Pos

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan dalam Kabinet Merah Putih, Zulkifli Hasan saat mengunjungi stan UNUSIDA Tech Factory. (Foto: NU Delta)

Menko Zulhas Apresiasi Inovasi UNUSIDA, Dorong Perkuat Khidmah NU melalui Transformasi Digital

JOMBANG — Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan dalam Kabinet Merah Putih, Zulkifli Hasan (Zulhas), mengapresiasi berbagai inovasi teknologi yang dikembangkan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) saat mengunjungi stan UNUSIDA Tech Factory dalam rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Kamis-Senin (27/8/2026).

Dalam kunjungannya, Zulhas melihat langsung sejumlah inovasi digital yang ditampilkan UNUSIDA, termasuk platform kecerdasan buatan (AI) GUS GPT yang dikembangkan untuk mendukung kebutuhan pengetahuan keislaman dan khazanah pesantren.

Zulhas mengaku terkejut melihat perkembangan teknologi di lingkungan pesantren, khususnya kemampuan generasi santri dalam memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan buatan. Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa santri dan pesantren saat ini telah mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian khusus adalah GUS GPT. Zulhas menilai platform tersebut memiliki keunggulan karena tidak hanya memanfaatkan teknologi AI, tetapi juga memiliki karakter khas Aswaja dalam memberikan jawaban.

“GUS GPT sangat bagus, terlebih lagi ada ciri khas Aswaja dalam setiap jawabannya,” ungkapnya saat mengunjungi stan UNUSIDA Tech Factory usai Kegiatan literasi kesehatan, lingkungan hidup, dan ketahanan pangan, Jum’at (28/8/2026).

Selain mengapresiasi inovasi teknologi, Zulhas juga memberikan perhatian terhadap peran perguruan tinggi NU dalam mendorong digitalisasi organisasi dan lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Menurutnya, keberadaan kampus NU seperti UNUSIDA memiliki posisi strategis dalam menghadirkan inovasi sekaligus memperluas akses pelayanan NU kepada masyarakat.

Ia menilai pengembangan teknologi yang dilakukan UNUSIDA sejalan dengan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam memberikan kontribusi nyata melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Kampus NU juga berperan dalam meningkatkan digitalisasi organisasi dan lembaga NU. Ini menjadi bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam meningkatkan akses pelayanan NU bagi umat,” ujarnya.

Zulhas juga menilai langkah UNUSIDA dalam mengambil posisi sebagai perguruan tinggi yang fokus pada pengembangan dan pemanfaatan teknologi merupakan langkah yang tepat di tengah percepatan transformasi digital.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga perlu mengambil peran dalam menggagas dan mempelopori pemanfaatannya untuk kebutuhan masyarakat dan organisasi.

“UNUSIDA mengambil positioning yang tepat sebagai perguruan tinggi yang menggagas dan mempelopori penggunaan teknologi,” katanya.

Sementara itu, Dosen Informatika Anggay Luri Pramana mengatakan bahwa kehadiran UNUSIDA Tech Factory di Muktamar ke-35 NU menjadi ruang bagi UNUSIDA untuk memperkenalkan berbagai solusi digital yang dikembangkan untuk organisasi, lembaga pendidikan, pesantren, yayasan, hingga masyarakat.

Selain GUS GPT, ia dan tim juga memperkenalkan sejumlah produk seperti Smart Presence ASWAJA, SITASNUDA, dan SIMAYA, serta membuka ruang konsultasi pengembangan website, aplikasi, sistem informasi, dan solusi berbasis AI.

“Kami berkomitmen untuk menjadikan teknologi sebagai bagian dari khidmah kepada umat sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi NU dalam menghadapi tantangan transformasi digital,” tandasnya.

Dosen FAI UNUSIDA, Rangga Sa'adillah S.A.P. (Foto: Humas UNUSIDA)

Dosen UNUSIDA Sebut Kortas Tipikor sebagai Manifestasi Etika Publik dan Maqashid Syariah

SIDOARJO — Pembentukan Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipikor) di tubuh Kepolisian Republik Indonesia dinilai tidak semata-mata sebagai perubahan struktur kelembagaan, tetapi juga dapat dimaknai sebagai upaya memperkuat etika publik dan menghadirkan pendekatan yang lebih komprehensif dalam pemberantasan korupsi.

Pandangan tersebut disampaikan Rangga Sa’adillah, S.A.P., Dosen dan Kabag MKU Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), dalam opininya bertajuk ‘Kortas Tipikor Polri: Manifestasi Maqashid Syariah dalam Pemberantasan Korupsi’. Menurutnya, korupsi tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan administratif atau pelanggaran prosedur hukum. Korupsi merupakan bentuk kerusakan yang berdampak luas terhadap keadilan, kesejahteraan masyarakat, kohesi sosial, hingga legitimasi negara.

“Korupsi adalah kejahatan yang memiskinkan kemanusiaan. Maka, perlawanan terhadapnya tidak bisa lagi bersandar pada rasionalitas hukum yang usang dan parsial,” tulisnya.

Ia menilai kehadiran Kortas Tipikor dapat menjadi momentum untuk menghadirkan pendekatan baru dalam penegakan hukum. Terlebih, pemberantasan korupsi tidak cukup berhenti pada proses penindakan dan pemidanaan, tetapi juga harus memastikan kerugian negara dapat dipulihkan.

Penegakan Hukum Harus Berorientasi Pemulihan

Wakil Sekretaris Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pelatihan (KP3) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur tersebut menjelaskan, selama ini penegakan hukum acap kali terjebak dalam paradigma positivistik yang memandang hukum sebatas teks dan keadilan sebagai proses penghukuman.

Padahal, menurutnya, korupsi meninggalkan kerusakan sosial dan ekonomi yang jauh lebih luas. Karena itu, penegakan hukum idealnya memiliki orientasi pemulihan terhadap hak-hak publik yang telah dirampas.

Dalam konteks tersebut, fungsi penelusuran dan pengamanan aset menjadi sangat penting. Pengembalian aset hasil korupsi, lanjutnya, bukan sekadar bentuk pembalasan kepada pelaku, melainkan bagian dari upaya menghadirkan keadilan bagi masyarakat.

“Memiskinkan koruptor dan mengembalikan kerugian negara bukanlah tindakan balas dendam, melainkan rasionalitas tertinggi dari keadilan itu sendiri,” tegasnya.

Hifdzul Mal sebagai Landasan Etis

Lebih jauh, Rangga mengaitkan pemberantasan korupsi dengan konsep Maqashid Syariah, khususnya prinsip Hifdzul Mal atau perlindungan terhadap harta.

Dalam perspektif tersebut, APBN, pajak, dan sumber daya alam merupakan bagian dari harta publik yang diamanahkan untuk dikelola demi kemaslahatan masyarakat. Penyalahgunaan kekayaan publik, menurutnya, bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap amanah.

Karena itu, ia melihat penguatan institusi pemberantasan korupsi sebagai bagian dari upaya melembagakan prinsip perlindungan terhadap harta publik dalam tata kelola negara modern.

“Dengan memusatkan energi pada pencegahan dan penyelamatan aset, aparat penegak hukum sedang menjalankan mandat moral tertinggi dari Maqashid Syariah,” jelasnya.

Ia menambahkan, perlindungan terhadap harta publik juga memiliki keterkaitan dengan prinsip Hifdzun Nafs atau perlindungan jiwa dan Hifdzun Nasl atau perlindungan generasi masa depan.

Anggaran negara yang berhasil diselamatkan dari praktik korupsi, kata dia, pada akhirnya dapat dikembalikan untuk kepentingan masyarakat, seperti pembangunan fasilitas kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan berbagai pelayanan publik.

Kolaborasi, Bukan Kompetisi Kelembagaan

Komisi Pendidikan MUI Kabupaten Sidoarjo tersebut juga menyadari adanya pandangan kritis mengenai keberadaan Kortas Tipikor, termasuk kekhawatiran terkait potensi tumpang tindih kewenangan dengan lembaga penegak hukum lain.

Namun, ia menilai persoalan tersebut seharusnya tidak dilihat dalam kerangka kompetisi antarinstansi. Menurutnya, korupsi merupakan kejahatan yang kompleks dan sistemik sehingga membutuhkan kerja bersama seluruh lembaga penegak hukum.

“ Kita harus menggeser kerangka pandang kita menuju tata kelola kolaboratif (collaborative governance) yang berlandaskan prinsip ta’awun, yakni tolong-menolong dalam penegakan kebaikan,” ujarnya.

Menurutnya, jaringan kewilayahan Polri yang luas dapat menjadi kekuatan strategis dalam membangun sistem pencegahan dan deteksi dini terhadap praktik korupsi. Jika dikelola secara profesional dan berintegritas, struktur tersebut dapat memperkuat pengawasan hingga ke tingkat pemerintahan paling bawah.

Harus Diiringi Transformasi Kultur

Meski memberikan optimisme terhadap pembentukan Kortas Tipikor, Rangga menegaskan bahwa dukungan tersebut bukanlah cek kosong. Penguatan struktur kelembagaan harus berjalan beriringan dengan pengawasan masyarakat dan pembenahan budaya organisasi.

Integritas, profesionalitas, transparansi, serta keberanian untuk menindak korupsi tanpa pandang bulu menjadi faktor penting agar Kortas Tipikor benar-benar mampu menjalankan mandatnya.

“Transformasi struktural ini wajib diiringi oleh transformasi kultural di dalam tubuh kepolisian itu sendiri. Integritas, profesionalitas, dan keberanian membongkar kejahatan tanpa pandang bulu adalah ruh yang akan menghidupkan kerangka institusi ini,” ungkapnya.

Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat sipil untuk turut mengawal penguatan pemberantasan korupsi. Menurutnya, Kortas Tipikor harus mampu berkembang menjadi instrumen keadilan yang benar-benar menghadirkan manfaat bagi masyarakat, bukan sekadar menjadi simbol birokrasi baru.

“Dengan mengintegrasikan ketajaman epistemologis dalam melihat kejahatan dan mengamalkan prinsip Maqashid Syariah dalam melindungi hak publik, kita memiliki alasan yang sah untuk berharap bahwa babak baru perang melawan korupsi telah menemukan momentumnya,” pungkasnya.

Suasana English Festival UNUSIDA 2026 yang dilaksanakan oleh Hima PBI dan UKM English Club UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Meriah! Puluhan Peserta Unjuk Bakat dalam English Festival 2026 di UNUSIDA

SIDOARJO — Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (HIMA PBI) bersama UKM English Club Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menggelar English Festival 2026. Kegiatan yang diikuti oleh puluhan peserta tersebut dilaksanakan di Hall Kampus 2 Gedung A UNUSIDA, Sabtu (22/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, peserta berkesempatan menunjukkan kemampuan mereka melalui empat kategori perlombaan, yakni Speech, Singing, Storytelling, dan News Anchor. Melalui kategori tersebut, peserta tidak hanya ditantang untuk menguasai kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga mengembangkan keterampilan komunikasi, ekspresi, kreativitas, serta keberanian tampil di depan publik.

Kepala Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UNUSIDA, Evi Mahsunah, S.S., M.Pd., mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang digagas mahasiswa tersebut. Menurutnya, English Festival memberikan pengalaman belajar di luar pembelajaran formal sekaligus mendorong mahasiswa mengembangkan kompetensi bahasa Inggris melalui praktik langsung.

“English Festival menjadi ruang bagi peserta untuk belajar, berkompetisi, membangun jejaring, sekaligus memperoleh pengalaman baru dalam menggunakan bahasa Inggris,” ujarnya.

English Festival 2026 menjadi ruang bagi mahasiswa dan peserta untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris sekaligus menyalurkan kreativitas dan bakat melalui kompetisi yang edukatif dan kreatif. Kegiatan ini mengusung semangat untuk membangun kepercayaan diri peserta dalam menggunakan bahasa Inggris secara aktif dan aplikatif.

Tampak antusiasme puluhan peserta terlihat dalam berbagai kategori perlombaan. Mereka tampil dengan gaya dan kreativitas masing-masing, sekaligus menunjukkan keberanian dalam mengembangkan kemampuan komunikasi berbahasa Inggris.

Evi menjelaskan Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya PBI UNUSIDA menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih aplikatif. Kompetisi tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga proses belajar, pengalaman, dan pengembangan potensi peserta.

Melalui tema ‘Speak with Confidence, Perform with Passion, Shine with Excellence’, ia ingin mendorong Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di lingungan program studi untuk aktif dalam menghadirkan ruang yang mendorong peserta untuk berani berkomunikasi, berkarya, dan mengembangkan potensi melalui bahasa Inggris.

“English Festival 2026 ini menjadi momentum untuk menumbuhkan budaya berbahasa Inggris yang lebih aktif di lingkungan pendidikan serta memperluas kesempatan bagi mahasiswa dan peserta untuk terus belajar dan berkembang,” pungkasnya.

stan UNUSIDA Tech Factory di Stan Bazaar Nomor 20, SMK Kreatif Hasbullah. (Foto: Humas UNUSIDA)

Intip Ragam Inovasi Teknologi, Yuk Mampir ke Stan UNUSIDA Tech Factory saat Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Jombang

JOMBANG — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) turut memeriahkan pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Tambakberas, Jombang, dengan membuka stan yang secara khusus mengusung tema pengembangan teknologi dan transformasi digital.

Melalui UNUSIDA Tech Factory, perguruan tinggi NU tersebut memperkenalkan sejumlah inovasi digital yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan organisasi, lembaga pendidikan, pesantren, maupun masyarakat.

Penanggung Jawab (PJ) stand UNUSIDA, Dr. Arda Surya Editya, mengatakan kehadiran UNUSIDA dalam Muktamar NU ke-35 menjadi momentum untuk memperkenalkan sekaligus mendemonstrasikan berbagai solusi teknologi yang telah dikembangkan dan diimplementasikan.

“Stan UNUSIDA menjadi ruang untuk memperkenalkan berbagai inovasi digital yang dikembangkan sebagai solusi bagi organisasi, lembaga pendidikan, pesantren, serta masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, stan UNUSIDA tidak sekadar menjadi ruang pamer produk teknologi, tetapi juga ruang konsultasi dan demonstrasi. Pengunjung dapat berdiskusi secara langsung mengenai kebutuhan pembuatan website, aplikasi, sistem informasi, pemanfaatan kecerdasan buatan, hingga digitalisasi tata kelola lembaga.

Sejumlah produk unggulan yang diperkenalkan antara lain Smart Presence ASWAJA, sistem presensi dan manajemen kepegawaian berbasis digital; SITASNUDA, sistem tata kelola organisasi dan aset NU; SIMAYA, sistem informasi terpadu untuk yayasan dan pondok pesantren; serta GUS GPT, platform kecerdasan buatan yang dikembangkan untuk mendukung pengelolaan dan pemanfaatan pengetahuan keislaman serta khazanah pesantren.

Selain produk yang telah tersedia, UNUSIDA juga menawarkan layanan pengembangan website dan sistem informasi secara custom. Layanan tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan organisasi NU, pesantren, sekolah, yayasan, komunitas, maupun pelaku usaha.

Konsep stan dibuat interaktif dengan menyediakan perangkat display dan demonstrasi yang memungkinkan pengunjung melihat langsung cara kerja berbagai sistem. Dengan demikian, pengunjung tidak hanya mendapatkan informasi mengenai produk, tetapi juga dapat mencoba layanan, berkonsultasi mengenai kebutuhan digitalisasi, dan memperoleh gambaran solusi yang dapat diterapkan di lembaganya.

Teknologi untuk Memperkuat Khidmah

Dr. Arda menjelaskan, pengembangan teknologi di UNUSIDA tidak hanya diarahkan pada aspek inovasi, tetapi juga pada kebermanfaatan. Teknologi diharapkan mampu membantu organisasi bekerja lebih efektif, meningkatkan transparansi tata kelola, mempermudah pelayanan, sekaligus membuka peluang pengembangan lembaga secara berkelanjutan.

Semangat tersebut sejalan dengan konsep yang dibawa dalam stan UNUSIDA, yakni menghadirkan teknologi sebagai sarana untuk memperkuat pelayanan kepada umat.

Melalui berbagai solusi digital yang ditampilkan, UNUSIDA membuka peluang kolaborasi dengan pesantren, lembaga pendidikan, organisasi NU, yayasan, maupun berbagai institusi yang membutuhkan pengembangan teknologi sesuai dengan karakter dan kebutuhannya masing-masing.

Menjadi Ruang Kolaborasi Digital

Kehadiran UNUSIDA dalam Muktamar NU ke-35 juga diharapkan menjadi pintu masuk bagi terbentuknya berbagai kerja sama baru. Pengunjung dapat melakukan konsultasi langsung terkait pengembangan website, aplikasi, sistem tata kelola, hingga solusi berbasis kecerdasan buatan.

Khusus melalui pengembangan GUS GPT, pihaknya juga membuka peluang bagi pesantren untuk berkolaborasi sebagai mitra pengetahuan. Kolaborasi tersebut dapat dilakukan melalui penyediaan kitab, karya ulama, modul pembelajaran, materi kajian, maupun berbagai sumber pengetahuan pesantren yang dapat dikembangkan menjadi basis pengetahuan digital secara terkurasi.

Dengan demikian, transformasi digital tidak hanya dimaknai sebagai penggunaan teknologi, tetapi juga sebagai upaya menjaga, mengembangkan, dan memperluas manfaat khazanah keilmuan pesantren di era kecerdasan buatan.

Kunjungi Stan UNUSIDA

Pengunjung Muktamar NU ke-35 dapat mengunjungi stan UNUSIDA Tech Factory di Stan Bazaar Nomor 20, SMK Kreatif Hasbullah, di kompleks yang sama dengan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Karena berada di kompleks yang sama dengan Pondok Pesantren Bahrul Ulum—yang menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU—lingkungan sekolah ini turut berada di area sekitar pusat kegiatan pesantren di Tambakberas, Jombang.

Di lokasi tersebut, pengunjung dapat melihat demonstrasi sistem, mencoba berbagai produk digital, berkonsultasi mengenai kebutuhan teknologi, serta mendiskusikan peluang kerja sama dan pengembangan sistem bersama UNUSIDA.

“Melalui partisipasi dalam Muktamar NU ke-35 ini, kami berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi NU dalam pengembangan teknologi. Inovasi Digital untuk Lembaga, Umat, dan Masa Depan,” pungkasnya.

Penyerahan apresiasi untuk Mahasiswa dan Dosen Berprestasi saat Mujahadah Putaran 4 Tahun 2026 (Foto: Humas UNUSIDA)

Momentum Mujahadah, UNUSIDA Beri Apresiasi bagi Dosen dan Mahasiswa Berprestasi

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) memberikan apresiasi kepada mahasiswa dan dosen pembimbing yang berhasil meraih prestasi dalam berbagai kompetisi tingkat nasional maupun internasional. Pemberian apresiasi tersebut menjadi bentuk penghargaan kampus atas capaian sekaligus motivasi bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan potensi dan mengukir prestasi.

Apresiasi diberikan kepada mahasiswa dari berbagai program studi yang berhasil meraih juara dalam kompetisi karya ilmiah, inovasi, olahraga, hingga ajang internasional. Momentum tersebut juga menjadi bagian dari upaya UNUSIDA membangun budaya akademik dan kemahasiswaan yang kompetitif, produktif, serta berorientasi pada pengembangan potensi mahasiswa.

Kepala Biro Kemahasiswaan, Karier dan Alumni UNUSIDA, Fajar Nur Yasin, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa penghargaan tersebut tidak hanya ditujukan sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang telah diraih, tetapi juga sebagai inspirasi bagi mahasiswa lainnya.

“Apresiasi ini sebagai inspirasi untuk lebih berprestasi sebagai mahasiswa. Semoga capaian yang diraih oleh teman-teman mahasiswa dapat memotivasi mahasiswa lainnya untuk berani mengikuti kompetisi dan mengembangkan potensi yang dimiliki,” jelasnya usai penyerahan apresiasi dalam Mujahadah UNUSIDA, Jum’at (21/8/2026).

Sejumlah prestasi yang mendapatkan apresiasi di antaranya Juara 1 Karya Tulis Ilmiah Nasional kategori Sains Indonesia Young Scientist Association (IYSA) 2026 yang diraih Moch. Rifky Sabilul K., Khoirul Anam, dan M. Athaalf Attohir dari Program Studi Informatika dengan dosen pembimbing Mochammad Machlul Alamin, M.Kom.

Prestasi serupa juga diraih M. Rafi Nur Setyawan, A. Raffy Nadjib, dan M. Satrio Rohmatullah dari Program Studi Informatika yang berhasil meraih Juara 1 Karya Tulis Ilmiah Nasional kategori Sosial IYSA 2026, juga dengan dosen pembimbing Mochammad Machlul Alamin, M.Kom.

Dari Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Maulidatul Qomariyah, Mir’a Tia Musfiro, dan Elysia Hilda Maghfiroh berhasil meraih Juara 1 Karya Terapan dan Inovatif (Karya HKI) dalam Lomba Aksi Inklusi Nasional 2025.

Prestasi lainnya diraih Aininna Halizah Rahma dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang meraih Juara 1 Duta Putri PTNU LPTNU Award 2026.

Di bidang olahraga, Revalina Bilqis Saputri dari Program Studi Akuntansi berhasil meraih Juara 2 Kelas C Dewasa Putri UMSURA National Pencaksilat Championship 2026. Sementara M. Badrun Najah dari Program Studi Manajemen meraih Juara 3 Kelas F Dewasa Putra pada ajang yang sama.

Prestasi di tingkat internasional juga berhasil ditorehkan mahasiswa UNUSIDA. Tim yang terdiri atas Nafi’ Mardiansyah, Rijal Maulana, M. Fathir Firmansyah, Pingkia Angelica T., dan Rizky Octavian R. berhasil meraih Bronze Award dalam Rembau International Innovation & Design Exhibition (RIIDEX), dengan dosen pembimbing Devika Cherly P., S.Mn., M.M.

Sementara itu, M. Azizil Ghofur, Abdulrashid Lawal, Silmi Za’iimah, M. Syauqi Ardani F., dan M. Farid Maulana berhasil meraih Silver Medal dalam Malaysia Invention & Innovation Expo 2026 (University Student Innovator). Tim tersebut dibimbing oleh Dr. Arda Surya Editya, S.Pd., M.T.

Beragam capaian tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa UNUSIDA memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan kemampuan di berbagai bidang, baik akademik, inovasi, olahraga, maupun kompetisi internasional.

Fajar menambahkan, prestasi mahasiswa tidak terlepas dari dukungan dosen pembimbing, program studi, fakultas, serta berbagai pihak di lingkungan kampus. Karena itu, apresiasi juga diberikan kepada dosen yang telah mendampingi mahasiswa dalam proses persiapan hingga mengikuti kompetisi.

“Semoga sinergi antara mahasiswa dan dosen pembimbing terus diperkuat. Prestasi bukan hanya tentang mendapatkan juara, tetapi juga tentang proses belajar, keberanian mencoba, kerja keras, dan pengalaman yang diperoleh selama mengikuti kompetisi,” tambahnya.

Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tersebut menjelaskan, pemberian apresiasi ini menjadi bagian dari komitmen UNUSIDA dalam menciptakan lingkungan kampus yang mendorong mahasiswa untuk aktif berprestasi. Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, berinovasi, dan membawa nama baik UNUSIDA di tingkat nasional maupun internasional.

“Dengan semakin banyaknya mahasiswa yang berprestasi, kami ingin terus mendorong terwujudnya ekosistem pendidikan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pengembangan karakter, kreativitas, kompetensi, dan daya saing mahasiswa,” pungkasnya.

Mahasiswi FKIP UNUSIDA Raih Prestasi Best Intern Putri Program Magang WIJABA 1

Mahasiswi FKIP UNUSIDA Raih Prestasi Best Intern Putri Program Magang WIJABA

SURABAYA – Kabar membanggakan kembali datang dari mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Ainina Halizah Rahma, mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), berhasil meraih penghargaan sebagai Best Intern Putri Divisi Edukasi Lingkungan dalam program Magang WIJABA.

Penghargaan tersebut diterima Ainina pada rangkaian acara graduation program Magang WIJABA yang dilaksanakan di Excotel Hotel Surabaya, Jalan Ahmad Yani No. 119, Jemur Wonosari, Surabaya. Prestasi tersebut menjadi pencapaian membanggakan karena Ainina terpilih sebagai peserta magang terbaik putri dari tiga regional, yakni Sidoarjo, Bali, dan Kediri.

Pencapaian ini sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa UNUSIDA mampu mengembangkan potensi dan kompetensinya tidak hanya melalui kegiatan akademik di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman profesional di luar kampus. Keikutsertaan dalam program magang menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan, membangun pengalaman kerja, memperluas jejaring, serta mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Sebagai mahasiswa PGSD, Ainina memiliki latar belakang pendidikan yang erat dengan dunia pendidikan dan pengembangan karakter generasi muda. Melalui keterlibatannya dalam Divisi Edukasi Lingkungan, ia memperoleh pengalaman untuk berkontribusi dalam kegiatan edukatif yang berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Penghargaan Best Intern Putri Divisi Edukasi Lingkungan menjadi bukti atas dedikasi, tanggung jawab, serta kontribusi Ainina selama mengikuti program magang. Capaian tersebut juga menjadi motivasi bahwa mahasiswa dapat mengembangkan kompetensi lintas bidang dengan memanfaatkan berbagai kesempatan pembelajaran yang tersedia.

Program Magang WIJABA memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperoleh pengalaman langsung dalam lingkungan kerja dan kegiatan profesional. Selama menjalani program, peserta dituntut untuk mampu beradaptasi, bekerja sama dalam tim, menyelesaikan tanggung jawab, serta menunjukkan kreativitas dalam menjalankan berbagai tugas yang diberikan.

Bagi Ainina, pengalaman tersebut menjadi proses pembelajaran yang berharga. Tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, ia juga berkesempatan mengembangkan kemampuan komunikasi, koordinasi, kerja sama, kepemimpinan, dan pengelolaan kegiatan. Berbagai pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.

Keberhasilan Ainina menjadi Best Intern Putri dari tiga regional juga menunjukkan bahwa persaingan dalam program tersebut berlangsung secara luas. Peserta berasal dari beberapa wilayah dengan latar belakang dan potensi yang beragam. Karena itu, capaian yang diraih Ainina menjadi prestasi yang patut diapresiasi sekaligus menjadi representasi positif mahasiswa UNUSIDA dalam mengikuti program pengembangan diri di luar kampus.

Prestasi ini juga selaras dengan komitmen UNUSIDA dalam mendorong mahasiswa untuk menjadi pribadi yang unggul, adaptif, dan berdampak. Perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam memberikan bekal pengetahuan akademik, tetapi juga perlu membuka ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman praktis dan mengembangkan soft skill yang dibutuhkan di dunia profesional.

Bagi mahasiswa PGSD, pengalaman di bidang edukasi lingkungan memiliki nilai tambah tersendiri. Guru masa depan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan mengajar, tetapi juga mampu menanamkan nilai kepedulian, tanggung jawab, dan kesadaran terhadap lingkungan kepada peserta didik. Pengalaman yang diperoleh Ainina selama mengikuti program magang dapat menjadi modal berharga untuk dikembangkan dalam dunia pendidikan.

Kegiatan graduation menjadi momentum penting untuk memberikan apresiasi kepada para peserta yang telah menyelesaikan rangkaian program Magang WIJABA. Penghargaan yang diterima Ainina menjadi salah satu capaian yang menambah deretan prestasi mahasiswa UNUSIDA sekaligus menunjukkan pentingnya keberanian mahasiswa dalam mengambil kesempatan untuk belajar dan berkembang.

Ke depan, capaian tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa UNUSIDA lainnya untuk aktif mengikuti berbagai program magang, kompetisi, organisasi, maupun kegiatan pengembangan kompetensi. Setiap pengalaman yang dijalani selama masa perkuliahan dapat menjadi bagian penting dalam membangun portofolio dan kesiapan menghadapi dunia profesional.

Prestasi Ainina Halizah Rahma juga menjadi pengingat bahwa proses belajar tidak terbatas pada ruang kelas. Pengalaman langsung, interaksi dengan berbagai pihak, kemampuan beradaptasi, serta keberanian mengambil tanggung jawab merupakan bagian penting dari perjalanan mahasiswa menuju dunia kerja.

Dengan diraihnya penghargaan Best Intern Putri Divisi Edukasi Lingkungan, Ainina telah membawa nama baik FKIP dan Program Studi PGSD UNUSIDA dalam program Magang WIJABA. Capaian tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk terus menorehkan prestasi sekaligus memberikan kontribusi positif di bidang pendidikan dan lingkungan.

UNUSIDA pun terus mendorong lahirnya mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki pengalaman, kompetensi, kreativitas, dan kepedulian sosial. Prestasi Ainina menjadi bukti bahwa dengan dedikasi, kemauan belajar, dan keberanian mengambil peluang, mahasiswa mampu menghasilkan pencapaian yang membanggakan serta memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.

Mahasiswa UNUSIDA Arifin Lolos Top 20 Finalist NPEA 2026, Bawa Nama Kampus dalam Kompetisi Desain Kemasan 2

Mahasiswa UNUSIDA Arifin Lolos Top 20 Finalist NPEA 2026, Bawa Nama Kampus dalam Kompetisi Desain Kemasan

Sidoarjo, 22 Agustus 2026 — Kabar membanggakan datang dari Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA). Salah satu mahasiswa UNUSIDA, Arifin (NIM 22424064), berhasil masuk dalam jajaran Top 20 Finalist Nusantara Packaging Experience Awards (NPEA) 2026, sebuah kompetisi yang mengangkat kreativitas dan inovasi dalam bidang desain kemasan.

Pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi UNUSIDA karena Arifin berhasil bersaing dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi dan menunjukkan kemampuan dalam menghasilkan karya desain kemasan yang kreatif serta memiliki nilai inovasi. Keberhasilan masuk 20 besar menjadi bukti bahwa mahasiswa UNUSIDA memiliki potensi untuk berkompetisi dan berprestasi di tingkat nasional.

Informasi mengenai keberhasilan Arifin sebagai Top 20 Finalist NPEA 2026 disampaikan oleh Kabiro Humas Kerjasama Sonhaji, yang turut memberikan dukungan atas capaian mahasiswa tersebut. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa UNUSIDA lainnya untuk terus mengembangkan kemampuan, berani mengikuti kompetisi, serta membawa nama baik almamater di berbagai ajang prestasi.

NPEA 2026 memberikan ruang bagi mahasiswa dan generasi muda untuk mengeksplorasi ide-ide kreatif dalam desain kemasan. Kemasan tidak hanya berfungsi sebagai pelindung produk, tetapi juga memiliki peran penting dalam membangun identitas merek, menarik perhatian konsumen, menyampaikan informasi produk, serta meningkatkan daya saing sebuah produk di pasar.

Dalam konteks tersebut, kompetisi desain kemasan menjadi salah satu wadah strategis bagi mahasiswa untuk menggabungkan kreativitas, kemampuan desain, pemahaman terhadap kebutuhan konsumen, serta perspektif pemasaran. Bagi mahasiswa bidang manajemen dan kewirausahaan, kemampuan memahami kemasan sebagai bagian dari strategi pemasaran juga menjadi kompetensi yang relevan dengan perkembangan dunia bisnis saat ini.

Keberhasilan Arifin menembus Top 20 Finalist NPEA 2026 sekaligus menunjukkan pentingnya kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi melalui kegiatan di luar pembelajaran akademik. Kompetisi dapat menjadi sarana untuk menguji kemampuan, memperoleh pengalaman baru, membangun jejaring, sekaligus mendapatkan apresiasi atas karya yang telah dihasilkan.

UNUSIDA menyampaikan apresiasi dan dukungan kepada Arifin atas pencapaiannya tersebut. Masuknya mahasiswa UNUSIDA dalam jajaran 20 besar finalis merupakan sebuah capaian yang patut diapresiasi dan diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju prestasi yang lebih tinggi.

“Selamat dan sukses kepada Arifin, mahasiswa UNUSIDA yang berhasil masuk Top 20 Finalist NPEA 2026. Semoga pencapaian ini menjadi motivasi untuk terus berkarya, berinovasi, dan mengharumkan nama Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo,” demikian pesan dukungan yang disampaikan sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi tersebut.

Selanjutnya, para finalis akan mengikuti rangkaian menuju NPEA Awards Ceremony yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Agustus 2026. Momentum tersebut menjadi kesempatan bagi para finalis untuk mendapatkan apresiasi atas karya dan proses kreatif yang telah mereka lalui selama kompetisi.

Bagi UNUSIDA, prestasi mahasiswa bukan hanya menjadi kebanggaan individu, tetapi juga bagian dari kontribusi mahasiswa dalam membangun reputasi positif perguruan tinggi. Setiap prestasi yang diraih mahasiswa menjadi bukti bahwa proses pendidikan di kampus dapat berjalan beriringan dengan pengembangan kreativitas, inovasi, kompetensi, dan keberanian untuk berkompetisi.

UNUSIDA terus mendorong mahasiswa agar aktif mengikuti berbagai kompetisi, kegiatan ilmiah, pengembangan kreativitas, kewirausahaan, maupun kegiatan lainnya yang dapat memperkuat kompetensi dan pengalaman mereka. Dukungan terhadap prestasi mahasiswa juga sejalan dengan semangat UNUSIDA sebagai kampus yang mendorong lahirnya generasi muda yang kreatif, kompeten, berdaya saing, dan mampu memberikan dampak bagi masyarakat.

Capaian Arifin di NPEA 2026 diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk tidak ragu menuangkan ide dan kreativitas ke dalam karya yang bernilai. Perjalanan menuju Top 20 Finalist merupakan pencapaian yang patut diapresiasi, sekaligus menjadi motivasi untuk terus berkembang dan memberikan prestasi terbaik.

UNUSIDA pun memberikan dukungan penuh kepada Arifin untuk mengikuti tahapan selanjutnya hingga malam penghargaan. Semoga Arifin mampu memberikan hasil terbaik dan kembali membawa kabar membanggakan bagi keluarga, almamater, serta seluruh sivitas akademika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo.

Selamat kepada Arifin atas keberhasilannya menjadi Top 20 Finalist NPEA 2026. Terus berkarya, berinovasi, dan harumkan nama UNUSIDA!

Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof. Eko Setijadi, S.T., M.T., Ph.D saat menyampaikan pesan dalam Yudisium ke-10 Fakultas Teknik UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-10 Fakultas Teknik UNUSIDA, Prof. Eko Setijadi Tekankan Alumni Jadi Bagian Penting Kemajuan Kampus

SIDOARJO — Salah satu Pengurus Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Prof. Eko Setijadi, S.T., M.T., Ph.D., berpesan agar para alumni tidak berhenti pada pencapaian gelar sarjana, tetapi terus membawa nama baik dan berkontribusi bagi almamater.

Dalam pesannya, Prof. Eko mengaku bangga melihat perkembangan Fakultas Teknik UNUSIDA yang terus bertumbuh dibandingkan masa-masa awal perjuangan kampus. Menurutnya, kemajuan tersebut tidak terlepas dari kerja keras para pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh pihak yang ikut membangun Fakultas Teknik.

“Sebagai yang mewakili Ketua Umum, saya merasa bangga sekali. Dulu kita memulai dengan segala usaha, sekarang saya bisa melihat apa yang telah diperjuangkan Bapak-Ibu di sini,” ujarnya saat menyampaikan sambutan dalam Yudisium ke-10 Fakultas Teknik UNUSIDA, Rabu (19/8/2026).

Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tersebut menilai perkembangan fasilitas dan sistem pembelajaran yang semakin baik merupakan hasil dari proses panjang. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman pendidikan yang semakin mendukung proses pengembangan kompetensi.

Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan kampus tidak hanya diukur dari perkembangan fasilitas maupun jumlah lulusan. Keberhasilan sebuah perguruan tinggi juga tercermin dari kiprah para alumninya setelah meninggalkan kampus.

Oleh karena itu, Prof. Eko berharap para lulusan Fakultas Teknik UNUSIDA mampu menunjukkan perubahan kualitas diri setelah menyandang gelar sarjana. Ilmu yang diperoleh selama kuliah harus mampu membentuk sikap, meningkatkan kompetensi, serta memperkuat daya saing ketika memasuki dunia kerja dan masyarakat.

“Apa yang telah Anda terima di sini semoga bisa merubah Anda. Dulu misalnya masih SMA, sekarang sudah menjadi sarjana. Merubah sikap, merubah kualitas, sehingga Anda punya daya saing,” pesannya.

Ia juga memberikan perhatian kepada lulusan yang telah maupun belum memasuki dunia kerja. Bagi yang sudah bekerja, ia berharap ilmu dari Fakultas Teknik dapat menjadi bekal untuk meningkatkan karier dan memberikan kontribusi di tempat kerja. Sementara bagi yang belum bekerja, ia berpesan agar tidak berhenti berusaha dan terus mengembangkan kemampuan.

Menurut Prof. Eko, perjalanan para mahasiswa Fakultas Teknik memiliki tantangan tersendiri. Sebagian mahasiswa harus berjuang dengan kondisi dan keterbatasan yang berbeda, sehingga keberhasilan mencapai gelar sarjana patut diapresiasi.

“Tidak semua orang mempunyai perjalanan yang sama. Anda perlu bangga karena mempunyai sesuatu yang berbeda dan luar biasa. Kampus ini menjadi tempat untuk berjuang memperbaiki nasib dengan usaha dan doa,” tuturnya.

Lebih dari sekadar sukses secara pribadi, Prof. Eko berharap para alumni menjadikan keberhasilan mereka sebagai bagian dari perjalanan untuk membesarkan almamater. Ia menilai kontribusi alumni akan menjadi salah satu kekuatan penting dalam membangun reputasi dan kemajuan UNUSIDA ke depan.

“Kebanggaan bagi kita para dosen adalah mendengar kabar baik dari alumninya. Syukur-syukur kalau ada alumni yang ikut berkontribusi untuk kemajuan kampusnya,” ungkapnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi harapan agar hubungan antara kampus dan alumni tidak berhenti setelah prosesi yudisium. Para lulusan diharapkan tetap menjadi bagian dari keluarga besar UNUSIDA, membawa nilai-nilai yang diperoleh selama kuliah, serta membuka ruang kolaborasi untuk kemajuan almamater.

Lebih lanjut, Prof. Eko mendoakan agar para lulusan Yudisium ke-10 Fakultas Teknik UNUSIDA mampu meraih prestasi dan memberikan manfaat di tengah masyarakat. Dalam rangka untuk membuktikan bahwa keberhasilan alumni bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi bagian penting dari perjalanan dan kemajuan almamater.

“Semoga apa yang diberikan oleh Bapak-Ibu dosen di sini bisa membawa manfaat bagi Anda di dunia kerja, meningkatkan karier, dan semoga apa yang Anda cita-citakan bisa tercapai. Saya juga berdoa semoga kampus Universitas semakin jaya dan alumni yang dihasilkan punya prestasi, semasa kuliah maupun setelah kuliah,” pungkasnya.

Momen foto bersama seluruh peserta Yudisium ke-10 Fakultas Teknik UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Yudisium ke-10 Fakultas Teknik UNUSIDA, Tekankan Pentingnya Menjaga Nama Baik Almamater

SIDOARJO — Fakultas Teknik (FT) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Yudisium ke-10 di Hall Gedung A, Kampus UNUSIDA Lingkar Timur Sidoarjo, Rabu (19/8/2026) malam. sebagai momentum pengukuhan sekaligus pelepasan mahasiswa yang telah menyelesaikan rangkaian pendidikan akademiknya.

Dekan Fakultas Teknik UNUSIDA, Listin Fitrianah, S.P., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan komitmen Fakultas Teknik untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan, pengajaran, serta fasilitas penunjang pembelajaran. Salah satu pengembangan yang menjadi perhatian adalah penambahan fasilitas laboratorium.

Menurutnya, keberadaan laboratorium yang lengkap menjadi bagian penting dalam mendukung proses pembelajaran mahasiswa Fakultas Teknik. Sejumlah mahasiswa juga telah memanfaatkan fasilitas tersebut dalam kegiatan perkuliahan.

“Fakultas Teknik kalau laboratoriumnya tidak lengkap juga sulit. Karena itu, kami berharap pengembangan laboratorium dapat terus didukung secara bertahap sehingga bisa menunjang kebutuhan pembelajaran mahasiswa,” ujarnya.

Listin juga menyampaikan permohonan maaf mewakili jajaran struktural Fakultas Teknik apabila selama proses pendidikan terdapat kesalahan dalam pelayanan maupun penyampaian. Ia menegaskan bahwa Fakultas Teknik terus berupaya memberikan pelayanan, pengajaran, dan fasilitas terbaik bagi mahasiswa.

Memasuki fase setelah kelulusan, ia berpesan kepada para yudisiawan agar tetap menjaga nama baik almamater. Yudisium kali ini menjadi ruang refleksi atas perjuangan mahasiswa selama menempuh pendidikan sekaligus bekal untuk memasuki kehidupan profesional dan bermasyarakat. Menurutnya, status sebagai alumni UNUSIDA merupakan bagian dari perjalanan yang perlu dibanggakan sekaligus dijaga melalui sikap dan kontribusi positif di tengah masyarakat.

“Ketika kita lulus, tolong dijaga almamater kita. Kita harus bangga sebagai alumni UNUSIDA. Jika ada informasi maupun perkembangan dari luar, mari kita saling berbagi dan menyampaikannya kepada adik-adik tingkat,” pesannya.

Ia juga mengajak para alumni untuk turut berkontribusi dalam mengenalkan Fakultas Teknik UNUSIDA kepada keluarga, tetangga, maupun calon mahasiswa yang memiliki minat melanjutkan pendidikan di bidang teknik. Listin berharap dengan bekal akademik, pengalaman organisasi, serta nilai-nilai yang diperoleh selama berada di kampus, para alumni mampu hadir sebagai tenaga profesional sekaligus bagian dari masyarakat yang memberikan kontribusi nyata.

“Kalau ada keluarga atau tetangga yang berminat menjadi mahasiswa baru, mari kita ajak dan kita sampaikan bahwa Fakultas Teknik UNUSIDA memiliki dosen-dosen yang siap mendampingi mahasiswa dalam proses perkuliahan,” lanjutnya.

Sementara itu, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd., menekankan bahwa kelulusan bukan sekadar capaian akademik, melainkan hasil dari perjuangan panjang mahasiswa selama menempuh pendidikan.

Ia mengapresiasi perjuangan mahasiswa Fakultas Teknik yang menjalani proses perkuliahan dengan berbagai tantangan, termasuk bagi mahasiswa yang harus membagi waktu antara perkuliahan, pekerjaan, dan kehidupan keluarga.

“Perjuangan kuliah di Fakultas Teknik tidak mudah. Karena itu, saya menghargai proses yang telah dilalui hingga hari ini. Empat tahun atau bahkan lebih bukan waktu yang pendek. Ada perjuangan, kelelahan, dan proses panjang yang akhirnya mengantarkan saudara menyandang gelar Sarjana Teknik,” ungkapnya.

Menurutnya, setelah meninggalkan ruang kelas, para lulusan akan memasuki dunia nyata yang memiliki tantangan berbeda. Karena itu, ilmu yang diperoleh selama perkuliahan harus diwujudkan dalam sikap profesional, kemampuan memecahkan persoalan, serta perilaku yang mencerminkan nilai-nilai yang telah dipelajari selama menjadi mahasiswa.

“Dari ruang kelas menuju dunia nyata, ilmu yang diperoleh selama empat tahun harus digunakan untuk menghadapi berbagai persoalan. Bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga bagaimana cara kita berperilaku dan menjadi profesional,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan para lulusan agar tetap menjaga hubungan dengan almamater sebagai bagian dari keluarga besar UNUSIDA. Kelulusan, menurutnya, bukan akhir dari hubungan mahasiswa dengan kampus, melainkan awal dari perjalanan baru untuk membawa nilai-nilai UNUSIDA ke tengah masyarakat.

Lebih lanjut, Hadi menyampaikan apresiasi kepada para lulusan atas perjuangan yang telah mereka lalui serta berharap ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, nusa, dan bangsa.

“Selamat atas kelulusan saudara. Semoga ilmu yang diperoleh selama di UNUSIDA menjadi ilmu yang bermanfaat untuk nusa dan bangsa. Tetap jaga almamater, semangat, terus berdoa, serta jangan lupa menyampaikan salam dan terima kasih kepada orang tua dan keluarga masing-masing,” pungkasnya.

kajian aswaja ngaji rutin pasaran unusida

Shalat: Dari Kewajiban Ritual Menuju Transformasi Akhlak dan Kepedulian Sosial

Oleh: Dr. H. Wachyudi Achmad, M.Pd.

Salat merupakan salah satu ibadah utama yang menjadi kewajiban setiap Muslim. Salat tidak hanya menjadi bentuk penghambaan seorang manusia kepada Allah SWT, tetapi juga memiliki tujuan yang lebih luas, yaitu membentuk pribadi yang bertakwa, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Oleh karena itu, memahami salat tidak cukup hanya dari sisi tata cara pelaksanaannya, tetapi juga perlu memahami makna dan dampaknya terhadap kehidupan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 45 bahwa sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ayat tersebut memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa salat memiliki fungsi transformatif. Salat seharusnya mampu memberikan perubahan dalam diri seseorang. Semakin baik kualitas salat seseorang, idealnya semakin baik pula perilaku dan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Salat merupakan kewajiban yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Bahkan ketika seseorang berada dalam kondisi sakit dan tidak mampu melaksanakan salat secara normal, Allah SWT tetap memberikan kemudahan. Salat dapat dilaksanakan dengan duduk atau berbaring sesuai dengan kemampuan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya salat sehingga dalam kondisi apa pun seorang Muslim tetap diperintahkan untuk menjaga hubungan dengan Allah SWT.

Namun, ada sebuah pertanyaan yang penting untuk kita renungkan. Mengapa seseorang yang telah melaksanakan salat masih dapat menyimpan kebencian di dalam hati? Mengapa seseorang yang rajin salat terkadang masih kurang memiliki kepedulian terhadap tetangga, saudara, atau orang-orang yang berada di sekitarnya?

Pertanyaan tersebut membawa kita kepada pemahaman bahwa salat memiliki dimensi yang lebih luas. Salat dapat dipahami melalui dua dimensi, yaitu dimensi eksoteris dan dimensi esoteris.

Dimensi eksoteris merupakan dimensi lahiriah yang berkaitan dengan pelaksanaan salat berdasarkan ketentuan syariat. Salat dimulai dengan niat, takbiratul ihram, dilanjutkan dengan rukun dan bacaan yang telah ditentukan, kemudian diakhiri dengan salam. Semua ketentuan tersebut harus dipenuhi agar salat dapat dilaksanakan secara benar.

Akan tetapi, salat tidak berhenti pada aspek lahiriah. Terdapat dimensi esoteris yang berkaitan dengan hati dan kedalaman spiritual seseorang. Dimensi inilah yang seharusnya menjadi perhatian dalam kehidupan seorang Muslim. Salat seharusnya menghadirkan kesadaran bahwa kita sedang berhadapan dan bermunajat kepada Allah SWT.

Ketika seseorang berdiri dalam salat, sesungguhnya ia sedang belajar untuk tunduk, menyerahkan diri, dan mengakui bahwa dirinya adalah hamba Allah. Kesadaran tersebut seharusnya tidak hanya hadir selama beberapa menit ketika salat berlangsung, tetapi juga terbawa setelah seseorang selesai melaksanakan salat.

Jika salat benar-benar dihayati, maka hati akan menjadi lebih peka. Kepekaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan manusia dengan manusia. Orang yang memahami makna salat seharusnya memiliki kepedulian terhadap kesulitan orang lain, memperhatikan kondisi tetangga, membantu saudara yang membutuhkan, dan tidak bersikap egois terhadap lingkungan sosialnya.

Di sinilah pentingnya membedakan antara sekadar menjalankan salat dan menghadirkan nilai salat dalam kehidupan. Seseorang mungkin telah memenuhi ketentuan lahiriah salat, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya belum sepenuhnya terwujud dalam perilakunya. Karena itu, yang perlu dilakukan bukan mempertanyakan keberadaan salatnya, tetapi melakukan introspeksi terhadap kualitas penghayatan salat tersebut.

Salat juga merupakan momentum bagi manusia untuk mengadu kepada Allah SWT. Setiap manusia memiliki persoalan dan problematika kehidupan. Ada persoalan keluarga, pekerjaan, ekonomi, pendidikan, maupun berbagai persoalan lainnya. Dalam salat, seorang hamba memiliki ruang untuk menyerahkan segala kegelisahan tersebut kepada Allah SWT.

Pesan tersebut semakin kuat ketika kita memahami Surah Al-Fatihah, khususnya ayat “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.” Hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Ayat tersebut mengajarkan tentang ketundukan sekaligus ketergantungan manusia kepada Allah SWT.

Karena itu, mari kita menjadikan salat bukan sekadar rutinitas lima waktu, tetapi sebagai proses pembentukan diri. Salat harus menjadi sumber kekuatan spiritual, ketenangan hati, pengendalian diri, dan dorongan untuk berbuat baik kepada sesama.

Pada akhirnya, kualitas salat dapat tercermin dari kualitas kehidupan seseorang. Salat yang benar akan mendorong seseorang untuk menjauhi keburukan, memperbaiki akhlak, meningkatkan kepekaan sosial, serta semakin dekat kepada Allah SWT.

Salat adalah perjalanan dari gerakan menuju kesadaran, dari kewajiban menuju kebutuhan, dan dari ibadah menuju transformasi akhlak. Semoga kita semua mampu menjaga salat secara lahir dan batin, sehingga menjadi hamba-hamba Allah SWT yang bertakwa, beriman, memiliki kepedulian sosial, serta memperoleh keberuntungan dalam kehidupan dunia dan akhirat.