Pos

LPMPP UNUSIDA Beri Apresiasi Monev Pembelajaran Terbaik 2025 (Foto: LPMPP UNUSIDA)

LPMPP UNUSIDA Beri Apresiasi Monev Pembelajaran Terbaik 2025, Prodi Manajemen dan Teknik Industri Raih Nilai Tertinggi

SIDOARJO – Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) memberikan apresiasi kepada program studi dengan capaian terbaik dalam Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pembelajaran Internal Tahun 2025. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Hall Lantai 5 Kampus II UNUSIDA Gedung A, Selasa (30/12/2025).

Berdasarkan hasil penilaian Monev, Program Studi (Prodi) Manajemen berhasil meraih capaian tertinggi dengan nilai 94,45 jadi Prodi Terbaik di Bidang Sosial Humaniora. Disusul Program Studi Teknik Industri dengan nilai 88,33 menjadi Prodi Terbaik di Bidang Sains dan Teknologi. Capaian ini menjadi bukti komitmen kedua program studi dalam menjaga dan meningkatkan mutu pembelajaran secara berkelanjutan.

Wakil Rektor I UNUSIDA Bidang Akademik, Dr. Hadi Ismanto, S.H.I., M.Pd.I. menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya atas prestasi yang diraih. Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan keseriusan program studi dalam penguatan tata kelola akademik dan peningkatan kualitas layanan pendidikan.

“Capaian ini menjadi bukti komitmen berkelanjutan dalam menjaga mutu pembelajaran, penguatan tata kelola akademik, serta peningkatan kualitas pendidikan di lingkungan UNUSIDA,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan penilaian ini dapat menjadi motivasi bagi seluruh program studi di lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo untuk terus berinovasi, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta konsisten dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Ia menegaskan bahwa penguatan kualitas akademik dan tata kelola pendidikan yang berkelanjutan merupakan kunci utama dalam meningkatkan daya saing lulusan agar mampu berkontribusi secara nyata di tingkat lokal, nasional, maupun global.

“Semoga prestasi ini dapat menjadi motivasi bagi seluruh program studi untuk terus berinovasi, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta meningkatkan daya saing lulusan,” harapnya.

Ketua LPMPP UNUSIDA, Atik Widiyanti, S.Si., M.T., menyebutkan bahwa penilaian kali ini telah dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Penilaian Monev Pembelajaran Internal ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya LPMPP UNUSIDA dalam memastikan kualitas proses pembelajaran berjalan sesuai standar mutu yang telah ditetapkan.

Melalui pelaksanaan Monev Pembelajaran Internal, LPMPP UNUSIDA terus mendorong terciptanya budaya mutu di lingkungan universitas. Upaya ini sejalan dengan komitmen UNUSIDA dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang unggul, adaptif, dan berdaya saing.

“Dengan penilaian ini, Program Studi Manajemen dan Teknik Industri harus mampu menjadi role model dalam pengelolaan pembelajaran yang berkualitas serta berkontribusi aktif dalam peningkatan mutu pendidikan di UNUSIDA,” pungkasnya.

Rektor UNUSIDA, H. Fatkul Anam Setelah Menerima Anugerah Diktisaintek 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Raih Gold Winner Kategori Pengabdian kepada Masyarakat di Anugerah Diktisaintek 2025

JAKARTA — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Pada ajang Anugerah Riset dan Pengembangan Diktisaintek 2025, UNUSIDA berhasil meraih Gold Winner dalam Kategori Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA Award) yang dilaksanakan di Graha Diktisaintek Gedung D Lantai 2, Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta, Jum’at (19/12/2025).

Penghargaan ini diberikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI) kepada perguruan tinggi yang menunjukkan kinerja unggul dan konsisten dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat. UNUSIDA dinilai sebagai Institusi Perguruan Tinggi Akademik Klaster Pratama/Madya dengan Skor Pengabdian kepada Masyarakat Tertinggi untuk periode 2022–2024.

Rektor UNUSIDA, Dr. H. Fatkul Anam, M.Si menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas capaian Gold Winner BIMA Award pada Anugerah Riset dan Pengembangan Diktisaintek 2025.

“Alhamdulillah, penghargaan ini merupakan buah dari kerja kolektif seluruh civitas academica UNUSIDA yang terus berkomitmen menghadirkan pengabdian kepada masyarakat yang nyata, relevan, dan berkelanjutan. Bagi kami, pengabdian bukan sekadar kewajiban tridarma, tetapi bentuk khidmah dan tanggung jawab moral perguruan tinggi kepada umat dan bangsa,” ujarnya saat dikonfirmasi oleh Humas UNUSIDA.

Ia menegaskan bahwa capaian tersebut menjadi motivasi bagi UNUSIDA untuk terus memperkuat kualitas dan dampak program pengabdian, khususnya yang berbasis nilai keislaman, ke-NU-an, dan pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, capaian ini menegaskan posisi UNUSIDA sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pengembangan akademik dan riset, tetapi juga kuat dalam menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Berbagai program pengabdian UNUSIDA selama ini dinilai berhasil menjawab kebutuhan riil masyarakat, mulai dari pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal, penguatan pendidikan dan literasi, inovasi teknologi tepat guna, hingga pengabdian berbasis nilai-nilai keislaman dan ke-NU-an.

“Ke depan, UNUSIDA akan terus mendorong kolaborasi dosen dan mahasiswa agar pengabdian yang dilakukan tidak hanya memenuhi indikator kinerja, tetapi benar-benar memberi manfaat luas dan berkontribusi pada pembangunan masyarakat yang berkeadaban,” tambahnya.

Prestasi ini sekaligus melengkapi deretan capaian UNUSIDA dalam bidang riset, pengabdian, dan penguatan tata kelola tridarma perguruan tinggi. Konsistensi UNUSIDA dalam mengikuti dan meraih pengakuan nasional melalui berbagai program hibah, pendampingan BIMA, serta kolaborasi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan menjadi fondasi kuat atas penghargaan tersebut.

Keberhasilan meraih Gold Winner BIMA Award 2025 menjadi bukti bahwa komitmen UNUSIDA sebagai kampus NU yang religius dengan semangat kewirausahaan atau motto utama Religious Campus with Entrepreneurship Spirit tidak hanya menjadi slogan, tetapi terimplementasi nyata melalui karya dan pengabdian yang berdampak luas.

Ke depan, UNUSIDA berkomitmen untuk terus memperkuat kualitas dan keberlanjutan program pengabdian kepada masyarakat, memperluas kolaborasi, serta meningkatkan kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan masyarakat yang inklusif, berdaya, dan berkeadaban.

“UNUSIDA berkomitmen menghadirkan ilmu pengetahuan yang tidak berhenti di ruang kelas dan jurnal akademik, tetapi hadir sebagai solusi nyata atas persoalan sosial di tengah masyarakat. Setiap riset dan pengabdian yang kami dorong harus mampu menjawab kebutuhan riil, memperkuat kemandirian, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” pungkasnya.

Laboran UNUSIDA Gelar Diseminasi Internal KILAB 2025 (Foto: Humas UNUSIDA)

Diseminasi Internal KILAB 2025, Laboran UNUSIDA Paparkan Inovasi IPAL Portabel Berbasis Fotokatalis OCN/Hydrochar

SIDOARJO Laboran Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar kegiatan Diseminasi Internal terkait Hasil Karya Inovasi Laboran (KILAB) 2025 bertempat di Hall Lantai 5 UNUSIDA, Kamis (27/11/2025). Diseminasi kali ini menampilkan hasil riset inovatif dengan tema ‘IPAL Portabel dengan Pengolahan Tersier Fotokatalis OCN/Hydrochar untuk Pengolahan Limbah Cair Laboratorium’.

Kegiatan diseminasi ini merupakan bagian dari luaran Program KILAB 2025, sebuah program pendanaan inovasi nasional yang diselenggarakan oleh Direktorat Sumber Daya – Ditdaya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknolofi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia untuk mendorong kreativitas dan inovasi laboran di lingkungan perguruan tinggi.

Ketua Tim, Khilyatul Afkar, S.T., dalam pemaparannya menjelaskan bahwa limbah cair laboratorium perguruan tinggi umumnya mengandung berbagai senyawa berbahaya seperti organik, anorganik, logam berat, serta asam dan basa kuat. Meskipun volumenya relatif kecil, kurang dari 20 liter per hari. Jumlah ini tidak memenuhi syarat minimal untuk diangkut oleh pihak ketiga.

“Kondisi tersebut membuat limbah cair laboratorium sering menumpuk hingga mendekati batas simpan 365 hari. Selain menghambat operasional laboratorium, hal ini juga menimbulkan potensi pencemaran lingkungan dan risiko keselamatan yang serius,” jelasnya.

Melihat urgensi tersebut, tim KILAB UNUSIDA mengembangkan IPAL portabel berkapasitas ±10 liter per running yang mampu mengolah limbah secara mandiri dan memenuhi standar baku mutu.

Inovasi ini bertujuan untuk merancang dan membangun prototipe IPAL portabel, serta menguji efektivitasnya dalam meningkatkan kualitas limbah sebelum dialirkan ke badan air. Target luaran yang dicanangkan antara lain Prototipe IPAL Portabel, Diseminasi Internal UNUSIDA hingga Diseminasi Nasional melalui forum ilmiah dan publikasi.

Khilya menambahkan bahwa keberhasilan riset ini juga didukung oleh beberapa aspek pendukung seperti:

  • Fasilitas laboratorium di Teknik Industri dan Teknik Lingkungan yang digunakan untuk pembuatan IPAL dan pengujian kualitas air,

  • Pendampingan ketat dari dosen, mulai dari validasi desain hingga evaluasi efektivitas pengolahan,

  • Kontribusi terhadap pengembangan ilmu, di mana IPAL portabel akan menjadi media pembelajaran di mata kuliah Kimia Lingkungan, Ekotoksikologi, Unit Proses, dan Unit Operasi,

  • Dampak jangka panjang, yakni IPAL portabel sebagai model percontohan instalasi pengolahan limbah skala kecil bagi perguruan tinggi lainnya.

Tim laboran UNUSIDA memaparkan tahapan pengembangan IPAL portabel, mulai dari sintesis komposit OCN/Hydrochar, uji karakterisasi material, pembuatan unit IPAL, pengujian kualitas limbah cair laboratorium, serta penyusunan dokumentasi dan penyusunan bunga rampai.

Setelah program selesai, tim merencanakan beberapa langkah strategis jangka panjang dalam mengembangkan IPAL Portabel ini. Diantaranya dengan melakukan uji ketahanan komposit OCN/Hydrochar, nemanfaatkan IPAL sebagai media pembelajaran dan penelitian, mengoperasikan IPAL sebagai unit pengolahan limbah laboratorium UNUSIDA, memperluas pemanfaatan untuk skala lebih besar, menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada KILAB – Ditdaya Diktisaintek atas dukungan pendanaa, hingga mendorong keberlanjutan program KILAB sebagai wadah inspiratif bagi laboran Indonesia untuk terus berinovasi.

Inovasi ini mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak yang hadir, antara lain Kaprodi Teknik Lingkungan Muchammad Tamyiz, Ph.D., Kaprodi Teknik Industri Untung Usada, S.Si., M.T., Wakil Dekan Fakultas Teknik Zahrotul Azizah, S.T., M.T., Kepala Lembaga SDM, Jeziano Riskita Boyas, S.E., M.M., Kabiro Kemahasiswaan dan Alumni Fajar Nur Yasin, S.Pd., M.Pd. serta Staf LPPM UNUSIDA Tantri Risda Zubaida, S.Ak.

Dalam kesempatan tersebut, Fajar Nur Yasin menyampaikan apresiasinya terhadap kontribusi inovasi tersebut. Menurutnya, kegiatan diseminasi ini menegaskan komitmen UNUSIDA dalam mendorong budaya riset dan inovasi, khususnya bagi tenaga laboran sebagai garda terdepan pengelolaan keselamatan dan lingkungan laboratorium. Inovasi IPAL portabel ini diharapkan menjadi kontribusi nyata bagi pengelolaan limbah laboratorium di Indonesia.

“IPAL portabel ini sangat mendukung proses perkuliahan, terutama pada praktik pengolahan limbah laboratorium. Kami berharap alat ini tidak hanya digunakan sebagai riset, tetapi juga diajarkan kepada mahasiswa agar dapat dimanfaatkan dalam penelitian maupun pengembangan akademik. Semoga inovasi ini berkembang menjadi instalasi IPAL skala besar dan bahkan membuka peluang bisnis bagi institusi,” ungkapnya.

PGMI UNUSIDA Gelar FGD Bersama Stakeholder, Penguatan Kompetensi Lulusan dan Sinkronisasi Kebutuhan Dunia Kerja 1

PGMI UNUSIDA Gelar FGD Bersama Stakeholder, Penguatan Kompetensi Lulusan dan Sinkronisasi Kebutuhan Dunia Kerja

SIDOARJO — Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) sukses menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Kurikulum pada Jumat (21/11/2025). Kegiatan yang digelar di Hall Lantai 5 Gedung A Kampus 2 UNUSIDA ini melibatkan berbagai stakeholder strategis bidang pendidikan dasar Islam.

Mengusung tema ‘Penguatan Kompetensi Lulusan dan Sinkronisasi Kebutuhan Dunia Kerja’, FGD ini menjadi langkah penting bagi Prodi PGMI dalam memastikan kurikulum yang diterapkan mampu menjawab tantangan perkembangan pendidikan, sekaligus memenuhi standar kompetensi yang dibutuhkan sekolah/madrasah sebagai pengguna lulusan.

Dalam kesempatan tersebut, Dekan Fakultas Agama Islam UNUSIDA, Feri Kuswanto, M. Pd.I., mengatakan, kegiatan FGD ini merupakan bentuk komitmen fakultas dalam memastikan kurikulum dan proses pembelajaran tetap relevan dengan perkembangan pendidikan dasar serta kebutuhan sekolah dan madrasah.

“Kami di FAI UNUSIDA meyakini bahwa perguruan tinggi tidak boleh berjalan sendiri dalam menyiapkan calon guru. Dunia kerja, terutama madrasah dan satuan pendidikan dasar, terus mengalami perkembangan yang sangat cepat. Guru masa kini tidak cukup hanya menguasai pedagogik, tetapi juga harus adaptif, kreatif, dan mampu menjawab tantangan era digital,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa FGD ini menjadi wadah strategis untuk menyerap masukan langsung dari para pengguna lulusan agar Prodi PGMI dapat terus memperkuat kualitas akademik dan profesionalisme calon guru madrasah ibtidaiyah. “Kami ingin memastikan bahwa lulusan PGMI UNUSIDA benar-benar siap mengajar, siap berkarya, dan siap memimpin perubahan positif di sekolah tempat mereka mengabdi,” tandasnya.

Sementara itu, Kaprodi PGMI UNUSIDA, Moh. Anang Abidin, S.H.I., M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud komitmen prodi untuk terus berinovasi serta melibatkan mitra eksternal dalam penyusunan kurikulum yang relevan dan adaptif. Pihaknya mengaku selalu menekankan membangun hubungan kolaboratif dan berkelanjutan dengan sekolah/madrasah mitra, lembaga pendidikan, serta para pengguna lulusan. Kolaborasi ini dipandang penting untuk meningkatkan mutu lulusan agar unggul, kompeten, dan berdaya saing.

“PGMI harus mampu menjawab perubahan zaman. Kurikulum tidak boleh statis, tetapi harus berkembang sesuai kebutuhan lapangan,” tegasnya.

Ia menjelaskan secara mendalam visi, misi, serta capaian pembelajaran lulusan (CPL) yang saat ini telah diimplementasikan di PGMI, termasuk rencana pengembangan kompetensi pedagogik, digital, karakter, dan ke-NU-an yang menjadi ciri khas lulusan.

Menurutnya, kegiatan menjadi upaya memperkuat profil lulusan, menyelaraskan kurikulum dengan tuntutan dunia kerja, serta membangun kemitraan berkelanjutan dengan lembaga pendidikan dan instansi terkait. Dengan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari madrasah, kementerian, organisasi pendidikan, hingga alumni diharapkan dapat memberikan masukan komprehensif terhadap arah pengembangan Prodi PGMI UNUSIDA.

“Melalui kegiatan FGD ini, kami berharap dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya cakap dalam kompetensi pedagogik dan profesional, namun juga memiliki karakter kuat, integritas, kemampuan adaptif, serta kepekaan terhadap tantangan pendidikan abad 21,” ungkapnya.

Pelaksanaan FGD dipandu oleh Dr. Wachyudi Achmad, S.Th.I., M.Pd.I., selaku Ketua Tim, didampingi Ibu Rofiqoh Nirwana, S.Pd.I., M.Pd.I. sebagai Sekretaris. Tim penyusun kurikulum juga diperkuat oleh para anggota, yakni:

  • Risalul Ummah, S.Pd., M.Pd. (Dosen PGMI),

  • Feri Kuswanto, S.Pd.I., M.Pd.I. (Dekan Fakultas Agama Islam),

  • H. Aris Kuswanto, S.T., M.Pd.I. (Dosen PGMI),

  • Mohammad Setyo Wardono, S.Pd., M.Pd. (Sekretaris Pengembangan Pembelajaran),

  • Yuni Pratiwi, S.Pd. (Alumni PGMI).

Kegiatan ini turut menghadirkan pemangku kepentingan pendidikan yang memiliki peran strategis dalam penyelarasan kurikulum, antara lain:

  • Dr. Niswatin, S.Pd., M.Pd. (Perwakilan LPTNU Sidoarjo),

  • M. Saifulloh Asyari, S.Si., M.Pd.I. (Ketua LP Ma’arif NU Sidoarjo),

  • Drs. H. Abdul Muis, MM. (Pengawas Madrasah Kemenag Sidoarjo),

  • Hj. Anis Faridah, M.Pd. (Kepala MINU KH. Mukmin Sidoarjo),

  • Nur Cholisah, M.Pd. (Kepala MI Ma’arif Pagerwojo),

  • Habib Zakariyah, S.Sos. (Kepala MI Al Falah).

Dalam sesi diskusi berjalan dinamis dengan berbagai masukan konstruktif dari peserta. Para stakeholder memberikan pandangan, kritik konstruktif, serta masukan penting terkait penguatan kompetensi lulusan, mulai dari kurikulum berbasis kompetensi, soft skills, kesiapan digital, kemampuan pedagogik, hingga karakter profesional guru MI yang ideal.

Berbagai masukan ini menjadi bahan sangat penting bagi Prodi PGMI untuk memperkuat kurikulum dan memperbaiki proses pembelajaran yang lebih kontekstual. Yang nantinya akan menjadi dasar penyempurnaan kurikulum PGMI agar semakin selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan dinamika pendidikan madrasah ibtidaiyah.

Penulis: Nuzula Firdausi (MY)

Alumni Prodi Infromatika Unusida, Edi Arianto atau Mas Owdy saat menerima Penghargaan Santri of The Year 2025 Kategori Santri Milenial Inspiratif (Foto: Mas Owdy)

Alumni Informatika UNUSIDA, Edi Arianto Raih Penghargaan “Santri of The Year 2025” Kategori Santri Milenial Inspiratif

SIDOARJO — Alumni Program Studi (Prodi) Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Edi Arianto, atau yang akrab disapa Mas Owdy, berhasil menorehkan prestasi membanggakan di penghujung tahun 2025. Ia dianugerahi Penghargaan Santri of The Year 2025 Kategori Santri Milenial Inspiratif. Penghargaan tersebut diberikan oleh Islam Nusantara Center (INC) bekerja sama dengan DPR RI dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional 2025, yang puncaknya digelar di Kompleks DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Ahad (9/11/2025) lalu.

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kreativitasnya dalam berdakwah melalui media digital. Melalui karya-karya konten positif dan syiar shalawat, Edi Arianto dinilai mampu menghadirkan semangat keislaman yang damai, kreatif, dan relevan dengan generasi muda masa kini.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan rasa syukur dan haru atas penghargaan yang diterimanya. Ia mendedikasikan capaian tersebut kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam perjalanan hidup dan kariernya.

“Alhamdulillah, di penghujung tahun 2025 ini kami mendapatkan penghargaan Santri of The Year 2025. Penghargaan ini saya persembahkan untuk kedua orang tua, istri tercinta, para guru, sahabat, kerabat, serta keluarga besar Banjari Hero Multimedia dan Delta Video Shooting. Semoga prestasi ini menambah semangat untuk terus bersyiar melalui konten positif di media sosial, serta menjadi inspirasi bagi santri lainnya,” ujarnya kepada Humas UNUSIDA, Selasa (11/11/2025).

Ajang Santri of The Year merupakan kegiatan tahunan yang digelar untuk menampilkan figur-figur santri yang memberikan kontribusi nyata bagi bangsa, baik melalui gagasan, karya, maupun prestasi. Pada tahun ini, INC memperkenalkan beberapa kategori baru, di antaranya Santri Milenial Inspiratif, Santri Legislator Inspiratif, Santri Perempuan Penggerak Inspiratif, Santri Bhayangkara Inspiratif, dan Mahasantri Bhakti Negeri.

Secara umum, kategori Santri Milenial Inspiratif diberikan kepada individu yang dinilai berhasil memanfaatkan teknologi dan platform digital untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan. Dalam hal ini, Edi Arianto menonjol karena konsistensi dan orisinalitasnya dalam menggabungkan tradisi pesantren (shalawat) dengan media modern seperti YouTube dan broadcast digital.

“Konten saya bukan sekadar hiburan, tapi juga dakwah yang ringan, relevan, dan mudah diterima audiens milenial. Ini adalah upaya membawa ruh pesantren ke ruang digital yang sangat luas. Kami berupaya menjembatani gap antara kearifan lokal pesantren dengan tren global digital,” ungkapnya.

Edi menuturkan bahwa motivasinya sederhana, yakni khidmah (pengabdian) kepada para guru, kiai, dan agamanya. Melalui karya konten shalawat dan siar digital, ia ingin menunjukkan bahwa santri tidak hanya bisa mengaji kitab kuning, tetapi juga bisa menjadi pelopor dakwah kreatif di era modern.

“Konten shalawat yang saya buat adalah bentuk rasa cinta dan syukur kepada Rasulullah SAW. Saya ingin menunjukkan bahwa santri juga bisa menjadi garda terdepan dalam menyebarkan kedamaian, akhlakul karimah, dan kecintaan kepada Nabi melalui bahasa dan platform yang dimengerti oleh anak muda,” terangnya.

Bagi Edi, penghargaan ini bukan sekadar pengakuan nasional, melainkan amanah besar untuk terus konsisten dalam berdakwah melalui media digital. Edi juga menceritakan bahwa sumber inspirasinya datang dari dua kutub penting dalam kehidupannya.

“Pertama, para kiai dan guru di pesantren yang mengajarkan tentang istiqamah dan keikhlasan. Mereka adalah kompas spiritual saya. Kedua, tokoh-tokoh santripreneur yang sukses memadukan nilai spiritual dengan profesionalisme. Mereka menjadi contoh bahwa santri juga bisa modern tanpa kehilangan ruh keislamannya,” jelasnya.

Kombinasi ajaran salaf dan semangat milenial inilah yang menurutnya menjadi energi tak terbatas dalam setiap karya yang ia hasilkan. “Apresiasi ini adalah cambuk semangat untuk terus berbuat baik. Saya ingin setiap karya digital santri menjadi bagian dari dakwah yang menenangkan, bukan memecah. Karena dunia digital pun bisa menjadi ladang amal jika dijalani dengan niat yang tulus,” tandasnya.

Alumni Pondok Pesantren Sabilillah Lamongan tersebut, berharap dapat terus menjadi inspirasi bagi santri-santri muda di seluruh Indonesia untuk berani berkarya, berinovasi, dan berdakwah dengan cara yang kreatif namun tetap berakar pada nilai-nilai pesantren.

“Bagi saya, kata inspiratif bagi santri milenial adalah tentang kemampuan untuk beradaptasi tanpa kehilangan identitas. Inspiratif berarti menjadi jembatan: menjembatani ajaran salaf dengan tantangan khalaf (masa kini); menjembatani ruang Pesantren yang damai dengan hutan belantara dunia maya yang kadang toksik,” imbuhnya.

Menurutnya, santri masa kini harus mampu menjadi Filter dan Fountain di dunia digital. “Sebagai Filter, santri harus mampu menyaring hoaks, radikalisme, dan konten negatif dengan bekal ilmu agama dan akhlaq. Sebagai Fountain (air mancur), santri juga harus aktif menyebarkan konten positif dan mencerahkan. Bukan hanya mengaji teks, tapi juga mengaji konteks. Literasi digital adalah bagian dari dakwah masa kini,” terangnya.

Melalui kanal dan komunitas kreatif yang ia rintis, seperti Banjari Hero Multimedia dan Delta Video Shooting, ia berupaya menghidupkan semangat dakwah yang ringan, estetis, dan mudah diterima generasi muda. Konten yang ia produksi tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi sarana syiar yang menyejukkan dan penuh nilai spiritual.

Ke depan, Edi yang juga mahir bermain berbagai alat musik seperti rebana, kendang dan piano modern tersebut, berkomitmen memperluas ekosistem broadcast dan santripreneurship yang telah dibangunnya. Ia berharap pemerintah dan lembaga terkait dapat memberikan dukungan nyata berupa pelatihan digital, infrastruktur, dan permodalan bagi para santri kreatif di seluruh Indonesia.

“Langkah terdekat adalah memperluas ekosistem broadcast dan entrepreneurship yang sudah ada. Saya ingin menciptakan lebih banyak ruang bagi santri lain untuk berkolaborasi dan berkarya. Harapan saya, kategori Santri Milenial Inspiratif ini terus ada dan makin diakui secara nasional,” harapnya.

“Jadilah santri yang merawat tradisi dan merangkul teknologi. Jangan takut dengan perubahan zaman. Pondasi kita adalah tafaqquh fiddin dan akhlaq mulia. Manfaatkan gadget bukan hanya untuk konsumsi, tapi untuk kontribusi. Jadikan setiap karya sebagai dakwah, dan setiap unggahan sebagai amal jariyah. Karena masa depan bangsa ini ada di tangan santri yang berdaya di segala bidang,” pungkasnya. (MY)

Pelatihan “Berbisnis Modal Nol: From Zero to Hero” di UNUSIDA (Foto: Humas UNUSIDA)

Mahasiswa UNUSIDA Dibekali Pelatihan “Berbisnis Modal Nol: From Zero to Hero”

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang kreatif dan mandiri melalui kegiatan Pelatihan “Berbisnis Modal Nol: From Zero to Hero”. Kegiatan ini diselenggarakan di Kampus 2 UNUSIDA, lantai 5, selama 4 hari mulai dari Sabtu–Ahad (1-2/11/2025) sampai Sabtu-Ahad (8-9/11/2025).

Pelatihan yang berlangsung selama empat kali pertemuan ini diikuti oleh puluhan mahasiswa dari berbagai fakultas. Tujuan utama kegiatan ini adalah menumbuhkan semangat kewirausahaan dan membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis untuk membangun usaha dari nol tanpa bergantung pada modal besar.

Sebagai narasumber utama, panitia menghadirkan Sugiarso, seorang praktisi bisnis dan motivator kewirausahaan yang berpengalaman dalam membangun berbagai usaha dari titik awal. Dalam penyampaiannya, Sugiarso menekankan pentingnya mindset entrepreneur yang kuat, keberanian mengambil risiko, dan kemampuan melihat peluang di sekitar.

“Bisnis bukan hanya tentang modal uang, tapi tentang ide, keberanian, dan kemauan untuk terus belajar. Siapa pun bisa menjadi pengusaha asal mau memulai,” ujarnya.

Pada pertemuan pertama, mahasiswa diperkenalkan pada konsep dasar berbisnis dengan modal nol serta pentingnya berpikir kreatif. Sesi berikutnya berfokus pada strategi riset pasar dan inovasi produk, termasuk pemanfaatan platform digital sebagai sarana promosi yang efektif dan hemat biaya.

Pertemuan ketiga membahas pengelolaan keuangan usaha kecil dan strategi branding. Sugiarso menekankan pentingnya pencatatan keuangan yang tertib, perencanaan yang efisien, serta membangun citra usaha yang profesional di mata konsumen.

Pada sesi terakhir, peserta diminta menyusun rencana bisnis sederhana berdasarkan ide yang mereka gagas selama pelatihan. Beberapa kelompok mempresentasikan ide bisnis mereka dan mendapat apresiasi serta masukan langsung dari narasumber.

Selain berbagi teori, Sugiarso juga menceritakan perjalanan pribadinya dalam membangun usaha dari nol hingga berhasil, yang memberikan motivasi kuat bagi peserta. Cerita-cerita inspiratif tersebut menumbuhkan keyakinan bahwa kesuksesan bukanlah hasil instan, melainkan buah dari ketekunan, kreativitas, dan keberanian untuk mencoba.

Kepala Bagian (Kabag) Kemahasiswaan sekaligus Dosen UNUSIDA, Machfudzil Asror, mengungkapkan harapannya agar kegiatan ini dapat menjadi pemantik semangat wirausaha di kalangan mahasiswa. Melalui pelatihan ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan ilmu dan keterampilan baru, tetapi juga membangun jejaring sosial dan pengalaman berharga yang menjadi bekal menuju masa depan yang lebih mandiri dan produktif.

“Kami berharap pelatihan ini melahirkan generasi muda yang berjiwa entrepreneur, kreatif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan dunia usaha. UNUSIDA yang membawa semangat kampus wirausaha muda berkomitmen tidak hanya mencetak sarjana cerdas secara akademik, tetapi juga mandiri secara ekonomi,” harapnya.

Penulis: Feni Dwi Agustin (MY)

Ilustrasi Hari Pahlawan Nasional (Istimewa)

Semangat Kepahlawanan sebagai Puncak Pembelajaran Hidup

Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November bukan sekadar penanda sejarah, melainkan sebuah monumen pembelajaran hidup yang paling berat bagi bangsa Indonesia. Pertempuran Surabaya 1945 menjadi sekolah kehidupan yang menghasilkan “lulusan” berupa kemerdekaan dan kedaulatan, yang semuanya itu ditebus dengan darah dan pengorbanan para pejuang.

Konsep spiritual Guru dalam Kehidupan, yang terdiri dari tiga hal: Kefakiran, Hati yang Patah, dan Keinginan yang Tidak Terwujud, memberikan lensa filosofis untuk memahami kedalaman makna perjuangan para pahlawan. Tiga guru ini mengajarkan bagaimana ketakutan berubah menjadi keberanian, kekalahan menjadi kemenangan batin, dan kepasrahan menjadi tindakan nyata.

Dari sini, semangat kepahlawanan bukan hanya dimaknai sebagai keberanian mengangkat senjata, tetapi sebagai transformasi batin yang mendalam. Transformasi inilah yang membuat rakyat sipil yang minim pengalaman tempur mampu bangkit melawan kekuatan militer modern dengan tekad dan keyakinan yang tak tergoyahkan.

Guru Pertama: Kefakiran

Kefakiran, dalam konteks individu, mengajarkan ketergantungan mutlak kepada Tuhan. Ia menyadarkan manusia bahwa kekayaan sejati tidak terletak pada harta, melainkan pada rasa cukup dan keberkahan. Nilai ini tercermin jelas dalam peristiwa Pertempuran Surabaya.

Pasca-proklamasi, Indonesia adalah bangsa yang fakir secara material. Laskar rakyat berjuang dengan senjata seadanya, bambu runcing melawan tank dan pesawat tempur. Namun, kefakiran material ini justru melahirkan kekuatan spiritual yang luar biasa. Ketika manusia kehilangan segalanya, yang tersisa hanyalah keyakinan dan doa.

Kekurangan yang ekstrem membuat para pejuang mencari sumber kekuatan yang tak kasat mata: keberkahan, persatuan, dan keimanan. Inilah makna sejati kefakiran, bahwa lapang dan sempitnya hidup tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh luasnya hati. Bambu runcing yang disertai tekad dan keikhlasan jauh lebih tajam dari peluru mana pun.

Sebaliknya, pasukan Sekutu yang memiliki senjata dan logistik melimpah justru sering merasa sempit, tertekan oleh perlawanan rakyat yang tak gentar. Senjata mereka gagal menembus semangat yang lahir dari kefakiran.

Dari pelajaran ini, kita belajar bahwa kemerdekaan tidak bisa dibeli dengan uang atau teknologi. Ia ditebus dengan ketulusan berkorban dan keyakinan pada cita-cita. Kesadaran akan kefakiran material justru melahirkan mentalitas “merdeka atau mati”. Seolah menjadi penegasan bahwa kebebasan hanya bisa diraih melalui ketergantungan total kepada Tuhan, bukan kepada fasilitas duniawi.

Guru Kedua: Hati yang Patah

“Hati yang patah” mengajarkan manusia untuk tidak salah menaruh harapan. Ketika seseorang berharap pada selain Tuhan, ujungnya adalah kekecewaan. Pelajaran ini juga dialami oleh bangsa Indonesia dalam perjalanan kemerdekaannya.

Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah bunga harapan yang baru mekar. Namun, kehadiran tentara Sekutu dan kembalinya ambisi Belanda mematahkan harapan itu. Ultimatum Sekutu agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata menjadi luka kolektif yang mendalam.

Rakyat dan pemimpin Surabaya, termasuk Bung Tomo, mengalami patah hati besar. Mereka sadar, harapan terhadap janji baik pihak asing hanya berujung pengkhianatan. Ucapan Sayyidina Ali “jangan terlalu berharap pada manusia, karena yang pasti engkau dapat hanyalah kecewa” menemukan relevansinya di sini.

Kekecewaan itu bukan melemahkan, melainkan membakar tekad perlawanan. Rakyat Surabaya memilih menghadapi kematian daripada kembali diperdaya oleh janji palsu. Dari patah hati itu lahir keberanian yang sejati, keputusan untuk berjuang tanpa berharap pada belas kasihan siapa pun, kecuali pada pertolongan Tuhan.

Pelajaran besar dari Hati yang Patah adalah bahwa kedaulatan sejati hanya dapat dijaga oleh tangan sendiri. Para pahlawan menitipkan harapan kedaulatan kepada Tuhan dan rakyatnya sendiri, bukan pada pengakuan atau bantuan dari bangsa lain.

Guru Ketiga: Keinginan yang Tidak Terwujud

Guru terakhir, Keinginan yang Tidak Terwujud, mengajarkan kita untuk berserah diri dengan penuh kesadaran bahwa tidak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik menurut kehendak Tuhan.

Pasca-proklamasi, keinginan terbesar rakyat Indonesia adalah hidup damai. Namun, kenyataan berkata lain: Pertempuran Surabaya pecah, dan ribuan nyawa menjadi taruhan. Keinginan akan kedamaian tidak terwujud, tetapi dari situlah lahir pelajaran besar tentang keteguhan dan tawakal.

Para pahlawan belajar menerima kenyataan pahit bahwa kemerdekaan sejati memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit. Mereka berdoa sepenuh hati, berjuang sepenuh tenaga, dan berpasrah sepenuh jiwa. Tiga sikap inilah yang menjadikan perjuangan mereka suci dan tulus.

Kegagalan mencapai perdamaian justru menjadi batu loncatan bagi legitimasi internasional dan penguatan semangat nasionalisme. Dari keinginan yang tidak terwujud lahir keberkahan yang jauh lebih besar, yaitu pengakuan, persatuan, dan semangat juang yang tidak padam.

Pelajaran utama dari Keinginan yang Tidak Terwujud adalah bahwa perjuangan sejati tidak diukur dari keberhasilan meraih hasil, tetapi dari ketulusan dalam menjalankan peran. Pahlawan sejati adalah mereka yang berjuang sampai akhir, sambil menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.

Hari Pahlawan adalah perayaan keberhasilan bangsa Indonesia dalam menempuh tiga kurikulum kehidupan: Kefakiran yang melahirkan keikhlasan, Hati yang Patah yang menumbuhkan keberanian, dan Keinginan Tak Terwujud yang mengajarkan kepasrahan. Ketiganya membentuk karakter bangsa yang kuat, berdaulat, dan beriman.

Nilai-nilai ini harus terus diwariskan kepada generasi penerus. Semangat 10 November mengingatkan bahwa kemerdekaan batin dan kemajuan bangsa tidak akan lahir dari kemudahan dan kenyamanan, tetapi dari kesanggupan menghadapi kekurangan, kekecewaan, dan kegagalan dengan hati yang teguh.

Mengenang Hari Pahlawan seharusnya bukan sekadar upacara atau ritual tahunan, melainkan refleksi mendalam tentang bagaimana tiga guru kehidupan. Kefakiran, Hati yang Patah, dan Keinginan Tak Terwujud, telah mendidik bangsa ini menjadi bangsa yang merdeka lahir dan batin.

Penulis: Achmad Wahyudi (MY)

Dekan Fakultas Teknik UNUSIDA, Listin Fitrianah, S.P., M.Si., Aktif dalam Forum CSR Bappeda Sidoarjo (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Aktif dalam Forum CSR Bappeda: Wujud Kolaborasi Kampus, Pemerintah, dan Industri untuk Pembangunan Berkelanjutan

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) kembali menunjukkan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang berperan aktif dalam pembangunan daerah melalui keikutsertaannya dalam Forum Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) yang digelar oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sidoarjo, Senin (3/11/2025).

Dalam kegiatan tersebut, UNUSIDA diwakili oleh Dekan Fakultas Teknik, Ibu Listin Fitrianah, S.P., M.Si, yang hadir bersama para pemangku kepentingan dari berbagai sektor, termasuk instansi pemerintah, perusahaan swasta, dan lembaga sosial masyarakat. Pertemuan ini membahas arah kebijakan CSR agar dapat berjalan selaras dengan program prioritas daerah serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

Forum CSR Bappeda menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan perguruan tinggi dalam merancang serta melaksanakan program tanggung jawab sosial perusahaan yang tepat sasaran, terukur, dan berkelanjutan.

“Melalui forum ini, UNUSIDA ingin berperan aktif memberikan kontribusi dalam bentuk riset, pendampingan masyarakat, dan pengembangan teknologi tepat guna yang bisa dimanfaatkan dalam program CSR,” ungkapnya.

Menurutnya, akademisi seharusnya hadir dengan membawa perspektif akademik melalui pendekatan penelitian, inovasi teknologi, dan kegiatan pengabdian masyarakat yang dapat mendukung pelaksanaan CSR berbasis kebutuhan lokal.

“Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam pembangunan daerah, bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat inovasi dan agen perubahan sosial,” ujarnya.

Inovasi Fakultas Teknik UNUSIDA untuk CSR Berkelanjutan

Dalam kesempatan tersebut, Listin Fitrianah juga memaparkan sejumlah inisiatif yang telah disiapkan oleh Fakultas Teknik UNUSIDA untuk dikolaborasikan bersama mitra CSR, di antaranya:

  • Inovasi pengolahan limbah ramah lingkungan,

  • Pengembangan teknologi energi terbarukan, serta

  • Digitalisasi sistem untuk pemberdayaan UMKM lokal.

Listin menjelaskan, sinergi antara dunia pendidikan dan dunia industri merupakan langkah penting untuk memastikan keberlanjutan program CSR dan memperkuat dampak sosialnya bagi masyarakat.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi awal dari kerja sama yang lebih erat antara UNUSIDA dan para pelaku CSR di Sidoarjo. Kolaborasi ini bukan hanya seremonial, tetapi akan kami tindak lanjuti dalam bentuk aksi nyata yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan lingkungan,” tegasnya.

Implementasi Tridharma Perguruan Tinggi

Partisipasi aktif UNUSIDA dalam Forum CSR Bappeda juga menjadi wujud nyata implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat — yang dijalankan secara terpadu dan kontekstual. Melalui kegiatan ini, UNUSIDA ingin memperkuat posisi kampus sebagai mitra strategis pemerintah dan industri dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Selain itu, forum ini juga membuka peluang bagi mahasiswa dan dosen UNUSIDA untuk terlibat dalam proyek-proyek pengabdian masyarakat berbasis kebutuhan lokal, sekaligus memperkenalkan berbagai hasil penelitian dan inovasi mahasiswa yang relevan dengan program CSR perusahaan mitra.

“Kami ingin menjadikan kegiatan CSR sebagai laboratorium pembelajaran sosial bagi mahasiswa, agar mereka dapat menerapkan ilmu di dunia nyata sekaligus menumbuhkan tanggung jawab sosial yang tinggi,” jelas Listin.

Komitmen untuk Pembangunan Daerah

Keterlibatan UNUSIDA dalam Forum CSR Bappeda diharapkan dapat memperkuat ekosistem kolaborasi antara dunia akademik dan dunia industri. Lebih dari sekadar partisipasi, kegiatan ini menjadi bukti tanggung jawab sosial UNUSIDA sebagai bagian dari ekosistem pembangunan daerah.

“Kami ingin UNUSIDA dikenal bukan hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga hadir di tengah masyarakat dengan solusi nyata. Melalui program CSR yang kolaboratif, kami ingin membuktikan bahwa ilmu pengetahuan bisa menjadi alat untuk membangun kesejahteraan bersama,” tuturnya.

Ke depan, UNUSIDA berkomitmen untuk terus memperluas jaringan kemitraan dengan sektor swasta dan lembaga pemerintah dalam pelaksanaan tanggung jawab sosial. Fakultas Teknik bersama seluruh fakultas di lingkungan UNUSIDA akan terus mendorong penelitian terapan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri, agar hasil akademik dapat memberikan dampak langsung dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa forum CSR Bappeda Sidoarjo menjadi momentum penting bagi UNUSIDA untuk memperkuat perannya sebagai kampus adaptif dan berorientasi pada kemaslahatan publik. Keterlibatan aktif dalam forum ini sejalan dengan visi UNUSIDA untuk menjadi universitas unggul dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis nilai-nilai Islam dan kemanusiaan.

“Kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan dunia usaha adalah kunci dalam mewujudkan Sidoarjo yang lebih maju, inklusif, dan berdaya saing. UNUSIDA akan terus hadir memberikan kontribusi terbaik untuk masyarakat melalui ilmu pengetahuan dan tindakan nyata,” pungkasnya. (AS/MY)

Kepala Divisi Sosial Budaya dan Islam Nusantara Unusida, Muhammad Idham Kholiq, S.Sos., M.AP. (Foto: UNUSIDA TV)

Akademisi UNUSIDA Jelaskan Polemik Trans7 dan Pesantren: Itu Salah Kaprah Interpretasi Budaya

Kepala Divisi Sosial Budaya dan Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Muhammad Idham Kholiq, S.Sos., M.AP., memberikan penjelasan panjang lebar terkait polemik pemberitaan stasiun televisi Trans7 dengan masyarakat pesantren, khususnya keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo yang belakangan memicu perdebatan publik.

Menurut Idham, persoalan utama bukan sekadar soal liputan jurnalistik, melainkan interpretasi terhadap praktik budaya pesantren yang dinilai keliru. “Trans7 telah melakukan liputan jurnalistik, tetapi interpretasinya terhadap budaya pesantren tidak memahami makna yang diyakini komunitas pesantren itu sendiri,” kata Idham, dikutip dari video pernyataan melalui channel You Tube UNUSIDA TV, Jum’at (31/10/2025).

Idham mencontohkan sejumlah tradisi pesantren, seperti berjalan merendah di hadapan kyai, mencium tangan, atau tata krama lain yang diberi label sebagai bentuk feodalisme oleh pihak luar. Padahal, kata dia, tindakan itu merupakan adab dan bagian dari tata krama pencari ilmu (mutallim) yang memiliki makna internal bagi santri.

“Bagi santri, merendah di hadapan guru adalah adab menuntut ilmu, bukan relasi kelas aristokrat yang dimaksud feodalisme,” ujarnya.

Dalam analisisnya, Idham mengutip pendekatan Max Weber tentang Verstehen, prosedur pemahaman mendalam terhadap makna tindakan pelaku, sebagai metode yang semestinya dipakai oleh jurnalis dan peneliti ketika merekam budaya yang bukan berasal dari komunitasnya.

“Kalau ingin menulis atau meliput budaya pesantren, lakukanlah pendalaman sehingga makna yang disampaikan akurat dan tidak menimbulkan kesalahpahaman,” pesannya.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sidoarjo itu juga menyoroti reaksi keras dari kalangan santri terhadap liputan yang dianggap menyinggung. Ia memahami reaksi sebagai respons wajar dari insider yang merasa nilai-nilainya diperlakukan keliru, namun ia mengimbau agar respons tersebut disalurkan secara konstruktif.

“Kita harus menerima kenyataan ada perbedaan perspektif. Lebih baik membuka dialog untuk menjelaskan makna tradisi kita daripada sekadar marah,” jelasnya.

Idham menekankan pentingnya membuka ruang komunikasi dan dialog antarpihak, baik antara pesantren dan media maupun masyarakat luas. Sebagai jalan meredam polemik. Dengan dialog yang beradab, menurutnya, publik akan lebih paham bahwa tradisi seperti mencium tangan kyai atau berjalan rendah bukanlah penindasan, melainkan bentuk penghormatan dan pola adab keilmuan.

Lebih lanjut, ia mengajak komunitas pesantren untuk aktif menjelaskan makna budaya mereka kepada masyarakat umum dan media. Ia mengimbau kepada insan media untuk menerapkan etika dan metode kajian budaya yang mendalam saat meliput komunitas tradisional. Sementara kepada kaum santri, ia mengajak bersikap inklusif dan berani berdialog supaya nilai-nilai pesantren dipahami secara tepat oleh publik yang lebih luas.

“Jangan sungkan menerangkan mengapa kita beradat demikian; bila orang tahu maknanya, insya Allah persepsi miring akan lurus,” pungkasnya. (MY)

Mahasiswa UNUSIDA Dibekali Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi bersama DPR RI dan LLDikti Wilayah VII Jawa Timur (Foto: Humas UNUSIDA)

UNUSIDA Komitmen Wujudkan Kampus Aman untuk Semua Kalangan

SIDOARJO — Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menegaskan komitmennya menjadi kampus yang aman, inklusif, dan berkeadaban bagi seluruh sivitas akademika. Hal tersebut disampaikan oleh Rektor UNUSIDA, Prof. Dr. H. Fatkul Anam, M.Si, dalam kegiatan Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT) yang berlangsung di Kampus 2 UNUSIDA, Rabu (29/10/2025).

Dalam sambutannya, Prof. Dr. H. Fatkul Anam, M.Si., menekankan bahwa UNUSIDA yang kini telah masuk dalam klaster Utama di usia ke-11, terus berkomitmen menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan integritas dalam setiap aspek kehidupan kampus.

“Kekerasan dalam bentuk apa pun, baik fisik, psikis, seksual, maupun digital—tidak boleh memiliki ruang di lingkungan UNUSIDA. Kita harus menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan membangun generasi muda yang berakhlakul karimah serta berintegritas,” ujarnya.

Prof. Anam juga menyampaikan apresiasi kepada LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur yang telah menjadi inisiator sekaligus inspirator dalam upaya menciptakan kampus yang aman dan berkeadilan. Ia berharap melalui kegiatan ini UNUSIDA semakin kokoh dalam mewujudkan visi sebagai kampus mahasantri modern yang menjunjung tinggi nilai-nilai tasamuh (toleransi), fathonah (kebijaksanaan), dan rahmatan lil ‘alamin.

“UNUSIDA adalah rumah ilmu bagi setiap generasi muda. Melalui kegiatan sosialisasi ini, mahasiswa diharapkan memahami mekanisme pelaporan kasus kekerasan secara benar dan berperspektif kemanusiaan. Mari bersama-sama menjaga kampus ini agar menjadi zona aman bagi semua kalangan,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Anggota Komisi X DPR RI, Ibu Lita Machfud Arifin, menegaskan pentingnya komitmen lembaga pendidikan untuk menciptakan ruang belajar yang aman bagi seluruh civitas akademika.

“Kami sangat mendorong agar kampus menjadi tempat yang aman bagi dosen dan mahasiswa dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar. Saya percaya UNUSIDA adalah salah satu kampus unggul di Sidoarjo yang mampu menjadi teladan dalam hal ini,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya bersama antara LLDIKTI dan DPR RI dalam memperkuat transformasi kampus di Indonesia, tidak hanya dalam bidang akademik dan riset, tetapi juga dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan berintegritas.

“Perguruan tinggi tidak cukup hanya unggul dalam publikasi atau riset global, tetapi juga harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kampus yang aman dan bebas dari kekerasan adalah fondasi penting bagi terciptanya generasi unggul. Kami mengapresiasi UNUSIDA yang terus menunjukkan kemajuan signifikan dan komitmen kuat dalam hal ini,” ungkapnya.

Beliau juga menekankan pentingnya fakta integritas yang ditandatangani oleh mahasiswa baru sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga nilai-nilai inklusivitas dan keberagaman di lingkungan kampus.

“UNUSIDA adalah kampus Nahdlatul Ulama yang terbuka untuk semua. Walaupun berakar pada nilai Aswaja, kampus ini tetap menjadi ruang inklusif bagi siapa pun tanpa memandang latar belakang agama atau budaya,” tambahnya.

Kegiatan ini diikuti oleh ratusan mahasiswa UNUSIDA yang dengan antusias mendengarkan pemaparan mengenai mekanisme pelaporan dan pendampingan bagi korban kekerasan di lingkungan perguruan tinggi. Materi juga menyoroti pentingnya peran Satgas PPKPT dalam menindaklanjuti laporan kekerasan dengan cara yang adil, berkeadilan, dan berperspektif korban. (MY)