Pos

Guru Besar UiTM Malaysia Prof Shukor Sanim saat menjadi narasumber dalam International Guest Lecture UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Guru Besar UiTM Malaysia Prof Shukor Sanim Bahas Masa Depan Peradaban di Era AI dalam International Guest Lecture di UNUSIDA

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali memperkuat jejaring akademik internasional melalui kegiatan International Guest Lecture yang menghadirkan akademisi dari Malaysia, Assoc. Prof. Ts. Dr. Shukor Sanim Mohd Fauzi dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), Kamis (4/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 5 Gedung A UNUSIDA ini mengangkat tema “AI and the Future of Civilization: Pedagogical Reconstruction, Economic Acceleration, and Contemporary Ethical Matrices in the ASEAN Context”.

Kuliah tamu internasional ini diikuti oleh mahasiswa, dosen, dan civitas akademika UNUSIDA yang antusias mendiskusikan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) serta dampaknya terhadap pendidikan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat ASEAN. Dalam rangka menghadirkan wawasan global bagi mahasiswa serta memperkuat kesiapan generasi muda menghadapi perubahan peradaban yang dipengaruhi oleh perkembangan kecerdasan buatan.

Dalam pemaparannya, Prof. Shukor Sanim menegaskan bahwa AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan atau fiksi ilmiah, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Saat ini, AI telah digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, perbankan, pertanian, hingga penelitian ilmiah.

“Teknologi sebelumnya membantu pekerjaan fisik manusia, sedangkan AI membantu pekerjaan kognitif manusia, termasuk proses berpikir, pengambilan keputusan, dan kreativitas,” jelasnya.

Menurutnya, perkembangan AI merupakan salah satu lompatan besar dalam sejarah peradaban manusia setelah revolusi industri, penemuan listrik, dan internet. Jika revolusi industri mengubah cara manusia bekerja secara fisik, maka AI mengubah cara manusia berpikir dan memproses informasi.

Trasformasi Pendidikan di Era AI
Salah satu fokus utama yang dibahas adalah perubahan paradigma pendidikan di era kecerdasan buatan. Prof. Shukor menjelaskan bahwa perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menjadi tempat penyampaian informasi, karena informasi kini dapat diakses dengan mudah melalui teknologi AI.

“Mahasiswa tidak lagi membutuhkan dosen hanya sebagai sumber informasi. Mereka membutuhkan dosen sebagai pembimbing yang mampu menanamkan kebijaksanaan, pemikiran kritis, dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pendidikan masa depan harus berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, kepemimpinan, kecerdasan emosional, dan kemampuan berkolaborasi lintas disiplin ilmu. Perguruan tinggi harus bertransformasi dari sekadar penyedia informasi menjadi pusat pengembangan kapasitas manusia.

Selain itu, AI telah mengubah cara belajar melalui kemampuan melakukan sintesis penelitian, menghasilkan kode program, menerjemahkan bahasa secara instan, hingga membantu pembuatan laporan dan presentasi secara cepat.

Peluang Besar Ekonomi Digital ASEAN
Pada sektor ekonomi, Prof. Shukor memaparkan bahwa AI menjadi motor penggerak utama ekonomi digital yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional di berbagai sektor industri.

Ia mengutip proyeksi ekonomi digital ASEAN yang diperkirakan akan tumbuh dari sekitar 200 miliar dolar AS pada tahun 2022 menjadi 1 triliun dolar AS pada tahun 2030. Oleh karena itu, negara-negara ASEAN perlu menentukan posisi strategisnya di tengah perkembangan teknologi global.

“Pertanyaan penting bagi ASEAN adalah apakah kita hanya akan menjadi konsumen teknologi, atau mampu menjadi produsen dan inovator teknologi AI,” katanya.

Menurutnya, transformasi tenaga kerja juga akan terjadi secara signifikan. Sejumlah pekerjaan administratif rutin diprediksi akan berkurang, sementara profesi baru seperti AI Engineer, Data Scientist, AI Ethicist, dan Digital Strategist akan semakin dibutuhkan.

Tantangan Etika dan Integritas Akademik
Di balik berbagai peluang yang ditawarkan AI, Prof. Shukor juga mengingatkan adanya tantangan etika yang harus dihadapi. Ia menyebut bahwa tantangan terbesar AI bukanlah persoalan teknologi, melainkan persoalan moral dan etika.

Fenomena deepfake, manipulasi suara dan video, penyebaran informasi palsu, serta penyalahgunaan AI untuk menghasilkan sumber referensi fiktif menjadi ancaman nyata yang perlu diantisipasi.

Dalam dunia pendidikan, penggunaan AI juga memunculkan tantangan baru terkait integritas akademik, seperti plagiarisme, ketergantungan berlebihan terhadap teknologi, serta menurunnya kemampuan berpikir mandiri mahasiswa.

Output AI harus selalu diverifikasi. Teknologi dapat membantu manusia, tetapi tidak boleh menggantikan kemampuan berpikir kritis dan tanggung jawab akademik,” tegasnya.

Universitas Harus menjadi Pemimpin Tranformasi AI
Lebih lanjut, Prof. Shukor menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat inovasi dan pengembangan talenta digital di kawasan ASEAN. Universitas diharapkan mampu menjadi pelopor dalam menciptakan solusi AI yang sesuai dengan karakteristik masyarakat ASEAN yang multikultural, multibahasa, dan beragam secara ekonomi.

Ia juga mendorong kolaborasi antarnegara ASEAN dalam bidang kesehatan digital, pendidikan berbasis teknologi, serta pengembangan kebijakan AI yang berlandaskan etika dan nilai-nilai kemanusiaan.

Lebih lanjut, Prof. Shukor menyampaikan bahwa masa depan bukanlah tentang menggantikan manusia dengan AI, melainkan memberdayakan manusia melalui teknologi.

“Teknologi tidak akan mampu membangun peradaban yang lebih baik sendirian. Manusia harus memandunya dengan etika, kepemimpinan, dan visi yang bijaksana,” pungkasnya.

Ketua PCNU Sidoarjo, KH Zainal Abidin saat menyampaikan sambutan dalam International Guest Lecture di UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Ketua PCNU Sidoarjo Ajak Mahasiswa UNUSIDA Bangun Mimpi Besar untuk Berdaya Saing Global

SIDOARJO — Semangat untuk terus belajar, memiliki cita-cita tinggi, dan menghilangkan rasa malas menjadi pesan utama yang disampaikan Ketua PCNU Sidoarjo, KH. Muhammad Zainal Abidin dalam kegiatan International Guest Lecture yang menghadirkan Associate Professor Ts. Dr. Shukor Sanim Mohd Fauzi dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia di Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Kamis (4/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Zainal mengingatkan para mahasiswa bahwa kemajuan individu maupun bangsa tidak akan tercapai jika seseorang merasa bangga dengan kebodohan dan berhenti belajar. Menurutnya, di tengah persaingan global yang semakin ketat, generasi muda harus memiliki komitmen kuat untuk terus menambah wawasan dan pengetahuan.

Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan internasional mengenai perkembangan kecerdasan buatan dan peradaban masa depan, tetapi juga mendapatkan motivasi untuk terus belajar, bermimpi besar, dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang berintegritas serta berdaya saing global.

“Kalau kita tidak ingin tertinggal dengan negara lain, kampus lain, atau kelompok lain, maka jangan pernah bangga dengan kebodohan. Bangun komitmen untuk terus ingin tahu, terus belajar, dan terus mengejar cita-cita,” pesannya di hadapan mahasiswa dan civitas akademika UNUSIDA.

Ia juga mengajak mahasiswa untuk memiliki impian yang besar dan tidak membatasi diri pada target-target yang terlalu kecil. Menurutnya, cita-cita harus digantungkan setinggi langit agar mampu melahirkan semangat dan kerja keras yang luar biasa.

“Jangan hanya bercita-cita menjadi dokter atau dosen. Gantungkan cita-cita setinggi mungkin. Jika ingin memiliki banyak dokter sebagai bawahan, berarti Anda harus memiliki rumah sakit. Jika ingin memiliki banyak dosen sebagai bawahan, berarti Anda harus memiliki kampus. Cita-cita besar akan melahirkan langkah besar,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mencontohkan perkembangan lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU yang saat ini telah memiliki ratusan satuan pendidikan dan ribuan tenaga pendidik. Menurutnya, keberhasilan tersebut lahir dari keberanian untuk bermimpi besar dan konsisten bekerja mewujudkannya.

Selain itu, Kiai Zainal juga menyoroti tantangan terbesar yang sering dihadapi generasi muda, yaitu rasa malas. Ia menilai Indonesia, khususnya Sidoarjo, memiliki berbagai kemudahan dan kenyamanan yang seharusnya menjadi modal untuk berkembang, bukan justru menjadi alasan untuk bermalas-malasan.

“Allah telah memberikan lingkungan yang nyaman kepada kita. Tetapi sering kali dari kenyamanan itu muncul rasa malas. Jika rasa malas tidak dilawan, kita akan tertinggal dari kelompok lain yang lebih giat belajar dan bekerja,” tuturnya.

Menurutnya, Islam sendiri telah mengajarkan umatnya untuk memerangi kemalasan. Oleh karena itu, mahasiswa harus membangun semangat belajar sepanjang hayat dan tidak cepat merasa puas dengan pencapaian yang dimiliki saat ini.

Lebih lanjut, Kiai Zainal menyampaikan harapannya agar mahasiswa UNUSIDA, khususnya kader-kader Nahdlatul Ulama, menjadi generasi penerus yang mampu membawa organisasi, masyarakat, dan bangsa menuju masa depan yang lebih baik.

“Jika hari ini kalian memiliki semangat belajar yang luar biasa dan mampu menghilangkan rasa malas, maka kalian pantas menjadi pemimpin Nahdlatul Ulama, pemimpin Kabupaten Sidoarjo, pemimpin Jawa Timur, bahkan pemimpin bangsa di masa depan,” tegasnya.

PIAUD UNUSIDA Gelar Kuliah Tamu “Cipta Lagu Anak Usia Dini” Bersama Dosen PG-PAUD Universitas Trunojoyo Madura (Foto: Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Gelar Kuliah Tamu Cipta Lagu Anak Usia Dini Bersama Dosen PG PAUD UTM

SIDOARJO Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Guest Lecturer atau Kuliah Tamu dalam Mata Kuliah Pembelajaran Seni Musik dengan tema ‘Cipta Lagu Anak Usia Dini: Proses Produksi Lagu dari Ide Hingga Penyajian’, Selasa (9/12/2025).

Acara ini menghadirkan narasumber Angga Fitriyono, S.Pd., M.Pd., dosen PG-PAUD Universitas Trunojoyo Madura (UTM) sekaligus praktisi serta komposer musik anak yang telah menghasilkan berbagai karya edukatif. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai proses kreatif dalam menciptakan karya musik untuk anak usia dini.

Dalam pemaparannya, Angga menjelaskan kepada mahasiswa tentang memahami proses kreatif menciptakan lagu anak usia dini, mulai dari menggali ide, membuat lirik, menentukan melodi, hingga menyusun lagu lengkap dengan bait dan reff. Ia juga mencontohkan penyajian lagu-lagu anak modern yang ramah anak dan mudah diterapkan dalam pembelajaran PAUD.

Selain praktik cipta lagu, Angga menekankan pentingnya membangun budaya pendidikan kreatif sejak dini. Ia mengajak mahasiswa memahami dampak penggunaan gawai pada perkembangan anak serta mengajarkan strategi membatasi penggunaan handphone.

Ia mencontohkan inovasi tugas akhir mahasiswa PG PAUD UTM yang menghasilkan karya lagu anak beserta rekaman audio dan video sebagai bentuk kreativitas sekaligus pendokumentasian pembelajaran, lengkap dengan laporan pengkaryaan tugas akhir.

“Anak perlu dilatih membuat kesepakatan penggunaan HP agar tumbuh berkembang secara optimal dan terhindar dari kecanduan,” ujar Angga.

Sementara itu, Kaprodi PIAUD UNUSIDA, Rif’atul Anita, S. Pd., M. Pd., menyampaikan bahwa kuliah tamu ini merupakan bagian dari realisasi kerja sama dengan Program Studi PG PAUD UTM. Sebelumnya, Himpunan Mahasiswa (Hima) PIAUD UNUSIDA juga melakukan benchmarking bersama HIMA PIAUD UTM, juga bersama dosen-dosen untuk mengembangkan kualitas akademik dan kreativitas calon guru PAUD.

“Kegiatan ini diharapkan memberi manfaat besar bagi pendidikan calon guru PAUD, terutama dalam memperkuat kompetensi seni dan kreativitas,” ungkapnya.

Ke depan, mahasiswa PIAUD UNUSIDA akan memperoleh tugas khusus menciptakan lagu anak sebagai portofolio wajib setiap angkatan. Karya-karya tersebut akan dihimpun menjadi album lagu anak versi PIAUD UNUSIDA yang tidak hanya menjadi arsip kreatif, tetapi juga dapat diajarkan kepada peserta didik mereka kelak.

Dengan adanya kuliah tamu ini, ia berharap mahasiswa semakin percaya diri dalam berinovasi dan mampu menjadi pendidik PAUD yang kreatif, adaptif, serta siap menghadirkan pendidikan anak usia dini yang berkualitas dan menyenangkan.

“Kami berkomitmen PIAUD UNUSIDA dalam menghadirkan pembelajaran kolaboratif yang relevan dengan kebutuhan pendidikan anak usia dini. Guna mempersiapkan calon guru PAUD yang menginspirasi dan mampu menghasilkan karya kreatif,” pungkasnya.

Program Studi Teknik Lingkungan UNUSIDA Gelar Academic Guest Lecturer: Membumikan Implementasi Bahan Kajian Teknik Lingkungan pada Dunia Kerja di Era Green Industry (Foto: Muchammad Waziruddin/Humas UNUSIDA)

Prodi Teknik Lingkungan UNUSIDA Gelar Academic Guest Lecturer, Sinergi Akademisi dan Praktisi untuk Green Innovation

SIDOARJO – Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan konsistensinya dalam memperkuat kompetensi mahasiswa melalui kegiatan Academic Guest Lecturer bertajuk ‘Implementasi Bahan Kajian Teknik Lingkungan pada Dunia Kerja di Era Green Industry’.

Kegiatan yang dilaksanakan di Auditorium Lantai 5 Kampus 2 UNUSIDA, pada Jum’at (03/10/2025) malam. Kegiatan ini menghadirkan Iman Wibowo, S.T., M.T., Koordinator keahlian bidang Teknik Lingkungan di Studio Tuwah Samudera Engineering, sekaligus dosen Teknik Lingkungan UNUSIDA, sebagai pemateri utama.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa aktif Teknik Lingkungan UNUSIDA, mulai dari mahasiswa baru angkatan 2025 hingga mahasiswa tingkat akhir angkatan 2022.

Kepala Program Studi Teknik Lingkungan UNUSIDA, Muchammad Tamyiz, S.Si., M.Si., Ph.D. menegaskan pentingnya kegiatan akademik kontekstual seperti ini sebagai wahana penguatan kompetensi dan relevansi pembelajaran.

“Melalui kegiatan Academic Guest Lecturer ini, kami berharap mahasiswa tidak hanya memahami konsep teoritis dari setiap mata kuliah, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara aplikatif di dunia kerja. Dunia industri kini menuntut lulusan Teknik Lingkungan yang adaptif, solutif, dan berorientasi pada prinsip green sustainability,” ujar Tamyiz.

Ia sangat mengapresiasi antusiasme mahasiswa dalam mengikuti kegiatan penguatan akademik. suasana interaktif dan penuh semangat keilmuan. Forum tersebut berjalan secara mengalir menunjukkan kesadaran baru di kalangan mahasiswa bahwa perkuliahan bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan fondasi menuju profesionalisme di bidang lingkungan.

Ia berharap mahasiswa Teknik Lingkungan UNUSIDA dapat meneladani semangat para praktisi, memadukan pengetahuan teoritis dan pengalaman praktis sebagai bekal menjadi engineer lingkungan yang berintegritas, inovatif, dan berwawasan green industry.

“Kegiatan ini menjadi bukti nyata sinergi antara dosen, mahasiswa, dan praktisi industri dalam membangun wawasan aplikatif yang berpijak pada nilai keberlanjutan,” tuturnya.

Sesi materi berlangsung interaktif, Iman Wibowo menggambarkan dinamika dunia kerja di sektor Teknik Lingkungan yang kini bertransformasi menuju era industri hijau (green industry).

Ia menjelaskan bahwa setiap bahan kajian Teknik Lingkungan mulai dari air bersih, air limbah dan drainase, pengelolaan persampahan, pencemaran udara, hingga manajemen lingkungan, memiliki relevansi kuat dengan praktik profesional di lapangan.

“Dalam dunia konsultan lingkungan, pemahaman komprehensif tentang wastewater treatment dan environmental impact assessment menjadi bekal utama. Misalnya, pada proyek perancangan sistem IPAL di kawasan industri, seorang engineer lingkungan harus mampu mengombinasikan perhitungan teknis dengan pertimbangan sosial dan ekologis,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia membagikan pengalaman menangani proyek penurunan beban pencemar air limbah di kawasan industri tekstil, di mana pengendalian warna dan bahan kimia organik menjadi tantangan tersendiri.

“Kami pernah menemukan konsentrasi Methyl Orange yang sangat tinggi pada effluent limbah tekstil. Dari situ kami belajar bahwa inovasi teknologi adsorben sangat krusial dalam mengoptimalkan efisiensi pengolahan limbah cair,” ungkapnya.

Tak hanya menyoroti aspek teknis, ia juga menyisipkan pesan inspiratif mengenai filosofi pembelajaran. Ia mengingatkan mahasiswa bahwa proses belajar sejati tidak berhenti di ruang kuliah.

Learning is a lifelong process of keeping your mind open to new ideas and experiences,” pesannya.

Tak hanya itu, sesi tanya jawab berlangsung hangat dan antusias. Salah satu mahasiswa, Gilang Ramadhani Kurniawan (angkatan 2024), yang juga bekerja sebagai teknisi di perusahaan konsultan lingkungan, mengajukan pertanyaan seputar penerapan bahan kimia dalam sistem pengolahan limbah cair.

“Dalam pengalaman saya di lapangan, efisiensi penurunan COD dan BOD sering kali tidak stabil meskipun dosis koagulan sudah sesuai. Bagaimana cara menyeimbangkan pendekatan teoritis dengan kondisi lapangan yang dinamis?” tanyanya.

Menanggapi hal itu, Iman menjawab dengan refleksi mendalam berbasis pengalaman profesionalnya.

“Itulah pentingnya engineering judgment. Setiap sistem pengolahan tidak bisa disamaratakan. Faktor pH, temperatur, dan jenis bahan organik sangat berpengaruh. Maka, observasi lapangan dan uji coba berulang menjadi kunci. Teori memberi kita arah, tetapi lapangan memberi kita kebijaksanaan,” terangnya.

Menurutnya, era green industry menuntut setiap perusahaan untuk memiliki tenaga ahli yang mampu mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam setiap proses produksi. Dengan demikian, peluang kerja bagi lulusan Teknik Lingkungan semakin terbuka lebar, tidak hanya di sektor publik tetapi juga di berbagai perusahaan swasta dan konsultan lingkungan.

Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, Prodi Teknik Lingkungan UNUSIDA terus berkomitmen menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan zaman, sekaligus turut berperan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. (MY)

Dekan FE UNUSIDA, Dr. Hj. Muhafidhah Novie, S.E., M.M saat menyampaikan materi dalam kegiatan Internasional Guest Lecture 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

Dekan FE UNUSIDA Jadi Narasumber dalam Internasional Guest Lecture 2025 Aliansi FEB Swasta Indonesia

PEKANBARU — Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (FE UNUSIDA), Dr. Hj. Muhafidhah Novie, S.E., M.M., menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan Internasional Guest Lecture 2025 yang diselenggarakan oleh Aliansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Swasta Indonesia (AFEBIS) di Kampus Universitas Muhammadiyah Riau (14/8/2025) lalu. Acara ini dihadiri oleh para akademisi, mahasiswa, serta praktisi ekonomi dan bisnis dari berbagai perguruan tinggi swasta di Indonesia maupun luar negeri.

Dalam kesempatan tersebut, Novie menegaskan pentingnya Strategi Pemasaran Adaptif sebagai kunci keberlangsungan bisnis di tengah perubahan pasar yang cepat. Hal ini disampaikan dalam forum akademik yang membahas tantangan dan peluang dunia pemasaran di era digital.

Menurutnya, kondisi pasar yang dinamis, perkembangan teknologi, serta perubahan preferensi konsumen memaksa perusahaan untuk senantiasa beradaptasi. “Pemasaran adaptif membantu perusahaan tetap relevan dan kompetitif di tengah persaingan yang semakin ketat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Novie memaparkan beberapa ciri utama pemasaran adaptif, antara lain dengan respons cepat terhadap feedback pasar dan konsumen, fleksibilitas dalam mengubah pendekatan pemasaran berdasarkan data serta situasi pasar, kecepatan pengambilan keputusan berbasis informasi real-time, dan pemanfaatan teknologi seperti big data, analitik, dan otomasi untuk memprediksi perubahan pasar.

Ia menekankan pentingnya fleksibilitas dan inovasi dalam menghadapi perubahan pasar global. Ia menjelaskan bahwa di era digital dan kompetisi yang semakin ketat, perusahaan tidak lagi bisa mengandalkan strategi pemasaran konvensional semata, melainkan perlu mengadopsi pendekatan adaptif yang responsif terhadap tren, perilaku konsumen, serta perkembangan teknologi.

“Strategi pemasaran adaptif bukan hanya soal cepat merespons perubahan, tetapi juga tentang bagaimana perusahaan mampu membaca peluang, memanfaatkan data, serta membangun kedekatan emosional dengan konsumen,” terangnya.

Ia juga menambahkan bahwa penerapan strategi ini memberikan berbagai keuntungan, seperti peningkatan relevansi merek, kepuasan pelanggan, hingga efisiensi anggaran pemasaran. Meski demikian, terdapat pula tantangan seperti keterbatasan sumber daya, ketergantungan pada data yang akurat, dan kebutuhan akan struktur organisasi yang fleksibel.

Selain itu, ia menyinggung pentingnya sinergi antara inovasi produk, pemanfaatan platform digital, serta strategi komunikasi yang personal agar perusahaan mampu bertahan dan tumbuh.

“Strategi pemasaran adaptif bukan hanya kebutuhan, melainkan tuntutan agar perusahaan mampu bertahan, tumbuh, dan bersaing di era global saat ini,” tergasnya.

Kehadiran Dekan FE UNUSIDA dalam forum internasional ini menjadi bukti kontribusi nyata UNUSIDA dalam pengembangan ilmu pengetahuan, sekaligus memperkuat jejaring akademik di tingkat nasional maupun internasional. (MY)

Prof. Dr. Nangkula Utaberta saat menyampaikan materi dalam Guest Lecturer (Foto: Humas Unusida)

Guest Lecturer UNUSIDA dan UCSI Malaysia, Prof Nangkula Utaberta Bagikan Strategi Sukses Publikasi Internasional

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar kegiatan Guest Lecturer atau Kuliah Tamu dengan mendatangkan narasumber dari Universitas College Sedaya International (UCSI) Malaysia, Prof Nangkula Utaberta. Kegiatan yang mengusung tema ‘Mastering International Journal Writing: Strategies for High Impact Publication’ ini dipusatkan di Hall Kampus 2 Unusida, Selasa (25/02/2025).

Dalam kesempatan tersebut, rof. Dr. Nangkula Utaberta, seorang profesor dan peneliti senior dari UCSI Malaysia, memberikan paparan mengenai strategi-strategi penulisan artikel untuk jurnal internasional yang berdampak besar. Ia memaparkan bagaimana memilih jurnal yang tepat, cara menulis abstrak yang menarik, serta pentingnya melakukan peer review yang konstruktif.

Sebagai seorang cendekiawan yang telah menulis banyak karya ilmiah, Prof Nangkula menerangkan, jurnal akademik atau ilmiah adalah terbitan berkala yang memuat keilmuan yang berkaitan dengan disiplin ilmu tertentu.

Jurnal akademik menerbitkan artikel ilmiah yang ditinjau oleh rekan sejawat yang ditulis oleh para ahli. Tujuan dari jurnal akademis adalah untuk memberikan para peneliti tempat untuk mentransfer pengetahuan mereka satu sama lain, dan menyumbangkan apa yang mereka bisa untuk rancangan besar untuk meningkatkan pengetahuan alam, dan menyempurnakan semua Seni Filsafat, dan Sains.

“Fungsi jurnal adalah menyebarkan ilmu, bukan mencari uang bagi penerbitnya,” imbuhnya.

Menurutnya, pentingnya seorang dosen, mahasiswa, serta para peneliti agar dapat mengembangkan kemampuan dalam menulis jurnal internasional. Kemampuan menulis jurnal internasional sangat penting untuk meningkatkan kualitas penelitian, memperluas jaringan akademik, dan memberikan dampak yang signifikan terhadap masyarakat dan dunia ilmiah. Oleh karena itu harus terus mengembangkan kemampuan ini demi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Publikasi internasional merupakan salah satu cara terbaik untuk membuat penelitian kita dikenal di kancah global, tetapi kualitas dan dampak dari artikel yang kita tulis juga sangat penting,” terangnya.

Prof Nangkula berharap, UNUSIDA dan UCSI Malaysia dapat bekerja sama memberikan wawasan dan keterampilan baru bagi peserta untuk menghasilkan karya ilmiah yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta berdampak positif di tingkat internasional.

Ia yakin dosen dan mahasiswa UNUSIDA dapat juga berkontribusi dan mengambil peran terhadap permasalahan di sekitar. Dengan dedikasi, kreativitas, dan semangat penelitian serta pengabdian kepada masyarakat yang tinggi akan mampu menghasilkan karya ilmiah yang tidak hanya memenuhi standar global, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat dan dunia akademik.

“Saya yakin bahwa mahasiswa UNUSIDA memiliki potensi luar biasa untuk menghasilkan jurnal internasional berkualitas,” pungkasnya.

 

(my)