Pos

Neng PGSD UNUSIDA, Munzilatun Jinan Berhasil Sabet Juara 2 Lomba Da’i GENVESTA Tingkat Jawa Timur (Foto: Humas UNUSIDA)

Inspiratif! Neng PGSD UNUSIDA Raih Juara 2 Lomba Da’i GENVESTA Tingkat Jawa Timur

SURABAYA — Kabar membanggakan kembali datang dari mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Munzilatun Jinan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) 2025 A, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNUSIDA, berhasil meraih Juara 2 Lomba Da’i General Event of State Affairs (GENVESTA) Tingkat Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Sabtu (12/9/2026).

Bagi Zila sapaan akrabnya, keberhasilan tersebut tidak datang secara instan. Sebelumnya, ia telah beberapa kali mengikuti perlombaan dakwah secara daring, tetapi belum memperoleh kesempatan untuk menjadi juara. Pengalaman tersebut justru menjadi motivasi untuk kembali mencoba dan memperbaiki diri.

“Sebelumnya saya pernah mengikuti beberapa kali perlombaan melalui online, tetapi belum ditakdirkan untuk mendapatkan juara. Kemudian saya mencoba lagi di lomba yang diadakan oleh HMPHTN UINSA melalui beberapa tahapan seleksi online, kemudian lanjut babak final offline yang diadakan di Kampus 1 UINSA. Alhamdulillah, di babak final ini saya diberikan kesempatan menjadi Juara 2 di Lomba Da’i GENVESTA 2026,” ungkap Zila.

Dalam kompetisi tersebut, Neng PGSD tersebut mengangkat tema ‘Menjadi Pengguna Media Sosial yang Etis dan Bernalar Kritis’. Tema tersebut dipilih untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai pentingnya menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial membuat informasi dapat tersebar dengan sangat cepat. Namun, kecepatan penyebaran informasi perlu diimbangi dengan kemampuan untuk berpikir kritis. Informasi yang viral tidak selalu berarti informasi tersebut benar sehingga masyarakat perlu memastikan kebenarannya sebelum mempercayai maupun membagikannya.

“Saya mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam bermedia sosial, karena tidak semua berita yang viral itu benar. Semua harus kita teliti dulu kebenarannya sebelum membagikan kepada orang lain,” jelasnya.

Untuk menghadapi babak final, Munzilatun melakukan berbagai persiapan, terutama dalam penguasaan materi dakwah. Ia juga meminta masukan dari guru terkait materi yang telah dipersiapkan agar pesan yang disampaikan dapat tersusun dengan baik dan lebih mudah diterima oleh audiens.

Persiapan tersebut telah dilakukan sejak Juni ketika peserta mulai mengumpulkan karya untuk mengikuti tahap seleksi. Setelah dinyatakan lolos, Munzilatun kembali mematangkan materi dan penampilan hingga akhirnya mengikuti babak final pada September 2026.

Tidak hanya memberikan pengalaman berkompetisi, keikutsertaan dalam Lomba Da’i GENVESTA juga menjadi ruang bagi Munzilatun untuk bertemu dengan para juri dan peserta yang memiliki pengalaman serta kemampuan di bidang dakwah. Dari proses tersebut, ia memperoleh wawasan baru yang dapat menjadi bekal untuk mengembangkan kemampuannya.

“Saya merasa sangat bersyukur karena diberikan kesempatan untuk bertemu dengan juri dan peserta yang hebat. Dari sana saya mendapatkan banyak ilmu dari mereka yang ahli dalam bidang da’i,” tuturnya.

Ketertarikan Munzilatun terhadap dunia dakwah berawal dari keinginannya untuk terus belajar sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Baginya, dakwah tidak hanya sebatas menyampaikan pesan keislaman, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun pribadi yang mampu memberikan pengaruh positif bagi masyarakat.

Di tengah perkembangan teknologi, ia menilai generasi muda memiliki peran penting dalam menyampaikan nilai-nilai dakwah. Dengan kreativitas dan kemampuan memanfaatkan media digital, anak muda memiliki ruang yang luas untuk menyebarkan pesan positif kepada masyarakat.

“Peran generasi muda saat ini sangatlah penting dalam menyampaikan sebuah dakwah, karena bangsa yang baik dilihat dari bagaimana seorang pemuda mengimplementasikan nilai-nilai keislamannya dalam kehidupan sehari-hari serta dapat menyampaikannya kepada masyarakat luas,” ujarnya.

Bagi Munzilatun, pencapaian sebagai Juara 2 Lomba Da’i GENVESTA 2026 bukan sekadar sebuah penghargaan. Prestasi tersebut menjadi pembelajaran bahwa keberhasilan membutuhkan proses, keberanian untuk mencoba kembali, serta kesediaan untuk terus belajar dari pengalaman sebelumnya.

“Makna dari pencapaian ini bagi saya adalah sebuah pembelajaran bahwa segala sesuatu yang indah tidak diraih dengan perjuangan yang mudah,” katanya.

Ia berharap pencapaian tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan untuk terus berkembang dan berkarya. Munzilatun juga menyampaikan harapannya agar UNUSIDA semakin maju serta mampu melahirkan lebih banyak mahasiswa berprestasi di berbagai bidang.

“Harapan saya untuk kampus UNUSIDA adalah semoga lebih bersinar ke depannya, semoga bisa menjadi kampus yang maju dan berprestasi,” pungkasnya.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto saat menyampaikan sambutan dalam Pembukaan KARISMA FAI 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

Plt Rektor Ajak Mahasiswa Baru FAI UNUSIDA Aktif Berkarya dan Bangun Narasi Positif tentang Islam

SIDOARJO — Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto, mengajak mahasiswa baru Fakultas Agama Islam (FAI) untuk tidak sekadar menjalani perkuliahan, tetapi aktif mengembangkan potensi, memperluas pengalaman, serta berani membangun narasi positif tentang Islam di tengah masyarakat.

Di hadapan mahasiswa baru, ia membagikan perjalanan pendidikan dan kariernya sebagai contoh bahwa latar belakang pendidikan tidak menjadi batas untuk berkembang selama seseorang memiliki kemauan untuk belajar dan terus berusaha.

Dr. Hadi menceritakan bahwa dirinya merupakan lulusan Sarjana Hukum Islam. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia sempat berdoa agar segera mendapatkan pekerjaan. Perjalanan tersebut kemudian membawanya pada pengalaman menjadi pendidik dan berbagai kesempatan pengembangan profesional.

Ia mengisahkan salah satu pengalaman ketika mendapatkan kesempatan mengajar. Saat itu, dirinya menghadapi tantangan karena harus menguasai materi pembelajaran dan berhadapan dengan banyak peserta didik. Kondisi tersebut justru membuatnya terdorong untuk belajar lebih keras.

“Bukunya banyak, maka buku itu harus saya kuasai. Saya baca berkali-kali. Setelah saya mampu, baru saya masuk kelas,” tuturnya saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan kegiatan Kajian, Orientasi, dan Silaturahmi Mahasiswa (KARISMA) FAI UNUSIDA 2026, Rabu (16/9/2026).

Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bahwa kemampuan tidak hadir secara instan. Seseorang harus mau berproses, belajar, berlatih, dan menghadapi tantangan secara langsung.

Perjalanan tersebut kemudian membawanya memperoleh berbagai pengalaman profesional dan kesempatan mengikuti program pengembangan pendidikan. Bagi Dr. Hadi, setiap kesempatan yang datang harus dimanfaatkan sebagai ruang untuk belajar dan meningkatkan kapasitas diri.

Jangan Diam, Bangun Narasi tentang Islam

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hadi juga menekankan pentingnya mahasiswa FAI memiliki keberanian untuk menyampaikan narasi positif tentang Islam dan pendidikan Islam kepada masyarakat.

Ia menggunakan kisah tentang kuliner Indonesia sebagai ilustrasi mengenai pentingnya narasi. Menurutnya, sesuatu yang memiliki nilai dan berasal dari Indonesia dapat dikenal secara berbeda ketika narasi yang dibangun tidak cukup kuat.

“Jangan diam saja, nanti seperti rawon. Jelas-jelas berasal dari Indonesia, tetapi kalau narasinya tidak dibangun, bisa saja orang lain yang lebih dulu dikenal,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa mahasiswa FAI memiliki peran untuk memperkenalkan nilai-nilai Islam secara lebih luas. Kebanggaan terhadap agama, menurutnya, tidak cukup hanya disimpan dalam diri, tetapi perlu diwujudkan melalui dakwah, karya, tulisan, maupun pemanfaatan media sosial.

“Sekarang tugas kita bersama, ceritakan. Jangan malu-malu, bangga dengan agama Islam. Bangga itu tidak cukup, tetapi bagaimana kita menyampaikan dan mendakwahkannya,” pesannya.

Menurutnya, media sosial dapat menjadi salah satu ruang strategis bagi mahasiswa untuk menyebarkan pengetahuan dan narasi positif. Mahasiswa tidak harus selalu menyampaikan sesuatu yang besar, tetapi dapat memulai dari informasi sederhana yang memiliki dasar data dan pengetahuan. “Kalau menyampaikan sesuatu, sampaikan data. Itulah narasi,” tegasnya.

Mahasiswa Diminta Tidak Hanya Pulang Setelah Kuliah

Dr. Hadi juga mengingatkan mahasiswa FAI agar tidak menjadikan kampus hanya sebagai tempat mengikuti perkuliahan kemudian pulang. Masa mahasiswa, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk membangun pengalaman sebanyak mungkin. “Di FAI jangan pulang saja. Kalau pulang, harus beraktivitas untuk mengembangkan potensi saudara-saudara,” ujarnya.

Ia mendorong mahasiswa untuk mengikuti organisasi, komunitas, pelatihan, kursus, maupun kegiatan lain yang dapat meningkatkan kompetensi. Kemampuan tambahan, termasuk bahasa, komunikasi, kepemimpinan, dan keterampilan digital, dinilai dapat menjadi bekal penting bagi mahasiswa ketika terjun ke masyarakat.

Ia juga menyinggung pentingnya membangun kebiasaan belajar dan berlatih secara konsisten. Menurutnya, keberhasilan bukan semata-mata hasil dari keberuntungan, melainkan buah dari proses panjang dan latihan yang dilakukan secara terus-menerus.

Dr. Hadi kemudian menggunakan analogi olahraga untuk menggambarkan pentingnya latihan. Seorang pemain yang mampu melakukan teknik tertentu dengan baik, menurutnya, tidak langsung mendapat kemampuan tersebut, tetapi melalui latihan berulang. “Berhasil itu karena latihan. Itu namanya semangat,” pesannya.

Pentingnya Membuat Jurnal dan Menetapkan Target

Selain aktif berkegiatan, mahasiswa juga diajak untuk memiliki perencanaan yang jelas selama menempuh pendidikan. Dr. Hadi mendorong mahasiswa membuat jurnal atau catatan perkembangan diri sebagai sarana untuk menetapkan target dan mengevaluasi pencapaian.

Menurutnya, mahasiswa perlu mengetahui apa yang ingin dicapai selama empat tahun masa kuliah. Target tersebut kemudian dapat dipecah menjadi langkah-langkah yang lebih konkret dan terukur.

“Kalau kita tidak bisa berhitung, bagaimana kita tahu perkembangannya? Maka harus jelas tahapannya,” jelasnya.

Ia berharap mahasiswa FAI dapat memanfaatkan masa kuliah untuk membangun kompetensi sekaligus menghasilkan karya. Menurutnya, proses tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan lulusan yang memiliki bekal keilmuan dan pengalaman ketika kembali ke masyarakat.

Mengakhiri pesannya, Dr. Hadi mengucapkan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru FAI UNUSIDA. Ia berharap mahasiswa mampu menjalani perkuliahan dengan penuh semangat, aktif mengambil kesempatan, dan terus mengembangkan potensi diri.

“Selamat datang di Fakultas Agama Islam. Jangan hanya menjadi mahasiswa yang datang untuk kuliah, tetapi jadilah mahasiswa yang terus belajar, beraktivitas, berkarya, dan mengembangkan potensi,” pesannya.

Suasana Pembukaan KARISMA Fakultas Agama Islam 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

KARISMA FAI UNUSIDA 2026, Ajak Mahasiswa Baru Aktif Berorganisasi dan Kembangkan Pengalaman

SIDOARJO — Masa Kajian, Orientasi, dan Silaturahmi Mahasiswa (KARISMA) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) 2026 menjadi momentum bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan kampus sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akademik dan sosial selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa baru FAI UNUSIDA tidak hanya diperkenalkan dengan lingkungan akademik, tetapi juga diajak aktif mencari pengalaman melalui organisasi, kegiatan kemahasiswaan, serta berbagai aktivitas di luar ruang perkuliahan.

Ketua BEM FAI UNUSIDA, Wiwin Lestari, mengingatkan mahasiswa baru agar tidak menjadikan aktivitas kuliah sebatas datang ke kampus, mengikuti pembelajaran, kemudian langsung pulang. Menurutnya, masa perkuliahan merupakan kesempatan penting untuk memperluas pengalaman dan mengembangkan kemampuan yang nantinya dapat diterapkan di tengah masyarakat.

“Ilmu akademik adalah pembelajaran yang bisa kalian ikuti. Kuliah tidak harus pulang kuliah langsung pulang saja. Kalau seperti itu, pengalaman yang kalian dapatkan juga terbatas. Di kampus ini banyak pengalaman yang bisa kalian cari dan kembangkan untuk nantinya kalian bawa ketika terjun di masyarakat,” tuturnya saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan KARISMA FAI 2026, Rabu (16/9/2026).

Ia juga menekankan bahwa mahasiswa FAI memiliki tanggung jawab lebih dalam mengembangkan keilmuan dan pengalaman, khususnya karena berada di lingkungan Fakultas Agama Islam. Pengalaman berorganisasi, berkomunikasi, bekerja sama, dan terlibat dalam berbagai kegiatan dinilai menjadi bagian penting dalam proses pembentukan mahasiswa.

“Apalagi kalian berada di Fakultas Agama Islam. Ada tuntutan untuk terus mengembangkan diri, bukan hanya dari sisi akademik, tetapi juga bagaimana ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat memberikan manfaat di masyarakat,” lanjutnya.

Sementara itu, Dekan FAI UNUSIDA, Feri Kuswanto, menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru yang telah memilih FAI UNUSIDA sebagai tempat melanjutkan pendidikan.

“Selamat bergabung di Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo. Kalian adalah mahasiswa yang terpilih dari sekian banyak anak yang memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Kesempatan yang baik ini mari kita gunakan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Feri menegaskan bahwa kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi tidak dimiliki oleh semua anak. Karena itu, mahasiswa diharapkan mampu memanfaatkan masa perkuliahan dengan sungguh-sungguh, baik dalam kegiatan akademik maupun pengembangan diri.

“Tidak semua anak di Indonesia mendapatkan kesempatan seperti ini. Maka di Fakultas Agama Islam, bagaimana mahasiswa mendapat kesempatan sebanyak-banyaknya untuk belajar, berkembang, dan memperoleh pengalaman,” jelasnya.

Ia juga mengajak mahasiswa baru untuk memandang masa perkuliahan sebagai proses menyiapkan masa depan. Setiap ilmu, pengalaman, dan proses yang dijalani selama menjadi mahasiswa merupakan bagian dari investasi untuk kehidupan setelah lulus.

“Percayalah, kita saat ini sedang menanam bibit kesuksesan dan akan memetik kesuksesan kelak,” pesannya.

Melalui KARISMA FAI UNUSIDA 2026, ia berharap mahasiswa baru tidak hanya mampu beradaptasi dengan lingkungan perguruan tinggi, tetapi juga memiliki semangat untuk belajar, aktif berorganisasi, mengembangkan potensi, serta membangun jejaring dan pengalaman sebagai bekal berkontribusi di tengah masyarakat.

“Jadikan momentum ini menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru FAI UNUSIDA untuk menapaki perjalanan akademik sekaligus membangun karakter sebagai insan yang berilmu, berpengalaman, dan memiliki kepedulian sosial,” pungkasnya.

Seluruh peserta, panitia dan Dosen dan Pimpinan FILKOM UNUSIDA Berfoto Bersama dalam Pembukaan Pafiliun 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

PAFILIUN FILKOM UNUSIDA 2026 Jadi Awal Mahasiswa Baru Mengembangkan Potensi dan Mengenal Teknologi

SIDOARJO — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Orientasi Mahasiswa Baru bertajuk Pafiliun FILKOM UNUSIDA 2026 dengan tema “Connecting Minds, Creating Futures”. Kegiatan berlangsung di Hall Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Rabu-Kamis (16-17/9/2026).

Wakil Ketua BEM FILKOM UNUSIDA, Siti Aisyah, mengatakan Pafiliun 2026 tidak sekadar menjadi kegiatan penyambutan mahasiswa baru. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan awal dari perjalanan mahasiswa untuk terus belajar, berkembang, membangun relasi, dan menciptakan berbagai prestasi.

“Dari kegiatan penyambutan, tetapi menjadi awal dari perjalanan untuk belajar, berkembang, dan membangun relasi serta menciptakan banyak prestasi,” ujarnya.

Ia berharap mahasiswa baru tidak hanya mengejar keberhasilan di bidang akademik, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan. Menurutnya, keberanian untuk berproses, rasa tanggung jawab, dan kemauan untuk berkontribusi menjadi bagian penting dalam perjalanan mahasiswa.

“Semoga teman-teman tidak hanya sukses secara akademik, tapi juga menjadi mahasiswa aktif, berani, dan bertanggung jawab serta mampu memberikan kontribusi positif bagi Fakultas Ilmu Komputer,” tuturnya.

Aisyah mengajak untuk menikmati setiap proses selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. “Selamat datang di Pafiliun 2026, selamat berproses dan juga selamat berkembang,” katanya.

Sementara itu, Wakil Dekan FILKOM UNUSIDA, Neni Kurniati, S.Kom., M.T., memberikan pengenalan mengenai perkembangan teknologi serta bidang-bidang keilmuan yang dapat dipelajari mahasiswa selama menempuh pendidikan di FILKOM.

Ia menekankan bahwa perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak semestinya membuat mahasiswa berhenti belajar. Menurutnya, meskipun teknologi dapat membantu berbagai pekerjaan, pemahaman terhadap konsep dan kemampuan berpikir tetap menjadi hal mendasar yang harus dimiliki mahasiswa.

“AI itu banyak yang pakai. Tetapi konsepnya harus tetap pintar,” jelas Neni.

Ia kemudian memberikan gambaran mengenai salah satu bidang yang dapat dipelajari mahasiswa Informatika, yakni computer vision. Bidang tersebut berkaitan dengan bagaimana komputer dapat memproses dan memahami informasi visual melalui gambar atau video.

“Computer vision itu membuat bagaimana komputer punya mata seperti matanya manusia,” terangnya.

Neni memberikan contoh sederhana mengenai penerapan computer vision, seperti sistem yang dapat menganalisis gambar dari kamera dan mengenali objek maupun karakteristik tertentu berdasarkan data yang diproses.

Menurutnya, perkembangan teknologi membuka peluang yang luas bagi mahasiswa FILKOM untuk mempelajari berbagai bidang. Tidak hanya computer vision, mahasiswa juga dapat mengenal bidang seperti data science, kecerdasan bisnis, arsitektur bisnis, hingga pengembangan berbagai layanan berbasis teknologi.

Ia mendorong mahasiswa baru untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi memahami bagaimana teknologi bekerja dan mampu mengembangkannya sesuai kebutuhan masyarakat.

“Manfaat kesempatan ini menjadi ruang awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal potensi keilmuan di fakultas sekaligus membangun jejaring dengan sesama mahasiswa. Manfaatkan masa perkuliahan untuk terus belajar, mengembangkan kompetensi, serta menciptakan karya dan prestasi di bidang teknologi,” pungkasnya.

Dekan FILKOM UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya saat menyampaikan sambutan dalam PAFILIUN 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

PAFILIUN 2026, Dekan FILKOM UNUSIDA Tekankan Konsistensi Prestasi Internasional Mahasiswa

SIDOARJO — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Orientasi Mahasiswa Baru bertajuk Pafiliun FILKOM UNUSIDA 2026 dengan tema ‘Connecting Minds, Creating Futures’, di Hall Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Rabu-Kamis (16-17/9/2026).

Dekan FILKOM UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru. Ia mengajak mahasiswa untuk tidak hanya menjalani perkuliahan, tetapi juga aktif mengembangkan potensi dan mengambil berbagai kesempatan yang tersedia selama menjadi bagian dari FILKOM UNUSIDA.

“Marhaban, selamat datang untuk teman-teman mahasiswa angkatan 2026 di Fakultas Ilmu Komputer,” ujar Arda.

Menurutnya, FILKOM merupakan salah satu fakultas di UNUSIDA yang memiliki tingkat aktivitas dan capaian prestasi yang cukup tinggi. Ia menyebut, mahasiswa FILKOM secara konsisten mencatatkan prestasi dalam kompetisi internasional setiap tahunnya sejak 2022.

“Mulai tahun 2022 sampai sekarang, alhamdulillah setiap tahun pasti ada yang juara, ada yang ketiga dan satu. Jadi kalian tidak usah berkecil hati ketika kalian kuliah di sini,” ungkapnya.

Arda menegaskan bahwa mahasiswa baru memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan kemampuan dan meraih prestasi. Dukungan dari dosen serta lingkungan akademik di FILKOM diharapkan dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi berbagai bidang sesuai minat masing-masing.

FILKOM UNUSIDA sendiri terdiri atas tiga program studi, yakni Informatika, Sistem Informasi, dan Desain Komunikasi Visual (DKV). Ketiga bidang tersebut dinilai memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja di masa depan.

Dalam sambutannya, Arda juga menyinggung semakin berkembangnya teknologi internet, media sosial, serta kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, mahasiswa FILKOM tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi perlu memiliki kemampuan untuk memanfaatkan dan mengembangkan teknologi sebagai solusi atas berbagai persoalan di masyarakat.

“Di Fakultas Ilmu Komputer saya harapkan kalian ini bukan hanya jadi pengguna teknologi, tapi kalian juga bisa memanfaatkan AI ini untuk membantu atau untuk mengembangkan solusi di masyarakat,” tuturnya.

Ia mengingatkan bahwa mahasiswa sebagai bagian dari perguruan tinggi memiliki peran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, mahasiswa baru didorong untuk tidak ragu mengeksplorasi berbagai potensi yang dimiliki sejak awal masa perkuliahan.

Selain bidang akademik dan teknologi, Arda juga mengajak mahasiswa untuk aktif mengikuti berbagai kegiatan dan organisasi di lingkungan kampus. Bagi mahasiswa yang memiliki minat terhadap kompetisi, FILKOM siap memberikan ruang untuk mengikuti berbagai ajang, termasuk kompetisi tingkat internasional.

Sementara bagi mahasiswa yang tertarik pada organisasi dan pengembangan kemampuan nonakademik, ia mendorong mereka untuk aktif berproses dan belajar mengelola kegiatan.

“Apapun bakat kalian, silakan kembangkan di Fakultas Ilmu Komputer. Jangan takut, karena kita lihat dosennya juga support,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun hubungan yang baik antara mahasiswa dan dosen. Menurutnya, suasana akademik yang akrab dan komunikatif dapat membantu mahasiswa dalam mengembangkan diri, dengan tetap menjaga etika serta batasan sebagai sivitas akademika.

Lebih lanjut, Arda menyinggung keberadaan mahasiswa internasional di FILKOM sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan pembelajaran yang semakin terbuka. Interaksi dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang diharapkan dapat menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan dan membangun komunikasi lintas negara.

Ia berharap mahasiswa baru dapat memanfaatkan masa perkuliahan untuk mengembangkan kompetensi, prestasi, organisasi, maupun kemampuan personal. “Harapan kami, kalian bisa mengembangkan potensi dan pengembangan diri kalian, sehingga besok ketika lulus kalian bisa bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Dr. H. Rangga Sa’adilah, S.A.P., M.Pd.I. saat menyampaikan tausiah dalam kajian rutin setelah sholat Dhuhur tersebut bertempat di Masjid KH. M. Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo. (Foto: Humas UNUSIDA)

Kajian Aswaja, Dosen FAI UNUSIDA Dorong Pelestarian Sholawat Thobibiyah dan Budaya Sholat Jamaah

SIDOARJO — Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) Dr. H. Rangga Sa’adilah, S.A.P., M.Pd.I., menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga keberadaan sholawat atau pujian yang dilantunkan setelah adzan dan sebelum iqamah. Menurutnya, tradisi tersebut tidak sekadar menjadi lantunan yang mengisi waktu antara adzan dan iqamah, tetapi juga memiliki nilai pendidikan dan pembiasaan bagi umat.

Sholawat Thobibiyah dipandang sebagai salah satu bentuk doa dan pujian kepada Allah SWT serta Nabi Muhammad SAW. Lantunan tersebut menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang telah dilakukan secara turun-temurun di tengah masyarakat Muslim, khususnya dalam lingkungan Nahdlatul Ulama.

“Pembiasaan melantunkan sholawat dan pujian sebelum pelaksanaan sholat berjamaah sangat penting dalam melestarikan tradisi yang telah diwariskan oleh para ulama dan leluhur dalam kehidupan umat Islam,” jelasnya saat menyampaikan tausiah dalam kajian rutin setelah sholat Dhuhur tersebut bertempat di Masjid KH. M. Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo, Selasa (15/9/2026).

Dalam kajian tematik tersebut, Dr. Rangga menjelaskan bahwa waktu antara adzan dan iqamah merupakan waktu yang memiliki keutamaan untuk berdoa. Karena itu, lantunan pujian sebelum iqamah dapat menjadi momentum bagi jamaah untuk memanjatkan doa sekaligus mempersiapkan diri melaksanakan sholat berjamaah.

“Setiap doa di antara adzan dan iqamah tidak akan pernah tertolak,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut sebagai pengingat kepada jamaah agar memanfaatkan waktu antara adzan dan iqamah dengan aktivitas yang bernilai ibadah.

Lebih dari sekadar tradisi, lantunan sholawat dan pujian sebelum iqamah juga dinilai memiliki fungsi edukatif. Suara sholawat yang terdengar oleh lingkungan sekitar dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk segera bersiap melaksanakan sholat berjamaah.

Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu strategi untuk mendidik umat Islam, termasuk generasi muda dan anak-anak, agar semakin dekat dengan masjid dan terbiasa dengan suasana sholat berjamaah. Pesan-pesan keagamaan yang disampaikan melalui lantunan sholawat dapat diterima secara sederhana dan berulang dalam kehidupan sehari-hari.

“Lantunan pujian sebelum iqamah adalah strategi untuk mendidik umat Islam, tetangga kita, dan anak-anak kita,” ungkapnya.

Tradisi tersebut juga memperlihatkan bagaimana dakwah dapat dilakukan melalui pendekatan yang lembut dan merangkul. Sholawat yang dilantunkan sebelum iqamah menjadi sarana untuk mengajak masyarakat menuju masjid tanpa tekanan. Suasana religius yang tercipta diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap sholat berjamaah.

Hal ini sejalan dengan karakter dakwah Ahlussunnah wal Jamaah yang mengedepankan pendekatan yang santun dalam menyampaikan ajaran Islam. Tradisi yang diwariskan para ulama tidak hanya dipandang dari bentuk pelaksanaannya, tetapi juga perlu dipahami nilai dan tujuan yang terkandung di dalamnya.

“Begitu indahnya lantunan sholawat yang diajarkan oleh ulama-ulama kita, dengan merangkul tanpa memukul. Mari kita lestarikan bersama,” pesannya.

Pelestarian tradisi keagamaan tersebut juga dinilai penting di lingkungan pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Kampus bukan hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan profesional, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan karakter, spiritualitas, serta kepedulian sosial mahasiswa.

Dalam konteks UNUSIDA, budaya sholat berjamaah diharapkan dapat terus tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan sivitas akademika. Kebiasaan sederhana seperti memenuhi panggilan adzan, menuju masjid, melaksanakan sholat berjamaah, hingga menjaga suasana religius di lingkungan kampus dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter mahasiswa.

“Mari kita gerakkan budaya sholat jamaah menjadi mempengaruhi di setiap lini di kampus kita,” menjadi ajakan untuk menjadikan sholat berjamaah bukan sekadar aktivitas rutin, tetapi budaya positif yang dapat memberikan pengaruh bagi lingkungan sekitar.

Kajian Aswaja ini menjadi salah satu ikhtiar untuk menjaga kesinambungan tradisi keislaman sekaligus memperkuat pemahaman warga UNUSIDA dan masyarakat terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Melalui kajian dan pembiasaan, tradisi keagamaan diharapkan tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus hidup dan relevan dalam kehidupan generasi saat ini.

Dengan semangat merangkul tanpa memukul, pelestarian sholawat, pujian sebelum iqamah, dan budaya sholat berjamaah diharapkan mampu menjadi gerakan bersama. Dari masjid, lingkungan keluarga, masyarakat, hingga kampus, nilai-nilai tersebut dapat terus ditanamkan sebagai bagian dari kehidupan umat Islam.

“Menjaga tradisi bukan hanya tentang mempertahankan kebiasaan, tetapi juga memahami nilai pendidikan, spiritualitas, dan kebersamaan yang ada di dalamnya. Melalui langkah-langkah sederhana dan dilakukan secara konsisten, budaya sholat berjamaah diharapkan semakin kuat dan memberikan dampak positif bagi kehidupan sivitas akademika serta masyarakat luas,” pungkasnya.

Plt. Rektor UNUSIDA saat menandatangani MoU dan PKS bersama Mitra Pegadaian (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Resmi Jalin Kerja Sama dengan Pegadaian, Perkuat Sinergi dan Buka Peluang Layanan Keuangan

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) resmi menjalin kerja sama dengan PT Pegadaian (Persero) Area Surabaya melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) terkait layanan Tabungan Emas dan Arrum Multiguna di Ruang Pertemuan Gedung B, Kampus UNUSIDA Lingkar Timur, Sidoarjo, Kamis (3/9/2026).

Layanan Tabungan Emas menjadi salah satu bentuk akses investasi yang dapat dikenalkan kepada civitas akademika, sementara layanan Arrum Multiguna membuka peluang pemanfaatan layanan pembiayaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, menyampaikan bahwa kerja sama yang telah terjalin diharapkan dapat menjadi awal dari berbagai program kolaboratif yang berkelanjutan. Menurutnya, penandatanganan MoU dan PKS bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu pembuka untuk menghadirkan manfaat nyata melalui implementasi program bersama.

“Harapan kami, kerja sama ini tidak berhenti pada penandatanganan dokumen. MoU dan PKS yang telah disepakati harus dapat berkembang menjadi kolaborasi yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata, khususnya bagi civitas akademika UNUSIDA,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa sebuah kemitraan akan memiliki arti lebih besar ketika diwujudkan dalam berbagai kegiatan dan program yang dapat dirasakan manfaatnya. Oleh karena itu, UNUSIDA berharap sinergi dengan Pegadaian dapat terus berkembang melalui berbagai bentuk kerja sama yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh civitas akademika.

Lebih lanjut, Dr. Hadi Ismanto berharap kolaborasi tersebut dapat turut mendukung penguatan literasi dan inklusi keuangan di lingkungan kampus. Pemahaman mengenai pengelolaan keuangan yang baik menjadi salah satu hal penting yang perlu dimiliki oleh civitas akademika dalam menghadapi perkembangan ekonomi dan semakin beragamnya layanan keuangan.

“Melalui kerja sama ini, kami berharap civitas akademika UNUSIDA dapat memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai layanan keuangan sekaligus memiliki pemahaman yang baik dalam memanfaatkannya secara bijak dan sesuai dengan kebutuhan,” tambahnya.

Kerja sama antara UNUSIDA dan Pegadaian menjadi langkah strategis dalam mempertemukan potensi dunia pendidikan dengan dunia industri. Perguruan tinggi memiliki peran dalam menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif dan memiliki wawasan luas, sementara dunia industri dapat menjadi mitra dalam memberikan pengalaman, pengetahuan, serta akses terhadap berbagai layanan yang relevan dengan perkembangan kebutuhan masyarakat.

Dalam konteks layanan keuangan, kolaborasi tersebut diharapkan dapat memberikan ruang pembelajaran bagi civitas akademika untuk mengenal lebih dekat berbagai pilihan dan layanan keuangan. Dengan meningkatnya pemahaman, mahasiswa dan civitas akademika diharapkan mampu mengambil keputusan keuangan secara lebih bijak, terukur, dan sesuai kebutuhan.

Penguatan literasi keuangan juga menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kemandirian. Pemahaman yang baik mengenai pengelolaan keuangan dapat membantu seseorang dalam merencanakan kebutuhan, menentukan prioritas, serta memanfaatkan layanan keuangan secara bertanggung jawab.

Melalui kemitraan ini, ia mendorong untuk dapat menghadirkan program-program yang memberikan nilai tambah bagi civitas akademika. Tidak hanya berorientasi pada kemudahan akses terhadap layanan, kerja sama tersebut juga diharapkan dapat membuka kesempatan untuk berbagai kegiatan edukatif yang mampu memperluas wawasan dan meningkatkan kapasitas mahasiswa.

Sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri juga memiliki peran penting dalam menjawab tantangan perkembangan zaman. Dunia pendidikan tidak dapat berjalan sendiri dalam mempersiapkan generasi yang siap menghadapi perubahan. Diperlukan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar mahasiswa memiliki kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan wawasan yang lebih luas.

“Bagi kami, perluasan jejaring kemitraan menjadi salah satu upaya untuk terus menghadirkan peluang kolaborasi yang berdampak. Kerja sama dengan berbagai lembaga dan dunia industri diharapkan mampu mendukung pengembangan institusi sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi civitas akademika,” ungkapnya.

Dengan adanya MoU dan PKS bersama Pegadaian, ia memiliki komitmen untuk membangun kerja sama yang saling menguatkan. Kesepakatan tersebut sekaligus membuka ruang bagi lahirnya berbagai peluang kolaborasi baru di masa mendatang yang dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan potensi kedua institusi. Ia optimistis dapat membangun kolaborasi yang saling memberikan manfaat sekaligus menciptakan peluang baru dalam mendukung pengembangan kapasitas dan kesejahteraan civitas akademika UNUSIDA di masa mendatang.

“Semoga ke depan kemitraan ini dapat terus tumbuh menjadi sinergi yang produktif dan berkelanjutan. Kolaborasi tidak hanya dimaknai sebagai sebuah kesepakatan formal, tetapi diwujudkan melalui langkah-langkah nyata yang memberikan dampak positif bagi civitas akademika,” pungkasnya.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto usai menjadi Keynote Speaker dalam kegiatan 16th International Conference on Economics, Law, Social, Engineering, and Innovation (IC-ELSEI 2026) (Foto: Humas UNUSIDA)

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto Bawa Gagasan Inovasi Berkelanjutan di Forum Internasional IC-ELSEI 2026

BALI — Plt. Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Dr. Hadi Ismanto, S.HI., M.Pd., dipercaya sebagai Keynote Speaker dalam kegiatan 16th International Conference on Economics, Law, Social, Engineering, and Innovation (IC-ELSEI 2026) yang diselenggarakan di Hotel Santika Kuta, Badung, Bali, Sabtu (5/9/2026).

Dalam forum internasional tersebut, Dr. Hadi Ismanto hadir dengan membawa perspektif mengenai inovasi berkelanjutan ala Nahdlatul Ulama (NU). Gagasan yang disampaikan menekankan bahwa inovasi dan perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi dapat dibangun melalui kebiasaan sederhana yang dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Hadi Ismanto, yang tercantum sebagai Rector of Universitas Nahdlatul Ulama, Sidoarjo, Indonesia, menegaskan bahwa membangun inovasi berkelanjutan membutuhkan proses yang konsisten. Perubahan dapat dimulai dari keluarga dengan membiasakan pola pikir, perilaku, dan budaya akademik yang terstruktur.

Menurutnya, keluarga merupakan lingkungan pertama yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kebiasaan seseorang. Dari lingkungan tersebut, nilai-nilai positif kemudian dapat berkembang ke lingkungan pendidikan, organisasi, hingga masyarakat.

“Inovasi berkelanjutan ala Nahdlatul Ulama dimulai dari keluarga terdekat. Kita membiasakan kebiasaan akademik yang terstruktur, kemudian menularkannya kepada masyarakat sekitar hingga akhirnya menjadi sebuah gerakan bersama,” jelas Dr. Hadi dalam pemaparannya.

Gagasan tersebut menjadi salah satu penekanan penting dalam materi yang disampaikan di hadapan peserta IC-ELSEI 2026. Inovasi, menurutnya, tidak cukup hanya menghasilkan gagasan baru, tetapi harus mampu menciptakan kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus sehingga memberikan dampak nyata.

Dimulai dari Kebiasaan Kecil

Dr. Hadi menjelaskan bahwa budaya inovasi dapat tumbuh ketika lingkungan terdekat mampu menciptakan kebiasaan yang mendukung proses belajar, berpikir kritis, berdiskusi, dan menyelesaikan persoalan secara sistematis.

Kebiasaan akademik yang terstruktur dapat diwujudkan melalui berbagai aktivitas sederhana. Misalnya, membangun budaya membaca, berdiskusi, mencatat, melakukan evaluasi, menyusun rencana, serta membiasakan diri mencari solusi atas berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

“Ketika kebiasaan baik sudah terbentuk di keluarga, kebiasaan tersebut akan lebih mudah dibawa ke lingkungan yang lebih luas. Dari keluarga ke kampus, dari kampus ke masyarakat, dan dari masyarakat kemudian menjadi gerakan bersama,” ungkapnya.

Konsep tersebut sejalan dengan semangat pengabdian dan pemberdayaan yang menjadi bagian penting dari nilai-nilai Nahdlatul Ulama. Pengetahuan tidak berhenti pada individu, tetapi diharapkan dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Dari Individu Menjadi Gerakan Bersama

Lebih lanjut, Dr. Hadi menekankan pentingnya membangun inovasi yang memiliki keberlanjutan. Sebuah inovasi tidak boleh berhenti pada sebuah program atau kegiatan sesaat, melainkan harus mampu melahirkan ekosistem yang membuat masyarakat dapat melanjutkan dan mengembangkannya.

Dalam konteks perguruan tinggi, budaya tersebut dapat dibangun melalui sinergi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa dan sivitas akademika tidak hanya didorong untuk memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu mengimplementasikan ilmu pengetahuan dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

Semangat tersebut juga menjadi bagian dari upaya UNUSIDA dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memiliki dampak sosial. Perguruan tinggi diharapkan mampu menjadi ruang lahirnya gagasan, inovasi, dan gerakan yang memberikan manfaat secara berkelanjutan.

Kehadiran Dr. Hadi Ismanto sebagai keynote speaker dalam IC-ELSEI 2026 sekaligus menjadi momentum bagi UNUSIDA untuk memperkenalkan perspektif pendidikan dan inovasi berbasis nilai-nilai Nahdlatul Ulama di forum internasional.

Forum IC-ELSEI 2026 ini sendiri mempertemukan berbagai akademisi dan pemangku kepentingan dari sejumlah institusi dalam membahas perkembangan ekonomi, hukum, sosial, teknik, serta inovasi.

Melalui forum tersebut, Dr. Hadi Ismanto membawa pesan bahwa inovasi berkelanjutan bukan sekadar tentang teknologi atau menciptakan sesuatu yang baru, tetapi tentang membangun kebiasaan baik, menumbuhkan budaya akademik, dan memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Dari keluarga sebagai lingkungan terdekat, kebiasaan baik ditanamkan. Dari kebiasaan, lahirlah budaya. Dari budaya, tumbuh inovasi. Dan dari inovasi yang dilakukan secara bersama-sama, tercipta gerakan yang memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.

“UNUSIDA terus berkomitmen menghadirkan pendidikan yang berdaya, inovatif, dan berdampak, sekaligus membawa nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah untuk menjawab tantangan masa depan,” tandasnya.

Kepala UPT PIK, H. Arisy Kuswanto saat membuka Peringatan Maulid Nabi di UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Peringati Maulid Nabi, UNUSIDA Tanamkan Rasa Cinta Rasul dan Semangat Membangun Kampus Penuh Berkah

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan menggelar pengajian dan shalawatan di Plaza Lantai 1 Gedung B UNUSIDA, Jumat (28/8/2026).

Kegiatan yang mengusung semangat ‘Cinta Nabi, Cinta NKRI’ tersebut diikuti sivitas akademika UNUSIDA serta sejumlah masyarakat. Peringatan Maulid Nabi menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus meneguhkan tradisi amaliah Ahlussunnah wal Jamaah di lingkungan kampus.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengkajian Islam dan Keaswajaan (PIK) UNUSIDA, Arisy Kurwanto, mengatakan kegiatan Maulid Nabi merupakan momentum istimewa bagi keluarga besar UNUSIDA. Menurutnya, kegiatan keagamaan seperti istighotsah dan shalawatan sebenarnya telah menjadi bagian dari rutinitas di lingkungan kampus.

“Di samping kita tiap Jumat Kliwon ada istighotsah, juga ditutup dengan shalawatan. Tetapi ini menjadi momen istimewa karena berada di bulan Maulid,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bulan Rabiul Awal memiliki keistimewaan tersendiri karena menjadi bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ia mengutip pandangan Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki bahwa sebelum kelahiran Rasulullah SAW, Rabiul Awal bukan termasuk bulan yang secara khusus memiliki keutamaan seperti empat bulan haram, bulan haji, maupun bulan-bulan hari raya.

“Berarti semenjak ada kelahiran Rasulullah SAW di bulan Rabiul Awal, maka Rabiul Awal menjadi bulan yang istimewa. Bahkan sampai ke Tanah Jawa dikenal sebagai bulan Maulud, bulan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW,” jelasnya.

Tabarrukan dengan Gedung B

Gus Arisy yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al Kholil, Jetis, Sidoarjo tersebut mengungkapkan alasan dipilihnya Gedung B sebagai lokasi kegiatan. Selain karena kegiatan tersebut berdekatan dengan tempat yang selama ini digunakan untuk berdoa dan kegiatan keagamaan, pembangunan masjid UNUSIDA juga masih dalam proses.

Ia berharap keberadaan dan aktivitas keagamaan yang dilakukan di Gedung B dapat menjadi bentuk tabarrukan sekaligus tafa’ulan bagi perkembangan UNUSIDA.

Gus Arisy mengambil pelajaran dari perubahan Kota Yatsrib setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW. Sebelum Rasulullah hijrah, Yatsrib merupakan sebuah kota yang belum menjadi pusat perhatian. Namun setelah Rasulullah SAW hijrah dan Islam berkembang di sana, kota tersebut menjadi pusat peradaban dan dikenal sebagai Madinah al-Munawwarah.

“Mudah-mudahan dengan sering dibacakan shalawat dan digelar peringatan Maulid seperti ini, kampus kita menjadi kampus yang bercahaya, Al-Munawwarah,” harapnya.

Menurutnya, harapan tersebut juga perlu diwujudkan melalui prestasi nyata seluruh elemen kampus. Slogan dan yel-yel kejayaan UNUSIDA, kata dia, harus diiringi dengan capaian konkret dari dosen, tenaga kependidikan, maupun mahasiswa.

“Sudah kita buktikan dengan banyak prestasi dari dosen-dosennya, tenaga kependidikannya, dan mahasiswanya. Prestasi secara lahir kita wujudkan, secara batin kita wujudkan dengan amaliah-amaliah istiqamah, mengawal dan melestarikan tradisi kemuliaan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah,” tuturnya.

Ekspresi Cinta kepada Rasulullah

Gus Arisy menambahkan, antusiasme masyarakat terhadap peringatan Maulid Nabi di berbagai daerah menunjukkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat diekspresikan dalam beragam bentuk.

Menurutnya, tradisi Maulid di tengah masyarakat memiliki banyak ragam, mulai dari pembacaan shalawat, marhaban, hingga berbagi makanan dan berbagai bentuk sedekah.

“Dalam rangka menumbuhkan cinta Nabi, ekspresinya macam-macam. Ada yang membuat doorprize, ada yang setelah marhaban berebut makanan yang dilempar. Itu merupakan ekspresi cinta kepada Nabi Muhammad SAW,” katanya.

Ia menilai peringatan Maulid Nabi di UNUSIDA menjadi salah satu bentuk ekspresi kecintaan tersebut, yang dikemas melalui shalawatan dan tausiyah keagamaan.

Pada kesempatan itu, tausiyah disampaikan oleh KH Abdul Khobir, M.Pd.I, Wakil Katib PCNU Sidoarjo sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Siwalanpanji. Kehadiran ulama muda tersebut diharapkan memberikan penguatan spiritual sekaligus menambah wawasan keislaman bagi sivitas akademika UNUSIDA.

Arisy berharap peringatan Maulid Nabi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Lebih dari itu, kecintaan kepada Rasulullah SAW diharapkan mampu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari melalui akhlak, keistiqamahan beribadah, semangat belajar, berkarya, serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa.

“Semoga kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW terus tumbuh di keluarga besar UNUSIDA, sehingga kampus ini tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga kuat dalam tradisi keagamaan dan akhlak,” pungkasnya.

Suasana simulasi praktikum ergonomi di Laboratorium Teknik Industri UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

KILAB 2026, UNUSIDA Hadirkan Inovasi Smart Anthropometric Ergonomic Chair untuk Perkuat Praktikum Teknik Industri

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui Program Studi Teknik Industri mengembangkan Smart Anthropometric Ergonomic Chair sebagai karya inovasi dalam Program Kompetisi Inovasi Laboratorium (KILAB) 2026. Inovasi tersebut dirancang untuk memperkuat sarana pembelajaran praktikum ergonomi sekaligus mendukung mahasiswa memahami proses perancangan dan pengembangan produk berbasis data.

Dosen pengampu mata kuliah Ergonomi Program Studi Teknik Industri, Alifah Dian Rahmania, S.T., M.T., menyampaikan bahwa Program KILAB 2026 menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di lingkungan perguruan tinggi.

“Sebagai dosen pengampu mata kuliah Ergonomi di Program Studi Teknik Industri, kami melihat Program KILAB 2026 sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya pada mata kuliah ergonomi serta perancangan dan pengembangan produk,” tuturnya.

Ia menjelaskan, inovasi Smart Anthropometric Ergonomic Chair dapat menjadi sarana pembelajaran untuk mengembangkan kompetensi mahasiswa secara lebih holistik, mulai dari analisis, desain, hingga evaluasi produk.

“Mahasiswa tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mampu melakukan praktik langsung berbasis data. Integrasi sensor jarak pada alat ini turut mempermudah proses pengambilan data antropometri secara lebih akurat dan efisien,” terangnya.

Ketua Tim KILAB 2026, Maschan Yusuf Mustofah, menjelaskan bahwa Smart Anthropometric Ergonomic Chair hadir dari kebutuhan untuk menghadirkan media pembelajaran ergonomi yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi dapat digunakan mahasiswa secara langsung dalam kegiatan praktikum.

Menurutnya, inovasi tersebut memadukan konsep antropometri, ergonomi, perancangan produk, dan teknologi sensor dalam satu media pembelajaran. Kursi dirancang dengan mempertimbangkan dimensi tubuh manusia sehingga mahasiswa dapat mempelajari penerapan prinsip ergonomi sekaligus memahami bagaimana data antropometri digunakan dalam proses perancangan produk.

“Smart Anthropometric Ergonomic Chair kami kembangkan agar mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana konsep ergonomi diterapkan dalam sebuah produk. Jadi, pembelajaran tidak berhenti pada teori, tetapi mahasiswa dapat mengikuti proses mulai dari pengukuran, pengolahan data, perancangan, hingga pengujian produk,” kata Alumni Teknik Industri UNUSIDA tersebut, Kamis (3/9/2026).

Ia menambahkan, salah satu aspek yang menjadi nilai tambah inovasi tersebut adalah integrasi sensor jarak dan sistem sensor yang mendukung proses pengambilan data antropometri. Teknologi tersebut diharapkan dapat membuat proses praktikum lebih interaktif dan membantu mahasiswa mengenal penerapan teknologi dalam pengumpulan data ergonomi.

“Integrasi teknologi menjadi bagian penting dari inovasi ini. Mahasiswa tidak hanya belajar menggunakan alat, tetapi juga memahami bagaimana data dapat diperoleh dan dimanfaatkan sebagai dasar dalam merancang produk yang sesuai dengan kebutuhan pengguna,” tambahnya.

Melalui Program KILAB 2026, ia dan tim berharap tidak hanya menjadi fasilitas laboratorium, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem pembelajaran berbasis praktik dan teknologi di Program Studi Teknik Industri UNUSIDA.

“Bagi kami, pengembangan inovasi ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan laboratorium yang semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan pembelajaran Teknik Industri. Ke depan, inovasi tersebut dapat terus dikembangkan melalui optimalisasi sistem sensor dan akuisisi data, pengujian penggunaan dalam praktikum, serta pengembangan pemanfaatannya untuk kegiatan penelitian dan inovasi produk ergonomis,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu mahasiswa Teknik Industri, M. Wafi Musafak, mengaku senang dengan hadirnya inovasi tersebut karena memberikan pengalaman belajar ergonomi secara lebih langsung.

“Alhamdulillah, saya sangat senang sekali dengan adanya inovasi pembelajaran melalui Smart Anthropometric Ergonomic Chair ini, yang membantu mahasiswa memahami ergonomi secara langsung dan aplikatif,” ungkapnya.

Menurut Wafi, keberadaan sensor jarak juga memberikan kemudahan dalam proses pengambilan data antropometri saat praktikum. Ia menilai inovasi tersebut membuat pembelajaran menjadi lebih interaktif, kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan dunia industri.

“Alat ini juga mengintegrasikan sensor jarak yang mempermudah proses pengambilan data antropometri saat praktikum secara lebih cepat dan akurat. Dengan begitu, mahasiswa dapat belajar proses perancangan dan pengembangan produk mulai dari desain hingga uji coba,” pungkasnya.