Pos

FGD Penelitian Dosen PIAUD UNUSIDA Ungkap Tingkat Pemahaman Orang Tua tentang Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini (Foto: Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Soroti Peran Orang Tua dan Lembaga PAUD dalam Peningkatan Kesehatan dan Gizi Anak

SIDOARJO — Upaya meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi anak usia dini membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari keluarga, lembaga pendidikan, hingga pemerintah. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) penelitian yang diselenggarakan oleh tim peneliti dari Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Rabu (10/6/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari riset yang dipimpin oleh Ketua Peneliti, Shofiyatuz Zahroh, S.Sos., M.Pd. FGD tersebut menjadi forum strategis untuk memotret kondisi riil di lapangan sekaligus menghimpun berbagai masukan guna memperkuat kebijakan dan praktik pendidikan anak usia dini, khususnya terkait kesehatan dan gizi anak.

Dalam pemaparannya, tim peneliti menegaskan bahwa kesehatan dan gizi merupakan dua faktor utama yang sangat menentukan tumbuh kembang anak. Kedua aspek tersebut juga menjadi perhatian serius dalam berbagai program nasional, termasuk upaya percepatan penanganan masalah gizi anak di Indonesia.

“Data yang kami sampaikan masih bersifat sementara dan apa adanya. Namun, dari temuan awal ini akan muncul berbagai hal yang mungkin tidak kita duga sebelumnya dan dapat membuka kesadaran bersama tentang pentingnya peran orang tua,” ungkapnya.

Hasil sementara penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat pemahaman orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak berdasarkan wilayah. Kabupaten Sidoarjo mencatat skor tertinggi dalam pemahaman kesehatan dan gizi anak. Sebaliknya, wilayah Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, masih berada pada tingkat pemahaman yang relatif rendah.

Temuan menarik lainnya menunjukkan bahwa keberadaan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam meningkatkan literasi orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak. Di wilayah Waru, misalnya, tingkat pemahaman orang tua terkait kesehatan dan gizi anak tergolong lebih baik dibandingkan daerah lainnya.

Penelitian ini juga menemukan bahwa tingkat pendidikan maupun pendapatan orang tua tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman gizi anak. Orang tua dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi yang lebih tinggi cenderung memberikan kebebasan lebih besar kepada anak dalam memilih makanan atau jajanan. Namun di sisi lain, mereka umumnya memiliki perhatian lebih tinggi terhadap aspek kesehatan seperti imunisasi, pemeriksaan kesehatan, dan penanganan medis.

Wakil Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UNUSIDA tersebut berharap, melalui FGD ini mampu melahirkan berbagai rekomendasi yang dapat menjadi dasar penguatan program pendidikan keluarga, peningkatan literasi kesehatan, serta pengembangan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan tumbuh kembang anak usia dini.

“Investasi terbaik dalam pembangunan bangsa sesungguhnya dimulai dari perhatian yang serius terhadap kesehatan, gizi, dan pendidikan anak sejak usia dini. Sebab, kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh bagaimana bangsa ini merawat dan mempersiapkan anak-anaknya hari ini,” terangnya.

Sementara itu, Koordinator Litbangjirap BRIDA Jawa Timur, Wiwik Heny Winarsih, M.Si., yang hadir sebagai narasumber memberikan penekanan penting terkait literasi gizi bagi masyarakat. Menurutnya, masih banyak orang tua yang memiliki persepsi keliru mengenai indikator kesehatan anak.

“Pemahaman masyarakat masih perlu diperkuat. Tidak semua anak yang tampak gemuk itu sehat. Justru sekarang banyak ditemukan kasus kelebihan gula pada anak. Ini perlu edukasi serius, termasuk pembatasan konsumsi makanan tertentu sejak dini,” ujarnya.

Wiwik juga mengingatkan pentingnya mengenalkan berbagai jenis makanan kepada anak sejak usia dini. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat membantu anak memiliki pola konsumsi yang lebih sehat dan beragam. Oleh karena itu, pihaknya sepakat bahwa peningkatan kualitas kesehatan dan gizi anak tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Sinergi antara keluarga, lembaga pendidikan, tenaga kesehatan, dan pemangku kebijakan menjadi kunci utama agar berbagai program intervensi dapat berjalan efektif dan memberikan dampak nyata.

“Anak yang sejak kecil tidak dikenalkan variasi makanan cenderung memiliki preferensi makanan yang terbatas dan lebih mudah bergantung pada makanan instan. Karena itu, pembiasaan pola makan beragam perlu dilakukan sejak dini,” tambahnya.

Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak strategis sebagai pemangku kebijakan, di antaranya perwakilan dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sidoarjo. Selain itu, forum ini juga dihadiri oleh organisasi profesi dan mitra lembaga pendidikan anak usia dini, seperti IGRA, IGTKI, HIMPAUDI, serta sejumlah kepala RA, TK, dan KB di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya.

PIAUD UNUSIDA Gelar FGD Penelitian tentang Pemahaman Orang Tua terhadap Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini di Sumenep (Foto: Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Gelar FGD Penelitian tentang Pemahaman Orang Tua terhadap Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini

SUMENEP — Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Focus Group Discussion (FGD) penelitian bertema ‘Tingkat Pemahaman Orang Tua Tentang Kesehatan dan Gizi Pada Anak Usia Dini 4–6 Tahun’, Kamis (7/6/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian berjudul ‘Analisis Tingkat Pemahaman Orang Tua tentang Stunting (Kesehatan dan Gizi) pada Anak Usia Dini (4–6 Tahun) (Studi Kasus di Sidoarjo–Sumenep)’.

Penelitian tersebut diketuai oleh Shofiyatuz Zahro, S.Sos., M.Pd., dosen PIAUD UNUSIDA. FGD diselenggarakan sebagai upaya akademik untuk mengkaji sejauh mana pemahaman orang tua mengenai kesehatan dan gizi anak usia dini, khususnya dalam pencegahan stunting yang masih menjadi perhatian nasional.

Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh tim dosen PIAUD UNUSIDA, Akhmad Supriyanto, S.Pd., M.Pd., perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Desy Febriana, S.St., M.Kes. selaku Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Kabupaten Sumenep, Diah Evi Nurani, S.Tp., M.Si. selaku Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia (PPM) Bappeda Kabupaten Sumenep, jajaran Pengurus Yayasan Pendidikan Al Hidayah Guluk-Guluk Sumenep, IGRA Sumenep, IGTKI Sumenep, serta kepala PAUD, TK, dan RA se-Kabupaten Sumenep.

Ketua peneliti, Shofiyatuz Zahro, menyampaikan bahwa penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran nyata mengenai tingkat pengetahuan orang tua terkait kesehatan dan gizi anak usia dini, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pemahaman tersebut.

“Orang tua memiliki peran sentral dalam memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal. Melalui penelitian ini, kami ingin mengetahui sejauh mana pemahaman mereka terkait pemenuhan gizi, pola hidup sehat, serta pencegahan stunting pada anak usia dini,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa hasil dari kegiatan ini akan menjadi bahan kajian ilmiah sekaligus referensi dalam penyusunan program edukasi dan pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada peningkatan kualitas kesehatan dan gizi anak usia dini. Selain itu, temuan penelitian juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan dan program yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

“Melalui kegiatan penelitian ini, kami berkomitmen dalam menghasilkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta berkontribusi dalam mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ketua Program Studi PIAUD UNUSIDA, Rif’atul Anita, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menggali informasi mengenai tingkat pengetahuan dan pemahaman orang tua dalam memenuhi kebutuhan kesehatan dan gizi anak usia dini. Menurutnya, aspek kesehatan dan gizi merupakan fondasi penting yang akan menentukan kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa emas (golden age).

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai pemahaman orang tua terkait kesehatan dan gizi anak usia dini. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam merancang program edukasi yang lebih tepat sasaran bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Desy Febriana, S.St., M.Kes. menegaskan bahwa pencegahan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi juga memerlukan keterlibatan keluarga, lembaga pendidikan, dan pemerintah secara berkelanjutan.

Pihaknya sangat mengapresiasi inisiatif penelitian yang dilakukan UNUSIDA karena dinilai dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan dan program pembangunan sumber daya manusia, khususnya dalam meningkatkan kualitas kesehatan anak sejak usia dini.

“Kami berharap hasil penelitian dosen PIAUD UNUSIDA dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan program edukasi kesehatan dan gizi keluarga, serta mendukung upaya pemerintah dalam percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Sumenep,” harapnya.

PIAUD UNUSIDA Aktif di RAT ke-6 PPIAUD Indonesia (Foto; Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Turut Berperan Aktif di RAT ke-6 PPIAUD Indonesia, Dorong Penguatan Mutu dan Isu Strategis RA Negeri

BATU — Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) berpartisipasi aktif dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke-6 Perkumpulan Program Studi PIAUD Indonesia yang digelar di Amartahills Hotel and Resort Batu, Malang, Rabu-Kamis (29–30/4/2026).

Forum nasional ini menjadi ajang strategis dalam memperkuat jejaring antar Program Studi PIAUD se-Indonesia, meningkatkan mutu tata kelola program studi, mendorong kolaborasi tridharma perguruan tinggi, serta merumuskan arah kebijakan pendidikan anak usia dini di tingkat perguruan tinggi.

Kegiatan RAT tahun ini dipandu oleh tiga tuan rumah, yakni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Universitas Islam Malang, dan Universitas Al-Qolam Malang. Rangkaian kegiatan meliputi pengabdian kepada masyarakat, visiting lecture, stadium general, international conference, PPIAUD Award, penyusunan RPS berbasis Outcome-Based Education (OBE), hingga pemilihan kepengurusan periode 2026–2029.

Dalam forum tersebut, Kaprodi PIAUD UNUSIDA, Rif’atul Anita, S.Pd., M.Pd., turut mendorong pembahasan isu-isu strategis pendidikan anak usia dini dalam forum nasional PPIAUD. Salah satu perhatian utama yang diangkat adalah pentingnya penegerian Raudhatul Athfal (RA) di Indonesia sebagai langkah penguatan tata kelola, pemerataan mutu, serta peningkatan kesejahteraan lembaga dan pendidik RA di berbagai daerah.

Menurutnya, penegerian RA menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan pendidikan anak usia dini yang lebih berkualitas, terstandar, dan berkelanjutan. Isu ini dinilai krusial karena RA selama ini memiliki kontribusi besar dalam pendidikan karakter dan fondasi keagamaan anak sejak dini, namun masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam dukungan kebijakan dan pembiayaan.

Selain itu, Rif’atul Anita juga menekankan pentingnya respons dunia pendidikan terhadap tantangan zaman melalui integrasi teknologi dan kecerdasan buatan (AI) dalam proses pembelajaran PIAUD. Ia menilai, perkembangan teknologi harus diimbangi dengan kesiapan dosen dan mahasiswa dalam meningkatkan literasi digital.

“Peningkatan literasi digital dosen dan mahasiswa menjadi fokus penting, sekaligus pengembangan model pembelajaran yang adaptif, kreatif, dan berpusat pada anak,” ujarnya.

Seluruh peserta RAT menyepakati dan menandatangani komitmen bersama untuk mengajukan RA Negeri kepada kementerian terkait. Langkah ini dinilai penting dalam meningkatkan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan, sekaligus membuka peluang status ASN bagi pendidik RA di masa depan.

Perkumpulan Program Studi PIAUD Indonesia memiliki peran strategis sebagai simpul koordinasi nasional antar Prodi PIAUD. Organisasi ini mendorong peningkatan mutu melalui penyusunan standar kurikulum bersama, fasilitasi kolaborasi tridharma, serta kemitraan strategis dengan pemerintah dalam pengembangan kebijakan PAUD.

Selain itu, forum juga menjadi ruang berbagi praktik baik (best practices) yang dapat diadopsi oleh masing-masing program studi, di antaranya Penguatan tata kelola program studi, Pengembangan kurikulum dan RPS berbasis OBE, Implementasi pembelajaran berbasis teknologi, Perluasan kerja sama antar anggota PPIAUD dan Inovasi riset dan pengabdian berbasis kebutuhan anak usia dini.

Integrasi teknologi dalam pembelajaran PIAUD, lanjutnya, bukan sekadar penggunaan perangkat digital, tetapi bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan, interaktif, serta sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak usia dini.

Anita berharap, keikutsertaan PIAUD UNUSIDA dalam forum PPIAUD ini dapat semakin memperkuat posisi program studi dalam jejaring nasional antar PIAUD di Indonesia. Forum tersebut juga membuka peluang kolaborasi riset, baik di tingkat nasional maupun internasional, yang dapat berdampak langsung pada peningkatan mutu akademik.

Lebih jauh, keberadaan PPIAUD dinilai memiliki peran strategis sebagai jembatan efektif antara perguruan tinggi dan para pemangku kebijakan dalam merumuskan standar pendidikan PIAUD masa depan yang unggul, inklusif, dan berkelanjutan. Melalui forum ini, aspirasi akademisi PIAUD dapat terakomodasi dalam kebijakan pendidikan anak usia dini di Indonesia.

Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran FAI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

FAI UNUSIDA Gelar Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran, Perkuat Kurikulum Cinta dan Pendekatan Mutakhir

SIDOARJO – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran sebagai upaya meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran di lingkungan fakultas. Kegiatan ini dilaksanakan di Hall Kampus 2 Gedung A UNUSIDA, Senin (27/4/2026).

Workshop ini mendatangkan narasumber Dosen Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Angga Fitriyono, S.Pd., M.Pd., yang diharapkan mampu melengkapi bekal para mahasiswa sebelum diterjunkan ke sekolah nantinya.

Ketua Pelaksana, Dr. H. Rangga Sa’adillah, S.A.P., M.Pd.I., dalam sambutannya menegaskan pentingnya menggunakan metode yang tepat dan mutakhir dalam menyusun perangkat pembelajaran. Menurutnya, penyusunan perangkat tidak cukup hanya administratif, tetapi harus mampu menjawab kebutuhan zaman dan karakter peserta didik.

“Kita harus menggunakan cara yang tepat dan mutakhir. Kurikulum cinta yang tadi disebutkan semoga bisa kita nikmati bersama dalam workshop ini, dan mudah-mudahan semakin menambah ilmu yang bermanfaat bagi kita semua,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I., menekankan bahwa kurikulum merupakan sesuatu yang dinamis dan tidak pernah benar-benar selesai. Ia menyebut adanya dialektika dalam pengembangan kurikulum yang menuntut evaluasi dan penyempurnaan secara berkala.

Ia juga menyoroti Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang dirilis pada 24 Juli 2025, namun hingga kini belum tersosialisasikan secara masif kepada seluruh pemangku kepentingan, termasuk mahasiswa angkatan sebelumnya. Oleh karena itu, workshop ini dinilai menjadi momentum strategis untuk mereview, mengingat kembali, serta menyempurnakan mata kuliah dan perangkat pembelajaran yang telah berjalan.

Menurutnya, implementasi kurikulum cinta bukan perkara mudah. Guru dituntut untuk menghadirkan pembelajaran yang adil, penuh kasih sayang, dan konsisten dalam memperlakukan peserta didik.  Dengan perangkat pembelajaran yang terstruktur dan berlandaskan nilai kasih sayang, FAI UNUSIDA optimistis mampu melahirkan pendidik profesional yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.

“Kita bisa membayangkan betapa sulitnya mengajar dengan cinta. Anak-anak sangat peka terhadap perlakuan guru. Ketika ada ketidakadilan, sekecil apa pun, mereka akan mengingatnya. Maka senyum yang tulus, sikap yang adil, dan kesabaran menjadi kunci,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa menjadi pendidik bukan sekadar mentransfer ilmu, tetapi juga membangun karakter serta menghadirkan keteladanan. Guru diharapkan terus belajar, tidak pernah merasa berhenti menjadi murid, dan senantiasa memperbaiki diri dalam proses pembelajaran.

“Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam penguatan kurikulum berbasis nilai, khususnya implementasi Kurikulum Cinta yang tengah dikembangkan. Mari berkomitmen bersama untuk menjadikan pembelajaran sebagai ladang pengabdian yang penuh makna dan keberkahan,” pungkasnya.

Pembekalan dan Pelepasan PLP PIAUD FAI UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Lepas Peserta PLP Perdana, Siap Memberi Dampak di Sekolah

SIDOARJO — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) bersiap menjalani Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) perdana di sejumlah sekolah mitra. Sejumlah mahasiswa telah diberikan bekal dan secara resmi dilepas pada Senin (13/4/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., mengapresiasi kesiapan Prodi PIAUD dalam menyiapkan PLP perdana ini melalui perencanaan yang terstruktur.

“Menjadi pendidik anak usia dini membutuhkan fondasi karakter yang kuat. Pengalaman praktik ini penting agar mahasiswa siap menghadapi tantangan nyata di lapangan,” ujarnya saat menyampaikan sambutan.

Ia berharap, setelah PLP perdana ini, mahasiswa PIAUD UNUSIDA tidak hanya belajar dari praktik, tetapi juga mampu memberikan dampak positif di sekolah mitra melalui pembelajaran yang inspiratif dan bermakna bagi anak-anak.

“Menjadi guru anak usia dini membutuhkan fondasi karakter yang kuat. PLP ini diharapkan menjadi batu loncatan penting bagi penguatan kualitas mahasiswa sekaligus perkembangan UNUSIDA,” ungkapnya.

Sebelum diterjunkan, mahasiswa mengikuti pembekalan yang menekankan kesiapan pedagogik, kemampuan beradaptasi, serta penguatan karakter sebagai calon pendidik. Pembekalan ini juga membahas peran guru pamong di sekolah mitra yang akan mendampingi proses belajar mahasiswa selama PLP berlangsung.

Wakil Dekan FAI UNUSIDA Shofiyatuz Zahroh, M.Pd., menyampaikan bahwa PLP bukan sekadar agenda akademik, tetapi ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk memahami dinamika kelas, karakter anak, serta manajemen pembelajaran yang kreatif dan ramah anak. Menurutnya, kegiatan ini menjadi tahap awal mahasiswa terjun langsung ke lingkungan pendidikan anak usia dini dengan bekal kompetensi, etika profesi, dan semangat pengabdian.

“Mahasiswa saya harap mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di perkuliahan, menjaga etika, dan membawa nama baik almamater selama berada di sekolah,” pesannya.

Ia menyebutkan bahwa mahasiswa yang mengikuti PLP telah memenuhi persyaratan akademik dan dinilai siap mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah. Kegiatan ini menjadi momentum peneguhan peran mahasiswa sebagai calon guru yang siap belajar dari praktik nyata, beradaptasi dengan lingkungan pendidikan, serta menghadirkan pembelajaran yang ramah, kreatif, dan bermakna bagi anak-anak. Selain pembekalan kompetensi, mahasiswa juga mendapat penguatan etika profesi dan kesiapan mental sebelum diterjunkan ke sekolah.

“Silakan kembangkan ilmu di sekolah mitra dengan bimbingan guru pamong. Manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya dan buktikan bahwa kalian calon guru yang profesional. Jaga nama baik almamater, patuhi arahan pembimbing, serta terus belajar mengembangkan diri,” pungkasnya.

Zahra Jahriah Zainal Alumni PIAUD UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Zahra Jahriah Zainal: Kuliah di PIAUD UNUSIDA Jadi Bekal Membentuk Guru RA yang Percaya Diri dan Profesional

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) terus membuktikan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan profesional. Hal ini tercermin dari kisah inspiratif Zahra Jahriah Zainal, Alumni Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Tahun 2025, yang kini mengabdikan diri sebagai guru di RA Insan Madani Surabaya.

Zahra mengungkapkan rasa syukur atas pengalaman perkuliahan yang ia jalani selama menempuh studi di UNUSIDA. Menurutnya, proses kuliah tidak hanya memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan spiritualitas sebagai calon pendidik.

“Alhamdulillah, kuliah di UNUSIDA memberikan saya banyak pembelajaran berharga, baik akademik maupun spiritual. Pengalaman ini membantu saya lebih percaya diri dan profesional di dunia kerja, dan Alhamdulillah saat ini saya bekerja sesuai dengan jurusan saya,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (16/12/2025).

Sebagai alumni PIAUD, Zahra menilai kesan paling berharga selama kuliah adalah suasana pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. Ia merasa dibekali ilmu tentang pendidikan anak usia dini yang diajarkan di UNUSIDA sangat relevan, sekaligus diarahkan menjadi pendidik yang berkarakter religius dan memiliki kepedulian tinggi terhadap tumbuh kembang anak.

Ia juga menegaskan bahwa mata kuliah berbasis praktik menjadi bekal utama dalam menjalankan profesinya saat ini. Mata kuliah seperti strategi pembelajaran PAUD, pengembangan kurikulum, asesmen perkembangan anak, serta microteaching sangat membantu Zahra dalam menjalankan tugasnya sebagai guru RA.

Melalui pengalaman akademik yang aplikatif, ditambah suasana kampus yang mendukung pengembangan diri, membuatnya merasa lebih siap ketika memasuki dunia profesional. Ia mengaku mampu beradaptasi dengan cepat, bekerja secara percaya diri, serta menjalankan tugas secara bertanggung jawab sesuai kompetensi yang dimiliki.

“Ilmu tersebut sangat relevan dan langsung dapat diterapkan di RA Insan Madani, mulai dari merancang RPPH, mengelola kelas, hingga memahami karakter setiap anak,” jelasnya.

Lebih lanjut, Zahra menekankan pentingnya menempuh pendidikan sesuai dengan jurusan yang diminati. Menurutnya, kuliah yang linier dengan profesi sangat berpengaruh terhadap rasa percaya diri dan profesionalisme di dunia kerja.

“Kuliah sesuai jurusan itu sangat penting karena membuat saya lebih siap dan yakin menjalankan peran sebagai guru RA, dengan pemahaman yang tepat tentang perkembangan anak dan metode pembelajaran yang sesuai,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Zahra memberikan pesan inspiratif kepada mahasiswa PIAUD UNUSIDA agar benar-benar memanfaatkan masa perkuliahan sebagai proses pembentukan diri. Ia ingin membuktikan bahwa UNUSIDA sebagai kampus NU terus melahirkan lulusan yang religius, profesional, dan siap mengabdi, khususnya di bidang pendidikan anak usia dini, demi mencetak generasi masa depan yang unggul dan berakhlakul karimah.

“Manfaatkan setiap proses perkuliahan dengan sungguh-sungguh. Perbanyak pengalaman praktik, jangan takut belajar dari lapangan, dan tanamkan niat yang tulus dalam mendidik anak. Ilmu yang diperoleh di bangku kuliah akan menjadi bekal berharga saat terjun ke dunia kerja,” pesannya.

PIAUD UNUSIDA Gelar Kuliah Tamu “Cipta Lagu Anak Usia Dini” Bersama Dosen PG-PAUD Universitas Trunojoyo Madura (Foto: Humas UNUSIDA)

PIAUD UNUSIDA Gelar Kuliah Tamu Cipta Lagu Anak Usia Dini Bersama Dosen PG PAUD UTM

SIDOARJO Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Guest Lecturer atau Kuliah Tamu dalam Mata Kuliah Pembelajaran Seni Musik dengan tema ‘Cipta Lagu Anak Usia Dini: Proses Produksi Lagu dari Ide Hingga Penyajian’, Selasa (9/12/2025).

Acara ini menghadirkan narasumber Angga Fitriyono, S.Pd., M.Pd., dosen PG-PAUD Universitas Trunojoyo Madura (UTM) sekaligus praktisi serta komposer musik anak yang telah menghasilkan berbagai karya edukatif. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai proses kreatif dalam menciptakan karya musik untuk anak usia dini.

Dalam pemaparannya, Angga menjelaskan kepada mahasiswa tentang memahami proses kreatif menciptakan lagu anak usia dini, mulai dari menggali ide, membuat lirik, menentukan melodi, hingga menyusun lagu lengkap dengan bait dan reff. Ia juga mencontohkan penyajian lagu-lagu anak modern yang ramah anak dan mudah diterapkan dalam pembelajaran PAUD.

Selain praktik cipta lagu, Angga menekankan pentingnya membangun budaya pendidikan kreatif sejak dini. Ia mengajak mahasiswa memahami dampak penggunaan gawai pada perkembangan anak serta mengajarkan strategi membatasi penggunaan handphone.

Ia mencontohkan inovasi tugas akhir mahasiswa PG PAUD UTM yang menghasilkan karya lagu anak beserta rekaman audio dan video sebagai bentuk kreativitas sekaligus pendokumentasian pembelajaran, lengkap dengan laporan pengkaryaan tugas akhir.

“Anak perlu dilatih membuat kesepakatan penggunaan HP agar tumbuh berkembang secara optimal dan terhindar dari kecanduan,” ujar Angga.

Sementara itu, Kaprodi PIAUD UNUSIDA, Rif’atul Anita, S. Pd., M. Pd., menyampaikan bahwa kuliah tamu ini merupakan bagian dari realisasi kerja sama dengan Program Studi PG PAUD UTM. Sebelumnya, Himpunan Mahasiswa (Hima) PIAUD UNUSIDA juga melakukan benchmarking bersama HIMA PIAUD UTM, juga bersama dosen-dosen untuk mengembangkan kualitas akademik dan kreativitas calon guru PAUD.

“Kegiatan ini diharapkan memberi manfaat besar bagi pendidikan calon guru PAUD, terutama dalam memperkuat kompetensi seni dan kreativitas,” ungkapnya.

Ke depan, mahasiswa PIAUD UNUSIDA akan memperoleh tugas khusus menciptakan lagu anak sebagai portofolio wajib setiap angkatan. Karya-karya tersebut akan dihimpun menjadi album lagu anak versi PIAUD UNUSIDA yang tidak hanya menjadi arsip kreatif, tetapi juga dapat diajarkan kepada peserta didik mereka kelak.

Dengan adanya kuliah tamu ini, ia berharap mahasiswa semakin percaya diri dalam berinovasi dan mampu menjadi pendidik PAUD yang kreatif, adaptif, serta siap menghadirkan pendidikan anak usia dini yang berkualitas dan menyenangkan.

“Kami berkomitmen PIAUD UNUSIDA dalam menghadirkan pembelajaran kolaboratif yang relevan dengan kebutuhan pendidikan anak usia dini. Guna mempersiapkan calon guru PAUD yang menginspirasi dan mampu menghasilkan karya kreatif,” pungkasnya.

FAI UNUSIDA Gelar Webinar Internasional: “Komparasi Pendidikan Anak Lintas Negara Mesir–Indonesia” (Foto: Istimewa)

FAI UNUSIDA Gelar Webinar Internasional: Komparasi Pendidikan Anak Lintas Negara Mesir–Indonesia

SIDOARJO — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring akademik global melalui penyelenggaraan Webinar Internasional bertema ‘Komparasi Pendidikan Anak Lintas Negara: Mesir–Indonesia’, yang digelar pada Jumat (10/10/2025) secara daring melalui platform Zoom Meeting.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber inspiratif lintas negara, yakni LikLik Siti Anisa, S.Pd.I., Kepala TK NU Ar-Raudhah Mesir, sekaligus praktisi pendidikan Islam di Kairo, Mesir dan Moh. Anang Abidin, S.H.I., M.Pd., Ketua Program Studi PGMI UNUSIDA, yang juga merupakan dosen dan peneliti bidang pendidikan dasar Islam.

Webinar ini membahas secara mendalam perbandingan sistem dan praktik pendidikan anak antara Mesir dan Indonesia, baik dari sisi filosofi pendidikan, metode pembelajaran, maupun nilai-nilai keislaman yang menjadi dasar pengembangannya.

Dalam sambutannya, Rektor UNUSIDA, Dr. H. Fatkul Anam, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis dan relevan di tengah dinamika global pendidikan Islam dewasa ini.

“Mesir dikenal sebagai salah satu pusat peradaban dan pendidikan Islam dunia, terutama melalui Universitas Al-Azhar yang telah melahirkan banyak ulama dan pemikir besar sepanjang sejarah. Sementara itu, Indonesia dengan kekayaan budaya serta nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah terus berupaya menghadirkan sistem pendidikan yang moderat, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” terangnya.

Lebih lanjut, Rektor menegaskan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu menjadi wadah saling belajar dan berbagi pengalaman lintas negara.

“Melalui webinar ini, kita ingin melihat bagaimana kedua negara memaknai dan mengimplementasikan pendidikan anak berbasis nilai-nilai keselamatan dan kemanusiaan universal. Pengalaman lintas negara dapat menjadi inspirasi dalam membangun model pendidikan Islam yang holistik, berkarakter, dan berdaya saing global,” imbuhnya.

Ia juga menegaskan bahwa FAI UNUSIDA terus berkomitmen mengembangkan kegiatan internasional sebagai bentuk nyata implementasi visi universitas, yaitu menjadi Universitas unggul berkarakter Aswaja dan berdaya saing nasional pada tahun 2029.

“Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, narasumber, dan peserta. Semoga diskusi dan pertukaran gagasan hari ini membawa manfaat besar bagi pengembangan pendidikan Islam. Semoga Allah SWT meneguhkan hikmah keilmuan dan pendidikan Islam yang membawa keselamatan bagi umat,” ungkapnya.

Sementara itu, LikLik Siti Anisa dalam pemaparannya mengangkat topik menarik mengenai kesamaan budaya, sosial, dan pendidikan antara Indonesia dan Mesir, berdasarkan pengalamannya menetap dan mengajar di Kairo. Ia menjelaskan bahwa kedua negara memiliki kedekatan historis dan kultural yang kuat, terutama dalam hal nilai keagamaan, karakter sosial, dan tradisi keilmuan.

“Baik Indonesia maupun Mesir sama-sama dikenal sebagai bangsa religius yang menjunjung tinggi nilai gotong royong dan semangat belajar sepanjang hayat. Keduanya memiliki sistem pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter dan akhlak anak,” tutur LikLik dalam sesi presentasinya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa dalam konteks sosial, kedua negara memiliki populasi mayoritas Muslim dengan masyarakat yang majemuk dan terbuka. Hal ini menjadikan lembaga pendidikan di kedua negara tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar akademik, tetapi juga wadah pembentukan nilai moral dan spiritual.

Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya pendidikan karakter anak sejak dini. Di Mesir, proses pendidikan di taman kanak-kanak tidak hanya berfokus pada kemampuan kognitif, tetapi juga pada penanaman nilai disiplin, spiritualitas, dan kemandirian, nilai yang juga sejalan dengan tradisi pendidikan Islam di Indonesia.

Kegiatan ini berlangsung dinamis dan interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta yang berasal dari berbagai kalangan akademisi, mahasiswa, dan praktisi pendidikan. Diskusi mencakup berbagai aspek mulai dari metode pembelajaran anak usia dini, pendekatan karakter berbasis nilai Islam, hingga perbandingan struktur kurikulum antara kedua negara.

Dengan terselenggaranya Webinar Internasional ini, FAI UNUSIDA menegaskan perannya sebagai garda terdepan dalam memperluas wawasan global mahasiswa, memperkuat jejaring internasional, serta membangun tradisi akademik yang berorientasi pada keilmuan, kemanusiaan, dan nilai Aswaja An-Nahdliyah. (MY)

Penampilan Tari Dewi Sekardadu oleh Dosen dan Mahasiswa PIAUD UNUSIDA saat Pembukaan dan Pelepasan KKN UNUSIDA BERDAYA 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

Mengenal Tari Dewi Sekardadu Karya Dosen PIAUD UNUSIDA, Berikut Makna dan Filosofinya

Sidoarjo – Tari Dewi Sekardadu karya dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) Rif’atul Anita, M.Pd, telah resmi mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Tari yang mengangkat kearifan lokal melalui sosok legendaris Dewi Sekardadu ini resmi dikenalkan pertama kali dalam acara Pembukaan dan Pelepasan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unusida Berdaya 2025 di Pendopo Delta Wibawa, Sidoarjo, Rabu (23/7/2025) lalu.

Anita tercatat sebagai pencipta utama Tari Dewi Sekardadu dalam surat pencatatan penciptaan dengan nomor dengan nomor EC002025092599, tanggal 18 Juli 2025 yang dikeluarkan oleh Kementerian Hukum Republik Indonesia.

Ia mengungkapkan bahwa penciptaan Tari Dewi Sekardadu merupakan bagian dari inovasi pembelajaran yang digagas dalam mata kuliah Pembelajaran Seni Tari. Karya ini menjadi bukti nyata bahwa pembelajaran di perguruan tinggi dapat menghasilkan produk kreatif yang bernilai budaya, edukatif, dan dapat diadopsi oleh masyarakat luas.

“Saya ingin mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu menghasilkan produk nyata yang membumi, dan dapat menjadi kontribusi nyata dalam pelestarian budaya lokal,” ungkapnya kepada Humas UNUSIDA, Jum’at (24/7/2025).

Kepala Prodi PIAUD UNSUDA tersebut menerangkan, Tari Dewi Sekardadu digarap secara kolaboratif oleh tim tari mahasiswa yang diketuai oleh Dewi Asmara Sari, dengan dukungan dari dosen dan pihak kampus. Proses kreatifnya melibatkan berbagai tahapan mulai dari studi literatur hingga eksplorasi gerak dan pembuatan musik iringan.

“Tarian ini terinspirasi dari sosok legendaris Dewi Sekardadu, ibu dari Sunan Giri, yang dikenal sebagai perempuan tangguh, anggun, dan penuh pengorbanan. Nilai-nilai itu kami angkat sebagai pesan moral dalam tarian,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan bahwa makna mendalam tarian ini merupakan refleksi dari tiga pilar utama: perjuangan, kekuatan perempuan, dan nilai-nilai spiritual. Ia menekankan bahwa penciptaan tarian ini lahir dari keinginan kuat untuk memperkenalkan kembali tokoh legendaris Dewi Sekardadu sebagai simbol perempuan yang mulia dalam sejarah islam di Pulau Jawa.

“Tari ini menggambarkan sosok Dewi Sekardadu sebagai ibu yang rela berkorban demi keselamatan anaknya, Raden Paku atau Sunan Giri. Ia menghadapi tekanan sosial dan penderitaan dengan penuh keteguhan demi menyelamatkan buah hatinya,” jelasnya.

Tarian ini tak hanya menonjolkan keindahan gerak, tetapi juga sarat makna dan filosofi yang mendalam. Gerakan dan alunan musik pengiring terinspirasi oleh pengorbanan Dewi Sekardadu yang menjadi representasi dari cinta seorang ibu yang tak terhingga, yang patut dijadikan teladan bagi generasi muda, khususnya dalam menumbuhkan rasa hormat dan kasih sayang terhadap orang tua.

Tari Dewi Sekardadu juga mengangkat potret perempuan sebagai sosok yang kuat dan penuh kebijaksanaan. Meski gerakannya lemah gemulai, di dalamnya tersembunyi kekuatan emosional dan spiritual.

“Kami ingin menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya simbol keindahan, tapi juga sumber kekuatan dan ketabahan. Dewi Sekardadu adalah dewi yang anggun, namun memiliki kekuatan magis dan karakter yang tangguh,” tambahnya.

Lebih dari sekadar ekspresi budaya, tari ini memuat nilai-nilai spiritual dan religius. Melalui simbol-simbol dalam gerakan, penonton diajak untuk merenungi kebesaran Sang Pencipta, serta pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan.

“Tari Dewi Sekardadu bukan hanya tentang keindahan, tapi juga pesan spiritual untuk menjaga keseimbangan dalam hidup,” ujarnya.

Dalam proses produksi musik pengiring, tim kreatif berupaya menghadirkan nuansa Islamic Java Modern. Musiknya merupakan kolaborasi unik antara instrumen tradisional Jawa seperti seruling dan woodwind, dengan instrumen modern seperti drum, keyboard, bass, dan gitar. Genre musik yang dipilih adalah Melayu Islami, mencerminkan karakter khas Nahdlatul Ulama.

Lebih lanjut, Anita menegaskan bahwa Tari Dewi Sekardadu ini merupakan karya orisinil dari dosen dan mahasiswa PIAUD Unusida, tanpa bantuan unsur dari luar. Sebab, ia sendiri yang menggarap musik pengiringnya, serta untuk konsep gerak merupakan hasil kolaborasi dari tim tari PIAUD Unusida.

“Kami sangat senang dan bangga akhirnya hasil dari proses kreatif yang banyak mengorbankan waktu dan tenaga ini di bayar dengan penghargaan yang sangat luar biasa, sertifikat HKI merupakan simbol bahwa karya tari ini layak untuk di abadikan,” imbuhnya.

Ia berharap Tari Dewi Sekardadu dapat terus berkembang, menjadi inspirasi bagi masyarakat serta memperkuat peran Unusida dalam menghidupkan budaya lokal Islami di era modern. Tak hanya itu, ia berkomitmen untuk mengenalkan Tari Dewi Sekardadu agar dapat tampil tidak hanya dalam kegiatan internal kampus, tetapi juga meramaikan panggung-panggung budaya, pendidikan, dan keagamaan di luar daerah.

“Harapannya, Tari Dewi Sekardadu dapat menjadi bagian dari identitas seni khas Sidoarjo, dan lebih luas lagi menjadi tarian Islami Nusantara yang dikenal masyarakat baik di tingkat nasional maupun global. Karya ini adalah wujud kontribusi akademik dalam pelestarian budaya islami berbasis lokal,” harapnya.

Penciptaan tarian ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, termasuk Kepala Unit Pelaksana Teknik (UPT) Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UNUSIDA, Ahmad Wahyudi, S.Pd.I., M.Pd., yang turut berperan sebagai fasilitator publikasi dan promosi karya.

Menurutnya, Tari Dewi Sekardadu kini bukan hanya menjadi hasil tugas kuliah, tetapi telah bertransformasi menjadi karya seni yang bermakna, dan menegaskan komitmen UNUSIDA dalam mendidik generasi muda yang kreatif, religius, dan cinta budaya.

“Kami mendukung penuh karya-karya mahasiswa yang bernilai edukatif dan budaya seperti ini. Dengan HKI yang telah terbit, kami berharap Tari Dewi Sekardadu bisa menjadi ikon lokal yang menginspirasi banyak pihak,” pungkasnya. (MY)