Pos

Lembaga SDM UNUSIDA memberikan apresiasi kepada Staff UNUSIDA TV, Mujianto, S.Kom., sebagai Tenaga Kependidikan Terbaik dan Akhmad Maulana Didayat sebagai Tenaga Operasional Terbaik. (Foto: Humas UNUSIDA)

Perkuat Semangat Berkhidmah, SDM UNUSIDA Beri Apresiasi Tenaga Operasional dan Tenaga Kependidikan Terbaik

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menyelenggarakan kegiatan Apresiasi Sumber Daya Manusia (SDM) UNUSIDA di Hall Lantai 5 Gedung A, Kampus UNUSIDA, Selasa (13/10/2026). Kegiatan ini menjadi bentuk penghargaan atas dedikasi dosen dan tenaga kependidikan sekaligus momentum untuk memperkuat budaya kerja, meningkatkan kapasitas, serta mendorong tata kelola perguruan tinggi yang semakin baik.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, Kepala Lembaga Sumber Daya Manusia (LSDM) UNUSIDA, Jeziano Rizkita Boyas, serta jajaran kepala biro, kepala lembaga, kepala unit pelaksana teknis (UPT), dosen, dan tenaga kependidikan di lingkungan UNUSIDA.

Dalam sambutannya, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, menegaskan bahwa pertumbuhan institusi harus berjalan seiring dengan peningkatan kedewasaan dalam tata kelola, kedisiplinan, dan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, UNUSIDA yang terus berkembang membutuhkan seluruh elemen kampus yang juga bersedia bertumbuh, belajar, dan meningkatkan kompetensi sesuai dengan tuntutan institusi. Kedewasaan organisasi tidak hanya ditunjukkan melalui perkembangan fasilitas, tetapi juga melalui kualitas pelayanan, tanggung jawab, serta kemampuan setiap individu dalam menjalankan perannya.

“UNUSIDA tumbuh sejalan dengan usianya. Karena itu, tata kelola harus semakin baik dan kedisiplinan tenaga kependidikan harus terus meningkat. Kita perlu belajar, meningkatkan kapasitas masing-masing, dan menjaga semangat berkhidmah di UNUSIDA,” pesannya.

Ia juga menekankan bahwa apresiasi merupakan bagian dari upaya membangun lingkungan kerja yang positif dan mendorong seluruh sivitas akademika untuk terus memberikan kontribusi terbaik. Penghargaan tidak hanya menjadi bentuk pengakuan atas capaian, tetapi juga motivasi untuk memperbaiki kualitas diri dan kinerja secara berkelanjutan.

Lebih lanjut, Dr. Hadi mengajak seluruh keluarga besar UNUSIDA untuk membangun semangat tumbuh bersama. Setiap unsur, baik dosen maupun tenaga kependidikan, memiliki peran penting dalam mendukung pelayanan akademik, pengembangan mahasiswa, dan kemajuan universitas.

Ia menyampaikan apresiasi kepada LSDM yang telah menginisiasi kegiatan tersebut. Ia berharap penghargaan ini dapat menjadi pemantik semangat bagi seluruh pegawai untuk terus meningkatkan profesionalisme, menjaga kekompakan, dan memperkuat kontribusi bagi kemajuan universitas.

“Seiring dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap perguruan tinggi, kita juga dituntut untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan tata kelola. Oleh sebab itu, kita semua harus mampu beradaptasi, terbuka terhadap evaluasi, serta memiliki kemauan untuk mengembangkan kompetensi sesuai bidang tugas masing-masing,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, SDM UNUSIDA memberikan apresiasi kepada Staff UNUSIDA TV, Mujianto, S.Kom., sebagai Tenaga Kependidikan Terbaik dan Akhmad Maulana Didayat sebagai Tenaga Operasional Terbaik sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi, kedisiplinan, dan kontribusi dalam mendukung kelancaran layanan serta operasional kampus.

Sementara itu, Kepala LSDM UNUSIDA, Jeziano Rizkita Boyas, menjelaskan bahwa pemberian penghargaan dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan Nomor 0709.1/2026 tentang Dosen Berprestasi serta Tenaga Kependidikan dan Tenaga Operasional Terbaik.

Ia memaparkan bahwa proses penilaian dilakukan melalui sejumlah indikator yang dirancang untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai kinerja dan kontribusi pegawai selama menjalankan tugasnya.

Indikator pertama adalah rata-rata Key Performance Indicator (KPI) selama enam bulan. Indikator kedua berupa survei pelayanan yang dapat diakses melalui kode batang atau barcode yang tersedia di lingkungan kampus. Survei tersebut menjadi salah satu instrumen untuk melihat kualitas pelayanan yang diberikan kepada sivitas akademika maupun pihak yang berkepentingan.

Indikator ketiga adalah performa operasional yang dinilai oleh kepala biro, kepala lembaga, dan kepala UPT. Penilaian ini tidak hanya memperhatikan hasil pekerjaan teknis, tetapi juga karakter dan perilaku profesional dalam bekerja, seperti kerja sama, tanggung jawab, komunikasi, serta kemampuan mengambil keputusan.

Adapun indikator keempat adalah keaktifan dalam mengikuti kegiatan yang diselenggarakan universitas. Partisipasi tersebut dinilai sebagai bagian dari kontribusi pegawai dalam mendukung berbagai agenda dan pengembangan institusi.

Jeziano menegaskan bahwa keseluruhan indikator tersebut dinilai secara komprehensif agar penghargaan dapat diberikan berdasarkan kinerja dan kontribusi yang terukur. Dengan demikian, penilaian tidak hanya bertumpu pada satu aspek, tetapi mempertimbangkan berbagai dimensi yang mendukung profesionalisme dan kualitas pelayanan.

“Melalui mekanisme tersebut, proses apresiasi ini dapat mendorong budaya kerja yang transparan, objektif, dan berorientasi pada peningkatan mutu. Hasil penilaian juga menjadi bahan refleksi bagi seluruh pegawai untuk mengenali keunggulan sekaligus memperbaiki aspek yang masih perlu ditingkatkan,” jelasnya.

Dosen Manajemen tersebut mengatakan bahwa apresiasi SDM UNUSIDA 2026 menjadi bagian dari komitmen universitas dalam membangun lingkungan kerja yang menghargai dedikasi, mendorong prestasi, dan memperkuat semangat pengabdian. Melalui penghargaan ini, ia berharap dosen dan tenaga kependidikan semakin termotivasi untuk meningkatkan kapasitas, menjaga integritas, serta memberikan pelayanan terbaik.

“Dengan semangat tumbuh bersama, mari terus berupaya membangun tata kelola yang semakin baik dan sumber daya manusia yang profesional, kompeten, serta berorientasi pada kebermanfaatan. Sebab, kemajuan perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh sistem dan fasilitas, tetapi juga oleh komitmen setiap individu yang bekerja, berkarya, dan berkhidmah untuk mewujudkan pendidikan yang berdampak bagi masyarakat,” pungkasnya.

Rapat Koordinasi Akademik dalam rangka persiapan perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. (Foto: Humas UNUSIDA)

Mantapkan Persiapan Perkuliahan, UNUSIDA Gelar Rapat Koordinasi Akademik Semester Ganjil 2026/2027

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) melalui Lembaga Sumber Daya Manusia (LSDM) menggelar Rapat Koordinasi Akademik dalam rangka persiapan perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027 di Hall Lantai 5 Gedung A, Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Rabu (23/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi akademik sekaligus mendorong transformasi digital melalui pengenalan Sistem Data UNUSIDA (SIDANU) oleh Unit Pelayanan Teknis (UPT) Teknologi dan Informasi (TI) UNUSIDA yang terus bergerak menghadirkan inovasi digital untuk kampus yang terintegrasi, adaptif, dan berdampak.

SIDANU diperkenalkan sebagai platform digital terpadu yang dirancang untuk menghubungkan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta berbagai layanan kampus dalam satu pengalaman digital. Mengusung semangat Satu Akses. Satu Data. Satu UNUSIDA, sistem ini menjadi bagian dari upaya universitas dalam membangun ekosistem digital kampus yang terintegrasi, efektif, dan mudah diakses oleh seluruh civitas akademika.

Pengenalan SIDANU ini menjadi langkah strategis UNUSIDA untuk mengembangkan sistem akademik terpadu yang mampu mendukung kelancaran berbagai aktivitas perkuliahan. Melalui integrasi layanan dan data, proses pengelolaan informasi akademik diharapkan menjadi lebih efisien, terstruktur, dan mudah dimanfaatkan sesuai kebutuhan pengguna.

Transformasi digital di lingkungan perguruan tinggi menjadi salah satu upaya penting dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan. Pemanfaatan teknologi tidak hanya berkaitan dengan penggunaan aplikasi, tetapi juga bagaimana sistem yang dibangun mampu menyederhanakan proses administrasi, mempercepat akses informasi, serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat berdasarkan data.

Melalui SIDANU, UNUSIDA berupaya menghadirkan pengalaman digital yang lebih terhubung bagi seluruh civitas akademika. Mahasiswa diharapkan dapat memperoleh kemudahan dalam mengakses layanan akademik, sementara dosen dan tenaga kependidikan dapat terbantu dalam menjalankan tugas serta mengelola informasi yang berkaitan dengan kegiatan kampus.

Selain pengenalan sistem digital, rapat koordinasi akademik ini menjadi bagian penting dalam menyelaraskan kesiapan berbagai unsur universitas menjelang dimulainya perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. Koordinasi diperlukan agar penyelenggaraan kegiatan akademik berjalan lebih terarah, mulai dari kesiapan layanan hingga dukungan administrasi yang menunjang proses pembelajaran.

Pengembangan ekosistem digital terpadu juga membutuhkan keterlibatan seluruh unsur kampus. Karena itu, penerapan SIDANU diharapkan tidak hanya menjadi inovasi teknologi, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya kerja yang lebih kolaboratif, adaptif, dan berorientasi pada pelayanan. Kesamaan akses terhadap data dan informasi menjadi salah satu fondasi untuk memperkuat koordinasi lintas unit di lingkungan universitas.

Dengan mengintegrasikan sistem akademik dan layanan kampus dalam satu platform, UNUSIDA terus berupaya menjawab kebutuhan perguruan tinggi di era digital. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen universitas untuk meningkatkan mutu tata kelola pendidikan tinggi melalui pemanfaatan teknologi yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.

Ke depan, pengembangan SIDANU diharapkan dapat mendukung terwujudnya layanan akademik yang semakin mudah, cepat, dan terintegrasi. Melalui semangat Satu Akses. Satu Data. Satu UNUSIDA, seluruh civitas akademika diajak untuk bersama-sama membangun ekosistem digital kampus yang kuat, demi mendukung proses pembelajaran yang berkualitas dan tata kelola universitas yang semakin baik.

Rapat Koordinasi Akademik ini juga berkolaborasi dengan Biro Akademik UNUSIDA yang menyampaikan penjelasan mengenai hak dan kewajiban dosen dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di lingkungan UNUSIDA. Penyampaian ini bertujuan untuk menyamakan pemahaman seluruh dosen terkait standar pelaksanaan perkuliahan, tanggung jawab dalam proses pembelajaran, serta pemenuhan hak dan kewajiban sesuai dengan ketentuan akademik yang berlaku. Melalui koordinasi ini, diharapkan dosen dapat menjalankan tugas secara profesional, disiplin, dan bertanggung jawab, sehingga tercipta proses pembelajaran yang tertib, berkualitas, serta mendukung peningkatan mutu akademik UNUSIDA.

Vinna Gayuh Asih, berhasil meraih Juara Harapan 3 kategori Stand Up Comedy dalam ajang KMI Expo XVII 2026. (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa Akuntansi UNUSIDA, Vinna Gayuh Asih Raih Juara Harapan 3 Stand Up Comedy KMI Expo XVII

PURWOKERTO – Mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Vinna Gayuh Asih, berhasil meraih Juara Harapan 3 kategori Stand Up Comedy dalam ajang KMI Expo XVII 2026 yang diselenggarakan di Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto, Senin-Jum’at (27/9-2/10/2026) lalu.

Prestasi tersebut menjadi pengalaman istimewa bagi Vinna. Terlebih, kompetisi tersebut merupakan pengalaman pertamanya mengikuti lomba stand up comedy. Ia bahkan mengaku sebelumnya tidak pernah secara khusus menyaksikan penampilan para komika.

Perjalanan Vinna menuju KMI Expo XVII juga tidak berlangsung secara instan. Sebelum tampil di panggung nasional, terdapat sejumlah tahapan dan proses seleksi yang harus dilalui. Setiap tahap dipersiapkan dengan sebaik mungkin, termasuk mempelajari pengalaman peserta dan tim yang lolos pada tahun sebelumnya untuk kemudian dikembangkan dengan inovasi baru.

“Jujur senang, kaget, nggak expect, campur aduk. Alhamdulillah banget bisa diberi kesempatan untuk meraih Juara Harapan 3,” ujar Vinna kepada Humas UNUSIDA, Senin (5/10/2026).

Dalam tahap awal, Vinna mengirimkan materi stand up comedy melalui unggahan YouTube dengan durasi tiga bit. Setelah dinyatakan lolos 20 besar, ia harus mempersiapkan materi lima bit untuk ditampilkan dalam final show di UNSOED dengan durasi sekitar 8–9 menit.

Persiapan tersebut menjadi tantangan tersendiri. Dengan waktu yang relatif singkat, hanya sekitar tiga hari sebelum tampil, Ketua PAC IPPNU Wonoayu tersebut memaksimalkan proses menghafal, mendalami, dan membawakan materi di sela-sela kesibukannya mengikuti rangkaian KMI Expo.

“Sejujurnya saya tidak pernah stand up comedy. Saya hanya ingin coba-coba. Kemudian dibantu mas saya di PAC IPNU-IPPNU untuk sharing dan combud materi,” ungkapnya.

Menurut Vinna, dalam stand up comedy, penyampaian atau delivery menjadi bagian penting selain materi. Ia menyebut pengalaman tampil di panggung nasional dengan audiens dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia membuat adrenalinnya meningkat.

Situasi tersebut sempat membuat Vinna mengalami kendala ketika tampil. Ia mengaku sempat lupa sebagian materi dan hanya mampu membawakan sekitar dua setengah bit dari materi yang telah dipersiapkan.

Namun, pengalaman mengolah materi membuatnya mampu tetap melanjutkan penampilan. Materi yang telah disiapkan dengan pola yang saling berkesinambungan membantunya melakukan improvisasi ketika mengalami kendala di atas panggung.

“Adrenalinnya sangat besar. Saya sempat terlupa dan hafal dua bit setengah saja. Tapi untungnya materinya sudah disiapkan bomslide dan kalau lupa masih bisa berkesinambungan kalau lompat-lompat bit-nya,” tuturnya.

Angkat Keresahan dari Produk Kewirausahaan

Menariknya, materi yang dibawakan Vinna tidak dibuat tanpa konsep. Ia mendapatkan inspirasi dari tema utama kompetisi, yakni kewirausahaan, kemudian mengolah berbagai keresahan yang ditemuinya dalam pengalaman mengembangkan produk keripik gayam melalui program P2MW.

Dalam proses kreatifnya, Vinna menggunakan teknik little man in big situation, yakni menempatkan dirinya dalam situasi yang besar atau rumit. Dari berbagai keresahan tersebut kemudian dikembangkan menjadi premis komedi dengan pola dasar setup dan punchline.

Ia juga menerapkan sejumlah teknik dalam stand up comedy, seperti rule of three, callback, hingga riffing.

“Kalau waktu sharing, saya dapat ilmu bahwa materi stand up itu dari keresahan. Dari premis tersebut baru kita cari lucunya,” jelasnya.

Bagi Vinna, seluruh rangkaian KMI Expo XVII meninggalkan kesan tersendiri. Bukan hanya kompetisinya, tetapi juga suasana, rasa lelah, adrenalin, lingkungan, hingga kebersamaan bersama tim dan keluarga besar UNUSIDA.

Salah satu momen yang paling dikenangnya adalah kebersamaan bersama tim UNUSIDA di penginapan sebelum kembali melanjutkan perjuangan di arena kompetisi.

“Ada momen kebersamaan saat kumpul dan sharing bareng keluarga UNUSIDA di penginapan sebelum besok lanjut tempur, dan mencoba berbagi makanan serta camilan yang aneh-aneh waktu keliling stand,” katanya sambil tertawa.

Vinna tidak menjalani perjuangan tersebut seorang diri. Dukungan datang dari timnya, yakni Izza, Cecil, Naya, dan Usman, kakaknya, ibu dan kakaknya, dosen pembimbing, serta tim UNUSIDA yang turut hadir dalam KMI Expo XVII.

Bagi Vinna, keberhasilan tersebut memiliki makna tersendiri sebagai mahasiswa Akuntansi UNUSIDA. “Gini ya rasanya juara naik panggung sambil njereng bendera kampus tercinta dan masuk feed Instagram UNUSIDA.official, slebew,” ujarnya dengan nada penuh kegembiraan.

Jangan Takut Mencoba

Pengalaman pertama mengikuti stand up comedy hingga berhasil masuk 20 besar dan meraih Juara Harapan 3 menjadi pelajaran penting bagi Vinna. Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi dorongan bagi mahasiswa UNUSIDA maupun kader muda NU yang masih ragu menunjukkan bakatnya.

Ia berpesan agar mahasiswa tidak takut melewati pengalaman pertama, sebab setiap keberhasilan selalu diawali dengan keberanian untuk mencoba.

“Semua di dunia ini kalau sifatnya pertama kali itu asli susah. Tapi semua hal di dunia ini ada pertama kalinya. Kita hanya cukup melewati itu dan lakukan berulang kali untuk jadi pemenang,” pesannya.

Vinna juga mengingatkan agar mengikuti kompetisi tidak sekadar untuk menggugurkan kewajiban. Menurutnya, setiap kesempatan harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh dan disertai target terbaik.

“Perlu melakukan yang terbaik, biar Tuhan menyelesaikan sisanya. Kalau mau lomba, jangan hanya ikut dan selesai saja. Benar-benar incar juara satu. Kalau meleset, kita bisa juara dua atau tiga,” pungkasnya.

Suasana pembukaan Festival Banjari UKM Religi Nahdlatus Syubban UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

UKM Religi Nahdatus Syubban UNUSIDA Sukses Gelar Festival Albanjari Se-Jawa Timur 2026

SIDOARJO — UKM Religi Nahdatus Syubban Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menggelar Festival Albanjari Se-Jawa Timur 2026 di Masjid KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, Komplek Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Sabtu (26/9/2026). Kegiatan yang diikuti oleh puluhan grup banjari dari berbagai daerah di Jawa Timur ini mengusung tema “Menggema Berselawat, Menyatukan Generasi dalam Harmoni Islam.”

Ketua Pelaksana, Muhammad Zahidan, menyampaikan bahwa festival ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga wadah untuk mempererat tali silaturahmi antar kelompok banjari, mengembangkan kreativitas generasi muda, serta menumbuhkan kecintaan terhadap selawat dan seni musik Islami.

“Festival Albanjari Se-Jawa Timur 2026 ini kami selenggarakan sebagai sarana memperkuat ukhuwah Islamiah sekaligus melestarikan tradisi seni Islami yang menjadi bagian dari khazanah budaya Nahdlatul Ulama. Melalui kegiatan ini, generasi muda dapat terus berkarya dan berselawat bersama,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan rasa syukur atas antusiasme peserta yang sangat tinggi pada pelaksanaan tahun ini. Tercatat sebanyak 26 grup banjari dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur turut berpartisipasi dalam festival tersebut.

“Alhamdulillah, pelaksanaan festival tahun ini mendapatkan sambutan yang luar biasa. Sebanyak 26 peserta telah ikut berpartisipasi dan menunjukkan semangat yang tinggi dalam melestarikan seni selawat,” tambahnya.

Atas nama panitia, Zahidan juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, baik kepada panitia maupun peserta. Kepada seluruh peserta, kami ucapkan selamat mengikuti Festival Albanjari Se-Jawa Timur 2026. Tampilkan kemampuan terbaik, junjung tinggi sportivitas, dan yang paling utama, jadikan kegiatan ini sebagai sarana untuk berselawat, bersilaturahmi, serta mempererat ukhuwah Islamiah,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Umum UKM Nahdatus Syubban, Muhammad Habib Ali Dimyati, menyampaikan bahwa generasi muda saat ini masih memiliki kepedulian besar terhadap tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang diwariskan oleh para ulama dan Wali Songo. Ia berharap semangat berselawat, persaudaraan, dan pelestarian tradisi Islam Nusantara terus tumbuh di kalangan generasi muda, sehingga nilai-nilai Aswaja tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

“Generasi muda hari ini masih tidak melupakan tradisi Islam Nahdlatul Ulama, terutama nilai-nilai Aswaja. Tradisi yang diwariskan oleh Wali Songo, salah satunya melalui penggunaan alat-alat musik tradisional dalam seni banjari, harus terus dilestarikan. Festival Albanjari ini menjadi bukti bahwa generasi muda tetap mencintai dan menjaga tradisi Aswajanya,” ungkapnya.

Pada penutupan acara, panitia mengumumkan para pemenang Festival Albanjari Se-Jawa Timur 2026. Grup Al Irfan Malang berhasil meraih predikat Terbaik 1, disusul Santri Wako Mojokerto sebagai Terbaik 2, dan JDFI Firqotun Nujum Malang sebagai Terbaik 3. Adapun penghargaan Best Vokal diraih oleh GPS Sholawat Sidoarjo, sedangkan Best Aransemen diraih oleh Nur Syafa’ah Mojokerto.

Siti Fatimah Wisudawan terbaik dalam Wisuda ke-10 UNUSIDA (Foto:Humas UNUSIDA)

Siti Fatimah, Wisudawan Terbaik UNUSIDA: Gelar Sarjana Jadi Pengingat untuk Terus Bermanfaat

SURABAYA — Siti Fatimah, wisudawati Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi menjadi wisudawan terbaik dengan IPK 3.98 dalam wisuda ke-10 Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), di Dyandra Convention Center, Jl. Basuki Rahmat No.93-105, Embong Kaliasin, Kec. Genteng, Surabaya, Ahad (20/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Ima sapaan akrabnya menyampaikan rasa syukur sekaligus haru karena dapat berdiri mewakili teman-teman wisudawan. Menurutnya, mengenakan toga pada hari wisuda mengingatkan kembali pada perjalanan panjang yang telah dilalui selama masa perkuliahan.

“Perjalanan kita untuk sampai ke titik ini bukanlah perjalanan yang selalu mudah. Ada begitu banyak cerita, perjuangan, doa, air mata, dan juga harapan yang mungkin tidak semuanya dapat kita ceritakan kepada orang lain,” ungkapnya.

Ia mengajak seluruh wisudawan untuk memberikan apresiasi kepada diri sendiri atas berbagai perjuangan yang telah dilewati. Mulai dari menyelesaikan tugas, menghadapi tenggat waktu, menjalani proses skripsi, revisi, hingga berbagai tantangan akademik lainnya.

Ima yang selama kuliah juga aktif berorganisasi tersebut menyebutkan bahwa setiap mahasiswa memiliki cerita perjuangan yang berbeda. Ada yang harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan, berjuang melalui beasiswa, menjalani perkuliahan sembari mondok, aktif berorganisasi, hingga menghadapi tanggung jawab keluarga maupun persoalan pribadi.

Sebagai salah satu penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), Ima mengaku memahami bahwa kesempatan menempuh pendidikan tinggi merupakan amanah yang sangat berarti.

“Bagi saya, beasiswa ini bukan hanya tentang bantuan biaya pendidikan. Di dalamnya ada kesempatan untuk belajar, bertumbuh, membangun harapan, dan membuktikan bahwa keadaan awal seseorang tidak harus menjadi batas bagi masa depannya,” tuturnya.

Namun, ia menegaskan bahwa perjuangan tidak hanya dimiliki oleh mahasiswa penerima beasiswa. Setiap mahasiswa memiliki tantangan masing-masing yang layak untuk dihargai.

“Bukan waktunya untuk membandingkan siapa yang paling berat perjuangannya. Hari ini adalah waktunya untuk saling menghargai karena kita semua telah melewati proses yang tidak mudah,” katanya.

Gelar Sarjana sebagai Awal Perjalanan

Ima juga mengingatkan bahwa prosesi wisuda bukanlah akhir dari perjalanan. Setelah menyelesaikan pendidikan, para lulusan akan menghadapi babak kehidupan yang baru dengan berbagai pilihan, mulai dari bekerja, melanjutkan pendidikan, membangun usaha, mengabdi kepada masyarakat, maupun mencari kesempatan baru.

Ia berpesan agar para lulusan tidak menjadikan gelar sarjana sebagai tanda bahwa proses belajar telah selesai.

“Jangan pernah merasa bahwa gelar sarjana adalah tanda bahwa kita telah mengetahui segalanya. Justru gelar ini menjadi pengingat bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk terus mengembangkan ilmu dan memberikan manfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Ima juga mengajak para wisudawan untuk tetap menjaga integritas, menghargai proses, serta membawa nama baik almamater di mana pun berada.

Ia berharap ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UNUSIDA dapat menjadi bekal untuk memberikan kontribusi bagi keluarga, masyarakat, agama, dan negara.

Terima Kasih untuk Orang Tua dan Almamater

Dalam sambutannya, Siti memberikan apresiasi khusus kepada orang tua dan keluarga yang selama ini menjadi sumber dukungan bagi para mahasiswa. “Gelar sarjana yang kami raih bukan hanya tentang pencapaian pribadi kami. Di dalamnya ada doa orang tua, ada perjuangan keluarga, dan ada harapan yang selama ini kita bawa,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pimpinan UNUSIDA, para dosen, serta seluruh pihak yang telah mendukung proses pendidikan mahasiswa. Menurutnya, para dosen tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab, kedisiplinan, integritas, serta pentingnya untuk terus belajar.

Tak lupa, Siti mengapresiasi teman-teman seperjuangan yang telah menjadi bagian dari perjalanan selama masa perkuliahan. “Semoga persahabatan yang telah kita bangun selama masa perkuliahan tidak berhenti hanya karena hari ini kita telah mengenakan toga,” harapnya.

Ia mengajak seluruh wisudawan untuk terus melangkah dengan semangat dan tidak melupakan perjuangan yang telah mengantarkan mereka hingga hari wisuda.

“Jika suatu hari nanti kita menghadapi kegagalan, semoga kita mengingat kembali perjuangan hari ini. Jika suatu saat kita merasa tidak mampu, semoga kita kembali menemukan keberanian untuk melangkah,” pesannya.

Ia juga mendoakan agar seluruh lulusan senantiasa diberikan keberkahan, kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menapaki kehidupan setelah kampus. Ia mengajak para lulusan untuk turut mengenalkan dan menyampaikan kepada masyarakat bahwa UNUSIDA merupakan kampus yang luar biasa, sekaligus terus menjaga nama baik almamater di tengah masyarakat.

“Semoga ilmu yang kita peroleh menjadi ilmu yang bermanfaat, menjadi amal jariah, dan menjadi bekal untuk memberikan kontribusi bagi keluarga, masyarakat, agama, dan negara,” pungkasnya.

Kepala UPT PIK UNUSIDA, Gus Arisy Kuswanto saat Ngaji Rutin Kitab Nashoihul Ibad. (Foto: Humas UNUSIDA)

Ngaji Rutin Kitab Nashoihul Ibad: Koreksi Diri dalam Ibadah dan Belajar Menumbuhkan Rasa Syukur

SIDOARJO — Kajian rutin Kitab Nashoihul Ibad bersama H. M. Arisy Karomy, S.T., M.Pd.I., kembali digelar di Masjid KH Muhammad Hasyim Asy’ari PCNU Sidoarjo, Selasa Kliwon, (22/9/2026). Dalam kajian tersebut, Gus Arisy mengajak jamaah untuk senantiasa melakukan muhasabah atau introspeksi diri, khususnya dalam pelaksanaan ibadah salat. Menurutnya, seorang muslim perlu membiasakan diri mengevaluasi kualitas ibadah, bukan sibuk menilai ibadah orang lain.

“Coba koreksi diri kita sendiri. Salat kita, gerakan dan doa-doanya, apakah sudah sempurna?” pesannya.

Ia juga mengingatkan agar amal ibadah tidak menjadi alasan untuk menyombongkan diri ataupun mencari pengakuan dari orang lain. Amal seharusnya menjadi jalan seorang hamba untuk semakin merendahkan diri di hadapan Allah SWT.

“Tidak perlu melihat validasi orang lain. Cukup bersimpuh di hadapan Allah. Kita perlu melatih diri setiap hari untuk mengakui kekurangan dan kelemahan kita,” tuturnya.

Melihat ke Atas dalam Urusan Akhirat

Dalam kajian tersebut, jamaah juga diajak membangun cara pandang yang tepat dalam menjalani kehidupan. Untuk urusan akhirat, seseorang dianjurkan melihat kepada mereka yang lebih baik dalam beribadah.

Jika ada orang yang lebih disiplin menjaga salat, termasuk menjalankan salat-salat sunnah, maka hal tersebut dapat dijadikan teladan. Begitu pula ketika melihat orang yang lebih tekun membaca Al-Qur’an, hendaknya muncul keinginan untuk meniru dan meningkatkan kualitas diri.

Menurutnya, melihat orang lain dalam konteks tersebut bukan untuk merasa rendah diri, melainkan sebagai motivasi untuk memperbaiki kualitas ibadah.

Dalam Urusan Dunia, Belajarlah Melihat ke Bawah

Sebaliknya, ketika berbicara mengenai urusan duniawi, manusia dianjurkan melihat kepada mereka yang memiliki keterbatasan lebih besar.

Ia memberikan gambaran sederhana. Ketika seseorang sudah memiliki sepeda motor, jangan hanya melihat orang yang mempunyai mobil. Sebaliknya, lihatlah mereka yang bahkan belum memiliki sepeda motor.

Begitu pula dengan kesehatan. Ketika diberikan kesehatan, jangan hanya membandingkan diri dengan orang yang memiliki kondisi lebih baik. Lihat pula mereka yang sedang sakit dan mungkin belum memiliki kesempatan untuk datang mengaji atau menjalankan aktivitas seperti biasa.

Cara pandang tersebut dapat menumbuhkan rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Menurutnya, kehidupan tidak hanya membutuhkan usaha untuk meningkatkan kualitas diri, tetapi juga kemampuan untuk mengenali nikmat dan keterbatasan yang dimiliki.

“Dengan begitu akan muncul rasa syukur. Melalui muhasabah, keteladanan dalam ibadah, serta kebiasaan melihat ke bawah dalam urusan dunia, seseorang diharapkan mampu menjalani kehidupan dengan hati yang lebih rendah diri, tidak mudah membandingkan diri secara berlebihan, dan semakin dekat kepada Allah SWT.,” jelasnya.

Sekretaris LPT-PBNU, Dr. rer. pol. Muhammad Faishal Aminuddin, S.S., M.Si. saat menyampaikan Orasi Ilmiah dalam Wisuda ke-10 UNUSIDA. (Foto: Humas UNUSIDA)

Wisuda ke-10 UNUSIDA, Sekretaris LPT-PBNU Tekankan Karakter, Lifelong Learning, dan Daya Saing Lulusan

SURABAYA — Sekretaris Lembaga Pendidikan Tinggi (LPT) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Dr. rer. pol. Muhammad Faishal Aminuddin, S.S., M.Si., menekankan pentingnya pembentukan karakter, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar bagi para lulusan perguruan tinggi. Pesan tersebut disampaikan saat dirinya memberikan Orasi Ilmiah dalam Wisuda ke-10 Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) di Dyandra Convention Center, Jl. Basuki Rahmat No.93-105, Embong Kaliasin, Kec. Genteng, Surabaya, Ahad (20/9/2026).

Di hadapan para wisudawan, orang tua, dan sivitas akademika, Faishal mengingatkan bahwa gelar sarjana bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal untuk terus mengembangkan kapasitas diri. Menurutnya, kondisi dunia kerja yang terus berubah menuntut lulusan memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Keahlian atau skill yang diperoleh selama kuliah memang penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya bekal.

“Keahlian itu bisa berubah, bisa diasah. Apa yang Anda pelajari hari ini mungkin lima atau sepuluh tahun yang akan datang tidak laku lagi,” ujarnya.

Ia mencontohkan perkembangan teknologi dan perangkat kerja yang membuat berbagai keterampilan terus mengalami perubahan. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki fondasi kemampuan belajar yang kuat agar dapat mengikuti perubahan zaman.

Karakter Lebih Panjang Umurnya daripada Skill

Faishal menilai karakter menjadi salah satu modal penting yang perlu dibawa lulusan ketika memasuki dunia profesional. Kemampuan teknis dapat dipelajari melalui berbagai pelatihan dalam waktu relatif singkat, sedangkan pembentukan karakter membutuhkan proses yang lebih panjang.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita membangun karakter diri. Itu yang paling penting agar Anda bisa diterima, pergaulannya luas, jaringannya banyak, dan Anda bisa membuktikan bahwa Anda mampu serta bisa dipercaya untuk melaksanakan pekerjaan,” jelasnya.

Ia mengingatkan para wisudawan agar tidak memandang pendidikan tinggi hanya sebagai jalan untuk mendapatkan pekerjaan. Kuliah, kata dia, pada dasarnya merupakan proses untuk mencari ilmu agar seseorang menjadi pribadi yang lebih baik dan bijaksana.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah persoalan ketenagakerjaan dan ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Faishal menyebut kondisi tersebut sebagai mismatch, yakni ketika kompetensi atau bidang yang dipelajari tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Namun, ia mengajak para lulusan untuk tidak memandang mismatch semata-mata sebagai hambatan. Lulusan justru harus mampu memperluas kemungkinan kontribusinya melalui kompetensi yang dimiliki.

“Yang menghidup kita itu Tuhan, yang menghidup kita itu Allah. Percaya sajalah,” pesannya.

Jangan Putus Hubungan dengan Almamater

Salah satu gagasan yang ditekankan Faishal dalam orasinya adalah pentingnya konsep lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat. Ia mengusulkan agar hubungan mahasiswa dengan kampus tidak berakhir setelah prosesi wisuda. Para alumni diharapkan tetap terhubung dengan almamater, bukan sekadar untuk menjaga silaturahmi, tetapi juga sebagai ruang untuk meningkatkan kemampuan.

“Setelah lulus jangan kemudian tiba-tiba lepas dari UNUSIDA. Anda sebagai alumni harus tetap terhubung, meng-upgrade diri, dan UNUSIDA selalu harus menyediakan tempat itu,” katanya.

Menurutnya, perguruan tinggi perlu menyediakan berbagai layanan pengembangan kompetensi bagi alumni, terutama dalam menghadapi perubahan keterampilan yang berlangsung cepat.

Dengan demikian, hubungan antara perguruan tinggi dan alumni dapat menjadi ekosistem pembelajaran yang terus berlangsung meskipun mahasiswa telah menyelesaikan pendidikan formalnya.

Lulusan PTNU Harus Memiliki Penciri

Dalam kesempatan tersebut, Faishal juga menjelaskan peran LPT-PBNU dalam pengembangan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama. Ia menyampaikan bahwa LPT-PBNU membawahi 44 perguruan tinggi dan terus mendorong penguatan kualitas serta kekhasan pendidikan tinggi NU.

Menurutnya, perguruan tinggi NU perlu memiliki penciri yang jelas, sehingga lulusan PTNU memiliki identitas sekaligus kualitas yang dapat dibawa ke dunia profesional.

Ia meminta para lulusan UNUSIDA untuk tidak merasa rendah diri ketika harus bersaing dengan lulusan perguruan tinggi negeri maupun swasta lainnya.

“Yang dilihat pertama kali itu adalah mutu, bukan hanya sekadar kuliah,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi NU memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan pendidikan yang dapat menampung keberagaman masyarakat. Nilai toleransi dan kemampuan hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan menjadi bagian yang perlu terus dirawat.

Karena itu, lulusan PTNU diharapkan mampu membangun jejaring dengan sesama alumni perguruan tinggi NU di berbagai daerah. Jejaring tersebut dapat dikembangkan dalam dunia kerja maupun ruang profesional lainnya.

Tiga Pesan untuk Wisudawan

Menutup orasinya, Faishal menyampaikan tiga hal yang perlu diingat para wisudawan dalam menghadapi kehidupan setelah kampus.

Pertama, lulusan harus memiliki kesadaran untuk terus melakukan upgrading skill. Dunia terus berubah sehingga proses belajar tidak boleh berhenti setelah mendapatkan ijazah.

Kedua, lulusan harus memiliki daya saing tinggi. Daya saing tersebut dibuktikan dengan kemampuan dan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan oleh dunia kerja. Bahkan, menurutnya, lulusan dengan mental kewirausahaan dapat memilih untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

Ketiga, lulusan harus tetap memegang prinsip sebagai bagian dari keluarga besar perguruan tinggi Nahdlatul Ulama yang meyakini pentingnya keberkahan.

“Saya itu mulai dari desa, kuliah sampai di luar negeri, tinggal lama, itu tidak bisa lepas dari kepercayaan mengenai barokah, keberkahan. Karena sesuatu yang tidak mungkin itu bisa menjadi mungkin,” ungkapnya.

Tegaskan Status Transisi Kepemimpinan UNUSIDA

Dalam orasi tersebut, Faishal juga menyampaikan penjelasan mengenai status kepemimpinan UNUSIDA. Ia menegaskan bahwa badan hukum UNUSIDA berada di bawah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, sehingga kewenangan strategis terkait perguruan tinggi berada pada LPT-PBNU sebagai lembaga yang menangani pendidikan tinggi NU.

Ia menjelaskan bahwa posisi Pelaksana Tugas (Plt) Rektor merupakan bagian dari masa transisi dan proses penataan kelembagaan. “Status Plt ini transisi saja. Tidak lama lagi transisi itu akan bisa berakhir dan ada rektor definitif yang hak dan kewajibannya juga sama,” ujarnya.

Ia juga memastikan kepada para wisudawan dan keluarga bahwa ijazah yang diterbitkan tetap memiliki keabsahan. Menurutnya, LPT-PBNU telah memberikan mandat terkait otoritas dan keabsahan ijazah tersebut sehingga para lulusan tidak perlu meragukan status ijazah yang mereka terima.

Lebih lanjut, ia berharap para lulusan mampu membawa ilmu yang diperoleh selama berada di kampus untuk terus berkembang, memiliki daya saing, membangun jejaring, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Wisuda, bukanlah garis akhir pendidikan. Justru setelah mengenakan toga dan menerima ijazah, para lulusan memasuki fase baru untuk membuktikan bahwa ilmu, karakter, kompetensi, dan nilai yang diperoleh selama berada di UNUSIDA dapat menjadi bekal menghadapi perubahan zaman sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.

Ketua PCNU Sidoarjo, KH Zainal Abidin saat menyampaikan sambutan dalam Wisuda ke-10 UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

KH Zainal Abidin: Sarjana UNUSIDA Harus Bawa Ilmu dan Iman ke Tengah Masyarakat

SURABAYA — Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo, KH Zainal Abidin, menyampaikan pesan kepada para wisudawan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) agar menjadikan iman dan ilmu sebagai bekal utama ketika kembali ke tengah masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan dalam Wisuda ke-10 UNUSIDA yang digelar di Dyandra Convention Center Surabaya, Ahad (20/9/2026). Di hadapan para wisudawan, KH Zainal Abidin menegaskan bahwa gelar sarjana membawa tanggung jawab untuk memberikan manfaat dan turut membangun kesejahteraan masyarakat.

“Anak-anakku yang hari ini diwisuda juga mempunyai tugas berat. Kes arjanaan Anda ke tengah-tengah masyarakat, sajikan kesejahteraan Anda di tengah masyarakat,” tuturnya.

Menurutnya, iman menjadi fondasi penting bagi seorang sarjana dalam menjalani kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan. Iman tersebut, kata dia, harus tercermin melalui akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Ia meyakini selama menempuh pendidikan di UNUSIDA, para mahasiswa telah mendapatkan penguatan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan akhlakul karimah. Pembelajaran keagamaan, budaya yang dibangun di lingkungan kampus, serta keberadaan masjid dan ruang-ruang pembinaan rohani dinilai menjadi bagian dari proses tersebut.

“Iman terpancar dalam sebuah akhlak. Di UNUSIDA saya yakin sudah dibangun akhlakul karimah. Materi-materi Ahlussunnah wal Jamaah sudah diajarkan sekian semester, nilai-nilai akhlak sudah disampaikan,” jelasnya.

Selain iman, Kiai Zainal menekankan pentingnya ilmu. Menurutnya, ilmu yang diperoleh selama berada di bangku perkuliahan harus terus dipegang dan dikembangkan agar dapat memberikan manfaat di tengah masyarakat.

“Ketika kita punya bekal ilmu yang cukup, pastilah Allah mengangkat derajat kita sekalian. Dengan dua bekal, iman dan ilmu, itulah yang nanti menjadikan Anda tidak boleh ragu, tidak boleh gampang dan tidak boleh takut menghadapi situasi dan kondisi yang hari ini menjadi tantangan kita,” pesannya.

Ia juga mengingatkan para wisudawan agar tidak khawatir menghadapi masa depan. Menurutnya, setiap manusia telah memiliki jalan kehidupan masing-masing, sementara tugas seorang sarjana adalah terus berikhtiar dan berusaha meraih kesempatan yang tersedia.

“Allah sudah menyiapkan pekerjaan kepada Anda. Tinggal Anda bagaimana berikhtiar dan mengejar pekerjaan itu untuk membangun kesejahteraan,” ujarnya.

Kiai Zainal berharap para lulusan UNUSIDA mampu menjadi alumni yang membawa kebermanfaatan bagi masyarakat. Ilmu yang diperoleh selama kuliah diharapkan tidak berhenti pada gelar akademik, tetapi diwujudkan dalam pengabdian nyata.

“Mudah-mudahan anak-anakku menjadi alumni UNUSIDA yang benar-benar manfaat ilmunya, benar-benar barokah ilmunya, dan bisa dibawa di tengah-tengah masyarakat,” harapnya.

Dalam kesempatan tersebut, KH Zainal Abidin juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran rektorat, dosen, dan seluruh pihak yang selama ini berkontribusi dalam membangun UNUSIDA. Ia menilai pengabdian para dosen tidak semata-mata diukur dari aspek materi, tetapi juga dari semangat mereka dalam mendidik dan membimbing mahasiswa.

“Terima kasih kepada jajaran rektorat, para dosen yang mungkin honornya tidak terlalu tinggi, tetapi yang tinggi adalah semangatnya. Maknai bahwa mengajar itu sudah tidak hanya sekadar mencari honor, tidak hanya sekadar mencari pendapatan, tetapi di sana tempat berkhidmah,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Kiai Zainal mendoakan seluruh keluarga besar UNUSIDA agar senantiasa diberikan keberkahan, kesehatan, serta kemudahan dalam menjalankan pengabdian. Ia mengajak para wisudawan untuk membawa semangat iman dan ilmu dalam perjalanan kehidupan setelah kampus.

“Keimanan yang ditanamkan dan ilmu yang Anda peroleh dari UNUSIDA pegang teguh. Karena di situlah tempat dibangunnya derajat yang dijanjikan oleh Allah SWT. Ketika kita punya iman, ketika kita punya ilmu, maka masyarakat akan menghargai kita sekalian,” pungkasnya.

Suasana Wisuda Program Sarjana ke-X di Dyandra Convention Center Surabaya. (Foto: Humas UNUSIDA)

Wisuda ke-10 UNUSIDA, 497 Lulusan Siap Melanjutkan Khidmat di Masyarakat

SURABAYA — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Wisuda Program Sarjana ke-X di Dyandra Convention Center Surabaya, Ahad (20/9/2026). Sebanyak 497 wisudawan dan wisudawati dari lima fakultas mengikuti prosesi wisuda dengan penuh khidmat.

Ke-497 lulusan tersebut berasal dari Fakultas Agama Islam (FAI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Ekonomi (FE), Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), dan Fakultas Teknik (FT).

Dalam sambutannya, Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, menyampaikan bahwa UNUSIDA masih berada dalam usia yang relatif muda dan menghadapi berbagai keterbatasan serta kekurangan. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi alasan bagi perguruan tinggi di bawah naungan Nahdlatul Ulama tersebut untuk berhenti berprestasi.

“Usia muda bukanlah alasan untuk tidak berprestasi. Berbagai langkah inovasi telah dan sedang dijalankan untuk meningkatkan mutu pelayanan dan mendorong semangat prestasi di semua bidang,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kerukunan, kebersamaan, dan keharmonisan dengan para ulama serta Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Sidoarjo. Menurutnya, sinergi tersebut menjadi modal penting bagi UNUSIDA untuk terus tumbuh menjadi perguruan tinggi yang lebih besar, sehat, kuat, dan unggul.

Di tengah proses pengembangan tersebut, UNUSIDA telah menorehkan sejumlah prestasi, baik pada tingkat kelembagaan maupun bidang kemahasiswaan.

Salah satunya melalui penghargaan dalam Kongres Pendidikan Besar Nahdlatul Ulama 2025 dengan kategori Winner Pengabdian kepada Masyarakat. Penghargaan tersebut diraih melalui kajian mengenai pemahaman orang tua tentang substansi pendidikan dengan wilayah studi kasus Sidoarjo dan Sumenep, Madura.

Selain itu, sivitas akademika UNUSIDA terus didorong untuk menghasilkan karya dan prestasi dalam berbagai bidang, termasuk penulisan ilmiah serta kompetisi di tingkat nasional maupun internasional.

Dorong Kemandirian Finansial

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hadi juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan yang terus berkomitmen membangun UNUSIDA. Menurutnya, semangat membangun kampus juga diarahkan pada upaya memperkuat kemandirian finansial universitas melalui pengembangan berbagai program produktif.

Salah satunya melalui UNUSIDA Training Center yang telah dipercaya menyelenggarakan berbagai pelatihan berskala nasional. Program tersebut mencakup pelatihan dan sertifikasi dengan peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

UNUSIDA juga terus mengembangkan produk pengetahuan dan layanan profesional dalam bidang manajemen, tata kelola kelembagaan, pengelolaan keuangan, serta pengembangan sumber daya manusia untuk organisasi, UMKM, pesantren, masjid, sekolah, perguruan tinggi, dan berbagai lembaga lainnya.

Selain itu, universitas mengembangkan budidaya tambak sebagai salah satu potensi ekonomi produktif. Pelatihan dan praktik manasik bagi masyarakat, khususnya siswa-siswi RA Muslimat Nahdlatul Ulama, juga menjadi bagian dari pengembangan layanan UNUSIDA kepada masyarakat.

“Jajaran pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo memberikan dukungan, pembinaan, dan bimbingan kepada kami. Itu semua menjadi penyemangat bagi kami dalam bekerja dan membangun universitas ini,” jelasnya.

Pesan untuk Para Wisudawan

Lebih lanjut, Dr. Hadi mengingatkan bahwa prosesi wisuda bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan. Gelar akademik yang diperoleh diharapkan menjadi bekal bagi para lulusan untuk terus berkarya dan memberikan manfaat di tengah masyarakat. Ia mengajak seluruh keluarga besar UNUSIDA untuk terus menjaga kebersamaan dalam membangun kampus.

“Jadikan momentum ini untuk melanjutkan perjalanan menuju dunia profesional, pengabdian, dan kehidupan bermasyarakat dengan membawa ilmu serta pengalaman yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UNUSIDA,” pesannya.

Penandatanganan MoU oleh Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, dan Ketua Bawaslu Kabupaten Sidoarjo, Agung Nugraha. (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Perkuat Pendidikan Demokrasi melalui Kerja Sama dengan Bawaslu Sidoarjo

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) memperkuat komitmennya dalam mendukung pendidikan demokrasi dan literasi politik masyarakat melalui kerja sama dengan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Sidoarjo. Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Ruang Pertemuan Gedung B, Kampus UNUSIDA, Lingkar Timur, Sidoarjo, Kamis (17/9/2026).

MoU ditandatangani oleh Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, dan Ketua Bawaslu Kabupaten Sidoarjo, Agung Nugraha. Kerja sama ini membuka ruang kolaborasi kedua lembaga dalam pengembangan pendidikan kepemiluan, pendidikan demokrasi, serta pengawasan partisipatif yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat.

Bagi UNUSIDA, kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya melalui pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Lingkungan perguruan tinggi dipandang memiliki ruang strategis untuk membangun sikap kritis mahasiswa sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai demokrasi dan kepemiluan.

Plt. Rektor UNUSIDA, Dr. Hadi Ismanto, menyampaikan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan Bawaslu dapat menghadirkan ruang pembelajaran yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa.

“Kemitraan ini membuka ruang bagi kedua lembaga untuk mengembangkan berbagai kegiatan kepemiluan yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat, sekaligus memperkuat pemahaman serta partisipasi dalam pengawasan pemilu,” ujar Hadi.

Menurutnya, pendidikan politik menjadi salah satu bagian penting dalam membangun masyarakat yang memiliki pemahaman memadai terhadap proses demokrasi. Karena itu, perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui kegiatan akademik maupun pengabdian yang berkaitan dengan isu kepemiluan.

Ia menambahkan, masyarakat perlu mendapatkan ruang untuk memahami proses pemilu secara kritis, termasuk kemampuan menyaring informasi dan memahami pentingnya integritas dalam penyelenggaraan pemilu.

“Kolaborasi antara lembaga pendidikan dengan Bawaslu sangat diperlukan dalam rangka bersama-sama melaksanakan pendidikan politik kepada masyarakat. Masyarakat perlu dididik agar kritis terhadap penyelenggaraan pemilu, menjadi pemilih yang cerdas, tidak mudah termakan hoaks, serta memiliki sikap untuk menolak politik uang,” jelasnya.

Kerja sama UNUSIDA dan Bawaslu Sidoarjo juga diarahkan untuk memperluas pengalaman mahasiswa dalam memahami persoalan kepemiluan. Sejumlah kegiatan yang dapat dikembangkan antara lain kuliah tamu, pendampingan Pemilu Raya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), KKN Tematik, serta program magang.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, mahasiswa dapat memperoleh kesempatan untuk belajar, berdiskusi, sekaligus memahami praktik kepemiluan dan pengawasan partisipatif secara lebih dekat. Bagi UNUSIDA, ruang pembelajaran semacam ini juga menjadi bagian dari upaya menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan yang berkembang di masyarakat.

Kolaborasi tersebut sekaligus memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, serta kepedulian terhadap persoalan publik.

Ketua Bawaslu Kabupaten Sidoarjo Agung Nugraha menyampaikan bahwa pengawasan pemilu membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk perguruan tinggi. Menurutnya, kampus dapat menjadi ruang strategis untuk memperluas pemahaman kepemiluan sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam pengawasan partisipatif.

Agung juga menyebut sinergi dengan kalangan akademisi UNUSIDA dapat menjadi ruang pembelajaran praktis bagi mahasiswa, termasuk melalui KKN Tematik dan program magang.

Kerja sama tersebut hadir di tengah berbagai upaya Bawaslu Sidoarjo memperluas pendidikan demokrasi dan partisipasi masyarakat. Pada September 2026, Bawaslu Sidoarjo juga menjalankan kegiatan seperti Bawaslu Goes to School dan #KODESEPEKAN sebagai ruang dialog dan penguatan pemahaman demokrasi.

Melalui MoU tersebut, UNUSIDA berkomitmen menjadikan kampus sebagai ruang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan kompetensi akademik, tetapi juga mendorong mahasiswa memahami persoalan publik dan mengambil bagian dalam kegiatan kemasyarakatan secara bertanggung jawab.

Sinergi dengan Bawaslu Sidoarjo diharapkan dapat menghadirkan berbagai program yang memberikan manfaat bagi mahasiswa sekaligus masyarakat. Penguatan literasi politik, pendidikan demokrasi, dan pengawasan partisipatif menjadi ruang kolaborasi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

“Dengan kolaborasi ini, mari bersama terus mendorong terwujudnya pendidikan yang berdampak, melalui pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan masyarakat sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam membangun kesadaran demokrasi di Kabupaten Sidoarjo,” pungkasnya.