisi, pihaknya memiliki komitmen bersama untuk memberantas kejahatan digital lintas negara.

“Saya hadir disini untuk mencerminkan komitmen institusi pendidikan tinggi dalam mendukung upaya pencegahan penipuan online dan kejahatan siber, sekaligus memperkuat peran akademisi dalam pengembangan literasi digital, keamanan siber, serta kolaborasi lintas negara,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (3/2/2026).

Forum ini mempertemukan praktisi, akademisi, pembuat kebijakan, serta pegiat keamanan digital dari berbagai negara di kawasan ASEAN. Melalui diskusi strategis, berbagi praktik terbaik, dan penguatan jejaring profesional, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran, kapasitas, serta kerja sama regional dalam menghadapi ancaman penipuan online yang kian kompleks dan masif.

Melalui tema Outsmart the Scammers, acara ini menegaskan pentingnya pendekatan cerdas, kolaboratif, dan berbasis pengetahuan dalam melawan pelaku kejahatan siber. Para peserta diajak memahami pola terbaru penipuan digital, dampak sosial-ekonomi yang ditimbulkan, serta strategi pencegahan dan penanganan yang efektif di tingkat nasional maupun regional.

Dalam forum ini, Dr. Arda juga turut berbagi perspektif akademik terkait penguatan literasi keamanan siber di kalangan generasi muda serta pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun ekosistem digital yang sehat. Kontribusi tersebut menegaskan peran institusi pendidikan tinggi sebagai agen perubahan, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia yang adaptif terhadap tantangan teknologi.

“Kolaborasi regional seperti sangat penting untuk menghadapi modus penipuan online yang semakin beragam, mulai dari phishing, penipuan investasi digital, hingga penyalahgunaan data pribadi,” tandasnya.

Ia mengungkapkan, kegiatan internasional ini sejalan dengan komitmen kampus untuk terus memperluas jejaring global sekaligus memperkuat kontribusi nyata dalam isu-isu strategis, khususnya keamanan siber. Ia berharap, hasil dari workshop ini dapat ditransformasikan menjadi program edukasi dan pengabdian masyarakat yang berdampak langsung, guna meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga keamanan di ruang digital.

“Sinergi berkelanjutan antarprofesional ASEAN untuk saling berbagi informasi, memperkuat kebijakan, dan mendorong aksi nyata dalam melindungi masyarakat dari ancaman kejahatan digital. Inisiatif ini menjadi langkah strategis menuju kawasan ASEAN yang lebih aman, cerdas, dan tangguh di era transformasi digital,” ungkapnya.

Kegiatan ini didukung berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap isu keamanan digital dan perlindungan masyarakat di ruang siber, serta diimplementasikan oleh Biji–Biji Initiative sebagai bagian dari komitmen bersama dalam menciptakan ekosistem digital yang aman dan terpercaya di kawasan ASEAN.

Dosen Fakultas Ilmu Komputasi dan Informasi UNILAK Rwanda Ikuti Short Course Cisco Networking Academy di UNUSIDA melalui Zoom Meeting (Foto: FILKOM UNUSIDA)

Dosen Fakultas Ilmu Komputasi dan Informasi UNILAK Rwanda Ikuti Short Course Cisco Networking Academy di UNUSIDA

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan perannya sebagai pusat pengembangan kompetensi global di bidang teknologi informasi. Sejumlah dosen dari Faculty of Computing and Information Sciences University of Lay Adventists of Kigali (UNILAK) Rwanda mengikuti Short Course Cisco Networking Academy yang diselenggarakan di UNUSIDA, Indonesia melalui zoom meeting, Selasa (23/12/2025).

Short Course Cisco Networking Academy merupakan program pelatihan global yang digagas oleh Cisco Networking Academy, bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan di bidang jaringan komputer serta teknologi informasi. Program ini diikuti oleh dosen-dosen dari berbagai perguruan tinggi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, termasuk UNILAK Rwanda.

Melalui program ini, para dosen mendapatkan pembekalan komprehensif terkait jaringan komputer berbasis standar internasional. Kompetensi yang diperoleh diharapkan dapat memperkuat kualitas pembelajaran, pengembangan kurikulum, serta mendorong riset dan inovasi teknologi di lingkungan UNILAK Rwanda.

Dekan Fakultas Ilmu Komputasi dan Informasi UNILAK Rwanda Dr. NYESHEJA M. Enan., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada UNUSIDA atas kerja sama yang telah terjalin dengan baik. Ia juga mengucapkan selamat kepada para dosen yang telah berhasil menyelesaikan program pelatihan tersebut.

“Kami berharap dengan kemampuan dan pengetahuan yang diperoleh melalui Short Course Cisco Networking Academy ini, para dosen dapat menjadi sumber daya yang andal dan kompeten di bidang teknologi informasi, serta memberikan kontribusi yang lebih besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di UNILAK Rwanda,” ujarnya.

Pihaknya menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui kerja sama strategis dengan berbagai universitas dan institusi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Sementara itu, Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T., selaku Dekan Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UNUSIDA sekaligus fasilitator dalam kegiatan Short Course Cisco Networking Academy, menyampaikan harapannya agar kerja sama antara kedua universitas dapat terus berlanjut dan berkembang.

Melalui kegiatan ini, UNUSIDA terus meneguhkan perannya sebagai perguruan tinggi yang aktif membangun jejaring global dan berkontribusi dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang teknologi informasi.

“Saya berharap kerja sama ini tidak berhenti pada sertifikasi semata, tetapi ke depan dapat merambah ke bidang penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kolaborasi akademik lainnya. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa UNUSIDA menjadi kampus yang berdampak, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia,” ungkapnya.

Arda menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi upaya dalam memperkuat kolaborasi internasional dan peningkatan kualitas sumber daya manusia perguruan tinggi. UNUSIDA tidak hanya membuka ruang kerja sama dalam bidang akademik, tetapi juga menjadi mitra strategis dalam peningkatan kompetensi dosen lintas negara.

“Program ini diharapkan dapat menjadi wahana pertukaran pengetahuan dan pengalaman, sekaligus memperkuat jejaring akademik internasional, khususnya dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi,” harapnnya.

Ia menyebut kegiatan ini juga menjadi langkah strategis UNUSIDA dalam mengimplementasikan semangat internasionalisasi kampus, sejalan dengan penguatan tridarma perguruan tinggi, khususnya pada aspek pendidikan dan pengabdian berbasis teknologi.

“Kami berharap dapat terus menjadi pusat pengembangan kompetensi digital yang inklusif, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan tinggi di tingkat regional maupun global,” pungksnya

Dekan FE UNUSIDA, Dr. Hj. Muhafidhah Novie, S.E., M.M saat menyampaikan materi dalam kegiatan Internasional Guest Lecture 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

Dekan FE UNUSIDA Jadi Narasumber dalam Internasional Guest Lecture 2025 Aliansi FEB Swasta Indonesia

PEKANBARU — Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (FE UNUSIDA), Dr. Hj. Muhafidhah Novie, S.E., M.M., menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan Internasional Guest Lecture 2025 yang diselenggarakan oleh Aliansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Swasta Indonesia (AFEBIS) di Kampus Universitas Muhammadiyah Riau (14/8/2025) lalu. Acara ini dihadiri oleh para akademisi, mahasiswa, serta praktisi ekonomi dan bisnis dari berbagai perguruan tinggi swasta di Indonesia maupun luar negeri.

Dalam kesempatan tersebut, Novie menegaskan pentingnya Strategi Pemasaran Adaptif sebagai kunci keberlangsungan bisnis di tengah perubahan pasar yang cepat. Hal ini disampaikan dalam forum akademik yang membahas tantangan dan peluang dunia pemasaran di era digital.

Menurutnya, kondisi pasar yang dinamis, perkembangan teknologi, serta perubahan preferensi konsumen memaksa perusahaan untuk senantiasa beradaptasi. “Pemasaran adaptif membantu perusahaan tetap relevan dan kompetitif di tengah persaingan yang semakin ketat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Novie memaparkan beberapa ciri utama pemasaran adaptif, antara lain dengan respons cepat terhadap feedback pasar dan konsumen, fleksibilitas dalam mengubah pendekatan pemasaran berdasarkan data serta situasi pasar, kecepatan pengambilan keputusan berbasis informasi real-time, dan pemanfaatan teknologi seperti big data, analitik, dan otomasi untuk memprediksi perubahan pasar.

Ia menekankan pentingnya fleksibilitas dan inovasi dalam menghadapi perubahan pasar global. Ia menjelaskan bahwa di era digital dan kompetisi yang semakin ketat, perusahaan tidak lagi bisa mengandalkan strategi pemasaran konvensional semata, melainkan perlu mengadopsi pendekatan adaptif yang responsif terhadap tren, perilaku konsumen, serta perkembangan teknologi.

“Strategi pemasaran adaptif bukan hanya soal cepat merespons perubahan, tetapi juga tentang bagaimana perusahaan mampu membaca peluang, memanfaatkan data, serta membangun kedekatan emosional dengan konsumen,” terangnya.

Ia juga menambahkan bahwa penerapan strategi ini memberikan berbagai keuntungan, seperti peningkatan relevansi merek, kepuasan pelanggan, hingga efisiensi anggaran pemasaran. Meski demikian, terdapat pula tantangan seperti keterbatasan sumber daya, ketergantungan pada data yang akurat, dan kebutuhan akan struktur organisasi yang fleksibel.

Selain itu, ia menyinggung pentingnya sinergi antara inovasi produk, pemanfaatan platform digital, serta strategi komunikasi yang personal agar perusahaan mampu bertahan dan tumbuh.

“Strategi pemasaran adaptif bukan hanya kebutuhan, melainkan tuntutan agar perusahaan mampu bertahan, tumbuh, dan bersaing di era global saat ini,” tergasnya.

Kehadiran Dekan FE UNUSIDA dalam forum internasional ini menjadi bukti kontribusi nyata UNUSIDA dalam pengembangan ilmu pengetahuan, sekaligus memperkuat jejaring akademik di tingkat nasional maupun internasional. (MY)

Keikutsertaan HIMA Teknik Lingkungan UNUSIDA dalam Forum Internasional ZE Talk (Foto: Istimewa)

HMTL UNUSIDA Ikut Serta dalam ZE Talk: Kupas Tuntas Peluang Karier Insinyur Indonesia di Industri Energi Australia

Sidoarjo – Komitmen untuk memperluas wawasan global dan membangun relasi profesional terus digaungkan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Hal ini dibuktikan melalui partisipasi aktif HMTL dalam forum inspiratif ZE Talk bertajuk ‘Bongkar Rahasia Karier Insinyur Indonesia di Industri Energi Australia’, yang diselenggarakan oleh PT Zona Media Pembaru (zonaebt.com), sebuah startup edukasi dan media berbasis energi terbarukan yang aktif sejak 2021.

Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui platform Zoom Meeting, Selasa (1/7/2025) yang menghadirkan Harso Adjie Brotosukmono, seorang Project Manager & Economic Consultant di perusahaan konsultan teknik multinasional di Perth, Australia. Forum internasional ini memberikan pemahaman mendalam mengenai strategi membangun karier insinyur Indonesia di luar negeri, khususnya di industri energi di Australia.

Dengan fokus pada tiga pilar utama, yaitu qualification, working rights, dan smart strategy. Para peserta diajak menelaah tantangan sekaligus peluang karier global dalam era transisi energi terbarukan. Forum ini pun menjadi jendela pembelajaran langsung dari pengalaman profesional diaspora Indonesia di sektor strategis energi dunia.

Koordinator Hubungan Eksternal & Kemitraan HMTL UNUSIDA, Gilang Ramadhani Kurniawan, menyampaikan bahwa partisipasi dalam ZE Talk ini membawa manfaat besar dalam membuka cakrawala berpikir mahasiswa.

Ia menyebutkan bahwa Keterlibatan HIMA TL UNUSIDA dalam ZE Talk merupakan implementasi nyata dari program kerja unggulan bertajuk ‘ENVIRO NEXUS’ yang digagas oleh Departemen Urusan Sosial, Diplomasi, dan Relasi Kemitraan (UDARA). Program ini berfokus pada penguatan relasi eksternal dan kolaborasi keprofesian guna menyiapkan mahasiswa teknik lingkungan yang adaptif terhadap perubahan global.

“Kami percaya bahwa wawasan global sangat penting bagi mahasiswa teknik lingkungan hari ini. Melalui ZE Talk, kami berharap teman-teman mendapatkan insight praktis dan perspektif nyata tentang tantangan serta peluang karier insinyur Indonesia di kancah internasional, khususnya dalam industri energi terbarukan,” tutur Gilang, Kamis (18/7/2025).

Dalam kegiatan ini, HMTL UNUSIDA mendelegasikan sejumlah pengurus dan anggota untuk menjadi partisipan aktif. Mereka tidak hanya hadir sebagai pendengar, namun juga turut terlibat dalam sesi diskusi dan membangun koneksi dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Partisipasi ini menegaskan peran HMTL UNUSIDA sebagai fasilitator pengembangan kapasitas mahasiswa, khususnya dalam bidang keprofesian dan kesiapan menghadapi tantangan global. Sinergi antara organisasi mahasiswa dan zonaebt.com juga menjadi bukti bahwa kolaborasi strategis antara dunia kampus dan ekosistem profesional sangat penting dalam mendukung transisi energi terbarukan yang inklusif dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, Gilang menjelaskan bahwa tertarik dengan tema pembahasan yang relevan dan narasumber berpengalaman. ZE Talk menghadirkan atmosfer pembelajaran yang terbuka dan inspiratif, sesuai dengan kebutuhan mahasiswa teknik lingkungan masa kini.

Keikutsertaan HIMA TL UNUSIDA dalam kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal yang akan membuka lebih banyak peluang kolaborasi internasional, serta memperkuat posisi mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda yang visioner, kompeten, dan siap bersaing di dunia energi masa depan.

“Forum ini juga mendorong mahasiswa untuk berpikir lebih luas dan strategis dalam menapaki jenjang karier, baik di dalam negeri maupun di pasar global,” ungkapnya.

Penulis: Muchammad Waziruddin (MY)